Mahasiswa UMM Dampingi Kampung Ubah Sampah Jadi Berkah

SULITNYA mengolah sampah di suatu kampung atau desa memang menjadi masalah serius. Jika sampah yang menumpuk tersebut tidak segera diselesaikan secara cepat seperti membuangnya ke TPA (tempat pembuangan akhir), maka akan menimbulkan dampak lingkungan yang tidak sehat dan masalah lingkungan lainnya. Berangkat dari rasa peduli lingkungan, sejumlah anak muda yang tergabung dalam Kelompok Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) 148 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan solusi tentang bagaimana mengolah sampah agar tidak menjadi limbah yang tak memiliki nilai guna. “Kami ingin memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi warga tentang sampah ini. Selain itu kami juga menerapkan teori yang kami dapatkan di bangku kuliah,” ujar Humas KKN PPM 148, Muhammad Jauzi Nafighair (14/6). Pendampingan ini dilakukan di Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Menurut Jauzi, begitu Muhammad Jauzi Nafighair akrab disapa, Kelompok KKN PPM 148 ini merupakan KKN khusus kerja sama antara Ristek Dikti dengan UMM. Dukungan Ristek Dikti tersebut agar mahasiswa bisa  turun tangan membantu warga menyelesaikan persoalan lingkungan, salah satunya pengelolaan sampah. Program KKN ini, lanjut Jauzi selama 2 bulan di mulai bulan Mei lalu hingga akhir Juni nanti. Meskipun waktunya lama, namun efektifitas KKN dilakukan saat hari Sabtu-Minggu. Sebagai langkah awal, tim KKN 148 melakukan sosialisasi di salah satu rumah warga bernama Sulistyani, sekaligus ketua Program Keluarga Harapan (PKH). Sebelum diolah, sampah harus dipisah antara organik dan non organik. Sehingga sampah bisa dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi serta menurunkan resiko rusaknya tanah dan gagalnya panen di sekitar lokasi TPA. Supaya warga sadar bahaya ini, tim ini melatih warga cara mengolah sampah menjadi barang berkah. Jauzi menyebutkan agar warga setempat bisa meniru salah satu tokoh lingkungan yaitu Siti Rahayu, yang mempunyai Kepuh Kreatifia (semacam bank sampah) Dusun Kepuh Selatan, Kepuharjo, Karangploso. Yakni dengan menjadikan sampah sebagai komoditas ekonomi yang menghasilkan lilin, pot, sandal, dan tas. Dikatakan Jauzi, materi ini menjadi salah satu perhatian peserta, sebab materi ini nanti warga dilatih mengolah sampah menjadi barang bernilai ekonomi. “Kami saat ini masih tahap pemberdayaan serta memotivasi warga agar memilah sampah organik dan non organik. Setelah dipilah kami ajari untuk mengolahnya,” tandasnya. Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Musyaffak, M.Pd. menerangkankan, KKN PPM 148 merupakan KKN khusus. Pesertanya semua prodi yang sudah lulus uji seleksi. Pelaksanaan KKN ini mengacu pada ketentuan Ristek Dikti sebagai pendukung utama. UMM dalam hal ini bertindak sebagai pelaksana. Mahasiswa sebelum terjun KKN, dibekali ilmu tentang metode pemilahan sampah. Ilmu itu bisa diterapkan untuk memberikan solusi bagi masyarakat. Diharapkan setelah dibekali cara mengolah sampah, di masa datang bisa mengolah sampah untuk kegiatan ekonomi, serta menurunkan resiko rusaknya tanah dan gagalnya panen. (can)

