7 Atlet Taekwondo UMM Raih Medali di Kejuaraan Internasional

Kontingen Taekwondo Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyabet gelar juara pada kejuaraan Taekwondo Internasional Pugnator Badung Sport Week 2019 yang dilaksanakan 24 – 27 Oktober 2019 di GOR Purna Krida Kabupaten Badung, Bali. Pada kejuaraan bergengsi ini, UMM berhasil menyabet total perolehan 7 medali. Terdiri dari 4 medali perak kategori Kyorugi, 3 medali perunggu kategori Kyorugi dan 1 medali perunggu kategori Poomsae. Kejuaraan ini setidaknya diikuti oleh 1600 peserta dari 10 negara. Di antaranya Australia, Thailand, Singapura, India, Taiwan, Kamboja, Uzbezkistan, Cina, Hongkong. “Berapapun medali yang dibawa, harapannya dapat menjadikan pengalaman dan pembelajaran bagi kami, khususnya untuk pembelajaran dalam kejuaraan kancah internasional. Ini juga sebagai tolak ukur bagi kami dalam sisi kemampuan dan dapat mengevaluasinya,” sebut Gavra Dharmmesta Yusuf, Ketua Umum Taekwondo UMM. Kelas yang dilombakan yaitu Kyorugi dan Poomsae. Kyorugi yakni pertarungan duel dan ketangkasan yang dilakukan antar peserta. Sedangkan Poomsae adalah seni gerak, pukulan, tendangan maupun tangkisan. UMM setidaknya menerjunkan 7 atlet yang sebelumnya telah diseleksi dalam lingkup kampus. Atlet tersebut terdiri dari 6 kategori Kyorugi dan 1 kategori Poomsae. Untuk mempersiapkan pertandingan ini, atlet Taekwondo UMM telah banyak berlatih yang dimulai pada bulan Agustus. Selain latihan regular 2 kali dalam seminggu, para atlet juga mengikuti training center yang sudah berlangsung selama dua bulan. Mereka juga selalu menjaga berat badannya, agar saat penimbangan sesuai dengan kelas yang diikuti. “Kuncinya adalah rajin berlatih dan ikut perlombaan. Semakin banyak berlatih akan semakin mudah pada saat pertandingan. Dari situ kita bisa lihat, semakin banyak jam terbangnya, semakin baik pula pembawaannya pada saat pertandingan,” sebut Gavra, mahasiswa program studi Teknik Elektro ini. (bel/can)
Mahasiswa Prodi Komunikasi UMM Juarai Kompetisi Public Relations Nasional

Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa. Lebih tepatnya 1340 suku bangsa di Tanah Air. Suku Jawa adalah kelompok terbesar di Indonesia dengan jumlah yang mencapai 41% dari total populasi. Dilihat dari kondisi kebudayaan, Indonesia memiliki kekhasan sendiri dibanding bangsa-bangsa lain. Pertanyaanya, mampukah kita menjaganya untuk tumbuh di tengah interaksi belantara budaya dunia. “Suku Jawa sendiri merupakan suku terbesar yang menghuni negara ini. Namun berapa persen masyarakat terutama anak muda yang memahami bahasa Jawa bahkan aksara Jawa?” demikian kegelisahan Gita Ajeng Arfina, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang yang membawa persoalan ini ke ajang lomba Jogja Public Relation Day yang diadakan Perhumas Muda Yogyakarta (27/10). Ajeng tak sendirian, Ia bersama kedua teman satu jurusannya Ananda Novera dan Irfan Mohammad bertekad, selain dikenal di kalangan anak muda, bahasa bahkan aksara juga ingin dibawa ke kancah internasional. Melalui strategi program ELING (Edukasi, Lihat, Interaksi, Ngikut, dan Giat), mereka berhasil menjadi juara pertama ajang nasional bergengsi yang diikuti Perguruan Tinggi seluruh Indonesia tersebut. Pertama, strategi “Edukasi”. Yakni menyadarkan dan mengedukasi awal publik tentang bahasa dan aksara Jawa. Strategi “Lihat” yakni menarik publik untuk melihat dan mengenal, yakni dengan mengadakan kompetisi sastra maupun seni dengan menggunakan Aksara Jawa, mengadakan giat literasi di sosial media, serta bekerjama dengan influencer