Seminar Nasional FH UMM: Bahas Advokat dan Contempt of Court dalam RUU KUHP

Permasalahan hukum yang terkait dengan penghinaan yang ditujukan kepada lembaga peradilan selalu menjadi perhatian masyarakat hukum Indonesia. Walaupun pada umumnya sepakat bahwa setiap orang, lembaga dan profesi selalu menuntut adanya perlindungan hukum terhadap kehormatan dan nama baiknya. Demikian disampaikan Dr. Mudzakkir, S.H., M.H, dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia. “Namun demikian dalam praktek penegakan hukumnya acapkali menimbulkan masalah hukum mengenai interpretasi hukum terkait dengan apakah perbuatan tersebut termasuk sebagai perbuatan penghinaan terhadap pengadilan,” sambung Mudzakkir dalam Seminar Nasional: “Advokat dan Contempt of Court dalam RUU KUHP” (26/11) yang diselenggarakan FH UMM dan Perhimpunan Advokat Indonesia Cabang Malang. Dilanjutkan Mudzakkir di hadapan ratusan mahasiswa dan praktisi hukum bahwa permasalahan hukumnya akan menjadi lebih menarik lagi ketika pengadilan, dalam hal ini dijalankan oleh hakim, menilai seseorang telah melakukan contempt of court yang salah satu bentuk tindak pidananya mirip dengan penghinaan atau pencemaran nama baik dan meminta kepada aparat penegak hukum/polisi untuk melakukan penyidikan. “Tema Contempt Of Court (COC) yang menjadi topik bahasan dalam seminar hari ini sangat relevan agar rumusan norma hukum pidana mengenai COC menjadi jelas dan tegas serta mudah untuk ditegakkan serta tidak menjadi “pasal karet” yang disebabkan oleh sikap aparat penegak hukum dan hakim atau pengadilan yang secara langsung atau tidak langsung menjadi korban dari tindak pidana COC tersebut,” tukasnya. Sementara, Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Timur dan pengajar Universitas Nasional Jakarta Dr. H. Herri Swantoro, SH, MH menegaskan bahwa sebagai lembaga penegakan hukum yang memberikan keadilan kepada para pihak yang berperkara melalui putusan hakim, maka peradilan meliputi lembaganya, proses atau mekanisme, maupun para hakim yang memeriksa dan memutus perkara, haruslah dihormati. Segala bentuk tindakan atau perbuatan yang pada prinsipnya merupakan bentuk tidak hormat maupun pelecehan terhadap peradilan (contempt of court) harus diberikan sanksi. “Penghinaan terhadap peradilan bukan lagi semata tindakan verbal di pengadilan, melainkan sudah mengarah pada aksi kekerasan di dalam ruang sidang,” ungkap Herri dalam seminar yang turut dihadiri Wakil Rektor III UMM, Sidik Sunaryo. Lebih jauh Herri berpendapat, sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap pelaku criminal contempt adalah sanksi yang bersifat menghukum (punitive). “Di negara‐negara common law, pelaku dapat dijatuhi pidana denda atau pidana penjara. Tujuan dari pemidanaan pelaku criminal contempt adalah untuk membuat pelaku jera dan membuat orang lain tidak melakukan perbuatan yang sama,” ungkap Herri di Mini Teater UMM. Dilanjutkan Herri, pentingnya pemidanaan terhadap pelaku criminal contempt adalah untuk melindungi kekuasaan peradilan dan martabat pengadilan, yang dalam hal ini meliputi negara, pemerintah, pengadilan dan masyarakat berkepentingan terhadap terselenggaranya peradilan yang seharusnya. Dalam literatur‐literatur common law, criminal contempt secara singkat sering disebut sebagai ʺoffences against the administration of justiceʺ. Turut hadir panelis lainnya H. Arsul Sani, S.H., M.Si, selaku wakil ketua Majelis Pemusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dan Wakil Rektor III UMM Sidik Sunaryo juga turut sebagai panelis. Selain pemaparan para panelis seputar materi Advokat dan Contempt of Court dalam RUU KUHP, hadir sebagai pembicara kunci yakni Prof. Dr. Otto Hasibuan, S.H., M.M. selaku Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Nasional Peradi. (mir/can)

