Juarai Peksiminas Kemenristekdikti, Mahasiswa Hukum UMM: Dangdut Ada Dalam Jiwa Ini

MAHASISWA Fakultas Hukum UMM, Mochammad Abdul Wahid baru-baru ini diumumkan sebagai juara pertama pada tangkai lomba nyanyi tunggal dangdut dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) ke- 14 Oktober lalu. Acara yang digelar di Yogyakarta ini menjadi titik kebahagiaan pria yang akrab disapa Wahid tersebut. Bagaimana tidak, pada tahun sebelumnya, acara yang digelar Kemenristekdikti ini, ia harus puas pada posisi juara 2 nasional. Pria yang bercita-cita menjadi penegak hukum tersebut mengaku menseriusi karir menyanyinya sejak kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA). Wahid seringkali tampil di kontes Dangdut regional hingga nasional. Beberapa kali pula tampil di acara televisi, seperti I Can See Your Voice, Kilau Dangdut Mania Dadakan (DMD) dan Tarung Dangdut di JTV. Dalam Peksiminas 2018, Wahid bertemu dengan berbagai perwakilan perguruan tinggi negeri dan swasta yang mewakili provinsinya masing-masing. Wahid saat diwawancara Kamis (15/11), mengaku penampilan dari masing-masing regional teramat baik. Setiap sesinya, kata Wahid, jadi momen sangat mendebarkan bagi dirinya. Wahid menyiapkan diri dengan matang jauh hari sebelum kompetisi yang ia ikuti. Baginya, latihan bukan hanya ketika akan mengikuti kompetisi. Latihan adalah sebuah kegiatan rutin untuk terus mengasah kemampuan. Pria asal Sidoarjo Jawa Timur ini mengaku memfavoritkan aliran musik Pop, Rock, Metal dan Sholawat. Ketika ditanya mengapa dangdut tak masuk dalam daftar aliran musik yang disenangi, ia menjawab, “Dangdut tidak perlu ditanyakan, ia sudah ada dalam jiwa ini,” disusul gelak tawa. Wahid berbagi tips agar selalu prima dalam setiap performance. “Kuasai materi sebaik mungkin. Bila bernyanyi maka maksimalkan latihan lagu tersebut dan ulik sedalam mungkin,” ujar mahasiswa yang kini serius membesarkan Unit Kegiatan Mahasiswa Musabaqah Tilawatil Quran UMM. (Humas UMM)
BEM FISIP Gelar Seminar untuk Tingkatkan Potensi Diri Mahasiswa

SETIAP perempuan merupakan pribadi unik yang dilahirkan dengan potensinya masing-masing. Tidak dipungkiri, semakin banyak perempuan yang merambah dan menancapkan eksistensinya di berbagai bidang kehidupan. Namun tak jarang pula perempuan yang masih bingung dengan hidupnya dan belum menyadari potensi dalam dirinya. Oleh karena itu, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP) bekerja sama dengan Wardah Beauty menggelar seminar dan inspiring talkshow “Wardah Bright Days”, Selasa (13/11). Acara ini bertema “How To Be Bright and Be Ready With Your Own Personality”. Kegiatan yang dilaksanakan di Mini Theater Dome UMM ini, menghadirkan M. Salis Yuniardi,S. Psi,M. Psi,PhD., Dekan Fakultas Psikologi UMM; Lulu Elhasbu, Spokesperson Wardah Beauty; dan Chiki Fawzi, Spokesperson Wardah Beauty sebagai pembicara. Salis menjelaskan bagaimana pentingnya memaksimalkan potensi diri sebagai generasi muda. Ada tiga cara untuk memaksimalkan potensi diri. Yaitu kenali potensi, menerima diri sendiri dan dapat menghargai diri. “Untuk menjadi seseorang yang bersinar, kenali dirimu, kenali passionmu, enjoy terhadap yang kita lakukan dan jadilah dirimu seutuhnya. Maka tidak hanya bersinar yang akan kalian dapat, tapi juga sehat,” tutup Salis dalam matrinya. Selain itu, Lulu dan Chiki memberikan banyak motivasi bagaimana membangun mindset positif, mengenal diri sendiri dan membagikan ceritanya bagaimana perjalanan mereka mengembangkan potensinya. Untuk mencapai