Jainal Ilmi, Alumni Psikologi UMM Lebarkan Sayap Training di Dunia Digital

Era Industri 4.0 membawa hampir segala hal menjadi serba digital. Hal ini disadari betul oleh Jainal Ilmi, Alumni S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Menghadapi dunia yang makin kompetitif, Jainal Ilmi mendirikan Catatan Psikologi. Sebuah komunitas Psikologi yang acap kali mengadakan seminar online. Ide mendirikan komunitas ini diawali saat Jainal bertemu kawannya saat menjadi volunteer di Klang Kuala Lumpur. “Temen saya ini punya akun dakwah, kemudian saya kepikiran untuk menyebarkan ilmu psikologi juga melalui media sosial,” tuturnya. Founder & CEO Komunitas Catatan Psikologi ini tak menyangka antusias masyarakat terhadap Catatan Psikologi begitu besar. Sesuai jadwal yang telah disusun, akun Instagram catatan_psikologi akan memposting berbagai hal tentang dunia psikologi. Selain di dunia Maya, Catatan Psikologi ini juga secara berkala melakukan kegiatan sosial. Seperti berkegiatan sosial dengan beberapa perusahaan untuk turun ke panti asuhan, atau desa-desa untuk memberikan psikoedukasi dan motivasi. Akun Instagram yang telah diikuti oleh 12.200-an user ini didirikannya September 2017 silam. Akun ini kini telah memiliki beberapa pengurus masing-masing media sosial. “Akhir 2018 lalu saya rekrut teman-teman yang satu visi untuk bergabung,” katanya. Catatan Psikologi juga secara rutin memberikan seminar online yang dapat diikuti oleh para follower maupun umum. Pria yang saat ini sedang menempuh Program Pendidikan Magister Psikologi UMM ini mengaku awalnya tidak berniat masuk ke Fakultas Psikologi. Ia malah bertekad masuk ke Fakultas Kedokteran. Namun nasib berkata lain, ia diterima di Fakultas Psikologi UMM. Masa adaptasi ia lakukan selama semester satu dan dua. Di semester ketiga ia mulai menyukai kajian di dunia Psikologi. Ia kemudian menerapkan dengan memberikan training-training kecil. Puncaknya, ia diundang oleh Malang Post untuk melakukan training kepada siswa-siswa SMP dan SMA Se-Malang Raya. Ia mengaku senang karena dapat memberikan training kepada ribuan siswa dalam satu forum. “Sangking banyak, saya merasa bukan seperti public speaker, lebih terasa seperti sedang manggung konser,” candanya. Pria yang akrab disapa Kang Jay ini memiliki 12 sertifikasi. Beberapa diantaranya adalah Certified Trainer Motivator Academy, Certified Trainer Neuro Linguistic Programming dan Certified Public Speaker. Tak heran, Jainal telah memberikan training kepada banyak kalangan mulai dari siswa SD sampai SMA, mahasiswa, karyawan dan baru-baru ini kepada lansia. “Motivasi utama adalah menjadi orang yang bermanfaat, utamanya bagi orang terdekat seperti keluarga,” ungkapnya. Akhir Mei 2018 ia berkesempatan berdiskusi dengan Romy Rafael, Hipnoterapis yang wara-wiri di televisi. “Banyak yang kami diskusikan diantaranya hypnosis dan personal branding,” jelasnya. Kedepan, Jainal berharap Catatan Psikologi dapat lebih luas dampaknya. Juga, dapat berkembang dan hadir di seluruh kota Indonesia untuk menjadi pendamping milenial mengembangkan dirinya. (*)

