Temuan Dosen UMM Ini Bikin Masyarakat Urban Bisa Tanam Sayur dan Ternak Ikan Sekaligus di Lahan Sempit

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, balita Indonesia masih mengalami masalah gizi. Hal tersebut menjadi perhatian bagi Riza Rahman Hakim, S.Pi, M.Sc, Kepala Fish Edu Park Program Studi (Prodi) Perikanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Indonesia negara maritim yang besar, sayang sekali bila anak-anaknya kekurangan gizi,” ungkapnya saat ditemui di Fish Edu Park UMM. Menurutnya, solusi masalah gizi di Indonesia dapat diatasi dengan peningkatan ketahanan pangan dari lingkup terkecil yakni keluarga. Riza menggagas One House One Pond atau OHOP. “Ini adalah sebuah konsep pemanfaatan lahan rumah yang sempit, utamanya, di perkotaan,” tuturnya saat ditemui Rabu (23/10). Jadi, lanjutnya, tiap rumah memiliki satu kolam ikan beserta tumbuhan. Dosen lulusan S2 Kasetsart University, Thailand bidang Aquaculture ini telah melahirkan tiga teknologi mengembangkan OHOP. Teknologi yang pertama ialah Biona, yang kedua adalah Bionic yang baru saja disempurnakan, dan yang terbaru yakni Ohoponic. Biona ialah budidaya ikan tawar mulai dari Lele, Patin dan Nila yang mengkondisikan air seperti habitatnya. Hal tersebut dilakukan melalui persiapan media air, manajemen kualitas air dan manajemen pemberian pakan ikan. Selanjutnya ialah Bionic, teknologi ini merupakan gabungan dari Biona yang digabungkan dengan Aquaponic. Mudahnya Bionis adalah budidaya ikan dan sayuran. “Jadi, pupuk untuk sayuran itu berasal dari kotoran ikan yang ditarik ke atas menggunakan mesin kemudian dialirkan ke dalam pipa yang berisi akar. Air yang ditarik ke atas itu akan jatuh kembali ke dalam kolam ikan di bawahnya. Praktisnya, melalui teknologi Bionic ini, tidak perlu proses menyirami dan pemupukan. Agar sayuran semakin lebat dan sehat, Riza memberikan nutrisi AB Mix dengan dosis yang tepat. Melalui penyempurnaan teknologi Bionic ini, hasilnya sangat memuaskan. Teknologi teranyar dari OHOP adalah Ohoponic. Ini merupakan teknologi bertanam hydroponic yang sangat praktis. Tidak perlu tanah dan penyiraman, sayuran dapat terus tumbuh dan dipanen. Riza berharap, teknologi yang ia gagas dalam pengembangan program OHOP ini dapat benar-benar diterapkan oleh masyarakat perkotaan. Ditegaskan Riza, mudah dan praktisnya teknologi OHOP untuk peningkatan ketahanan pangan di Indonesia, utamanya untuk terus memberi gizi yang cukup bagi keluarga, teknologi ini baik. Daun-daun sayuran seperti Kangkung, Bayam hingga Selada lebar dan sangat lebat. “Yang enak ini Kangkung, tiap dua minggu panen,” katanya. (mir/can)

