Silaturahmi di UMM Dekatkan Ribuan Wali Maba dengan Pimpinan Universitas

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pasti mendapatkan tiga kompetensi penting. Hal itu ditegaskan langsung oleh Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. di hadapan ribuah wali mahasiswa baru tahun 2024 di Dome UMM, 03 Agustus lalu. Agend aitu merupakan silaturahmi pimpinan UMM dengan orang tua wali mahasiswa baru tahun akademik 2024/2025. Lebih lanjut, Nazar menjelaskan bahwa tiga kompetensi tersebut meliputi kompetensi profesional, kompetensi akademik, dan kompetensi enterpreneurship. Ketiga kompetensi tersebut nantinya menjadi bekal utama bagi mahasiswa UMM sebagai sumber daya manusia (SDM) yang siap untuk menyambut masa depan dan menjadi pribadi yang dicita-citakan. “UMM tidak serta merta menuntut putra-putri sekalian untuk mendapat tiga kompetensi tersebut tanpa memberikan fasilitas dan program yang terbaik. Tentunya kami sudah menyiapkan tenaga pendidik yang profesional dan program-program terbaik. Salah satunya Center of Excellence (CoE) sebagai wadah untuk mengasah minat dan bakat,” jelasnya. Adapun CoE merupakan bingkai besar yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan SDM unggul, salah satunya untuk menyambut Indonesia Emas 2045. Saat ini sudah ada lebih dari 50 CoE berbasis program studi yang bekerjasama dengan ratusan instansi dalam negeri maupun luar negeri. Hal senada disampaikan Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. Menurutnya, giat silaturahmi ini menjadi awal untuk merajut kebersamaan antara pimpinan UMM dengan wali mahasiswa. Dia menegaskan bahwa Kampus Putih siap memberikan kepastian kepada seluruh wali mahasiswa. Kepastian tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen dan tanggung jawab UMM yang telah mendapatkan amanah sebagai tempat menimba ilmu bagi putra-putri wali mahasiswa. “Pertanyaan klasik yang seringkali ditanyakan oleh wali mahasiswa adalah kapan anak saya bisa lulus? Dan seringkali dijawab dengan kalimat ‘tergantung anaknya’. Itu jawaban yang tidak bertanggung jawab. Tapi di sini, UMM pastikan bahwa putra-putri bapak ibu sekalian itu pasti lulus tepat waktu selama 3,5 sampai 4 Tahun, pasti mandiri, dan pasti bekerja,” tegasnya Fauzan juga mengungkap bahwa kampus putih memiliki banyak sekali mekanisme untuk meluluskan mahasiswa. Hal itu dimaksudkan untuk menghargai segala minat, bakat, serta prestasi yang ditoreh selama menjadi bagian dari jas merah. “Banyak kampus yang meaknisme masuknya sangat banyak, tapi saat ingin lulus hanya bisa pakai skripsi. Untungnya, di UMM para mahasiswa ini bisa lulus tanpa skripsi. Misalnya saja dengan prestasi, baik yang akademik hinggi non-akademik. Kami pastikan seluruh prestasi mahasiswa itu dihargai,” tegasnya. Sementara itu, salah satu wali mahasiswa UMM Aning Ida Uswiati membenarkan seluruh pernyataan pimpinan Kampus Putih. Dibuktikan dengan kedua anaknya yang saat ini sudah sukses dalam menggapai cita-citanya masing-masing. Anak pertamanya lulus 2016 dari UMM sebagai wisudawan terbaik dan baru saja menyelesaikan studi di Georgetown University, Washington DC Amerika. Sementara, anak keduanya lulus pada tahun 2021 dan saat ini langsung berkarir di UMM. “Terimakasih UMM yang telah mengantar anak-anak saya dalam meraih mimpi. Kini saya titipkan anak ketiga saya di UMM lagi. Saya sangat terkesan dengan kerja sama UMM yang luas dan banyak, utamanya instansi-instansi luar negeri. Dibuktikan dengan anak saya yang bisa mendapat beasiswa djarum, program pertukaran di Singapura, magang di Thailand, summer camp di Cina, serta magang di BUMN. Terlebih, pembayaran di UMM yang bisa diangsur dan itu memudahkan bagi wali mahasiswa,” tutupnya. (Faq/Wil)
