Okky Madasari Serukan Muatan Narasi Wacana Kritis di Tiap Karya Sastra untuk Perangi Ekstrimisme

PENULIS kenamaan Indonesia, Okky Madasari, mengisi kajian pekanan Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang (PSIF UMM), Jumat (02/18). Melalui tema “Sastra, Agama & Perdamaian”, Okky memaparkan pergerakan zaman di era milenial ini yang dikendalikan oleh narasi. “Apalagi di era setelah ’98 (reformasi, red.), kebebasan berpendapat sudah dijamin Negara. Secara hukum, masyarakat sudah tidak lagi dibayang-bayang ancaman sensor dan pemberedelan,” jelas penulis novel best seller “Maryam” itu. Momentum ini juga ditandai dengan mudahnya tiap orang mengakses informasi. Namun begitu, Okky meresahkan dengan atmosfer kebebasan ini, justru banyak buku-buku yang digandrungi adalah buku dengan genre bermuatan narasi wacana simbolik. Ia mengambil contoh buku Ayat-Ayat Cinta. Novel ini sangat digandrungi hingga naik cetak 160 ribu eksemplar dalam kurun tiga tahun. “Novel yang dilabeli sastra Islami seperti itu membentuk standar bagaimana novel islami itu. Akhirnya banyak yang meniru,” papar Okky. Novel-novel seperti itu, sambung Okky, hanya mengulik nilai-nilai ke-Islaman di permukaan saja. Karena kerap kali yang ditunjukan terkait ke-Islamannya hanyalah sebatas simbol, seperti salam, sholat, dan ritus ibadah rutinan lainnya. Demikian, dinilai Okky, novel-novel seperti itu kehilangan roh keIslamannya dan tidak memberikan wacana kritis. “Saya akhirnya menggali akar budaya seperti itu darimana datangnya. Akhirnya saya mendapatkan jawaban, yaitu berawal dari novel-novel Buya Hamka,” papar okky. Buya Hamka tidak diragukan lagi keulamaannya, namun ia memilih model novel-novel demikian karena berada di bawah tekanan kolonialisme yang menekan narasi-narasi tentang semangat perjuangan. “Ya, wajar kalau Buya Hamka memilih gaya seperti itu agar masih bisa bersuara tanpa harus ditekan. Kan Buya Hamka punya alasan, kalau penulis jaman sekarang apa alasannya?” lanjut Okky. Di jalur kepenulisan yang dipilihnya, Okky memilih untuk tetap memberi sajian narasi dengan sentuhan wacana kritis untuk mengkritisi label Islam simbolik. Menurutnya, dengan memberi sajian narasi wacana kritis, seorang penulis dapat melawan hegemoni narasi wacana Islam simbolik. “Wacana kritis seperti ini harus dibawa ke ranah yang lebih luas ke dalam masyarakat,” tegas Okky. “Sastra dan narasi yang membentuk perdamaian itu adalah narasi yang memberi wacana kritis dan tidak dogmatis yang hanya membuat orang setuju, tapi tidak tahu apa yang disetujui,” jelas Okky. Menurutnya mulai sekarang, para penulis harus berpacu dan berani memberi sentuhan wacana kritis di tiap karya yang ditelurkannya. “Kita harus merebut ruang pembaca dan merubah pola pikir mereka untuk berani mengkritisi dan menghindari gagasan dogmatis agar, tidak mudah terjebak radikalisme yang berujung ekstremisme,” pungkasnya. (usa/can)

Sosialisasi Kebijakan Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi 3.0 Digelar di UMM

