PGSD UMM Helat Festival Ludruk untuk Tumbuhkan Kecintaan pada Kesenian Lokal

KESENIAN LUDRUK mungkin kini kalah pamor dengan tontonan televisi dan bioskop. Ditakutkan, generasi muda mulai meninggalkan dan tak lagi dikenal di masa mendatang. Meski begitu, kesenian yang tercatat lahir di Jombang Jawa Timur ini mesti tetap dilestarikan. Salah satunya dikenalkan melalui bangku perkuliahan. Ikhtiar yang dilakukan sekelompok mahasiswa ini patut diacungi jempol. Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (PGSD UMM) menggelar Festival Ludruk Kampus, Kamis (10/1). Festival ini digelar dalam rangka menuntaskan tugas akhir mata kuliah Karawitan oleh mahasiswa angkatan 2016. Menampilkan lakon Sarip Tambak Rasa, Maling Caluring, Babad Surabaya, Sakerah, Jaran Mayang Seta, dan Jaka Sambang. Lakon yang dipentaskan merupakan cerita lokal yang kebanyakan dengan latar zaman kolonial. Kemudian naskah yang sudah diadaptasi akan dipentaskan yang semua, baik di belakang maupun di depan panggung, diperankan mahasiswa. “Mahasiswa PGSD ini kan calon guru SD, jadi saya rasa perlu untuk paham seni tradisi,” jelas Danang Wijoyanto, S.Pd, M.Pd. selaku dosen mata kuliah Karawitan. Menurut Danang, perlu untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya lokal sejak dini. Maka mahasiswa PGSD harus dibekali pengetahuan kesenian lokal. Sehingga ketika menjadi Guru SD bisa menyalurkan kepada murid-muridnya. Danang takjub dengan totalitas mahasiswanya ketika melaksanakan tugas. “Hasilnya melebihi batas dan target yang saya tetapkan, saya sangat puas sekali,” papar Danang bangga. Sedangkan Judha Bira Krisna selaku Ketua Pelaksana Festival Ludruk Kampus mengatakan bahwa ini pengalaman yang luar biasa. Ia mengemukakan bahwa Festival Ludruk Kampus kali ini adalah yang pertama kalinya digelar di UMM. “Saya harap langkah awal ini bisa menumbuhkan rasa cinta yang besar dari mahasiswa PGSD UMM kepada budaya lokal,” ujarnya. Pada periode 1920 sampai 1925 ludruk berkembang. Awalnya pertunjukan jalanan yang berpindah-pindah tempat atau ngamen. Berubah dengan tempat pertunjukkannya yang menetap di halaman rumah atau ditanggap. Seperti ditanggap dalam pesta perkawinan, ruwatan, khitanan, dan sebagainya. “Semoga melalui festival ini, Ludruk kembali populer dan kembali digandrungi masyarakat,” pungkasnya. (usa/can)
Masif Mendampingi, LPT Psikososial Wujud Dedikasi UMM Pada Masyarakat

LABORATORIUM Psikologi Terapan (LPT) Psikososial merupakan wujud dedikasi UMM pada bidang Psikologi. Dinaungi langsung Fakultas Psikologi, LPT Psikososial telah masif mendampingi masyarakat sejak peristiwa Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Konflik Poso, Tsunami Aceh dan baru-baru ini pada Gempa Palu serta Donggala. Keberadaan Psikososial selama ini kebanyakan dianggap sebatas untuk bencana. Padahal tidak demikian, seperti dikatakan Alifah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A, staff LPT Psikososial. “Sebenarnya bisa juga untuk ODHA dan trauma-trauma lainnya. Intinya adalah mental (psikis, red.) yang diobati pada psikososial,” tuturnya. Memang, stigma tentang psikososial banyak yang kurang tepat. Disangka, psikososial hanya mengurusi anak-anak penyintas pasca bencana. Alifah mencontohkan, ranah aksi psikososial sebenarnya lebih luas. “Para relawan terbagi menjadi beberapa bagian, di antaranya untuk menangani anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak,” jelasnya. Pendekatan kepada setiap umur tentunya berbeda. Keidentikan Psikososial untuk anak-anak tentu tak tepat. Selain itu, Psikososial tidak hanya beraksi saat bencana. Psikososial