Begini Tips Bangun Karakter Anti Korupsi ala Dosen PKN UMM

Isu korupsi di Indonesia selalu menjadi perbincangan hangat karena masih banyaknya kasus yang sering ditemukan di Indonesia. Melihat itu, Moh. Wahyu Kurniawan, S.Pd., M.Pd. selaku dosen Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan penjelasan. Menurutnya,vedukasi mengenai pendidikan anti korupsi perlu dilakukan terutama di lingkup pendidikan. Hal ini diharapkan bisa membangun karakter para calon pemimpin masa depan. Wahyu yang juga Penyuluh Anti Korupsi KPK itu mengatakan bahwa penyuluhan menjadi salah satu cara penting. Beberapa tugas yang ia emban yakni memberikan pemahaman dan pengetahuan, pengertian mengenai bahaya korupsi, dampak korupsi, serta mendorong masyarakat agar menjauhi tindak pidana korupsi. Penyuluhan ini diberikan kepada semua kalangan, termasuk para kalangan muda. Adapun UMM juga telah memiliki kurikulum yang berfokus pada anti korupsi yang terlaksanaka dalam prodi-prodi pendidikan. Menurutnya, kurikulum itu dapat dikembangkan dan bisa diberikan pada para mahasiswa prodi lain bahkan juga anak-anak sekolah. “Korupsi ini harus dilawan bersama dan menjadi pekerjaan rumah kita bersama juga,” tegasnya. Lebih lanjut, Wahyu mengatakan bahwa gaya hidup hedonisme dan serakah menjadi salah satu faktor mengapa seseorang melakukan korupsi. Maka solusi yang bisa dilakukan yakni dengan memberikan rasa takut kepada pelaku agar jera. Ia melihat bahwa itu menjadi hal yang ironi di mana hak-hak yang seharusnya didapat anak-anak dan masyarakat membutuhkan malah disalah gunakan oleh oknum-oknum tertentu. Terkait gratifikasi, ia menjelaskan bahwa gratifikasi memiliki dua jenis, yakni positif dan negatif. Maksud dari gratifikasi positif yakni melakukan pemberian kepada seseorang terutama pejabat publik tanpa ada rasa pamrih. Sebaliknya, gratifikasi negatif yaitu memberi sesuatu karena ada maksud dan tujuan tertentu. Seperti yang sudah dijelaskan dalam undang-undang Tipikor nomor 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi, yang telah mengatur dan membahas mengenai unsur-unsur perbuatan yang tergolong dalam tindak korupsi. Maka dari itu, ia menilai bahwa isu tindak pidana menjadi PR bersama untuk diberantas. Dapat dimulai dari hal kecil seperti gaya mendidik seorang anak yang harus jujur dan disiplin. Ini tentu akan berpengaruh dalam pembentukkan karakter sang anak yang baik dan patuh di masa depan. “Menilai kepemimpinan karakter seorang anak harus menggunakan program pembiasaan melalui jalur pendidikan. Misalnya saja apa yang telah diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Itu semua adalah nilai-nilai untuk menjauhi perilaku korupsi dan metodenya dimulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat,” tambahnya. (Zaf/Wil)
CoE Ekspor Agrokompleks UMM Terjunkan Mahasiswa Belajar Lapang di Singapura

