Di UMM, Ratusan Siswa SD Diwisuda

Di momentum Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, Kamis (2/5) hari ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghelat Kids on Campus. Gelaran kuliah singkat bagi siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) se-Malang Raya ini untuk kali kedua diadakan. Lima ratusan siswa SD bersafari di Kampus III UMM untuk mengunjungi stand atraksi produk mahasiswa, di antaranya mobil listrik Genetro Suryo, serta beberapa unit kegiatan mahasiswa (UKM) UMM berprestasi sembari memamerkan beragam produk-produk inovasinya. Siswa yang telah dibagi menjadi beberapa kelompok juga bergantian mengunjungi sejumlah laboratorium di UMM untuk belajar secara langsung, mengenal, mempelajari, hingga mempraktikan beberapa materi bersama para staf pengajar hingga professor . Rute pelaksanaan di antaranya Puspa Iptek, Laboratorium Biologi, Pusbang Biotek, Laboratorium Peternakan, Laboratorium Perikanan, Unit Produksi Roti, PLTMH, Laboratorium Drama, Laboratorium Robotik, dan Laboratorium Ilmu Komunikasi. Berkegiatan di kampus, kata koordinator acara Faizin, M.Pd, dapat meningkatkan keingintahuan siswa-siswi akan pengetahuan dan sains. Salah satunya, tim Robotika UMM yang baru saja menjuarai kontes internasional di Amerika Serikat yang turut serta menyemarakan kegiatan ini. Setelah mengikuti “perkuliahan” singkat, para siswa-siswi ini lantas menerima ijazah dan disematkannya gordon sebagai simbolisasi usainya proses pendidikan di perguruan tinggi. Mereka resmi menyandang status “sarjana”. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. yang langsung mengukuhkan ratusan siswa di gelaran wisuda. “Mulai sejak dini, siswa sudah diberikan wawasan pentingnya menghargai sesama melalui pendidikan karakter. Siswa juga diberikan kompetensi yang sesuai dengan potensi dalam diri mereka, serta ditanamkan sifat saling menghargai, dan terbiasa untuk bersifap sportif,” ungkap Fauzan. Hal ini, sambung Fauzan, menjadi investasi jangka panjang agar pendidikan bukan hanya sekedar mengahasah kecerdasan pikiran melalui nilai, namun pendidikan juga mengubah emosional dan spiritual anak agar dapat tumbuh menjadi anak yang berkepribadian baik. Kurniawan Muhammad, Direktur Radar Malang dalam sambutannya menyebut bahwa ia belum menemukan kampus di Indonesia membuat terobosan seperti UMM. Inilah kampus yang bisa dijadikan contoh bagi perguruan tinggi lainnya untuk berkontribusi di dunia pendidikan dengan metode yang lebih atraktif. Ini sekalian memberikan obsesi kepada para siswa untuk dapat menempuh pendidikan setinggi-tingginya, hingga di perguruan tinggi. “Melalui kegiatan yang diikuti oleh berbagai latar belakang SD ini, adik-adik kita diajari sejak dini untuk mengenal keberagaman dan kebhinekaan,” sebut Kurniawan dalam sambutannya.(can)
Sosiologi UMM Jadi Koordinator ISI Malang Raya

Prodi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditunjuk sebagai koordinator Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) untuk Wilayah Malang Raya. Pelantikan dilakukan oleh Sekretaris Jenderal ISI Pengurus Nasional (PN) Dr. Arie Sujito. Dilaksanakan pada Selasa (30/4) kemarin. Agenda dilanjutkan dengan rapat kerja. PN ISI melalui SK Nomor 01/ISI/IV/2019 memutuskan Rachmad K. Dwi Susilo, MA, Ph.D., sebagai Ketua ISI Wilayah Malang Raya periode 2019-2022. Rachmad yang juga Ketua Prodi Sosiologi UMM ini menyatakan, program yang akan dilakukan mesti membawa manfaat, khususnya bagi kalangan Sosiologi di Malang Raya. Setelah forum pertemuan yang dihadiri oleh para perwakilan Sosiolog pada Senin (22/4) lalu, Rachmad terpilih menjadi ketua. Selain Rachmad yang berasal dari UMM, juga terdapat nama Dr. Vina Salviana DS, M,Si dan Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos.,M.Si sebagai Pembina. Rachmad menerangkan bahwa dirinya dan ISI Malang Raya akan menggalang kepedulian dan audiensi dengan pengambil kebijakan dalam program aksi insidental. Selain itu, juga menggunakan metode pemahaman Malang Raya dan sekitarnya serta aksi kolektif kelembagaan. Kedepan, ISI Malang Raya akan mengadakan seminar eksplore potensi Malang Raya dan publikasi berupa news letter. Rachmad berharap, kebermanfaatan Sosiologi dapat dirasakan masyarakat, Serta, ISI menjadi wadah efektif untuk menyelaraskan antara teori dan praktek. (mir/can)
