Tampil Maksimal, Dua Tim Jembatan UMM Sabet 4 Gelar Juara di KJI XIV Makassar

Nama Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggaung di penutupan Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XIV dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) X di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PUNP), Ahad (2/12) lalu. Mengirim dua timnya untuk KJI, UMM berhasil menyabet Juara 1 kategori Jembatan Canai Dingin dan Juara 3 kategori Jembatan Busur. Jembatan Canai Dingin yang diberi nama Tudang Sipulang ini memiliki keunikan berupa lendutan, atau perubahan rangka jembatan setelah diberikan beban, yang nilainya sangat kecil. Menurut Andre Oktavian Wijaya, salah satu anggota tim Red Jaeger, Tudang Sipulang hanya menghasilkan lendutan sebesar 2.175 mm dari angka maksimal untuk lendutan 15 mm. Hasil itu sekaligus menjadikan Tudang Sipulang sebagai juara Jembatan Terkokoh. “Karena setelah pengujian beban hidup di tengah bentang jembatan sebesar 400 kg, lendutan yang dihasilkan Jembatan Tudang Sipulung sangat jauh dari angka maksimal ledutan,” papar Andre. Tak berhenti di situ, tim Red Jaeger juga meraih juara pada kategori K3 Terbaik. Hal tersebut, diakui Andre, karena kelengkapan papan-papan peringatan konstruksi beserta pakaian keamanan yang dikenakan oleh seluruh anggota. Sementara itu, jembatan kedua dari Tim Naraya memiliki keunggulan sebagai jembatan ramah lingkungan. Diakui Harrys Purnama, jembatan yang ia rancang bersama dua anggota timnnya ini memasang panel surya pada ujung-ujung jembatan. Panel surya ini dapat menjadi energi listrik penerangan jalan pada jembatan saat malam hari. “Keunikan yang dimiliki oleh jembatan ini adanya panel surya yang digunakan untuk mengaliri listrik untuk penerangan jalan di jembatan,” jelas Harrys. Baru-baru ini juga, Fakultas Teknik UMM memenangi Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018 di Universitas Negeri Padang. Mekatronic Team UMM menyabet Juara 1 dalam Kategori Urban Listrik. Sementara tim puteri, Srikandi Team, memenangi gelar Juara pada kategori Desain Estetika Terbaik. Atas hasil tersebut, Rektor UMM Fauzan sangat mengapreasiasi capaian tersebut. “Saya sangat mengapreasiasi atas prestasi ini, semoga mereka semakin semangat untuk berkompetisi,” terang Fauzan. “Raihan ini tentu tidak membuat kami puas. Kami akan terus mempersiapkan mahasiswa kami untuk terus bisa berprestasi di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya. Diungkapkannya, UMM punya cara sendiri untuk mengapresiasi tiap raihan prestasi yang didapat mahasiswanya. Hal itu, sambung Fauzan, sesuai dengan moto prestasi UMM, “Tiada prestasi yang tak dihargai”. (nis/can)
Kolaborasi UMM-Kemlu RI, Helat Konsultasi Publik Terkait Isu Pekerja Migran

MALANG sebagai salah satu wilayah di Jawa Timur menjadi penyumbang tenaga kerja migran tertinggi di Indonesia. Menurut data BNP2TKI, selama periode Januari-Oktober 2018, sebanyak 53.525 Pekerja Migran Indonesia (PMI) berasal dari Jawa Timur. Malang, termasuk dalam 20 besar kabupaten dan kota asal PMI. Data itu disampaikan Riaz Januar Putra Saehu, Direktur Kerjasama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) pada acara Konsultasi Publik Perlindungan dan Promosi Hak-Hak Pekerja di ASEAN di Auditorium BAU, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (3/12). Berangkat dari tingginya minat masyarakat Indonesia bekerja di luar negeri, Riaz menyampaikan, terkait pemberian pelayanan kepada PMI Pemerintah akan meluncurkan kampanye masyarakat mengenai migrasi yang aman. “Pemerintah juga telah merencanakan kegiatan akses pendidikan bagi anak-anak pekerja migran dan orientasi pra-keberangkatan sebagai bagian dari pelayanan kepada PMI,” tuturnya. Sebab, ketika PMI bekerja di luar negeri, bagi yang sudah berkeluarga, pasti akan meninggalkan anak-anaknya di rumah. Maka, kata Riza, perlu