FPP Tanamkan Jiwa Nasionalis Lewat Pendidikan dan Pelatihan Bela Negara

Dalam rangka melatih mental berjuang dan disiplin, Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Pendidikan dan Latihan Bela Negara bagi para mahasiswa baru 2019. Bekerja sama dengan Rindam V Brawijaya, agenda ini diselenggarakan selama satu minggu. Rivana Alsya Firrizqi, mahasiswa baru Agro Teknologi mengungkapkan rasa gembira dapat turut serta dalam agenda tersebut. “Ini pelajaran yang sangat berarti,” tuturnya. Selama tujuh hari di kamp (8-14 September), mahasiswa yang akrab disapa Rivana ini merasa nyaman karena dapat lebih akrab dengan kawan-kawan seangkatannya. Walaupun tak diperbolehkan membawa alat komunikasi, Rivana tetap senang dapat menjalin komunikasi intens. “Kami ingin mahasiswa baru punya dasar mental yang kokoh,” kata Dr., Ir. David Hermawan, M.P., IPM, dekat FPP saat didaulat menjadi inspektur upacara penutupan. Ia juga mengajak para mahasiswa untuk terus sadar kepada kondisi riil dalam lingkup pertanian. Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara yang mampu menyediakan pangan secara masif bersama Kongo dan Brazil. Namun, menurutnya masih banyak ketidakadilan yang sedang terjadi di dunia pertanian dan peternakan umumnya. “Galilah ilmu sedalam mungkin, ambil semua ilmu yang ada UMM lalu pulanglah ke Desa dan perkuat ketahanan pangan nasional yang hebat,” tuturnya. Baginya, mahasiswa FPP punya peran besar dalam perkembangan Indonesia melalui pertanian dan peternakan. David berharap melalui Pendidikan dan Latihan Bela Negara dapat menanamkan jiwa nasionalisme yang tinggi. Hal tersebut tak lain dan tak bukan semata-mata hanya untuk menguatkan tujuan berilmu adalah demi mensejahterakan dan memakmurkan Indonesia bersama-sama. Senada dengan David, Kolonel Inf. Dendi Suryadi, S.H., M.H. mengatakan jika ia teramat gembira melihat wajah berseri-seri mahasiswa pasca pelatihan selesai dilaksanakan. “Saya melihat wajah Soekarno-Seokarno muda,” pujinya pada para mahasiswa FPP. Ia berpesan agar para mahasiswa terus menjaga segala kebiasaan baik yang telah dipelajari selama pelatihan. Utamanya dalam beribadah. Di akhir pidato ia pun tak lupa mengingatkan mahasiswa untuk menyertakan Tuhan Yang Maha Esa pada setiap perjuangan yang ditempuh. “Jangan lupa sertakan Tuhan ya,” ungkapnya. (mir/can)
Fauzan Kembali Terpilih Secara Aklamasi sebagai Calon Rektor UMM 2020-2024

Fauzan kembali terpilih sebagai calon rektor secara aklamasi dalam Rapat Senat Pemilihan Rektor Periode Tahun 2020-2024 di Ruang Sidang Senat UMM, Senin (30/12). Acara dihadiri oleh Ketua Badan Pengurus Harian, Prof. H.A. Malik Fadjar, M.Sc. dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Selain itu, hadir pula semua anggota senat universitas, Badan Pembina Harian UMM, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Malang Raya, Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa, serta Senat Mahasiswa Universitas. Acara berlangsung gayeng, guyub, dan penuh rasa kekeluargaan. Dalam pilrek kali ini, ada tujuh calon yang dinyatakan terverifikasi oleh panitia pemilihan. Mereka adalah Dr. Fauzan, M.Pd, Prof. Dr.Syamsul Arifin, M.Si, Prof. Dr.,Tobroni, M.Si., Dr.,Nazaruddin Malik, SE., MSi., Dr.,Tulus Winarsunu, M.Si., Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes., dan Dr. H.Khozin, M.Si. Berdasarkan Peraturan UMM Nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Tertib Pemilihan, Pertimbangan dan Penetapan Calon Rektor UMM Masa Jabatan 2020-2024, pada Pasal 7 point 4 menyebutkan bahwa pemilihan calon rektor secara demokratis dapat dilakukan dengan cara musyawarah mufakat atau dengan cara pemungutan suara. Dalam proses pemilihan ini, semua peserta sidang menyepakati, pemilihan rektor UMM dilakukan secara musyawarah mufakat. Ketua Badan Pembina Harian UMM, Prof. Dr. Malik Fadjar, M.Si. berpesan, kebesaran Muhammadiyah harus didukung oleh aktivitas Muhammadiyah yang nyata. “Terimakasih yang telah punya komitmen atas perjalanan universitas ini. Universitas ini harus menjadi kebanggaan bagi pimpinan daerah, pimpinan wilayah, dan pimpinan pusat Muhammadiyah. UMM harus senantiasa mengabdi kepada bangsa,” ungkap Malik. Usai proses pemilihan, Fauzan calon Rektor UMM terpilih menyatakan bahwa kekompakan yang telah terbangun sebelumnya, terkhusus di masa kepemimpinannya empat tahun kebelakang agar tetap dijaga. “Semoga kekompakan yang telah diajarkan oleh para pendahulu kita bisa dijadikan dasar untuk terus mengembangkan UMM agar lebih baik lagi di masa depan,” kata Fauzan. Ketua Panitia Pemilihan Rektor UMM, Dr. Oman Sukmana, M.Si menyampaikan bahwa hasil keputusan rapat pemilihan calon rektor kali ini selanjutnya dimintakan persetujuan kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mendapat pengesahan Dr. Fauzan, M.Pd sebagai Rektor UMM Periode Tahun 2020-2024. (can)