Lomba Mading 3D Turut Warnai Peringatan Hardiknas di UMM

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) mulai semarak di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hari ini, Selasa (30/4). Seperti yang digaungkan Perpustakaan UMM bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) yang menggelar sejumlah perlombaan, diantaranya lomba Mading 3D tingkat SMA. Mengusung tema Library of The Future, perlombaan mading ini menarik minat sejumlah siswa. Salah satunya dari SMKN 12 Malang. “Karena saya memiliki hobi mewarnai, stretch book dan pop up book, saya bersama teman ikut berpartisipasi lomba ini. Semoga bisa terus belajar dan mengasah kreatifitas,” ungkap Rosa Ayu Dewanti Dilanjutkan Rosa, merujuk kepada tema perpustakaan masa depan, ia bersama dua kawannya membuat mading yang memiliki tiga spot. Pertama adalah Go Book, di mana semua orang bisa memesan buku lewat handphone. Buku yang dipesan akan diantar kurir. Spot kedua, Hybrid Library adalah perpaduan antara buku cetak dan digital. “Ketiga adalah Virtual Library. Jadi kita membuat spot seperti yang ada di Alun-Alun Malang. Di dalamnya dipasang mesin dan diberi nama Automatic Book Machine. Semua orang bisa mengakses buku yang ingin dipinjam dengan syarat memiliki Id Card dan memindainya. Setelah itu baru bisa searching buku yang ingin dipinjam,” bebernya. Tak hanya lomba mading saja, diadakan juga serangkaian acara lomba poster mahasiswa, bazar buku, serta Seminar Nasional bertajuk “Pendidikan Karakter Siswa” yang mencakup penandatanganan nota kesepemahaman (MoU) dengan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Pusat Jakarta pada hari Sabtu (4/5) mendatang. “Even ini diadakan agar mahasiswa yang datang ke Perpustakaan tidak hanya untuk baca buku, tapi bisa sembari melihat pameran mading. Kedepannya, perpustakaan perguruan tinggi dikenal tidak hanya untuk sivitas akademika, tetapi juga dibuka untuk umum,” ujar Retno Widiyastuti Ika Wijaya, M.IP Selaku ketua pelaksana acara. (riz/can)
Lahir di Warung Kopi, Tiga Sekawan Ini Jadi Debater Andalan UMM

Wildan Arif, M. Fitrah Ashary Bangun dan Ibnu Sofyani merupakan tiga mahasiswa berbeda fakultas di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang kerap menjuarai kompetisi debat, baik tingkat regional hingga nasional. Terakhir, mereka berhasil keluar sebagai runner up dalam National Economic Debate Competition (NEDC) yang diadakan di Universitas Negeri Malang (UM), Minggu (28/4) pekan lalu. Mulanya, tim debat yang mereka namakan “Bidas Tim” (watak keras) ini tidak sengaja terbentuk di sebuah warung kopi, tak jauh dari Kampus III UMM. Dipantik dari sebuah obrolan kecil, ketiga mahasiswa asal Madura, Medan, dan Banten ini merasa memiliki kesamaan pemahaman. Sehingga, lahirlah inisitif untuk membentuk sebuah tim debat dan mulai menseriusinya dengan mengikuti banyak perlombaan. Meskipun pada saat itu yang mempunyai dasar seorang debater hanyalah Wildan. Berangkat dari kesamaan prinsip dan pemahaman di antara ketiganya itulah yang akhirnya membuat Fitrah dan Ibnu mau mencoba untuk mengikuti kompetisi debat pertama mereka, yakni di bali sekitar bulan November akhir tahun 2018 lalu. Meskipun di awal debut belum membuahkan hasil maksimal. Mereka tak menyerah. Ketiga mahasiswa yang memiliki latar belakang yang berbeda ini terus mencoba untuk mengikuti beberapa kompetisi debat untuk menambah pengalaman dan jam terbang, sekaligus meng-upgrade diri masing-masing. “Berangkat dari kekalahan, kemudian kami selalu melakukan