Ciptakan Helm Pintar, Mahasiswa UMM Sabet Bronze Medal di Korea Selatan

Bermula dari keprihatinan atas banyaknya kecelakaan lalu lintas yang tidak segera tertangani pada pengguna kendaraan roda dua atau sepeda motor, Tito Setyawal Putra dan Dwi Puji Laksono, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini membuat helm pintar yang secara otomatis mengirim koordinat Global Positioning System (GPS) saat pengendara mengalami kecelakaan lalu lintas. Inovasi garapan mahasiswa Fakultas Teknik ini meraih bronze medal di ajang inovasi tingkat dunia Seoul International Invention Fair (SIIF) 2019. Lewat helm pintar yang dinamakan IOSHEL (Iot Smart Helmet), mereka berjaya di ajang yang diselenggarakan oleh Korea Invention Promotion Association (KIPA) dan didukung International Federation of Inventors’ Association (IFIA), 30 November 2019 di Korea Selatan. Menurut data Global Status Report on Road Safety (WHO, 2015) setiap tahun di seluruh dunia, lebih dari 1,25 juta korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas dan 50 juta orang luka berat. Dari jumlah ini, 90% kecelakaan terjadi di negara berkembang, di mana sebanyak 54%-nya merupakan jumlah kendaraan yang terdaftar di dunia. Kecelakaan lalu lintas ini menjadi pembunuh terbesar kedua di dunia. “Jumlah pengguna sepeda motor sangat banyak. Sementara menurut data WHO, transportasi roda dua inilah yang paling sering terjadi kecelakaan. Sering kali terjadi kecelakaan yang tidak diketahui sehingga tidak bisa tertolong dengan cepat. Berangkat dari situ, tercetuslah ide ini. Para petugas pun bisa segera menemukan dan melakukan penanganan segera,” ungkap Tito Setyawal Putra diwawancarai Kamis (5/11). Helm ini dilengkapi dengan sollarcell sebagai pengisian daya dan dapat juga diisi dayanya (charging) dengan menggunakan pengisi daya handphone. Kapasitas baterai nya 1100 MAh yang bisa bertahan sekitar 24 jam ketika digunakan dalam berkendara. Mereka berharap IOSHEL ini dapat diproduksi masal oleh perusahaan di Indonesia. Temuannya bersama rekannya ini dibimbing oleh dosen Dr. Lailis Syafa’ah MT. Cara kerjanya, helm tersebut akan secara otomatis mengirimkan koordinat GPS ke aplikasi Telegram dan SMS biasa ke nomor yang telah di daftarkan (bisa ke polisi, keluarga, ataupun rumah sakit) secara otomatis ketika terjadi kecelakaan. Helm ini akan mengirim data berupa koordinat lokasi kecelakaan dengan 3 indikator yang ada yakni getaran, kemiringan, dan percepatan. Lokasi kendaraan akan segera diketahui. Di ajang ini, para penemu dan peneliti memamerkan ide dan produk baru kepada produsen, investor, distributor, perusahaan lisensi dan masyarakat umum. “Kendala kita selama perakitan alat inipun banyak. Selain harus belajar lagi tentang elektronika dan pemrogaman, karena kita jurusan Teknik Mesin, kendala kami juga dari beberapa komponen yang tidak ada di Indonesia sehingga kita harus pesan di luar,” tandasnya. Kemenangan ini menyusul raihan mahasiswa UMM tahun sebelumnya. Adalah Haryo Widya Damawan yang mendapat raihan bronze medal untuk inovasi alat penurun temperatur ban pengangkut barang yang diberi nama Tyrender. Inovasi ini lantas makin disempurnakan sehingga menang di ajang iENA International Trade Fair Ideas Inventions New Products 2019 pada 3 November di Messe Nürnberg, Jerman. (riz/can)
Teknologi Smart Tongkang Karya Mahasiswa UMM Siap Unjuk Gigi di Jepang

GARAM termasuk mineral yang dapat diperbaharui dan jumlahnya tidak terbatas. Indonesia dengan iklimnya yang tropis dan garis pantai yang panjang menjadi negara dengan potensi produksi yang menjanjikan. Di sisi lain, penggunaan garam domestik dan dunia terus meningkat. Untuk menutupi kekurangan itu maka dilakukan impor. Pada tahun 2018 impor garam Indonesia mencapai 3,7 juta ton dengan nilai 83,6 juta USD, dan 2019 impor garam dialokasikan 2,7 juta ton. Alasan yang disampaikan Pemerintah karena produksi dan kualitas garam lokal Indonesia tidak mencukupi kebutuhan industri domestik, baik untuk kepentingan industri ataupun pangan. “Artinya negara mengeluarkan Rp1,34 Triliun untuk impor garam. Dengan biaya impor sebesar itu, sementara petani garam jauh dari kata sejahtera,” ungkap Zehandana