ada pendampingan dari Pemerintah untuk menangani kondisi ini. Tentu, agar penjaminan hak-hak anak terkait pendidikan dan aspek lainnya dapat tetap berjalan dengan baik. Acara dihadiri ratusan mahasiswa Prodi HI UMM. Rektor UMM, Dr. H. Fauzan, M.Pd juga hadir dalam agenda. Ia mengapresiasi langkah Kementerian Luar Negeri melalui Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN dalam pendampingan terhadap PMI. “Upaya perlindungan pada PMI bukan hanya perlu dipahami oleh keluarga pekerja. Namun juga mahasiswa dan masyarakat luas,” tutur Fauzan. Bagi Fauzan, hak-hak anak juga perlu dijamin selama orang tuanya bekerja di luar negeri seperti usaha yang tengah dicanangkan oleh Kementerian Luar Negeri. Perhelatan Konsultasi Publik ini merupakan kolaborasi Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN dengan Pusat Studi ASEAN Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (Prodi HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM. Hadir pembicara lainnya, Rendra Setiawan, Kasubdit Tenaga Kerja Luar Negeri Kemnaker RI; Yumar, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia (PPMI); Muhammad Hafiz Human Rights Working Group (HRWG) Executive Directior; dan Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si, Prodi HI UMM. (mir/can)
Bikin Bangga! Mobil Urban Listrik UMM Pecahkan Rekor Asia dan Dunia

TARGET Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk memperoleh juara dalam ajang bergengsi Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018, terjawab. Mekatronic Team UMM menyabet Juara 1 dalam Kategori Urban Listrik. Mekatronic Team yang mengandalkan kendaraan Genetro Suryo U.E.V 06, unggul dengan hasil terbaik, 335,09 KM/KWH, menyisihkan tim dari perguruan tinggi negeri dan swasta lainnya. “Mobil Listrik UMM kemarin berhasil menjadi yang terjauh dengan efisiensi terbaik,” jelas Afrianto, selaku Drive train di Mekatronic Team saat dihubungi via WhatsApp, Ahad (2/12). Sementara itu, Mohammad Jufri selaku pembina Tim Mekatronik mengaku perolehan nilai 335,09 KM/KWH memecahkan rekor Asia dan dunia. “Informasi dari panitia, angka yang diraih oleh tim UMM ini memecahkan rekor Asia dan Dunia,” jelasnya. Capaian ini diakui oleh Jufri atas kerja keras seluruh anggota tim. Beberapa hal dilakukan untuk merancang mobil seefisien mungkin. Di antaranya dengan meminimalisir berat kendaraan agar lebih ringan. “Angka tersebut diperoleh atas kerja keras tim dengan melakukan beberapa modifikasi pada mobil itu sendiri,” papar dosen Program Studi Teknik Mesin ini. Selanjutnya, mobil listrik andalan UMM ini tengah dipersiapkan untuk berlaga pada Shell Eco Marathon Asia (SEMA) 2019 mendatang. Sementara Tim Srikandi dengan kendaraan Hrusangkali Evo 01 di kelas Motor Pembakaran Dalam (MPD) Gasoline, mengaku cukup puas dengan perolehan sebagai Juara pada kategori Desain Estetika Terbaik. KMHE adalah event yang diselenggarakan oleh DIKTI dalam skala nasional, tiap tahunnya memperlombakan mobil kreasi mahasiswa dari berbagai lembaga pendidikan tinggi. (nis/can)
Duet Menhub-Mendikbud, Beri Spirit Majukan Indonesia ke Ribuan Mahasiswa UMM

MENUJU Indonesia Emas di tahun 2045, proses pembangunan sangat diutamakan. Tak hanya dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM), namun juga fasilitas penunjangnya. Melanjutkan estafet pembangunan dari Menteri sebelumnya, selama dua tahun bekerja dalam Kabinet Kerja, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi telah menunjukkan banyak prestasi dalam pembangunan infrastruktur. Dalam gelaran Dialog Nasional “Indonesia Maju”, Budi Karya menyatakan bahwa kemajuan Indonesia ada di tangan generasi millenial. “Indonesia maju jika ada di tangan adik-adik sekalian,” terangnya. Dalam proses pembangunan, Menteri yang lahir di Palembang ini memuji bagaimana Universitas Muhammdiyah Malang (UMM) melakukan pembangunan infrastruktur untuk