Para mahasiswa yang tergabung dalam Center of Excellence (CoE) Ekspor Produk Agrokompleks Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terbang ke Singapura akhir Juli lalu. Hal itu merupakan bagian dari proses CoE yakni kujungan dan workshop ke salah satu dunia usaha dunia industri (DUDI) yang sudah bekerjasama, Samudera Shipping Line Ltd. Adapun CoE ini dijalankan oleh prodi Agribisnis UMM. Dalam workshop itu, para mahasiswa langsung berdiskusi dengan para praktisi, salah satunya I Kadek Didik Wijaya selaku head of strategy and business development. Kadek, sapaannya, memaparkan berbagai aspek penting terkait ekspor. Di antaranya proses operasional ekspor, risiko yang dihadapi, strategi, hingga pentingnya sumber daya manusia. “Kalau kita lihat, generasi Z memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi penerus dalma indusrti ekspor. Biak itu di level nasional, ASEAN, hingga internasional. Apalagi melihat bahwa generasi ini memiliki kemampuan adaptasi teknologi dan kreativitas yang tinggi sehingga akan sangat bermanfaat untuk keberlanjutan bisnis ekspor,” tegasnya menambahkan. Kadek juga berharap, kunjungan tersebut bisa memberikan wawasan dan skill mumpuni bagi para mahasiswa. Dengan begitu, mereka bisa percaya diri terjun di dunia ekspor, utamanya pada aspek produk agrokompleks. Ia juga mendorong anak-anak muda untuk turut aktif berpartisipasi dalam industri ekspor di masa depan. Pada kesempatan itu, para mahasiswa juga diajak tur perusahaan sembari mendapatkan gambaran rinci tentang rute pelayaran Samudera Shipping Line Ltd. Serta sepak terjangnya di mancanegara. Bahkan juga mendapatkan berbagai tips memulia bisnis ekspor dan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang bisa menjadi pembelajaran. Di sisi lain, Ary Bachtiar, M.Si. selaku penanggungjawab CoE tersebut menyampaikan bahwa agenda tersebut merupakan rangkaian program mahasiswa CoE sebagai bentuk internasionalisasi. Fokus utamanya adalah untuk memberikan pemahaman dan pengalaman mahasiswa pada penanganan produk ekspor. Di sampping itu juga memberikan gambaran usaha di bidang pengiriman barang antar negara. “Semoga para mahasiswa bisa mendapatkan berbagai hal baru dan mampu memperdalam pemahaman tentang sistem dan operasional ekspor,” pungkasnya mengakhiri. (*/Wil)
Pustakawan Maladewa Belajar Manajemen Pustaka ke UMM

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama dengan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Timur kembali terima kunjungan. Kali ini Professional Development Workshop on Library and Information Services (PDWLIS) Maldives National University (MNU) Maladewa datang pada 31 Juli 2024 lalu. Kunjungan itu juga menjadi studi banding pustakawan Maladewa di Indonesia. Aminath Riyaz, salah satu perwakilan dari MNU mengapresiasi kampus putih yang memiliki berbagai fasilitas yang memadani untuk perpustakaan. “Kami datang ke sini untuk belajar, transfer ilmu, dan sekaligus menjalin hubungan dengan UMM. Ke depan, tentu juga akan ada kerja sama khususnya terkait dengan keperpustakaan. UMM ini kampusnya besar sekali dan masih menghidupkan perpustakaan secara maksimal, terbukti dari banyaknya penghargaan yang diterima,” katanya menambahkan. Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa saat ini para akademisi perlu mencetak anak muda pemerhati perpustakaan. Dia juga mengucapkan terimakasih kepada UMM yang telah menerima kunjungan tersebut dengan berbagai fasilitas yang diberikan. Mulai dari penginapan bintang empat yakni Rayz Hotel UMM hingga tur kampus. Di sisi lain, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi M.Psi., Ph.D. menjelaskan bahwa kemajuan peradaban itu tidak bisa lepas dari ilmu pengetahuan. Sementara, salah satu sumber ilmu pengetahuan yakni dari buku dan pasti banyak ditemukan di perpustakaan. Dia juga mengapresiasi masih banyak orang yang menjadi pemerhati perpustakaan ditengah gempuran zaman. “Tidak bisa kita pungkiri bahwa saat ini generasi Z mulai malas untuk membaca naskah yang panjang. Apalagi membaca buku yang punya banyak halaman. Mereka lebih suka membaca tulisan singkat dan pesan singkat di gawai,” ungkapnya. Menurutnya, permasalahan tersebut bisa dijawab salah satunya dengan mendekatkan anak muda dengan akses informasi dari perpustakaan. Dia juga menyampaikan bahwa saat ini dunia sudah sangat cepat dalam bidang teknologi. Perpustakaan yang konvensional bisa dimodernisasi dengan mengubahnua menjadi perpustakaan digital yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja. “Perpustakaan digital sepertinya perlu kita kembangkan dengan lebih masif lagi. Melalui perpustakaan itu, semua informasi bisa diakses dengan smartphone dan secara tidak langsung itu juga membuat para generasi Z lebih mudah untuk belajar,” katanya menegaskan. (Faq/Wil)
Kembali Raih Prestasi, UMM Borong Juara di Anugerah Humas Diktiristek Jatim

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi. Kali ini datang dari Hubungan Masyarakat (Humas) UMM yang sukses memborong tiga kategori penghargaan di Anugerah Humas Diktiristek LLDikti Wilayah VII Jawa Timur. Sederet kemenangan itu diumumkan pada 30 Juli 2024 lalu. Dalam kompetis itu, Kampus Putih mendapatkan juara pertama di pengelolaan media sosial dan juara dua kategori laman. Selain itu juga menjadi juara satu kategori insan humas terpopuler yang diraih oleh Hassanalwildan Ahmad Zain. Hal itu semakin menguatkan komitmen dan kualitas humas UMM selama ini. Dr. M. Isnaini, M.Pd. selaku kepala humas UMM mengatakan, raihan ini menjadi bukti kerja keras dan cerdas tim Humas, terutama dalam menjelaskan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Kampus Putih, sustainable development goals (SDGs) dan lain-lain. Persiapan yang dilakukan juga sangat intens dan serius. Berbagai data dikumpulkan dan ditata, kemudian diatur sedemikian rupa agar bisa mendapat hasil yang maksimal di masing-masing kategori. Krisna, sapaannya, melanjutkan bahwa upaya branding yang dilakukan UMM ini berdasarkan perencanaan target yang matang. Selain bertujuan untuk mem-branding Kampus Putih, usaha ini juga sebagai cara untuk mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Apalagi program tersebut merupakan prioritas utama dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. “Tim kami juga terus berupaya untuk melakukan publikasi media online maupun cetak. Begitupun dengan video-video menarik dan unik yang ditayangkan melalui platform TikTok, instagram, youtube, X, hingga facebook pada akun rsmi kampus yakni @ummcampus. Strategi dan objek branding kami juga termasuk program Center of Excellence (CoE) garapan UMM dan berhubungan erat dengan implementasi nyata MBKM pemerintah yang berfokus pada konsen UMM SDGs, tutur dosen pendidikan bahasa Indonesia itu. Menurutnya, semua upaya yang dilakukan tidak lengkap jika tidak ada laporan yang bagus dan rapi. Berangkat dari data-data itulah, timnya bisa mengambil kebijakan untuk menyajikan informasi terbaik tentang UMM. Prestasi tersebut memang membanggakan, namun Krisna berharap hal ini juga bisa jadi dorongan agar Humas UMM dapat meraih prestasi bergengsi lainnya. “Semoga raihan ini semakin memacu kami untuk memberikan yang terbaik. Selain itu juga menjadi pemacu kampus-kampus lain agar bisa meningkatkan kinerja dan kualitas agar pendidikan tinggi di Indonesia semakin bagus,” katanya mengakhiri. (Wil)