juga dapat memberikan treatment misalnya kepada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). “Kita berikan treatment agar siap menghadapi sosial,” kata Alifah. Durasi dalam pemberian Psikososial pada peristiwa bencana biasanya tak lebih dari sebulan. Hal tersebut karena relawan juga membutuhkan energi baru untuk memberikan penanganan Psikososial. Sejauh ini, kerja sama yang paling masif ialah bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Dekan Fakultas Psikologi, Muhammad Salis Yuniardi, S.Psi, M.Psi, Ph.D, Psikolog. menerangkan, Fakultas Psikologi kosisten menurunkan tenaga-tenaga terbaiknya untuk memberikan pelayanan Psikososial kepada korban bencana maupun konflik. Para relawan telah dibekali langsung beragam kompetensi oleh LPT Psikososial. Selain yang dikerjasamakan dengan MDMC melalui LPT Psikososial, UMM memang tengah banyak melakukan pengabdian terhadap para korban bencana yang belakangan dialami sejumlah daerah di Indonesia. Salah satu di antaranya melaui skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang ditempatkan di Palu, Sulawesi Tengah. Termasuk yang dilakukan RSU UMM yang mengirim dokter dan perawatnya ke Donggala, Sulawesi Tengah. Terhitung sejak Oktober 2018 lalu, relawan RSU UMM terjun langsung ke salah satu wilayah terdampak bencana. Berbagai aksi ini sesuai dengan visi dari Rumah Sakit Islam yang menjunjung visi kemanusiaan. Dalam waktu dekat, tepatnya 13 Januari 2019, LPT Psikososial bakal menggelar Diklat Psikososial Dasar bagi mahasiswa dan masyarakat umum. Tak menutup kemungkinan, LPT Psikososial UMM akan menerjunkan relawannya untuk turut membantu pemulihan trauma dari korban bencana Tsunami di Selat Sunda. (nis/mir/can)
Awali Go International, IP UMM Kerjasama dengan KKU Thailand

PROGRAM Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tengah melakukan upaya percepatan go international. Salah satu upaya yang dilakukan yakni melakukan kerjasama dengan Khon Kaen University (KKU), Thailand, Selasa (8/1), di Gedung Kuliah Bersama (GKB) I UMM. Bentuk kerjasama ini berupa Student Exchange atau pertukaran mahasiswa. Mahasiswa yang mengikuti program tersebut akan belajar selama 4 bulan. Mereka akan belajar tentang sistem pemerintahan Indonesia dan budaya Jawa Timuran. Dari UKK, ada 4 mahasiswa yang berkesempatan belajar di Prodi IP UMM. Mereka adalah Kanarwut Duangin, Mintra Wongwirat, Sittisak Kaeothanmanukun dan Suparom Wongracha. Menurut Kanarwut Duangin, program ini memberi ia kesempatan mengenal Indonesia lebih dekat, serta belajar budaya di luar Thailand. “Saya senang bisa short course di Indonesia,” tuturnya. Sebelum resmi mengikuti seluruh rangkaian program, para mahasiswa Thailand tersebut disambut Dekan FISIP Dr. Rinikso Kartono, M.Si di Ruang Seminar FISIP UMM. Dalam sambutannya, Rinikso mengenalkan suasana lingkup UMM yang akan menjadi tempat belajar selama program berlangsung. Ketua Prodi IP, Salahudin, S.IP, M.Si, M.PA. menjelaskan bahwa kerjasama antara UMM dan KKU akan lebih diperkuat dengan kolaborasi riset bersama. Hal ini sebagai langkah konkret Prodi IP untuk go international. IP UMM juga mengirimkan 6 mahasiswa terbaiknya untuk Program Student Exchange ini. “Mahasiswa UMM juga belajar di Khon Kaen University Thailand selama satu semester,” katanya usai acara. Salahudin berharap dengan hadirnya program ini mahasiswa IP mampu belajar sistem belajar di luar negeri. Sehingga akan mendukung proses belajar yang lebih baik ke depan. (mir/can)
Kesempatan Jadi Entrepreneur Properti Masih Terbuka Lebar