Komparasi Isu Sosial, Kesos UMM Berangkatkan Mahasiswa Visiting Study ke Malaysia

Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali akan menguatkan kerjasama dalam bentuk visiting study 2-7 Desember mendatang. Agenda ini menindaklanjuti Letter of Intent (LoI) dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Kegiatan ini juga merupakan balasan dari visiting study mahasiswa UKM tahun 2018 lalu. Sejumlah 12 mahasiswa Kesos yang terdiri dari mahasiswa semester 1, 3, dan 5, serta 2 dosen pendamping telah mempersiapkan diri dalam riset mengenai isu-isu sosial yang terjadi di Indonesia. Riset ini dipergunakan dalam program utama visiting study, yaitu mini conference berupa presentasi yang akan dilaksanakan bersama mahasiswa Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan (FSSK) UKM. “Risetnya dari isu yang ada di Indonesia dan berbasis penugasan mata kuliah yang kemudian diseriusi dalam proses persiapan visit. Untuk isu yang akan kita angkat di antaranya isu mengenai disabilitas, anak jalanan dan pekerja migran,” sebut Hutri Agustino, S.Sos., M.Si selaku dosen pendamping, Selasa (26/11). Menurut Hutri, ketiga isu tersebut sangat relevan dengan isu SDGs atau Sustainable Development Goals yang merupakan agenda global. Tidak hanya itu, lanjutnya, ketiga isu tersebut relevan dengan konsentrasi studi Kesos dalam persoalan-persoalan sosial mikro, mezzo dan makro. “Luaran yang diharapkan, mahasiswa dapat melakukan komperatif study, sehingga dapat mengetahui bagaimana pelayanan, penanganan persoalan-persoalan sosial mikro, mezzo dan makro di Indonesia maupun di Malaysia,” lanjut Hutri. Dalam visiting study tersebut terdapat program-program lainnya, yaitu Joint in Class Course Work, di mana para mahasiswa UMM masuk dan mengikuti kelas-kelas di FSSK UKM. Kemudian dilanjut kunjungan ke Institut Sosial Malaysia dan badan diklat Kementerian Sosial Malaysia yang merupakan bentuk kunjungan balasan untuk menjajaki kemungkinan dalam melakukan research maupun pelatihan-pelatihan. Selain visiting study, pihak Kesos UMM juga mengupayakan program pengiriman dosen untuk study lanjut, visiting professor, ikut serta dalam penerbitan jurnal ilmiah, serta research collaboration yang akan dilakukan bersama UKM. sejumlah skema kerjasama ini akan segera ditindaklanjuti dalam waktu dekat. (bel/can)