Khatami Rasyid, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerangkan proposalnya yang bakal diperlombakan di ajang inovasi di Jepang. Inovasi ini bakal unjuk gigi di ajang inovasi tingkat dunia Advance Innovation Jam (AI-JAM) di Tokyo, Jepang pada 8 Desember mendatang. Smart Tongkang akan disesuaikan namanya menjadi Smart Barge. Diharapkan karya ini dapat mendulang kesuksesan seperti halnya karya lainnya di Korea Selatan dan Jerman baru-baru ini. Peserta yang ikut yakni siswa setingkat SMA hingga perusahaan yang merupakan penemu teknologi, termasuk artificial intellegent, big data, robotika dan lainnya. Melalui INNOPA (Assosiasi Promosi Penemuan dan Inovasi Indonesia) UMM maju dengan 17 tim dari Indonesia lainnya setelah membuat deskripsi dan abstrak terkait karya tersebut. “Kurangnya pendampingan dari ahli dan eksploitasi tradisional yang kurang maksimal punya beberapa kekurangan. Seperti kepemilikan lahan terbatas, sangat tergantung pada cuaca dan efisiensi produksi yang rendah, menjadikan kualitas garam lokal kurang diminati industri,” dilanjutkan Zehandana saat ditemui Selasa (3/12) siang. Menurut mahasiswa yang baru pertama kali ikut ajang internasional ini, diperlukan solusi berupa pernambahan lahan yang fleksibel namun membantu percepatan produksi garam yang sesuai standar layak. Sehingga bisa dipindah-pindah dan didekatkan menuju pabrik, sehingga mengurangi biaya transport dan operasional truk. “Solusi berupa penambahan lahan terapung menjadi masuk akal, karena bisa dipindah-pindah atau didekatkan menuju pabrik. Serta disematkan teknologi tambahan berupa control device android untuk mengetahui posisi, kadar air, temperatur, dan pengaktifan fitur mekatronika otomatisnya,” terangnya saat menjelaskan apa itu Tongkang Garam. Karena dilengkapi atap, cermin, generator kincir, sekop yang bisa dikendalikan otomatis, tongkang anti karat, tow hook, dan anchor membuatnya mudah dipindahkan. Sehingga pembuatan tambak garam hybrid diharapkan jadi solusi untuk membantu petani mempercepat pembuatan garam yang sesuai standar keperluan industri. Dengan rancangan tongkang ini diharapkan dapat menjawab masalah seperti keterbatasan lahan karena proses kristalisasi dilakukan di atas laut, kualitas garam yang bisa ditingkatkan seperti kebersihan, warna, penurunan kadar air, dan percepatan produksi yang semula 15 hari menjadi 8-10 hari karena rekayasa mekatronika. “Yang artinya produksi panen akan lebih cepat dengan kualitas yang lebih baik dan akan meningkatkan harga jual panen yang lebih tinggi. Harapannya solusi ini akan menjadi penyebab berhentinya impor garam yang dilakukan pemerintah. Kami sedang menyusun dokumen paten untuk produk ini,” pungkas Zehandana, anggota tim ini. Zehandana tak berjuang sendirian. Ia bersama kedua temannya satu jurusannya di Teknik Mesin. Yakni mahasiswa UMM yang pernah memenangkan kompetisi di Korea Selatan dan Jerman Haryo Widya Darmawan (angkatan 2015), dan sang adik kandung Haryo, Annisa Widya Nurmalitasari (angkatan 2017). Mereka optimis menang. Inovasi ini pernah menang di ajang teknologi Nasional seperti Juara II karya tulis ilmiah yang diadakan APSTM-PTM (Asosiasi Program Studi Teknik Mesin Perguruan Tinggi Muhamadiyah), LNTRBM ( Lomba Nasional Tahunan Rancang Bangun Mesin) yang diadakan oleh BKSTM (Badan Kerja Sama Teknik Mesin) dan masih banyak lainnya. Prototype yang dibuat dan dipersiapkan selama satu bulan lamanya ini menggunakan fasilitas yang terdapat di Lembaga Semi Otonom Mekatronik UMM. Dibimbing oleh Dra. Rr. Heni Hendaryati, MT, diharapkan selain diikutkan di ajang perlombaan nasional maupun internasional, karya ini akan benar-benar bermanfaat bagi petani garam. (mir/can)
Semnas FEB UMM: Bahas Masa Depan Fintech di Indonesia