Di Bromo, Mahasiswa Asing UMM Kampanye Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Meskipun lahir di negara Indonesia, sebagian dari kita orang Indonesia tulen, kerap tidak betul-betul mempraktikkan bahasa Indonsiaa yang baik dan benar. Uniknya, kali ini kampanye penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar justru dilakukan sekelompok mahasiswa asing dari Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Taman Nasional Gunung Bromo, Semeru. Puluhan mahasiswa asing dari berbagai negara di dunia ini diperkenalkan dengan keindahan yang ditawarkan oleh Taman Nasional Bromo Tengger, Semeru yang ada di kabupaten Malang, Jawa Timur. Selain menikmati sunrise dan juga padang pasir Gunung Bromo, para mahasiswa asing juga dapat berinteraksi dengan para pengunjung lain sekaligus melatih kelancaran berbahasa Indonesia mereka. “Selain memperkenalkan wisata yang ada di Indonesia, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperlancar keterampilan bahasa Indonesia mereka. Karena di sini mereka juga diberikan tugas untuk wawancara beberapa pengunjung dan juga masyarakat setempat dengan menggunakan bahasa Indonesia,” terang Faizin, M.Pd selaku Kepala Divisi Internasionalisasi Program BIPA UMM ditemui di ruangannya, Senin (21/10). Para mahasiswa asing ini juga membagikan beberapa tangkai bunga mawar kepada pengunjung dan juga warga sekitar. Di mana di setiap tangkainya terdapat sebuah kata berbahasa Indonesia yang sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tujuan dari hal ini adalah untuk membenarkan secara redaksional terhadap beberapa kata popular yang selama ini beredar, namun secara penulisan masih belum tepat. Manurut salah satu mahasiswa asing yakni Tukazban Zeynalova, ia mengaku cukup senang dengan berbagai pesona yang disuguhkan oleh Taman Nasional Bromo Tengger, Semeru. “Saya sangat senang dengan Gunung Bromo, terutama sunrise dan ketika menaiki mobil Jeep. Semua kegiatan ini sangat menyenangkan sekali,” ungkap mahasiswa asal Azerbaijan itu dalam bahasa Indonesia dengan nada senang. Menurutnya, kampanye penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar ini membuatnya lebih memperlancar keterampilan berbahasa Indonesia. Model pembelajaran secara langsung di lapangan, yakni berinteraksi dengan masyarakat lokal, membuatnya memahami penggunaan kata dalam bahasa Indonesia dengan lebih baik. Utamanya Bahasa Indonesia yang sesuai KBBI dan kaidah EYD. Setelah sebelumnya para mahasiswa BIPA ini juga sempat mengunjungi berbagai destinasi wisata yang ada di sekitar Malang Raya, seperti Wisata Paralayang Batu dan Kampung Warna-warni Jodipan. Rencananya dalam waktu dekat meraka akan berkunjung ke Banyuwangi karena mereka juga ingin mengetahui wisata dan juga budaya. Seperti Wisata Kawah Putih dan Suku Oseng di Banyuwangi. (zak/can)

Peringati Hari Pangan Sedunia, BEM FPP UMM Bagikan Es Lilin Cuma-Cuma

Pada tanggal 16 Oktober diperingati Hari Pangan Sedunia atau World Food Day. Dalam upaya menyoroti kepedulian masyarakat terhadap sektor buah sebagai pendukung pangan di Indonesia, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (BEM-FPP) Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) mengadakan aksi bagi0bagi es lilin gratis. Aksi bagi-bagi es ini mengusung tema pangan lokal. “Semoga dengan aksi ini dapat lebih mencintai produk produk lokal sebab dapat membantu menunjang hasil tani dalam negeri dalam membantu menjual produk, seperti buah yang sudah menjadi bahan pangan di Indonesia” ujar Suci anggota BEM FPP. Pemilihan es lilin dalam produk pangan kali ini bukan tanpa sebab, karena Es lilin yang dibuat menggunakan buah-buahan seperti blewah, kacang hijau, jeruk merupakan buah buahan lokal yang banyak ditanam oleh petani Indonesian. Es lilin dibagikan di sekitaran kampus 3 UMM, seperti gedung rektorat, Gedung Kuliah Bersama (GKB) I,III, IV dan mahasiswa yang sedang melakukan aktivitas di kampus. Bentuk program kerja dari Departemen Kajian Aksi dan Strategi (Kastrat) BEM FPP menyerukan untuk mengajak para mahasiswa, jajaran staff dan akademisi di UMM untuk mengkonsumsi panganan lokal dan mengurangi panganan import seperti fast food. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk perbaikan kualitas sumber dayamanusia (SDM) yang dimulai dari memperbaiki panganan lokal Indonesia. Pola pangan sehat sendiri adalah pola pangan yang memenuhi kbutuhan individu dengan menyediakan makanan yang cukup, aman dan bergizi untuk menerapkan kehidupan yang aktif. Termasuk buah buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, makanan rendah lemak, gula dan garam yang sudah disiapkan sebagai bahan panganan lokal di Indonesia. (yas/can)

