Alumni Bahasa Inggris UMM Jadi Manager di Lembaga Amerika

Para alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya tersebar di berbagai perusahaan dan instansi dalam negeri, tapi juga banyak yang berkarya di luar negeri. Salah satunya Teguh Sri Wiyono, alumnus Pendidikan Bahasa Inggris UMM yang saat ini sedang menjalani karir di lembaga relawan Amerika Serikat yaitu Peace Corps Indonesia sebagai safety and security manager. Ia telah bergabung dari tahun 2015 hingga sekarang. Ia telah banyak memberikan pelatihan bagi relawan yang berkewarganegaraan Amerika Serikat kemudian dikirim untuk mengabdi ke sekolah dan mengajarkan bahasa Inggris. Sebagai safety and security manager, ia bertanggungjawab untuk memastikan bahwa relawan yang mendaftar selalu aman dan tetap sejahtera selama menjalankan tugas. Salah satu pelatihan yang diberikan yaitu cara berkendara dengan benar di Indonesia, mengajarkan budaya indonesia, serta memastikan latar belakang keluarga asuh yang akan ditinggali oleh relawan. “Sebelum kami mengirimkan relawan ke lokasi terpilih, kami telah bekerja sama dengan pemerintah untuk memberikan beberapa akses mengenai informasi daerah. Setelah itu saya dan tim berangkat ke lokasi untuk memastikan keadaan yang sebenarnya,” katanya. Tidak hanya itu, alumnus yang lulus tahun 2005 itu juga mengatakan bahwa saat ini terdapat tiga provinsi yang menjadi daerah utama untuk menjadi lokasi dikirimnya para relawan. Diantaranya Jawa Timur, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Ia sangat bersyukur mendapatkan kesempatan untuk bisa berkarir di Peace Corps Indonesia. Apalagi sejak kuliah, ia memang telah mendalami ilmu bahasa Inggris yang memudahkannya dalam berkomunikasi dengan kolega dari luar Indonesia. Khusunya ketika memberikan pelatihan dan arahan kepada relawan dari Amerika Serikat. Ia semakin jatuh cinta dengan bahasa Inggris karena beberapa kali berkunjung ke Amerika untuk kunjungan kerja. Menurutnya, melalui pengalamannya saat berkuliah di UMM, ia menilai bahwa eksposur internasional yang ia dapat di UMM merupakan hal yang sangat menguntungkan bagi mahasiswa. Apalagi ketika mahasiswa berkesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar keluar negeri. “UMM sangat bagus dalam mempersiapkan mahasiswanya untuk bisa bersaing di dunia kerja profesional. Saya merasakan hasil dari ilmu yang didapatkan karena UMM sangat memfasilitasi berbagai bakat dan minat mahasiswanya,” jelasnya menambahkan. Ia berharap, anak-anka muda mempunyai semangat dan motivasi belajar yang tinggi. Hal itu karena sebuah kesuksesan tidak akan terwujud ketika tidak dikejar. “Perlu pandai dalam mengambil kesempatan yang datang. Melihat diri saya sekarang merupakan salah satu bentuk dari hasil ketekunan yang saya jalani. Apalagi sebagai lulusan Pendidikan Bahasa Inggris UMM, saya ingin mempunyai skill networking dan komunikasi yang baik agar bisa tetap membanggakan UMM,” pungkasnya. (ri/wil)