Cerita Prof Syamsul Tentang Menjadi Muslim Minoritas di Australia

Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. pada momentum lebaran lalu, Rabu (5/6), menjadi khatib pelaksanaan shalat Iedul Fitri bagi komunitas muslim Indonesia di Perth, Australia. Dalam kesempatan itu, Syamsul membawakan khutbah Id yang bertajuk, Merawat Momentum “Manusia Ramadhan”. Di khutbah yang disampaikan Syamsul di Leisurerelief Center itu, Syamsul menyisipkan tema seputar “Unity in Devirsity” atau Persatuan dalam Keberagaman dalam Islam, guna melengkapi ulasan Syamsul tentang pengalaman ruhani puasa Ramadhan yang berujung pada ketaqwaan sebagai profil dari “Manusia Ramadhan”. “Dalam kasus penetapan 1 Syawal, entah hingga kapan “modus vivendi” antar umat Islam bisa diperjumpakan? Karena penetapan ini menjadi bagian dari “ikhtilaf”, mudah-mudahan saja tidak berakibat terjadinya “iftiraq”, perpecahan dan pertentangan, seperti ulasan Umar Shihab dalam buku, Beda Mazhab Satu Islam, yang terbit pada 2017,” kata Syamsul. Dikisahkan Syamsul, Nabi Muhammad diliputi kekhawatiran level tinggi terkait dengan “ikhtilaf” dan “iftiraq” ini. Di sebuah masjid yang sekarang terletak ke arah kiri Kuburan Baqi’ Madinah, namanya Masjid al Ijabah, permintaan Nabi di urutan ketiga tidak terkabulkan. Sementara dua permintaan pertama dikabulkan. Nabi memohon kepada Allah agar umat Islam terhindar dari perpecahan akibat perbedaan di dalamnya. Ini permintaan ketiga yang tidak terkabulkan. Dalam khutbah di Victoria Park itu, Syamsul juga menyinggung ancaman merenggangnya “ikatan kebangsaan” antara warga negara yang juga menggejala di kalangan Muslim sebagai efek dari politik elektoral. “Manusia Ramadhan”, tegas Syamsul dalam khutbah, “adalah manusia yang memiliki etos kebaikan yang antara lain dicirikan dengan kemampuannya menahan amarah dan mau memberi maaf.” Kita pada Pemilu kemaren, sambung Syamsul, alih-alih malah mudah marah dan cenderung negativistik kepada pihak lain. Alih-alih didasarkan pada alasan rasional dan obyektif, justru karena memang kita tidak menyukainya. Tanpa disadari, kata Syamsul, kita sedemikian dalam terjatuh pada “post-truth”. Menjadi minoritas tidak selamanya diliputi drama yang menguras air mata seperti suku Uighur, minoritas Muslim di Tiongkok atau komunitas Rohingnya di Myanmar, meskipun tidak bisa dikatakan tidak ada ketegangan, tension, yang dialami oleh Muslim di Australia. Dari forum diskusi yang digelar oleh CIMSCA (Curtin Indonesian Muslim Student Association) pada 6 Juni, dimana Syamsul diminta membentangkan riset KLN-nya itu—CIMSCA adalah perkumpulan kedua yang menyediakan forum kepada Syamsul yang sebelumnya pada 4 Juni, Association of Indonesian Postgraduate Students and Scholars in Australia (AIPSSA)   juga mengundangnya mengulas topik Masyarakat Sipil, Pemilu 2019 dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia—seorang peserta bertukar cerita ihwal pengunjung berjilbab yang tidak dilayani oleh kasir dan kurang artikulatifnya suara umat Islam apabila dibandingkan dengan suara dari kalangan Katolik yang menolak pernikahan sejenis yang diusung oleh kaum LGBT. “Mungkin karena Muslim itu minoritas,” kata peserta dalam forum itu. Namun, fenomena secara umum, Muslim di Australia, setidaknya kalau menyimak ungkapan testimonial mahasiswa yang bicara ketika itu, baik di Curtin maupun di UWA, masyarakat dan pemerintah memberikan jaminan terhadap kebebasan beragama termasuk kepada Muslim. Khayruddin Kiramang, asal Bone, Sulawesi, ketua CIMSA yang juga mahasiswa doktoral Curtin University atas sponsor MORA, mengajak Syamsul ke sebuah mushala yang terletak di Curtin University. “Mushalla? Di kampus plat merah? Di negara sekuler pula! Sewaktu mengikuti konferensi di University of Salerno, Italia, Maret yang lalu, alih-alih sekedar ruang kecil untuk shalat, tidak tersedia,” gumamnya. Tetapi di kampus yang namanya dinisbahkan kepada John Curtin, Perdana Menteri Australia, 1941-1945 dan pentolan Partai Buruh, 1935-1945, dan kampus ini “ditubuhkan” pada 1966, alih-alih ruang kecil, tetapi justru mushala dengan ukuran yang lumayan luas dengan kapasitad sekitar 200 orang, serta dengan arsitektur yang unik. Seharusnya bukan mushala, bolehlah disebut masjid karena juga digunakan untuk shalat Jumat sebagaimana yang saya ikuti pada 8 Juni kemaren. “Pada bulan Ramadhan kemaren, di mushalla ini selalu ada takjil,” cerita Pak Din, sapaan akrab Khyaruddin Kiramang yang sedang studi bidang kepustakaan. Ada pula cerita tambahan dari Bu Yuni, selama Ramadhan di gelar semacam bazar di salah satu koridor di kampus Curtin. Menjadi muslim Minoritas, memang ada minusnya. Sebagaimana juga menjadi mayoritas, ada minus, juga plus. Tetapi dari kunjungan beberapa kali ke Australia, saya belajar banyak kepada mereka. “Di tengah keterbatasan sebagai minoritas, mereka bermental mayoritas. Apakah mungkin karena juga pemerintah Australia menjaga jarak dengan agama sebagai wilayah privat? Masih perlu dikaji lagi,” pungkasnya. (*)