BACKLOG atau kesenjangan antara jumlah rumah terbangun dengan jumlah rumah yang dibutuhkan rakyat Indonesia masih sangat tinggi. Berdasarkan data BPS, jumlah angka Backlog perumahan mencapai 11,4 Juta kepala keluarga pada tahun 2015. Sehingga problem ini menjadi prioritas pembangunan pemerintah. Data ini disampaikan Arfita Masniarti, Kepala Housing Finance Center PT. Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk dalam Workshop Prospek dan Model Pendidikan Program Vokasi Manajemen Logistik dan Bisnis Properti di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (8/1). “Peningkatan Backlog rumah dikarenakan adanya kebutuhan rumah baru yakni 800.000 unit/tahun. Sementara kapasitas bangun pengembang hanya 250.000 sampai 400.000 unit/tahun,” kata Arfita. Meski begitu, di sisi lain data ini menjadi peluang bagi para entrepreneur yang ingin mencoba peruntungan di dunia properti. Peluang itu di antaranya dukungan pemerintah yang tinggi, bonus demografi, juga digitalisasi proses bisnis. “Meski begitu, tantangan yang mesti dihadapi para pengusaha properti di antaranya masyarakat berpenghasilan rendah yang unbankable, belum ada landbank, dan regulasi yang terstandardisasi,” ujarnya. Indonesia, sambung Arfita, sangat kekurangan entrepreneur di banding negara lain. Sehingga, kesempatan menjadi seorang entrepreneur di Indonesia masih terbuka lebar. “Perkembangan kewirausahaan (entrepreneurship) di Indonesia masih tertinggal, bahkan dari negara Asia,” papar Arfita. Persentase jumlah pengusaha di beberapa negara Asia tahun 2017, Jepang memuncaki nilai tertinggi yakni 11%. Sementara Indonesia, hanya berada di angka 3,1 %. Jumlah pengembang perumahan di Indonesia hanya berkisar lebih-kurang 4.700, dibutuhkan entrepreneur baru untuk menggarap sektor perumahan. Sektor perumahan berkontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) suatu negara. Di Indonesia, kontribusinya berkisar antara 2,5% hingga 2,8% saja. Jauh, di bawah Australia yang berada di angka 27,75%. “Padahal, peranan sektor perumahan terhadap perkembangan ekonomi suatu negara teramat penting,” ungkapnya. Investasi di sektor perumahan, kata Arfita, mampu menyokong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Juga, pertumbuhan sektor perumahan akan berdampak pada pertumbuhan sektor industri lainnya. Disebutnya, ada lebih dari 170 industri terkait sektor properti di Indonesia. “Tak kalah penting, pertumbuhan sektor perumahan sangat memicu perbaikan struktur industri suatu negara. Serta, pertumbuhan sektor perumahan akan meningkatkan lapangan kerja,” ungkapnya. Demikian kata Arfita, dibukanya program Vokasi Bisnis Properti di UMM dinilai tepat menutupi kekurangan yang ada. Diselenggarakannya workshop ini sebagai tindak lanjut dari rencana pendirian Pusat Pendidikan Vokasi UMM. Untuk mengawali PPV ini, UMM akan membuka 5 sekolah bidang keahlian. Yakni Desain dan Media, TIK dan Elektronika, Bisnis dan Manajemen, Kesehatan dan Hospitality, serta Agribisnis. (*/can)
Miliki 55 Skema, Sertifikasi Kompetensi UMM Tingkatkan Daya Jual Mahasiswa

MAHASISWA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang telah dinyatakan lulus harus melaksanakan sertifikasi kompetensi. Sertifikasi kompetensi merupakan proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji kompetensi. Sertifikasi ini sebagai respon menghadapi industri 4.0. Selain dijadikan sebagai syarat wisuda, sertifikasi ini dijadikan bukti bahwa mahasiswa yang sudah lulus dari UMM kompeten dalam bidang yang digeluti. “Sehingga lulusan UMM tidak sulit mencari kerja,” jelas Dr. Ihyaul Ulum, S.E., M.Si., Ak., CA. selaku ketua Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UMM