untuk mereview menariknya belajar bahasa dan Aksara Jawa. Berikutnya strategi “Interaksi”, yakni memberikan ruang kepada publik untuk berinteraksi seputar aksara Jawa. Di antaranya memberikan ruang bagi masyarakat di kolom komentar media sosial untuk berinteraksi seputar aksara Jawa, membuat pertanyaan-pertanyaan di sosial media yang melibatkan audien seputar aksara Jawa, serta menampilkan hasil karya dengan memanfaatkan bahasa dan aksara Jawa. Strategi lainnya adalah “Ngikut”, yakni membuat target audien ikut berkontribusi dalam kegiatan pengembangan aksara Jawa. Bisa berupa kampanye online dan on ground. On ground bisa meliputi diadakannya Festival budaya, sementara online bisa dilakukan melalui lomba menulis dengan aksara Jawa di sosial media. Terakhir, “Giat. Yakni mengajak publik untuk menyebarluaskan pengalaman dari kegiatan yang diikuti. Hanya dalam rentang waktu riset yang terbilang kilat, yakni beberapa jam saja hingga jelang diajukannya proposal, mereka berlaga cukup percaya diri. Terbukti, Tim Synergistic PR melaju pada babak final bersanding dengan 5 perguruan tinggi lainnya, Universitas Gajar Mada (UGM), Binus University, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN), Telkom University dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Untuk memenangkan perlombaan, Ajeng mengakui tim mereka menggarap desain proposal yang kreatif, menarik dan unik. Tidak hanya itu, proposal juga disusun secara lengkap dan terstruktur dalam mengembangkan ide. “Dalam segi busana ketika presentasi, tim kami sudah prepare busana adat untuk lebih memreprentasikan budaya yang ada di Indonesia,” tambah Ajeng pada acara Awarding Night, Minggu (27/10). (yas/can)
UMM Raih AKU Duabelas Kali Berturut-turut

Anugerah Kampus Unggul (AKU) kembali diraih oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk yang keduabelas kalinya. Penghargaan ini diterima langsung Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. saat menghadiri Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) Perguruan Tinggi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Jawa Timur tahun 2019 di Singhasari Resort Batu, Rabu (30/10). Fauzan menyampaikan rasa syukurnya atas raihan membanggakan ini. “Terimakasih kepada semua civitas akademika yang telah bekerja keras hingga mampu mempertahankan anugerah ini hingga yang keduabelas kalinya,” ungkapnya. Raihan gemilang Kampus Putih ini tentu tak terlepas dari kontribusi semua bidang. Bidang I atau akademik, bidang II sarana dan prasarana, bidang III atau bidang kemahasiswaan, serta semua pihak yang terkait. Capaian UMM sebagai kampus unggul kategori universitas dari LLDikti Wilayah VII ini merupakan wujud pengakuan dari pemerintah sebagai salah satu stakeholders terhadap upaya sungguh-sungguh UMM dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tugas ini merupakan tugas penuh tantangan. Pertama, karena regulasi di bidang pendidikan tinggi mematok standarisasi yang kian tinggi. Misalnya di bidang akreditasi yang diselenggarakan oleh BAN PT, yang sekarang menggunakan 9 kriteria. Karena itu, UMM terus berupaya meningkatkan kualitas dalam semua aspek yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan. Termasuk ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki serta kegiatan kemahasiswaan. UMM terus memperkuat kepranataan dan kelembagaan penjaminan mutu yang menjamin kepastian pelaksanaan siklus penjaminan mutu yang meliputi: Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Pengembangan (PPEPP). UMM juga dipercaya sebagai pelaksana program Perguruan Tinggi Asuh (PT-Asuh). Mandat ini sesuai dengan Surat Keputusan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Republik Indonesia tentang Perguruan Tinggi Pelaksana Program Penjaminan Mutu. Usaha lainnya, UMM terus mengupayakan rekognisi internasional. Saat ini sudah ada beberapa program studi yang telah memperoleh sertifikasi AUN QA dan beberapa sertifikasi internasional lain. Intinya, UMM terus mengupayakan internasionalisasi. Kedua, tuntutan Dunia Usaha dan Industri (DUDI) kian meningkat. Oleh karena itu, UMM terus berusaha memperkuat aktifitas pendidikan dengan memberikan tambahan kompetensi. Misalnya, di UMM telah ada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), Dari lembaga ini, mahasiswa UMM mendapatkan sertifikasi kompetensi dalam skala tertentu. Tentu setelah melalui proses pelatihan dan uji kompetensi. Dalam acara penganugerahan tersebut, Kepala LLDikti Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Suprapto, DEA. menyatakan bahwa tantangan pendidikan tinggi ke depan semakin berat. “Perguruan tinggi tidak hanya dituntut melaksanakan Tri Dharma khususnya pembelajaran yang bermutu, tetapi untuk terus menerus melakukan perbaikan,” ungkap Suprapto. Senada dengan yang disampaikan Suprapto, UMM telah mengembangkan kurikulum yang dilaksanakan telah relevan dengan perubahan zaman. Selain itu, modus pembelajaran telah memenuhi tuntutan perkembangan IPTEK. Sumberdaya manusia yang dihasilkan UMM mampu responsif, adaptif, dan siap menghadapi revolusi industri 4.0. Kegiatan riset yang dilakukan UMM juga dinilai telah memadai untuk menghasilkan publikasi dan inovasi yang diharapkan. UMM juga turut menghasilkan lulusan dan produk kekayaan intelektual yang berdampak pada pembangunan. (can)
Cegah Kanker Nasofaring dengan Resep Kacang Mete Ala Mahasiswa UMM

Di Indonesia kanker nasofaring (Karsinoma Nasofaring) atau pertumbuhan sel abnormal bersifat ganas yang muncul pada daerah nasofaring (area di atas tenggorokan dan di atas hidung), merupakan kanker terbanyak ke-4 setelah kanker payudara, kanker serviks dan paru-paru. Selain faktor keturunan, faktor lainnya yakni ras Asia, kebiasaan merokok dan minum alkohol, sering mengonsumsi makanan pengawet dan makanan panggang (bakar), dan inveksi virus Epstein Barr. Sekelompok mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) melalui resep “Kacang Mete”, berhasil meraih Juara III Lomba Poster Publik dalam ajang Holistic 2019. Untuk diketahui, Kacang Mete merupakan akronim dari Kurangi makanan berpengawet dan yang dibakar, Anti asap kayu bakar dan debu kayu, Cukup istirahat, Anti alkohol, No smoking, Gunakan masker saat berkendara, Mengonsumsi buah dan sayur tinggi antioksidan, dan Teratur olah raga. Holistic atau Halu Oleo Scientific Competition 2019 adalah kegiatan ilmiah tahunan yang diselenggarakan oleh MRC (Medical Research Club) Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo (FK UHO) yang tahun ini mengangkat tema tentang Optimalisasi Penanganan Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan. Lomba ini diselenggarakan di FK UHO pada tanggal 25-27 Oktober 2019. Kompetisi bagi perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN/S) ini diikuti seluruh mahasiswa aktif S1/D3 rumpun Ilmu Kesehatan. Pascal Maulana Efendi, Yusfiana Zura Aniqah, dan Hayin Nada Nabilah yang ketiganya ini memilih cabang lomba poster publik. Mereka bertiga mengambil judul Cegah Ca Nasofaring dengan “Kacang Mete”. Poster publik tersebut lolos 10 poster terbaik yang kemudian dipresentasikan di FK UHO Kendari. Konsep presentasi yang ditampilkan adalah drama petani