Bedah Metakognitif Imam Al Ghozali, Inam Dikukuhkan sebagai Guru Besar Baru UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) punya guru besar baru. Kali ini, pada Sabtu (28/12), UMM mengukuhkan Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. sebagai guru besar Bidang Ilmu Pendidikan Matematika. Dalam orasinya, direktur Pascasarjana UMM ini mengusung pemikiran Imam Al Ghozali tentang pengelompokan manusia menjadi empat golongan, atau dalam istilah lain dikenal sebagai konsep Metakognitif Al Ghozali. Yakni 1. Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (orang yang tahu, dan dia tahu kalau dirinya tahu);2. Rojulun La Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (orang yang tidak tahu dan mengetahui bahwa ia tidak tahu); 3. Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (orang yang tahu, tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu), dan; 4. Rojulun La Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (orang yang tidak tahu dan tidak mengetahui bahwa ia tidak tahu). “Memperhatikan keempat kelompok manusia tersebut dapat dikatakan bahwa kelompok pertama dan kedua merupakan kelompok yang dapat ditingkatkan kualitas hubungan vertikal dan horizontal. Mereka termasuk kelompok yang mau menyadari kalau dirinya tahu tentang sesuatu dan juga menyadari mengenai ketidaktahuannya, dalam istilah lain dikatakan dengan metakognitif,” ungkap Direktur Pascasarjana UMM ini. Metakognitif, disambung suami dari Dra. Siti Hajar, M.Pd ini, mempunyai peran sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. “Seorang peserta didik yang menyadari dirinya sedang belajar, faham dengan yang dipelajari, sadar apa yang belum diketahuinya, dan berpikir tentang sesuatu, merupakan faktor yang sangat berperan terhadap keberhasilan peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar,” terangnya. Berkenaan dengan pembelajaran, dapat dikatakan bahwa pembelajaran adalah usaha peserta didik mempelajari sesuatu materi sebagai konsekuensi dari pengajaran guru. Pembelajaran merupakan aktivitas guru melaksanakan tugas menyampaikan materi kepada peserta didik sesuai dengan perencanaan yang telah dirancang. Pembelajaran bukan hanya proses menyampaikan ilmu pengetahuan oleh guru kepada peserta didik. “Namun peran guru adalah mengenal kemampuan dan potensi yang dimilikinya dan berusaha untuk mengembangkannya,” tegas In’am. Hal ini didasarkan kepada tiga hal: Pertama, peserta didik adalah manusia yang sedang berkembang. Kedua, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Serta ketiga, penemuan baru terkait dengan konsep perubahan perilaku manusia,” terang pria kelahiran Kediri, 10 Agustus 1964 ini. Memperhatikan hal itu, katanya, terdapat 4 hal yang hendaknya perlu diperhatikan dan diperhitungkan dalam pelaksanaan pembelajaran, yaitu strategi, pendekatan, metode dan prosedur pembelajaran. Keempat hal tersebut mempunyai peran yang sangat berarti untuk membantu peserta didik memahami materi yang dipelajarinya. Juga secara bersama merupakan aspek-aspek dalam pelaksanaan pembelajaran. Dari hal ini, usaha untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, khususnya Matematika, dapat dikemukakan bahwa faktor pertama dan utama adalah guru, baik berkenaan dengan kemampuan penguasaan materi serta penyampaiannya. “Berkaitan dengan penyampaian materi, efektivitas pembelajaran dapat terwujud dengan baik melalui penggunaan pendekatan metakognitif Imam Ghozali,” beber In’am. “Yang dalam hal ini dapat dikatakan bahwa metakognitif telah dikemukakan lebih terdahulu oleh al Ghozali sebagaimana diuraikan tadi. Melalui pemikiran al Ghozali, dalam pelaksanaan pembelajaran, khususnya pada bidang pembelajaran Matematika dapat diinisiasi melalui aksi dengan mengimplementasi kelompok pertama dan kedua, sehingga pembelajaran Matematika menjadi kondusif dan efektif,” tandas In’am. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd menyebut orasi yang disampaikan In’am sebagai tanda peneguhan, sekaligus pengukuhan dalam bidang pendidikan Matematika. Prof. In’am tercatat sebagai guru besar yang kedua di FKIP serta ke 21 guru besar di tingkat universitas. “Dengan demikian, saya sebagai pimpinan UMM menyampaikan ucapan selamat atas jabatan akademik tertinggi yang di raih Prof. In’am ini,” tuturnya. Hingga akhir tahun 90-an atau 2000-an, lanjut Fauzan, pelajaran Matematika masih menjadi barang yang menakutkan dan sekaligus menyebalkan. Bahkan stigma buruk itu telah menghinggapi banyak orang. Hal ini akibat konsep belajar Matematika yang tidak ramah lingkungan. “Artinya, Matematika diajarkan hanya secara parsial dan eksklusif, tanpa mempertimbangkan fungsinya dalam kehidupan yang nyata,” sebut Fauzan. Stigma Matematika itu semakin buruk setelah guru Matematika pun sulit senyum dan cenderung asosial. Akan tetapi sejak Frudental mengembangkan konsep pembelajaran Matematika Realistic di era tahun 70-an, saat itu pulalah guru Matematika mau tersenyum. Apa yang disampaikan In’am, kata Fauzan, telah mengambil realitas kehidupan sebagai basis untuk menerjemahkan bagamaina sebenarnya Matematika itu. Sehingga Matematika tidak berada pada ruang kosong, tetapi Matematika telah hidup di alam bersama kita. Dan memang senyatanyalah dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat luput dari praktek Matematikasasi. Inilah yang akhirnya dikembangkan oleh bangsa Indonesia saat ini. Ia didekonstruksi menjadi seperangkat ilmu yang turut bertanggungjawab atas keberlangsungan peradaban manusia yang humanis. Dalam konteks inilah para pengajar Matematika dituntut untuk berjuang membangun logika yang didasarkan atas realitas kehidupan secara empiris dan komprehensif. “Jadi saya kira apa yang disampaikan Prof. In’am, jika diimplementasikan dalam sebuah pembelajaran itu sangat luar biasa, Dan spiritualisasi pembelajaran Matematika sebagai upaya penguatan praktek pembelajaran Matematika agar lebih simplifis dan fungsional. Sementara itu, sejalan dengan Fauzan, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Dr. Saad Ibrahim MA menyebut dalam sambutannya bahwa Imam Al Ghozali menempatkan Matematika sebagai simbol tertinggi pikiran rasional, dengan berpegang pada wahyu dan intuisi. “Matematika bukan soal angka, namun juga ada sisi humanis, basis dimensi perwujudan dalam keseharian,” tandasnya. (mir/can)
Resolusi ala Bocah dari Kelas Bahasa Inggris UMM

Panggung Auditorium BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pagi itu, Minggu (29/12/2019), kembali riuh dengan celoteh para bocah berumuran 7-12 tahun yang mengikuti Art Performance. Gelaran sebagai acara penghujung program English for Young Learners (EYL) ini menampilkan kemampuan Bahasa Inggris yang beragam. Mereka menampilkan kebolehannya dalam bernyanyi, berpuisi, dan bermain peran. Sebagai acara puncak dari pembelajaran Bahasa Inggris yang telah dilaksanakan selama sepuluh kali pertemuan sejak akhir bulan Oktober lalu, acara ini dikemas untuk menyambut Tahun Baru 2020 dengan resolusi semakin percaya diri dalam mencapai cita-cita. Every Kid Deserves to be a Star, sengaja dipilih menjadi tema dalam Art Performance kali ini. “Puncak kegiatan EYL kali ini merupakan salah satu bukti bahwa dengan kemampuan yang beragam, siswa harus semakin percaya diri bahwa dengan belajar Bahasa Inggris yang menyenangkan, mereka kelak akan menjadi bintang,” tutur Kharisma Naidi WS, M.Pd., dosen pengampu mata kuliah EYL di UMM. Kharisma menambahkan bahwa penampilan setiap kelas dari program EYL ini ditentukan sendiri oleh masing-masing kelas, dengan menyesuaikan pada tema besarnya. Rupanya para siswa sangat antusias dalam mempersiapkan setiap penampilan yang akan mereka suguhkan pada kedua orang tua mereka. Cahya, salah satu mahasiswa EYL yang mengajar di kelas 4 mengatakan bahwa penampilan siswanya kali ini diambil dari