PERMENRISTEKDIKTI No. 32/2016 mengamanatkan agar Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) mengembangkan instrumen akreditasi yang relevan dengan pengembangan sektor Pendidikan Tinggi di Indonesia dan mengikuti perkembangan global. Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (IAPT), terang Kepala Kantor Pengelola dan Pengendali Akreditasi (KPPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. H. Ainur Rofiq, M.Kes., harus dikembangkan dengan memperhatikan keragaman model PT dan misi institusi yang tercermin dari program akademik yang dikembangkan. Berdasarkan Permenristekdikti No. 32/2016 dan Peraturan BAN-PT No. 2 Tahun 2017 tentang Sistem Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi, BAN-PT telah mengembangkan Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi versi 2018, yang secara singkat ditulis IAPT 3.0. Sementara, instrumen akreditasi program studi yakni APS 4.0. IAPT 3.0 menggunakan 9 kriteria yaitu Visi, Misi, Tujuan dan Strategi; Tata Pamong, Tata Kelola, Kerjasama; Mahasiswa; Sumber Daya Manusia; Keuangan, Sarana, Prasarana; Pendidikan; Penelitian; Pengabdian kepada Masyarakat; Luaran dan Capaian Tridharma. “Instrumen itu secara keseluruhan mengukur tingkat ketercapaian dan pelampauan Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan standar yang ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi,” demikian diterangkan Ainur Rofiq saat sosialisasi kebijakan Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi 3.0, Sabtu (3/11). Hadir sebagai narasumber, Dewan Eksekutif BAN-PT Prof. Dr. Ir. S.M. Widyastuti, M.Sc., serta Tim Penyusun Instrumen APT 3.0 dan APS 4.0 BAN-PT Saepudin Nirwan, S.Kom, M.Kom. Sosialisasi penyusunan laporan evaluasi diri dan laporan kinerja perguruan tinggi yang diselenggarakan UMM ini bekerjasama dengan BAN-PT dan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa). Selain itu, dalam kesempatan ini juga dilakukan penyerahan sertifikat ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA) oleh rektor UMM yang diwakili Wakil Rektor 1 yang membidangi akademik, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., kepada Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi, Prodi Manajemen, dan Prodi Peternakan. Dengan diserahkannya sertifikat AUN-QA itu, ketiga Prodi ini telah mendapatkan pengakuan untuk memiliki keselarasan, terutama dalam bidang jasa pendidikan dan jaminan mutu di tingkat Asia Tenggara. Disampaikan Syamsul, pada level nasional UMM sudah 10 tahun berturut-turut memperoleh Anugerah Kampus Unggul (AKU) Kopertis VII Jawa Timur dan juga akreditasi institusi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).  Selanjutnya, UMM ingin berkompetisi di level Internasional. “Sertifikasi yang diperoleh UMM pada level ASEAN tersebut nantinya akan meningkatkan pengakuan serta kompetisi mahasiswa dan alumni, terutama di level ASEAN,” pungkas Syamsul. Acara ini turut dihadiri Perguruan Tinggi Asuh Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dan Universitas PGRI Ronggolawe (Uniro). Juga, seluruh perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Jawa Timur. (*)

UMM Borong Medali di Kejuaraan Provinsi Taekwondo Indonesia

DUA BELAS atlet dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih 5 medali emas, 5 medali perak, dan 2 medali perunggu dalam ajang Kejuaraan Provinsi Taekwondo Indonesia di Ngawi, Jawa Timur, (28/10). Tahun ini, UMM mencatatkan raihan gemilangnya sejak rutin mengirim atletnya. “Tahun lalu hanya mendapatkan 2 emas dan 1 perak. Kita bersyukur tahun ini dapat perolehan 12 medali. Senang dan bangga dapat membawa nama UMM dalam kejuaraan ini,” terang Hadi Nugraha, ketua umum UKM Taekwondo UMM. Ajang kali ini mempertandingkan 2 nomor pertandingan, yaitu Kyoerugi dan Poomsae. Kyoerugi sendiri menggunakan bagan pertandingan dengan sistem gugur. Sedangkan Poomsae merupakan nomor yang menonjolkan teknik gerakan. Di nomor ini, peserta Poomsae melakukan battle keindahan gerak. Selain latihan regular 2 kali dalam seminggu, para atlet juga mengikuti training center yang sudah berlangsung selama satu bulan setengah sebelum kejuaraan. Mereka juga selalu menjaga berat badannya, agar saat penimbangan sesuai dengan kelas yang mereka ikuti. Saat ini mereka tengah mempersiapkan 20 atletnya untuk menghadapi kejuaraan UM Cup akhir November nanti. “Kedepannya kami akan meningkatkan lagi dan terus mencari atlet-atlet yang berpotensi untuk didelegasikan pada kejuaraan-kejuaraan yang akan datang,” imbuhnya. 12 mahasiswa peraih medali: 1. Faisal Burhanudin – Medali emas Poomsae pemula 2. Yogi Wahyudi – Medali emas Gyeorugi U-52 pemula 3. Muhammad Kadhafi – Medali emas Gyeorugi U-55 pemula 4. Lili Ernawati – Medali emas Gyeorugi U-40 pemula 5. Putri Pratiwi Rundju – Medali emas Gyeorugi U-49 pemula 6. Bima Al-Furqon – Medali perak Gyeorugi U-59 pemula 7. Gavra Dharmmesta Yusuf – Medali perak Gyeorugi U-47 Pemula 8. Muhammad Kautsar Khalifatullah – Medali perak Gyeorugi U-74 Senior 9. Hadi Nugraha – Medali perak Gyeorugi U-87 Senior 10. Farah Aulia Rahmah – Medali perak Gyeorugi U-87 Senior 11. Yolan Dwi Frianto Nugroho – Medali perunggu Gyeorugi U-54 Senior 12. Muhammad Luqman Hakim – Medali perunggu Gyeorugi U-68 Senior