titik kesuksesannya, diceritakan Chiki, tidaklah mudah. Banyak sekali perjalanan yang mereka lalui. Mulai dari susahnya mengikuti kemauan lingkungan, hingga dapat menjalankan apa yang diinginkan diri sendiri. “Profesional bukan berarti kita mengikuti apa yang diinginkan orang lain, akan tetapibagaimana cara kita berkomitmen dengan etika yang baik,” ujar Lulu Elhasbu disela talkshow. Setelah sesi seminar dan talkshow, peserta dapat mengikuti pengecekkan kulit dan kegiatan beauty class tentang cara make-up natural, dipandu pihak Wardah. Tidak hanya itu, dalam acara ini juga diadakan audisi presenter TV Mu yang dapat diikuti oleh seluruh peserta dan mahasiswa UMM. (bel/can)
Redaktur Senior Jawa Pos Beri Tips Menulis Esai Populer ke Dosen dan Karyawan UMM

BANYAK akademisi terbiasa menulis ilmiah, kesulitan saat menungkannya ke dalam bentuk populer. Meski telah banyak menulis jurnal dan karya ilmiah lain, tentu format menulis esai populer berbeda. Berangkat dari hal itu, Doan Widhiandono, redaktur senior opini-budaya harian Jawa Pos memberi tips kepada puluhan dosen dan karyawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (13/11). Disampaikan Wakil Rektor 1 Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si bahwa civitas akademika, terkhusus dosen, kerap kesulitan meramu gagasan dalam bentuk tulisan esai populer semisal opini dan artikel. Demikian, diundangnya redaktur senior Jawa Pos ini dalam rangka mendorong sekaligus memberi arahan bagaimana agar naskah tulisan bisa lolos meja redaksi. Dengan mengutip salah satu tokoh panutannya, Malcolm F. Mallete, Doan memberi penekanan bahwa yang dibutuhkan untuk menciptakan tulisan yang bagus yakni detail. “Dalam konteks penulisan esai popular atau opini, detail fakta, ide, alur, kalimat dan lainnya menjadi penting dan wajib diperhatikan. Bagaimana kita menyusunnya secara cermat,” ungkap Doan yang telah menjadi redaktur Jawa Pos selama 16 tahun ini. Doan mengelompokkan setidaknya 3 kendala yang dihadapi penulis, mengapa tulisannya ditolak redaksi. Diantaranya kendala materi, kendala teknis, dan kendala administratif. “Tulisan sebaik apapun, jika tidak mengindahkan kelengkapan-kelengkapan ini, bakal ditolak media yang kita sasar. Menulis di media berarti menyelaraskan tulisan dengan media tersebut,” terangnya. Kendala pertama yakni soal materi. Yang perlu diperhatikan para penulis esai popular, setidaknya jenis tulisan ini memuat sejumlah nilai, di antaranya: untuk mendidik (to educate), untuk menginformasikan (to inform), untuk menghibur (to entertain) dan, untuk mempengaruhi (to influence). Hal ini sejalan dengan fungsi media yang terjelaskan dalam Undang-Undang Pers No. 40/1999: Pasal 3 (1) Pers Nasional. Kendala lainnya yang kerap ditemui ketika menulis esai populer, sambung Doan, yakni kendala teknis. Kendala teknis di antaranya penulisan judul, lead atau teras berita, serta mengindahkan prinsip kebahasaan. “Dalam menulis judul, harus mencerminkan isi tulisan, tidak banyak kata, mengacu pada nilai, serta menjual. Karena kerap para akademisi sering terjebak pada penulisan judul gaya jurnal,” ungkapnya. Terkahir, disebut Doan, kendala yang sering dihadapi penulis dan sering tidak diperhatikan yakni kendala administratif. “Terkhusus di Jawa Pos, beberapa kelengkapan yang mesti dipenuh di antaranya nama, curriculum vitae singkat, kartu identitas, NPWP, juga nomor rekening. Tulisan sebagus apapun, kalau kelengkapan ini tidak dipenuhi, sampai kapanpun tulisannya tidak akan dimuat,” tandasnya. (*can)
