CEO IndosatM2 Beri Kuliah Literasi Digital ke Mahasiswa UMM

President Director dan CEO IndosatM2 Hari Sukmono memberi kuliah tamu di Theater Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (18/3) pagi. Kehadiran pimpinan perusahaan internet dan multimedia ini sebagai tindak lanjut kerjasama UMM dan IndosatM2 beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan ini, Hari memberi kuliah seputar literasi digital kepada mahasiswa Teknik Informatika Fakultas Teknik UMM. Disebut Hari, literasi digital harus dicanangkan karena sebagain besar pengguna internet di Indonesia masih buta huruf secara digital untuk mendapatkan potensi penuh dari Internet. “Kemajuan teknologi yang cepat perlu diimbangi oleh kecerdasan pengguna; pengguna harus memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi keandalan sumber online dan memerangi berita palsu, tipuan, dan diskriminasi online,” katanya. Internet, sambung Hari, telah mengubah dunia yang manusia tempati saat ini, termasuk mengubah cara kita bekerja. Lebih jauh lagi, literasi digital sangat penting untuk pekerjaan di masa depan. “Tak kalah penting, dalam literasi digital, pengguna internet perlu memahami pentingnya melindungi informasi pribadi dan detail pribadi agar tidak disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” ungkap Hari. Literasi digital terdiri dari tiga aktivitas. Yakni menemukan, mengevaluasi dan mengonsumsi konten digital; membuat konten digital; serta berkomunikasi atau membagikannya. Atau dalam pengertian lain yakni kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menemukan, mengevaluasi, membuat, dan mengkomunikasikan yang membutuhkan keterampilan kognitif dan teknis. Belum juga usai Industry 4.0, dunia mulai dihadapkan dengan Industry 5.0 atau era masyarakat cerdas (smart society). Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan juga harus masuk dan mulai melakukan penyesuaian ke era ini. Demikian Smart University tidak hanya menunjang proses belajar-mengajar, tapi juga mendukung decision support system (DSS) yang membantu seorang pimpinan membuat keputusan. “Karena semakin luas rentang kendali para pimpinan, tentu dibutuhkan waktu dan pengambilan keputusan yang sangat cepat. Sehingga sistem ini akan sangat membantu dan perkembangan dunia di luar kampus juga teramat cepat, sehingga kita juga harus melakukan penyesuaian,” kata Dr. Ahmad Mubin, ST., MT. Dekan Fakultas Teknik saat sambutan pembuka acara bertema “Startup Milenial Berkemajuan” ini. Kerjasama sendiri meliputi dukungan penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan vokasi dengan menyediakan tenaga pengajar; pembangunan dan peningkatan infrastruktur jaringan ICT; penyusunan kurikulum pendidikan vokasi; penyiapan tempat praktik kerja lapangan/pemagangan; penyediaan supervisor dan tugas akhir, penyediaan laboratorium; serta pengembangan IPTEK dan Sains. (can)

UMM Teken Kerjasama Pendirian Dua Sekolah Vokasi Sekaligus

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melakukan kerjasama dengan sejumlah lembaga. Kali ini kerjasama dilakukan dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama dan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Sabtu (16/3). Kerjasama ini membahas jaminan produk halal, pengembangan kelembagaan serta, sekolah vokasi. Kerjasama ditandatangani langsung Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd dan Prof. Dr. Ir. Sukoso, M.Sc., PhD, Kepala BPJPH serta Adhi S. Lukman, ketua Umum GAPMMI. Acara ini sekaligus diadakan seminar nasional. “Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2019, jumlah penduduk Indonesia yakni 264 juta jiwa. Sementara 222 juta di antaranya adalah muslim. Hal ini menunjukkan kebutuhan pangan dan bahan konsumsi halal di Indonesia juga harus berbanding lurus dengan jumlah angka penduduk muslim tersebut,” terang Sukoso. Terkait kerjasama pendirian sekolah vokasi, kehadiran Kepala BPJH untuk mewujudkan didirikannya program studi Asian Halal Culinary. Sementara kerjasama antara UMM dan GAPMI juga dalam rangka pendirian program studi Baking and Pastry. Beberapa sekolah vokasi lainnya akan segera menyusul. Selain kedua acara ini, sehari sebelumnya (15/3) juga digelar Food Quiz Bowl yakni lomba cerdas-cermat berbahasa Inggris mengenai teknologi pangan. Kompetisi yang diselenggarakan dua tahunan ini diikuti oleh berbagai universitas di Indonesia, seperti IPB, ITB, serta universitas terkemuka lainnya. Nantinya pemenang dari Food Quiz Bowl ini akan dikirimkan ke tingkat ASEAN mewakili Indonesia yang kebetulan akan diselenggarakan sekitar akhir tahun 2019 di Bali, Indonesia. Menurut koordinator acara Dr. Ir. Damat, MP, Food Quiz Bowl ke 5 yang diselenggarakan di UMM ini berjalan cukup baik dan lancar. Acara ini juga dihadiri Ketua Umum PATPI yakni Prof. Dr. Ir. Umar Santoso, M.Sc yang sekaligus menjadi salah satu juri lomba. “Saya berharap, siapapun pemenangnya nanti dapat membawa nama baik Indonesia di tingkat ASEAN, serta memperkenalkan panganan halal Indonesia ke tingkat global,” tuturnya. (zak/can)