Fasilitasi Kreativitas Milenial, FKIP UMM Gelar Kompetisi Vlog Nasional

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan sebuah kompetisi video Blog (VLOG) tingkat nasional. Selain merebutkan uang tunai, sertifikat dan juga trophy, kompetisi ini juga merebutkan piala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kompetisi ini diadakan untuk memberikan sebuah wadah bagi generasi milenial dalam mengembangkan potensi  yang terdapat dalam dirinya. Terutama dalam dunia pembuatan video menarik seperti vlog. Seperti yang kita tahu, saat ini video blog sedang banyak digemari oleh kaum milenial. Melihat fenomena ini, FKIP UMM mencoba untuk memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan kreativitas dalam pembuatan video blog yang kali ini bertemakan “Guruku Idolaku” Pemilihan tema “Guruku Idolaku” ini bukan tanpa alasan. Guruku Idolaku yang diadakan oleh FKIP UMM ini merupakan kampanye penumbuhan karakter dan gerakan menghargai jasa guru-guru Indonesia sebagai garda terdepan dalam mewujudkan peningkatan kualitas Pendidikan. Kegiatan ini sangat penting dilakukan mengingat akhir-akhir ini terjadi gejala dan perilaku yang mengarah pada tidak dihargainya guru, berwujud kekerasan terhadap guru dan bahkan sampai kekerasan yang menghilangkan nyawa. “Guruku Idolaku ini memiliki misi mengembalikan posisi Guru yang dalam filosofi Jawa berarti digugu lan ditiru. Seorang guru merupakan sosok yang harus ‘digugu’ artinya dipatuhi atau didengar dan ‘ditiru’ yang berarti patut dicontoh atau diteladani,” ungkap M. Yunus Prasetya selaku Sie Humas dan Publikasi. Guru, sambung Yunus, tidak hanya seorang yang luas ilmu pengetahuanya dan mengajar dalam ruang pembelajaran. Guru bisa diartikan sebagai orang yang mengajarkan segala sesuatu, meskipun itu hanya satu huruf. Pengalaman bermanfaat yang mampu mengajari diri kita menjadi lebih baik juga dapat disebut sebagai guru. “Profesi seorang guru, termasuk profesi yang dihormati. Guru seharusnya menduduki strata sosial yang tinggi, bahkan ketika telah pensiun. Ia dianggap sebagai sosok yang serba tahu dan menjadi tempat bertanya. Guru juga dinilai sebagai sosok yang berakhlak mulia dan berperan penting dalam mencerdaskan putra-putri bangsa ini. Tanpa guru, tak akan ada kemajuan bangsa,” kata Yunus. Kompetisi vlog nasional kali ini melombakan dua kategori yakni kategori pelajar (siswa SMA sederajat) dan juga kategori umum. Apabila ingin turut memeriahkan kompetisi berhadiah jutaan rupiah ini, calon pendaftar bisa mengakses bit.ly/pendaftaranpesertaNVC untuk mengisi formulir secara onine terlebih dahulu. Batas pengiriman karya sendiri masih cukup panjang yakni sampai tanggal 15 juli mendatang. “Ini merupakan momen yang pas untuk mengkespresikan ide kretifitas dalam mendokumentasikan peranan guru dalam dunia pendidikan di daerah melalui pembutan video blog dengan tema ”Guruku Idolaku” dalam ajang lomba National Vlog Competition (Piala Mendikbud) 2019,” pungkas Yunus. (*)

Lebaran Momentum Wujudkan Masa Depan Lebih Baik

Civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (13/6), memadati Hall Dome UMM. Yakni silaturahmi seluruh elemen kampus ini dalam rangka Halal bi Halal. Ketua Badan Pembina Harian UMM Prof. Dr. H.A. Malik Fadjar, M.Sc. menyebut, pasca Ramadhan merupakan momentum mengumpulkan energi baru  menatap kecemerlangan di masa depan. Malik berkeyakinan, pasca menghadapi puasa, secara fisik justru tubuh semakin fit, semakin sehat. Selain fisik, kita juga harus menjadi pribadi yang semakin jeli melihat masa depan. Saya berharap seluruh elemen terlibat dalam menggerakkan universitas ini sehingga menjadi besar, terpercaya, memegang amanah, serta bertanggung jawab,” sambung Malik. Malik juga mendorong para civitas akademika untuk memiliki nilai dan jiwa yang dianut para pemenang. Diantaranya menghindari untuk tidak bersyukur nikmat dan berpikir ngeres. Orang kecil itu adalah orang yang tidak syukur nikmat, dan orang yang berpikir ngeres-ngeres itu. Orang besar itu yang bisa menysukuri nikmatnya yang diberikan Tuhan kepada kita. Baca juga: Fasilitasi Kreativitas Milenial, FKIP UMM Gelar Kompetisi Vlog Nasional   “Insya Allah, jika kita mengembangkan (prinsip) itu, hidup ini akan barokah. Barokah itu tidak dihitung dengan seberapa banyak uang yang dimiliki,” kata Malik dengan bersehaja. Malik lantas menegaskan Muhammadiyah sebagai organisasi pergerakan, “Kalau ingin bisa menjadi orang pergerakan yang berkontribusi bagi umat dan bangsa, di sinilah tempatnya.” “Kita juga punya tanggungjawab strategis untuk menampilkan Muhammadiyah sebagai model pergerakan Islam modern dengan wajah yang ramah Islam Indonesia,” tegas Malik. Setelah Halal bi Halal ini, kita akan memasuki tahun ajaran baru/tahun akademik baru 2019-2020. Tentu kita akan menghadapai tantangannya besar dan perubahan besar. “Mari kita memberikan semaksimal mungkin. Dan itu hanya bisa kita lakukan dengan  bersama-sama. Semua kompak memberikan pelayanan terbaik baik universitas,” ujarnya. Idul Fitri menjadi momentum untuk menjaga kejernihan hati dan batin untuk meningkatkan produktifitas kita. Untuk meluruskan (niat) perjuangan kita. Ini bahagia dan kegembiraan. Disebut Rektor Fauzan, UMM tidak hanya memiliki tanggung jawab pendidikan, tapi juga sosial. Hal itu ditunjukan dengan bertambahnya jumlah keluarga civitas akademika UMM. “Telah banyak penduduk baru di civitas akademika UMM. Itu semua bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab sosial UMM. Juga keberlanjutan UMM ke depan,” sebutnya. Rektor lantas mengucapkan permohonan maaf, baik secara pribadi juga institusi kepada civitas akademika dan rekanan UMM. Ditutup doa dan dilanjutkan dengan ritual saling berjabat tangan. Dalam momen itu juga turut hadir jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang diwakili Nur Cholis Huda. Ia juga menyampaikan pentingnya ritual Halal bi Halal. (can)