kenyamanan proses belajar. “Waktu saya baru datang di kampus ini, saya sangat kagum melihat kemegahan gedung-gedungnya. Saya banyak mengajukan pertanyaan ke Pak Rektor tentang proses pembangunannya,” ujarnya disambut riuh tepuk tangan 7000an mahasiswa UMM yang memadati Hall Dome UMM. Menhub Budi dalam kesempatan itu juga sekaligus dinobatkan sebagai keluarga kehormatan Kampus Putih, UMM. Pada dialog yang dikemas ringan dengan guyonan khas pemain Ludruk ini, Budi Karya memaparkan pembangunan-pembangungan yang telah dilakukan Kementeriannya. Salah satunya adalah arah pembangunan yang sudah mulai mengarah ke Indonesia bagian Timur. “Jadi jangan khawatir sekarang kalau kunjungan ke Papua sudah bisa menikmati jalan yang bagus,” paparnya. Hadir pula, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy di tengah dialog. Dua menteri ini memaparkan bagaimana sinergitas antara 2 kementerian ini. Muhadjir menyampaikan, 2 kementerian ini tengah memiliki target 20.000 pembangunan sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). “Program ini dijalankan bersama Kementerian Perhubungan,” kata Muhadjir. Rektor UMM, Fauzan, menyampaikan pesan kepada seluruh mahasiswa baru UMM jangan sampai ketinggalan untuk memodifikasi diri. Menurutnya, pembangunan SDM sudah dibarengi dengan pembangunan fasilitas yang memadai untuk kemajuan setiap individu. “Anda semua saat ini harus menyiapkan diri, mendesain diri untuk menjadi orang-orang yang kompeten dan profesional,” tandas Fauzan. Di akhir agenda, Menteri Budi secara khusus menyerahkan bantuan berupa 1 buah Micro Bus. Demikian Kemdikbud yang juga baru-baru ini menyerahkan sebuah unit Mobil Bioskop ke UMM. Kedua unit kendaraan ini diperuntukkan bagi penunjang kegiatan akademik. Budi dan Muhadjir lantas menutup dengan harapan besarnya kepada mahasiswa UMM untuk selalu semangat memajukan Indonesia. (nis/can)
Tahun 2050 Indonesia Peringkat 4 Perekonomian Dunia, Komisaris BCA: Mahasiswa UMM Harus Ambil Bagian

KOMISARIS Bank Central Asia (BCA), Cyrillus Harinowo mengisi kuliah tamu dengan tema “Perekonomian Indonesia dalam Perspektif Global”, Kamis (20/11). Kuliah Tamu itu diikuti Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM). Diselenggarakannya kuliah tamu tersebut diharapkan bisa menjadi sumber informasi bagi mahasiswa agar bisa membaca perekonomian global. “Dua titik logistik paling strategis di dunia saat ini, satu di China. Satunya lagi ada di Jawa atau tepatnya Indonesia,” jelas Harinowo. Sinyal ini menunjukan, sambung Harinowo, bahwa Indonesia sudah mulai memegang arah kendali perekonomian dunia. Salah satu faktor dominan yang mempengaruhi adalah jumlah penduduk dan letak geografis Indonesia yang diapit dua benua dan dua samudera. “Membaca hal ini, pemerintah Indonesia mengambil langkah dengan membangun infrastruktur dengan sangat serius untuk memperlancar putaran roda ekonomi dalam negeri,” ujar Harinowo. Ia mencontohkan trans Kalimantan yang mempercepat laju pengiriman logistik dari Pontianak sampai Kalimantan Timur, cukup dua hari saja. Selain itu ia melihat banyak daerah-daerah yang begitu terpencil sudah mulai dibangun. Ia memprediksikan, pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan berkembang pesat. “Hasil riset yang dilakukan oleh PWC Analysis menunjukan pada tahun 2016, Indonesia berada pada posisi kedelapan dalam perekonomian global. Pada tahun 2017 naik satu peringkat dan diprediksi tahun 2050 Indonesia akan berada di posisi keempat dunia,” Harinowo mengucapkan dengan bangga disambut tepuk tangan peserta. Melalui kabar baik ini, Harinowo berharap Mahasiswa sudah mulai mempersiapkan diri agar bisa terlibat dalam memajukan perekonomian Indonesia di tingkat global. Selain kuliah tamu, BCA juga membuka BCA Corner di Perpustakaan Pusat UMM. BCA Corner diresmikan Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM. Dibukanya BCA Corner juga ditandai dengan potong tumpeng yang dilakukan oleh Cyrillus Harinowo dan Fauzan. “BCA Corner ini bukan hanya tambahan infrastruktur saja namun bentuk kerja sama BCA dan UMM untuk menghantarkan Mahasiswa agar melek teknologi di sektor Perbankan,” tandas Fauzan. Kehadiran BCA Corner melengkapi berbagai Corner yang telah ada sebelumnya. Baik yang berkaitan dengan dunia perbankan, juga informasi seputar negara sahabat. Beberapa di antaranya American Corner dan #AussieBangetCorner. (usa/can)