materi yang diajarkan di kelas tentang cita-cita. Bertajuk 4.0 Dream and Dancing Show, siswa memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris dan menyampaikan cita-cita mereka seperti youtuber, web designer, football player, atau model, tentunya di luar cita-cita yang selalu disampaikan oleh bocah seumuran mereka seperti dokter atau insinyur. Tingkah polos mereka sontak membuat penonton bertepuk tangan. Tampil dengan kostum sesuai cita-cita mereka, penontonpun terpukau dengan fasihnya mereka menyanyikan lagu Be What You Wanna Be yang dipopulerkan oleh Darin, penyanyi asal Swedia itu. Penampilan yang tak kalah memukau yang lain adalah penampilan kelas 1, yaitu gerak dan lagu Baby Shark. Meskipun lagu tersebut sangat sederhana, tapi keberanian siswa kelas 1 untuk tampil di atas pangguanglah yang membanggakan bagi orang tuanya. Mereka berharap tahun depan putra-putri mereka semakin percaya diri dan berani tampil di panggung EYL lagi. Resolusi sederhana pun terlontar dari mulut mungil mereka ketika MC menanyakan “Hi first graders, will you come back to this stage next year?” dan semua secara kompak tapi malu-malu mengatakan “Yes”. Penonton pun bertepuk tangan. Tak mau kalah, kelas 2 pun menampilkan lagu Count on Me dan kelas 3 dengan berani menampilkan program televisi ala America’s Got Talent dengan tajuk Fabulous Got Talent dan A Million Dreamer Show. Masih dengan visi yang sama, setiap siswa berhak memilih cita-citanya sendiri. Diminta menyampaikan kesannya, Dessy Indriani, wali siswa kelas 3 Rafif Afkar Chaniago, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tahunan EYL di UMM. Ia mengaku merasakan manfaat yang didapatkan oleh putranya selama beberapa kali mengikuti kegiatan ini. Ke depan, ia berharap kegiatan ini terus berlanjut dan dapat diikuti lebih banyak siswa dari area Malang Raya. Menutup sambutannya, Dessy berharap banyak pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMM menjadi inisiator pembelajaran Bahasa Inggris untuk anak dengan mengedepankan pengalaman belajar menggunakan Bahasa Inggris, seperti yang dialami oleh putranya selama belajar di UMM. Kegiatan EYL yang telah dilaksanakan lebih dari satu dasawarsa ini, telah menghasilkan guru-guru yang tidak hanya mengajar di sekolah-sekolah SD negeri dan swasta, tetapi telah mengantarkan mereka untuk mengajar di sekolah internasional dan luar negeri. Beberapa tahun belakangan tercatat mahasiswa asal Thailand selalu mengambil mata kulliah EYL sebagai mata kuliah pilihan mereka. Setelah lulus mereka mengamalkan ilmunya di berbagai sekolah nasional dan internasional di negeri Gajah Putih tersebut. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMM, Bayu Hendro Wicaksono, Ph.D., membenarkan informasi tersebut. “Saat ini program EYL di UMM telah menjadi rujukan dari perguruan tinggi lain untuk menyelenggarakn program yang sama atau menyelenggarakan perkuliahan serupa. Terakhir dosen Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta juga bertandang ke UMM untuk belajar khusus tentang EYL. Dosen EYL UMM Rina Wahyu S, M.Ed., bahkan sempat diundang sebagai pembicara kunci di Universitas Singaperbangsa Karawang,” papar Doktor alumni University of South Australia ini. Tampak sedikit perbedaan antara kelas yang lain. Kelas 6 mampu menampilkan drama berjudul Turtle and Rabbit. Dalam drama tersebut tampak seorang guru sedang bercerita di depan siswa dengan dilengkapi visualisasi cerita tersebut. Sementara siswa yang lain berperan menjadi kelinci, kura-kura, burung, dan pohon. Penonton tampak menikmati drama tersebut sambil sesekali tertawa tertahan, karena beberapa kesalahan ucap dalam Bahasa Inggris. Salah satu siswa kelas 5, Aisyah Peravasa Effendy yang telah mengikuti kegiatan ini sejak kelas 1, menyampaikan bahwa ia banyak belajar berbicara dan tampil di depan penonton, dalam Bahasa Inggris. Itu pula yang memotivasinya untuk berani tampil dalam ajang lomba Bahasa Inggris sampai tingkat provinsi. “Tahun depan mau ikut EYL lagi biar bisa tampil lebih bagus dan ngomong lebih panjang lagi,” tutur siswa yang pagi itu didaulat untuk membuka penampilan penutup Art Performance dari kelas 5 berupa lagu gerak dan lagu Heal the World yang membawa pesan perdamaian dan menyampaikan semua anak dengan latar belakang budaya yang berbeda setuju untuk mencapai cita-cita setinggi-tingginya. Lagu penutup itu berakhir dengan seluruh siswa berdiri dan menyanyi di reffrein terakhir sambil membawa bunga mawar merah. Lagu Hero pun berkumandang untuk flash mop dan siswa pun berhambur menemui orang tua masing-masing untuk memberikan setangkai bunga mawar, menyampaikan terimakasih telah membiarkan mereka mempunyai cita-cita. (rin/can)