Cetak Guru Berwawasan Global Lewat Magang dan KKN Internasional

Terhitung sampai tahun 2019 ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah empat kali mengirimkan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan Magang 3 Internasional ke Thailand. Sejak tahun 2015, FKIP UMM menjalin kerjasama dan mengirimkan mahasiswa untuk mengajar di Thailand. Kunjungan 12 senator (anggota parlemen) Thailand yang dipimpin Jendral Dr.Tuang Antachai (mantan kepala staf Angkatan Darat/Gen.Udomchai Tammasarorat) pada tanggal 10 Agustus 2018 ke UMM meneguhkan kerjasama FKIP ini. Magang ke Thailand ini diselenggarakan pada setiap bulan Juni. Selama satu bulan penuh, mahasiswa melaksanakan kegiatan praktek mengajar di sekolah. Mahasiswa melaksanakan magang di sekolah yang tergabung dalam Muslim Education Development Association Thailand (MEDAT), suatu organisasi sekolah yang beranggotakan SD, SMP dan SMA di seluruh wilayah Thailand. “Berkat kerjasama yang harmonis, setiap tahunnya FKIP mengirimkan 45 hingga 55 mahasiswa dari enam program studi (Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, PGSD, Biologi, Matematika dan PPKN) ke empat provinsi di Thailand, yaitu Bangkok, Satun, Krabi dan Songklha,” ungkap Nur Widodo, Kepala Magang FKIP. Melalui Magang 3 ini, sambung Nur Widodo, mahasiswa melakukan kegiatan mengajar. Apapun latar belakang disiplin ilmunya, mereka akan mengajar Bahasa Inggris, budaya dan Bahasa Indonesia, kepanduan, dan pelajaran ekstra kurikuler lainnya. Mulai tahun 2018 kegiatan Magang 3 ini digabungkan dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kependidikan. Oleh karena itu, durasi program bertambah satu bulan, sehingga magang dan KKN mahasiswa berakhir pada bulan Agustus. Dengan penggabungan magang dan KKN ini, maka mahasiswa semakin leluasa dalam merancang dan melaksanakan kegiatan kemasyarakatan. “Melalui program gabungan ini, mahasiswa mampu mengembangkan koperasi sekolah, mengenalkan berbagai budaya daerah di Indonesia, seperti kesenian wayang, angklung, batik jumput dan lain lainnya. Bahkan ada kelompok mahasiswa yang menggerakkan gemar membaca dan literasi melalui perpustakaan keliling,” ungkap Nur Widodo. Kegiatan Magang 3 dan KKN Internasional ini sekalipun berlingkup bilateral, memiliki makna penting bagi mahasiswa. Tidak hanya terkait dengan school exposer, tetapi lebih pada international atmosphere. Mahasiswa perlu memiliki wawasan internasional, terlebih dengan telah diberlakukannya pasar bebas ASEAN sejak tahun 2015. “Mau tidak mau, dunia pendidikan pasti terimbas oleh globalisasi, dan mahasiswa harus dipersiapkan untuk memenangi kompetisi global termasuk dalam dunia pendidikan ini,” katanya. Lebih jauh Nur Widodo menjelaskan, melalui magang internasional ini maka berbagai kualifikasi seperti yang dikehendaki oleh pembelajaran abad 21 antara lain kemahiran komunikasi, berfikir kreatif, bekerja sama dan bahkan kemandirian dapat dikuatkan pada mahasiswa peserta magang dan KKN Internasional ini. “Oleh karena itulah mahasiswa peserta Magang dan KKN Internasional ini mendapatkan pembekalan yang terkait dengan pemenuhan empat kualifikasi yang dipersyaratkan, penguatan spirit de corp, penguasaan bahasa dan budaya Thailand serta tidak kalah pentingnya adalah  penguasaan mapping dan traveling di Thailand,” pungkasnya. Pengalaman baik kegiatan Magang dan KKN Kependidikan tahun 2018 berhasil mendapatkan apresiasi oleh Kementerian Pendidikan Thailand dalam bentuk “Teacher of the Year”. Penghargaan tersebut diperoleh berkat kerja cerdas mahasiswa dalam mengajarkan dan mengembangkan koperasi sekolah. Mahasiswa peserta magang ini juga telah mendokumentasikan kegiatannya dalam bentuk buku. Dengan membaca buku catatan pengalaman mereka, maka pembaca dapat memetik good practice-nya. Buku karya mahasiswa alumni program magang ini diterbitkan untuk kalangan umum. Judul bukunya “Bangsaku Kawanmu” untuk edisi tahun 2016, dan “Catatan Kenangan Thailand” untuk tahun 2018. Pada tahun 2019 ini FKIP UMM kembali mengirimkan 46 mahasiswa untuk mengikuti kegiatan magang dan kkn internasional. Mahasiswa tersebut merupakan hasil seleksi dari 100 peminat. Ke 46 mahasiswa yang terseleksi selanjutnya telah dipersiapkan dengan intensif selama bulan Mei. Disamping penguatan kualifikasi, pengembangan program individu, penguatan spirit de corp dan penguasaan wilayah dan budaya Thailand, untuk menajamkan kemandirian dan kepekaan sosialnya disentuh melalui program MOR, ICA dan NOLL. Dekan FKIP, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes. memberikan catatan pada saat pembekalan, bahwa peserta tahun ini diharapkan tidak sekedar melaksanakan program yang telah dipersiapkannya. “Peserta saya harapkan untuk mampu memikat hati sekolah di Thailand dengan karakter keunggulannya sehingga mendapatkan kesempatan untuk direkrut sebagai guru di Thailand setelah lulus nantinya, sebagaimana kakak tingkatnya,” demikian motivasi yang diberikan untuk peserta tahun 2019 ini. “Menjadi guru di Thailand itu sangat menjanjikan, karena tidak mensyaratkan sertifikasi seperti di Indonesia dan gajinya lumayan jauh lebih tinggi,” demikian pungkasnya. Tidak ketinggalan pula Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. yang merasa bangga dengan program Magang dan KKN Iternasional ini. “Saya mengharapkan program ini dapat diperluas lagi di berbagai negara lain. Syukur-syukur bisa di Eropa maupun Amerika” demikian pintanya. (*)