dan istrinya untuk menjelaskan gejala dan faktor resiko terjadinya, dilengkapi penampilan sosok dokter yang menjelaskan penyebab hingga pencegahan. Persiapan yang dilakukan oleh Pascal dan kawan-kawannya difasilitasi LSO Scientific Medico (SM) berupa pelatihan pembuatan poster. Setelah lolos babak penyisihan, SM memberikan pelatihan penjurian internal untuk persiapan presentasi poster publik tersebut. “Alhamdulillah, saya merasa puas. Banyak ilmu dan pengalaman baru dan juga banyak pembelajaran dari penampilan delegasi yang lain yang bisa menjadi masukan bagi kami dalam mengikuti kompetisi yang berikutnya.” tutur Pascal. (*/can)
UMM Teken Kerjasama dengan Delta Anugerah Bahari Nusantara

Sambangi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), perusahaan terkemuka PT Delta Anugerah Bahari Nusantara (DABN) melakukan penandatanganan nota kesepakatan (MoU), Senin (28/10). Kerjasama meliputi penyelenggaraan kolaborasi riset, penyelenggaraan kegiatan ilmiah berupa kajian ilmiah, seminar dan lokakarya, hingga upaya peningkatan dan pengembangan kompetensi Sumberdaya Manusia (SDM). “Saya sebagai generasi kedua dari perusahaan ini, sangat sadar akan bagaimana pentingnya peran akademisi dalam membantu kami. Terutama di bidang peningkatan SDM. Karena, kami betul-betul memahami bahwa apa yang kami lakukan sekarang itu atas dasar teori dan teknik yang sudah diturunkan oleh para ahli melalui jurnal-jurnalnya sehingga bisa diaplikasikan,” ungkap Esti Nalurani selaku Chief Operating Officer. Dilanjutkan oleh Esti bahwa keterkaitan antara praktisi dan akademisi dalam dunia industri dinilai sangat penting dan saling berkaitan. Sehingga apapun yang dilakukan oleh profesional bisa diaplikasikan. “Sementara riset yang dikerjakan oleh civitas akademika untuk menjadikan atau membuat sebuah temuan berupa teori baru dan jurnal baru, bisa dibagikan kepada semua orang begitupun sebaliknya,” ungkap Esti. DABN merupakan salah satu perusahaan Indonesia yang bergerak dalam Salvage & Underwater Services. “PT DABN memang perlu membuat suatu wahana pendidikan yang ada kaitannya dengan sertifikasi. Nah, di sanalah teman-teman yang nantinya akan ditempatkan untuk magang,” tukas wanita yang juga CEO Think Indonesia sekaligus founder program New Generation Development (NGD) Indonesia. “Menurut undang-undang dan konstitusi, mendidik bangsa Indonesia itu bukan sekedar untuk membudayakan kerja, kerja, kerja. Tetapi membangun karakter bangsa. Oleh karena itu, saya harap melalui kerjasama ini nanti tidak hanya membentuk budaya kerja saja, namun membangun karakter bangsa juga,” pungkas Dr. Sidiq Sunaryo, SH., M.Si, M.Hum selaku Wakil Rektor III UMM sesaat sebelum menandatangani MoU. (riz/can)
Dies Natalis 55 Tahun UMM: Gelar Turnamen Golf Profesional, Berhadiah Fortuner hingga Harley Davidson

Dies Natalis ke-55 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dirayakan dengan tak biasa. Pasalnya di peringatan hari jadi Kampus Putih lebih dari setengah abad ini, dihelat Turnamen Golf Profesional (26/10). Diikuti 150 peserta dari berbagai latar belakang, gelaran bergengsi ini diselenggarakan di Araya Golf Club, Malang. Terdapat 10 kategori yang diperlombakan. Mulai dari Overall Best Gross,Overall Best Net, hingga kategori keterampilan. Hadiah yang disediakan juga tak tanggung-tanggung, yakni dengan total hadiah 1,5 Milyar. Hadiah bagi yang berhasil Hole in One berkesempatan mendapat mobil Fortuner hingga Harley Davidson. Selain mobil Fortuner yang akhirnya dimenangkan Hadi Sukrianto, hadiah makin semarak dengan adanya mobil Toyota