Tim Pencak Silat UMM Raih Prestasi di Kejuaraan Internasional

Kampus putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen untuk mencetak generasi unggul. Salah satu arti unggul yakni mampu mengukir prestasi di berbagai bidang baik itu akademik maupun non-akademik. Terbaru, tim atlet pencak silat UMM menyabet juara tiga pada kejuaraan 2nd International Indonesian Pencak Silat Open Championship 2024. Agenda itu diselenggarakan oleh Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (Persilat) dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), 12 -16 Juli lalu. Kejuaraan tersebut diikuti 7 negara yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, Brunei Darussalam, dan Amerika Serikat. Atlet UMM tersebut terdiri dari Muhammad Miqdad Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi (Ikom), Wisnu Wardhana Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan (IP), dan Luthfanda Gibran Pamungkas. Mereka memperoleh juara 3 pada kategori Seni Beregu Putra Dewasa. Muhammad Miqdad salah satu anggota tim mengaku sangat senang dan bahagia saat memperoleh juara. “Senang dan bahagia itu pasti, apalagi ini kejuaraan internasional yang pesertanya itu dari luar negeri. Tantangan yang dihadapi itu pasti mental ya, menguatkat mental untuk kejuaraan internasional adalah keharusan. Euforianya sangat beda dengan kejuaraan nasional,” jelasnya. Lebih lanjut, Miqdad sapaan akrabnya mengaku bahwa dia bersama rekan-rekannya sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Terlebih lagi kategori yang dia geluti adalah seni beregu, maka harus ada koordinasi dan kekompakan yang apik saat tampil. “Kami membutuhkan waktu persiapan yang cukup lama yakni delapan bulan sebelum kejuaraan. Kami sehari bisa latihan satu sampai tiga kali. Mungkin kalau dipikir-pikir, agak mustahil setiap hari bisa latihan sebanyak itu. Namun memang begitu realitanya, karena kami tahu yang dihadapi adalah atlet-atlet nasional dan internasional,” ungkapnya. Menariknya, para atlet pencak silat UMM itu dibiayai oleh kampus putih untuk mengikuti kejuaraan tersebut. Mulai dari transportasi, akomodasi, konsumsi, hingga seluruh kebutuhan saat mengikuti kejuaraan. Itu juga yang menjadi salah satu faktor Miqdad bersama timnya tekun dan giat pada saat mengikuti kejuaraan. “Alhamdulillah semua kebutuhan sudah disokong oleh UMM dan itu juga salah satu faktor kami bisa lebih fokus. Saya berpesan pada para mahasiswa dna atlet UMM untuk tidak bosan berlatih. Tidak perlu sungkan berkomunikasi dengan kampus, terutama kemahasiswaan. Pasti akan didukung penuh,” tegasnya mengakhiri. (faq/wil)
Alumnus Ekos UMM Ini Sukses Jalankan Coffe Shop Beromzet Puluhan Juta Sebulan

Adalah Farid Abdul Rahman, alumnus Program Studi (Prodi) Ekonomi Syariah (Ekos) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses jalankan usaha coffeshop. Ia berhasil meraup keuntungan puluhan juta sebulan sekaligus memberikan lapangan pekerjaan bagi anak muda. Farid, sapaan akrabnya mengaku bahwa ia berani membuka usaha coffeshop bernama SensCafe karena bekal dari UMM. Selama perkuliahan, dia sangat menekuni materi seputar manajemen, mulai dari manajemen keuangan, resiko, serta operasional. Menurutnya, semua ilmu yang sudah didapat akan sia-sia