UMM Dukung Malang sebagai Kota Wisata Halal

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang (Disbudpar) menggelar bazar halal di pelataran lantai 3,5 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 Kampus III UMM. Dilaksanakan sejak Senin (12/11) pagi, mahasiswa dan masyarakat umum antusias memilih bermacam produk yang dipamerkan. Acara dibuka ditandai dengan pemotongan pita oleh Walikota Malang, Sutiaji. Segala produk halal, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga makanan ikut meramaikan bazar yang digelar sehari ini. Dalam kesempatan ini, Wali Kota Malang, Sutiaji didampingi Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd membuka secara resmi Bazar Halal 2018. “Universitas Muhammadiyah Malang sebagai Perguruan Tinggi siap mendukung program Malang sebagai Kota Wisata Halal,” kata Fauzan dalam sambutannya. Selain diikuti UMKM yang bersertifikasi halal, bazar ini juga diikuti dosen dan mahasiswa yang memiliki produk dengan brand bersertifikasi halal. Berkali-kali Walikota Malang Sutiaji, memuji beragam produk halal yang diproduksi mahasiswa dan dosen UMM. Sutiaji sangat mengapresiasi langkah UMM yang telah sejalan dengan visi Kota Wisata Halal. Terlebih, atas diperolehnya UMKM Binaan Halal Center UMM sebagai penampil terbaik dalam pameran Hari Santri Nasional. Gelaran ini juga dilakukan kerjasama antara Disbudpar dan Pendampingan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), Sertifikasi Halal dan Bimbingan Teknologi Kehalalan. “Kerjasama ini tak lain karena inisiasi UMM mendirikan Halal Center,” terang Sutiaji. Selain itu, Sutiaji juga menyebut, keseriusan Pemerintah menggarap proyek ini juga diwujudkan dengan disiapkannya konsep Pasar Halal yang rencananya bakal dibangun di Klojen dalam waktu dekat. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., ketua Halal Center UMM menjelaskan bahwa inisiasi Halal Center UMM telah dimulai sejak 2008. Pada 2016 kemudian berganti nama menjadi Halal Center UMM. Halal Center UMM membantu UMKM lewat mengajukan pengabdian pada Kemenristekdikti. Sejak 2015, Halal Center UMM mengurusi persiapan banyak bidang seperti kosmetik dan jenis produk lainnya untuk memperoleh sertifikasi halal. Selain berupa bazar halal, diselenggarakan pula bimbingan teknis (bimtek) bagi para pelaku usaha yang hendak mengajukan sertifikasi halal. Digelar di Auditorium UMM, Bimtek memberi bimbingan lanjutan bagi para pengusaha yang untuk mendapat sertifikasi halal. Hadir sebagai pembicara, Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) dan Tim Percepatan Wisata Halal Kementrian Pariwisata RI. (Humas UMM)
Zakiyuddin Baidhawy: Dosen AIK Juga Harus Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

GURU BESAR IAIN Salatiga, Zakiyuddin Baidhawy bertandang ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam rangka mengisi kuliah tamu untuk dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Sabtu (10/11). Gelaran ini bertemakan “Rekonstruksi AIK Sebagai Pendidikan Nilai”. Dalam penyampaiannya, Direktur Pascasarjana IAIN Salatiga itu menekankan agar para dosen AIK mengikuti perkembangan zaman yang membawa tatanan baru. Editor In Chief Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS) ini juga mengatakan, untuk bisa menyesuaikan dengan pendidikan masa kini, seorang pendidik juga harus bisa memanfaatkan skill digital agar tidak terdisrupsi tatanan baru. “Google kapan lalu membuka lowongan kerja yang tidak memandang ijazah sebagai syarat. Maka secara tidak langsung Google