Kaji Tindak Pidana Anak, Mahasiswa UMM Menangi Debat Nasional

Kasus kejahatan yang dilakukan anak, marak terjadi belakangan ini. Hal ini disebabkan karena faktor usia dan mentalitas sang anak yang belum stabil sehingga dapat berbagai hal ketika tersulut emosinya. Ini menjadi salah satu perhatian di mata hukum, untuk menentukan apakah anak seharusnya diberi hukuman penjara atau hanya rehabilitasi. Tema inilah yang menjadi mosi utama pada lomba debat yang diikuti tim mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka berhasil meraih juara tiga di ajang yang diadakan oleh Lembaga Debat dan Riset Hukum UIN Alauddin Makasar, 3 Juni 2024 lalu. “Syukur alhamdulillah karena ini merupakan perlombaan pertama kami namun sudah meraih juara,” ucap Yessica Fitri selaku ketua tim. Pada babak final, ia dan tim membahas mengenai kesetaraan anak di mata hukum. Menurutnya, asas equality before the law pada pidana anak tidak dapat diterapkan secara langsung. Hal ini dikarenakan jika menganut asas tersebut, maka dapat terjadi diskriminasi terselubung pada kasus pidana anak. Lebih lanjut, merujuk pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang sistem Peradilan Anak (SPPA), penyelesaian kasus tindak pidana anak perlu dilakukan melalui keadilan restoratif. Di mana, keadilan restoratif adalah penyelesaian tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku atau korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil. Kasus dapat melalui konsep diversi dengan pengalihan sistem penyelesaian pada musyawarah dan mediasi. Ini bertujuan agar proses keadilan restoratif dapat terjamin. Konsep diversi ini dapat diterapkan dengan syarat bahwa tindak pidana yang dilakukan anak merupakan pelanggaran tindak pidana ringan, tindak pidana tanpa korban, maupun pidana yang tidak menyebabkan kerugian yang nilainya tidak melebihi upah minimum provinsi setempat. “Menurut tim kami, proses tindak pidana secara formal itu bagus. Namun perlu dipertanyakan lagi apakah akan mempengaruhi kesehatan psikis dan mentalitas korban atau pelaku. Konsep pidana secara umum baru dapat diterapkan bagi anak yang sudah beranjak lebih dari 18 tahun,” tambahnya. Di balik itu, Selama perlombaan dilaksanakan, banyak lika-liku yang mereka hadapi. Misalnya kesibukan kuliah, kegiatan organisasi, atau hal lainnya. Tak jarang, dirinya dan tim berselisih pendapat dan membuat pertengkaran di forum diskusi. Namun menurutnya, melalui selisih pendapat ini, Yessica dapat mengetahui jalan pikiran dan pandangan dari setiap anggota timnya. Tak lupa, dirinya dan tim juga melakukan riset untuk mempersiapkan perlombaan. Kemenangan ini juga tak lepas dari dukungan orang tua serta UMM selama pelaksanaan lomba. Yessica dan tim mengaku bahwa dukungan orang tua menjadi hal utama yang membangun semangatnya untuk mengikuti perlombaan. Pun, adanya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) debat di UMM membuatnya makin bersemangat untuk mengembangka potensi yang dimilikinya. Terakhir, ia berpesan kepada mahasiswa UMM untuk produktif di usia muda. Jangan sampai anak muda tidak membawa dampak positif bagi masyarakat. “Justru pada usia muda ini, kita wajib hukumnya produktif dan banyak berimajinasi. Tumpahkanlah imajinasi pada hal positif kemudian eksekusi ide tersebut untuk membawa kemanfaatan bagi masyarakat,” ucapnya mengakhiri. (tri/wil)
Polemik Tapera, Begini Penjelasan Dosen UMM

Kebijakan pemerintah melalui Peraturan Nomor 21 Tahun 2024 mengenai Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) menuai banyak polemik di masayarakat. Program ini digadang-gadang dapat menjadi jalan keluar untuk masyarakat. Namun, Rachmad Kristiono Dwi Susilo, S.Sos., MA., Ph.D. selaku dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru menilai program ini terlalu normatif dan terkesan terburu-buru. “Program ini berlaku bagi pegawai negeri maupun swasta dengan sistem potongan gaji. Bagi masyarakat berpenghasilan pas-pasan, program ini tentu sangat membebani,” ujarnya. Menurut sistematis Tapera, gaji pegawai akan dipotong sebesar 3% untuk simpanan perumahan. Sebanyak 0,5% ditanggung oleh pemberi kerja dan 2,5% ditanggung oleh pekerja itu sendiri. Dana yang terkumpul dalam Tapera tersebut, nantinya dapat digunakan untuk membantu peserta membeli rumah pertamanya. “Namun, kebutuhan terhadap perumahan setiap orang itu berbeda-beda. Belum tentu masyarakat MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) belum punya rumah. Program ini