UMM Suplai Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan di Malang

CURAH HUJAN yang tak menentu mengakibatkan sejumlah wilayah di Malang dilanda kekeringan. Sebutlah di Dusun Gunung Tumpuk Kelurahan Sidoluhur Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (2/11), bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah Lawang Kabupaten Malang menyalurkan air bersih ke wilayah tersebut. Akses yang dilalui tim dari UMM tidaklah mudah. Lokasi yang berada di dataran tinggi ini memiliki jalan yang rusak dan hanya dapat dilalui satu mobil saja. Untuk membawa 5000 liter tangki air bersih, setidaknya membutuhkan waktu hingga 3 jam. Warga Dusun Sidoluhur sangat antusias saat menunggu distribusi air bersih. Warga mengantri dengan membawa beragam wadah untuk menampung air. “Kedepannya, pendistribusian air bersih tidak hanya di wilayah Lawang saja. Kegiatan ini akan diperluas di daerah kekeringan lainnya. Rencana terdekat UMM akan mengirim bantuan air bersih ke daerah kekeringan di wilayah Singosari,” terang Hasim AM.d., koordinator bantuan air bersih UMM. Terhitung sudah tiga hari dusun ini tak lagi mendapat pasokan air bersih. Inisiatif UMM menyalurkan air bersih ke sejumlah daerah disebut Rektor UMM, Dr. Fauzan M.Pd. sebagai wujud pengabdian dan kepedulian UMM kepada masyarakat kurang beruntung. Wujud komitmen lainnya, UMM membantu masyarakat kurang beruntung, yakni dengan mengirim sejumlah relawan mahasiswa dan tenaga kesehatan Rumah Sakit untuk membantu meringankan beban akibat bencana di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat. Tak hanya itu, UMM juga mendapat kepercayaan sebagai penyelenggara program hibah Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) Indonesia dari Kemenristekdikti bagi sejumlah mahasiswa Universitas Hamzanwadi, NTB. Sebaliknya, UMM juga mengirim 15 mahasiswa PGSD untuk mendapat program serupa. Di sana tidak hanya pembelajaran mengenai budaya pembelajaran universitas, melainkan juga ikut terjun langsung ke wilayah terdampak bencana di Lombok. “Di sana tidak hanya pembelajaran mengenai budaya pembelajaran universitas, melainkan juga ikut terjun langsung wilayah terdampak bencana di Lombok, tepatnya daerah Sambelia. Mahasiswa diajak untuk berpartisipasi untuk memberikan trauma healing atau pemulihan trauma di sekolah dasar serta membagikan sembako kepada korban bencana,” terang Fauzan. (bel/can)

