Peduli Kesehatan Mental Remaja, Mia Bawa Isu Bullying di Indonesia ke Korea

Miarti Amanah Riesky, mahasiswi Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini baru saja kembali ke tanah air setelah beberapa waktu lalu mengikuti International Conference Asia Pasific Youth Week 2019 yang diadakan di Seoul, Korea. Mengusung tema “Leading the Generation Unlimited to Prepare for 2030”, kegiatan yang diadakan oleh United Nations Human Settlements Programme (UN Habitat) yang bekerja sama dengan Studec International kali ini diikuti 130 peserta dari 25 negara. Mulai dari negara berkembang seperti India, Kamboja, Indonesia sampai negara maju seperti Inggris, Australia dan Singapura. Berbekal esai berjudul “The importance of Mental Health for Young Generation”, Mia berhasil terpilih untuk berangkat bersama 29 peserta lain dari Indonesia. Dikisahkan Mia, esai ini diangkatnya dari pengalaman pribadi dimana ia pernah mengalami bulliying di lingkungan SMA nya yang berada di ibu kota Jakarta. “Saya ingin menyampaikan kepada dunia, bahwa kondisi remaja di Indonesia sangat rawan bulliying,” tandas Mia (Rabu, 27/3). Acara yang diselenggarakan selama lima hari empat malam ini membahas tentang berbagai isu yang sedang marak dikalangan milenial seperti politik, ekonomi, pendidikan, dan juga budaya. Selain itu, program ini juga memberikan pengalaman serta pengetahuan non akademis tentang budaya Korea, diantaranya memakai Hanbok atau pakaian khas korea, upacara pembuatan teh dan juga membuat Kimchi (makanan khas Korea). “Selain itu kami juga berkesempatan mengunjungi stasiun televisi nasional Korea yakni NBC TV dan belajar seluk beluk media yang ada di negeri tersebut,” tambah Mia. Diakui Mia, keberangkatannya ke Korea bukan tanpa hambatan. Perempuan 20 tahun ini sempat terhalang izin orang tua lantaran harus pergi sendiri tanpa pendampingan. Namun setelah memberikan pengertian, restu sang ibu pun didapatkan. “Saat disana, mama malah yang paling bangga,” ungkapnya. Meski telah sering mengikuti berbagai kegiatan internasional di dalam negeri, anak kedua dari tiga bersaudara ini merasakan pengalaman yang sangat berbeda saat berada di Korea pada Februari hingga awal Maret lalu. Selain dari perbedaan cuaca yang sangat drastis, budaya orang Korea juga membuat Mia kagum. “Awalnya saya kaget dengan cuaca, suhu disana mencapai -5 derajat celcius. Selain itu, saya juga takjub dengan budayanya, dari segi pendidikan saja siswa SMP harus menimba ilmu di sekolah selama hampir 14 jam setiap harinya,” tambahnya. Di akhir Mia berpesan kepada mahasiswa lain untuk selalu aktif mencari informasi terkait kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan pengalaman dan pengetahuan, termasuk diluar dunia akademis. “Kita sebagai mahasiswa harus aktif mencari informasi diluaran sana untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri, baik di akademis maupun non akademis,” pungkasnya. (zak/sil)
Pendidikan Kebencanaan: Bukan Cuma Harus, Tapi Mendesak!

