Rancang Proyek Sosial, Lulusan Terbaik FEB Ini Raih Kesempatan Ke Eropa

MEMULAI pengalaman berorganisasi di AIESEC Universitas Muhammdiyah Malang (UMM), memberikan kepercayaan diri lebih bagi Tata Budhi Prasetyo. Mahasiswa program studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini mengaku memperoleh semangat tinggi untuk bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya sejak ia sering mendampingi mahasiswa asing yang datang ke UMM. “Aku dulu gabung di AIESEC awalnya, terus karena sering bareng mahasiswa asing, aku jadi terinspirasi oleh mereka untuk juga bisa ngasih community service (pengabdian masyarakat, red.) di lingkunganku,” ungkapnya. Tak sekadar menjadi pendamping mahasiswa asing, mahasiswa lulusan terbaik Program Pendidikan Sarjana (S-1) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini juga mengaku memiliki banyak kesempatan untuk bisa bertukar pikiran dengan mahasiswa asing. Pengalamannya itu mendorong Tata untuk memikirkan rencana proyek sosial bagi lingkungan sekitarnya. “Sharing-sharing bareng mahasiswa asing itu dulu bikin aku kepikiran untuk bikin sebuah proyek sosial di lingkungannku,” terang putra dari pasangan Suprayitno dan Endang Setyaningsing ini. Tata lulus dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,87. Sementara itu, proyek sosial yang ia rencanakan adalah dalam bidang pendidikan. Ia mengaku bahwa pendidikan sebagai hal utama dan mendasar yang harus dimiliki setiap individu. Di lingkungannya, Tata mengaku masih menemukan banyak orang-orang yang belum benar-benar teredukasi dan memiliki pola pikir yang benar. “Jadi kenapa kepikiran buat bikin proyek membangun pendidikan, karena aku melihat orang-orang di sekitarku ini sebenarnya mampu secara materi, tapi mereka belum terlalu sadar dengan pendidikan dan menganggap pendidikan adalah penghalang,” terangnya. Rancangan proyek sosial yang ia beri nama Raise Education ini membawa ia meraih kesempatan mengikuti pertukaran pelajar oleh Erasmus+ di Poznan, Polandia. Tata tidak menyangka, proyek sosial yang masih dalam tahap rencana ini dapat membawanya untuk bertemu dengan lebih banyak orang. “Nggak nyangka.  Waktu coba masukin planning proyek ini ke motivation letter, ternyata mereka (pihak Erasmus+, red.) tertarik,” kata mahasiswa berkacamata tersebut. Menyelesaikan program pertukaran selama satu semester, tak lantas membuat Tata meninggalkan proyek yang ia rencanakan tersebut. Tata memulai proyek tersebut dengan melakukan pendekatan secara langsung. Yakni, datang ke sekolah-sekolah di sekitar lingkungannya dengan tujuan memberikan motivasi kepada siswa-siswi di sana. “Memang proyeknya belum jalan, tapi aku udah mulai dengan datang ke salah satu sekolah di tempat tinggalku dan ngasih motivasi di sana,” terangnya. Tak hanya aktif untuk community service, Tata bersama beberapa kawannya yang tergabung di program Tri City Singapore,  menghidupkan kembali sebuah wadah belajar Bahasa Inggris khusus mahasiswa FEB bernama English Economics Community (EEC). “Iya, aku sama temen-temen yang ikut program Tri City kemarin bantu buat membangunkan kembali studi klub bahasa Inggris untuk mahasiswa FEB,” tandasnya. (*/nis)

Pesan Staf Khusus Menhub untuk Lulusan UMM: Bersiaplah Hadapi Tantangan Zaman Milenial