Versi SINTA, Pendidikan Biologi FKIP UMM Terbaik se-Indonesia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan dirinya sebagai salah satu perguruan tinggi bergengsi di Indonesia. Kali ini, prestasi membanggakan diperoleh Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM didaulat sebagai Prodi Pendidikan Biologi terbaik (nomor urut satu) dari 143 prodi yang sama di Indonesia, baik PTN maupun PTS, berdasarkan indikator publikasi ilmiah yang terdaftar di portal SINTA Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). SINTA (Science and Technology Index) merupakan portal yang berisi tentang pengukuran kinerja Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang meliputi antara lain kinerja peneliti, penulis, author, kinerja jurnal, dan kinerja institusi Iptek. SINTA dibuat guna mewadahi hasil penelitian yang sudah dipublikasikan secara online. Sehingga orang yang dapat berkontribusi di Portal SINTA adalah para peneliti dan dosen. Merujuk pada http://sinta2.ristekdikti.go.id/departments/afiliasi?kdprodi=84205&view=affiliation, terlihat jelas posisi Pendidikan Biologi UMM berada di urutan pertama. Score yang diperoleh adalah 91 (5 year Score) dan 365 (all year score). Score ini memiliki selisih yang cukup jauh dengan score yang diperoleh beberapa PTN, misalnya UM (59/191), UNM (57/193), UNESA (43/122), dan UPI (21/203). Peringkat di “5 Year Score” adalah berdasarkan skor 5 tahun terakhir, publikasi dihitung sejak tahun 2015 sampai publikasi (sekitar) akhir Mei 2019. Sedangkan untuk “All Year Score” dihitung seluruh tahun publikasi. Skor lima tahun terakhir ini (akan) dipakai untuk pemberian beragam kategori Penghargaan Sinta. Adanya skor ini, diharapkan perguruan tinggi, dosen/peneliti, dan pihak lainnya akan dapat lebih terpacu setelah melihat produktifitas dalam tiga tahun terakhir. Baca juga: Mahasiswi Ini Berbagi Tips Bagi Perantau yang Tak Mudik Lebaran Menanggapi capaian prestasi ini, Dekan FKIP UMM Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes. menegaskan bahwa hal tersebut sebenarnya bukan hal yang mengagetkan. Menurutnya, prestasi ini sangat wajar mengingat Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM terus melakukan inovasi-inovasi dalam hal publikasi. Semua dosen secara bersama-sama giat melakukan penelitian berkualitas, lalu mempublikasikan artikel ilmiah mereka di jurnal bereputasi internasional. Bahkan, budaya itu pun menular kepada mahasiswa. Mahasiswa semester akhir secara otomotis memformat skripsi mereka menjadi artikel ilmiah yang akan dipresentasikan di berbagai seminar nasional dan internasional, juga minimal di jurnal-jurnal terakreditasi. Dekan FKIP UMM  juga menjelaskan bahwa tradisi juara dan prestasi memang menjadi nafas prodi-prodi di lingkungan FKIP UMM. Secara khusus di Prodi yang diketuai ole Dr. Iin Hindun, M.Kes ini telah diperoleh rekognisi internasional berupa sertifikasi dari ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA), yang merupakan prodi Pendidikan Biologi pertama di Indonesia. Prodi ini juga memperoleh Akreditasi A (2011-2021), Laboratorium Biologi Terakreditasi KAN dan ISO-17025, memiliki Jurnal terakreditasi Sinta 2 dan terindeks internasional (JPBI), dan program-program kerjasama internasional. (*)