saat diwawancara, Senin (7/1). Para penguji atau accesor yang terdiri dari dosen UMM terlebih dahulu diberi pelatihan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) selama 5 hari. “Sehingga accessor memiliki kompetensi yang baik dalam menguji. Saat ini UMM memiliki 93 accessor dan akan bertambah 48 yang masih mengikuti pelatihan,” terang Ulum. UMM menyediakan 55 skema. Sebelum wisuda, mahasiswa wajib memilih satu di antaranya untuk diujikan. Skema yang di rancang LSP disesuaikan dengan masing-masing program studi yang ada di UMM. “Namun ada beberapa skema yang bisa diikuti oleh mahasiswa lintas program studi,” lanjutnya. Juga, terdapat skema yang dirancang di luar program studi yang bisa diikuti oleh seluruh mahasiswa UMM, seperti kewirausahaan. Dalam waktu dekat LSP UMM akan menambah 20 skema sertifikasi kompetensi baru. Sertifikat kompetensi yang didapat oleh mahasiswa akan disandingkan dengan ijazah mereka. Pasca lulus, mahasiswa UMM mempunyai dua bukti legitimasi kompetensi dalam bidang akademik maupun non akademik. Sertifikat kompetensi yang didapat diberikan langsung BNSP melaui LSP UMM. Dengan sertifikasi kompetensi ini diharapkan mahasiswa UMM lebih siap dalam menghadapi industri 4.0. (usa/can)
Stres Mengerjakan Skripsi Bisa Diatasi dengan Berpikiran Positif dan Optimis

DESEMBER 2018 lalu, dua mahasiswa perguruan tinggi negeri ternama di Bandung, Jawa Barat ditemukan tak bernyawa. Setelah dilakukan penyelidikan, polisi menyimpulkan kejadian tersebut atas dugaan kuat bunuh diri. Usut punya usut, salah satu dugaan bunuh diri ini karena tekanan saat mengerjakan skripsi. Menanggapi hal ini, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., Psikolog, Dekan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ditemui di kantornya, Senin (7/1) menyebut, depresi menjadi faktor melakukan bunuh diri. “Depresi ialah tahap seseorang kehilangan harapan. Tentu saja pikiran akan terombang-ambing,” katanya. Pertama, sambungnya, ketika mendapatkan masalah, seseorang akan mengalami stres. Stres menjadi pintu utama sebelum masuk ke tahap depresi. Menurut pria lulusan S3 Psikologi Institute of Neuroscience Newcastle University, Inggris Raya ini, semua orang tentu memiliki masalah. Maka, kata Salis, tentu ada beberapa hal yang harus dipegang teguh. Seperti keyakinan agama. “Orang beriman diajarkan untuk berpikir positif dan optimis, ini kunci dalam setiap jengkal kehidupan,” jelasnya. Meski begitu, agar tidak masuk ke tahap depresi, Salis menyarankan beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama yakni berbagi cerita kepada orang yang dipercaya. Namun, diakuinya, tidak semua orang dapat menjadi partner berbagi cerita. Haruslah orang yang dapat dipercaya. Selanjutnya, bisa juga bercerita kepada ahli atau psikolog. “Psikolog bekerja di bawah sumpah, maka keamanan rahasia akan terjamin sepenuhnya,” terangnya. Berikutnya, bagi Salis, pola pikir seseorang juga mesti benar. “Bila kita anggap diri kita tidak mampu, maka itu kemungkinan besar akan terjadi. Hal tersebut akan sugesti yang bermuara pada usaha-usaha yang akan dilakukan,” tuturnya. Agar tak terjebak dalam tahap depresi, berpikiran positif dan optimis mesti menjadi pegangan hidup. Termasuk saat mengerjakan skripsi. “Jangan berpikir seolah-olah yang mengerjakan skripsi hanya anda. Ini adalah tahap yang mesti dilalui semua akademisi,” tandasnya. Selanjutnya, pola pikir yang musti ditanamkan yakni harus optimis. Karena sudah sekian banyak orang juga mengerjakan skripsi dengan tuntas. (mir/can)
Mahasiswa UMM Angkat Citra Baik Kalilanang Lewat Gerakan Perangi Narkoba