Mobil KaCa UMM Giatkan Literasi Bersama Preman Mengajar di Jabung

Pendidikan inklusif yang hendak dihadirkan Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyab Malang (UMM) nampaknya bukan isapan jempol semata. Berbagai kelompok yang terbilang eksklusif juga tak ketinggalan dirangkul dalam aksi menggiatkan melek literasi ini. Kali ini, Kamis (26/12) Mobil KaCa UMM blusukan ke Jabung, Malang. Dengan mengandeng kelompok pegiat literasi, Republik Gubuk asuhan para mantan preman (Preman Mengajar) ini, untuk membumikan kegiatan literasi. Stereotipe mantan preman di tengah masyarakat masih negatif, melalui gerakan Republik Gubuk, para mantan “preman” (kampung) ini ingin kembali bermanfaat masyarakat melalui kontribusinya di pendidikan. “Dengan adanya program mobil KaCa yang dikerjasamakan dengan Republik Gubuk ini, kami ingin menghadirkan gerakan literasi di Kecamatan Jabung, khususnya buat anak anak disini mulai rentan TK, SD, SMP maupun SMA/MA/SMK,” ujar Fachrul Alamsyah selaku Presiden Republik Gubuk saat ditemui di sela-sela acara. Alasan para preman tersebut menggalakkan literasi adalah karena mereka mau menebus kesalahan mereka dimasa lalu melalui jalan sederhana berbagi ilmu. “Kata pak Kyai yang membimbing kami, sedekah ilmu itu adalah sedekah ringan dan sering terlupakan,” ujar Dony Windiarto yang merupakan salah satu penggiat di Gubuk Trail. Bahkan saat kelompok ini baru berdiri, bahkan sempat dikira sebagai kelompok penculik anak,penjual pil koplo dll. Imej negatif ini mungkin muncul dari penilaian orang pada penampilan atau perilaku lama para pegiat. “Selain itu, kami juga mengajarkan beberapa keterampilan seperti seni budaya, olahraga, keagamaan,lingkungan dan lainnya,” ujar Fachrul menceritakan suka-dukanya. Selain menggiatkan literasi tradisional melalui kegiatan membaca buku, Mobil KaCa UMM juga mengajarkan berbagai keterampilan lainnya. Misalnya tentang tentang menumbuhkan tingkat kepercayaan diri kepada anak-anak SD. Materi ini dibawakan Syahrin Rachmayania Pertiwi yang merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi. Selain mengajarkan kepercayaan diri, Rahmat Iskandar Rizki mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang juga merupakan bagian dari Tim Mobil KaCa UMM, menggembirakan anak-anak melalui kegiatan outbond. Diantaranya game Race Ball yang mengajarkan bagaimana nilai bekerjasama. Program kolaboratif ini akan dilanjutkan di beberapa tempat asuhan Republik Gubuk. “Untuk di gubuk Traill ini, kami juga mulai bergerak di bakat minat. Ada lahan untuk sirkuit BMX, jadi harapan ke depan semoga suatu saat ada adik adik yang bisa menjadi atlit sepeda BMX,” ungkap Dony Windiarto salah satu Pengajar Gubuk khusus atlet Trail ini. Saat ini Republik Gubuk memiliki 22 gubuk asuhan berbagai tema yang tersebar di Kecamatan Jabung. Di tiap gubuknya diajarkan keterampilan tersendiri di masing-masing gubuknya. Seperti Gubuk Baca Anak Alam, Gubuk Baca Pentongan Mindi, Gubuk Baca Kampung Texas, Gubuk Panji, Gubuk Kampung Treteg, Gubuk Sufi dan lain lain (win/can)
PPG UMM Luluskan 331 Guru Profesional

Pada gelar Kelulusan Pendidikan dan Penyerahan Sertifikat Pendidik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode 3 tahun 2019, sebanyak 311 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) dinyatakan sebagai pendidik profesional, Senin (24/12). Mereka terdiri dari 96 atau 31% laki-laki, 215 atau 69% perempuan. Berasal dari bidang studi Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. “Barangkali modal yang harus kita kembangkan saat ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tetapi berdasarkan kebijakan pemerintah, memang akan direduksi tidak berlembar-lembar lagi. Hanya cukup dengan menggunakan tujuan, kegiatan