SEBANYAK 1.396 lulusan mengikuti prosesi wisuda ke-90 periode IV Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hari ini (24/11). Hadir memberi orasi ilmiah, Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Ekonomi dan Investasi Transportasi Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Prof. Wihana Kirana Jaya, Ph.D. Dalam orasi ilmiahnya, Wihana mengajak para wisudawan untuk siap menghadapi dunia yang kompetitif dan penuh resiko. “Sebentar lagi saudara akan melihat langsung persaingan di dunia. Maka bersiaplah,” jelasnya. Selain itu perlu pula memperhatikan perkembangan zaman. “Kalau zaman saya ya zaman kolonial, zaman saudara adalah zaman millenial,” tuturnya dibarengi gelak tawa hadirin. Di era digital saat ini, sambungnya, seluruh aspek dapat menjadi peluang berkreasi. Ia kemudian mencontohkan bisnis-bisnis start up yang saat ini sedang berkembang seperti taxi online dan e-commerce. “Hal-hal yang tidak terpikirkan oleh zaman saya saat ini hadir di tengah-tengah kita saat ini. Maka, zaman saudara adalah zaman berkreasi, maksimalkan kemampuan diri,” pesannya kepada para wisudawan dilanjutkan menutup orasi ilmiahnya dengan pantun dan doa. Selain itu, pada gelaran wisuda kali ini, untuk pertama kalinya UMM melalui Program Studi Profesi Insinyur Fakultas Teknik telah mengukuhkan dan mengambil sumpah 7 orang lulusan Sarjana Teknik sebagai Insinyur (Ir.). UMM jadi perguruan tinggi yang mengawali mengukuhkan Insinyur setelah Universitas Gadjah Mada (UGM). Dikukuhkannya sejumlah insinyur ini sejalan dengan pemberlakuan Peraturan Menristekdikti  Nomor 35 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Program Studi Insinyur yang memberikan mandat kepada sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta. Salah satunya UMM. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. dalam pidatonya menyebut sejumlah prestasi aktual yang di raih UMM. Di antaranya tiga program studi (prodi) UMM yakni Manajemen, Pendidikan Biologi, dan Peternakan mendapat akreditasi dari Asean University Network Quality Assurance (AUN-QA). Masih di tingkat ASEAN, UMM kembali mendapat anugerah ASEAN Energy Award tahun 2018 dengan kategori ASEAN Best Practices Competition for Energy Efficient Buildings. Yakni UMM sebagai 2nd Runner-up sub kategori bangunan tropis (tropical building) untuk Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa). “Prestasi-prestasi itu semakin memberikan semangat bagi civitas akademika UMM untuk semakin meningkatkan kemampuannya. Mudah-mudahan prestasi-prestasi itu  juga memberikan bukti atas kepercayaan masyarakat mengirim putra-putrinya menimba ilmu di UMM,” tandasnya. (mir/can)

Malik Fadjar: Kuatkan Akhlak untuk Menyongsong Hari Esok Lebih Baik

Prof. Dr. H.A Malik Fadjar M.Si, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia hadir memberi sambutan dalam gelaran Wisuda ke-90 Periode IV Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sabtu, (24/11). Malik menyampaikan, saat ini hal terpenting yang menjadi persoalan bangsa adalah akhlak. Dalam sambutannya itu, ia berharap kepada para wisudawan dan wisudawati agar mampu menjadi wakil-wakil yang bisa menebar akhlak, budi pekerti, dan moral di seluruh wilayah nusantara. Utamanya dalam menghadapi kehidupan dinamika politik seperti yang terjadi saat ini. “Melalui wisuda ini,  kami berharap para wisudawan mampu menjadi wakil dari dakwah Muhammadiyah dalam menyebar kebajikan, ” ucapnya. Ia menambahkan, kita hanya bisa memperbaiki suasana kehidupan. Yakni tata kehidupan yang sedang berada dalam proses perubahan oleh pengaruh global dan pengaruh internal. Menurutnya, bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya dan besar. Oleh karena itu jika, diperkuat akhlak budi pekertinya, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh pendiri bangsa, maka Indonesia mampu memasuki kehidupan baru yang lebih baik. “Mudah-mudahan kehadiran para wisudawan yang dikukuhkan kesarjanaannya pada siang hari ini menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk menyongsong hari esok yang lebih baik,” tutup malik yang juga merupakan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM. Pada wisuda kali ini, sebanyak 1.396 orang lulusan dikukuhkan dalam gelaran wisuda ke-90 periode IV tahun 2018. Mereka berasal dari lima jenjang program, di antaranya: Program Pendidikan Magister (S-2), Program Pendidikan Sarjana (S-1), Program Pendidikan Diploma Tiga (D-3) dan Program Pendidikan Profesi. Perhelatan penting ini juga dihadiri Staf Khusus Bidang Ekonomi dan Investasi Transportasi Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI), Prof. Wihana Kirana Jaya. Ia hadir untuk memberi kuliah umum di hadapan para wisudawan dan wisudawati. (sri/can)