Fisioterapi UMM Gelar Event Exchange Student dengan Mahasiswa Asing

Auditorium kampus I Universitas Muhammadiyah Malang terlihat berbeda awal Juli lalu. Terlihat pernah-pernik bendera dari berbagai negara turut menarik perhatian. Hal itu tak lepas dari agenda The 2nd International Night Collaboration 2024 yang dilaksanakan Prodi Fisioterapi UMM. Turut hadir para mahasiswa dari berbagai negara untuk meramaikan dan mendukung. Agenda ini dibuka langsung oleh sekretaris prodi Ali Multazam, S.Ft., Physio., M.Sc. Ia mengatakan bahwa giat tersebut merupakan kali kedua dilaksanakan yang menjadi rangkaian akhir dari kegiatan pertukaran pelajar internasional. Menariknya, karena tema tahun ini adalah indonesian traditional culture, para mahasiswa yang hadir juga mengenakan pakaian tradisional Indonesia maupun negaranya. “Harapannya para mahasiswa internasional semakin tahu dan mengenal budaya kita. Ini juga menjadi cara diplomasi kita untuk menyebarkan betapa bagusnya budaya kita. Mereka juga diperkenankan untuk emnggunakan pakaian tradisional negara masing-masing,” tambahnya. Adapun gelaran tersebut dimeriahkan dengan berbagai penampilan seni tari. Tidak hanya dari Indonesia, tapi juga dari berbagai negara lain. Hal itu sebagai cara UMM memberikan kesan baik bagi para mahasiswa dari berbagai negara. Beberapa mahasiswa berasal dari Pakistan, Thailand, negara-negara Eropa, Afrika, bahkan juga Timur Tengah. Keseruan itu juga dirasakan Jidipa Mettajetowimut dan Kanokwan Ang-inarasong, mahasiswa pertukaran asal Mahidol University, Thailand. Menurutnya, ada berbagai hal menarik selama dia tinggal di Indonesia, khususnya di kampus UMM. Meski berada di kawasan yang sama yakni Asia Tenggara, namun ternyata ada beberapa perbedaan yang membuatnya harus belajar kembali. “Saya sangat bersyukur bisa datang ke sini. Orang-orangnya ramah, termasuk para mahasiswa dan dosennya. Apalagi teman-teman buddy juga sangat membantu ketika kami butuh bantuan. Kami juga belajar banyak tentang fisioterapi dan alat-alat yang mungkin berbeda dibandingkan dengan Thailand. Semoga ini menjadi pengalaman yang berarti dan saya juga ingin bisa kembali ke sini bertemu teman-teman lain,” tegas Jidipa mengakhiri. (*/Wil)

IPK Pas Pasan, Alumni UMM ini Kerja di Exxon Mobil

Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang ini jadi bukti nyata bahwa indeks prestasi kumulatif (IPK) tidak menjamin masa depan seseorang. Ia adalah Amri Zuhal, alumnus Teknik Industri UMM 2011 yang kini berkarya di perusahaan minyak dan gas multinasional, Exxon Mobil Corporation. Meksi memiliki IPK pas-pasan, namun berbagai pengalaman organisasinya di UMM membuat kemampuan softskill sangat mumpuni. “Dulu IPK saya bahkan tidak sampai 3.00 tapi saya tidak bersedih. Apalagi melihat banyaknya wadah organisasi yang ada di UMM dan membuat saya bisa menghadapi berbagai tantangan pekerjaan hingga sekarang saya memegang posisi sebagai helath, safety, and environment sepcialist di perusahaan yang berpusat di Amerika ini,” katanya. Amri, sapaan akrabnya, bercerita bahwa ia sangat aktif di berbagai kegiatan saat menjadi mahasiswa. Mulai dari turut serta di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah hingga menjadi ketua senat mahasiswa UMM. Bahkan ia membawa nama UMM hingga nasional berkat kekatifan dan loyalitasnya. Kemudian, saat lulus, Amri tahu diri karena sebagian perusahaan tidak begitu melirik mereka yang memiliki IPK rendah. Maka ia memanfaatkan kelebihannya di bahasa Inggris dan memperkuatnya sebagai senjata bersaing di dunia kerja. Bahkan ia menawarkan diri untuk bekerja tanpa dibayar untuk membuktikan dirinya bisa bekerja dengan baik. “Waktu itu saya bilang ke pihak manajemen untuk bekerja selama enam bulan tanpa dibayar dan meminta evaluasi mereka. Mereka akhirnya mencoba kinerja saya dan Alhamdulillah, tidak sampai dua bulan saya disodori kontrak kerja,” tambahnya. Menurutnya, bekal softskill dari UMM berhasil membawanya ke posisi sekarang. Tidak hanya saat melamar dan mendapatkan kerja, tapi juga saat membaur dengan para teman kerja dan kolega. Ia tidak merasa minder dengan mereka yang lulusan dari kampus ternama Indonesia maupun dunia. Ia menilai, dalam pekerjaan, yang paling penting adalah bagaimana seseorang bisa tahan gesekan, bisa bernegosiasi, berkomunikasi yang baik, presentasi yang efektif, dan lainnya. “IPK memang hal pertama yang dilihat saat melamar kerja. Tapi softskill yang menentukan ke depannya. Kita harus bisa bekerja sama, menghargai wwaktu, bertahan dari tekanan dan lainnya. Maka skill manajemen konflik dan problem solving yang saya dapat selama di UMM sangat membantu. Percuma nilai bagus tapi tidak bisa kerja dengan baik. Perusahaan tidak butuh mereka yang pintar aja,” tegas Amri. Ia berpesan pada anak-anak muda untuk menjadi yang terbaik. Maksudnya, ketika menjadi pegawai maka harus menjadi pegawai yang baik. Jika menjadi pengusaha juga harus menjadi pengusaha yang baik. “Misal di dunia kerja, sebagai fresh graduate, jangan pernah liat gaji dulu. Gaji nomor dua, yang penting kita dikasi ruang untuk aktualisasi diri. Nah, kita buktikan di situ. Saya yakin gaji dan pekerjaan akan mengikuti. Tunjukkan kemampuanmu dan lampaui harapan perusahaan,” pungkasnya mengakhiri. (Wil)