pembelajaran, dan assesmen. Ini tentu berbeda dengan yang saudara kembangkan saat berada di PPG, tetapi saudara jauh lebih mendalam,” Dr. Poncojari Wahyono, M.Pd selaku Dekan FKIP UMM. “Sehingga ketika nanti membuat RPP, saudara justru jauh lebih mudah melakukannya. Ini adalah upaya agar saudara tidak tumpul, tetap cerdas, sehingga memiliki ilmu yang cukup dalam memberikan kemerdekaan belajar pada anak didik dan pada diri saudara sendiri. Karena untuk menjadi guru saudara harus haus ilmu, harus haus untuk memperoleh pengetahuan,” sambungnya saat menyampaikan pidato sambutan di GKB lantai 9. Gelaran kelulusan ini mengusung tema “Menghadirkan Profesionalitas Guru Abad XXI dalam Bingkai Pendidikan Berkemajuan”. Mahasiswa yang dinyatakan lulus pada periode 3 tahun 2019 berasal dari enam provinsi, yakni Provinsi Bali, Jawa Timur (Jatim), Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) yang tersebar di 44 kota dan kabupaten. Selain itu, dilanjutkan Poncojari bahwasanya untuk menjadi seorang guru pada era seperti saat ini, harus haus akan ilmu, dan bisa memanusiakan manusia, memiliki sifat yang ceria, berfikiran positif, serta cakap. Gelar kelulusan ini didasarkan pada SK Kemenristek Dikti No B 805/B-B4/JM03/02/2019 serta Surat keputusan rektor No 947/SK/ PPG XI 2019 Tgl 22 November 2019 tentang penetapan kelulusan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Periode 3 tahun 2019 UMM. Dengan rincian PPG Dalam Jabatan (Daljab) angkatan 2 sebanyak 142 mahasiswa, PPG Daljab angkatan 3 sebanyak 115 mahasiswa, PPG Daljab Guru Daerah Khusus (Gurdasus) sebanyak 15 mahasiswa, Retaker yang berasal dari PPG Dalam Jabatan sebanyak 36 mahasiswa dan PPG Prajabatan SM3T sebanyak 3 Mahasiswa. “Kita tahu bahwa, tidak semua yang sudah menjalani profesi guru bisa mendapatkan panggilan untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru. Jumlahnya banyak, tidak semua bisa diundang. Dari sisi waktu, bapak ibu harus mengikuti seluruh rangkaian PPG selama 6 bulan, 4 bulan difasilitasi dengan Sepadan (Sistem Pembelajaran Daring) atau Online setelah itu 2 bulan hadir di kampus,” jelas Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.selaku Wakil Rektor 1 UMM. Selama itu, lanjut Prof. Syamsul, tentu ada tantangan tersendiri karena harus disadari bahwa setiap momen itu adalah kebahagiaan. Bahagia itu adalah sekarang dan hari ini, bukan masa lalu dan bukan masa yang akan datang. Setelah ini, semuanya akan mendapatkan Sertifikasi. “Karena itu saya melihat ada suatu ekspresi kebahagiaan saat mendapatkan sertifikat Pendidik Profesional,” ungkapnya. “Maka bapak ibu, sebagai guru di manapun kita berada, kita harus responsif, memiliki sensitivitas terhadap perubahan. Dan saya kira bapak ibu selama PPG ini sudah dibekali dengan berbagai macam pengetahuan untuk menghadapi perubahan. sehingga lebih responsive dalam menghadapi kedinamisan zaman maupun menghadapi kebijakan yang selalu berubah-ubah. Terlepas dari RPP dan perangkat pembelajaran yang lainnya, itu adalah sekedar sebagai supporting bukan yang esensi. Karena yang esensi adalah kita sendiri sebagai orang, sebagai manusia. oleh karena itu di berbagai kesempatan saya mengatakan bahwa guru adalah Living Kurikulum,” tandasnya. (riz/can)
Mahasiswa UMM Buat Aplikasi Agar Masyarakat Melek Obat-obatan

Tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap obat-obatan di Indonesia harus menjadi perhatian serius. Pasalnya, beberapa obat-obatan resmi yang dijual bebas di pasaran masih memiliki informasi yang kurang. Beberapa di antaranya sudah terdapat informasi namun jarang penggunanya yang membaca komposisinya. Hal ini dilatari beberapa alasan, seperti tulisan informasi berukuran terlalu kecil sehingga sulit untuk dibaca. Hal ini pun direspon mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membuat aplikasi SIPINO (SIstem Pintar INformasi Obat), sebuah sistem translator informasi obat hanya dengan memindai gambar kemasan (scan packaging). Aplikasi berbasis android besutan Oktario Aldila Fachri, Kharisma Muzaki Ghufron, dan Rahmah Hutami Ramadhani ini dibuat untuk mendukung masyarakat melek literasi kesehatan. “Teknologi untuk menunjang pembuatan aplikasi ini adalah pada proses penangkapan citra