Langganan Raih AKU, Saatnya UMM Berkiprah di Tingkat Internasional

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) tak henti-hentinya mendulang prestasi. Untuk kesekian kalinya, UMM meraih Anugerah Kampus Unggulan (AKU) dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur. Penghargaan bagi Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta terunggul di Jawa Timur ini diterima langsung Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. dalam kesempatan menghadiri Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) Perguruan Tinggi di Kota Batu, Rabu (28/11). Tahun ini merupakan raihan ke-11 hingga LLDIKTI bertransisi kelembagaan dari sebelumnya Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VII Jawa Timur. UMM tiap tahunnya selalu bertengger menduduki posisi pertama dan menyisihkan perguruan tinggi lain di bawah naungan LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur. Raihan ini sekaligus bukti kepercayaan masyarakat kepada Kampus Putih atas konsistensinya menjaga mutu lembaga pendidikan tinggi. Kepala LLDIKTI wilayah VII Jatim Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA. mengatakan, diraihnya kembali penghargaan ini terkait komitmen UMM untuk terus meningkatkan mutu kelembagaannya. “Selevel UMM yang sudah bertahun-tahun menjadi pemenang utama seharunya (raihannya) sudah tidak di level Jawa Timur lagi. Seharusnya memang, UMM raihannya sudah berada di level internasional. Jadi, saya mendukung UMM untuk terus berkiprah di level internasional,” tandas Soeprapto. Terbukti, baru-baru ini saja UMM meraih penghargaan ASEAN Energy Award 2018 dengan kategori ASEAN Best Practices Competition for Energy Efficient Buildings. UMM dianugerahi sebagai 2nd Runner-up sub kategori Tropical Building untuk Rusunawa. Tak kalah membanggakan, Tyrender, salah satu karya mahasiswa UMM mengukuti ajang kompetisi tingkat dunia. Menyusul prestasi sebelumnya, mahasiswa UMM telah menjuarai kontes robot internasional dalam Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) di Amerika Serikat. Bahkan, sambung Soeprapto, selisih capaian nilai yang diperoleh UMM, yakni dengan total nilai 782,43 poin, jauh melampaui capaian perguruan tinggi lain yang juga mendapat penganugerahan AKU. Menyusul setelahnya Universitas Surabaya dengan 670,89 poin; Universitas Kristen Petra dengan 646,86 poin; Universitas Katolik Widyamandala dengan 559,88 poin; serta Universitas Islam Malang dengan 559,90 poin. Wakil Rektor I, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si saat turut hadir menerima penghargaan mengatakan, raihan ini sepatutnya diwujudkan dalam bentuk syukur kepada Allah SWT. Syamsul juga sekaligus mengucapkan terima kasih kepada civitas akademika UMM yang terus bekerja dan berkarya sehingga menyabet penghargaan tersebut. “Karena dengan capaian ini, beberapa aspek yang dijadikan patokan penilaian oleh LLDIKTI itu bisa kita capai, bahkan melampui capain PTS lain,” kata Syamsul. Diterangkan Syamsul, penghargaan ini setidaknya dinilai dari sejumlah aspek. Aspek itu meliputi tata kelola kelembagaan dan kerja sama, tenaga pendidik dan kependidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, serta pembelajaran kemahasiswaan. “Ke depan, apa yang diraih UMM ini hendaknya bisa memacu agar kita terus berprestasi. Kalau LLDIKTI ini kan di wilayah provinsi, tapi kita akan terus