PT INKA Buka Kerjasama dengan Prodi HI UMM

Upaya mengintegrasikan keilmuan di dunia kampus dengan kebutuhan praktis di dunia industri terus dilakukan oleh Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM. Salah satunya melalui kunjungan industri ke PT. Industri Kereta Api (INKA) di Madiun (19/11). Sebanyak 58 mahasiswa HI dan 3 dosen berkesempatan memahami sistem manajemen dan perkembangan ekspansi bisnis industri kereta api nasional itu. Humas PT.INKA Dewanta Prayoga menyampaikan bahwa selama ini PT. INKA masih sangat lekat dengan pandangan yang sangat teknikal. Padahal, tambahnya, PT. INKA sangat membutuhkan sentuhan-sentuhan dari ilmuwan sosial dan politik, terutama dalam hal strategi penjajakan dan membangun kerja sama berkelanjutan dalam pemasaran kereta api ke seluruh dunia. “Kami membutuhkan ilmuwan sosial dan politik, yang dapat memiliki peran sebagai analis pasar negara tujuan, seperti melihat perkembangan ekonominya, potensi ekonomi, pasar, serta persaingan dengan kompetitor,” tandasnya. Sementara itu, Staf Bagian Sumber Daya Manusia PT. INKA Rangga Sukmantara memberi pemaparan berkaitan dengan sistem manajemen PT. INKA serta bagaimana relasi aktivitas industri PT. INKA dengan Hubungan Internasional. “PT. INKA banyak melakukan kerjasama dengan negara dan perusahaan luar negeri. Saat ini, PT INKA menjajaki kerjasama dengan negara Nigeria, Zimbabwe, dan Mesir dalam pengadaan transportasi berbasis rel,” ungkapnya. Lebih lanjut, pihaknya membuka peluang bagi penjajakan kerjasama dengan Prodi HI UMM. Pihak PT. INKA bahkan mengaku bersedia untuk memberikan perkuliahan sebagai dosen tamu untuk mata kuliah di Prodi HI UMM, seperti Bisnis Internasional, Diplomasi, dan kajian kawasan. Selain itu, PT. INKA membuka peluang untuk magang bersertifikat bagi mahasiswa selama 6 bulan. Pada kesempatan itu, rombongan Prodi HI UMM juga memperoleh kesempatan tur industri mengelilingi halaman PT INKA sambil melihat proses produksi beberapa lokomotif, kereta, dan gerbong pesanan dalam dan luar negeri seperti milik Bangladesh, serta pesanan dari Philippine National Railways. Dosen Prodi HI Haryo Prasodjo, MA selaku ketua rombongan menyampaikan bahwa kunjungan industri ke PT. INKA ini memberikan perspektif baru bagi mahasiswa HI bahwa kereta api bukan sekadar moda transportasi. Namun,kajian tentang kereta api juga memiliki relevansi dengan kajian Hubungan Internasional kontemporer. Menurutnya, kunjungan industri ini perlu ditindaklanjuti dalam bentuk kerja sama untuk pengembangan atmosfer akademik di Prodi HI UMM. (hry/can)