Fokus Bereksperimen Senyawa Pigmen, Dosen UMM Hasilkan Beras Analog untuk Balita

TINGGINYA jumlah penderita gizi buruk dan kurang gizi pada balita terus meningkat. Berdasarkan data yang dihimpun Pusat Data dan Informasi (PDI) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2015, sebanyak 25% bayi hingga balita di Indonesia mengalami stunting dan gangguan kesehatan lainnya akibat rendahnya kualitas gizi. Selain itu, PDI juga menunjukkan angka 30% balita di Indonesia mengalami Kurang Kalori Protein (KKP). “Balita itu punya beberapa permasalahan pada masa pertumbuhan, salah satunya tentang KKP,” tutur Elfi Anis Saati  Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat diwawancarai, Kamis (22/11) terkait peluncuran produk terbarunya. Berangkat dari persoalan tersebut, Elfi berinovasi dengan beras analog tinggi protein. Ia berekspreimen dengan beras analog yang terbuat dari tepung tapioka, tepung kedelai, dan bayam hijau dan merah.  Diterangkan Elfi, beras analog yang ia buat kaya akan protein yang dihasilkan dari kacang-kacangan. Ia memilih kacang kedelai yang mudah dijumpai di sekitar. “Beras analog ini mengandung tepung kedelai yang  tinggi protein. Itu yang membuat beras ini tidak hanya mengandung karbohidrat,” papar Elfi. Menurut dosen yang aktif melakukan riset pada lingkup pigmen ini, beras analog yang diberi label Elviza ini memiliki keunggulan lain yaitu tingkat antioksidan yang tinggi. Antioksidan, dijelaskan Elfi, merupakan senyawa yang dapat meningkatkan sistem imun dalam tubuh manusia. Hal tersebut sangat bermanfaat bagi balita pada masa pertumbuhan. “Pigmen pada penelitian ini terbukti memiliki tingkat antioksidan yang sangat tinggi,” imbuhnya. Sementara itu, pada beras analog, Elfi memilih pigmen yang terkandung pada sayuran. Sayuran dipilih karena banyak balita yang cenderung kurang mengkonsumsi sayuran. Tak hanya itu, Elfi mengaku bahwa beras analog ini tak hanya mengandung karbohidrat dan protein, namun juga kandungan sehat lain yang ada pada sayur. “Saya memilih bayam sebagai tambahan komposisi untuk memanfaatkan pigmen yang ada pada bayam itu sendiri,” jelasnya. Tak hanya berinovasi pada beras analog, sebelumnya Elfi juga telah bereksperimen dengan minuman antioksidan yang memanfaatkan pigmen dari bunga mawar. Antosianin dari bunga mawar diketahui dapat mencegah penyakit ginjal dan juga hati. Hasil penelitian itu sudah dipublikasikan pada jurnal Internasional dan telah dipatenkan. Bermaksud untuk menyediakan pangan yang sehat bagi masyarakat dan mengurangi penggunaan pewarna non-pangan berbahaya, seperti Rhodamin B, Amaranth, dan Pauncou, Elfi melakukan hilirisasi produk minuman antioksidan, juga dengan nama merk Elviza. Selain Elviza, Elfi juga tengah mengembangkan produk pewarna alaminya dengan ragam warna yang diisolasi dari bahan alam Indonesia.  “Produk pewarna alami saya tengah dikembangkan untuk memenuhi permintaan pengusaha batik ekspor asal Medan yang memiliki usaha batik di Malang,” Elfi menambahkan. Dikatakan Elfi, saat ini pigmen dari bahan alam di Indonesia memiliki potensi yang tinggi untuk dimanfaatkan sebagai produk pada pangan, kosmetik, obat herbal, kerajinan, batik, bahkan menjadi sumber listrik. (nis/can)