meningkatkan prestasi di level nasional, Asean, juga internasional,” terangnya. Oleh karenanya, menurut Syamsul, pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah strategis di bidang yang menjadi aspek penilaian untuk meningkatkan mutu. Langkah strategis itu di antaranya penguatan Sumber Daya Manusia. Baik jenjang pendidikan kualifikasi dosen. Maksimal doktor, hingga ke jenjang Guru Besar. “Langkah lain yakni kami terus memacu kualitas kelembagaan, dalam hal ini akreditasi institusi. Alhamdulillah, UMM mempertahankan nilai A,” jelasnya. Masih di aspek mutu kelembagaan, sambung Syamsul, beberapa program studi (Prodi) UMM telah memperoleh akreditasi A. Juga mempercepat proses sejumlah Prodi yang masih tertinggal. Disamping itu, pihaknya juga akan mengembangkan Prodi yang terekognisi oleh lembaga akreditasi internasional. UMM sendiri, sebut Syamsul, memiliki 3 Prodi terekognisi Asean University Network-Quality Assurance (AUN QA). Yakni Prodi Manajemen, Pendidikan Biologi dan Peternakan. Kinerja penelitian dan publikasi jadi sorotan tersendiri. Utamanya publikasi di jurnal internasional bereputasi. Syamsul mengaku telah memiliki skema pembinaan serta pengembangan khusus agar dosen bisa mempublikasikan artikelnya di jurnal internasional bereputasi. “Tak kalah penting, bagi Syamsul, prestasi kemahasiswaan juga tolok ukur yang tidak boleh tertinggal. Dari sekian (strategi) itu, kita punya modalitas untuk terus kita kembangkan,” tandasnya. (*/can)
Pakar Pendidikan Singapura: Terlalu Tekstual Bukan Gaya Mengajar Era Millenial

SERANGKAIAN ulang tahun ke-30 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dibalut dalam konferensi internasional. Momen ini juga menjadi penanda awal diselenggarakannya Conference on English Teaching in Indonesia (COETIN) dan kali keempat English Language Teaching Materials (ELTeaM) diadakan, Selasa (27/11). Konferensi yang bertajuk Quality Improvement and Innovation in ELT ini dihadiri oleh pemateri-pemateri berkompeten. Hadir Willy Renandya dari National Institute of Education, Singapura; Ivor Timmis dan Naeema Han dari Leeds Beckett University, Britania Raya; Dr. Bradley Horn dari RELO of the U.S Embassy; dan Noohaida Aman dari National Institute of Education, Singapura. Salah satu pemateri Willy Renandya menekankan pentingnya inovasi dalam sebuah pengajaran. “Ketika saya pertama menjadi seorang guru saya menggunakan sapaan bahasa Inggris pada umumnya. (“Hallo students, how are you?” Dan seluruh murid tentu akan menjawab, “I am fine thank you, and How are you, Pak?)” contohnya, diikuti dengan gelak tawa seluruh peserta. Menurut Willy, pembelajaran di kelas harus inovatif. Sapaan tekstual seperti di dalam buku belajar berbahasa Inggris terlalu kaku bila diterapkan dalam dunia nyata yang henti terus berkembang seperti sekarang. Ia memberikan gambaran inovasi-inovasi pembelajaran yang telah ia lakukan. Hadir pula Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Drs. Muh. Abdul Khak, M. Hum. Ia berharap anak-anak Indonesia selain menguasai bahasa Inggris, juga menguasai bahasa daerah dan tentunya bahasa Indonesia dengan baik dan benar. “Maka pesan kami satu dalam sebuah tagline hari ini. Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah dan kuasai bahasa asing,” tutupnya. (mir/can)
Alumnus UMM Abdikan Diri Dampingi Anak-Anak Pelosok Lampung Raih Mimpi