gambar dengan menggunakan teknologi Optical Character Recognition (OCR) yang kemudian diterapkan pada perangkat ponsel pintar Android melalui Tensorflow, sebuah perangkat lunak kerangka bantu untuk pengolahan gambar dari hasil penangkapan citra yang didapat dari perangkat ponsel,” jelas Oktario. Dijelaskan Oktario, literasi kesehatan umumnya dikaitkan dengan kemampuan membaca dan memahami resep obat. Sementara hasil penelitian yang mereka temukan menyebutkan bahwa tingkat literasi kesehatan masyarakat di Indonesia masih rendah. Dengan tingkat literasi kesehatan yang rendah, masyarakat cenderung sembarangan mengkonsumsi obat-obatan tanpa tahu efek yang bakal ditimbulkan. “Untuk mendukung peningkatan literasi kesehatan dan produk-produk terkait obatan-obatan di Indonesia, dapat dilakukan dengan penyampaian informasi secara mudah dan cepat menggunakan menggunakan informasi yang sudah didapatkan melalui web resmi milik lembaga negara yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan. Aplikasi kami mempermudahnya,” ungkap Oktario saat diwawancarai Sabtu (21/12 siang. Secara umum, kata Oktario, di situs pom.go.id terdapat beberapa atribut yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi mengenai obat berdasarkan nama produk. Beberapa atribut yang ada yaitu komposisi beserta deskripsinya, bentuk kesediaan, masa berlaku dan tanggal terbit. Di substansi komposisi terdapat informasi detail mengenai informasi komposisi. Dari sinilah informasi yang akan ditampilkan pengguna. “Banyak sekali orang-orang telah menggunakan smartphone sebagai alat yang membantu kehidupan sehari-hari. Ini adalah peluang untuk mengembangankan informasi terkait obat-obatan agar mudah diakses oleh masyarakat dengan mengintegrasikan sistem informasi online milik BPOM yang dapat diakses secara publik dengan smartphone,” ungkap mahasiswa Program Studi Teknik Informatika ini. “Selain menginformasikan jenis, komposisi, dan efek obat, aplikasi ini juga memastikan apakah produk obat-obatan yang sudah dijual bebas di pasaran sudah mengantongi izin dari BPOM. Harapannya, melalui sistem yang dibangun ini dapat meningkatkan literasi kesehatan di Indonesia yang bisa digunakan oleh masyarakat dengan mudah,” ungkapnya menjelaskan karya yang didaftarkan Program Kreativitas Mahasiswa ini. (can)
Jaga Ekosistem Sungai Brantas: Dari Tanam Pohon hingga Tebar Benih Ikan

Aksi bersih-bersih sungai atas kepedulian terhadap sampah, membuat berbagai elemen terjun ke lapangan. Aksi ini dilakukan sekelompok massa yang tergabung dalam Gerakan Kesadaran Alamku Hijau. Sinergitas lintas batas ini terdiri dari unsur TNI-Polri, Akademisi, Lembaga, Ormas dan Media se-Malang Raya. Berlokasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, Lapangan Parkir Barat Pemandian Sengkaling. “Tujuan kami selain untuk penghijauan tentu agar TNI dan Rakyat bisa membaur dan bersatu terutama dalam menghijaukan serta membersihkan kembali sepanjang aliran sungai ini. Ketika kita jaga alam maka alam akan jaga kita,” ungkap Pratu Catur Slamet Riyanto Staf Teritorial Satuan Resimen Artileri Medan 1, Minggu (22/12). Dengan menjaga kebersihan sungai, lanjut Catur, terutama letak DAS Brantas yang berada di Sengkaling merupakan bagian vital karena berada di hulu sungai. Dilakukan penanaman pohon di sepanjang aliran sungai bersama TNI, masyarakat, komunitas serta keluarga besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Kalau hulunya nanti sudah bersih, tentulah hilirnya akan mengikuti. Apalagi sengkaling ini selain bagian vital atau hulunya Brantas, kan juga daerah wisata tentu kita akan menjadi pusat perhatian masyarakat. Kalau kawasannya bersih tentu akan menjadi percontohan. Maka dari itu kita bersihkan dulu hulunya, barulah setelah itu kita bersihkan perlahan-lahan ke hilir,” jelas Catur saat di temui sela-sela kegiatan. Selain penanaman pohon, dilakukan juga penaburan benih-benih hewan Endemik. “Ini adalah penghijauan sepanjang bantaran Kali Brantas yang ada di desa Mulyo Agung atau Sengkaling dengan radius 2 KM. Juga dilakukan penebaran benih ikan yakni mujaer, wader, tawes yang nantinya saat ikan-ikan ini besar bisa dinikmati oleh warga,” ucap Dwi Rubini Ketua RW 8 Dukuh Sengkaling Desa Mulyo Agung. Diikuti oleh puluhan peserta, melalui kegiatan ini diharapkan agar seluruh elemen masyarakat tetap sadar akan pentingnya buang sampah pada tempatnya. Selain buang sampah perlu juga dilakukan penghijauan dan pemeliharaan hewan endemik, sehingga berkesinambungan antara mahluk hidup dan juga alamnya. (riz/can)