Maharesigana UMM dan MDMC Cetak Relawan Tangguh Bencana

MAHASISWA Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Lazismu, dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan Diklat Lapang Relawan Muhammadiyah II sebagai salah satu agenda peringatan Milad Muhammadiyah 106. Acara berlangsung di Wisata Cuban Talun, Kota Batu, 17-18 November lalu. Indra Fery, mahasiswa pascasarja UMM, selaku ketua pelaksana Diklat Lapang Relawan Muhammadiyah menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan itu adalah untuk menjadikan para relawan kompeten terkait penanganan kebencanaan sehingga tidak kaget saat di lapangan. Selain itu, kegiatan diklat juga sebagai wadah silaturahmi antar relawan sari berbagai wilayah. Indra menjelaskan, sesungguhnya kegiatan itu hanya lingkup Malang Raya, namun peminatnya dari berbagai wilayah seperti Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Mojokerto, Cianjur, Pasuruan, Surabaya, Yogyakarta, Pacitan, Sidoarjo, Purwokerto, dan Lamongan dengan jumlah peserta 125 orang. “Kami berusaha menyambut seluruh peserta dengan baik dan kami ucapkan terimakasih atas semangat belajar peserta,” jelas relawan tim media PP MDMC tersebut. Selain itu, ia menjelaskan terkait materi yang diberikan merupakan materi dasar kerelawanan. Mengingat bahwa diklat lapang yang diadakan adalah diklat dasar sehingga pemenuhan masih bersifat dasar. Materi yang diberikan yaitu psikososial, fikih kebencanaan, search and rescue, medis, manajemen posko, dan jurnalistik kebencanaan. Tak tertinggal, Indra menjelaskan, kegiatan akhir dari materi yang diberikan adalah mempraktekan ilmu yang sudah diajarkan dengan cara melakukan simulasi kebencanaan. “Kita masih lakukan pengamatan kedepannya untuk melakukan diklat lanjut, tentunya dengan syarat peserta harus sudah pernah mengikuti diklat dasar. Kita lihat saja kedepannya,” jelasnya. Fanny Ramadan salah satu peserta menjelaskan bahwa ia sangat bersyukur dapat mengikuti Diklat Lapang Relawan Muhammadiyah. Ia mengutarakan, meskipun ia memiliki kemungkinan kecil untuk dapat bertugas langsung di daerah bencana, setidaknya ia mendapatkan ilmu bagaimana dalam menyikapi bencana. Sehingga, ia mampu melindungi diri sendiri dan keluarga, atau bahkan secara luas melindungi masyarakat yang ada di sekitar tempat tinggalnya. “Materinya sangat menarik dan rata-rata merupakan ilmu baru yang saya dapatkan hanya di Diklat Lapang Relawan Muhammadiyah ini,” jelas mahasiswa UMM tersebut. Acara dihadiri Arif Nur Kholis, Sekretaris Umum MDMC Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah; Zakarija Achmad, Koordinator Psikososial MDMC PP Muhammadiyah; Unang Endro Waluyo, Ketua MDMC Rayon II, dr. Rubi Anto Cahyono, Ketua MDMC Kota Blitar; Imam, Ketua MDMC Kabupaten Trenggalek; dan Rosi Hendrawan; Ketua MDMC Kabupaten Malang mewakili MDMC Malang Raya. (nat/can)

Kembali Targetkan Juara Umum, Surya Team UMM Siap Berlaga di KJI dan KBGI di Makassar