PGSD UMM Selenggarakan Sistem Pembelajaran Daring Bagi Mahasiswa Lombok

KEBERADAAN teknologi informasi dan komunikasi yang begitu canggih dewasa ini menawarkan potensi besar untuk berjejaring antar perguruan tinggi. Hal ini sangat membantu dalam upaya pemerataan mutu pendidikan di Indonesia, terutama dalam kemampuan ilmu pengetahuan, teknologi (IPTEK) dan inovasi. Salah satu upayanya, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) melalui program hibah Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) Indonesia di tahun 2018. Kementerian mempercayakan program itu kepada Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Program ini melibatkan 15 mahasiswa yang menjadi peserta pertukaran mahasiswa dari Universitas Hamzanwadi, Lombok Utara. Mereka bakal menjalani program ini dalam satu semester melalui tatap muka dan daring (online). Menurut Erna Yayuk, S.Pd, M.Pd selaku kepala prodi PGSD UMM, hasil yang diharapkan dari program ini yakni untuk menambah wawasan kebangsaan dalam hal pertukaran budaya, terutama pada sistem perkuliahan. “Mahasiswa sebagai agent of change harus bisa hidup di tengah-tengah masyarakat yang serba teknologi. Kemudian, dilihat dari luasnya Indonesia tentunya akan membawa budaya yang berbeda-beda. Oleh karenanya, program ini tujuannya menambah wawasan kebangsaan dan meningkatkan rasa toleransi pada mahasiswa,” terang Erna saat diwawancarai, Kamis (1/11). Prodi PGSD menunjukkan ciri khasnya dalam pembelajaran inklusi anak kebutuhan khusus miliknya kepada mahasiswa dari Lombok. Selain pengenalan ciri khas sistem perkuliahan, dalam kegiatan itu juga mereka memperkenalkan yayasan pendidikan sekolah dasar milik UMM serta pembelajaran membatik. Program ini, sambung Erna, dikenalkan atas dasar penerapan visi dari Muhammadiyah untuk bangsa. Sebaliknya, Prodi PGSD UMM juga mengirim 15 mahasiswanya untuk mengikuti program serupa di Universitas Hamzanwadi. Di sana tidak hanya pembelajaran mengenai budaya pembelajaran universitas, melainkan juga ikut terjun langsung wilayah terdampak bencana di Lombok, tepatnya daerah Sambelia. Mahasiswa diajak untuk berpartisipasi untuk memberikan trauma healing atau pemulihan trauma di sekolah dasar serta membagikan sembako kepada korban bencana. “Mungkin banyak orang yang tidak bisa datang dan melihat kondisi saudara kita di Lombok secara langsung. Sehingga bagi saya, ini menjadi momen yang baik ketika saya dapat berbagi rasa dan kebahagiaan kepada korban secara langsung,” ujar Elys Sulistyowati, salah satu mahasiswa yang memberikan kegiatan trauma healing bagi siswa sekolah dasar korban bencana Lombok. (*)