Peduli Goes to Campus di UMM, Semai Semangat Inklusi

Perguruan Tinggi berperan sangat penting sebagai ruang-ruang menyampaikan ide, gagasan, dan wacana yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk membangun bangsa. Wacana keberagaman di dalam kampus perlu terus dipelihara sebagai upaya menguatkan inklusi sosial dalam hidup berbangsa dan bernegara. Kampus perlu menjadi tempat yang nyaman bagi tumbuh dan berkembangnya insan-insan akademisi yang inklusif; Insan yang tidak lagi memandang perbedaan sebagai sebuah hambatan, namun menjadi sebuah kekuatan. Untuk itu, kampus perlu dilibatkan secara aktif dalam proses menumbuhkembangkan inklusi sosial dalam lingkungan pendidikan. Upaya melibatkan elemen Perguruan Tinggi tersebut diinisiasi oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melalui Program Peduli dukungan The Asia Foundation. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (17/10) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Kampus III UMM bertujuan untuk melakukan publikasi dan diseminasi praktik baik yang sudah dilakukan Program Peduli. Selain itu, untuk menjalin dialog untuk memperluas diskursus dan memelihara iklim inklusi sosial dalam lingkungan kampus. “Membuka dialog di lingkungan kampus terkait inklusi sosial adalah sesuatu yang harus dilakukan. Sebagai ruang pemikiran dan gagasan, kampus harus inklusif terhadap keberagaman, tidak ada lagi diskriminasi atas dasar perbedaan pendapat, pemikiran, agama, suku, jenis.kelamin, disabilitas, dan lain lain,” tutur Ketua Pengurus Nasional PKBI Dr. Ichsan Malik. Baca juga: Tim LSLC FKIP UMM Siap Dampingi Sejumlah SMP di KWB Menurutnya, hal ini sejalan dengan semangat PKBI dalam mewujudkan keluarga yang bertanggung jawab dan toleran. Pengertian dasar toleran adalah menghormati perbedaan yang ada. Ketika seseorang atau sekelompok orang merasa tidak aman dan merasa terancam oleh kelompok lainnya, maka akan lahir intoleransi. “Pada titik inilah, civitas akademika harus berperan serta dalam mencegah intoleransi, kegiatan Peduli Goes to Campus adalah salah satunya. Karena perbedaan adalah anugerah yang kita mesti jaga bersama,” kata Ichsan Malik. Senada dengan hal tersebut, Dekan Fisip UMM Dr. Rinikso Kartono, M.Si mengatakan bahwa pihak kampus menyambut sangat baik dan apresiatif dengan gagasan Peduli Goes to Campus di UMM. Ini menjadi pembelajaran bersama dan forum berbagi praktik baik antara lembaga yang mengimplementasikan Program Peduli dengan UMM. Terkait dengan kampus ramah disabilitas, UMM berpedoman kepada Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 46 Tahun 2017 tentang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus di Perguruan Tinggi, pasal 4 menyatakan bahwa Pendidikan inklusi merupakan Pendidikan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus yang dilakukan bersama dengan mahasiswa lain. Selain itu, UMM terbuka terhadap keberagaman. “Kami sepakat bahwa berbagai pihak harus dilibatkan dalam menciptakan lingkungan yang inklusif. Apalagi di lingkungan kampus, sebagai ruang pertukaran ilmu pengetahuan, segala bentuk kegiatannya harus menjunjung tinggi inklusi sosial. Berbagai praktik baik telah kami lakukan terkait ini,” tutur Rinikso. “Kami berharap Peduli Goes to Campus akan melahirkan agen-agen perubahan di lingkungan kampus. Dengan lingkungan yang inklusif di kampus, akan menyebar ke seluruh sendi-sendi kehidupan, tempat para civitas akademika berinteraksi dengan masyarakat. Sehingga tercipta Indonesia yang inklusif dalam menjalani pembangunan sosial yang humanis. Semoga ini bukan yang terakhir, namun awal untuk terjalinnya kerja sama penelitian dan pengabdian masyarakat antara UMM dan PKBI,” tutup Rinikso. Sebelumnya, Peduli Goes to Campus telah dilakukan di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada September 2018, Universitas Medan, Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Brawijaya Malang dengan mendapatkan apresiasi yang besar dari mahasiswa, dosen dan para partisipan lainnya. Pada penyelenggaraannya kali ini di Malang, kegiatan yang dihadiri kurang lebih 500 yang terdiri dari dosen dan mahasiswa ini, diwarnai oleh kegiatan kuliah umum, pagelaran seni Mahasiswa UMM, pameran inklusi, pemutaran film, penguatan kapasitas berupa penulisan tugas akhir dan pembuatan film dokumenter. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd dalam sambutannya menerangkan, jika ia antusias dengan inklusifitas. UMM sendiri terus berkomitmen menyuarakan persatuan salah satunya melalui gelaran Festival Kebangsaan yang bertepatan pada tahun ini yang dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla. “Inklusifitas menjadi hal yang sudah semestinya dijalani bukan diperdebatkan lagi,” terang Fauzan. Sayangnya, keadaan ini tidak selalu tercermin dari Indonesia. Padahal, lanjutnya, jargon Kita Indonesia hingga NKRI Harga Mati kurang benar-benar diterapkan dalam hidup berwarganegara. (mir/can)