KAWASAN Kalilanang, Bumiaji, Kota Batu memang dikenal sebagai kawasan zona merah. Pasalnya, kawasan ini kerap kali dijadikan markas penyalahgunaan narkoba hingga praktik prostitusi. Agar tak semakin menambah keresahan banyak pihak, sekelompok mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) perlahan mengangkat citra baik kawasan Kalilanang. Salah satunya melalui sosialisasi terkait penyalahgunaan narkoba, Sabtu (5/1). Aksi yang digawangi Kelompok Praktikum Public Relations Prim PR Prodi Ilmu Komunikasi UMM ini menyasar pelajar hingga masyarakat umum. Menghadirkan 242 tamu di antaranya pelajar dan komunitas se Kota Batu. Pelajar yang umumnya tingkat Sekolah Dasar ini menerima dengan baik acara ini. Acara juga dihadiri istri dari Wakil Wali Kota, Widi Punjul Santoso. “Saya sangat mengapresiasi luar biasa terhadap acara ini, karena dapat melibatkan pelajar serta komunitas di Kota Batu. Saya bangga dengan mahasiswa ini karena telah peduli memerangi narkoba,” pesan Widi. Narkoba, kata Widi, memang menjadi momok menakutkan generasi muda Kota Batu karena mempengaruhi pola pikir. Demikian, kerjasama mahasiswa dan BNN ini dinilai Widi tepat untuk memperkuat gerakan anti narkoba. Setelah acara sosialisasi, Prim PR juga akan menambah penerangan di kawasan Kalilanang yang saat ini masih gelap gulita karena kerap digunakan sebagai tempat pemakaian narkoba hingga tindakan asusila. “Melalui sosialisasi dan penambahan beberapa sarana ini, semoga generasi muda menjauhi narkoba dan dapat lebih banyak mengejar prestasi dan mencari kegiatan-kegiatan positif,” tambah Widi Punjul Santoso. Kegiatan ini mendapat dukungan moril dari Badan Narkotika Nasional Kota Batu, Kepala Desa Pandanrejo, FKDM, BPPD, Sekolah Dasar Hingga Sekolah Menengah Atas Kota Batu dan bebagai komunitas di Kota Batu. “Diharapkan dengan adanya program ini, kawasan Kalilanang menjadi kawasan yang lebih bermanfaat dan dikenal melalui citra positifnya,” kata ketua kelompok Prim PR UMM, Yusril Ahmad Zulhelmi. Selain itu, sambung mahasiswa semester 7 ini, masyarakat khususnya remaja juga akan paham akan bahaya narkoba dan bersama-sama dalam memerangi bahaya narkoba dan pergaulan bebas. Tidak hanya berupa acara yang membahas edukasi terkait narkoba secara formal, acara ini diiringi hiburan menarik yang di antaranya yaitu penampilan bakat dari pelajar Kota Batu berupa pembacaan puisi dan akustik. (*/can)
Terkait Razia Buku di Kediri, Dosen UMM: Gerakan Literasi Butuh Dukungan Negara

RAZIA terhadap buku yang dianggap mempropagandakan ideologi Komunisme di Kediri, Jawa Timur menuai banyak tanggapan dari berbagai kalangan. Khususnya dari kalangan intelektual. Razia yang dilakukan oleh Komando Distrik Militer (Kodim) 0809 Kediri sepekan lalu, menyita beberapa buku di antaranya Komunisme ala Aidit, The Missing Link G 30 S, Siapa Dalang G30S dan Kabut G30S. Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Hutri Agustino, S.Sos., M.Si mengatakan, razia tersebut adalah lelucon bagi kalangan akademisi di era reformasi seperti saat ini. “Ini era reformasi, di mana keterbukaan informasi publik, eksistensi masyarakat madani harusnya betul-betul dihargai. Maka yang perlu dikedepankan adalah sisi-sisi edukatif dan literatif,” ungkapnya, Kamis (3/1). Pengedukasian terhadap masyarakat, sambungnya, bisa dilakukan melalui panggung-panggung resmi. Dengan begitu, bagi pendiri Pondok Sinau Lentera Anak Nusantara tersebut, perkembangan literasi di Indonesia tentu harus dibarengi dengan kebebasan masyarakat memiliki buku. “Bagaimana masyarakat tahu bahwa Komunis berbahaya bila pengetahuan