Begini Serunya Gramedia Goes to Campus di UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi tuan rumah acara-acara menarik. Kali ini program Gramedia Goes to Campus hadir dan memberikan beragam kegiatan menarik bagi anak-anak muda dan mahasiswa. Mulai dari talkshow pengembangan diri, pelatihan yang meningkatkan skill, bahkan sederet tryout menarik. Adapun Keseruan acara itu berlangsung selama dua hari yakni 23-24 Oktober ini. Pada hari pertama, para mahasiswa dan anak muda berkesempatan untuk ikut berbagai workshop dan try out. Di antaranya pelatihan tes minat bakat, try out IELTS, wokrshop pembuatan CV, hingga interview in english fo job yang membantu para mahasiswa ketika lulus nanti. Semua itu dilakukan UMM dan Gramedia untuk meningkatkan dan melatih softskill para mahasiswa. Tercata, ada lebih dari 300 mahasiswa yang mengikuti rangkaiaan kegiatan ini. Sementara itu, pada hari kedua program tersebut menghadirkan sederet narasumber yang ahli dalam bidangnya. Ada penulis buku Mariposa Luluk HF yang juga merupakan alumnus UMM. Kemudian juga Gus Dhofir, penulis buku Peradaban Sarung hingga seorang CEO dan Co-Founder dari Inspigo yang bernama Tyo Guritno. Mereka memberikan berbagai topik menarik agar para mahasiswa bisa mempersiapkan karir dengan baik. Melatih kepercayaan diri dalam diri mahasiswa dan mampu bersaing di dunia kerja kelak. Dalam paparannya, Luluk HF mengatakan bahwa penulis pemula perlu memiliki mindset yang kuat dan tidak berekspektasi berlebihan dalam karya-karya yang sudah dibuat. Yang terpenting adalah bagaimana penulis dapat berkomitmen untuk terus berkarya dan memberikan dampak. Salah satu cara yang biasa ia buat adalah dengan menyusun tangga pencapaiaan diri. Dengan begitu, para penulis, terutama pemula, bisa mengetahui seberapa jauh mereka sudah melangkah dan mengetahui arah masa depannya. “Semangat yang naik turun itu wajar karena manusia tidak setiap hari bahagia. Maka dari itu, kita harus memahami diri sendiri. Jika sedang ada diposisi surut, jangan terlalu memaksakan diri untuk menulis. Tenangkan diri telebih dulu hingga suasana membaik sehingga setelah itu kita bisa mencoba menulis kembali,” ujarnya memberi tips agar dapat konsisten menjadi seorang penulis. Di sisi lain, Direksi Gramedia Heri Darmawan mengatakan pihaknya memang memiliki visi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka dari itu, timnya datang ke kampus UMM untuk memberikan kontribusi dan memberikan dampak baik, utamanya dalam bidang pendidikan. “Semoga program ini benar-benar bisa memberikan pencerahan dan membuka jalan kesuksesan bagi para anak muda,” katanya berharap. Hal serupa juga disampaikan Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. Menurutnya, agenda hasil kolaborasi UMM, Gramedia, dan Bank Danamon ini sangat insightful. Ada banyak hal baru yang mungkin belum mahasiswa tahu. “Saya senang sekali kalau ada event-event yang fokusnya pada pengembangan karir di masa depan, termasuk pentingnya menulis. Tugas saya tentu menyemangati dan mewadahi generasi muda, khususnya UMM, untuk selalu terbuka pikirannya. Selain itu juga mendukung peningkatan tingkat literasi generasi muda,” tegasnya. (wil)