Yaris. Selain juga disediakan banyak grandprize 5 Sepeda Motor, 2 LED TV dan 5 Sepeda Gunung. Sedang doorprize alat elektronik. Berbagai hadiah ini dipersembahkan oleh para sponsor dan para pihak yang berkontribusi mensukseskan acara perdana ini. “Kami meminta doa restu, mudah-mudahan usia 55 tahun UMM bukan usia yang tua tetapi usia yang terbilang balita. Kami tidak hanya ingin hidup seratus tahun lagi, tetapi kami ingin hidup seribu tahun lagi,” ungkap Rektor UMM Dr Fauzan MPd sambutannya. Agenda ini dimulai ditandai dengan pemukulan bola asap oleh Rektor Fauzan, didampingi Wakil Rektor II, Dr Nazaruddin Malik MSi. Selanjutnya Rektor Fauzan juga mengapresiasi semua pihak yang turut andil mensukseskan even sehari ini. Mereka yakni Bank BNI, Bank Jatim, Gunung Kawi, Bank Mandiri, Esa Unggul, MNC Asset, Sudimoro, Gading Murni, Bank BCA, Bank Syariah Mandiri, Willys, Karya Intan Sejati, Panca Utama, Telkom, dan Nurjaya Variasi. Lebih jauh, diselenggarakannya event yang anggapannya hanya milik kalangan atas ini juga bertujuan mendekatkan olahraga Golf dengan masyarakat. Selain tentunya lebih mendekatkan Kampus Putih dengan semua pihak atau stakeholder yang punya andil membesarkan dan berkontribusi positif kepada nama besar Kampus Putih, UMM. Selain turnamen golf profesional, rangkaian Dies Natalis juga diisi dengan kegiatan akademik dan penalaran. Seperti penggiatan lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Puncaknya, ada malam resepsi Dies Natalis 55 tahun UMM yang bakal menghadirkan deretan artis ibu kota dengan kemasan instrumen kolosal di akhir November 2019 mendatang. (*)
Satu-satunya Perwakilan Swasta, UMM Targetkan Juara Bertahan di KJI dan KBGI Jakarta

SETELAH berjaya di gelaran Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) di Politeknik Negeri Ujung Pandang tahun 2018 yakni dengan masing-masing mendapat juara 1 dan juara 3, Surya Team Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siap unjuk gigi dan menargetkan dominasi kemenangan di KJI dan KBGI XI tahun 2019 di Politeknik Negeri Jakarta. Perebutan Piala Reka Cipta Griya Indonesia dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti RI tahun ini nampaknya, bakal berjalan cukup kompetitif. Empat tim di bawah bimbingan Ir. Moh. Abdul, ST., MT., IPM selaku pembina berhasil lolos di partai final 10 besar, mengalahkan saingan perguruan tinggi (PT) lain se-indonesia. UMM menjadi satu-satunya perwakilan PT Swasta. Keempat tim yakni Gajendra, Maheswara Team, Great Apollo, dan Dandelion Diamond yang proposalnya berhasil lolos bersaing dengan 50 proposal lainnya. Sepuluh finalis akan presentasi proposalnya di Jakarta. “Hanya UMM yang menjadi kampus swasta yang berhasil lolos, bersanding dengan perguruan tinggi negeri seperti ITS, ITB, UB, Politeknik Negeri Bandung, UI dan PTN lain di Indonesia.” tambah Abdul. “Kegiatan ini sangat dibanggakan oleh Rektor, juga kesempatan yang baik untuk menorehkan prestasi kembali dan dapat menjembatani ilmu yang didapat dengan konsentrasi akademis yang memang kalian tempuh. Dalam ajang ini juga dapat membentuk nama baik kalian sebagai finalis dan fakultas teknik,” ujar Dr. Ir. Samin, MT. selaku Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM dalam sambutannya di hadapan finalis. Di tahun 2014, UMM merupakan tuan rumah penyelenggaraan KJI yang ke-10 dan KBGI yang ke-6. Sejak pertama kali diselenggarakan, keduanya selalu diadakan di kampus negeri. UMM menjadi tuan rumah pertama dari kalangan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Di ajang itu, tak sekedar menjadi tuan rumah, UMM berhasil menggeser dominasi kemenangan perguruan tinggi negeri seperti ITS, ITB, dan PTN lainnya. Para finalis juga mempertontonkan bentuk realisasi miniatur jembatan dan bangunan dari setiap tim, sehingga para mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana proses persiapan para tim. Mulai dari pemotongan bahan, pemasangan ornamen, finishing dengan percobaan pemberian beban, diuji dengan goyangan dan sebagainya, sehingga nanti pada presentasi di Jakarta sudah mengetahui ketahanan miniatur. (*)