Di era di mana segalanya terhubung melalui internet, seluruh aspek kehidupan manusia mulai bertransformasi. Termasuk sistem perbankan. Henry Wahyu selaku Manager Jawa Timur PT Finarya yang mengembangkan financial technology (fintech) Link Aja mengatakan bahwa meskipun fintech belum menyentuh seluruh warga negara Indonesia, namun perkembangannya merupakan keniscayaan. Disampaikan dalam Seminar Nasional (Semnas) “Menyiapkan Sumber Daya Manusia Perbankan yang Adaptif terhadap Financial Technology”, Rabu (4/12), Henry mengajak seluruh mahasiswa Perbankan menyiapkan diri. Seminar yang digelar oleh Asosiasi Prodi D-III Keuangan dan Perbankan Indonesia (ADIKPI) dan Himpunan Mahasiswa Keuangan dan Perbankan Indonesia (HMKPI) itu fokus membahas masa depan fintech. “Meskipun dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 150 juta masih sepuluh juta orang saja yang menggunakan fintech, namun perkembangan fintech begitu signifikan,” jelas Henry. Henry mengatakan bahwa sampai saat ini hampir separuh total penduduk Indonesia belum mempunyai kartu kredit. Namun dengan mudahnya mengakses internet melalui smartphone, seluruh penduduk Indonesia lambat laun bisa didekati. Pada tahun 2030 Indonesia akan mendapat bonus demografi yaitu jumlah penduduk usia produktif lebih tinggi daripada yang tidak. Pada saat itu diperkirakan mayoritas penduduk Indonesia sudah melek teknologi. Maka perkembangan fintech akan semakin mulus. “Maka dari itu kalian harus siap-siap mulai sekarang untuk menyambut perubahan yang akan mengubah sistem perbankan konvensional,” tegas Henry. Pada kesempatan tersebut Wakil Rektor III Dr. Sidiq Sunaryo, mengajak selutuh civitas akademika UMM untuk mulai membuka wawasan dan ikut bergabung dalam perubahan zaman. Terjun ke masyarakat untuk ikut membawa mereka bisa menghadapi zaman yang tidak akan pernah berhenti berubah. “Banyak sekali masyarakat yang masih asing terhadap perubahan zaman yang terjadi sekarang,” tandasnya dalam sambutan. (usa/can)
Dosen UMM Terpilih Jadi Ketua 2 Organisasi Kesehatan

Dr. dr. Febri Endra Budi S, MKes, dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terpilih sebagai ketua umum Badan Kerja Sama Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Ilmu Kedokteran Pencegahan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Se Indonesia (BKS IKMIKKIKP) dan Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI). Febri terpilih pada perhelatan Musyawarah Nasional VI BKS IKM/IKK/IKP-Kongres Nasional V PDK3MI dan Simposium Nasional Kesehatan Masyarakat 2019 yang berlangsung selama dua hari (26-27/11) di Hotel Atria Malang. “Jadi BKS IKMKKIKP dan PDK3MI adalah dua organisasi besar di bidang Kedokteran yang pada acara ini akhirnya dipersatukan. Setelah dilantik oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), kita akan menyatukan visi dari dua organisasi ini. Setelah itu baru kita tingkatkan fungsi organisasi agar keberadaan kami lebih bermanfaat di bidang kesehatan, khususnya di Indonesia,” ujar dr. Febri saat ditemui sela-sela kesibukan acara. Selain itu, menurut dr. Febri, sebagai bagian dari tulang punggung Kementerian Kesehatan, peran Promotif (Promosi Kesehatan/Penyuluhan) dan Preventif kesehatan (Pencegahan dalam masalah kesehatan) harus lebih dikembangkan tanpa meninggalkan peran Kuratif (Pengobatan/Pelayanan) dan Rehabilitatif (Pengendalian/Pengembalian). Munas dan Kongres dihadiri oleh ketua umum BKS IKMIKKIKP yakni Dr. dr. Herqutanto, MPH., MARS., Sp.DLP. dan Sekjen PDK3MI Dr. Arif Alamsyah , MARS. Tercatat ada 54 Fakultas Kedokteran se-Indonesia, baik negeri maupun swasta yang hadir. Di antaranya Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Lampung, Universitas YARSI Jakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Hasanuddin hingga Universitas Nusa Cendana Kupang. “Mudah-mudahan Simposium Nasional ini memberikan pencerahan dan wawasan kepada kita. Karena mau tidak mau itu harus kita laksanakan. Sehingga tidak perlu tumpang tindih fungsi Puskesmas maupun Rumah Sakit yang bermuara untuk kesehatan masyarakat,” tandas Dr. dr. Meddy Setiawan, Sp.PD Dekan FK UMM dalam sambutannya. (Riz/Can)
Napak Tilas Sejarah UMM Sambil Mancing dan Uklam Santuy