evaluasi terhadap tim setelah selesai lomba. Dari situlah, kami mulai menemukan kecocokan satu sama lain,” kata Wildan, Selasa (30/4). Meski baru kenal satu tahun terakhir, banyak hal telah mereka lakukan bersama. Kami bertiga memang sudah sepakat untuk sama-sama saling mengatur pola hidup sehari-hari. Agar pada saat lomba, kami tidak kehilangan fokus. Bahkan kami sepakati untuk tidur maksimal pukul 22.00 dan bangun pukul 03.00 untuk sholat tahajud. Kemudian latihan untuk melenturkan bibir,” imbuh mahasiswa yang aktif di Menwa ini. Meskipun beberapa kali menjuarai kompetisi, bukan berarti tidak pernah menemui hambatan. Ketiganya selalu menganggap setiap hambatan sebagau sebuah cambukan untuk lebih baik kedepannya. “Cambukan itu kan panas, jadi kami memanfaatkan panas tersebut untuk menghangatkan tubuh kami di saat kami kedinginan. Jadi segala apapun yang terjadi pada kami, akan kami ambil sisi positifnya,” tegas wildan. Selain itu, tim yang mengaku seluruh anggotanya sama-sama punya watak keras ini selalu membuat nadzar. Yakni dengan menyisihkan sebagian hasil dari memenangi lomba untuk disumbangkan ke panti asuhan maupun masjid. Hal ini dilakukan lantaran mereka tidak ingin menikmati rezeki sendirian.”Alhamdulillah, mungkin faktor itulah yang membuat kami dipermudah ketika lomba debat,” disambung Fitrah. Tak tanggung-tanggung, dengan pola hidup dan chemistry yang tetap terjaga, mereka berhasill menjadi pemenang di NEDC. terlebih, berhasil menyisihkan beberapa universitas terkemuka di Indonesia seperti Institute Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Univertitas Diponegoro (UNDIP) dan lainnya. Meski sempat terseok di awal babak penyisihan dengan menempati posisi 12 dari 24 peserta, Namun, tak disangka, Bidas Tim mampu memukau di tahap selanjutnya dengan menempati posisi pertama dari delapan peserta yang lolos. Sebelum akhirnya keberuntungan belum berpihak kepada Bidas Tim, dan harus puas menempati posisi runner up. Namun, meskipun berada di posisi kedua, poin yang terpaut sangat tipis yakni delapan poin. Mereka harus mengakui keunggulan IPB di posisi pertama. (zak/can)
UMM Kembali Dipercaya Jadi Perguruan Tinggi Asuh

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat kepercayaan sebagai pelaksana program Perguruan Tinggi (PT)-Asuh. Mandat ini sesuai dengan Surat Keputusan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti RI No. 74/B/HK/2019 tentang Perguruan Tinggi Pelaksana Program Penjaminan Mutu. Mandat ini diterima dalam agenda penandatangan Memorandum of Understanding (MoU), Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka need assesment PT Asuh, Workshop Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME), serta Tata Kelola Universitas yang diadakan, Senin (29/4). Ketua Program Asuh PT Unggul Dr. Ainur Rofieq, M.Kes menerangkan, program ini adalah program tahun ketiga. Hal ini mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) No. 131 Tahun 2015 terkait dengan pengasuhan PT Unggul untuk melakukan pengasuhan terhadap PT yang tergolong Cluster 3 dan 4 serta berada pada daerah tertinggal. Selain UMM, setidaknya ada 20 perguruan tinggi terpilih dari 85 PTN dan PTS Se-Indonesia yang mendapatkan nilai BAN-PT dengan predikat A. “Program ini adalah untuk membangun budaya mutu melalui pendampingan dalam membangun, melembagakan sistem penjaminan mutu secara berkelanjutan,” ungkap Rofieq. “Ini sudah ketiga kalinya UMM dipercaya dalam pelaksanaan MoU Sosialisasi, dan Need Assasment Program Asuh PT Unggul. Sebenarnya kata asuh ini kurang tepat, karena pada prakteknya di lapangan kami saling belajar. Tepatnya PT Mitra,” ungkap Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Pd, selaku Wakil Rektor 1 UMM dalam sambutannya. Terdapat sepuluh PT dampingan UMM yakni Universitas Teknologi Surabaya, Stikes Artha Bodhi Iswara, Universitas Widyagama Malang, STIE Muhammadiyah Tuban, Stikes Maharani Malang, STIE NU Trate Gresik, Stikes Muh. Bojonegoro, STT Industri Turen Malang, Akper Nazhatut Thullab Sampang serta Universitas Madura. “Peningkatan mutu pendidikan itu bukan produk yang sekali jadi, butuh proses. Untuk itu tahun ini semoga kita bisa saling melengkapi, meskipun secara Institusional kami telah mendapat akreditasi A lebih dulu. Dan mutu itu tidak bisa dijalankan sendiri, sehingga kita butuh kerjasama dan saling support,” pungkas Syamsul. (riz/can)