PENDIDIKAN kebencanaan di Indonesia masih sangat minim digalakkan. Buktinya, nilai kerugian relatif tinggi di setiap kali terjadi bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri mencatat, selama kurun waktu 2018, telah terjadi 3.466 peristiwa bencana di Indonesia dengan 4.814 orang meninggal dunia. Melihat hal tersebut, Zakarija Achmat, M.Si, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang merupakan pengurus pusat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, pendidikan kebencanaan di Indonesia bukan hanya harus, tapi mendesak. “Pendidikan kebencanaan di Indonesia bukan lagi bagaimana bersikap pada saat bencana saja. Tapi sudah mengarah pada bagaimana pengurangan risiko bencana,” tutur Zakarija. Seharusnya, lanjutnya, masyarakat perlu terus belajar, terutama mempelajari potensi bencana dan antisipasi di lingkungan sekitar tempat tinggal. Yang paling dasar, lanjutya, kebiasaan memarkir kendaraan. “Masih banyak kita jumpai kesalahan dalam memarkir kendaraan. Arah mermarkir kendaraan harusnya menghadap keluar. Tujuannya, agar ketika terjadi bencana tidak perlu lagi memundurkan kendaraan,” terangnya saat ditemui di ruangannya, Selasa (26/3). Berkaca dari negara Jepang, yang juga sering terjadi bencana, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap bencana masih jauh berbeda. “Masyarakat Jepang sudah siap menghadapi bencana. Edukasi tentang konstruksi bangunan hingga penanganan bencana sering dilakukan, baik di sekolah maupun media,” ungkapnya. “Sudah saatnya pusat-pusat studi menggaungkan dan menyiapkan kurikulum pendidikan kebencanaan juga mengadakan workshop berdasarkan kajian-kajian yang sudah dilakukan. Harapannya usaha ini dapat mengurangi resiko dan kerugian yang dapat ditimbulkan dari dampak bencana di Indonesia,” tuturnya. (bel/can)
Empat Warga Jerman Belajar Energi Alternatif ke PLTMH UMM

Empat warga Jerman, Senin (25/3) lalu belajar pemanfaatan energi alternatif ke Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Empat mahasiswa ini tengah mengikuti program internship dari Hochschule Rhein Main, Jerman di PPPPTK BOE-VEDC, Malang. Mereka ingin tahu sumber pembangkit alternatif yang ada di UMM untuk mendukung Proyek Elektrolisis dari Gas Hidro yang menjadi tugas akhir. Mereka hendak melihat konsep Mikro Hidro lalu ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mempelajari konsep turbin yang menjalankan sumber air menjadi listrik. Adalah Maximillian Grimm, Dena Makaremi, Manuel Miezal, Sauhel Chabra dengan dua orang pembimbing dari dari VEDC yaitu Dr. Agung Suprihatin, S.Pd.,M.si dan Dra. Mundiatun, M.si. ”Tugas proyeknya berkaitan dengan Pendidikan Lingkungan Hidup,” terang Dr. Agung Suprihatin, S.pd.,M.Si ditemui usai kunjungan. “Setidaknya UMM memiliki 2 pembangkit listrik, jadi kita bawa ke PLTMH 1 yang menjadi satu dengan bendungan. Sedangkan PLTMH 2 tidak menjadi satu dengan bendungan, di sana kita menjelaskan bahwa dari sungai kecil yang keruh bisa menghasilkan listrik,” terang operator PLTMH Nanda Ardiansyah. PLTMH-1 UMM memiliki tiga saringan. Saringan pertama bertujuan menyaring kotoran serta sampah-sampah, pada saringan kedua sampah yang masih lolos dari saringan pertama disaring kembali dan airnya bisa di taruh di bendungan dengan ruas satu ruas jari atau sekitar 2 cm. Serta, saringan ketiga, air diproses untuk sumber listrik. Saat ini, daya listrik terbangkit adalah 100 KW pada musim penghujan dan akan menurun sekitar 80 KW pada 2 bulan kemarau. Dengan daya listrik terbangkit sebesar itu sudah bisa menghemat 25-30 % dari kebutuhan kampus serta mampu memenuhi kebutuhan energi listrik untuk sebagian gedung perkuliahan kantor. “Mereka sedang mencari konsep yang bisa digunakan untuk tugas akhir mereka yang berkaitan dengan Pendidikan Lingkungan Hidup pada Elekrolisis Air Mikro Hidro. Sebagai energi alternatif dengan penghematan seperti itu sudah sangat bagus. Mereka sangat antusias belajar di sini,“ pungkas Nanda. (riz/can)