Dosen UMM Pecahkan Rekor MURI Pemilik HKI Terbanyak Se-Indonesia

Civitas academika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) patut berbangga. Pasalnya salah satu guru besarnya, Prof. Dr. Ishomuddin, M.Si., memperoleh penghargaan bergengsi dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai pemilik Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak se-Indonesia, yakni 100 HKI. Ia mencatatkan rekornya jauh melampaui perolehan MURI dengan kategori serupa yang hanya 35 HKI. Sebenarnya, pria yang pernah juga dinobatkan sebagai dosen berprestasi pada tahun 2017 lalu ini memiliki 120 daftar HKI. Namun ia memilih untuk membulatkannya menjadi 100 saat mendaftarkan perolehannya. “Buah pemikiran-pemikiran itu mesti disebarkan agar kebermanfaatannya meluas. Rekor ini saya persembahkan sepenuhnya untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” ungkapnya. Buku dan jurnal menurutnya bukan satunya-satunya hal yang harus selalu dibanggakan. Seorang pendidik mesti lebih bisa berbuat dari yang biasa-biasa saja. Saat ditanya tentang prosesnya menghasilkan banyak HKI, Ishomuddin menceritakan kegiatan rutinnya. “Sejak selesai asar hingga pukul dua belas malam, saya di depan laptop sembari membaca dan mendalami berbagai hal,” ungkapnya. Kesungguhan tersebutlah yang mengantarnya ke pintu kesuksesan. Bagi Ishomuddin, hal-hal yang ia lakukan adalah kebiasaan semata. Selain itu, sabar dalam berproses yang tidak singkat menjadi kunci. Baginya, pendidik bukan hanya mengajar, namun lebih dari itu. “Membekali diri dengan membaca dan meneliti adalah keharusan bagi saya, supaya ketika menyampaikan ilmu itu benar-benar objektif,” tuturnya. Menurut Ishomuddin, ketika memilih profesi di bidang pendidikan untuk digeluti, dinilainya perlu dibarengi sikap serius dan fokus. Hal inilah yang akan membawa keberkahan karena menjalankan dengan ikhlas setiap tugas. Maka, materi akan mengikuti di belakang kesungguhan. “Sukses itu bukan karena pinter saja, rutinitas yang baiklah yang menentukan. Tinggal mau menjalankan atau tidak,” tegasnya. Ishomuddin berprinsip, bahwa rezeki dan ilmu adalah kesatuan yang begitu erat. Ilmu akan memuliakan siapapun yang mendapatkannya. Yakni kemuliaan hidup, kemuliaan sosial dan kemuliaan dalam kebermanfaatan bagi sesama. Rezeki, berupa kelimpahan materi akan mengikuti setelah ilmu didapatkan. “Pendidik harus terus berkarya dan bermanfaat,” tandas dosen yang mendalami sosiologi masyarakat Islam ini. (mir/can)