Dosen HI UMM Jadi Dosen Tamu di 3 Kampus Taiwan

UNTUK kali ketiga, dosen Ilmu Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Toni Dian Effendi, M.Si, pergi ke Taiwan sejak pertama kali pada tahun 2015 sebagai peneliti tamu di Institute of International Relations, National Cheng Chi University. Toni memperoleh program penelitian Taiwan Fellowship yang disponsori Pemerintah Taiwan. “Meskipun basis penelitian saya ada di Taipei, namun dalam proses penelitian saya juga melakukan wawancara sampai ke wilayah selatan di daerah Kaohsiung,” terang Toni saat diwawancarai Senin (30/10). Pada saat itu, Toni melakukan wawancara di tiga tempat yaitu di National Kaohsiung Normal University, National Sun Yat Sen University dan organisasi TASAT atau Trans Asia Sister Association in Taiwan. “Saat itu memang topik penelitian saya yakni tentang hubungan people-to-people di antara masyarakat Indonesia dan Taiwan,” terang Tony. Selepas kembali ke Indonesia, Toni melanjutkan jaringan dan pertemanan dengan beberapa orang yang ditemuinya di Taiwan. Hasil dari kegiatan ini kemudian ditindaklanjuti dengan digagasnya kegiatan KKN Internasional mahasiswa HI UMM ke Taiwan pada tahun 2017. “Kegiatan ini didukung oleh MPA atau Meinong People’s Association di mana saat itu mahasiswa KKN melakukan kegiatannya di Meinong, Kaohsiung. Sebelumnya, delegasi dari MPA berkunjung ke Malang termasuk juga ke kampus UMM,” tuturnya. Pada pertengahan tahun 2018, delegasi dari MPA kembali datang ke Malang bersama dengan beberapa anak muda yang memainkan musik tradisional Ba In di UMM. Pada saat itu mereka juga mengikuti upacara bendera peringatan kemerdekaan Indonesia di UMM. Pada bulan Oktober 2018 ini, beberapa kolega Toni di Taiwan kembali mengundangnya untuk datang ke Taiwan, khususnya di Kaohsiung dan Meinong. Pada awalnya Professor Lee Leong Sze dari National Kaohsiung Normal University mengundang Toni untuk memberikan kuliah tamu di kampusnya. “Namun dalam perkembangannya ada 2 kampus lagi yaitu National Sun Yat Sen University dan Meiho University yang juga mengundang saya untuk berbagi penelitian yang saya lakukan. Dalam kegiatan kuliah tamu ini saya diundang untuk berbicara terkait dengan perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Memang selain kajian HI di Asia Timur dan Diplomasi, kajian masyarakat Tionghoa menjadi minat penelitian saya.” jelasnya. Kuliah tamu pertama dilaksanakan di National Kaohsiung Normal University pada 23 Oktober 2018, di mana Toni menyampaikan kuliah bertopik tentang “Chinese Indonesian Identity and Culture Expression in Post Reform Indonesia”. Pada topik ini, selain bercerita tentang masyarakat Tionghoa pasca reformasi, Toni juga menceritakan bagaimana citra tentang Tionghoa yang muncul dalam beberapa film di Indonesia. Kuliah tamu kedua dihelat di National Sun Yat Sen University pada 24 Oktober 2018, di program Graduate Institute of Sociology. Toni juga menyampaikan topik tentang Tionghoa dalam beberapa publikasi buku di Indonesia pasca reformasi. “Awalnya dikampus ini saya agak nervous karena kampus ini adalah salah satu kampus terbaik di Taiwan dan saya mengetahui beberapa orang yang hadir dalam presentasi saya adalah beberapa profesor yang terkenal dan juga hadir seorang profesor Indonesianist,” ceritanya. Namun karena suasana pertemanan dalam konteks akademik yang hangat, Toni justru sangat bersyukur karena dapat berbagi dan berdiskusi dengan mereka serta mendapatkan banyak pengetahuan tambahan yang penting dalam penelitiannya. Jika di National Kaohsiung Normal University dan National Sun Yat-Sen University, kuliah tamu dihadiri oleh mahasiswa pasca sarjana dan beberapa profesor, kuliah tamu di Meiho University pada 25 Oktober 2018 dihadiri oleh mahasiswa S1 dan beberapa orang dosen. Kuliah tamu di Meiho University ini menjadi menarik karena Toni dapat berjumpa dengan mahasiswa S1 semester 1 dan 3 dengan ekspresi dan diskusi yang hangat. “Saya sangat beruntung dalam kesempatan ini karena selain dapat berbagi, juga mengetahui bagaimana mahasiswa S1 di Taiwan. Ini adalah kali pertama saya datang ke Meiho University yang terletak di Beipu, Pingtung, Taiwan Selatan,” ungkapnya. (*)