Sisihkan Ratusan Pesaing, Mahasiswa UMM Raih Gold Medal di Singapura

PERTANIAN tak lagi harus dikelola secara manual. Pengembangan sektor pertanian ternyata bisa mengikuti perkembangan zaman yang serba digital. Pemikiran semacam itulah yang akhirnya membawa sekelompok mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mendapatkan medali emas (Gold Medal) pada ajang Advanced Innovation Global Competition (AIGC) di Nanyang Tecnological University, Singapura, Minggu 17 November 2019 lalu. Adalah Faza Abdurrahman Fiddin, Siti Agus Tina, Zellin Maylinda Rizky Islami, Anisa Nur Utami, dan Nikmatul Rizky Isroikha yang dibimbing Erfan Dani mampu bersaing dengan ratusan peserta dari berbagai negara untuk menciptakan Integrated Electrical Accelerator Plant Growth With Led Cultivation And Indigenous Microbial Fertilizers Controlled Irrigation System On Smart Farming Technology. Inovasi teranyar di bidang pertanian ini diprediksi akan menjadi model pertanian modern di masa depan. Prospek pengembangan pertanian semakin terbuka lebar dengan terus meningkatnya kebutuhan pangan dunia. Namun, di sisi lain, terjadi pengurangan ketersediaan pangan yang berkualitas dan bersih dari bahan kimia sebagai bahan pangan yang baik bagi kesehatan. Penerapan inovasi ini dapat digunakan dalam pertanian skala besar maupun kecil, sehingga harapanya dengan ide ini, pertanian Indonesia mampu menyediakan bahan pangan sehat dan dapat menjaga ketahanan pangan. Baca juga: Puluhan Mahasiswa Asing Belajar Teknik Membatik ala Jepang di UMM Faza, salah satu anggota kelompok mengungkapkan, prototipe alat yang dibuat menggunakan media tanam cocopeat dan sebuah alat yang terbuat dari akrilik yang menambah kesan futuristik dalam ruangan atau rumah. Sistem pengairannya menggunakan metode irigasi tetes. ”Yang dapat dikontrol melalui smartphone merupakan iklim mikro tanaman. Mulai dari kelembaban dan temperatur sekitar tanaman, kebutuhan air, hingga intensitas cahaya,” ungkap Faza (20/11). Faza meyakini, teknik ini akan menjadi gaya hidup baru masyarakat urban, setelah sebelumnya banyak yang mulai bertanam tanpa tanah dengan cara hidroponik. Melalui inovasi itu, bercocok tanam akan lebih mudah, menyenangkan, efisien waktu, tidak memerlukan pekarangan, serta akan mendapatkan pangan organik yang sehat, karena bebas hama, pestisida, dan pupuk kimia. ”Meski sedang bepergian, dapat tetap memantau pertumbuhan tanaman dari jarak jauh melalui gawai di tangan,” katanya. ”Ke depannya alat ini dapat membantu masyarakat urban untuk menyediakan makanan organik di rumahnya. Dengan aktivitas tinggi masyarakat urban, mereka tetap dapat bertani hanya dengan mengontrol menggunakan smartphone mereka,” ujar Faza. Bahkan, lanjut Faza, alat ini juga mampu mempercepat pertumbuhan tanaman menggunakan medan elektromagnetik dan bakteri sebagai pupuk penyedia nutrisi tanaman. Inovasi inilah yang pada akhirnya banyak dilirik sejumlah kalangan. Baca juga: Cerita Lulusan UMM yang Jadi Dokter di Usia 20 Tahun Diterangkan mahasiswa program studi Agroteknologi semester tujuh ini, dibuatnya teknologi ini untuk membuktikan bahwa pertanian dapat diterapkan berbasis teknologi industri 4.0 yang dituntut untuk digitalisasi semua bidang. Selain itu, lanjutnya, untuk menyediakan bahan pangan segar organik dengan pertumbuhan yang cepat. Pasalnya, jika pertanian manual, menanam sayur, misalnya, akan memerlukan waktu sekitar 21 hari untuk panen. Hanya dengan alat ini, panen bisa dilakukan pada 12-14 hari. Ditanya lebih jauh soal kemungkinan bakal diproduksi masal alat inovatif temuan mahasiswa UMM ini, mereka mengaku optimis. ”Produksi massal tentu bisa. Kendala untuk pemasaran adalah akan bersaing dengan produk pertanian tradisional dan pemahaman keunggulan dari alat ini serta hasil dari produknya. Biaya yang diperlukan untuk membuatnya sekitar Rp 500 ribu untuk satu alat,” tambah Faza yang juga aktif di lembaga penalaran setingkat fakultas, lembaga semi otonom Hipotesa FPP UMM. Dikatakan pembimbing tim, persiapan yang mencakup perancangan alat, pembuatan desain, pembuatan power point untuk presentasi, serta poster dan brosur exhibition, selain itu juga koordinasi tim, pembagian job description, dan pembagian managerial yang baik dalam satu tim ini merupakan kunci keberhasilan tim yang menamakan diri Elli ini. Tidak hanya itu, Erfan berharap bahwa mahasiswa UMM terkhusus tidak perlu takut untuk mengembangkan diri dengan mengikuti perlombaan internasional. (*Can)