D3 Keperawatan UMM Raih Akreditasi A

Setelah Program Studi (Prodi) Magister Agribisnis berhasil mempertahankan akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk periode 2019-2024, kini giliran Prodi DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memperoleh akreditasi A (sangat baik). “Uji kompetensi kita mengikuti ukuran standar nasional. Dimulai dari Try Out, Uji OSCE (Objective Structured Clinical Examination) dan sebagainya. Mengenai uji kompetensi, rata-rata kita sudah mencapai 85% ke atas di tiap tahunnya. Serta optimis dalam mendapatkan nilai A,” ungkap Kaprodi Reni Ilmiasih, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp. Kep.An. Melihat kinerja dan kualitas yang ditampilkan dengan maksimal, maka berdasarkan rapat acara Pleno Majelis Akreditasi No . 009/LAM-PTKes/BAAkr/IX/2019 tanggal 29 September 2019 memutuskan Prodi D3 Keperawatan UMM berhasil meraih Akreditasi A dengan nilai 367. Sebelumnya, untuk periode 2014-2019 prodi ini berakreditasi B. “Kita harus mempersiapkan segala sesuatu, agar kualitas tetap menjadi yang utama. Dari jauh-jauh hari kita telah menyiapkan tim yang benar-benar memiliki kualitas. Sehingga dokumen-dokumen tertata, kemudian kita juga familiar dalam membuat nilai dan mengupayakan agar mahasiswa menjadi lebih kompeten,” lanjut Reni. Selain meningkatkan kualitas pendidikan, Prodi ini mengoptimalkan bimbingan akreditasi dari kantor akreditasi UMM. “Sehingga kita upayakan pelaporan dilakukan sedetail mungkin. Kita telah compare dengan Kantor Pengelola dan Pengendali Akreditasi (KPPA). Artinya persiapan telah kita buat matang,” ujar Reni (14/10). Setelah mendapat akreditasi A, Reni merasa Prodi yang dipimpinnya memiliki tanggung jawab kian besar. Saat ini yang menjadi tantangannya maupun output ke depan adalah dalam bidang karir. “Karena lebih banyak profesi yang mengutamakan S1, sehingga harus mengedepankan mobilitas untuk persiapan ke dunia kerja,” tandasnya. (riz/can)