Mahasiswi Ini Berbagi Tips Bagi Perantau yang Tak Mudik Lebaran

Tiap negara memiliki tradisinya masing-masing menjelang perayaan Idul Fitri. Seperti diketahui, lebaran di Indonesia selalu identik dengan mudik. Momentum ini bisa menjadi sangat spesial bagi seluruh umat Islam untuk kembali menjalin tali silaturahmi dengan kerabat, sanak famili, sahabat maupun handai taulan. Heni Pujiati, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Tarakan, Kalimantan Utara membagikan tips bagi sesama teman seperantauan yang tidak mudik untuk mengisi waktu libur Ramadhan dan bagaimana caranya merayakan lebaran di rantauan. Kota Malang ditempati oleh berbagai profesi, terutama mahasiswa. Tentu hari demi hari menjelang lebaran, suasana kamar para penghuni kost kian sepi.  “Karena itulah dengan beraktifitas kita bisa sedikit menghabiskan waktu dan menghilangkan kejenuhan,” ujarnya. Pertama, memperbanyak kegiatan positif. Seperti membantu teman yang butuh bantuan, ataupun mengantarkan barang belanjaan milik tetangga maupun teman. “Kalau saya, saat sore harinya, saya berjualan kue-kue di sekitar Taman Rekreasi Sengkaling,” beber Heni yang saat ini tengah menempuh semester enam. Kedua, untuk menambahkan kesan lebaran agar kian kental hal yang dapat dilakukan yakni dengan menghias kamar kost-an dengan pernak lebaran. “Membeli kue-kue khas lebaran. Juga membeli baju baru agar suasana lebarannya tetap dapet,” kata mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) ini. Tips yang terakhir ialah dengan berkumpul bersama teman-teman terdekat yang tidak mudik, sekaligus bersilaturahmi ataupun pergi ke rumah teman yang notabene asli penduduk setempat. Hal ini dimaksudkan agar suasana kekeluargaan di tanah rantau tetap terasa, walaupun sedang tidak berada di kampung. “Mungkin untuk kedepan di kampus bisa dibuat silaturrahmi akbar atau acara mudik gratis sebagai alternatif bagi mahasiswa perantau yang berhalangan mudi saat momen Idul Fitri,” pungkasnya. Ia beralasan tak mudik karena harus menuntaskan hajat yang penting. (riz/can)