Fakultas Psikologi UMM, Berikan Materi Psikodukasi Bagi Mahasiswa Baru

Fakultas Psikologi Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) mengadakan kegiatan Psikoedukasi Karir yang diadakan di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 oleh mahasiswa semester 5 kelas A angkatan 2017, dalam rangka memenuhi mata kulah pengembangan diri dan karir pada minggu 10 November lalu. Dikoordinir dari ketua tingkat masing-masing kelas, peserta yang ikut merupakan hasil dari screening. Dengan materi satu yang disampaikan Danella Victoria Putri Hastikatentang mengembangkan potensi diri “ bagi mahasiswa yang sudah terlanjur berkecimpung di jurusan yang tidak mereka sukai, pasti ada kelebihan dibidang lain yang menonjol” jelas Danella. Dilanjutkan materi 2 tentang pengenalan profesi oleh Alfian Wahyu Pangestu, “ didalam era 4.0 pastinya kita harus sering menambah wawasan dan pengetahuan yang luas mengenai karir-karir yang bisa didapatkan” tambah Alfian. Selain itu, para peserta diajak untuk membentuk group discussionmembentuk5 kelompok, masing-masing 6-8 orangdimana pada masing-masing grup di dampingi oleh para fasilitatoryang juga merupakan anggota kelompok. Pada tahap ini, para peserta dipersilahkan untuk memberikan atau mengajukan pertanyaan terkait materi yang sudah disampaikan selama 30 menit Tujuan dan manfaat dari kegiatan ini adalah mengedukasi para generasi muda dengan memberikan pengetahuan serta pemahaman mengenai pengembangan potensi dir, mampu memahami secara kognitif mengenai bagaimana mengembangkan potensi diri dan pemahaman salah jurusan, agar nantinya mampu menghasilkan berbagai pemikiran yang solutif dan inovatif terkait permasalahan yang menjadi latar belakang dalam kegiatan ini. Serta penting dilakukan untuk memberikan keyakinan pada mahasiwa baru yang merasa salah jurusanagar mampu mengembangkan potensi yang mereka miliki untuk menjadi bekal dalam meniti karier nantinya, serta mengetahui karier-karier yang saat ini sedang berkembang agar tidak stuckdengan pemikiran salah jurusan dan bingung saat dihadapkan oleh banyaknya pilihan karier setelah lulus dari UMM nanti.Fakultas Psikologi Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) mengadakan kegiatan Psikoedukasi Karir yang diadakan di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 oleh mahasiswa semester 5 kelas A angkatan 2017, dalam rangka memenuhi mata kulah pengembangan diri dan karir pada minggu 10 November lalu. (yas)

Puluhan Mahasiswa Asing Belajar Teknik Membatik ala Jepang di UMM

Sebanyak 48 mahasiswa asing Lembaga Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) diperkenalkan berbagai teknik membatik. Agenda itu berlangsung di Auditorium BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (16/11) siang. Para mahasiswa asing ini berasal dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya UMM 21 orang, UIN Malang, Unisma, dan Universitas Ma Chung yang masing-masing membawa 9 orang. Kali ini, mahasiswa dari berbagai negara dikenlakan teknik Shibori. Shibori adalah sebuah kesenian di Jepang dalam hal pewarnaan kain. Teknik pewarnaan dilakukan dengan mencelupkan kain pada zat pewarna alami dan memberikan ‘perlindungan’ pada bagian kain tertentu yang tidak ingin diwarnai. Teknik ini, perlindungan pada bagian tertentu dilakukan dengan melilit, melipat, atau mengikatnya dengan benang. “Adapun alat dan bahan yang bisa digunakan dalam membuat batik Shibori yakni Kain Putih Batik atau yang biasa disebut dengan Primisima, pewarna batik Remasol, Karet gelang, Tali Rafia, Botol Aqua yang tutupnya berlubang, Botol Aqua gelas, Kelereng atau Batu kecil, Air Secukupnya, Tas Kresek dan Waterglass,” ungkap Belinda Dewi Regina, staf pengajar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM selaku pemateri. Wanita yang juga dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini menjelaskan lebih jauh bahwa pembuatan batik dengan teknik Shibori cukup sederhana. Karena si pembuat dapat memanfaatkan beraneka ragam barang yang ada disekitar. Teknik ikat celupnya pun tergantung dari si pembuat, ingin membentuk pola yang seperti apa. “Jadi, mereka bisa membuat motifnya dengan sesuka hati,” sambung Belinda. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UMM bekerjasama dengan lembaga BIPA UMM ini, tak hanya melakukan workshop pembuatan Batik saja, tetapi terdapat pameran karya mahasiswa berupa Koran Mahasiswa (Kobama, Oasis dan Cakrawala), kliping opini mahasiswa PBSI UMM, kliping esai, serta empat buah buku karya mahasiswa PBSI UMM. Agenda tahun bertajuk Nusantara Mendunia: “Kearifan Lokal di Mata Internasional” ini mendapat respon positif. “Saya sangat bahagia mengikuti kegiatan ini, karena saya bisa membatik dengan warna-warni (warna yang beragam) dan terima kasih telah mengajak kami ikut (berpartisipasi) dalam kegiatan ini,“ jelas Ton Thi Thuy Trang yang berasal dari Vietnam, Mahasiswa program BIPA UMM saat ditemui di sela-sela kegiatan. (riz/can)