UMM kenalkan Software Tableau, Visualisasi Data Dukung Smart City

Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) menggelar workshop Tableau; Visualisasi Data untuk Mendukung Smart City yang diadakan di Gedung Kuliah Bersama (GKB 3) UMM (12/10). Agenda yang didasari oleh pentingnya penanganan Big Data, termasuk data analisis, yang semakin disadari oleh para pelaku usaha, industri, mahasiswa sampai institusi pemerintahan itu sendiri. Agenda yang digelar sehari ini mencakup pengenalan software Tableau, praktek visualisasi data (analisis visual, filter dan mapping) dan publish data (kalkulasi, story dan dashboard, dan publish Tableau) dengan dibagi menjadi dua kelas untuk umum, yakni dari instansi pemerintahan terkait dan mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia. Dengan menggandeng pemateri ahli praktisi data dari Platform Kata.ai Resa Primasatya, Data Scientist Indonesia Achmad Wilda Al Aziz dan Yufis Azhar, M.Kom dosen Teknik Informatika UMM yang juga berkompeten melihat peluang visualisasi dari penerapan big data melalui platfrom Tableau yang dapat mendukung terbentuknya smart City. Diikuti oleh peserta dari beberapa Pemerintahan Daerah seperti  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA & BALITBANGDA ) Kota Batu dan Pasuruan, Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) Trenggalek, Bangkalan, Sidoarjo, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (BALITJESTRO) Batu dan sejumlah Perguruan Tinggi yakni UNAIR, UPN, UB, dan UMM. Dalam pembukaannya, Ketua Pelaksana yang juga dosen prodi Teknik Informatika  Christian S.K.Aditya., M.kom menyatakan, Di era teknologi digital yang makin berkembang pesat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi ledakan data. “Diharapkan lewat workshop ini dapat menjembatani praktisi, akademisi dan pemerintahan dalam menyongsong pembangunan kota cerdas di Indonesia” ungkapnya. Dengan menggunakan fasilitas drag dan drop tabel, grafik maupun desain lain dalam software Tableau diharapkan dapat membaca visual dan menganalisis data dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga data tidak monoton dan dapat memperoleh keputusan yang baik dalam menunjang keberadaan smart city,” tambah Yuvis selaku pemateri. (yas/can)