Geser ITB dan IPB, Dosen UMM Juara Pertama Dosen Berprestasi Tingkat Nasional

BARU saja menyabet 2nd Runner-up ASEAN Best Practices Competition untuk kategori Bangunan Hemat Energi pada penganugerahan ASEAN Energy Award 2018, UMM kembali mendapatkan kado kedua. Kali ini hadiah tersebut datang dari seorang Djoko Sigit Sayogo, S.E., M. ACC., Ph.D. Ia meraih Juara Pertama dalam perhelatan pemilihan finalis Dosen Berprestasi Tingkat Nasional bidang Sosial Humaniora dari Kemenristekdikti, Senin (29/10). Djoko yang telah memiliki 9 publikasi bereputasi internasional ini, pada tahap presentasi disanding dengan delapan finalis lainnya. Delapan finalis tersebut, lima berasal dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan tiga sisanya dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Setiap finalis diberi waktu 15 menit untuk menyampaikan filosofi riset, pengajaran dan pengabdian, menjelaskan terkait risetnya dan prestasi-prestasi yang telah dicapai dengan riset tersebut. Saat presentasi, Djoko menuturkan, ia diuji terkait kebermanfaatan risetnya bagi negara dan masyarakat. Pria yang menjabat sebagai Wakil Direktur III Bidang Hilirisasi & Komersialisasi Hasil Penelitian dan Pengabdian  DP2M UMM ini, mengaku sangat bangga saat diuji hampir tiga puluh menit oleh dewan juri. Di bidang Sosial Humaniora, Djoko menyisihkan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). “Saya menjelaskan bagaimana kita dapat mengurangi information asymmetry (pihak penjual yang memiliki informasi lebih banyak tentang produk dibandingkan pembeli, red.) dan meningkatkan trust (kepercayaan, red.) dengan memfasilitasi konsumen melakukan penelusuran informasi sepanjang rantai suplai produk melalui teknologi informasi,” terang Djoko yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini. UMM memiliki Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah (LPPI) yang menyediakan intensif khusus bagi mereka yang jurnalnya diterbitkan di jurnal internasional bereputasi atau terindeks Scopus. Meski begitu, sebut Wakil Rektor I yang membidangi akademik, Prof Syamsul Arifin MSi, budaya prestasi dosen UMM ini tidak hanya dinilai dari torehannya di bidang akademik, melainkan juga singgungannya dengan bidang Sumber Daya Manusia (SDM). Syamsul menyebut bahwa pihaknya terus mendorong seluruh dosen UMM untuk terus memacu prestasi publikasi di jurnal bereputasi internasional. “Terus terang, raihan Pak Djoko ini melebihi ekspektasi kami. Ke depan, materi ajar yang disampaikan dosen seharusnya merupakan hasil riset yang telah dikerjakan dirinya. Demikian yang kita sebut sebagai dosen berkompetensi,” tukasnya. (*)

Komitmen Sebagai Kampus Pelopor Energi Baru Terbarukan, UMM Kembali Terima ASEAN Energy Awards

UNTUK kesekian kalinya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat penganugerahan ASEAN Energy Award 2018 dengan kategori ASEAN Best Practices Competition for Energy Efficient Buildings. UMM dianugerahi sebagai 2nd Runner-up sub kategori bangunan tropis (tropical building) untuk Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa). Penghargaan diterima langsung Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. di Singapura hari ini, Senin (29/10). Rusunawa UMM dibangun pada tahun 2008 untuk mendukung Program Pengembangan Kepribadian & Kepemimpinan (P2KK) bagi mahasiswa baru UMM. Bangunan berkonsep hemat energi ini memiliki banyak ruangan besar dengan atap tinggi serta pintu utamanya dibiarkan terbuka. Tidak ada AC dan hanya bergantung pada sirkulasi udara alam. Sekira 90% penerangan bangunan menggunakan cahaya alami selama siang hari. Pengukuran anemometer kawat dengan tiruan perangkat lunak Computational Fluid Dynamics (CFD) menunjukkan bahwa laju kecepatan udara dalam ruangan pada bangunan ini adalah 0,6 m/detik dan suhunya adalah 26,5OC . Temperatur ini sesuai dengan persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1007/MENKES/PER/ V/2001 (18 – 30OC) dan juga memenuhi persyaratan Standar ASHRAE 55 Pengukuran intensitas cahaya di ruangan pada bangunan ini adalah 567-765 lux. Hal tersebut memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1007 / MENKES / PER / V / 2011 yang minimumnya 60 lux dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-6197-2011 yang minimumnya adalah 250 lux untuk kamar tidur dan 350 lux untuk kelas. Rusunawa UMM sepenuhnya menggunakan sumber energi terbarukan yang disediakan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Sengkaling I. Lokasinya berjarak 600 meter sebelah barat Rusunawa UMM. PLTMH Sengkaling I menghasilkan daya  total 100 KW. Cara kerjanya dengan memanfaatkan Sungai Brantas melalui saluran irigasi Sengakling I dan dijatuhkan dari ketinggian 18 meter untuk menggerakkan turbin dan generator listrik. Rusunawa UMM menggunakan sekitar 23 KW, yaitu sebanyak 23% total kapasitas dari PLTMH Sengkaling I. Setiap tahun, Rusunawa UMM menggunakan daya sebesar 70,000 kWh. Jika faktor emisi koefisien untuk jaringan transmisi Jawa –Madura-Bali sebesar 0.891 t-CO2/kWh, maka dapat mengurangi gas emisi rumah kaca sebesar 62.37 t-CO2/tahun. “Selain berupa bangunan hemat energi, UMM memang telah lama berkomitmen menjadi perguruan tinggi yang memiliki perhatian besar pada inovasi pengembangan energi alternatif, yakni sebagai kampus pelopor Energi Baru Terbarukan. Dan pada penganugrahan ini UMM adalah satu-satunya dari perguruan tinggi, selainnya dari perusahaan di wilayah ASEAN,” kata Fauzan saat diwawancarai via telepon dari Marina Bay Sands, Singapura. Selain PLTMH I dan II yang ada dilingkungan UMM, melalui program pengabdian dalam mengembangkan PLTMH di Sumber Maron, Desa Karangsuko, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pendirian PLTMH Sumber Maron terbukti berhasil. Pada tahun 2009, 1100 warga sekitar Sumber Maron masih mengandalkan energi listrik dan PLN. Sejak dibangun tahun 2014, jumlah warga yang menggunakan listrik yang bersumber dari PLTMH meningkat menjadi 1800. Dari situ, mulailah dibangun sarana dan prasarana pendukung, yaitu tempat wisata yang pada akhirnya memberi outcome positif bagi pembangunan desa. (Humas UMM)