mendisrupsi perguruan tinggi di seluruh dunia,” jelas Zakiyuddin. Hadirnya revolusi industri 4.0, menurutnya, mengacak-acak tatanan lama dan menggantinya dengan tatanan baru. Ia mencontohkan perusahaan taksi di zaman sekarang (taksi online), yang meskipun tidak memiliki satu armada pun tetap bisa menjalankan usahanya. Demikian akhirnya perusahaan taksi konvensional kalah saing. “Di zaman sekarang itu harus mempunyai data benar dan rapi agar kebijakan yang dibuat bisa tepat sasaran,” papar Zakiyuddin. Ia lantas mengajak peserta kuliah tamu untuk iuga mengambil pelajaran dari Indomaret dan Alfamart dalam meriset wilayah untuk didirikan outlete-nya. “Mereka itu meriset kebutuhan wilayah sampai memang pantas didirikan outlet di sana. Seandainya Alfamart sudah buka, disusul Indomaret. Nah, Indomaret tidak usah riset lagi karena sudah percaya hasil riset Alfamart. Seperti itu kekuatan data,” lanjutnya. Zakiyuddin menjelaskan bahwa di era sekarang tidak cukup hanya menghafal Al-Quran dan Hadits. Seorang pendidik juga musti membekali dirinya dengan banyak data. “Karena kalau hafal Ayat dan Hadits ya buat apa kalau tidak punya data? Kan jadi gak tepat sasaran. Jadi kita harus punya data yang banyak agar bisa dakwah dengan tepat sasaran,” pungkasnya. (usa/can)
142 BUMN Siap Serap Mahasiswa Magang UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) terus berupaya memperbanyak mitra industri sebagai wadah pengayaan wawasan dan keterampilan dalam mempersiapkan mahasiswa masuk ke dunia kerja. Salah satunya melalui kerjasama UMM dengan 142 perusahaan di bawah naungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Yakni melalui program magang bersertifikat atau Certified Internship Program. Program ini sejalan dengan apa yang disampaikan Menteri BUMN Rini M. Soemarno bahwa BUMN punya andil besar dalam pengembangan sumber daya manusia di Indonesia. “Salah satu cara yang ditempuh adalah mendekatkan dunia pendidikan, sekolah dan perguruan tinggi dengan industri,” terang Drs. Soeparto, M.Pd, Asisten Khusus Rektor Bidang Kerjasama di kantornya, Rabu (8/11) Di lanjutkan Soeparto, kerjasama yang dijalin mencakup studi kerja bagi mahasiswa semester 7. “Mahasiswa tidak hanya menjadi pengamat, akan tetapi akan mendapatkan orientasi dari perusahaan dan langsung bekerja sesuai dengan bidangnya. Sehingga dapat meningkatkan kualitas human capital pada mahasiswa,” kata Soeparto. Soeparto mengatakan bahwa program ini tidak akan mengganggu perkuliahan peserta. Kedepannya akan diterapkan sistem pembelajaran jarak jauh dengan metode blended learning atau program pendidikan berbasis daring. Sehingga peserta tetap dapat melanjutkan perkuliahan pada mata kuliah yang sedang ditempuh. Lebih jauh, Soeparto menjelaskan, Certified Internship Program sendiri merupakan program di bawah Forum Human Capital Indonesia (FHCI). Yakni forum sinergi bagi praktisi human capital management (menejemen modal manusia) di lingkungan BUMN. Forum ini memiliki komitmen meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Di tempat berbeda, Wakil Rektor I UMM yang membidangi akademik, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si baru-baru ini meneken kerjasama melalui skema piagam kerjasama dengan PT. Barata Indonesia di Gresik. UMM mengirimkan 9 mahasiswanya dari Program Studi (Prodi) Psikologi, Prodi Ilmu Komunikasi, Prodi Akuntasi, dan Fakultas Teknik untuk magang di sana. (bel/can)
BKMA Bekali Dosen Muda Paradigma Perguruan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0