Cerita Lulusan UMM yang Jadi Dokter di Usia 20 Tahun

Syuna Salimdra, seorang dokter berusia 20 tahun baru saja melangsungkan pelantikan dan pengambilan sumpah dokter ke-40 Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tanggal 26 oktober 2019 lalu. Dokter asal Banjarmasin ini diambil sumpah bersama 67 dokter lainnya yang telah menuntaskan pendidikan profesi dokternya. Syuna lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) dengan nilai sangat memuaskan. Putra pasangan Buntoro Salimdra dan Marzuqoh ini tak hanya menjadi dokter termuda, namun dokter yang lahir pada 8 Mei 1999 ini berhasil meraih nilai terbaik UKMPPD Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dengan nilai 42,08 bersama dr. M. Ilham Akbar. Sedangkan untuk UKMPPD Computer Based Test (CBT) terbaik diraih oleh dr. Rika Oktania Sari dan dr. Nungki Samahah Kurniawati dengan nilai 88,5. Untuk nilai IPK profesi terbaik dengan nilai 3,80 diraih oleh dr. Dzaky Ramadhan Hidayat. Angka kelulusan periode ini cukup memuaskan yaitu 93%, dan saat ini FK UMM tercatat telah meluluskan 1.269 dokter. Selama proses pendidikan profesi, dokter yang hobi mendengarkan musik ini sempat mengalami kesulitan. Namun berkat usaha disertai dorongan orang tua dr. Syuna mampu melalui kendala tersebut. “Stase yang paling berat menurut saya adalah stase Puskesmas, karena tugasnya yang cukup banyak ditambah dengan jadwal jaga yang padat. Tapi, Alhamdulillah, semua sudah terlewati.” tuturnya. Cita-citanya menjadi dokter sudah muncul sejak kecil. Syuna mengaku intensitasnya bertemu dengan dokter anaklah yang membuatnya tertarik menjadi dokter. Kini mimpi telah tercapai, dr. Syuna berharap bisa menjadi dokter yang berguna bagi banyak orang, yang benar-benar membantu orang lain dengan keilmuan yang dimiliki, serta membuat bangga keluarga, teman, dan kerabat. Proses akademiknya berlangsung cepat karena ia mengikuti kelas akselerasi dari tingkat SD, SMP hingga SMA. Kemantapannya memilih Fakultas Kedokteran (FK) sudah ia tetapkan sejak duduk di bangku SMA. Bagi Syuna, dokter merupakan pekerjaan sangat mulia karena bisa menolong banyak orang. “Saya melihat dokter dapat menyelamatkan hidup banyak orang, dari situ kemudian ketertarikan saya dimulai,” ungkapnya. Ketika SMA, Syuna mengaku tak ada metode khusus dalam belajar, selain rajin dan tekun. Ketika memasuki perguruan tinggi, tempo belajarnya ia sesuaikan. Selama lima semester, Syuna dipercaya untuk menjadi asisten dosen di laboratorium skill FK UMM. “Saya jadi asisten dosen mulai semester tiga sampai semester tujuh. Ternyata mengajar enak juga, apa yang diajar bisa lebih mudah diingat,” ujar pria yang bercita-cita menjadi dokter spesialis anastesi ini. Syuna membuat tugas akhir dengan mengangkat fenomena penjual makanan yang menggunakan minyak jelantah untuk menggoreng. Dengan mengangkat judul “Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Pepaya Terhadap Perbaikan Histopatologi Sel Hepar Tikus Putih Yang Diinduksi Minyak Jelantah”, Syuna mencoba meneliti kerusakan hati yang disebabkan konsumsi makanan yang digoreng dengan minyak jelantah. Pria yang sempat aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK UMM ini menjelaskan, penelitiannya ini bisa dimanfaatkan untuk manusia. Menurutnya, hati tikus memiliki kerja yang sama dengan hati manusia. Sehingga, jika konsumsi minyak jelantah secara terus menerus dapat merusak hati tikus, maka juga dapat merusak hati manusia. “Jika ekstrak daun pepaya dapat mencegah kerusakan lebih lanjut pada hati tikus maka demikian halnya pada hati manusia,” jelas Syuna. (ysn/zak/can)