BERMIMPI adalah hak setiap anak. Menggapai cita-cita dalam mimpi adalah kewajiban untuk semua anak. Begitu pula bagi anak-anak di Desa Pagar Dewa Kecamatan Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung. Tidak ada hari tanpa waktu untuk mengejar cita-cita. Bersama guru kesayangannya, mereka merangkai mimpi setiap hari. Ialah Andi Akbar Tanjung, alumnus program studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang hampir satu tahun bersama siswa-siswi dari SD Negeri 01 Pagar Dewa, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Berbekal cita-cita dan mimpinya untuk menngabdi, Akbar memulai perjalanannya menjadi pengajar bantu sejak tahun 2017. Cerita Akbar kemudian diangkat salah satu stasiun televisi swasta melalui program Lentera Indonesia – Cerita Cita dari Pagar Dewa di Net. TV yang tayang Sabtu, 24 November 2018 lalu. Sebuah program dokumenter mengenai gerakan sosial yang dirintis oleh individu ataupun komunitas guna membawa perubahan baik bagi banyak orang. Tayangan ulangnya bisa ditonton melalui channel YouTube Net Documentary. “Berawal waktu SMA itu baca kisah para pengajar muda yang ikut Indonesia Mengajar. Saya berpikir kenapa saya gak ikut program yang sama,” jelasnya. Memantapkan hati untuk mengambil konsentrasi bidang pendidikan, semakin menguatkan hati putra kedua dari lima bersaudara ini untuk melamar program Indonesia Mengajar. Sayangnya, keberutungan tak berpihak pada Akbar. Tak patah arang, pria kelahiran Makassar ini mencoba untuk menjadi relawan pengajar pada program Tulang Bawang Barat Cerdas (Tubaba Cerdas). Gayung pun bersambut, November 2017 Akbar memulai kisah pengabdiannya di Desa Pagar Dewa. “Awal datang ke sini November tahun lalu dan tidak menyangka bisa berada di tengah-tengah masyarakat yang sangat unik,” paparnya. Bukan tanpa kendala. Akbar menemukan banyak persoalan pendidikan yang sangat kompleks di sana. Ia sempat merasa tidak bisa melakukan banyak hal untuk sekolah yang ia tempati. Tapi, bukan Akbar jika tak berjuang. Pada paruh perjalanan pengabdiannya, Akbar memilih untuk melakukan pendekatan kepada orang tua, guru, dan siswa dari sekolah tempatnya mengajar. Di awal, Akbar merasa bingung karena tidak ada upacara bendera saat hari Senin di sekolah. Ia mulai mengajak seluruh warga sekolah untuk kembali mengadakan upacara bendera sebagai bentuk penghormatan dan pendidikan karakter bagi anak-anak di sekolah tersebut. “Awal-awal saya di penempatan, kegiatan upacara itu tidak ada. Tapi syukur di hampir penyelesaian pengabdian ini, sudah ada tiga guru yang mau mengadakan upacara bendera setiap Senin,” ceritanya. Tak hanya bertemu dengan persoalan upacara bendera, Akbar juga menjumpai siswa kelas atas di sekolah tersebut yang belum bisa membaca. Jalan lain ditempuh Akbar untuk melatih mereka agar bisa membaca. Ia mengajak anak-anak desa untuk belajar bersama membaca di rumah salah satu siswa. “Jadi saya ajak anak-anak untuk berkumpul di satu rumah temannya, kemudian kita belajar membaca di sana,” jelas Akbar. Usahanya itu berbuah manis. Banyak di antara siswa Akbar di kelas 5 yang akan naik ke kelas 6 akhirnya dapat membaca. Disadari oleh Akbar, kemampuan anak-anak dalam membaca memang karena tidak ada fasilitas yang memenuhi kebutuhan mereka. “Alhamdulillah, di akhir masa pengabdian saya ini, banyak di antara mereka sudah bisa membaca,” katanya. Tak sekadar memberikan pendampingan untuk membaca, Akbar juga mengenalkan profesi-profesi lain untuk menjadi cita-cita mereka. Menurut Akbar, saat ini lingkungan desa tidak mendukung tumbuh-kembang anak-anak. Mereka tidak memiliki pilihan cita-cita lain. Selesai menempuh pendidikan dasar, mereka akan menjadi petani. “Lingkungan desa ini masih belum membuka wawasan anak-anak tentang cita-cita dan profesi,” ujarnya. Di hari guru yang jatuh 25 November lalu, Akbar berharap anak-anak di Pagar Dewa dapat bertemu dengan guru-guru yang dapat tulus mengabdi untuk mereka. Tak hanya itu, Akbar juga berharap guru-guru yang ada di wilayah pedalaman dapat pula memperoleh hak yang sama untuk terus bersemangat mengentaskan kebodohan. (nis/can)
Gandeng 2 Rumah Sakit Baru, FK UMM Adakan Pelatihan Bagi Pembimbing Mahasiswa Koas