Tindaklanjuti Mandat KLHK, UMM Bakal Jadikan KHDTK sebagai Agropark

PASCA menerima mandat sebagai pengelola Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) beberapa bulan lalu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menindaklanjuti mandat itu dengan melakukan survei penentuan lokasi pembangunan sarana dan prasarana ke depan. Menurut Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., bahwa keleluasaan sebagai pengelola kawasan hutan ini akan menjadi energi baru bagi UMM dalam pendampingan pada masyarakat. Selain itu, hutan KHDTK juga akan menjadi laboratorium lapangan yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh elemen civitas akademika Kampus Putih UMM. “Saya rasa menjadikan tempat ini sebagai kawasan Agropark sangat cocok. Selain untuk kawasan pertanian-peternakan terpadu yang sekaligus sebagai pusat laboratorium FPP, bisa juga digunakan oleh jurusan lain. Umpamanya saat kita ingin mengembangkan pusat tanaman herbal,” ungkap Fauzan, saat survey lapangan. Melibatkan Biro Perlengkapan, Biro Perencanaan dan beberapa tim yang berasal dari Program Studi (Prodi) Kehutanan hingga Ketua Tim Teknis PLTMH UMM. “Setelah kegiatan survei ini, nanti baru kita tentukan lokasi mana saja yang akan dibangun,” ujar Tatag Muttaqin S.Hut., M.Sc., IPM., Ketua Prodi Kehutanan UMM, Rabu (23/10). Berada pada kawasan hutan produksi dan hutan lindung Perum Perhutani petak 43A, 44I, 44K-1, 44K-2, 44L dan BE BKPH Pujon KPH Malang dengan luas total 75.09 Ha. “Sesuai dengan fungsi hutan lindung untuk melindungi kawasan, tanaman yang ada di lahannya meliputi suren, eukaliptus, mahoni, hingga tanaman buah,” lanjutnya. Pada hutan produksi UMM terdapat damar dan pinus, dengan luas hutan produksi 20 Ha, selebihnya hutan lindung. Adapun yang mendapat tugas untuk membantu mengelola hutan hingga saat ini ialah Prodi Kehutanan salah satunya sebagai tempat praktik umum seperti manajemen hutan, penentuan fungsi hingga hidrologi. (Riz/Can)
Lembaga Kebudayaan UMM Kemas Batik Tembus Pasar Milenial

LEMBAGA Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang (LK UMM), Jum’at (25/10) siang, menyelenggarakan Workshop Marketing Batik bagi para pelaku batik di Jawa Timur. Pelatihan ini diikuti oleh 62 peserta yang berasal dari unsur pengrajin, pengusaha, dan start up dari Malang Raya dan sekitarnya. Mengusung tema “Batik Lokal menembus pasar Milenial” LK UMM mengundang para pakar di bidangnya yang menunjang pengembangan marketing batik. Eggy Andalas selaku penanggung jawab workshop menuturkan antusias pelaku batik tinggi begitu sosialisasi workshop dihelat oleh panitia dari LK UMM. “Awalnya kami hanya menyediakan quota untuk 50 orang saja. Namun karena permintaan yang tinggi kami menambahkan sejumlah kursi lagi. Mereka datang dari Kota Malang, Kepanjen, Batu, dan ada yang dari luar kota misalnya dari Jombang.” Jelas Eggy di temuai di sela acara di Auditorium Biro Administrasi Umum UMM. Menurut Eggy materi yang dirancang LK UMM menjadi salah satu daya tarik peserta. Misalnya ada materi Fotografi Produk Batik yang