Laboratorium Agribisnis UMM Bekali Mahasiswa Praktik Kewirausahaan

Kompetisi dunia kerja yang semakin ketat membuat Laboratorium Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) serius mempersiapkan mahasiswanya untuk bisa bersaing dan kerja melalui peluang kewirausahaan. Salah satunya melalui bazar kewirausahaan yang digelar 29-30 April di lantai 3,5 GKB 1 UMM. Melalui mata kuliah praktikum Kewirausahaan dan Etika Bisnis Jurusan Agribisnis serta Agropreneurship Jurusan Kehutanan, Laboratorium Agribisnis mengajak mahasiswanya untuk praktik berwirausaha dan memanajemen event bazar. Bazar tersebut dikelola sendiri oleh mahasiswa praktikum, mulai dari konsep hingga evaluasi. “Sebelumnya mahasiswa sudah dibekali kemampuan direct selling di setiap minggunya. Dan diakhir mahasiswa diarahkan untuk mempelajari kebutuhan target market hingga dapat memanajemen event sesuai dengan kebutuhan target,” ungkap Dr. Ir. Rahayu Relawati, MM., Kepala Laboratorium Agribisnis Fakultas Pertanian Peternakan (FPP). Dengan mengangkat tema “Pesta Kebun”, segala produk hasil olahan pertanian dan perkebunan, mulai dari makanan, minuman, aksesoris hingga kosmetik ikut meramaikan bazar. Terhitung tujuh puluh stand dengan rincian 49 stand Prodi Agribisnis dan 21 stand Prodi Kehutanan memasarkan produk unggulannya. “Kegiatan ini sebagai ajang bagi kita untuk berwirausaha yang baik, melatih mental, berlatih komunikasi, serta mengelola even. Tidak hanya mengkonsep sebuah usaha, tapi kita bisa turun langsung untuk mempraktikan ilmu yang kita dapat,” ujar M. Arifiyan Suseno, mahasiswa Prodi Agribisnis selaku Ketua Pelaksana bazar tersebut. Lebih lanjut, Ary Bakhtiar, SP. Msi, Dosen Kewirausahaan dan Etika Bisnis mengatakan melalui even ini, FPP hendak membekali dan membentuk karakter wirausaha muda. “Di akhir even nanti, kita akan mengadakan evalusi. Kita akan mencari mahasiswa yang berpotensi dan akan kita support pinjaman modal,” ungkap Ary. (zak/can)
Ratusan Penari Flashmob di Taman Rekreasi Sengkaling

Dalam rangka memperingati Hari Tari Internasional yang jatuh tepat hari ini (29/4), Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar penampilan tari kolosal (flashmob) yang melibatkan lima ratus orang pada hari Minggu (28/4). Mereka membawakan enam tarian ciptaan PGSD UMM. Penari yang berasal dari berbagai latar belakang ini disebar ke lima titik berbeda di Taman Rekreasi Sengkaling UMM. Diantaranya adalah pintu masuk Taman Rekreasi Sengkaling, kolam Kapal Misteri, kolam Bajak Laut, kolam Pesona Primitif hingga rooftop hotel kapal. Kesemuanya tampil dengan balutan kostum tari. Selain flashmob, tidak kalah menarik juga sajian tari kolaborasi antara mahasiswa Prodi PGSD dengan seniman Kajoetangan serta Sanggar Topeng Malangan. Tidak hanya itu UKM Sansekarta dan Lembaga Kebudayaan UMM juga turut serta dalam memeriahkan even yang kali pertama diadakan ini. Wahyu Intan Purnamasari, salah satu penari yang turut meriahakn Hari Tari Internasioanal ini mengaku sangat senang dengan diadakan acara ini. Menurutnya acara ini dapat melestarikan salah satu budaya Indonesia. Selain mahasiswa semester enam ini juga menyebutkan jika untuk dapat menampilkan suatu pertunjukan tari membutuhkan waktu yang cukup lama. “Persiapan yang kami lakukan kurang lebih tiga minggu, mulai dari menyusun cerita, kostum, sampai membuat kreasi tari yang akan dipertunjukkan,” ungkap peraih gelar penari terbaik tersebut. Selain itu, menurut salah satu pengunjung yakni Lutfia Asmari mengaku senang dengan diadakannya lomba maupun acara yang berhubungan dengan tari. Selain berkompetisi, dapat pula sebagai sumber untuk menambah pengetahuan menganai beberapa jenis tari dari berbagai daerah. (zak/can)