LSP UMM Gelar Workshop Harmonisasi Tata Kelola Sertifikasi Kompetensi

Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Workshop Harmonisasi Tata Kelola Sertifikasi Kompetensi yang dihadiri oleh Kepala Laboratorium, Ketua Program Studi (Kaprodi) serta segenap Civitas Akademika UMM. Berlangsung di Aula GKB IV lt. 4 UMM Kampus III. Sabtu (21/12). Membahas harmonisasi skema sertifikasi kompetensi. “Di UMM setidaknya dari 65 skema yang telah ada, 100% lahir dari Prodi. Karena Prodilah yang tau mereka mengajarkan apa dan skema yang perlu dibuat apa,” jelas Ihyaul Ulum Ketua LSP UMM. Workshop ini juga sekaligus membuat Model Standar Kompetensi, SOP sistem industri, serta kurikulum dan asessmen untuk memastikan pertautan antara industri dan pendidikan. “Saya kira ada dua hal yang tekait dengan keberadaan dari LSP itu sendiri, yang pertama adalah tuntutan industri terhadap para lulusan agar siap kerja sesuai bidangnya. Karena hingga saat ini, industri masih merasa perlu membuat manajemen training karena lulusan belum siap terjun kelapangan. Sehingga industri kadang harus menggaji mereka yg notabene belum siap terjun,” ungkap Ir. Surono. MPhil., P.G.D sebagai pemateri acara Workshop LSP UMM. “Adapun yang kedua adalah harus berkompeten, berintegritas, attitude baik, produktivitas tinggi, serta profesional. Saya rasa inilah hal yang diperlukan oleh industri saat ini,” sambung Surono. “Selain itu, sebenarnya ada 2 persyaratan yang tengah kita review salah satunya yakni memastikan bahwa Akreditas Prodi di UMM ini mendapatkan nilai minimal 3,25. Serta jumlah publikasi terutama, baik itu berupa jurnal nasional maupun internasional agar bisa mencapai nilai tersebut. Sehingga kompetensi para lulusan juga bisa siap atau tidak diterjunkan” tandas Prof. Dr. Syamsul Arifin. M.Si selaku Wakil Rektor 1 UMM. (riz/can)
Prodi Peternakan UMM Ajarkan Teknik Pakan Biogas ke Siswa Kejuruan Se Malang Raya

Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (FPP-UMM) mengadakan Pelatihan Tematik Teknologi Pakan Ternak Berbasis Biofarm untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) wilayah Malang dan Batu. Pelatihan yang mengajarkan teknik penghijauan Silase ini digelar di Laboraorium Peternakan (21/12). Mengundang Ali Mahmud, S.Pt, M.Pt sebagai pemateri sekaligus Direktur Utama CV. Dwi Tunggal Mandiri yang mengenalkan Silase sebagai salah satu pkan ternak berkualitas dengan teknik fermentasi penghijauan. Keunggulan teknik ini dapat menghasilkan pakan ternak dengan kadar air hingga lebih dari 70%. “Di Indonesia, olahan pakan ternak masih bergantung pada impor luar negeri. Karena keterbatasan teknologi yang dipakai. Dengan menggunakan teknik silase, bahan untuk pakan dapat mudah sekali dicari, seperti rumput gajah (pennisetum Purpureum), rumput kalonjono (Panicum Mulicum) dan tanaman jagung (Zea Mays),” jelas Ali. Terdapat tiga kelompok atau komponen bahan, yakni klompok bahan pakan hijauan yang menjadi bahan utama, bahan pakan konsentrat dan bahan pakan aditif. “Selain rerumputan sebagai bahan pakan hijauan, terdapat sisa-sisa limbah dari jerami, ampas tapioka sebagai bahan pakan konsentrat, juga butuh nutrisi mineral dari campuran urea dan mineral sebagai bahan pakan aditif,” tambah Ali. Dengan permasalahan iklim di Indonesia yang tidak menentu, menjadi ketakutan para peternak, khususnya dalam hal pakan yang menggunakan pakan hijau. Metode fermentasi silase menjadi pilihan yang tepat karena hasil fermentasi dapat disimpan dalam waktu yang lama tanpa dikhawatirkan nutrisi pakan ternak akan menurun kadarnya. Kegiatan yang diikuti oleh SMK Muhamadiyah 1 Batu, SMKN 1 Pujon dan Sekolah Pertanian Wiyata Bakti ini nantinya akan dilanjutkan dengan praktek ke Laboratrium Terpadu UMM. Mereka diajarkan seputar pembuatan pakan ternak silase dengan dicobakan langsung kepada hewan ternak, seperti sapi perah, ayam, domba, dan lainnya. (yas/can)