akan disampaikan oleh seorang fotografer profesional, Afifah Rachmawati mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM, pendiri Vhee Design ini dikenal sebagai fotografer spesialis produk. Selain Fifi dengan materi fotografi, peserta Workshop akan dikenalkan lebih dalam dengan materi Bisnis Batik Online oleh Didiet Trismawan, praktisi Digital dan fasilitator Gapura Digital. Tidak lupa sebagai mitra LK UMM, Soendari Batik and Art berbagi pengalaman melalui materi Mengelola Bisnis Batik di era milenial. Melengkapi workshop yang akan digelar sehari penuh, LK UMM juga mengundang perwakilan Bank Jatim untuk melakukan sosialisasi komitmen Bank Jatim terhadap geliat perdagangan dan industri kreatif bagi peserta workshop. Event ini sekaligus menghadirkan semua elemen untuk mengarus utamakan batik sebagai fasion. (*)
Lembaga Kebudayaan UMM Persembahkan Motif Batik Khas KWJ

Rangkaian merayakan hari Peduli Batik Nasional digelar Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah (LK-UMM) dengan berbagai kegiatan. Mengambil tema, “Batik Menembus Ruang dan Waktu” pada Jum’at (25/10) hari ini, LK UMM mengundang 62 orang pelaku batik yang terdiri dari pengrajin, pengusaha, dan start up untuk mengikuti workshop Marketing Batik menyongsong Era Milenial. Keesokan harinya, Sabtu (26/10) siang, kegiatan dilanjutkan dengan launching Batik Motif, kerjasama dengan Sundari Batik and Art, yang dibuat khas Kampung Warna-Warni Jodipan, kampung tematik garapan mahasiswa praktikum Ilmu Komunikasi UMM, serta lomba mewarnai motif batik untuk anak setingkat Taman Kanak-Kanak, dan Lomba Fashion Show Busana Batik untuk siswa SMA se Malang Raya. “Batik menembus Ruang dan Waktu bermakna batik pantas untuk berbagai golongan sosial dan generasi. Generasi Tua maupun generasi muda, orang desa maupun orang kota, budaya tradisional maupun modern, golongan sosial miskin maupun kaya, mereka yang berpendidikan tinggi maupun rendah, profesional maupun pekerja serabutan,” jelas Dr Daroe Iswatiningsih Msi, Kepala LK UMM. LK UMM sejak lama menaruh perhatian khusus pada Batik. Beberapa kali sudah menggelar even serupa. Mulai dari seminar, pameran, riset desain batik motif daerah Jawa Timur, dan pelatihan membatik. Semua dilakukan sebagai wujud rasa cinta dan bangga pada warisan leluhur. “Disamping batik memiliki nilai filosofi dan bisa sebagai media pembentukan karakter bangsa,” sambung Daroe. “LK UMM bekerjasama dengan Sundari Batik and Art ingin menambahkan sedikit konstribusi dengan mempersembahkan motif batik khas Kampung Warna-Warni Jodipan. Sehingga selain pengecetan rumah juga jembatan kaca yang didesain oleh Fakultas Teknik, motif batik khas KWJ juga diharapkan menambah daya tarik,” kata Rahmawati Khadijah Maro, M.PEd, ketua pelaksana Festival Batik 2019. Kata Fida Pangesti selaku penanggung jawab launching, event akan diiringi oleh kegiatan fasion show. “LK UMM mengundang mahasiswa asing yang tergabung dalam program BIPA – Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing- dari berbagai negara untuk berlenggak lenggok di catwalk dengan mengenakan busana batik rancangan siswa-siswi SMK 3 Kota Malang,” tuturnya dengan bangga di sela workshop. Berdasarkan daftar nama yang ada, akan dihadirkan sekitar 20-an mahasiswa asing yang bakal terlibat dalam Launching. Fashion show menampilkan mahasiswa dari Jepang, Korea selatan, Thailand, dan Azerbaijan. Pengunjung juga dihibur oleh permainan alat musik angklung yang dimainkan mahasiswa BIPA UMM dari Jepang, Hongaria, Palestina, Afganistan, Vietnam, Serra Leone, Thailand, dan Mesir. (*)