PAI UMM Terjunkan Mahasiswa untuk Mengajar di Sekolah Malang-Batu

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berupaya melahirkan sumber daya manusia (SDM) terbaik, termasuk di bidang pendidikan. Terbaru, Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) kirimkan lebih dari 60 mahasiswanya untuk melaksanakan dalam program Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sekolah se-Kota Malang dan Kota Batu. Hal itu sebagai cara menciptakan pendidik yang berkuakitas. Kepala Laboratorium PAI I’anatut Thoifah S.Pd.I., M.Pd.I menjelaskan bahwa PKL merupakan kegiatan penting mengingat banyaknya narasi pendidikan unggul yang digaungkan. “Pendidikan unggul itu dapat tercipta apabila para pendidik juga unggul. PAI UMM ini sudah menyiapkan mahasiswanya untuk bisa menjadi seorang pendidik yang unggul juga,” ungkapnya. Tidak hanya sekedar kegiatan PKL saja di sekolah, namun mahasiswa juga harus berkolaborasi bersama pihak sekolah untuk menciptakan inovasi. Kolaborasi tersebut bisa berupa kegiatan-kegiatan positif yang tidak lain untuk meningkatkan proses belajar mengajar serta mencetak karakter siswa dengan baik. Selain itu, seluruh mahasiswa PKL juga telah dibekali dengan keterampilan mengenai perencanaan pembelajaran di kelas, proses evaluasi pembelajaran, serta Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). “Mereka ini kita kirim ke berbagai SMA sederajat di Kota Malang dan Batu, terdiri dari sekolah negeri, swasta, dan sekolah Muhammadiyah. Sebelum berangkat, mereka diberi berbagai materi penguatan. Utamanya terkait dengan Alquran, Fiqih, Keputrian, serta Kemuhammadiyahan. Tidak lupa juga keterampilan khusus terkait dengan kurikulum merdeka,” tegasnya Iana, sapaan akrabnya, juga menegaskan bahwa PKL ini tidak lain untuk memberikan direct experience bagi mahasiswa. Hal itu penting sebagai cara mempraktekan ilmu-ilmu yang telah didapat selama perkuliahan. Selain itu juga sebagai jalan menganalisis secara langsung bagaimana dunia pendidikan yang terjadi di lapangan. Terlebih lagi berhadapan langsung dengan seorang siswa yang merupakan subyek aktif dan memiliki karakter yang berbeda-beda. Terakhir, dia berharap seluruh mahasiswa khususnya yang fokus di ilmu pendidikan untuk dapat memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan. Kemajuan suatu bangsa tidak lepas dari produk-produk pendidikan yang unggul serta mampu memberikan inovasi-inovasi baru. Sementara itu, Wakil Dekan I FAI UMM Dr. Saiful Amien, M.Pd. memberikan berbagai motivasi untuk para mahasiswa agar semangat menjalani proses PKL. Menuruntya, dalma PKL mahasiswa bisa melihat secara langsung keadaan pendidikan. Selain itu juga agar bisa memaknai pentingnya ilmu untuk kehidupan manusia. “Tetaplah gigih menggapai cita-cita dan jangan mudah menyerah. Segala usaha saudara hari ini akan memberikan hasil terbaik di masa depan,” tegasnya. (Faq/Wil)