SEBANYAK 51 dosen muda Universitas Muhammadiyah Malang mengikuti pelatihan Peningkatan Keterampilan Teknik Instruksional (PEKERTI). Pelatihan ini diadakan di ruang rapat senat dan berlangsung 6 -7 November 2018. Pelatihan ini sejalan dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi utamanya Pasal 4 bahwa Pendidikan Tinggi memiliki beberapa fungsi. Salah satunya yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat untuk mencerdaskan bangsa. Untuk mewujudkannya, Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA) menyelenggarakan pelatihan bagi dosen muda. Peserta pada pelatihan ini diharapkan dapat menyampaikan pembelajaran masa kini yang mengarah kepada Era Revolusi Industri 4.0. “Dosen memiliki porsi yang sangat strategis untuk melakukan standarisasi proses pembelajaran. Dengan pelatihan ini, diharapkan dosen dapat mentranformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmunya. Sehingga mahasiswa dapat lulus tepat waktu dengan kualitas yang bagus,” terang Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si dalam sambutan pembukaannya. Ada 9 materi pokok yang disampaikan dalam pelatihan ini, yaitu penguatan kompetisi kinerja dosen, kebijakan pengembangan sumber daya manusia, kebijakan mutu akademik, grand theory pembelajaran, pengembangan bahan ajar, sumber belajar dan media, strategi dan metode pembelajaran, perencanaan pembelajaran dan KPT, rancangan pembelajaran berbasis IT serta evaluasi pembelajaran. Materi ini juga disampaikan oleh fasilitator-fasilitator yang berkompeten dan tidak hanya pada tingkat nasional saja. Di antaranya Prof. Dr. Ir. Noor Harini, M.S., Dr. Hari Windu Asrini, M.Si., Dr. Iin Hindun, M.Kes., Dr. Siti Fatimah Sunaryo, M.Pd., Galih Wasis Wicaksana, S.Kom., M.Cs, dan Dr. Endang Poerwati, M.Pd. “Pembelajaran yang diharapkan setelah ini adalah pembelajaran yang sesuai dengan paradigma perguruan tinggi masa kini, yang tidak lagi hanya berfokus kepada dosen. Di era revolusi industry 4.0 ini, mahasiswa menjadi sentral dalam pembelajaran,” ujar Kepala BKMA UMM, Dr. Muslimin, M.Si. dalam kesempatan yang sama. Peserta tidak hanya dibekali dengan penguatan materi dalam dua hari saja, akan tetapi juga melakukan praktik aktivitas pengajaran di kelas. Praktik ini akan dilaksanakan dalam satu bulan ke depan dengan pengarahan, pengawalan dan pengawasan dari fasilitator BKMA UMM. (bel/can)
Kenalkan Terapi Gen Bagi Penderita Kanker, Mahasiswa FK UMM Ini Menangi Kompetisi Penulisan Artikel Nasional

PRIHATIN dengan mahalnya biaya kemoterapi bagi penderita kanker, Radya Kusuma Ardianto dan Muhammad Mufti Al Anshori, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) berhasil memenangkan kompetisi penulisan artikel ilmiah tingkat nasional. Kolaborasi mahasiswa semester 3 dan 7 ini mampu menarik perhatian juri atas artikelnya mengenai terapi gen untuk efektifitas penyembuhan penderita kanker. Artikel yang ditulis Radya dan Mufti memenangi ajang Biology Open House For Environmental Recognition (BIOSFER) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya beberapa waktu lalu. Dijelaskan Radya saat diwawancarai Selasa (6/11), di Indonesia sendiri penanganan terhadap pasien kanker hanya kemoterapi saja. Sementara, metode ini memakan biaya yang teramat mahal, karena tidak bisa sekali pengobatan. Dalam artikelnya itu, Radya dan Mufti memperkenalkan pengobatan dengan Terapi Gen, yaitu menyuntikan gen P53 yang merupakan ‘malaikat penjaga’ gen kepada pasien untuk menggantikan gen P53 yang tidak berfungisi secara normal. Sehingga