FAKULTAS Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) mengadakan Pelatihan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI). Pelatihan ini diadakan untuk membekali pembimbing baru mahasiswa ko-assisten (Koas) dari 2 Rumah Sakit yang baru saja bekerja sama dengan FK UMM. Yaitu RSUD H. Slamet Pamekasan dan RSUD Dr. Soedomo Trenggalek. Selama dua hari, Jum’at (23/11) sampai Sabtu (24/11), pembimbing baru mahasiswa Koas diberi materi mengenai bagaimana merancang kurikulum, membuat bahan ajar, memilih metode pengajaran, penilaian dan evaluasi agar dokter yang dihasilkan bisa sesuai dengan kualifikasi dokter yang ditetapkan FK UMM. “Disini kita mendidik dokter yang akan menjadi pembimbing mahasiswa Koas agar bisa menerapkan pengajaran sesuai dengan apa yang kami harapkan. Maka dari itu, sebelum memulai program pada Januari tahun depan, kita temukan di sini terlebih dahulu,” jelas Rubayat Indradi selaku Ketua Pelaksana PEKERTI. Selain diikuti dua rumah sakit yang baru saja bekerja sama dengan FK UMM, rumah sakit yang dulu belum sempat ikut pelatihan ini juga ikut program serupa. Rumah sakit lainnya yang mengikuti pelatihan ini adalah RS Haji Surabaya, RSUD Jombang, RS Muhammadiyah Lamongan, RS Gambiran Kediri, dan RS Bhayangkara Kediri. Skema program pelatihan dilakukan selama dua materi dalam kelas dan lima hari untuk mengerjakan tugas. “Tugas yang diberikan ini nanti Pembimbing wajib merancang kurikulum yang nati akan dikumpulkan kepada Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA, red.),” papar Rubayat. Hasil rancangan akan dikumpulkan kepada BKMA untuk dilakukan proses penilaian. Setelah mendapat penilaian dari BKMA baru pembimbing mendapat sertifikat kelayakan mengajar Mahasiswa Koas. Menurut Rubayat pelatihan seperti ini sangat penting untuk menyatukan frekuensi misi dan visi antara Rumah Sakit dan FK UMM. Dari pelatihan semacam ini, Rubayat berharap mahasiswa Koas bisa dibimbing dengan baik oleh pembimbing yang terpilih. (usa/can)
UMM Pilih Dialog Bersama Aktivis Kampus, Menimbang Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2018

SEJAK diresmikan sehari setelah peringatan 90 tahun Sumpah Pemuda, Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) nomor 55 tahun 2018, bergulir menjadi isu hangat di antara para aktivis kampus. Dikutip dari siaran pers yang diluncukan oleh Ristekdikti, peraturan ini dibuat atas keresahan paparan radikalisme yang diduga telah menjangkiti sebagian mahasiswa. Sebagai agent of change, tentu mahasiswa mengemban tugas mulia untuk terus berpikir dan berjuang membentuk sebuah perubahan. Alih-alih membuat perubahan pada arah yang positif, kabar yang menyatakan bahwa sejumlah perguruan tinggi tempat mahasiswa bernaung telah terindikasi paham radikalisme, justru membawa tagline tersebut bemakna negatif. Sebagai salah satu amal usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki pandangan tersendiri tentang bagaimana ideologi bangsa pada diri mahasiswa harus dibentuk, dibangun, dan dikawal. Bersama Ketua Forum Wakil Rektor bidang Akademik dan Alumni Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisiyah (PTMA) se-Indonesia yang juga Wakil Rektor III UMM, Sidik Sunaryo, reporter Humas dan Protokoler UMM, Rochmatika Nur Anisa, melakukan wawancara secara eksklusif. Sebagai bagian dari Muhammadiyah, bagaimana sikap UMM dalam menyikapi Permenristekdikti nomor 55 tahun 2018 ini? Berbicara tentang ideologi UMM tidak bisa lepas dari Muhammadiyah. Sebagai kampus Muhammadiyah yang inklusif, UMM sangat terbuka dengan perbedaan, bukti yang dapat kita lihat saat ini adalah dengan dibuka selebar-lebarnya kesempatan untuk mahasiswa non-muslim, berbagai suku, berbagai ras bisa dengan setara mengenyam pendidikan di Muhammadiyah. Khusunya UMM sendiri. Itu dari sisi akademis. Dari sisi kegiatan mahasiswa, organisasi intra UMM sudah sangat tidak asing dengan keberadaan mahasiswa yang tergabung di organisasi ekstra kampus. Sejalan dengan Permen 55 yang salah satu poinnya adalah pimpinan perguruan tinggi wajib menyertakan