Cerita Ocha Melawan Stigma Alumni Ikom yang Memilih Berbisnis Kuliner

Berwirausaha menjadi salah satu pilihan tepat bagi para fresh graduate. Begitulah yang dilakukan oleh Rahmania Santoso, perempuan  lulusan program studi Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2018 silam yang meyakinkan dirinya untuk membuka usaha kuliner bernama Tape Deh. “Pertama kali dulu open pre order lalu dikirim ke pemesannya langsung,” ungkapnya. Jauh sebelum memberanikan diri open order, ia mencoba membikin kreasi panganan tradisional tape dengan sentuhan modern ini lewat tangan sendiri. Produknya lantas dicobakan kepada teman-teman terdekatnya. Responnya positif. Perempuan yang akrab disapa Ocha ini mengaku senang berwirausaha sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). “SD dulu pernah aku jualan gelang,” katanya. Kegemaran itu berlanjut hingga duduk dibangku perguruan tinggi. Saat di perguruan tinggi ia jual makanan ringan kiloan yang kemudian dikemasi sendiri. Lantas dijualnya dengan label dan kemasan lebih kecil. Perjalanan Tape Deh yang dikembangkan Ocha benar-benar mengalami perkembangan yang signifikan. Kini Tape Deh sudah memiliki outlet yang dapat dikunjungi oleh pelanggan secara langsung. Letaknya di pintu masuk Perumahan Bukit Cemara Tujuh. Meski baru mulai, perbulannya ia dapat mengantongi keuntungan bersih satu hingga dua juta sesudah dipotong uang sewa tempat, bahan, dan gaji karyawan. Walaupun demikian, Ocha beberapa kali pernah mengalami kegagalan dalam mengembangkan Tape Deh-nya. “Pernah bahan-bahannya rusak tidak dapat digunakan dan akhirnya terpaksa dibuang,” tuturnya. Selain itu ia juga pernah mengalami masa-masa dagangannya tidak laku. Menurutnya, semua hal tersebut adalah proses yang tentu saja akan dilalui seorang wirausaha. Dalam proses membangun Tape Deh, Ocha mengaku belajar banyak hal. Salah satunya mengelola sumber daya manusia yang turut mengelola usahanya. Termasuk menggaji dan mengelola penjadwalan shift. “Sejauh ini yang menjadi pelayan Tape Deh adalah mahasiswa, jadi mengatur jadwal jaganya disesuaikan dengan perannya sebagai mahasiswa,” jelasnya. Stigma lulusan Ilmu Komunikasi yang paling tidak berprofesi menjadi Wartawan atau bekerja di PR Agency sering kali hinggap ditelinganya. “Saya sudah biasa. Yang penting bermanfaat dan saya suka,” ungkap Ocha yang kini sebagai staf rektorat UMM. Tentang basik keilmuannya, Ocha juga menerapkannya di waktu lainnya. Seperti menjadi pembawa acara lepas. Ocha berharap kedepan usahanya dapat menginspirasi para mahasiswa maupun fresh graduate untuk berani berwirausaha. “Jangan takut mencoba! Karena kita tidak akan tahu hasilnya jika tidak dicoba terlebih dahulu,” tekannya saat diwawancarai, Senin (3/6). (*)

Mahasiswa UMM Temukan Gel Anti Aging dari Kulit Semangka

Penuaan atau aging jadi proses menakutkan yang dihindari sebagian orang. Terlebih bagi kaum perempuan. Hal inilah yang melatari Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan formula berupa gel anti kusam dari kulit semangka (Citrullus lanatus). Adhea Fajarina Nugraheni bersama Vika Amelia Safitri dan Kiki Vergianti Ayuningtyas adalah penemunya. Penelitian didampingi Siti Rofida, S.Si., M.Farm., Apt. Temuan yang didaftarkan Program Kreativitas Mahasiswa – Penelitian (PKM-P) ini lolos pendanaan dari Ristekdikti sebesar Rp 12.500.000,-. Ardhea selaku koordinator kelompok mengungkapkan, seiring bertambahnya usia, kulit akan ikut menua. Salah satu solusi yang mungkin dilakukan yakni dengan melakukan tindakan pencegahan maupun memperlambat proses aging yang dinilai mengkhawatirkan. “Salah satu cara dalam melakukan tindakan anti aging adalah dengan menggunakan kosmetik dari bahan tanaman yang banyak mengandung senyawa likopen dan antosianin yang berfungsi peremajaan terhadap kulit,” sebut Ardhea. Selain terdapat senyawa likopen, lanjutnya, penggunaan kulit semangka dinilai mampu menutup pori-pori yang terbuka pada wajah dan menangkap radikal bebas yang disebabkan paparan sinar matahari dan polusi. “Kedua manfaat itu merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya penuaan dini,” kata Ardhea. “Biasanya semangka hanya dimanfaatkan dagingnya saja, sementara bagian kulitnya dibuang. Sehingga kita juga memanfaatkan limbah kulit tersebut sebagai bahan aktif kosmetika yang dapat mengatasi limbah dan meningkatkan nilai jual,” lanjut Ardhea. Dijelaskan pembimbing Siti Rofida, penelitian tiga mahasiswa program studi Farmasi ini dilakukan dalam jangka waktu lima bulan dengan tahapan yaitu, persiapan bahan uji ekstrasi kulit buah, pembuatan gel anti kusam, pengujian mutu fisik dan pengujian aktivitas antioksidan gel. “Kami berharap setalah adanya penelitian ini hasilnya dapat dipublikasikan dalam seminar nasional dan memiliki potensi untuk didaftrarkan hak paten. Selain itu juga dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk membuat penelitian lainnya,” harap Siti (2/6). (*)