seakan-akan menjadi kebijakan yang memaksa, tidak boleh tidak. Padahal, tidak semua perusahaan mau, apalagi perusahaan yang tidak terikat dengan karyawan langsung,” ujarnya. Lebih lanjut, Rachmad menyebut terdapat dua hal yang harus ditinjau ulang oleh pemerintah sebelum merealisasikan Tapera. Pertama, pemerintah harus memastikan berapa banyak orang yang membutuhkan program Tapera. Pasalnya, Rachmad menilai pemerintah belum memiliki data yang akurat mengenai hal tersebut. “Lebih baik program ini bersifat sukarela. Terlebih, pihak eksekutif belum juga memberikan alasan mendasar mengenai model perencanaan Tapera yang lengkap. Sebenarnya, jika ditinjau dari jangka panjang, program ini bagus agar semua masyarakat memiliki rumah. Selama implementasi prosedur dan prakteknya tidak melenceng,” tegasnya. Selain itu, banyak juga masyarakat yang beranggapan bahwa program ini belum realistis. “Anggap saja, dua tahun juga belum mesti dapat rumah. harus lebih dari 50 tahun terlebih dahulu. Sehingga, banyak yang menyebut ini hanya dikaitkan dengan program bisnis pemerintah,” jelas Rachmad. Di sisi lain, cara paling gampang untuk memberikan alternatif perumahan menurut Rachmad adalah pemanfaatan lahan milik negara yang bisa dibangun menjadi rumah susun dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Misalnya saja dengan memperkuat program bedah rumah dan bantuan untuk rumah tidak layak huni seperti yang telah banyak dilakukan oleh pemerintah. Hal ini juga bisa diimbangi dengan banyaknya investasi yang dimiliki oleh negara. Sehingga, subsidi untuk masyarakat kurang mampu juga akan tercukupi. Terakhir, ia menyebut bahwa dengan berbagai kontroversi yang menyelimuti, Tapera memang harus dievaluasi lebih lanjut. “Program ini memang memiliki tujuan mulia untuk membantu masyarakat memiliki rumah, namun pelaksanaan dan implementasinya harus lebih matang dan realistis. Pemerintah diharapkan mampu memberikan kepercayaan penuh kepada masyarakat agar program ini dapat berjalan sesuai harapan,” pungkasnya. (lai/wil)
Dosen UMM Sebut IKN Berikan Peluang Peningkatan Ekonomi

Ibu Kota Negara (IKN) akan beroperasi secara perdana pada 17 Agustus 2024 bertepatan dengan perayaan HUT ke-79 Kemerdekaan RI di Nusantara, Kalimantan Timur. Berbagai polemik berkembang di masyarakat. Sebagian menganggap hal ini sebagai peluang, Sebagian lainnya melihat hal tersebut sebagai ancaman. Menanggapi hal ini, Dr. Saiman, M.Si. dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan bahwa memindahkan ibu kota memang diperlukan karena perkembangan Jakarta yang semakin padat dari segi jumlah penduduk dan pembangunan infrastruktur. Namun ada beberapa hal juga yang harus diperhatikan serta perlu proses yang bertahap. “Dari segi tata pemerintahan pun tidak bisa instan stabil, sudah pasti perlu proses dan bertahap seiring berjalannya waktu. Membangun ibu kota tidak hanya dilihat dari aspek fisik saja, melainkan sistem tata kelola juga harus diperhatikan. Misalnya saja seperti kesiapan sumber daya manusianya, infrastruktur, sarana prasarana, anggaran dan sistem pendukung lainnya yang bisa membantu proses IKN sebagai tata pemerintahan,” tambahnya. Tak hanya itu, ia juga menjelasakan bahwa sebenarnya IKN memiliki dampak positif yang besar bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam jangka panjang. Salah satunya menjadi kebanggaan masyarakat karena memiliki daerah baru sebagai pusat pemerintahan. Hal itu membentuk sejarah di masa depan karena Indonesia berani berkembang untuk memindahkan ibu kota negara. “Jika ditarik dari segi ilmu pemerintahan, IKN menjadi suatu peluang dan juga tantangan agar Indonesia bisa diakui secara internasional. Salah satu harapan yang diemban IKN baru adalah adanya pertumbuhan ekonomi. IKN membuka peluang bagi masyarakat dari segi ekonomi dan pariwisata. Jika dimanfaatkan dengan baik maka akan membantu menumbuhkan perekonomian di daerah sekitar IKN,” tambahnya. Masyarakat bisa membuka beberapa usaha baik jasa maupun barang, perumahan baru, bahkan tempat wisata yang menarik bagi wisatawan lokal maupun luar. Namun, sayangnya suatu pembangunan tak lepas dari banyaknya biaya yang akan dikeluarkan, karena saat ini pemerintah masih fokus terhadap infrastruktur jalan inti di pusat IKN. Maka dari itu jika ada pihak yang berkeinginan membuat usaha, tentu harus siap dengan biayanya. “Melihat banyaknya biaya pembangunan IKN, pemerintah perlu bekerjasama dengan para investor untuk mendukung proses