Smart Tongkang, Mesin Pembuat Garam Berkualitas Ciptaan Mahasiswa UMM

GARAM termasuk mineral yang dapat diperbaharui dan jumlahnya tidak terbatas. Indonesia dengan iklimnya yang tropis dan garis pantai yang panjang menjadi negara dengan potensi produksi yang menjanjikan. Di sisi lain, penggunaan garam domestik dan dunia terus meningkat. Untuk menutupi kekurangan itu maka dilakukan impor. Pada tahun 2018 impor garam Indonesia mencapai 3,7 juta ton dengan nilai 83,6 juta USD, dan 2019 impor garam dialokasikan 2,7 juta ton. Alasan yang disampaikan Pemerintah karena produksi dan kualitas garam lokal Indonesia tidak mencukupi kebutuhan industri domestik, baik untuk kepentingan industri ataupun pangan. “Artinya negara mengeluarkan Rp1,34 Triliun untuk impor garam. Dengan biaya impor sebesar itu, sementara petani garam jauh dari kata sejahtera,” ungkap Haryo Widya Darman, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang saat menerangkan proposal yang diajukannya di ajang Rancang Bangun Mesin IX. “Kurangnya pendampingan dari ahli dan eksploitasi tradisional yang kurang maksimal punya beberapa kekurangan, seperti kepemilikan lahan terbatas, sangat tergantung pada cuaca dan efisiensi produksi yang rendah, menjadikan kualitas garam lokal kurang diminati. Industri,” beber Haryo saat ditemui Senin (14/10) siang. Menurut mahasiswa yang pernah memenangi ajang internasional ini, diperlukan solusi berupa pernambahan lahan yang fleksibel namun membantu percepatan produksi garam yang sesuai standar layak, sehingga bisa dipindah-pindah dan didekatkan menuju pabrik, sehingga mengurangi biaya transport dan operasional truk. “Solusi berupa penambahan lahan terapung menjadi masuk akal, karena bisa dipindah-pindah atau didekatkan menuju pabrik. Serta disematkan teknologi tambahan berupa control device android untuk mengetahui posisi, kadar air, temperatur, dan pengaktifan fitur mekatronika otomatisnya,” terangnya saat menjelaskan apa itu Tongkang Garam. Karena dilengkapi atap, cermin, generator kincir, sekop yang bisa dikendalikan otomatis, tongkang anti karat, tow hook, dan anchor membuatnya mudah dipindahkan, sehingga pembuatan tambak garam hybrid diharapkan jadi solusi untuk membantu petani mempercepat pembuatan garam yang sesuai standar keperluan industri. Dengan rancangan tongkang ini diharapkan dapat menjawab masalah seperti keterbatasan lahan karena proses kristalisasi dilakukan di atas laut, kualitas garam yang bisa ditingkatkan seperti kebersihan, warna, penurunan kadar air, dan percepatan produksi yang semula 15 hari menjadi 8-10 hari karena rekayasa mekatronika. “Yang artinya produksi panen akan lebih cepat dengan kualitas yang lebih baik dan akan meningkatkan harga jual panen yang lebih tinggi. Harapannya solusi ini akan menjadi penyebab berhentinya impor garam yang dilakukan pemerintah. Kami sedang menyusun dokumen paten untuk produk ini,” pungkas Haryo, ketua tim UMM ini. Haryo tak berjuang sendirian. Dalam perlombaan ini Ia satu tim bersama mahaswa teknik mesin lainnya, yakni Zehandana khatami (angkatan 2016), dan sang adik kandung Annisa Widya Nurmalitasari (angkatan 2007). Dengan komposisi tim ini, mereka berhasil mendapat peringkat 7 dari 44 proposal yang ikut seleksi. Meski belum mendapat raihan memuaskan, mesin temuan mereka ini kembali dilombakan di ajang yang diadakan oleh Asosiasi Program Studi Teknik Mesin-Perguruan Tinggi Muhammadiyah Se-Indonesia. Dari hasil seleksi para finalis yang berjumlah 8 tim, tim Kampus Putih UMM berhasil mendapat peringkat 2. (can)

UMM Dominasi KKCTBN 2019, Rebut 3 Gelar Sekaligus

MENJADI tuan rumah gelaran bergengsi seperti Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2019 jadi tantangan tersendiri bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain harus melayani peserta dengan suguhan maksimal, performa tim tuan rumah tentu juga musti optimal. UMM telah menunjukkannya. Pada perhelatan 3 hari ini, 10-12 Oktober 2019, UMM berhasil menyabet 3 gelar sekaligus. Pertama, peringkat 2 di 2 kategori sekaligus. Yakni kategori Electric Remote Control (ERC) dan Fuel Engine Remote Control (FERC). Kedua, nominasi tim favorit di kategori FERC yang dimenangkan oleh Team UMM I, UMM. Hingga para pemenang diumumkan (12/10), UMM tampil dengan performa terbaiknya. Team UMM 2 di kategori ERC mendapat raihan terbaik dengan skor akhir 120,678. Sedangkan Team UMM 1 di kategori FERC dengan skor akhir 121,379. Sementara di kategori ASV, UMM harus puas di posisi ke-14 dengan skor 10,8252. Meskipun tim baru terbentuk tahun ini, bahkan UMM tidak memiliki unit kegiatan mahasiswa khusus perkapalan, tapi mereka tetap optimis menang. Namun, mereka memiliki kelompok Mekatronic yang fokus pada permesinan. Ada fokusan mobil hemat energi, sementara tentang kapal baru riset tahun 2019 belakangan ini. “Tim UMM sebelum merancang kapal terlebih dahulu mempelajari panduan KKCTBN dari tahun pertama sampai tahun terakhir pelaksanaan. Kemudian mencari informasi kekuatan dan kelebihan dan kelemahan  tim lawan terutama tim langganan juara,” ungkap Drs Moh Jufri MT pendamping Tim Kapal Cepat UMM (13/10). Juga evaluasi berkala meliputi bagaimana merancang bentuk bodi yang fleksibel dan juga cocok untuk semua tipe track dan komponen yang dipakai dicarikan yang terbaik. “Kalau kapal sudah fleksibel dan komponen-komponennya terbaik, maka tinggal menyusun strategi untuk mencuri kemenangan,” beber Jufri. Pasca kemenangan ini, Jufri mengaku bakal tetap menyiapkan tim yang lebih solid dan kompak untuk mengikuti lomba-lomba berikutnya. “Tentunya, kami juga selalu menamkan tradisi juara buat tim pada semua perlombaan yang diikuti. Jangan salah, para peserta baru semester 3 semua,” tandasnya. Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Ristekdikti Dr Misbah Fikrianto MM MSi menyampaikan apresiasinya kepada Kampus Putih UMM yang menjadi tuan rumah KKCTBN 2019. “Apresiasi yang sangat tinggi, penghargaan, serta sanjungan atas pelaksanaan KKCTBN tahun ini di UMM dengan prediket excellence,” katanya. Hal ini karena pertama, jumlah peserta tahun ini meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Kedua, penyelenggaraan KKCTBN di UMM tahun ini penilaiannya menggunakan aplikasi sehingga lebih transparan dan akuntabel. Terakhir, juga diadakannya kelengkapan poster menjadikannya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. (can)