SEMARAK prosesi Milad ke-55 tahun Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semakin meriah. Setelah penyelenggaraan Turnamen Golf di bulan Oktober lalu, kali ini diselenggarakan mancing dan jalan santai (Uklam Santuy), Minggu (1/12). Uniknya, kedua event ini dijadikan momen khusus untuk menapak tilas sejarah UMM dari masa ke masa. Termasuk berbagai raihan, kiprah, dan kontribusi kampus yang dikenal dengan sebutan Kampus Putih ini untuk memajukan umat dan Bangsa. Agenda mancing sendiri diadakan di danau depan Gedung Kuliah Bersama kampus III UMM. Saat acara berlangsung, sisi kolam dipenuhi warga sekitar Kampus III UMM, civitas akademika UMM, dan awak media. Mereka saling berlomba untuk memperebutkan berbagai hadiah menarik. Termasuk penyelenggaraan Uklam Santuy atau jalan santai yang diikuti ribuan peserta. Peserta diajak ke rute tak biasa, yakni ke rute-rute yang bahkan jarang dilalui civitas akademika UMM sendiri. Selaku koordinator acara Uklam Santuy, Jamroji, S.Sos., M.Comms, menjelaskan bahwa rangkaian acara ini sekaligus ingin memanfaatkan fasilitas sarana dan prasarana yang UMM miliki. “Seperti rute gerak jalan yang melewati Goa Satwa Taman Rekreasi Sengkaling UMM dan memancing di danau depan GKB I,” jelas Jamroji. Uklam Santuy dimulai dari depan GKB IV Kampus III UMM pada pukul 06.00 WIB, dibuka oleh Dr. H. Fauzan selaku Rektor UMM. Menariknya, para peserta diwajibkan membawa tumbler (botol minum) sendiri untuk mengurangi sampah plastic. Aksi ini juga untuk mengkampanyekan diet sampah plastik. Makan sarapan juga dibungkus dengan daun pisang, sehingga tidak menyisakan bungkus plastik. Disediakan pula kupon untuk diundi hadiah berupa perabot rumah tangga, rekening tabungan berisikan nominal tertentu, kupon menginap di Kapal Garden Hotel UMM, hingga pamungkasnya adalah sepeda bebek berjenis matic. “Luar biasa, acara kali ini saya rasa lebih ditujukan untuk kebersamaan. Selain acaranya berlangsung santai, juga tidak bikin banyak mikir. Kita juga bisa merayakannya sembari olahraga. Selaras dengan tagline nya, dari Muhammadiyah untuk Bangsa, semoga UMM terus mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkap Ermanu Azizul Hakim, salah-satu peserta Uklam Santuy saat ditemui di sela-sela acara. Selain untuk merekatkan persaudaraan sekaligus silaturahmi para civitas akademika UMM dan warga sekitar kampus III UMM, acara ini terbersit doa yang mewakili seluruh keluarga di lingkungan Kampus Putih. “Semoga tetap dapat membagikan ilmu yang barokah, tetap istiqomah, dan terus maju untuk kemaslahatan bersama,” tambah Musaffak S.Pd, salah satu peserta kegiatan Uklam Santuy. Tak sampai di sini, semarak peringatan Milad juga bakal dilanjut dengan kegiatan lainnya. Di antaranya sayembara karya masterpiece, sayembara business plan, sayembara karya kreatif video, sayembara karya kreatif Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), sayembara menulis surat untuk rektor dan banyak lainnya. Puncaknya, prosesi akan ditutup dengan agenda malam resepsi UMM Award dan Music Orchestra. (can)
Menko PMK Orasi di Wisuda UMM: Pendidikan Tinggi Penentu Kualitas Manusia Indonesia

Gelaran wisuda periode IV Tahun 2019 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dihadiri Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Menko PMK RI) Prof. Dr. Muhadjir Effendi, M.AP, Sabtu (30/11). Muhadjir memberi orasi ilmiah di hadapan 1514 lulusan dari berbagai jenjang, yakni Program Pendidikan Doktor (S3), Program Pendidikan Magister (S2), Program Pendidikan Sarjana (S1), Program Pendidikan Diploma Tiga (D3), dan Program Pendidikan Profesi. Dalam kesempatan itu, Muhadjir secara khusus membahas fokus pemerintah Presiden Joko Widodo di periode kepemimpinannya yang kedua, terkhusus terkait amanah yang dibebankan kepada Muhadjir. Ia menegaskan hal yang menjadi tugas Kementerian yang dipimpinnya terdapat di antara 9 poin misi Presiden Indonesia 2019-2024. Yakni peningkatan kualitas manusia Indonesia, pembangunan yang merata dan berkeadilan, serta kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa. “Karena itu, indikator makro yang akan menjadi ukuran dari Kemenko PMK yaitu, pertama tentang memerangi kemiskinan. Kedua adalah peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia, dan yang ketiga adalah memperkecil Indeks Gini Rasio (satuan untuk mengukur tingkat ketimpangan, red.),” demikian diungkapkan Muhadjir, tugasnya ini tidak bisa dikerjakan secara maksimal jika hanya dibebankan kepada satu pihak. Berbagai pihak termasuk perguran tinggi juga musti turut andil. Disebut Muhadjir, Rektor Kampus Putih UMM