Targetkan Juara Asia, Mekatronic UMM Siap Taklukkan Sirkuit Sepang Malaysia

Untuk kesekian kalinya, Mekatronic Team Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berlaga di kontes internasional Shell Eco-Marathon Asia (SEM Asia) 2019 yang digelar di Malaysia April mendatang. Diadakan di Sirkuit Internasional Sepang, Kuala Lumpur, ajang bergengsi ini bakal diikuti 28 mobil dari 22 universitas di Indonesia. Pada ajang kali ini Mekatronic UMM yang bersaing di ketegori kendaraan Urban Electric mengandalkan mesin BLDC Motor 400 Watt dengan tempurung berbahan carbon fiber dan sasis aluminum. Sementara ban pelek berukuran 17 inchi serta roda dasar berukuran 1250 milimeter. Keseluruhan bobot mobil yakni 80 kilogram. Sebelum mengikuti ajang ini, UMM melalui Genetro Suryo U.E.V 6 berhasil menyabet juara satu pada Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018 dalam Kategori Urban Listrik. “Perolehan kami berada pada nilai 335,09 KM/KWH yang memecahkan rekor Asia dan dunia,” jelas Pembina Mekatronic, Drs. Mohammad Jufri, ST., MT. Raihan membanggakan sebelumnya ini, lanjut Jufri, tentu harus dikembangkan dan dilanjutkan untuk diwujudkan menjadi juara di setiap bidang dan level kejuaraan. Berkaca dari perjuangan Mekatronic Team untuk mengonsep dan merakit, Jufri sangat optimis mahasiswa dampingannya akan raihan gemilang. Selain diikuti universitas di Indonesia, kompetisi juga diikuti 100 tim dari seluruh penjuru kawasan Asia dan Timur Tengah. Pada gelaran ke-10 di tingkat Asia ini, SEM Asia akan menjadi wadah terbesar untuk membuktikan diri sebagai perancang kendaraan yang dapat menempuh jarak jauh dengan energi paling sedikit. Berangkat dengan 8 orang lengkap beserta drive train, Dr. Fauzan, M.Pd, Rektor UMM menekankan tim ini untuk optimis. “Berani berangkat, berani juara,” tuturnya. Fauzan juga mengingatkan agar para delegasi mohon doa kepada kedua orangtua. “Sepertinya itu hal yang sepele, tetapi itulah kekuatan yang sebenarnya,” ungkapnya. Saat ditanya tentang keberlanjutan mobil hemat energi, Fauzan menerangkan UMM memiliki skema program gelar produk akademik. “Di sanalah produk-produk akademik dosen dan mahasiswa akan ditawarkan ke perusahaan dan industri. Gelar produk akademik akan diselenggarakan April mendatang,” pungkasnya. (mir/can)
Puluhan Tim Bersaing Perebutkan Gelar di FISIOKER UMM

SEBANYAK 32 Tim dari sejumlah perguruan tinggi seluruh Indonesia saling memperebutkan gelar juara di olimpiade nasional Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); FISIOKER. Digelar di Auditorium BAU, Jumat (22/3) Menurut ketua pelaksana Muhammad Shohibul Ridho, Olimpiade Nasional Fisioker kali ini mendapat antusias yang cukup banyak. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya jumlah peserta yang turut meramaikan olimpiade pada tahun ini. “Alhamdulillah, jumlah peserta pada Olimpiade Nasional FISIOKER tahun ini meningkat, dari jumlah perguruan tinggi yang ikut tahun lalu yakni 11 perguruan tinggi. Sekarang menjadi 15 perguruan tinggi,” ungkapnya. Olimpiade nasional Fisioterapi tahunan kali ini mengusung tema “PESONA FISIOTERAPI”, PESONA sendiri merupakan singkatan dari 3 kategori lomba yang diperlombakan, yakni Pediatri, Sport, dan Neuromuscular. Dewan juri yang hadir dalam kompetisi ini diantaranya Amin Rochmat Hidayat, Sst.Ft. Dan Khabib abdullah, Sst.Ft, M.Kes dari Perhimpunan Fisioterapi Anak Indonesia (PFAI) untuk kategori lomba Pediatri. Untuk Sport dijuri oleh Syahmirza Indra Lesmana, SKM., Sst.Ft., M.Or. Dan Muhammad Said Abdullah, AMF dari Perhimpunan Fisioterapi Olahraga Indonesia (PFOI). Untuk kategori Neuromuscular ada Safun Rahmanto, Sst.Ft., M.Fis dan Ali Multazam, S.Ft, Physio, M.Sc dari Dosen Fisioterapi UMM. “Saya rasa kalau untuk persaingan olimpiade kali ini cukup ketat, karena melihat perolehan nilai dari masing-masing tim perbedaannya sangat tipis,” ungkap Amos Bagus mahasiswa Politeknik Kesehatan Surakarta yang meraih juara umum. Selain Olimpiade, acara ini juga menggelar Seminar dan Workshop Nasional yang menghadirkan beberapa pembicara ahli. Seperti Syahmirza Indra Lesmana, SKM., Sst.Ft., M.Or. (Perhimpunan Fisioterapis Anak Indonesia), Dr. Krisna Yuarno Phatama (Dokter Spesialis Orthopedi dan Anggota ASEAN Society for Sport Med & Arthoscopy), serta Wahyuddin, Sst.Ft.,M.Sc., Ph.D (Fisioterapis S3 Pertama di Indonesia). (*)
UMM dan 7 Universitas Dunia Godok Kompetensi Modern Dosen

Sebagai bentuk penguatan rekognisi internasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melebarkan sayapnya di dunia internasional dengan turut serta menggodok kompetensi modern dosen dengan sejumlah perguruan tinggi dunia. Dari delapan universitas yang terlibat, UMM menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia bahkan Asia dalam Modern Competences of Academic Teachers (MOCAT) Project. “MOCAT Project merupakan kerja sama internasional dari universitas di sejumlah negara untuk bersama-sama mengembangkan solusi berkelanjutan yang meningkatkan kualitas pendidikan di universitas. Proyek ini dijalankan melalui pengembangan metode modern, alat dan bahan untuk staf akademik di bidang metodologi pengajaran,” terang Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. ditemui di ruangannya, Jumat (22/3). Tujuh universitas yang terlibat dalam gawe program kemitraan akademik internasional ini yakni WBS University dari Polandia, Kütahya Dumlupınar Üniversity dari Turki, Kenyatta University dari Kenya, SpluHaret university dari Romania, University of Georgia dari Georgia, University of Akureyri dari Islandia, dan University of Salerno dari Italia. Sementara project manager dari proyek ini yakni Lucyna Sobkowiak dari WBS University. Dilanjutkan Syamsul, tujuan proyek ini tak lain melakukan pengembangan pengetahuan dan berbagi pengalaman di antara 8 universitas mitra, serta pengembangan dan implementasi model kompetensi dosen. Termasuk materi pelatihan untuk 10 modul online dan campuran, yang penggunaannya akan mendorong kompetensi metodologi, pengajaran, dan multikultural dari staf pengajar universitas. Keberangkatan Syamsul ke Universitas of Salerno (UNISA) di Italia beberapa waktu lalu, tak lain untuk merumuskan bersama solusi berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di universitas. “Secara berkala, tim perumusan dari UMM akan bertandang ke universitas mitra yang dipergilirkan sebagai tuan rumah perumusan berbagai perangkat yang dibutuhkan untuk menjalankan proyek ini,” katanya. Keberangkatan tim UMM di antaranya menyiapkan model kompetensi multikultural guru akademik; pengembangan lingkup pengajaran yang terperinci dan kompetensi multikultural dari seorang guru akademis, serta hasil pengajaran, cakupan materi pelajaran dan kerangka kerja metodologi – modul online dan campuran; mempersiapan konten pelatihan; dan diakhiri dengan konferensi dan workshop internasional. (usa/mir/can)