kegiatan pembinaan ideologi bangsa. Yaitu empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45, dan NKRI. Saya kira semua kampus sudah melakukan hal tersebut entah itu kaitannya dalam bentuk kurikuler maupun ekstrakurikuler. Perlu saya tekankan bahwa dalam Permen 55 itu pimpinan perguruan tinggi itu ‘dapat’. Jadi di sini ada kata, “dapat” membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa Pengawal Ideologi Bangsa (UKM PIB) yang tugasnya khusus untuk membentuk dan membina ideologi bangsa pada diri mahasiswa”. Kata ‘dapat’, berarti tidak harus dibentuk. Hanya saja memang harus ada jaminan untuk semua kegiatan mahasiswa harus selalu memasukkan nilai-nilai empat pilar kebangsaan tersebut. Saya kira tanpa ada itupun (Permen 55), sebenarnya UMM sudah terbiasa dengan keberadaan organisasi ekstra kampus yang masuk dalam kepengurusan organisasi intra. Memang secara formal tidak ada HMI atau PMII yang berada di kampus, namun keberadaan mereka itu benar ada di struktural intra kampus. Hal tersebut sangat tercermin jelas saat euforia Pemilu Raya di kampus. Misal dari IMM yang merupakan organisasi otonom Muhammadiyah, mereka punya partai sendiri. Kemudian ada HMI yang mereka juga partai sendiri dan mereka secara sehat bersaing di tengah Pemilu tersebut. Adakah program pembinaan khusus berbasis ideologi bangsa yang telah dilakukan UMM? Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK, red.) adalah contoh paling bagus dari pembinaan ideologi bangsa. Bahkan, kita sudah sejak jauh-jauh sebelum adanya isu radikalisme yang memapar kampus, kita sudah menyiapkan generasi UMM melalui program tersebut. Tanpa UMM membentuk UKM tersebut, P2KK adalah tradisi kita yang sudah berjalan secara terstruktur bahkan masuk pada program kurikuler bukan ekstrakurikuler. Jadi, kalau di luar sana orang-orang masih bingung mencari bentuk bagaimana membina ideologi untuk mahasiswa, UMM sudah sejak lama memiliki P2KK. Apakah dari Bidang Kemahasiswaan akan melakukan sosialisasi terkait peraturan ini? Kami sudah menyiapkan beberapa skema untuk menyosialisasikan peraturan ini. Pada dasarnya kita juga tidak menutup kemungkinan untuk nantinya UMM akan membentuk UKM PIB. Kita akan melihat ke depan jika nanti ada aspirasi yang masuk dan berkembang. Jika keberadaan UKM PIB ini akan semakin memantapkan pembinaan ideologi bangsa pada diri mahasiswa, maka kami akan pertimbangkan untuk dibentuk. Namun jika dirasa yang sudah ada cukup, maka yang perlu dilakukan adalah meningkatkan pembinaan ideologi bangsa pada setiap UKM yang ada tersebut. Bagi kami, tidak ada masalah terkait dengan peraturan ini. Sikap yang akan kami ambil adalah berdialog bersama para aktivis-aktivis mitra UMM tersebut. Kami berpendapat dengan melibatkan aktivis-aktivis tersebut, maka akan ada sinergi yang bagus antara organisasi intra dan ekstra dalam mengkaji peraturan tersebut. Kita menggali pandangan-pandangan yang berbeda dari para aktivis tersebut. Jalan ini dipilih untuk memfasilitasi aspirasi mereka terhadap peraturan tersebut. Bagi saya ini juga merupakan bentuk pembinaan ideologi bangsa yaitu membiasakan mahasiswa untuk sering berdialog dan berdiskusi untuk mencapai sebuah mufakat. Bagaimana pendapat Bapak tentang pihak yang kontra terhadap peraturan ini? Menurut saya, ketidakberpihakan dari kampus-kampus yang menyatakan diri menolak peraturan ini karena setiap kampus atau universitas itu punya pengalaman yang berbeda. Kalau UMM sendiri sudah sejak lama memiliki tradisi yang inklusif. Sehingga hal tersebut justru membuat UMM juga semakin kaya dalam setiap hal. Terutama dalam hal pengalaman. Oleh sebab itu, saat ini UMM berdiri pada kondisi yang netral karena kita harus mengkaji terlebih dahulu baik buruknya. Jika nanti justru akan menghasilkan hal-hal yang kontraproduktif, maka kita putuskan untuk tidak diadakan terlebih dahulu. (*/nis)