juga tidak diimplementasikan. “Ilmu dari kampus itu sangat berguna, apalagi saya ini dari Prodi Ekos dan mendapat ilmu terkait dengan manajemen. Itu semua saya implementasikan dengan membuka dan menjalankan usaha coffeshop ini,” ungkapnya. Dia mengaku bahwa modal awal dari usaha coffeshop ini banyak dari sisa biaya menikah dan berbagai tabungan lain yang nilainya 50 juta. Berbagai tantangan dan halangan ia alami sejak resmi membuka coffeshopnya. Bahkan pada 2018, ia sempat berpindah-pindah lokai. Mulai dari daerah Malang Raya, lalu ke Bangil Pasuruan. Lalu kini ada di Ampeldento Karangploso, Kabupaten Malang yang berlokasi di area belakang kampus 3 UMM. “SensCafe ini sudah berjalan sejak 2021. Sudah mulai belaja dan merintis usaha coffeshop sejak tahun 2018, saat saya jadi mahasiswa semester akhir. Saya kan dasarnya meamng seorang aktivis di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Dulu kami anak-anak IMM itu sering pindah lokasi tempat nongkrong. Dari situ saya coba sewa tempat untuk tempat ngopi yang sekalian bisa jadi basecamp. Melihat omsetnya yang lumayan, akhirnya saya ketagihan dengan bisnis coffeshop,” kisahnya. Tekad yang kuat, gigih, dan harus mau tirakat menjadi kunci yang selalu dipegang teguh oleh Farid. Apalagi mengingat bahwa menjadi seorang pengusaha itu sangatlah tidak mudah. Semua sektor dalam usaha tersebut harus diperhatikan secara intensif dan terus menerus memerlukan evaluasi. Dia juga berpesan kepada seluruh mahasiswa yang kini masih merintis usaha untuk tidak tergesa-gesa dalam mengejar ekspetasi hasil dalam usahanya. “Kalian harus mau puasa. Puasa disini maksudnya harus bisa memperbanyak sabar, menjaga keuangan dengan baik, mampu mengambil keputusan dengan kepala dingin, dan jangan tergesa-gesa. Saat masa merintis usaha itu mungkin lebih banyak tidak enaknya. Namun seiring berjalannya waktu, ketika semua aspek dalam usaha itu kuuat, pasti hasil yang didapat bisa melampaui ekspetasi,” pesannya. (faq/wil)
Terbang ke Batam, Tim RSU UMM Berkontribusi di Kongres Hukum Kesehatan Dunia

Rombongan Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) beri kontribusi dan berangkat menuju Kongres Dunia untuk Hukum Kesehatan Ke-28, di Batam. Agenda yang dilaksanakan pada 21-23 Juli itu dihadiri berbagai pakar hukum kesehatan, praktisi kesehatan, para guru besar hukum kesehatan dari berbagai dunia. Mulai dari Inggris, Belgia, Turki, Rusia, Peru, Jepang, Australia, Cina, Nigeria, Ghana, Zambia, dan lain-lain. Adapun RSU UMM mengirimkan empat delegasi terbaiknya, yakni dr. Wildan Firmansyah, dr. Rezky Ami, dr. Thontowi Djauhari dan Ners Tiwuk Herawati. Tidak hanya menghadiri, namun mereka juga mempresentasikan paper ilmiahnya dan memberikna kontribusi terkait hukum kesehatan. Bahkan, lebih dari empat paper berhasil lolos pada kongres tersebut. “Iya, kami berangkat dna berniat untuk memberikan ide dan sumbangsih di dunia kesehatan, khususnya di bidang hukum kesehatan. Kebetulan paper saya dan dr. Thontowi berkaitan dengan hukum otopsi jenazah dalma hukum pidana,” jelas dr. Wildan, salah satu perwakilan RSU UMM. Dalam papernya, ia menjelaskan bahwa bedah mayat forensik merupakan prosedur kedokteran yang tidak lain dimaksudkan untuk membantu mencari dan menegakkan keadilian atas sebuah kematian yang tidak wajar dan mencurigakan. Dalam kematian tidak wajar semua orang memiliki kewajiban hukum untuk membantu negara mengungkap sebuah kejahatan. KUHP