#AussieBanget Corner UMM-Konjen Australia, Bandingkan Festival Film Indonesia dan Australia

#AussieBanget Corner Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama tim Konsulat Jenderal (Konjen) Australia menggelar Australian Film Night, Rabu (20/3). Gelaran ini sekaligus roadshow Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019 yang akan diselenggerakan tanggal 29-31 Maret di CGV Marvell City, Surabaya. Lailatul Rifah, M.Pd. selaku kordinator #AussieBanget Corner UMM berharap dengan kegiatan ini menjadi awal kerjasama dengan Australia untuk mengembangakan perfilman. “Sehingga teman-teman dapat meningkatkan kesadaran untuk lebih mengapresiasi film produksi Australia maupun produksi negara kita sendiri,” katanya. Hadir Mahesa Sadega, sutradara film Nunggu Teka yang juga pengajar audiovisual dan multimedia ini sebagai pembicara. Festival di Indonesia, katanya, dengan di Australia sangat berbeda. Dijelaskan, Indonesia masih kurang kesadaran untuk menonton film festival. Dilihat dari film festival yang hanya menjadi konsumsi komunitas film saja. Di Australia, sambung Mahesa, masyarakat sudah siap untuk mengakses film pada bulan festival. Publik di sana sudah akrab dengan film festival yang notabane bukan film populer yang biasa tayang di bioskop. “Publik sudah siap untuk hadir menonton film yang mempunyai bentuk dan konten berbeda dari film bioskop,” terangnya. “Kalau kita lihat di Indonesia, yang datang ke festival hanya anak muda saja. Ketika saya di Australia apalagi sedang menonton film festival produksi Australia, kakek-nenek bisa kita jumpai mengantri tiket festival. Mereka sangat mengapresiasi film produksi negaranya sendiri,” cerita Sineas yang filmnya banyak ikut festival luar negeri ini. Mahesa berharap, kedepannya di Indonesia semakin banyak lagi layar pemutaran alternatif (ruang pemutaran selain bioskop, red.) untuk mengapresiasi film produksi Indonesia. “Setelah itu, kita perlu mendorong publik untuk menjadi bagian dari festival kita. Jadi sudah tidak lagi komunitas saja yang mengapresiasi,” tambahnya. (bel/can)
Marching Band UMM Juara Kompetisi Nasional

Marching Band Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil memukau dalam perhelatan kompetisi Delta Marching Open Festival Indonesia (DEMOFI) 16-17 Maret lalu. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang baru berdiri dua tahun ini, memborong banyak juara di berbagai mata lomba yang digelar di Gor Deltras Sidoarjo. Beberapa gelar yang diperoleh di antaranya Juara 2 Brass Ensemble, Juara 2 Colour Guard Contest, Juara 2 Individual Movement Analisys, Juara 2 General Effect, Juara 2 Ensemble Analisys, serta Juara 2 Analisys Equipment. Tim Marching Band UMM menggeser dominasi pemenang ajang tahunan tingkat Nasional ini. “Latihan kami cukup singkat, yakni dua bulan. Sejak Januari,” ungkap Trisna Harry salah satu pemain Brass. Dalam kurun waktu itu, UKM Marching Band ini disiplin di setiap sesi latihan. Trisna lantas membagi cerita perjalanan Marching Band UMM sebelum menyabet juara di lomba yang diikuti peserta seluruh Indonesia. Tantangan terbesar Trisna dan kawan-kawan ialah kepemilikan alat. Selama ini alat yang digunakan untuk latihan hingga perlombaan merupakan barang sewaan. “Kami masih sangat baru. Ketika kami mengajukan pengadaan alat, kami diminta untuk berprestasi terlebih dahulu oleh kampus,” tutur mahasiswa Manajemen ini. Bagi Trisna sendiri, tantangan ini tentunya dirasa sangat sulit bagi mantan Ketua Umum