terhadap Komunis disimpan dalam peti (ditutup-tutupi, red),” katanya. Di sisi lain, sambungnya, negara juga perlu adil dalam melindungi negara dari paham-paham yang membahayakan ideologi Pancasila. “Mengapa hanya ideologi Komunis dan Radikal yang digaungkan berbahaya? Mengapa tidak dengan Kapitalisme juga? Jangan sampai yang seolah-olah musuh Indonesia ini hanya dua (Komunis dan Radikal, red.). Sedangkan satunya melenggang,” katanya. Simbol kebudayaan pada era Presiden Soeharto saat itu tidak diizinkan dipertontonkan di muka publik, karena dianggap Etnis Tionghoa sudah pasti Komunis. Jika saja merujuknya kepada simbol, kata dia, seharusnya Kapitalisme yang berwujud ke beberapa produk besar yang merajai pasar Indonesia, juga menjadi perhatian. Demikian Hutri menekankan pentingnya Pemerintah berlaku adil. Ke depan, Hutri berharap ada regulasi yang jelas dan kongkrit terkait model pelarangan-pelarangan ideologi yang bertentangan dengan deologi Pancasila. “Jika buku, ya perlu dijelaskan yang seperti apa isinya dan lain (variabel penilian, red.) sebagainya,” kata Hutri. Supaya, masyarakat tidak mudah dalam menghakimi. Juga, perilaku melabeli seseorang juga harusnya terminimalisir. Hutri menceritakan pengalamannya saat mengikuti sosialisasi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di Pendopo Kabupaten Malang. Ia pernah bertanya terkait status beredarnya buku-buku dengan paham Komunis. Perpusnas menjelaskan bahwa buku-buku yang berisikan paham Komunisme mendapatkan perlakuan khusus. Namun baginya, yang disebut Perpusnas, belum terjelaskan secara kongkrit. Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Malang ini juga mengharapkan, gerakan literasi perlu dukungan yang serius dari negara. Menurutnya, penutup-nutupan terhadap sumber literasi bukanlah tindakan yang benar. “Tentu ke depan harus ada edukasi-edukasi masif ke tataran grass root. Seperti sosialisasi ideologi apa-apa saja yang bertentangan dengan Pancasila,” tukasnya. (Humas UMM)
Jadi Koordinator Nasional IMAMUPSI, Mahasiswa Ini Bertekad Masyarakatkan Psikologi Islam

Alfiesyahrianta Habibie, mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terpilih sebagai Koordinator Nasional Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia (IMAMUPSI) Pusat Periode 2018/2019. Alfi, panggilan akrabnya, dikukuhkan pada Musyawarah Nasional (Munas) IX IMAMUPSI yang diselenggarakan di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung pada 22 – 23 Desember lalu. Sebelumnya, Alfi yang merupakan Ketua Umum Kelompok Studi Psikologi Islam (KSPI) IMAMUPSI UMM ini didelegasikan sebagai calon pengurus beserta 20 kandidat lainnya dari berbagai universitas negeri dan swasta se Indonesia. Di antaranya Universitas Gajah Mada, Universitas Padjajaran, Universitas Indonesia dan universitas lainnya yang menjadi anggota IMAMUPSI. Alfi menuturkan, terpilihnya ia menjadi koordinator nasional karena lamanya status keanggotaannya, di banding kandidat lain. Selain itu, tentunnya reputasi yang baik IMAMUPSI UMM selama beberapa kali menjadi koordinator nasional. “Reputasi yang baik diperlihatkan anggota dalam peran aktif pada kegiatan. Terlebih, IMAMUPSI UMM juga pernah terlibat dalam pendirian IMAMUPSI sendiri,” tambahnya. Dengan kesempatan tersebut, Alfi bertekad akan meningkatkan kualitas keilmuan terutama pada penelitian ilmiah. Hal ini akan diwujudkan pada penutupan Munas yang akan diselenggarakan di Malang dalam waktu dekat. Yakni dengan menyajikan simposium dengan pembicara anggota IMAMUPSI sendiri, serta sejumlah tokoh nasional Psikologi Islam. Sejalan dengan misi IMAMUPSI yang