dan KUHAP telah mengatur secara detail tentang otopsi jenazah , tentang permintaan visum et repertum (VER) dan lainnya. “Telah diatur pula ancaman pidana bagi setiap orang yang mencoba menghalangi atau menggagalkan pelaksanaan otopsi jenazah, sesuai pasal 133-135 KUHAP,” tegas Wildan. Ia menyampaikan, menurut statistik, banyak kematian yang tidak wajar di Indonesia yang tidak dilakukan otopsi. Hal itu karena adanya penolakan dari keluarga, padahal tidak ada satupun aturan yang menyatakan bahwa jenazah adalah hak mutlak milik keluarga. Pada hakekatnya, upaya penengakan hukum merupakan upaya negara untuk menggapai keadilan. “Pemberitahuan kepada keluarga korban untuk otopsi adalah wujud penghargaan terhadap korban dan wujud terhadap penghargaan negara dalam rangka penegakan keadilan pada sesuatu kematian yang tidak wajar,” katanya. Usai mengikuti kongres tersebut, Wildan mengatakan bahwa akhir-akhir ini isu dunia medis sangat rentang untuk dihadapkan dengan dunia hukum. Maka, ia berharap SDM di dunia medis bisa lebih sadar akan pentingnya hukum kesehatan. Dengan begitu, mereka bisa lebih siap dan aman dalam mengambil tindakan. (wil)
Alumnus Bahasa Indonesia UMM Ini Sukses Jadi Ketua KPU Kota Probolinggo

Radfan Faisal adalah alumnus Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2006. Berbekal berbagai keilmuan dan pengalaman selama di kampus putih, kini ia sukses menjabat sebagai ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Probolinggo periode 2024-2029. “Ini merupakan hasil dari perjalanan panjang dalam menuntut ilmu selama empat tahun. Banyak sisi akademis yang saya dapatkan selama kuliah di kampus putih. Dan yang paling terasa adalah ilmu sekaligus implementasi dari aspek komunikasi terapan. Aspek bahasa seringkali anggap remeh baik bahasa tutur dan bahasa tulis, namun itu saya pelajari dengan sungguh-sungguh,” jelasnya. Lebih lanjut, Radfan sapaan akrabnya menceritakan selama kuliah di UMM, dia seringkali berinteraksi dengan para dosen. Hal itu juga yang menjadi penguat skill komunikasi yang dia miliki dan secara tidak sadar memudahkannya ketika berhadapan dengan orang baru di masyarakat secara umum. Bekal itu bahkan juga mengantarnya menjadi salah satu asisten dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di kampus saat masih menjadi mahasiswa. “Sangat terasa sekali manfaatnya. Saya pernah menjadi Asisten Dosen AIK, lalu menjadi bagian dari part time Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA) di kampus. Aktif juga di organisasi internal kampus ditingkat prodi, fakultas, hingga universitas serta aktif juga di organisasi otonom Muhammadiyah. Ternyata bekal skill komunikasi itu membuat saya lebih didengar dan percaya diri saat berbicara,” kisahnya. Selain itu, dia juga menceritakan proses yang dia jalani hingga bisa menjadi ketua KPU Kota Probolinggo. Ia menegaskan bahwa ini merupakan periode keduanya menjadi bagian dari KPU Kota Probolinggo. Sebelumnya, di periode 2019-2024 ia merupakan bagian dari Divisi Sosialiasi Pendidikan Pemilih (Sosdiklih), Partisipasi Masyarakat (Parmas), dan Sumber Daya Manusia (SDM). Setelah periode itu habis, ia mendaftarkan diri lagi menjadi bagian dari KPU Kota Probolinggo. “ini periode kedua saya menjadi bagian dari KPU, alur pendaftaran itu sebetulnya tidak begitu susah. Mengingat semua warga negara indonesia itu bisa menjadi bagian dari KPU dan mengikuti berbagai tahap demi tahap. Mulai dari