Mobil KaCa UMM Kembalikan Bahagia Korban Banjir Madiun

BENCANA banjir yang menimpa sejumlah wilayah di Madiun, Jawa Timur menjadi perhatian khusus Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (14/3). Mobil berkonsep literasi ini membagi kebahagiaannya, terkhusus kepada anak-anak dengan memperkenalkan permainan tradisional juga pembelajaran bahasa Inggris untuk anak atau English for Young Learners (EYL). Beberapa wilayah yang disambangi di antaranya di Kecamatan Saradan, yakni Desa Sugihwaras dan Desa Klumutan. Sementara di Kecamatan Caruban yakni Desa Glonggong dan Warurejo. Di Klumutan, desa yang paling dekat dengan kota kecamatan ini, meski sering terdampak kala hujan, banjir kali ini menjadi yang terparah. Mobil KaCa pun menjadikannya salah satu titik disalurkannya bantuan. Tak sendiri, Tim Mobil KaCa berkolaborasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Lembaga Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Caruban. Selain berbagi kebahagiaan melalui permainan dan pembelajaran EYL, Mobil KaCa juga memberi bantuan berupa alat tulis dan perlengkapan sekolah yang disebar ke sekolah-sekolah terdampak banjir. Kepala Humas dan Protokoler UMM Dr. Joko Susilo, S.Sos. M.Si juga turut melakukan turun lapang dengan membuat kuis sederhana. Ia melontarkan sejumlah pertanyaan sederhana seputar pelajaran sekolah dasar lantas membagikan sejumlah hadiah. Disebutnya, Mobil KaCa UMM ini selain memiliki misi mencerdaskan melalui gerakan literasi, tapi juga mengemban misi kemanusiaan. Dilanjutkan Joko, kehadiran Mobil KaCa di tengah masyarakat, sebagai wujud pengabdian UMM pada masyarakat. Utamanya penegasan tagline UMM, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. “Selain menebar semangat literasi, Mobil KaCa UMM juga mengemban misi kemanusiaan yang diwujudkan dengan menyambangi berbagai wilayah khusus,  seperti yang kami lakukan sekarang,” katanya. Lili Wahyuningsih, Kepala SDN Warurejo Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun menghaturkan terimakasih atas bantuan yang diberikan kepada para siswa sekolahnya. “Terimakasih kepada UMM yang telah meringankan orangtua dengan berbagai bantuan, baik berupa alat tulis dan perlengkapan sekolah yang kami terima, khususnya kelas enam yang sebentar lagi beranjak SMP,” ungkapnya. (fhi/zak/can)

Stafsus Presiden di UMM: Kinerja Ekonomi Indonesia Tumbuh Positif

STAF Khusus (stafsus) Presiden RI Bidang Ekonomi Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, berkesempatan memberikan kuliah tamu di program studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangungan (IESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (13/3). Dalam kesempatan tersebut, Erani mengajak mahasiswa UMM untuk merefleksikan ekonomi Indonesia. “Coba kita ingat baik-baik ekonomi di era orde baru, sangat sentralistik (terpusat, red). Semua keputusan diambil berdasarkan pandangan pemerintahan pusat. Hal tersebut seringkali melahirkan kebijakan ekonomi yang tidak tepat sasaran dan tidak dibutuhkan,” tuturnya. Ekonomi yang sentralistik, disebut guru besar bidang ekonomi ini pada akhirnya menemui puncaknya pada tahun 1998. Inflasi Indonesia ketika itu menyentuh angka 77,63%. Artinya, harga-harga barang di Indonesia menjadi sangat mahal, dan kenaikannya sangat pesat. Inflasi atau kenaikan harga-harga barang karena diikuti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yakni Rp 16.000,-/dolarnya. “Harga saham anjlok, banyak perusahaan serta Bank ambruk dan akhirnya PHK terjadi di mana-mana,” jelas Erani. Pemerintah, sambungnya, melahirkan kebijakan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), yakni menyuntikkan bantuan dana ke Bank-bank untuk penstabilan ekonomi. Belasan tahun setelahnya, menurut data Bank Indonesia (BI) pada 2018, inflasi Indonesia berada di angka 3,13%. Perbaikan ekonomi telah sangat baik dilakukan. Pemerataan ekonomi juga perlahan dirasakan rakyat Indonesia. Ekonomi saat ini menurut Erani jauh lebih baik daripada sebelumnya. Adanya kebijakan pembangunan manusia hingga pengurangan kesenjangan adalah wujud konkret pembangungan Indonesia dari pinggir. “Ekonomi yang terpusat bukanlah ekonomi yang baik. Masing-masing daerah perlu diberi kewenangan untuk mengelola ekonominya sendiri,” terang pria kelahiran Ponorogo tahun 1973 ini. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus membaik. Hal ini dibuktikan dengan tren pertumbuhan ekonomi 2015-2018. Di tahun 2015 berada diangka 4,9% dan di tahun 2018 naik menjadi 5,17%. Artinya, kinerja ekonomi Indonesia masih tumbuh positif secara konsisten di tengah pemulihan ekonomi global. Ekonomi yang adil juga diwujudkan dalam program penyaluran Dana Desa. Dana ini, lanjutnya, tak lain untuk menunjang aktivitas ekonomi masyarakat. Antara lain jalan desa, jembatan, pasar hingga sarana olahraga. Selain itu, juga ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa seperti air bersih, Posyandu dan sumur. Tiap desa menerima 900 juta untuk mengembangkan desanya. “Inilah ekonomi yang berkeadilan dan tidak sentralistik,” tandas Erani. Sementara itu, Hendra Kusuma, SE., M.S.E, Ketua Prodi IESP UMM menambahkan bahwa mahasiswa yang mengambil disiplin ilmu ekonomi harus mampu memaknai dan menganalisis setiap perkembangan ekonomi di Indonesia dan dunia. “Tiap masa tentu berbeda, maka ketajaman analisa harus dimiliki untuk menciptakan ekonomi yang lebih baik kedepan,” tutur Hendra. (mir/can)