Periode 2000 hingga 2016 ini, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2019, kondisi ketenagakerjaan nasional tercatat sebanyak 2,55 juta angkatan kerja baru. “Sumber daya manusia angkatan kerja kita adalah 57,54% berpendidikan SD dan SMP sederajat, dan 30% pendidikan SMA/SMK sederajat. Sedangkan prosentasi angkatan kerja pendidikan Diploma, Sarjana dan S2 dan S3 hanya 12,4% saja,” sebut Muhadjir. Disebutnya, lulusan UMM yang saat ini diwisuda merupakan bagian dari 12,4% angkatan kerja yang sekarang ini akan siap memasuki dunia kerja. Adapun prosentase pengangguran terbuka saat ini adalah 5,28% atau 7,05%. “Jadi angka pengangguran terbuka kita cukup tinggi yaitu 7% lebih. Berdasarkan data tersebut dalam pendidikan ada dua hal yang menyebabkan terjadinya fenomena tersebut. Yakni masih terbatasnya akses dan rendahnya kualitas pendidikan tinggi kita,” tutur Muhadjir dalam orasinya. “Meski UMM saat ini sudah 12 tahun bertengger di puncak tertinggi untuk perguruan tinggi se-Jawa Timur. Tapi saya mohon untuk para pengelolanya tidak puas, harus terus mengejar ketertinggalan yang lain dan harus berada di depan. Kemudian yang lebih penting lagi adalah data ini menunjukkan bahwa pendidikan kita masih sangat perlu ditingkatkan dalam kaitannya dengan penguasaan sains teknologi engineering dan matematik atau yang biasa disebut STEM,” ungkap Muhadjir. Kehadiran Menteri Muhadjir juga sekaligus meninjau progres pembangunan unit bisnis baru milik UMM yakni Rayz Hotel Sengkaling. Seperti unit bisnis lainnya, Rayz Hotel Sengkaling sekaligus bakal dijadikan laboratorium terapan bagi civitas akademika Kampus Putih. Keberadaan Rayz Hotel Sengkaling menambah jumlah hotel yang dimiliki sebelumnya, yakni Kapal Garden Hotel di Taman Rekreasi Sengkaling UMM. Ditargetkan, pembangunan bakal rampung keseluruhan bulan Februari tahun depan. Ketua Badan Pembina Harian yang sekaligus Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI) Prof. Dr. H.A. Malik Fadjar, M.Sc mengingatkan, penyelenggaraan wisuda kali ini bertepatan dengan bulan lahirnya Muhammadiyah yang ke-107. Perjalanan Muhammadiyah tentu saja, selama 107 tahun ini, yang menjadi titik fokus perhatian adalah pembangunan sumberdaya manusia, sumber daya umat. Hal ini sejalan dengan upaya yang tengah diikhtiarkan Menko PMK RI. BaPada hakikatnya, jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah telah menempatkan posisi pembangunan sumberdaya manusia sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan umat dan bangsa. “Oleh karena itu, saya berpesan kepada wisudan dan wisudawati yang dikukuhkan kesarjanaannya, jangan lupa mengembangkan pembangunan sumberdaya manusia untuk menyongsong masa depan yang begitu dinamis dengan segala perubahannya,” pesan Malik. Dengan menukil salah satu ayat al Quran, Malik kembali berpesan untuk senantiasa mengembangkan pikiran-pikiran positif atau dalam bahasa Al Quran “khusnudzon”. “Itulah, modal yang sangat penting. Karena kalau kita mampu mengembangkan pikiran-pikiran positif, maka hidup kita menjadi produktif. Dan, Insya Allah, menjadi sehat wal ‘afiat dan selalu mengembangkan menabur kebajikan untuk kepentingan semua. Semoga gelar sarjana ini dapat melahirkan pikiran-pikiran lebih positif,” tandasnya. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dalam sambutannya menyampaikan prestasi yang diperoleh UMM dalam kurun tiga bulan terakhir. Mulai September hingga November, ada 44 prestasi berbasis lomba yang telah diraih mahasiswa UMM. Enam jenis prestasi tingkat regional, 32 prestasi tingkat nasional, dan 6 prestasi tingkat internasional. Sementara secara institusional, berdasarkan penilaian Kemenristekdikti terhadap kinerja penelitian, UMM tetap bertahan dalam klaster Mandiri. Begitupula kinerja dalam pengabdian kepada masyarakat, UMM berada dalam klaster Unggul. Selain penyelenggaraan wisuda yang ke-94 kalinya ini, sebelumnya pada tanggal 26 November 2019 Fakultas Teknik (FT) telah mengukuhkan 7 orang lulusan Insinyur (Ir.). Serta, pada 23 Oktober 2019 Fakultas Kedokteran (FK) telah melaksanakan Pelantikan dan Sumpah Dokter kepada 68 orang Sarjana Kedokteran (S.Ked.) sebagai dokter (dr.). Sementara itu, di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) juga telah meluluskan 872 orang dari Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai Guru (Gr.).(can/geng)