Lulusan Fisioterapi Ini Sukses Berkiprah Jadi Fisioterapis Profesional PS Barito Putera

TERWUJUDNYA cita-cita adalah harapan setiap orang. Begitulah yang dialami Dian Erfianto Pambudi. Alumni lulusan Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2017 ini menjadi fisioterapis profesional salah satu klub sepak bola papan atas Liga 1 Indonesia. Klub yang ia tangani yakni Persatuan Sepak (PS) Bola Barito Putera. Erfianto menjadi fisioterapis profesional klub sepak bola yang berbasis di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini sejak awal 2018. Berawal dari hobinya pada olahraga sepak bola, Erfianto bercita-cita menjadi fisioterapis profesional di dunia olahraga. Setelah menamatkan pendidikan strata satunya di UMM, pria kelahiran Bondowoso 24 tahun silam ini mulai mencari peluang untuk mengejar cita-citanya. Ceritanya dimulai sejak PS Barito Putera tengah mengadakan training center (TC) di Kota Batu, Jawa Timur. Erfianto ditawari mendampingi PS Barito Putera sebagai tenaga fisioterapis selama TC yang berlangsung dua minggu. Tanpa pikir panjang, Erfianto mengambil tawaran ini. Selama menjalankan tugas, para pemain dan fisioterapis tetap di Barito Putera sangat senang dengan kinerjanya. Hingga salah satu pengelola Barito Putera meminta Erfianto masuk ke dalam tim fisioterapis tetap. Hal ini membuatnya senang karena mimpinya tercapai. Sempat terkendala proses perekrutannya karena masalah manajemen, Erfianto pada akhirnya resmi menjadi bagian dari fisioterapis inti PS Barito Putera. Saat diwawancarai via telepon, Minggu (28/10), anak laki-laki dari pasangan Jarimin dan Windiah Tanti Utari ini lantas menceritakan kesibukannya selama bertugas. “Kegiatannya bisa dibilang sibuk-sibuk santai. Kalau banyak pemain cidera kita harus bisa ngatur jadwal treatment (perawatan, red.). Juga membantu bagian perlengkapan untuk memenuhi kebutuhan pemain. Mulai dari baju sampai peralatan yang menunjang latihan. Kalau pekerjaan sudah selesai semua baru bisa bersantai,” jelasnya diakhiri dengan tawa kecil. Diakui Erifianto, menempuh perkuliahan di Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UMM sangat menunjang karirnya sebagai fisioterapis professional. Selama menempuh perkuliahan di Fikes UMM, Erfianto menyebut punya dosen favorit yang menginspirasinya. Ia adalah Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis. Menurut Erfianto, dosen favoritnya ini tidak hanya mengajarkan teori dalam kelas. Dimas, diceritakan Erifianto, kerap kali mengajarkan banyak hal di luar kelas. Juga, seringkali menginspirasi dan memberi motivasi untuk berdedikasi tinggi di dunia fisioterapi. Peluang menjadi fisioterapi profesional menurut Erfianto masih terbuka sangat lebar. Apalagi di dunia olahraga. Hanya saja, sambung Erfianto yang sering diketahui orang hanya di cabang olahraga sepak bola. Padahal, cabang olahraga lainnya juga punya peluang yang sama besarnya untuk menjadi fisioterapis profesional. “Barito Putera sangat mengesankan bagi saya. Di sini kekeluargaanya bagus banget! Keagamaannya kuat. Selain itu, dari manajemen dan pelatih sampai pemain semuanya baik dan saling membantu,” tukasnya. (mir/can)