KKCTBN 2019 di UMM Sukses Dihelat, Ini Daftar Pemenangnya

Kontes Kapal Cepat Tanpa Awak Nasional (KKCTBN) 2019 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) (10-12/10) akhirnya mengukuhkan sejumlah pemenang. Enam puluh dua tim dari 30 perguruan tinggi se-indonesia bersaing ketat memperebutkan gelar bergengsi kontes yang diselenggarakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemristekdikti RI) ini. Di kategori Autonomous Surface Vehicle (ASV), Tim Aeroships dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) mencatatkan skor terbaiknya dengan nilai akhir 330. Disusul Tim Barunastra Roboboat ITS dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dengan nilai akhir 300. Selanjutnya di posisi 3 dengan nilai akhir 223,636 diraih oleh Autonomous Marine Vehicle dari Universitas Indonesia (UI). Di kategori Electric Remote Control (ERC), Tim Gamantaray Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mendominasi kemenangan dengan skor akhir 123,956. Di posisi 2 diraih Team UMM 2 dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan skor akhir 120,678. Disusul kemudian di posisi ketiga di raih Tim Elmoana dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dengan skor akhir 118. Sementara di kategori Fuel Engine Remote Control (FERC), Cakalang 7 dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) mendapat skor terbaik yakni 122,811. Di posisi kedua UMM yang diwakili Team UMM 1 berhasil menyabet perolehan terbaiknya yakni dengan mencatatkan skor 121,379. Di posisi ketiga, tim Seawolf dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan skor akhir 116,889. Di kategori lainnya yakni Fun Race ERC dimenangkan Cakalang 3 PPNS dan FERC dimenangkan Seawolf Unesa. Kategori Tim Favorit di ASV dimenangkan Gamataray UGM, ERC dimenangkan Baracuda V IPB, dan FERC dimenagkan Team UMM I UMM. Di Best Spirit, ASV dimenangkan Antares UNS, ERC oleh HTNB Universitas Hang Tuah, dan FERC oleh Onepro_MP dari Politeknik Negeri Ujung Pandang. Ada juga pemenang bagi kategori Best Poster yang hanya ada satu pemenang yakni dari Tim Autonomous Marine Vehicle, Universitas Indonesia (UI). Terdapat juga kategori Best Design yang pada kategori ASV dimenangkan Barunasastra Roboboat ITS, ERC dimenangkan Tim Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM), dan FERC dimenangkan oleh Tim andalan PPNS Surabaya yakni oleh Tim Cakalang 7. Dalam sambutannya, Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Ristekdikti Dr Misbah Fikrianto MM MSi menyampaikan apresiasinya kepada UMM yang telah menyelenggarakan perhelatan KKCTBN 2019 dengan sangat baik. “Kami menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi, penghargaan, serta sanjungan atas pelaksanaan KKCTBN tahun ini di UMM dengan prediket excellence,” katanya. Setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan gelaran KKCTBN 2019 di UMM menjadi spesial. Pertama, jumlah peserta tahun ini meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Kedua, penyelenggaraan KKCTBN di UMM tahun ini penilaiannya menggunakan aplikasi sehingga lebih transparan dan akuntabel. Terakhir, diadakannya syarat poster menjadikannya berbeda dari tahun sebelumnya. Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi menyebut UMM memiliki ekosistem serta sarana dan prasarana yang sangat mendukung kegiatan akademik civitas akademikanya, misalnya danau buatan yang dipakai perlombaan KKCTBN tahun ini. “Mungkin para pendiri kampus ini sudah memiliki suatu imajinasi bahwa kelak, UMM akan diminta sebagai host penyelenggaraan KKCTBN ini,” tandas Syamsul. (can)