Malik Fadjar Ajak Mahasiswa Punya Mimpi Besar

“UMM ini dibangun oleh cita-cita besar sehingga mengajak mahasiswanya untuk bermimpi besar juga,” kata Prof. Dr. H.A. Malik Fadjar, M.Sc. saat mengisi pengajian, Kamis (14/3), di hadapan mahasiswa pascasarjana. Ia memaparkan bagaimana UMM berdiri di atas hutan bambu. Masyarakat tidak percaya bahwa tanah seperti ini dapat disulap menjadi universitas besar seperti saat ini. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia itu mengatakan,UMM sudah menjadi lahan subur bagi mahasiswanya bercita-cita dan ikut membangun bangsa. Ia menegaskan, mahasiswa Pascasarjana UMM juga harus mempunyai cita-cita. “Gantungkan cita-citamu setinggi langit,  jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang,” serunya mengutip kata-kata Bung Karno. Perkembangan zaman, disebut pria yang juga Ketua Badan Pembina Harian UMM ini, melaju begitu cepat. Sehingga kebutuhan manusianya berubah. Sambil berkelajar Malik menyebut, kebutuhan pokok manusia zaman sekarang yakni baterai smartphone penuh. Disusul ger peserta. “Sebenarnya kita tidak punya HP tidak papa, tidak punya mobil tidak papa asalkan kita memiliki cita-cita,” tegasnya. Ia mengatakan bahwa sekarang manusia Indonesia cenderung terjajah oleh teknologi. Bagaimana rakyat Indonesia hanya menjadi pasar perdagangan teknologi oleh negara maju. Juga mental rakyat Indonesia yang memaknai dirinya dengan teknologi yang dia punya. “Perkembangan zaman melaju begitu cepat, harus diimbangi dengan mental kita yang tidak mudah terlena,” lanjutnya. Ditambahkan Rektor Dr. Fauzan, M.Pd., masyarakat sekarang adalah masyarakat yang sedang sakit. Di mana mudah sekali tenggelam dalam topik yang tidak bermutu seperti gosip dan tidak mau tahu tentang topik-topik yang penting. “Kita harus perkaya literasi dan menjadi pelopor untuk menuntun masyarakat Indonesia terhadap perkembangan zaman agar tidak jauh tertinggal,” tandasnya. (usa/can)