Malik Fadjar: Kampus Ini Besar Karena Inspirasi

ANGGOTA Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia yang juga merupakan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM), Prof. H.A. Malik Fadjar, M.Sc., Senin (29/10), menginjeksi energi baru kepada dosen dan karyawan UMM. Malik memberi pengajian umum sebagai salah satu wujud dari pembinaan Al Islam dan Kemuhammadiyahan di UMM. Kegiatan berlangsung di Ruang Sidang Senat dan Auditorium BAU. Dalam penyampaianya, Malik menyampaikan bahwa Kampus Putih besar karena inspirasi yang dilahirkan darinya. Ditegaskan Malik, kepala unit, karyawan, dosen hingga kalangan akar rumput juga mesti memberi inspirasi antara satu dengan yang lainnya. Memberi inspirasi itu, kata Malik, bisa berupa hadirnya figur-figur inspiratif, sepak terjang yang positif, juga langkah-langkah yang menginspirasi. “Inspirasi inilah yang mesti ditumbuh kembangkan di lingkungan kita. Sama halnya juga di keluarga kita. Kita juga mesti menumbuhkan inspirasi. Inspirasi itu tumbuh di ruang kerja, ruang kelas, juga apa-apa yang kita jalani sehari-harinya,” ungkapnya. Demikian Rektor UMM juga pada hari ini, untuk kesekian kalinya, menerima ASEAN Energy Award 2018 dengan kategori ASEAN Best Practices Competition for Energy Efficient Buildings sub kategori Tropical Building. Banyak kampus yang lebih dulu besar. Namun begitu, sebut Malik, kiprahnya sedikit saja bahkan tidak sedikitpun memberikan inspirasi bagi sekitarnya. Terlebih bagi dunia pendidikan pada khususnya. “Seluruh pejabat struktural harus memberikan inspirasi, tidak hanya di unitnya, tapi juga ditingkatan universitas, juga jika memungkinkan di tingkatan yang lebih luas lagi,” pesannya. “Bagaimana seorang pemimpin unit, pejabat struktural, dosen dapat memberikan inspirasi bagi unit kerja dan lingkungannya. Yakni lewat cara memotivasi, bersikap ramah, tidak egois. Juga selalu menyebarkan virus-virus energi positif. Tak kalah penting, berinteraksi dengan lainnya,” tutur Malik. Demikianlah prinsip ini merupakan perwujudan komitmen yang telah dicanangkan UMM, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. Tak kalah penting, seorang pemberi inspirasi harus mampu membaca tanda-tanda zaman. Yang dimaksud membaca tanda-tanda zaman, kata Malik, adalah ia yang melihat segala sesuatu secara optimis. “Contohnya, dulu ketika Kampus III ini dibangun, tidak ada yang berpikir bahwa kemudian kampus ini bakal menjadi sebesar ini. Mereka cuma bisa bilang, tanah kayak gini (tidak strategis, kontur tanah buruk, red.) kok dibeli,” ceritanya. Inspirasi itu dapat muncul, sambung Malik, jika kita senantiasa berpositif thinking atau berpikiran positif. Dalam istilah lain, kita senantiasa berpikir huznudzon atau berprasangka baik. Dengan berprasangka baik, kita bakal melahirkan cinta. Karena cinta lah yang lantas melahirkan komitmen-komitmen positif. “Kampus ini besar karena kaya akan inspirasi. Inspirasi melahirkan imajinasi yang berwujud mimpi dan pikiran-pikiran besar,” pungkasnya. (can)