Konferensi Internasional FH UMM Sebut Hukum dan Teknologi Solusi Masalah Hukum

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar konferensi internasional pada 23 Juli 2024 lalu yang dihadiri berbagai praktisi hukum dari beragam negara. Konferensi yang bernama International Conference on Law Reform (INCLAR) itu salah satunya membahas mengenai cara menghadapi era disrupsi yang tidak mudah di tengah isu kemanusiaan yang sulit diatasi. “Upaya diplomatik dan represif belum berhasil menyelesaikan permasalahan ini, padahal seharusnya hukum menjadi pelindung bagi masyarakat yang terkena dampak konflik yang tidak manusiawi,” tegas Prof. Dr. Sigit Riyanto, S.H. LLM. yang didapuk sebagai keynote speaker. Menurutnya, dunia internasional memiliki program yang menjunjung perdamaian, keadilan, dan stabilitas hak asasi manusia, yang mana tercantumkan pada Sustainable Development Goals (SGDs) ke 16. Namun sayangnya, masih ada beberapa wilayah yang tidak dapat menikmati hasil dari program ini. “Perkembangan dunia kini semakin luas dan resiko perpecahan semakin tinggi. Terlebih lagi adanya perbedaan nasib wilayah. Ada yang menikmati kedamaian, keamanan, dan kemakmuran, adapula negara yang harus terjerumus dalam siklus konflik dan kekerasan yang tidak ada ujungnya,” katanya. Ada berbagai kampus luar dan dalam negeri yang turut aktif membahas hukum dalam INCLAR. Misalnya saja dari Willaim and Mary Law School, Maastricht University, Deakin University, hingga Universitas Kebangsaan Malaysia. Selain itu, kampus-kampus Indonesia juga turut hadir, di antaranya Universitas Muria Kudus, STIH Adhyaksa, ⁠Unika Soegijapranata, UM Aceh, Unisla, Universitas Hang Tuah, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Ngurah Rai dan lain sebagainya. Dalam konferensi tersebut turut hadir oleh Prof. Hilaire Tegnan selaku pembicara dari William and Mary Law School, Williamsburg, Australia. Menurutnya, seringkali masyarakat bersuara karena haknya yang seharusnya mereka miliki tidak terpenuhi. Termasuk pada aspek peningkatan lingkungan hidup yang baik. Maka dari itu, perlu kajian khusus untuk membahas hubungan antara hak asasi manusia dengan lingkungan hidup. Ia melanjutkan, pencemaran lingkungan hidup akan berpengaruh dengan hak manusia karena berujung pada pelanggaran dan kerusakan ekosistem. Hal ini mengancam kehidupan karena dapat menyebabkan degradasi lingkungan dan parahnya akan timbul diskriminasi sosial. “Adanya diskriminasi akan mengakibatkan ketidakstabilan sumber daya manusia dan menghambat masuknya informasi. Maka perlu adanya undang-undang yang melindungi norma sosial dan mencegah praktek diskriminasi menuju kekerasan,” jelasnya. Selain itu, memanfaatkan teknologi untuk menciptakan lingkungan yang sehat perlu diterapkan. Menurutnya, manusia kini memang harus berkolaborasi dengan teknologi untuk bisa menjangkau pengelolaan lingkungan sosial yang berkelanjutan. Di samping itu juga bisa menelurkan inovasi yang bisa menciptakan kehidupan yang sejahtera. Turut hadir Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. selaku Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerjasama UMM. Ia mengatakan bahwa melalui hukum yang dikolaborasikan dengan teknologi, maka diharapkan bisa melahirkan generasi yang lebih inovatif untuk menanggapi suatu permasalahan. “Saat ini, perlu adanya kolaborasi berbagaia aspek dengan teknologi, termasuk hukum. Hal itu sebagai cara untuk memajukan sumber daya manusia. Apalagi dalam upaya mewujudkan transformasi hukum yang diciptakan memang untuk manusia. Oleh karena itu konferensi ini diharapkan bisa mengahasilkan diskusi yang mendalam dan inovatif untuk merumuskan strategi hukum yang mampu menghadapi tantangan saat ini,” pungkasnya. (Ri/Wil)