Geser Universitas Indonesia, ILF UMM Runner Up Ajang Kompetisi Debat Nasional

Unit Kegiatan Mahasiswa English Debating Society International Language Forum (EDS ILF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyabet piala runner up di ajang English Debate Competition 2019 yang berlangsung di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Surabaya beberapa waktu lalu (4-6/3). Dalam ajang ini terdiri dari 3 babak prelim/babak scoring dan 4 babak gugur. Di setiap babak peserta wajib mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Di akhir babak, poin yang dikumpulkan di rangking berdasarkan nilai tertinggi sampai terendah hingga didapatkan nama juara. Yakni Unair, UMM, UI, dan Poltekes. Satu  tim terdiri dari 3 peserta. Adalah Erfan Kriswanto dari Prodi Kehutanan, Muhammad Ilham dari Prodi Teknik Elektro, dan Setianalimas (Prodi Pendidikan Bahasa Inggris). Sebelum ajang ini dimulai, ada beberapa persiapan yang dilakukan, mulai dari tahap seleksi internal, bimbingan, dan latihan debat secara rutin didampingi dua pelatih. Setidaknya ada 24 peserta yang ikut berlomba, termasuk juga kampus-kampus negeri seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Airlangga (Unair) dan berbagai kampus bergengsi lainnya. Ajang debat nasional ini merupakan kali kedua yang diikuti oleh UKM EDS ILF. “Baru kali ini kita berhasil menang juara dua,” ujar Erfan. Selain ajang ini, EDS ILF  juga telah banyak memenangkan kompetisi serupa. Di antaranya Juara 1 YEEC STPP di tahun 2018, dan bercokol sebagai grandfinalis di NEED UMY tahun 2019. “Jadi dengan dimenangkannya lomba ini, saya berharap di ajang-ajang berikutnya dapat menyabet juara-juara kembali khususnya juara pertama,” pungkasnya. (*/can)

Kolaborasi UMM-Singapore Polytechnic Kembali Adakan Learning Express

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) dan Singapore Polytechnic (SP) kembali melakukan kolaborasi mengadakan proyek inovasi sosial, Learning Express (LeX). “LeX adalah bagian dari kerjasama kami untuk mejalin hubungan baik dengan negara tetangga. Setidaknya saat ini terdiri dari 8 negara pada 22 lokasi dan 29 partner. UMM salah satunya,” ungkap Lim Jun Cheng, koordinator dari SP. Setidaknya terdapat 56 mahasiswa yang terdiri 28 mahasiswa UMM dan 28 mahasiswa SP. Mereka terbagi kedalam 4 grup. “Masing-masing diisi oleh 7 orang dari UMM dan 7 dari SP, serta didampingi oleh 2 orang fasilitator ahli dan 1 koordinator dari SP. Juga 6 fasilitator ditambah 2 koordinator dari UMM,” ujar Ambika Putri Perdani selaku Program Officer International Relation Office (IRO) UMM, Selasa (12/3). LeX berlangsung selama 12 hari. Selama tiga hari pertama menetap di rumah penduduk yang memiliki usaha. “Tujuannya melihat situasi, proses, dan suasana tempat mereka ditempatkan. Utamanya membantu mengatasi ketidakefektifan kerja UKM di desa. Setelah tiga hari mahasiswa akan kembali ke universitas untuk pembuatan prototype di Lab Mesin dan Lab Industri,” papar Ambika. Program inovasi sosial ini sekilas serupa dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bedanya, para peserta tidak sekedar melakukan pengabdian pada umumnya. Melainkan menggunakan acuan baku untuk menyelesaikan permasalahan di mana mereka ditempatkan. “Kita mempunyai modul sebagai acuan yang dinamakan Desain Thinking dan diadaptasi dari booklet Stanford dan MiT,” ungkap Ambika. Terdapat 5 langkah yang menjadi acuan yang dimasukkan ke dalam modul yakni sense and sensibility, empathy study, define, ideation, prototyping dan co creation. ”Mereka menggunakan modul ini untuk mengidentifikasi user (klien, red.) apakah ada masalah. Mau itu di bidang marketing, bidang alat ataukah dalam bidang prosesing. Dari situ nanti bakal ada output-nya di closing ceremony,” ujar Ambika. Ada 3 Usaha Kecil dan Menengah yang menjadi tempat berkegiatan untuk program LeX. Yakni UKM Telur asin Basori yang terdapat di Kecamatan Batu, produksi Madu di Kecamatan Junrejo milik Roni, serta UKM sentra Kopi Los Karangploso milik Pandu. Hasil inovasinya bisa dikembangkan ke dalam beberapa hal, seperti dibuatkan mesin atau model pemasaran produk dengan packaging yang baru. Pada tanggal 20 Maret mendatang, tepatnya di closing ceremony para peserta akan memamerkan produk prototype-nya untuk diperlihatkan kepada para pelaku usaha kepala desa di Auditorium BAU UMM. “Semoga melalui model design thinking yang setiap tindakan yang dilakukan berpusat pada apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh user, segala permasalahan dapat ditemukan solusinya,” pungkas Ambika. (riz/can)