seleksi administrasi, tes tulis, tes kesehatan, tes psikologi, tes wawancara. Nantinya diambil 10 pendaftar terbaik dan diseleksi lagi oleh KPU RI menjadi 5 orang untuk rapat pleno,” jelasnya. Menariknya saat rapat pleno, Radfan langsung mendapat kepercayaan oleh rekan-rekannya untuk menjadi ketua KPU hanya melalui musyawarah mufakat tanpa perlu adanya voting. Itu menunjukkan bahwa kapasitasnya sudah diakui dan sangat cocok menjadi ketua KPU Kota Probolinggo. Terakhir, dia berpesan kepada seluruh mahasiswa UMM untuk mampu mengoptimalkan seluruh wadah yang telah diberikan oleh kampus. Utamanya untuk mengembangkan minat dan bakat. Dia mengakui bahwa kampus sudah memberikan wadah terbaik bagi mahasiswanya, mulai dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), organisasi internal, bahkan juga pendanaan untuk penelitian dan kejuaraan bagi mahasiswanya. (faq/wil)
Berkat CoE, Alumnus Akuakultur UMM Lolos Program Kementerian Kelautan dan Perikanan

Aspek perikanan menjadi hal strategis untuk Indonesia. Maka, lulusan-lulusan perikanan punya peran dan peluang bagus di masa depan. Salah satunya alumnus Prodi Akuakultur Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM Brilian Amanat Taqwa yang berhasil berkarya di salah satu program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia, yakni Insfrastructure Improvement Fof Shrimp Aquaculture Project (IIFSAP). “Program tersebut merupakan kerjasama (KKP) bersama dengan Asian Development Bank. Adapun program ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, profitabilitas, dan kelestarian lingkungan budidaya udang oleh pembudidaya kecil,” jelasnya Brilian, sapaannya. Ia yang juga sudah menyelesaikan Center of Excellence (CoE) Udang UMM itu akan menjalankan program tersebut hingga 2027 mendatang dan ditempatkan di Provinsi Lampung sebagai fasilitator. Di sana, ia akan membantu pembudidaya udang sekitar untuk bisa meningkatkan kualitas dna kuantitas udang. Brilian menjelaskan bahwa keberhasilannya masuk di program tersebut tak lepas dari berbagai pengalaman dan pembelajaran di Prodi Akuakultur UMM. berbagai kegiatan ia ikuti dan menambah pemahamannya tentang perikanan. Misalnya saja Kampus Merdeka MSIB, Pekan Ilmian Mahasiswa Nasional (Pimnas), PKM, Kelas Profesional CoE Udang, dan lainnya. Pengalamannya menjadi asisten laboratorium perikanan UMM juga turut menegaskan kualitasnya. Selain itu, ada beberapa mata kuliah yang sangat berkaitan dengan pekerjannya saat ini. Apalagi setelah mengikuti pembekalan yang diberikan penyelenggara. Menurutnya, materi yang disampaikan tidak jauh berbeda dengan apa yang didapat saat ia duduk di bangku kuliah UMM. “Banyak mata kuliah sangat membantu. Misalnya saja dasar akuakultur, manajemen kualitas air, manajemen nutrisi dan pakan, serta manajemen penyakit. Tentu ini sangat membantu saya dalam program ini,” katanya. Alumnus asal Banyumas ini mengatakan, pengalaman yang paling berkesan saat berkuliah di UMM yakni ketika mengikuti CoE Udang. Ia turut magang di salah satu perusahan ternama yakni, PT. Suri Tani Pemuka. Bahkan hal-halyang ia temui saat magang juga ia dapatkan di lapangan. Sehingga ia tidak bingung dan kesulitan dalam beradaptasi. “Selama menimba ilmu, kita harus siap belajar dan berlatih. Jangan menyerah jika dihdapkan dengan tantangan dan masalah. Semua harus ada prosesnya dan tidak instan, maka terus konsisten berusaha untuk menggapai mimpi,” pungkasnya. (*/wil)