KOMPETISI Jembatan Indonesia (KJI) dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) akan diadakan di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), Makassar akhir November ini. Tiga tim di bawah naungan LSO Surya Team dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil lolos menjadi finalis. Mereka adalah Tim Red Jaeger pada kategori Jembatan Canai Dingin, Tim Naraya pada Kategori Jembatan Busur dan Tim Kwangwung pada KBGI. Saat pelepasan para finalis Senin siang (11/19) Ir. Chairil Saleh, MT, Pembina LSO Surya Team menerangkan bahwa persiapan UMM sudah matang. “Hari ini kita adakan simulasi untuk lebih memaksimalkan persiapan kompetisi,” jelasnya. Keikutsertaan UMM untuk kesekian kalinya, sejak tahun 2002 Surya Team terbentuk di bawah jurusan Teknik Sipil. Namun ini adalah tahun kedua bagi Surya Team semenjak menjadi LSO di Fakultas Teknik. Di bawah bimbingan Chairil, para finalis tak hanya dibekali teknis membangun rancangan. Namun juga pelajaran tentang rasa tanggung jawab dan kekompakan. Bagi Chairil, sebuah kekompakan untuk meraih juara teramat amat penting. “Saya ingin setiap tim punya kekompakan yang baik. Jangan sampai saling menyalahkan. Namun bersedia menghadapi setiap rintangan bersama,” tukasnya. Chairil juga berharap agar UMM dapat mendulang suksesnya kembali tahun ini. Ketiga tim UMM dinyatakan sebagai finalis setelah proposalnya lolos tahap proposal yang diajukan sebelumnya. “Nantinya, yang menjadi penilaian bukan kecepatan dalam menyelesaikan setiap rancangan. Tetapi kesesuaian wujud yang dibangun dengan proposal yang sudah diajukan sebelumnya,” tutur Chairil. Penilaian juga dilihat dari ketepatan waktu. Bila terlalu jauh rentang waktu yang sudah dicanangkan dengan waktu penyelesaian, maka juga akan mempengaruhi nilai. Sebelumnya di tahun 2014, UMM telah lebih dulu menorehkan prestasi gemilang dalam KBGI di Universitas Kristen Maranatha, Bandung. UMM berhasil menggondol Juara Umum, menggeser dominasi juara bertahan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan tim tuan rumah. Di tahun berikutnya (2015), UMM terpilih menjadi tuan rumah. Tahun ini (2018), UMM kembali targetkan gelar Juara Umum. Tahun 2015 merupakan penyelenggaraan KJI yang ke-10, sedangkan KBGI yang ke-6. Sejak pertama kali diselenggarakan keduanya selalu diadakan di kampus negeri. UMM menjadi tuan rumah pertama dari kalangan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Bukan kali ini saja, UMM juga dipilih menjadi PTS pertama tuan rumah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) tahun 2006 serta Kontes Robot Indonesia (KRI) tahun 2010. Perebutan Piala Reka Cipta Griya Indonesia dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti RI saat itu berjalan cukup kompetitif. UMM harus bersaing dengan 32 proposal yang masuk dan menjadi 10 finalis yang harus presentasi di Bandung. Mengandalkan bangunan miniatur bernama “Candra Surya”, UMM berhasil menyingkirkan dominasi kesembilan finalis dari berbagai kampus besar di Indonesia, seperti ITS, ITB, UB, dan Politeknik Bandung. (mir/can)

Kirim 2 Tim ke KMHE 2018, UMM Kembali Targetkan Tiga Besar

DUA TIM dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Tim Mekatronic dan Tim Srikandi siap melesat di Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018 di Universitas Negeri Padang, 27 November hingga 1 Desember mendatang. Berkaca ke kontes yang diikuti tahun lalu, Shell Eco-Marathon Singapura, dua tim UMM semakin memantapkan mobilnya. Ajang bergengsi yang diselenggarakan Kemenristekdikti Republik Indonesia ini, tim Mekatronic mengandalkan kendaraan Genetro Suryo U.E.V 06 di kelas Mobil Listrik dan Tim Srikandi dengan kendaraan Hrusangkali Evo 01 di kelas Motor Pembakaran Dalam (MPD) Gasoline. Tahun ini, kedua tim menargetkan posisi 3 besar. “Kalau dulu kita tidak mempertimbangkan angin sebagai faktor yang mempengaruhi. Tapi ternyata angin itu menghambat kecepatan cukup besar. Untuk kali ini kita merubah total body agar bisa melaju maksimal,” ujar Mohammad Jufri selaku pembina. Jufri mengaku sudah mempersiapkan ajang KMHE dengan optimal, baik secara administratif maupun teknis. “Sebenarnya kami itu penasaran, karena kemarin kami kira sudah mantap. Tapi ternyata kita tidak mempertimbangkan faktor angin,” jelas Jufri berkaca kepada Shell Eco-Marathon yang mampu bertengger di empat besar. “Dengan persiapan yang lebih matang, mudah-mudahan bisa lebih meningkat lagi, minimal masuk tiga besar lah,” lanjut Jufri. Sementara pengemudi mobil Genetro Surya U.E.V 06, Renggi Ahmad Rimeldi mengaku mengalami sedikit kesulitan dalam mengendarai mobilnya. “Kesulitannya itu menyetel rem agar tidak ada gesekan sama sekali,” jelas Renggi. Dengan bisa mengendalikan rem secara maksimal, Genetro Surya U.E.V 06 bisa melaju dengan maksimal. Meski begitu, jelang lomba yang tinggal menghitung hari ini, Renggi dan kawan satu timnya itu sudah menemukan pemecahannya. (usa/nis/can)