Ciptakan Probiotik Ternak, Profesor UMM Juara Inovasi Nasional

Prestasi demi prestasi terus diraih sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, salah satu profesornya, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU. Berhasil mendapatkan penghargaan dari Indo Livestock Research And Innovation Award 2024 kategori Sapi Perah di Jakarta Convention Center pada 17 Juli lalu. Prestasi itu tak lepas dari produk menarik hasil penelitiannya berupa Probiotik Ternak Plus. Guru Besar Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM itu berhasil menggeser ratusan produk-produk lain yang diajukan dalam ajang tersebut. Bukan tanpa alasan, ternyata produk Probiotik Ternak Plus itu sudah dirasakan manfaatnya oleh para peternak sapi yang cakupannya lebih dari 50 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Indah, sapaan akrabnya, mengaku bahwa produk itu ia kembangkan sejak tahun 2004. Pada awalnya probiotik itu berfokus untuk meningkatkan pencernaan pangan dan optimalisasi serapan nutrisi oleh ternak sapi. Akan tetapi, setelah digunakan lebih lanjut, terdapat berbagai manfaat lain yang muncul. “Saya kan sudah lebih dari 20 tahun mengembangkan produk biofarm, salah satunya probiotik ternak plus ini. Manfaatnya ternyata melampau ekspektasi saya. Awalnya memang untuk meningkatkan daya serap nutrisi pada sapi tapi ternyata juga dapat mengurangi residu pada susu sapi, mengendalikan kesehatan, dan mengandung banyak nutrisi untuk ternak. Bahkan saat ada wabah penyakti dan mulut (PMMK) beberapa waktu lalu, produk ini juga digunakan untuk pengobatan,” jelasnya. Lebih lanjut, dia mengungkap bahwa probiotik itu sangat efektif untuk penyembuhan sapi ketika terkena PMK. Melalui pengamatannya, ia menemukan bahwa sapi potong hanya perlu waktu tiga hari sedangkan sapi perah membutuhkan waktu tujuh hari untuk membaik. Proses pengobatannya juga cukup mudah, yakni dengan menyemprotkan probiotik pada area yang terinfeksi penyakit PMK serta rutin mencekokkannya. “Menurut saya, ini cukup ajaib, ya. Alhamdulillah juga peternak yang sudah merasakan manfaatnya. Proses penyembuhan saat wabah PMK itu sangat efektif, terlebih lagi untuk sapi perah yang kalau sedang sakit pasti susunya tidak bisa terproduksi. Hanya perlu waktu tujuh hari saja, PMK dan produksi susunya sudah kembali normal,” ungkapnya Indah berharap, seluruh perguruan tinggi mampu menciptakan produk inovatif yang dapat membantu masyarakat dalam berbagi sektor. Selain itu juga gencar dalam memberikan edukasi-edukasi terbarukan mengingat tidak semua lapisan masyarakat mendapatkan akses yang mudah untuk mendapatkan produk inovasi. “Sebagus apapun karya dan produknya, jika masyarakat tidak tahu maka akan percuma dan sia-sia. Nah kalau UMM ini kan memang aktif mengabdi masyarakat sehingga produknya bsia dihilirisasi dan dipakai langsung oleh masyarakat. Bahkan ada program khusus bernama Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) yang semakin memasifkan menfaat dari UMM,” pungkasnya. (faq/wil)

Ratusan Peserta Ramaikan Audisi Indonesia Idol di UMM

Lebih dari 750 bakat penyanyi Indonesia berkumpul dan datang menuju Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 19-20 Juli ini. Hal ini dikarenakan Kampus Putih UMM terpilih menjadi tuan rumah audisi Indonesian Idol season ke 13 di Malang. Tidak hanya mereka yang tinggal di Malang, bahkan ada sederet peserta yang rela jauh-jauh ke Malang untuk mengikuti audisi ini. Asisten Produser Indonesian Idol Hardian Eka Putra mengatakan bahwa bakat-bakat yang ada di Malang punya karakter yang bervariasi. Ada yang lucu, teknik vokalnya menarik, hingga unik. Ia juga mengatakan bahwa suara yang dimiliki peserta berbeda-beda dan cocok dengan masing-masing genre. Hal itu membuat proses audisi semakin seru. Eka, sapaannya, juga mengapresiasi UMM sebagai lokasi audisi yang mendukung penuh jalannya agenda tersebut, Menurutnya, berbagai fasilitas yang ada memudahkan para peserta untuk turut serta da membuat ju lebih nyaman dalam menemukan bakat terbaik di Malang. “Flownya lancar, pesertaanya juga tidak kepanasan. Biasanya audisi Indonesian Idol diadakan di lapangan dan aula sehingga seringkali para peserta kepanasan di bawah terik matahari. Apalagi Malang kan iklimnya sejuk sehingga lebih nyaman,” katanya menambahkan. Terpilihnya UMM sebagai lokasi audisi Malang tak lepas dari fasilitas yang memadai dan cukup baik. Misalnya parkir yang luas, aula yang besar, dan gedung yang sangat cukup. UMM juga dinilai sebagai kampus yang besar sehingga memudahkan para peserta untuk pergi ke lokasi audisi. “Kami berharap proses audisi ini bisa mendapatkan bakat-bakat terbaik Malang yang bisa bersinar di masa depan,” katanya menegaskan. Adapun dari 700-an peserta yang menunjukkan kemampuan tarik suara di audisi, ada sekitar 50-an yang lolos dan berhasil melaju ke tahap selanjutnya. Sebagian peserta yang lolos juga para mahasiswa dan alumni Kampus Putih UMM. Sementara itu, salah satu peserta Muhammad Gilbran mengatakan keikutsertaannya tak lepas dorongand ari keluarga dan teman. Selain itu dia juga ingin merasakan pengalaman ikut kompetisi pencarian bakat seperti Indonesian Idol. “Awalnya dulu saya tidak sadar kalau bisa menyanyi dengan baik. Baru saat SMP guru seni saya mendorong saya untuk memulai bernyanyi dan alhamdulillah dari situ saya bisa tampi menyanyi di berbagai event,” katanya bercerita. Mahasiswa hubungan internasional UMM itu juga mengatakan bahwa kemampuan bernyanyinya juga tak lepas dari  keaktifannya di paduan suara Gita Surya UMM. Dari sana, ia bisa memahami berbagai teknik dalam bernyanyi. Ditambah dengan upayanya untuk belajar otodidak melalui video-video Youtube. ”Alhamdulillah saya lolos tahap pertama dan melanjutkan ke tahap video booth. Semoga saya bisa lolos kembali dan mengikuti proses selanjutnya di Jakarta. Saya juga ingin serius mendalam dunia musik dan salah satunya bekompetisi di ajang Indonesan Idol,” pungkasnya. (wil)