Gedung Kuliah UMM Mendadak Jadi Sandaran ‘Kapal’

Ada yang unik pada gelaran Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2019 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Jembatan penghubung dengan gedung kuliah bersama (GKB) I, disulap menjadi kapal pesiar yang siap mengarungi ganasnya lautan lepas. Dilihat dari pantauan udara menggunakan drone, jembatan yang setiap harinya digunakan lalu lalang mahasiswa UMM ini didekor dengan serius sehingga menjadi objek ikonik selama penyelengaraan kontes. Di pembukaan, ‘kapal’ dilaunching Dirjen Belmawa Didin Wahidin. Kreativitas desain usulan Wakil Rektor III UMM Dr Sidik Sunaryo ini memang sengaja dihadirkan untuk memberi atmosfer lautan lepas yang sesungguhnya. Apalagi disertai pelampung dan jangkar kapal yang terlihat di sisi kanan-kirinya, menambah kesan kapal laut sungguhan. Di atas ‘kapal’ ini juga, saat pembukaan acara, digelar defile kontingen dari 62 tim yang berasal 30 perguruan tinggi se-Indonesia. Mereka masing-masing membawa bendera asal perguruan tinggi. Sebelumnya juga, para peserta disambut tarian daerah dari Sangsekarta UMM. Kontingen UMM sendiri menerjunkan 3 kapal cepat andalannya di 3 kategori yang ada. Mereka bersaing di Kapal Kendali Otomatis (ASV), Kapal Cepat Listrik dengan Sistem Kendali Jauh (ERC), dan Kapal Cepat Berbahan Bakar dengan Sistem Kendali Jauh (FERV). Mereka optimis menang, karena menggunakan mesin berkapasitas 32 CC dengan laju kecepatan maksimal mencapai 40 KM/H. Selain itu, mereka mengandalkan spesifikasi bodi yang lebih ramping. Tak ketinggalan, mereka tentu sudah hafal dengan lintasan yang tersedia. Hingga berita ini diturunkan, UMM tampil dengan performa terbaiknya. Team UMM 2 di kategori ERC berada di posisi 2 dengan skor akhir 120,678. Sedangkan Team UMM 1 di kategori FERC juga berada di posisi 2 dengan skor akhir 121,379. Sementara ASV menunggu hasil. Meskipun tim baru terbentuk tahun ini, bahkan tidak memiliki UKM khusus perkapalan, tapi mereka optimis menang. Mereka memiliki kelompok Mekatronic yang fokus pada permesinan. Ada fokusan mobil hemat energi dan tentang kapal baru riset tahun 2019 ini. Para pemenang akan diumumkan pada Sabtu (12/10) malam di depan GKB I UMM. Selain pengumuman pemenang dan penyerahan medali, akan ada juga penyerahan piagam penghargaan dari Dirjen Belmawa kepada UMM sebagai tuan rumah KKCTBN tahun ini. (riz/can)