Sophia Mega Ajak Generasi Milenial Kenali Potensi Diri

Jadi influencer, youtuber atau admin media sosial barangkali jadi profesi yang kian digemari di era digital. Bagaimana tidak, beberapa profesi yang memanfaatkan platform digital ini tak perlu khawatir dengan tekanan dan terikat jam kerja. Generasi milenial, seperti halnya Sophia Mega Sabila, barangkali salah seorang anak muda tekun nan ulet yang mampumemanfaatkan berbagai kecanggihan platform digital seperti video blog (Vlog), Instagram, Twitter, atau YouTube untuk menjalankan profesi plus hobinya. Dara lulusan terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini dikenal, jika tak berlebihan, sebagai salah satu influencer yang cukup diperhitungkan. Mega, sapaan akrabnya, punya sejumlah saluran khusus untuk menyuarakan kegelisahan, minat dan hasil pembelajarannya selama menempuh perkuliahan di Program Studi Ilmu Komunikasi UMM. Hari ini, Sabtu (30/11), Mega duduk dideretan kursi istimewa bersama dengan lulusan terbaik lainnya dengan raihan indeks kumulatif (IPK) 3,85. Selain aktif di dunia digital, ia juga aktif sebagai pegiat gerakan literasi non-daring. Hal itu berawal dari dirinya yang tak mengerti memilih dan memilah buku yang seharusnya dibaca untuk menggali pengetahuan. Namun, semenjak Mega aktif menjadi Booktuber (saluran reviewer buku di Youtube), ia sering bertemu orang-orang yang gemar pula membaca dan mengulas buku. “Merekalah yang memberi tahu aku buku mana yang direkomendasikan untuk dibaca dan mana yang tidak,” ungkapnya. Mega aktif menulis di beberapa platform media, terutama buku kompilasi. Awal tahun 2019 ia menelurkan karya anyar pribadinya yaitu “Lo Ngerti Siapa Gue: Membangun Personal Branding melalui Media Sosial Tanpa Perlu Jadi Selebgram”. Mega mengajak untuk mengenal diri. “Aku nangkap fenomena, banyak anak setelah lulus nggak semuanya tahu dia harus ngapain,” jelasnya. Padahal, sambung pemilik akun @personadiri ini, setiap orang sebenarnya bisa menemukan potensi pada dirinya. Selain itu, di buku setebal 159 halaman itu juga turut menjelaskan tentang media sosial bukan tentang seberapa banyak follower atau menjadi selebgram. Meskipun pada kenyataannya pikiran untuk menjadi yang terbanyak pengikutnya selalu muncul. Namun, ada alternatif lain dalam menggunakan media sosial, yaitu menciptakan personal branding yang memberi manfaat dalam kehidupan kita. Dengan menyadari hal tersebut, kita bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu dituntut untuk menjadi orang lain. Mega mengaku merasa lebih nyaman untuk berkegiatan di luar seperti membuat media sendiri, ikut event ataupun mencari pengalaman kerja. Ketika ditanya tentang bagaimana menyeimbangkan kegiatan di luar kampus dan kewajiban akademik, ia mengaku menyiasatinya dengan mengerjakan berbagai kewajiban tugas kampus dengan baik. “Ditambah aktif memperluas wawasan dan banyak baca di luar dari bahan bacaan yang diwajibkan di kelas,” kata alumni Madrasah Aliyah Negeri 3 Malang ini. Menurut pendiri kanal kapankamunikah.com ini, ketika memilih aktif di luar kampus diperlukan konsistensi yang bagus. “Dilurusin niatnya, sering banget anak yang berkegiatan banyak di luar itu menegasikan kuliah,” ujarnya. Padahal, lanjutnya, kuliah itu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, melalui kuliah juga sebenarnya dapat menjadi akses memperluas jaringan hingga ilmu-ilmu baru. Intinya menurut Mega, kuliah harus diniatkan demi mempersiapkan bekal hidup di masa mendatang. Mega memang merupakan salah satu mahasiswa berprestasi kepunyaan Program Studi Ilmu Komunikasi UMM. Ia beberapa kali mendapatkan juara pertama di berbagai ajang lomba Public Relations tingkat nasional. Salah satunya di bulan Oktober 2017, yakni lomba Marketing Public Relations yang digelar di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). “Dari awal aku kuliah, aku sudah memutuskan kalau tempatku bukan di dalam kampus,” ungkap putri dari pasangan bapak Syamsul Arifin dan ibu Nur Hasanah ini. (mir/can)