Ini yang Harus Dilakukan untuk Tetap Eksis di Era Distrupsi

Kepala Badan Litbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Ir. Totok Suprayitno, Ph. D. pada orasi ilmiahnya di perhelatan wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-92 periode II menyebut, para wisudawan yang lulus hari ini tidak boleh berhenti belajar pasca diwisuda. Akan tetapi harus kembali belajar. Terlebih dalam menghadapi fenomena ketidakpastian di era disrupsi ini. “Saat ini dunia sedang berubah, beberapa sektor pekerjaan mulai ditinggalkan. Oleh karena itu lulusan perguran tinggi dituntut untuk belajar mencari peluang di lingkungan sekitarnya,” sebutnya, Sabtu (27/4). Perhelatan ini juga dihadiri Ketua Badan Pembina Harian UMM, Prof. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., serta perwakilan Majelis Dikti Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Sutrisno, M.Ag. Lebih jauh Totok menyebut, di era disrupsi banyak pekerjaan tradisional yang bersifat manual, berulang dan rutin mulai ditinggalkan. Padahal, sambungnya, banyak universitas yang mempersiapkan lulusannya untuk menjadi pekerja rutin. Sehingga saat ini universitas harus mampu memberikan bekal pada lulusannya, berupa kemampuan beradaptasi, memecahkan solusi, komunikasi, serta kolaborasi. “Saya yakin lulusan Universitas Muhammadiyah Malang sudah mempunyai kapasitas, keterampilan dan karakter sebagai pembelajar. Jika hari ini anda lulus, dan besok Anda berhenti belajar, lusa Anda akan menjadi manusia yang tak terpelajar. Jadi, mulailah untuk belajar,” tuturnya dihadapan 1270 wisudawan dari program Pendidikan Doktor (S3), Magister (S2), Sarjana (S1), Diploma Tiha (D3), dan Profesi. Sementara, Malik Fajar yang juga Anggota Dewan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia dalam sambutannya turut bangga terhadap kemajuan UMM. UMM terus berikhtiar dan berusaha menghasilkan generasi baru yang tangguh, cerdas, dan mampu berperan di lingkungan kehidupan sosial kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan. Yakni melalui pengabdian dan inovasi yang dilahirkannya. Sementara itu, Rektor UMM, Fauzan mengatakan UMM terus berpegang teguh pada semboyan UMM, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. Sebagai upaya mewujudkan komitmen itu, menurut Fauzan, lulusan UMM harus mengambil peran strategis dan menebarkan manfaat untuk kepentingan masyarakat. “Jadilah manusia yang luar biasa. Itulah cara untuk mengantarkan hidup kita menjadi bermanfaat,” tegasnya. (bel/can)
Doa Orang Tua Bikin Syamsurijal Lulus dengan IPK Sempurna

Doa adalah senjata. Terlebih doa yang dipanjatkan orangtua kepada anaknya, pastilah mendobrak ke pintu langit dengan sempurna. Hal ini barangkali yang membuat Syamsurijal, mahasiswa Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang pada gelaran wisuda ke-92 periode II UMM dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, yakni 4.0. “Semua karena doa orang tua, bukan semata-mata usaha saya,” ungkapnya. Mahasiswa yang pernah meraih penghargaan Teacher of The Year 2018 dari Menteri Pendidikan Bidang Private School Thailand ini, gemar membaca setelah menunaikan salat subuh. Ia mengaku senang membaca segala hal terkait dengan pengetahuan umum. “Wawasan luas itu penting, apalagi bagi calon pendidik,” jelasnya. Mahasiswa kelahiran Desa Raioi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengaku tak pernah menargetkan dirinya untuk selalu meraih nilai sempurna. Ia hanya menempuh semua mata kuliah dengan usaha yang maksimal. “Tiap kali akan melakukan apapun saya selalu kabari orang tua,” tuturnya. Setelah itu, Anak dari pasangan M. Saleh dan Aisah, orang tua akan salat tahajud dan berdoa bagi