Hafal Alquran, Wisudawan UMM Ini Lulus Tanpa Skripsi

Adalah Dzikru Izzuddin, wisudawan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil lulus tanpa skripsi melalui hafalan Alquran. Ia juga sering menjuarai berbagai ajang musabaqah hifdzil quran (MHQ) dan bahkan membuatnya mendapatkan pendanaan biaya pendidikan dari salah satu masjid di Kota Malang. Dzikru menjelaskan, setelah lulus dari pondok pesantren ia memang mempunyai bekal hafalan 30 Juz Alqruan. Untuk menjaga amalannya, ia mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) UMM agar mempunyai teman dan ustaz untuk memurojaah hafalan yang dimilikinya. Saat masih menjadi mahasiswa baru, mahasiswa asli kota Malang itu tidak pernah terpintas untuk bisa mengikuti ajang perlombaan tingkat nasional. Menurutnya, ia tidak bisa melawan rasa minder ketika melihat teman yang lebih hebat darinya. Namun motivasi dari ustaz pembimbingnya membuatnya memberanikan diri. “Salah satu lomba MHQ tingkat Nasional yang saya ikuti berlokas di Universitas Muhammadiyah Riau. Yakni agenda Pekan Olahraga dan Seni (Porseni). Saat itu, saya dan tim harus berkompetisi dengan berbagai kampus besar lainnya. Alhamdulillah kami berhasil membawa juara,” katanya. Dzikru mengatakan bahwa setiap ikut perlombaan MHQ, ia juga selalu mempelajari tafsiran yang ada. Ditambah dengan memperdalam ilmu dari beberapa kitab untuk menambah pengetahuan ketika menjawab pertanyaan. Menariknya, dari berbagai prestasi yang dicapai, Dzikru berkesempatan mengonversi mata kuliah. Selain itu juga karena sukses menghafal 30 juz Alquran. Ia juga bisa masuk ke program Merdeka Belajar dengan hafalan minimal 5 uaz dan membuatnya bebas skripsi. “Saya menyetorkan hafalan sebanyak 5 Juz dari depan ke FAI secara langsung dan satu kali duduk. Selain itu juga memerlukan bukti beberapa sertifikat penghargaan yang saya miliki agar syaratnya terpenuhi,” katanya. Tidak hanya itu, dengan kemampuan yang dimilikinya, ia juga berhasil mendapatkan biaya pendidikan dari salah satu masjid di kota Malang dari semester 1 hingga 7. Namun saat di akhir semester 7 biaya pendidikan tersebut terputus karena berbagai hal. “Alhamdulillah selalu ada jalan keluar di setiap masalah. Ternyata pihak FAI UMM langsung mengambil alih seluruh biaya pendidikan saya,hingga saya dapat menjadi sarjana,” katanya. Terakhir, ia mengatakan bahwa ia adalah orang yang sangat beruntung karena dapat berkuliah secara gratis dengan modal menghafal Alquran. “Saya sangat bersyukur karena UMM adalah kampus yang sangat mewadahi mahasiswanya untuk bisa menggapai prestasi tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya. Bahkan kita yang seringkali dibiayai,” katanya. (ri/wil)