UMM Raih Most Popular Design di Ajang NTU Bridge Design Competition 2019

Tim jembatan ST Langgeng Jaya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Most Popular Design pada ajang Nanyang Technological University (NTU) Bridge Design Competition 2019 di Singapura, (9-10/3) lalu. Tak hanya itu, tim yang digawangi Vicky Adjie Saputra dan Novan Surya Adityawan ini juga masuk peringkat 10 besar gelaran kompetisi jembatan bergengsi tingkat Asia Tenggara ini. Ajang internasional ini merupakan kali pertama yang diikuti oleh tim jembatan UMM. “Selama ini kita sudah mengikuti dan menjuarai berbagai ajang rancang jembatan di tingkat nasional. Sekarang saatnya kita belajar keluar untuk menancapkan bendera UMM di ajang internasional,” ujar Ir. Erwin Rommel, MT. selaku pembimbing Tim ST Langgeng Jaya yang merupakan dosen Teknik Sipil UMM ini. Jembatan diuji melalui kriteria efesiensi dan kekuatan. Penilaian ini mengacu pada tema kompetisi yakni Strength, Economic, Sustainability. ”Jadi pihak panitia memberitahukan apa yang harus dibuat, beberapa jam sebelum pertandingan. Yang dinilai dari sisi penggunaan bahan seefisien mungkin, serta mampu menahan beban uji seberat mungkin, sampai pada titik hancurnya,” paparnya. Setidaknya terdapat 38 tim yang ikut berlomba dalam ajang yang diikuti oleh berbagai Universitas di Asia Tenggara. Tak ketinggalan kampus-kampus bergengsi dalam negeri pun turut meramaikan. Seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan berbagai kampus yang kerap menjuarai ajang kompetisi jembatan tingkat nasional lainnya, termasuk Surya Team UMM. “Sebelum ajang ini dimulai ada beberapa persiapan dan kesiapan yang telah kita lakukan beberapa minggu sebelumnya. Di antaranya dengan menguji coba beberapa jenis desain jembatan, lalu kita evaluasi dan perbaiki sehingga kita mampu menemukan desain yang pas ,” lanjutnya. Terakhir, nilai kejujuran dan sportivitas dalam bertanding senantiasa ditanamkan kepada para anggota Surya Team UMM. (riz/can)

Penerjemah Juga Harus Menyesuaikan Industri 4.0

Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengundang Fuad Syaifudin Nur, penerjemah profesional buku berbahasa Arab dalam seminar “Prospek Penerjemah di Era Revolusi Industri 4.0”, Senin (11/3). Seminar Nasional ini merupakan salah satu rangkaian acara dari Alafest, yakni kompetisi bahasa arab untuk mahasiswa dan siswa SMA se Indonesia. Fuad menjelaskan pemanfaatkan teknologi untuk membantu menerjemah. Di era revolusi Industri 4.0, kata Fuad, peran penerjemah akan semakin meluas. Penerjemah bisa menerjemahkan situs di internet, menjadi rujukan membuat aplikasi penerjemah, menerjemahkan E-Book dan lainnya. “Peran penerjemah itu bisa hilang di era Industri 4.0, kalau penerjemahnya gaptek (gagap teknologi, red,)” tegas Fuad. Karena perkembangan zaman juga mengubah gaya bahasa, harus terus mengikuti perkembangan teknologi. Selain itu, lanjutnya, penerjemah yang update akan tahu apa teknologi terbaru untuk menerjemah. “Ada situs baru yang menggabungkan semua kamus Arab jadi bisa dibandingkan jadi tidak hanya mengandalkan satu kamus,” jelasnya. “Saya itu selalu ditanya, apa tidak bosan menerjemah terus? Ya tidak, karena saya mempunyai niat yang kuat,” ujar penerjemah yang menggeluti bidangnya selama 15 tahun dan banyak menerjemahkan banyak karya ini. Di sisi lain, katanya, menjadi penerjemah jika tidak disertai niat yang tidak kuat, akan mudah berganti profesi. “Karena menjadi penerjemah akan selalu dikejar deadline dan hari-harinya akan habis hanya untuk menerjemah,” ungkapnya. Sementara, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd menyatakan bahwa penerjemah bahasa arab adalah salah satu profesi langka di kalangan orang muslim. Dengan begitu, ia berpesan, mahasiswa PBA harus memaksimalkan potensinya. “Jangan puas dengan apa yang kalian miliki sekarang, Jangan jadi manusia minimize yang sudah merasa aman dengan sesuatu yang kecil. Jadilah manusia maximize yang selalu berusaha menjadi sesuatu yang besar,” tandasnya. (usa/can)