Ikhwan Marzuqi: Jalan Menuju Kesuksesan Itu Sederhana

“SUKSES itu relatif. Setiap orang mempunyai definisi suksesnya masing-masing. Jadi tidak ada definisi pakem tentang apa itu sukses,” tegas Ikhwan Marzuqi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammdiyah Malang (FK UMM) angkatan 2015. Ikhwan tengah mengulas cuplikan isi buku yang baru-baru ini diterbitkannya, 50 Things That Bring You to Success. Bagi Ikhwan, langkah mencapai kesuksesan dimulai dari menemukan definisi suksesnya sendiri. Barulah, beranjak mengejar arti kesuksesannya itu. Namun demikian, diulas lebih dalam di buku terbitan PT Elex Media Komputindo itu, ketika mengejar sukses tidak hanya harus bekerja keras, namun juga harus bekerja cerdas. Buku ini membahas 50 hal yang menjadi resep kesuksesan bagi setiap orang. Salah satu contoh kerja cerdas, sambung Ikhwan, yakni mengawali segala sesuatu dengan ketulusan dan doa. Bukan usaha dulu baru doa. Melainkan, sebut Ikhwan, sejak menjalani proses sedari awal, tengah, dan akhir harus diiringi doa dan ketulusan. Ia menilai, kebanyakan orang seringkali memposisikan doa di akhir setelah usaha. “Menurut saya itu kurang tepat, karena sudah memposisikan sang pencipta (Allah SWT, red.) nomor dua setelah usaha kita. Jadi harus selalu dalam kondisi berdoa agar kita tetap berjalan dalam bimbingannya,” lanjut pria yang pada tahun 2017 juga menerbitkan buku Spiritual Enlightenment: Kenali, Cintai dan Sayangi Pencerahan Spiritual. Sukses menurut definisi Ikhwan, yakni bisa menikmati hidup dengan kondisi yang kita punya. Bisa bahagia, bisa damai, dan tenang dengan apapun yang sudah kita miliki. Ia mengatakan bahwa definisi kesuksesannya tidaklah muluk-muluk, asal dia bisa menikmati hidup yang dia punya. Dalam buku setebal 200an halaman itu, ia juga menyatakan bahwa dalam usaha mencapai kesuksesan, orang harus membiasakan hidup dalam kesederhanaan. Biasanya, sambung Ikhwan, agar ketika seseorang sudah sukses nantinya, ia tidak mengalami keterlenaan dan melakukan hal yang tidak perlu. Seseorang juga kerap merasa tidak cukup atas pencapaiannya, lantaran ia tidak mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. “Maka memiliki kesederhanaan agar bersyukur dengan setiap pencapainnya. Dan hanya menginginkan apa yang dibutuhkan. Rasa itu yang perlu dimiliki,” tandas Ikhwan. Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Abd. A’la saat mengomentari buku Ikhwan menyatakan, kepiawaian penulis mendialogkan nilai-nilai Islam substantif dan nilai-nilai kemanusiaan universal, menjadikan buku ini bukan hanya mampu menjelaskan dan menggapai kiat-kiat meraih kesuksesan. Tapi juga makna hakiki keberhasilan dan kebahagiaan. “Lebih dari itu, karya Ikhwan dengan telak menggugat keberagamaan kita, tanpa harus menyinggung kita. Dalam ungkapan lain, kita merasa gagal atau sedih. Karena kita beragama hanya sebatas, lahiriah semata, keberagamaan kita harus holistik-transformatif,” pungkas Abd. A’la. (usa/can)