dapat memasyarakatkan Psikologi Islam sebagai wacana ilmiah, Alfi mengharapkan anggotanya dapat menambah tulisan-tulisan terkait Psikologi Islam baik berupa opini maupun penelitian. “Harapannya kumpulan tulisan dari anggota dapat menerbitkan buku yang bertemakan Psikologi Islam. Sehingga dapat didistribusikan kepada masyarakat umum,” ungkapnya. Tidak hanya itu, kedepannya Alfi akan menjalin dan merekatkan ukhuwah islamiyah antara Kelompok Studi PsikoIogi Islam, sehingga mampu menemukan solusi-solusi baru dan ideal untuk Islamisasi ilmu pengetahuan, khususnya di bidang Psikologi. “Dengan ini, saya hendak melibatkan anggota dalam berbagai fase pengembangan Psikologi Islam,” pungkas mahasiswa angkatan 2015 ini. (bel/can)
Gelar Karya Mahasiswa Psikologi: Dari Pengaruh Shalat pada Agresifitas hingga Bukukan Pengalaman di Rumah Sakit Jiwa

MAHASISWA Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar karya akademis sebagai wujud produktif berkreasi, Rabu (2/1). Karya yang dihasilkan berupa poster, alat terapi dan buku-buku seputar kajian Psikologi. Hasil karya itu dibuat atas dasar pengalaman mahasiswa yang sudah terjun dalam penanganan Komunitas. Yakni kaitannya dengan problem sampah, kemiskinan, pendampingan di rumah sakit jiwa dan daerah yang terkena dampak bencana. Sebanyak 21 stan berdiri untuk memamerkan karya mahasiswa Fakultas Psikologi UMM dari 3 angkatan. Karya itu dilombakan dan dinilai oleh dosen-dosen Fakultas Psikologi untuk merangsang daya saing mahasiswa saat terjun di dunia kerja. “Psikologi UMM mempunyai ciri khas yaitu, psikologi terapan di mana mahasiswa akan dihadapkan dengan kasus-kasus nyata,” papar M. Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., PhD selaku Dekan Fakultas Psikologi UMM di ruang pameran, GKB IV lantai 9. Salis mengatakan, mahasiswa Fakultas Psikologi UMM akan lebih banyak diterjunkan pada setting pendidikan, setting sosial, dan setting industri. Karya mahasiswa dari ketiga setting itu, akan diseleksi dan disaring untuk diganjar apresiasi. Dengan banyak menghadapkan mahasiswa pada kasus-kasus nyata, Salis mengaku bahwa lulusan Psikologi UMM mempunyai nilai jual yang tinggi. Hal ini disebabkan mahasiswa Fakultas Psikologi UMM sudah memahami medan tempat kerja. “Mahasiswa kita juga paham cara kerja zaman milenial. Di mana mereka memanfaatkan media komunikasi kekinian. Dengan begitu, daya serap yang masuk industri, pendidikan, instansi bahkan entrepreneurship begitu tinggi,” tandas Salis. Di sebuah stan dipaparkan penelitian dari mahasiswa semester 3 mengenai manfaat sholat dalam menurunkan agresifitas. Agresifitas adalah tindakan merusak melalui kekerasan fisik maupun verbal secara sengaja. Dalam penelitian itu dikatakan bahwa semakin teratur dan terjaga sholatnya, seseorang cenderung tidak agresif. Dalam sholat secara tidak langsung diajarkan untuk pelepasan emosi, meditasi dan kontrol diri, cinta dan kasih, serta komitmen dan disiplin. Sementara, di mata kuliah Kesehatan Mental mahasiswa semester 3 menghasilkan sebuah buku berjudul “Cerita yang Pernah Ada”. Buku itu berisi kumpulan pengalaman mereka saat mengunjungi Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat, Lawang. “Menulis buku ini merupakan pengalaman baru buat kami. Di mana kami bisa belajar keberanian untuk berinteraksi dengan pasien RSJ dan semakin bersyukur karena masih diberi kesehatan mental,” papar Anisa BT, salah seorang penulis. Ia mengatakan, kegemarannya menulis ternyata diwadahi oleh Fakultas Psikologi. Ia mengaku senang bisa menerbitkan buku bersama teman-teman sekelasnya hingga bisa laku dijual. (usa/can)