Cinta Al Quran, Hafidzah Ini Sabet Gelar Wisudawan Terbaik

Menyeimbangkan sisi akademis dan spiritualitas merupakan hal yang tidak mudah, khususnya bagi kalangan remaja. Namun tidak bagi Dewi Nur Diana, mahasiswa Fakultas Ilmu Agama Islam Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. Wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Periode IV Tahun 2019 ini berhasil membuktikan bahwa kedua hal tersebut bisa berjalan beriringan. Selain meraih IPK nyaris sempurna 3.97, Diana, demikian panggilan akrabnya juga berhasil menghafal 30 juz Al Qur’an. Hafidzah putri dari bapak Aimadudin dan ibu Mukhlisah ini juga telah mengikuti berbagai perlombaan dalam bidang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Ia pun meraih beberapa prestasi, salah satunya Juara I dalam Festival Al-Qur’an Perguruan Tinggi Muhammadiyah – Aisyiyah Tingkat Nasional. Menurut Diana, mengikuti perlombaan sejenis MTQ menjadi salah satu resep untuk menjaga hafalannya. “Selain itu, setiap harinya muroja’ah setengah juz setelah shalat subuh dan shalat magrib. Sebulan sekali saya juga ikut kegiatan sema’an yang ada di Kota Malang dan muroja’ah di UKM MTQ,”. Kecintaan Diana pada Al Quran diakuinya tidak muncul begitu saja. Kisah ini bermula saat dirinya berusia 12 tahun dan mulai bersekolah di pesantren tahfidz SMP IT Ibnu Abbas Klaten, Jawa Tengah. Sang ayah menginginkan putri ke tiga dari lima bersaudara ini, menjadi penghafal Al-Quran. Namun sayang, Diana tidak memiliki ketertarikan yang sama. “Sebelumnya saya hanya ingin masuk pesantren saja, tidak ada keinginan untuk menghafal. Akan tetapi, karena disana diwajibkan untuk menghafal, akhirnya saya memaksa diri. Ternyata enjoy dan mampu menyelesaikan hingga akhir,” tutur Diana. Tidak sedikit bagi para penghafal Al-qur’an merasakan sulitnya berkomitmen untuk menjaga hafalan. Hal ini juga diakui Diana. Menurutnya,menjaga hafalan, tidak bisa hanya sesekali saja tanpa diulang-ulang. Semua juga harus diamalkan. Selain itu, manajemen waktu dan kemampuan menyeimbangkan ritme aktivitas sehari-hari juga menjadi kunci, agar aspek lain seperti dunia akademik misalnya, tidak terbengkalai. “Berbagai cara harus dilakukan,” tambah Diana yang juga kerap diminta menjadi juri dalam berbagai perlombaan tahfidz. Usai menyelesaikan studi strata 1, Diana berharap bisa segera meneruskan ke jenjang Strata 2 Jurusan Keguruan Bahasa Arab. Ia juga ingin ilmu yang dimilikinya segera dapat diamalkan segera dengan maksimal. Kelak suatu hari, ia pun berkeinginan untuk menjadi Direktur Sebuah Pondok Tahfidz. “Setidaknya jadi istri direktur pondok. Punya yayasan, lalu mengembangkannya seperti Ayah. Ayah sendiri mengelola Yayasan Rahmatan lil Alamin, dari PAUD IT, TK IT, sama SD IT Cinta Islam. Saya sekarang sevisi sama ayah, kalau di dalam Al Quran, ini jalanku untuk menyeru kepada Allah. Terutama ketika melihat lingkungan rumah. Saya dan ayah ingin mendidik lingkungan sekitar kami dengan Al Quran,” pungkasnya. (bel/can/sil)
Sabet 2 Gelar, Mahasiswa UMM Dominasi Kemenangan di Ajang Debat Nasional

Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) English Debating Society International Language Forum (EDS ILF) kembali memborong dua piala sekaligus pada ajang National Debate Competition (NASTEC) season 1 yang diadakan di Aula Pertamina Politeknik Negeri Malang tanggal 23-24 November lalu. Delegasi dari UMM mendelegasikan 3 tim yakni, Tim A “Money Oriented” Erfan Kriwanto (FPP) dan M. Ilham dan Zulfiany Madjid (FKIP); Tim B Ghozi Mubarok (FISIP) Lucke Kharimah (FISIP), dan Shelvi Annisa (FEB); dan Tim C “Boon” Wijil Danu Baskoro(FT), Nina Nurazizah (FPP) dan Annisa’ Taqiyyatul Azizah (FAPSI). “Persiapan kami hanya satu minggu berlatih di ruangan sekretariat ILF secara non-stop,” ujar Wijil Lomba debat Bahasa Indonesia yang mengusung tema besar “Dinamika Akuntan di Era Cyberaccounting” menerapkan sistem gugur dari mulai babak prelim, oktofinal, quarterfinal sampai ke semifinal. Dengan mengakumulasikan skor dari 3 penilaian, yakni cara penyampaian (method), gaya bicara (manner) dan bobot materi yang disampaikan (matter). Dan aturan lawan diterima secara acak sesuai perolehan skor. Dari setiap babak yang