LSP UMM Siap Jadi Tempat Uji Kompetensi Mandiri Penyuluh Anti-Korupsi

Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) tengah menggodok skema sertifikasi penyuluh anti-korupsi pratama. Skema ini termasuk dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan yang kemudian diajukan ke Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Untuk menyelenggarakan skema sertifikasi penyuluh anti-korupsi pratama, UMM sendiri telah menarget menjadi Tempat Uji Kompetensi (TUK) Mandiri. Syaratnya, asesor dari UMM harus lulus sertifikasi skema uji kompetensi penyuluh anti-korupsi pratama yang diselenggarakan oleh LSP lembaga anti rasuah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dr. Ihyaul Ulum, S.E., M.Si., Ak, CA. selaku Direktur LSP UMM berharap agar dosen dari UMM bisa lolos sertifikasi assesor. “Karena jika ada dosen yang lolos uji sertifikasi, kita dapat mendirikan TUK Mandiri dan bisa menyeleksi peserta di kalangan civitas UMM dan kita bina sendiri menjadi penyuluh anti-korupsi,” ucap Ulum, Rabu (13/11). Sementara, UMM baru ditunjuk sebagai Tempat Uji Kompetensi Sewaktu (TUKS) yang diadakan di tanggal 5-7 November lalu. Peserta yang lolos e-learning dan screening sebanyak 19 orang dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia turut hadir mengikuti tes, termasuk dari UMM ada 3 dosen, yakni dari Fakultas Hukum dan Prodi PPKn. Pada Mei 2019 LSP UMM terpilih sebagai percontohan lembaga sertifikasi profesi penerima hibah retooling vokasi. Ketika itu, Kampus Putih UMM telah mengikutsertakan ratusan mahasiswanya mengikuti uji kompetensi Program Retooling Pendidikan Tinggi Vokasi Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti RI. “LSP UMM lahir dengan visi menjadi lembaga yang unggul, profesional, dan kompeten agar mahasiswa memiliki kompetensi yang berdaya saing yang berasal skema kompetensi yang relevan dan berkualitas serta asesor kompetensi yang kompeten dan profesional yang berawal dari tata kelola kelembagaan yang modern,” tandas Ulum. (yas/can)

Prodi Teknik Informatika UMM Raih Akreditasi A, Bersiap Songsong Akreditasi Internasional 2020

Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) berhasil meraih akreditasi A (sangat baik) setelah sebelumnya hanya mendapat peringkat B (baik) di tahun 2014. Pengumuman ini dirilis oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada 6 November 2019 lalu. Setidaknya terdapat tujuh standar aspek penilaian dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), yakni terkait visi misi, tata kelola, kemahasiswaan, sumberdaya manusia (SDM) karyawan, dosen maupun mahasiswa, kurikulum dan sarana prasarana. Oleh karena itu Prodi Teknik Informatika membentuk tim task force. Selain itu demi memudahkan proses visitasi terkait klasifikasi, verifikasi, dan validasi data serta informasi penilaian asesor dari BAN-PT, pihak Prodi Teknik Informatika telah membuat Sistem Informasi Manajemen Akreditasi (SIM-Akreditasi), di mana data-data terkait berbagai aspek penilaian akreditasi tersebut dapat diakses oleh tim asesor. Agar proses penilain berlangsung maksimal, mereka juga melakukan simulasi. “Simulasi dilakukan semirip mungkin dengan proses penilaian vitisasi asesor. Tujuannya supaya kita lebih mempersiapkan data-data borang dengan matang,” ucap Gita Indah Marthasari, S.T., M.Kom, ketua Prodi (Kaprodi) Teknik Informatika UMM. Saat ini Prodi Teknik Informatika berada pada tahapan pencapaian daya saing nasional (national competitiveness). “Target yang ingin kami tuju ialah bagaimana kita menginternasionalisasi, yang artinya sumberdaya manusia seperti dosen, karyawan dan mahasiswanya juga harus terinternasionalisasi,” tandas Gita, Selasa (12/11). Memiliki 1500 mahasiswa Prodi Teknik Informatika, Gita memiliki harapan untuk seluruh mahasiswanya agar lulus tepat waktu dan bekerja di bidang keahlian masing-masing. Mengingat Prodi Teknik Informatika memiliki empat profil konsentrasi, yakni pengembang game, ilmuan data, rekayasa perangkat lunak dan administrator jaringan. Ke depan, pada tahun 2020 Prodi Teknik Informatika bakal mengikuti akreditasi internasional dari Indonesia Accreditation Board for Engineering Education (IABEE) yang merupakan akreditasi mandiri, didirikan sebagai bagian dari Persatuan Insinyur Indonesia dan dibantu oleh Japan Accreditation Board for Engineering Education. (yas/can)