tidak bisa memperbaiki sel-sel yang rusak,” papar Radya. Dengan begitu, sambung Radya, gen P53 pengganti tersebut bisa bekerja untuk memperbaiki sel-sel yang rusak. “Nah, untuk mengganti gen P53 ini perlu ‘kendaraan’. Kendaraan yang saya kemukakan di artikel saya itu menggunakan virus, namanya Adenovierus. Virus itu tepat sasaran karena langsung menginfeksi sel. Namun yang kita pakai hanya bungkusnya saja, penyakit berbahayanya sudah dihilangkan terlebih dahulu,” jelas Radya. Medis di Indonesia dinilai Radya sudah cukup tertinggal. Di Indonesia pengobatan semacam ini belum diterapkan, atau bisa jadi, masih dalam tahap penelitian. Ketika di Indonesia masih Symtomatik (bergantung kepada obat), di luar negeri sudah mendalam hingga tahap molekuler atau langsung menyasar kepada akar permasalahannya. “Ada atau tidaknya pengobatan seperti ini itu berawal dari kita siap atau tidak. Awalnya kita mengajukan ide-ide seperti ini untuk menyiapkan. Ketika Indonesia sudah siap secara mental, mungkin bisa diimplementasikan meskipun ini harus menempuh waktu yang lama dan biaya yang mahal,” kata Radya. Radya menambahkan, ketika seseorang terkena kanker, maka daya produktifitasnya menurun sehingga tidak bisa bekerja sebagaimana manusia normal lainnya. Ketika tidak bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, maka keluarganya lah yang akan menanggung pengobatannya. Hal ini membuat pasien ketergantungan kepada keluarga dan obat dengan waktu yang cukup lama. “Kita harus mulai mengobati pasien dengan sistem holistic-komprehensif, yaitu pengobatan secara menyeluruh hingga sampai kepada kondisi ekonomi, produktifitas, dan kesehatan pasien. Bukan begitu sembuh langsung beres. Tapi aspek-aspek lain juga harus dipikirkan,” pungkas Radya. (usa/can)
Peringati Milad ke-2, Klinik Surya Medika Sumbawa Buka Layanan Skin Care dan Bistro

DI USIANYA yang baru menginjak 2 tahun, Klinik Surya Medika PKU Muhammadiyah Sumbawa terus melakukan terobosan dalam memberikan pelayanan ke masyarakat. Yang terbaru yakni membuka layanan kecantikan Skin Care juga Bistro. Soft opening Surya Medika Skin Care dan Surya Medika Bistro ini dilakukan pada Sabtu (3/11), yang merupakan Milad Klinik Surya Medika ke-2, sekaligus peringatan Milad Muhammadiyah ke-109 yang jatuh 18 November 2018. Selain memperluas layanannya dengan menambah satu unit baru di bidang kulit dan kecantikan, Klinik Surya Medika juga akan menambah satu ruangan operasi yang memungkinkan memberikan layanan operasi ringan pada masyarakat. Ditargetkan pembangunannya rampung Desember 2018 mendatang. Klinik yang pengelolaannya ada di bawah naungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berharap terus bisa berpartisipasi memberikan yang terbaik bagi Kabupaten Sumbawa. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd menyatakan, Klinik Surya Medika Sumbawa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari amal usaha Persyarikatan Muhammadiyah yang merupakan organisasi sosial keagamaan yang menjalankan dakwahnya melalui kegiatan–kegiatan sosial keagamaan, di antaranya layanan kesehatan bagi masyarakat. “Klinik Surya Medika sudah menjadi klinik berlantai tiga dan itu sebagai dasar untuk menjadi sebuah rumah sakit berkelas D,” paparnya. Selain itu, klinik yang merupakan bagian dari unit usaha UMM ini telah bekerjasama dengan BNN, yang fokus kerjasamanya menyusun rancangan kegiatan rehabilitasi. Keunggulan Klinik Surya Medika lainnya yakni dimilikinya alat tattoo removal atau alat penghapus tato. Fauzan mengklaim