dilewati, peserta mendapat judul atau biasa disebut mosi yang menjadi topik utama perlombaan dengan pro dan kontra terhadap mosi. “Dari setiap mosi yang terlewat, menurut saya Kriptokurensi atau biasa yang disebut BIT Coin yang paling susah. Karena dalam menyampaikan materi setidaknya kita sudah harus riset terlebih dahulu. Tapi, alhamdulillah, kami mendapat tim kontra dan menang ke babak selanjutnya,” tambah Wijil. Dua tim dari UMM sukses melaju pada babak semifinal dan berhasil mendapatkan Juara Runner Up dan Juara 3. Pada perebutan juara 3, Tim B dan C sempat ditandingkan bersama dalam satu mosi, sampai pada akhirnya Tim B yang berhasil maju ke babak Final, dan Tim C harus rela mendapat Juara 3. Sedangkan tim C harus gugur pada babak Oktofinal. EDS ILF memang sering mengikuti berbagai ajang perlombaan Debat Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia, selain perlombaan ini, beberapa prestasi gemilang didapat, diantaranya pernah menyabet Juara 1 pada YEEC STPP tahun 2018, dan mendapat Runner Up pada ajang English Debate Competition di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Maret lalu. (yas/can)
Sisihkan UGM, Kopma UMM Sabet Piala Tetap Gubernur Banten

Delegasi dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Koperasi Mahasiswa (Kopma) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih piala tetap Gubernur Provinsi Banten setelah menjadi juara umum dalam Student Cooperative Fair 2019 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 7 hingga 9 November 2019 ini diselenggarakan berbagai kategori lomba, yaitu business plan, olimpiade, dan penulisan esai. UMM beradu dalam kategori olimpiade dan esai dengan 5 delegasi Kopma lainnya di seluruh Indonesia. Di kategori olimpiade, Kopma UMM menurunkan satu tim. Mereka adalah Miftah Firdaus, Renna Indah, dan Fina Andani. Persiapan dilakukan hingga satu bulan, mulai dari belajar mengenai koperasi, hingga riset mengenai koperasi di Kota Malang. Di babak final, mereka mengalahkan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dengan argumennya mengenai Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menindak kecurangan yang terjadi pada bank simpan pinjam di Depok. “Kami sangat menyayangkan, mengapa yang menemukan kasus ini OJK, bukan Koperasi itu sendiri. Jika dilihat, praktik ini dapat menyebabkan citra buruk peran koperasi sendiri. Solusinya, koperasi juga harus bekerjasama dengan lembaga keuangan, sehingga dapat memantau jalannya,” sebut Miftah mahasiswa Program Studi Manajemen saat diwawancarai, Senin (25/11). Pada kategori esai, Ida Firdiana yang juga perwakilan dari Kopma UMM mengangkat judul “Pengabdian Kepada Masyarakat sebagai Bentuk Implementasi Pendidikan Anggota Koperasi Mahasiswa dalam Upaya Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0”. Yakni tentang pentingnya mahasiswa melakukan pengabdian kepada masyarakat berbasis koperasi melalui teknologi. “Peran manusia sebagai tenaga kerja sering kali dapat tergantikan dengan canggihnya teknologi. Sehingga kita perlu meningkatkan kualitas kinerja manusia yakni harus dapat bekerja dan beradaptasi dengan teknologi. Untuk itu, mahasiswa bisa bersama-sama memberikan pendidikan koperasi yang berbasis teknologi kepada masyarakat desa,” sebut Ida. Dalam risetnya, Ida melihat permasalahan koperasi di Indonesia khususnya masyarakat desa yang terbatas dalam mengakses pendidikan perkoperasian. Padahal menurutnya, koperasi seharusnya dapat mengentaskan permasalahan ekonomi di kalangan masyarakat desa akibat ketidaksiapan dalam menghadapi revolusi industri 4.0. “Oleh karenanya, perlu adanya pengoptimalisasian sistem pendidikan pada anggota koperasi. Bisa dilakukan dengan pelatihan dan praktik langsung ke lapangan, yaitu dengan melakukan pengabdian,” terang Ida mahasiswa Program Studi Agribisnis. Ide itu meraih juara II dalam kategori esai. Kedepannya, Kopma UMM berencana untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat desa. Harapannya, anggota Kopma dikemudian hari tidak hanya sekedar mengetahui mengenai kewirausahaan ataupun koperasi, tetapi juga dapat berbagi dan siap terjun kepada masyarakat desa, khususnya dalam membangun ekonomi. (bel/can)