pertama UKM ini. Karena Marching Band harus terus berlatih, terlebih sebelum lomba. Namun ketersediaan alat terbatas. Namun, tantangan kampus kepada Trisna dan kawan-kawannya mampu dijawab dengan prestasi gemilang. Pada saat lomba, Juri terpukau dengan harmoni Brass dan gerakan Colour Guard atau penjaga bendera yang dimainkan oleh UKM Marching Band UMM. “Saat di lokasi, kami digadang-gadang akan menjadi salah satu Marching Band besar mendatang, tentu hal ini terus memotivasi kami,” ungkap mahasiswa angkatan 2014 ini. Trisna melanjutkan, tidak ada hal yang tidak bisa diraih. Meski alasannya berupa terbatasan peralatan sekalipun. Ia juga berharap agar UKM Marching Band dapat terus berprestasi dan tentunya mengaharumkan nama UMM di setiap kompetisi. “Semua bisa, asalkan ada niatan besar dan mau bergerak,” tandasnya. (mir/can)
LeX UMM Gelar Pameran Inovatif: Dari Alat Petik Kopi sampai Mesin Cuci Telur

Setelah hampir dua minggu mentabulasi banyak masalah dari sejumlah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Malang dan Batu, kelompok gabungan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan siswa Singapore Polytechnic memamerkan sejumlah prototype inovatifnya. Berbagai prototype ini dipamerkan dalam penutupan program Learning Express (LeX) di Auditorium UMM, Rabu (20/3). Untuk dapat membuat prototype yang efisien, mereka harus melakukan survey primer ke lokasi dan ikut serta berbaur dengan masyarakat. Bahkan mereka menghabiskan waktu 3 hari 2 malam untuk memperdalam riset yang mereka lakukan. Beberapa prototype yang dipamerkan pada acara ini di antaranya mesin pencuci telur asin, alat pemetik biji kopi serta prototype inovatif lainnya. Misalnya mesin pencuci telur yang dinilai efisien dari segi waktu. “Dengan menggunakan alat ini, estimasi waktu yang bisa dihemat mencapai 3 kali lipat. Biasanya proses pencucian satu telur asin memakan waktu 1 menit lebih. Namun dengan menggunakan alat ini dapat mencuci 16 telur asin dalam waktu sekitar 5 menit saja,” ungkap Fitria A. Linna mahasiswa Prodi Hubungan Internasional. Ada pula alat yang dapat mempermudah petani memanen biji kopi. Menurut Ai Wei salah satu siswa Singapore Polytechnic, dengan menggunakan alat buatannya ini diharapkan menjadi solusi dari keluhan yang dialami oleh para petani kopi. Dengan alat ini, setidaknya dapat meringankan beban para petani kopi. Selain itu dengan alat ini pula dapat membantu menyingkat waktu untuk memanen biji kopi. Menurut Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, kerjasama ini akan sangat penting untuk ikatan kedua negara serumpun ini. “Dengan pemahaman yang lebih dalam, kita dapat membangun menuju visi ASEAN. Saya yakin, program yang sudah berjalan selama hampir dua minggu ini akan menjadi pengalaman belajar yang luar biasa, baik untuk mahasiswa UMM maupun untuk siswa SP,” tuturnya. Sementara menurut Master Fasilitator Singapore Politechnic Vadav Virendra Signh, meskipun di awal program ini siswa SP banyak yang mengalami gegar budaya, namun hal tersebut dapat teratasi dengan cepat berkat bantuan juga keramahan mahasiswa UMM dan warga setempat. “Sehingga semakin berjalannya waktu mereka menjadi jauh lebih nyaman saat mengikuti program ini,” ungkapnya. ”Saya sempat khawatir kalau siswa SP tidak dapat bersosialisasi dengan baik. Akan tetapi ketakutan itu tidak pernah terjadi. Itu benar-benar merefleksikan kerjasama ASEAN. Saya memegang keyakinan dan harapan besar pada genersasi masa depan, kerjasama UMM dan Singapore Polytechnic yang telah terjalin lama ini membuat wilayah ASEAN menjadi lebih baik