Haedar Nashir bareng Seniman dan Budayawan Muhamamdiyah Kemah di Batu

Bangsa Indonesia tidak hanya mendapat anugerah dari aspek alam yang indah dan iklim yang baik. Tapi juga diberikan tiga nilai yang hidup dan memberikan karakter pada bangsa Indonesia. Hal itu ditegaskan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. dalam Kemah Kreativitas Nasional Seniman dan Budayawan Muhammadiyah pada 19 Juli 2024 ini. Turut hadir dalam acara yang diselenggarakan Lembaga Seni Budaya PP Muhamadiyah selama tiga hari itu ratusan seniman dan budayawan Muhammadiyah dari berbagai provinsi di Indonesia. Lebih lanjut, Haedar menjelaskan bahwa tiga nilai tersebut adalah agama, budaya, dan Pancasila. Indonesia merupakan bangsa yang beragama dan dalam perkembangannya agama hadir secara damai. Proses konversi dari agama tradisional, kemudian ke mayoritas Hindu, dan menjadi mayoritas Islam berlangsung begitu damai. Bahkan Indonesia seperti tidak mengenal perang antar agama. “Agama juga memberikan sumbangsih besar dalam tumbuh kembang bangsa. Seluruh umat Beragama punya peran dalam meraih kemerdekaan. Agama juga memberikan karakter religius pada setiap warganya. Yakni adanya sentuhan sosial dan nilai kesalehan dalam kehidupan, termasuk dalam mengelola alam dan seisinya,” katanya. Nilai kedua budaya yaitu sistem pengetahuan kolektif pada setiap masyarakat yang jadi acuan berperilaku secara sosial. Sikap moderat juga lahir dari kebudayaan yang tumbuh di komunitas yang kemudian menjadi Bihnneka Tunggal Ika. Nilai ketiga adalah Pancasila yang menjadi komitmen konsensus politik untuk membentuk bangsa. “Maka, di tengah proses kehidupan penuh dengan dinamika yang kompleks, bangsa Indonesia harus tetap punya landasan. Dalam hal ini adalah pandangan dunia yang berdasar pada tiga nilai tadi. Dan kemah nasional ini juga menjadi upaya agar nilai budaya dapat ditransformasikan dalam kehidupan masyarakat,” tambahnya. Hal tak jauh berbeda juga dikatakan Ketua Lembaga Seni Budaya PP Muhammadiyah Prof. Dr. Ir. Gunawa Budianto, M.P. IPM. ASEAN. Menurutnya, Muhammadiyah memang tak pernah lepas dari seni dan budaya. Keduanya yang dijadikan akar dan strategi dari pergerakan dakwah sudah tepat. Seni dan budaya juga menjadi soft diplomacy yang memperkaya cara dakwah Muhammadiyah. “Agama itu tanpa paksaan, Bermuhammadiyah juga tanpa paksaan. Melalui seni dan budaya, Muhammadiyah bisa tampil dengan cara yang keren. Semoga kemah nasional ini bisa semakin memberika pencerahan bagi kita, utamanya dalam pengembangan seni dan budaya,” kata Gunawan. Di sisi lain, Pj Walikota Batu Aries Agung Paewai, M.M. menyambut baik niatan Muhammadiyah untuk membangun pondasi seni dan budaya. Meski Batu dikenal dengan kota wisata, namun juga ingin menggandeng mereka yang focus dan berupaya meningkatkan seni budaya. Ia percaya, agenda nasional seperti ini mampu menghasilkan produk terbaik yang dihasilkan dari generasi terbaik pula. “Ini dapat menjadi momentum penegakan budaya dna lahirnya itu nanti ada di Kota Batu. Terimakasih warga Muhammadiyah yang sudah mendukung program pemerintah dan bersinergi membangun negeri yang lebih baik,” pungkasnya mengakhiri. (wil)