kebaikan anaknya. Saat ditemui sebelum duduk di barisan wisudawan terbaik tingkat universitas, Syamsurijal juga ditanya tentang perasaannya meraih IPK sempurna. Ia mengaku terkejut dan tak percaya pada awalnya. “Saat nama saya dipanggil, saya tidak percaya bisa mendapatkan IPK 4,” tuturnya. Bersyukur, bagi Syamsurijal adalah kunci untuk melakukan dan memperoleh raihan lebih baik lagi di masa mendatang. Kegemaran di dunia penalaran membuatnya aktif di organisasi setingkat fakultas, LSO Cendikia FKIP. Agar seluruh informasi yang ia dapat dari membaca melekat kuat, ia juga menyebarluaskan pemahamannya melalui diskusi. Baginya, diskusi bukan hanya melatih kemampuan berpendapat, namun juga dapat menjadi media bagi kawan-kawannya memperoleh informasi baru yang ia tahu lebih dulu. Menurut Syamsurijal, keseimbangan hubungan dengan Allah dan sesama manusia sangatlah penting. Tiap usaha yang bersifat duniawi bagi Syamsurijal haruslah selalu melibatkan Allah agar segalanya lancar dan berkah. Kedepan, Syamsurijal berkeinginan kuat untuk melanjutkan studi Pascasarjananya di Jepang. “Jepang adalah negara impian saya, mudah-mudahan tercapai,” tandasnya. (mir/can)
UMM Diminta Ajarkan Bahasa Indonesia di Vietnam

Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Universitas Terbuka Kota Ho Chi Minh, Vietnam menggelar Seminar Internasional. Seminar yang mengusung tema “Memperkokoh Eksistensi Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai Budaya dan Jati Diri Bangsa melalui Pendidikan” diadakan di Aula GKB 4, Kamis (25/4). Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan kepada peraturan Pemerintah tentang peningkatan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional. “Peran Indonesia dalam hubungan antarbangsa dan telah dikenal oleh bangsa lain, menjadikan Bahasa Indonesia sebagai identitas negara yang mampu bertahan hingga saat ini,” kata Dr. Ekarini Saraswati, M.Pd., koordinator pelaksana. “Yang kita lihat sekarang, Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) UMM memiliki banyak kerjasama dengan berbagai pihak di luar negeri. Sehingga kita perlu adanya seminar untuk memperkokoh kedudukan Bahasa Indonesia di negara lain,” ungkap Ekarini. Antusias negara lain dalam mengikuti perkembangan Bahasa Indonesia berkembang pesat. Bahasa Indonesia dipelajari lebih dari 45 negara. Di Vietnam misalnya, sambung Ekarini, beberapa kali staf pengajar PBSI UMM diundang untuk memberi mata kuliah di sana. Universitas Terbuka Kota Ho Vhi Minh sendiri memang secara khusus tengah mendalami dan mempelajari mengenai Bahasa Indonesia secara khusus. Terlebih, universitas tersebut memiliki kurikulum Bahasa Indonesia sendiri,” ungkapnya saat memberikan sambutan. “Kerjasama mengadakan seminar ini adalah sebuah kesempatan kami untuk berbicara dan mempelajari mengenai bahasa, budaya dan literatur Bahasa Indonesia di UMM. Saya berharap UMM dapat menerima undangan kami, untuk datang ke Vietnam mengajar Bahasa Indonesia,” tutur Dr. Ly Quyet Tien, perwakilan Universitas Terbuka Kota Ho Chi Minh, Vietnam dalam sambutannya. Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si, salah satu pembicara mengungkapkan, Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa membutuhkan instrumen pendukung seperti apresiasi kebijakan pemerintah terhadap literatur, peran sekolah orang tua dalam memperkenalkannya. “Keberadaan Bahasa Indonesia perlu dipertahankan, dibina dan dikembangkan agar jati diri bangsa tidak tergerus di Era Global,” tegasnya. Seminar ini juga turut menghadirkan pembicara lain, yaitu Dr. Ribut Wahyu, M.Pd (Kaprodi Magister PBSI). Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. (Kepala Lembaga Kebudayaan UMM), Momen Magdy Abdelhak (Mesir), Abdullah Abdul Raoof Taha Al-Matri (Yaman), Ly Quyet Tien (Vietnam), Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si (Kepala UPT BIPA UMM), Suhainee Saah (Thailand), serta Kevin Barr (Amerika). (*)