dari hari ini,” pungkasnya. Program inovasi sosial ini sekilas serupa dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bedanya, para peserta tidak sekedar melakukan pengabdian pada umumnya. “Kita mempunyai modul sebagai acuan yang dinamakan Desain Thinking dan diadaptasi dari booklet Stanford dan MiT,” ungkap Ambika Putri Perdani selaku Program Officer International Relation Office (IRO) UMM. Terdapat 5 langkah yang menjadi acuan yang dimasukkan ke dalam modul yakni sense and sensibility, empathy study, define, ideation, prototyping dan co creation. ”Mereka menggunakan modul ini untuk mengidentifikasi user (klien, red.) apakah ada masalah. Baik itu di bidang marketing, bidang alat ataukah dalam bidang prossesing. Semuanya dipamerkan di kegiatan penutupan ini,” ujar Ambika. (zak/can)
Mahasiswa UMM Raih Best Paper Ajang Karya Tulis di Hokkaido Jepang

Tim karya tulis mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Best Paper di ajang Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting 16th di Hokkaido University, Jepang (16-17/3). Kompetisi karya tulis ilmiah yang diadakan Indonesian Student Association in Hokkaido (PPI-H) ini mengusung isu “Integrated Science for Improving Disaster Risk Management in Indonesia”. Ajang Internasional bagi mahasiswa Indonesia ini diikuti 420 penulis dan 150 paper. Diikuti kampus dari Indonesia lainnya, seperti UGM, ITB, dan UI. UMM menjadi satu-satunya perwakilan kampus swasta. Pada tahap seleksi, tim UMM lolos sebagai 41 paper terbaik. Peserta dibagi ke dalam 4 klaster. Masing-masing klaster hanya diambil 2 kategori yakni kategori Best Paper dan Best Presenter. Tim UMM mengambil klaster Agrikultur dan Ketahanan Pangan. Adalah Moh. Baihaki dan Siti Agus Tina dari prodi Agroteknologi, serta Intar Yuan Anindita dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris yang mengangkat judul “Potensi Natural Fitohormon sebagai Zat Perangsang Tumbuh Alami pada Tumbuhan”. “UMM menjadi Best Paper. Sementara ITB menjadi Best Presenter,” ujar Intar selaku penyaji paper. Dijelaskan Intar, Indonesia memliki kekayaan sumber daya alam yang baik. Namun ketika terjadi bencana, hal ini akan sangat merugikan sebagian besar penduduk yang berprofesi sebagai petani. Lahan rusak dan para petani akan kehilangan mata pencahariannya. “Rangsangan fitohormon alami yang diberikan kepada tanaman buah naga membantu mengantisipasi efek buruk jangka panjang,” ungkapnya. “Kami mengambil sampel buah naga karena bisa ditanam di lahan berpasir, berkerikil, tanah biasa hingga berbatu. Hal ini cocok dengan lahan yang habis terkena bencana. Ditambah lagi, buah naga mengandung banyak sekali gizi. Sangat cocok apalagi dengan tambahan fitohormon alami, percepatan tumbuh tanaman semakin baik,” ujar mahasiswa angkatan 2015 ini. Setidaknya terdapat 2 jenis fitohormon. Yakni fitohormon sintetis dan alami. Fitohormon alami, kata Intar, jauh lebih aman karena bahan utamanya organik dan cocok dengan tumbuhan. Sedangkan fitohormon sintesis lebih membahayakan karena mengunakan bahan-bahan kimia dari pabrik dan memiliki dampak buruk ke depan. Penggunaan fitohormon alami membantu petani siap menghadapi segala kemungkinan. “Awalnya kami sempat pesimis. Soalnya dari tahun lalu yang ikut perguruan tinggi negeri hebat semua. Tapi kami selalu dimotivasi oleh dosen-dosen, jangan pesimis dan memandang perguruan tinggi lain lebih hebat dari kita. Karena semuanya setara. Alhamdulillah, dengan modal usaha yang maksimal dan mengorbankan waktu libur, kami bisa mendapatkan gelar membanggakan ini,“ pungkasnya. (bel/riz/can)