alat ini belum dipunyai klinik lain. “Dioperasikannya klinik kecantikan ini, pengelolaannya akan dibarengi dengan dokter yang sudah berpengalaman dari Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang,’’ terang Fauzan. Dilanjutkan Fauzan, bagian penting dari upaya memberi pelayanan yang terbaik bagi masyarakat Sumbawa. Seraya berharap bagi keluarga besar Klinik Surya Medika, agar lebih meningkatkan pelayanan. Hal itu penting, lanjut Fauzan, karena bagian dari bentuk ibadah. “Berikan pelayanan yang terbaik. Kesembuhan belum tentu hanya karena obat, tapi ada faktor yang penting juga yaitu pelayanan yang terbaik. Salah satunya dengan memberikan pelayanan yang ramah ke tiap pasien,” ungkapnya. Plt Kepala Dinas Kesehatan Sumbawa, Drs H Didi Darsani Apt mengapresiasi Klinik Surya Medika Sumbawa yang membuka layanan skin care dan bistro. Apalagi ada rencana meningkatkan kualitas pelayanan menjadi Rumah Sakit. “Bistro di klinik ini suatu hal yang unik. Biasanya bistro itu tidak ditempatkan di lokasi klinik. Tapi barangkali ini nanti ada nilai jualnya, bahwa bistro yang ada di klinik ataupun di rumah sakit bisa dijamin masalah izin sanitasi dan keamanan makanannya,” pungkasnya. (*/can)
Psikologi UMM Gelar Pendampingan Minat Bakat Siswa Papua dan Papua Barat

DIREKTORAT Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) kembali mempercayakan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendampingan lanjutan program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) pelajar Papua dan Papua Barat. Fakultas Psikologi sebagai panjang tangan Pemerintah, mengadakan pendampingan dan tes minat bakat bagi peserta ADEM di Gedung Kuliah Bersama 4 UMM, Sabtu (3/11). Pendampingan dilakukan melalui Forum Group Discussion Siswa, di mana Fakultas Psikologi memberikan pengarahan minat bakat serta motivasi kepada siswa. Pada kegiatan ini diikuti oleh siswa Papua dan Papua Barat Sekolah Menengah Atas di wilayah Jawa Timur yang berada pada tingkat 10 dan 12. Dalam pemetaan pendampingan minat bakat, siswa kelas 12 lebih difokuskan pada pendampigan menghadapi peminatan studi lanjutan. “Kita memetakan dan mengindentifikasi potensi siswa, agar guru pendamping dapat mengarahkan kelanjutan studi anak-anak dampingannya dari Papua. Kita juga mengarahkan siswa agar termotivasi untuk melanjutkan studi sesuai minat bakat, bukan hanya ikut-ikutan,” terang Zainul Anwar, M.Psi selaku Ketua Pelaksana. Di lain tempat, para guru pendamping juga mengikuti Forum Group Discussion yang dipimpin oleh Dosen Psikologi, Muhammad Shohib, S.Psi, M.Si. Forum diskusi ini dihadiri oleh 32 Sekolah Menengah Atas di wiliyah Jawa Timur yang bekerjasama dengan program ADEM ini. Sebagai wujud pendampingan, Fakultas Psikologi memberikan wadah kepada guru pendamping untuk berdiskusi dan sama-sama memecahkan masalah yang dihadapi tiap sekolah. Forum diskusi ini juga sebagai bahan acuan dan evaluasi Pemerintah untuk melanjutkan program ADEM selanjutnya. Salah satu tantangan yang dihadapi para guru yang terlibat dalam kegiatan ini, merasa tidak mudah dalam membina anak didiknya. Hal ini dikarenakan perbedaan budaya yang dimiliki siswa program ADEM dengan budaya yang ada di masyarakat sekitar khusunya wilayah Jawa Timur sendiri. “Perbedaan budaya menjadi tantangan dari setiap sekolah. Alangkah lebih baik untuk kedepannya, siswa diberi orientasi mengenai budaya dan kebiasaan yang akan mereka tempati sebelum pemberangkatan,” usul Titik, salah satu Guru Pendamping asal Batu, Jawa Timur. (bel/can)