UMM Masuk Kluster Unggul untuk Kinerja Pengabdian kepada Masyarakat

Berdasarkan pemeringkatan Perguruan Tinggi berbasis Kinerja Pengabdian kepada Masyarakat periode tahun 2016-2018 oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) termasuk ke dalam kluster Unggul. Klusterisasi didasarkan pada hasil penilaian kinerja Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi dan surat keputusan Dirjen Penguatan Risbang nomor 29/E/KPT/2019 tanggal 27 September 2019. UMM sendiri berada di peringkat 18, mengungguli peringkat kinerja pengabdian kepada masyarakat Perguruan Tinggi Swasta (PTS) lainnya, juga Perguruan Tinggi Negeri seperti Universitas Andalas (peringkat 20), Universitas Negeri Surabaya (peringkat 23), Universitas Negeri Makassar (peringkat 24), bahkan Universitas Indonesia (peringkat 21). Masuknya UMM ke kluster Unggul, membuktikan pengakuan pemerintah Indonesia dalam hal ini Kemenristekdikti bahwa kinerja UMM sangat sesuai dengan standar. Pengabdian kepada masyakarakat yang dilakukan oleh dosen UMM perlu dilihat dari perspektif sebagai berikut: Pertama, pengabdian merupakan implementasi sinergitas antara 5 unsur yang disebut pentahelex yang meliputi unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pengusaha, dan media. “UMM punya komitmen, apa yang dihasilkan oleh dosen di bidang akademik, misalnya riset, harus memberi kemanfaatan antara lain bagi masyarakat,” ungkap Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin. Kedua, pemberdayaan atau empowering terhadap masyarakat. Ada banyak kegiatan pengabdian yang dilakukan dosen dan mahasiswa Kampus Putih UMM yang telah berdampak pemerdayaan terhadap masyarakat, misalnya di bidang pertanian dan energi seperti Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang diterapkan di sejumlah daerah. Intinya, kembali ditegaskan Syamsul, kegiatan akademik jangan sekedar menjadi menara gading, tetapi harus bernilai praksis terhadap masyarakat. Aspek yang dinilai dari pengabdian masyarakat ialah Sumberdaya Manusia (SDM) pengabdian 25 persen, manajemen pengabdian (pengelolaan DPPM) 20 persen, luaran atau produk seperti apa yang dihasilkan pengabdian 45 persen. Produknya dihasilkan melalui beberapa skema seperti KKN-PPM, pendampingan desa, serta pengabdian unggulan daerah. Pendanaannya mencapai 50-60 juta setahun, dan bisa mencapai 100 juta untuk multi tahun, seperti pendampingan desa mitra dan unggulan daerah. Wakil Direktur I Bidang Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM Dr. Vina Salviana Darvina S, M.Si. menyatakan, UMM mempunyai skema pengabdian internal yang model skemanya diklaim setara dengan standar penilaian Kemenristekdikti. Sehingga sebelum diajukan ke Kemenristekdikti, proposal yang diajukan akan melalui tahapan dan seleksi ketat oleh DPPM UMM agar berpeluang besar mendapat pendanaan. (*)