Setelah UGM, UMM Jadi PT yang Mengawali Kukuhkan Insinyur

GELARAN yudisium profesi Insinyur yang diselenggarakan di Gedung Kuliah Bersama IV Universitas Muhammadiyah Malang (GKB IV UMM), Sabtu (17/11), mengukuhkan setidaknya 7 Insinyur baru. Pengukuhan dilakukan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. M. Bisri, MS. “Di Jawa Timur ini baru pertama kali ada yudisium pengambilan sumpah Insinyur. Kalau di Indonesia itu pertama UGM, kedua baru UMM,” kata Bisri. Peraturan Menristekdikti  Nomor 35 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Program Studi insinyur memberikan mandat kepada 40 Perguruan Tinggi se-Indonesia untuk membuka PSPPI termasuk UMM. Melalui proses perkuliahan, mahasiswa PSPPI berhak menyandang gelar Insinyur atau “Ir.”. Setelah mendapat gelar Ir., mereka dapat  mengisi portofolio dan ujian yang diselenggarakan PII Pusat untuk mendapatkan gelar insinyur profesional pratama, insinyur profesional madya, dan insinyur profesional utama. Setelah mendapatkan gelar tersebut mereka diharapkan dapat bersaing dengan tenaga asing. Menurut Bisri, di Indonesia gelar Insinyur sangat sedikit. Dari sekitar 20-an ribu anggota PII, hanya 4300 orang saja yang bergelar Insinyur. “Saya menginginkan agar program Insinyur ini harus dipercepat. Karena kalau di sarjana teknik, kalau mau jadi insinyur harus menunggu dua tahun. Maka tidak heran jika pesertanya sedikit,” ujar Bisri. Selain itu Bisri juga menginginkan untuk diadakannya desain besar untuk jaminan lapangan pekerjaan untuk para sarjana. Menurutnya, harus ada data statistik yang jelas terkait keterbutuhan sarjana dan insinyur di pemerintah dan perusahaan. Dengan maksud agar perguruan tinggi bisa menyiapkan. “Banyak sekali lulusan yang tidak tepat sasaran karena ketidakjelasan peluang. Kita ngoyo-ngoyo menyiapkan mahasiswa agar bisa membangun negeri di bidangnya, anak teknik ketika lulus malah jualan pakaian, ini kan sia-sia,” tandasnya. (usa/can)

Galang Donasi untuk Palu-Donggala, Prodi Matematika UMM Gelar Seminar Motivasi

BANTUAN kemanusiaan terus mengalir untuk korban gempa tsunami Palu-Donggala. Salah satunya yang dilakukan Program Studi Matematika semester 7 kelas C menggalang donasi melalui seminar motivasi, Sabtu (17/11), di Auditorium BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hadir sebagai pembicara, Huda Hermansyah; penulis buku “Bukan Senja Terakhir” dan Janice Omar Javier S.Psi; Manager of Psychology Service NOL Enterprise Indonesia. Seminar ini bertema “How to know love, life, and lie by handwriting analysis”. Seminar diikuti 240 peserta. Huda Hermansyah tidak hanya memberikan banyak motivasi mengenai pengalamannya menulis buku. Mahasiswa program studi (Prodi) Psikologi UMM ini juga membagikan pengalamannya sebagai relawan kesehatan di daerah bencana. “Saya banyak belajar dari ketegaran korban bencana. Mereka lebih kuat dan tabah, sedangkan kita di sini mudah saja mengeluh. Dari banyak cerita yang saya dapat, insya Allah kedepannya saya aka menulis mengenai pengalaman saya menjadi relawan,” kata Huda sekaligus menutup materinya. Selain itu, Omar yang juga alumni prodi Psikologi UMM memberikan pemahaman bagaimana cara menganalisis karakter seseorang melalui tulisan tangan. Materi ini disampaikan secara menarik dengan interaksi langsung oleh peserta. Peserta diminta untuk menulis dan menganalisa kepribadian bersama-sama dengan pemateri. Menurut Ketua pelaksana, Ion Firdaus, dari seminar motivasi ini diharapkan bisa mengumpulkan donasi untuk korban gempa tsunami Palu-Donggala. Donasi ini diserahkan kepada perwakilan mahasiswa Palu yang ada di UMM. “Ini merupakan seminar amal sebagai bentuk kepedulian kami kepada teman-teman yang terkena musibah gempa tsunami di Palu-Donggala. Kami berharap dengan adanya seminar ini bisa sedikit mengelap peluh yang dirasakan masyarakat Palu-Donggala,” kata Ion. (bel/can)