pembangunanya. Hal ini sebetulnya bisa memunculkan ancaman bagi Indonesia, apakah memberikan manfaat bagi bangsa indonesia atau malah sebaliknya,” katanya. Ia pun mengingatkan bahwa penting untuk mengkaji dan memperjelas sisi politik hukumnya. Generasi muda dalam hal ini harus turut andil, siap siaga dan tetap kritis terhadap keputusan pemerintah bagi kebaikan masa depan IKN. Adanya IKN juga tentu berdampak pada lingkungan. Banyak lembaga swadaya masyarakat yang kontra akan hal itu karena hutan di Kalimantan adalah adalah salah satu paru-paru dunia. Ada juga ancaman lain jika dilihat dari sisi topografi, yaitu tata bentuk tanah IKN yang daratannya tidak terlalu tinggi. Sedangkan di daerah itu dikelilingi rawa dan sungai. Maka dalam proses pembangunannya harus mengantisipasi terjadinya banjir, “Jangan sampai di Jakarta problem utamanya banjir, pindah ke IKN baru tetap saja banjir,” ujarnya. Meski demikian, ia melihat ada sisi positif dalam pembangunan IKN. Salah satunya sarana transportasi jalur laut, udara, dan darat menuju IKN yang cukup memadai. Artinya tidak terlalu pusing untuk memikirkan sarana transportasi saat masa pembangunan. Ia pun mengajak masyarakat Indonesia untuk turut mendukung agar pembangunan IKN dapat berjalan lancar dan menghadirkan banyak hal. “Masyarakat bisa melihat peluang adanya IKN dengan cara yang positif. Jangan sampai mega proyek IKN ini berhenti di tengah pembangunan dan mangkrak. Bila itu terjadi, maka yang rugi adalah masyarakat karena dana pembangunan bisa dibilang juga berasal dari uang rakyat,” tutupnya. (dit/wil)
Bingung Memilih Hewan Kurban yang Sehat? Begini Tips Dosen Peternakan UMM

Mendekati perayaan Idul Adha, umat muslim di seluruh dunia bersiap untuk melaksanakan salah satu ibadah penting, yaitu berkurban. Dalam ajaran Islam, berkurban tidak hanya sekedar menyembelih hewan, tetapi juga harus memilih hewan yang sesuai dengan syariat. Pemilihan hewan kurban yang berkualitas ini menjadi hal yang esensial, karena hewan tersebut akan menjadi simbol pengorbanan dan ketulusan hati seorang muslim kepada Allah SWT. Ir. Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt sebagai dosen Prodi Perternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan, penting untuk mematuhi tata cara dan syariat Islam agar mendapatkan hewan dengan kualitas daging yang baik serta kondisi fisik dan biologis yang prima. “Ini juga sebagai upaya menjaga kesehatan masyarakat, terutama para penerima hak dengan memastikan hewan bebas dari penyakit. Terutama yang dapat menular dari hewan ke manusia. Ini juga harus menjadi prioritas. Selain itu, etika dan kesejahteraan ternak juga harus diperhatikan untuk menghasilkan daging yang baik dan memastikan perlakuan yang layak bagi hewan,” tambahnya. Menurut syariat Islam, hewan yang boleh dijadikan kurban adalah unta, sapi, kambing atau domba. Setiap jenis hewan memiliki syarat usia minimal yang harus dipenuhi. Usia ini menjamin bahwa hewan tersebut telah mencapai kematangan dan ukuran yang layak untuk dijadikan kurban. “Umur ternak harus memenuhi syarat yang ditentukan. Untuk sapi, usia minimal adalah 1,5 tahun atau dapat dilihat dari gigi serinya, jika gigi seri sudah lengkap, maka sapi tersebut layak untuk dipotong. Domba atau kambing harus berusia minimal satu tahun,” terangnya. Ada beberapa ciri-ciri yang harus diperhatikan untuk memastikan hewan kurban berkualitas. Yakni hewan kurban harus dalam kondisi sehat, tidak sakit dan tidak memiliki cacat fisik, karena hewan yang sakit atau cacat dianggap tidak sempurna untuk ibadah kurban. “Kesehatan ternak kurban harus diperiksa melalui catatan riwayat dan kondisi kesehatannya, memastikan bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK), LSD (Lumpy Skin Disease) dan penyakit menular lainnya, serta sudah divaksin. Ternak harus sehat, tidak sakit, tidak cacat fisik, tidak buta atau memiliki masalah penglihatan, tidak pincang atau memiliki masalah berjalan dan tidak terlalu kurus sehingga memiliki cukup daging,” jelasnya. Hewan yang berkualitas mencerminkan kesungguhan dan ketulusan hati dalam beribadah. Selain itu, perawatan hewan sebelum penyembelihan juga sangat penting. Hewan harus diberikan makanan yang cukup, tempat yang bersih dan perawatan kesehatan yang memadai. “Selain ternak yang akan kita pilih harus dirawat dengan baik. Mereka juga harus diberi makan dan minum yang berkecukupan serta berkualitas dan dipelihara dalam lingkungan yang bersih sehingga ternak yang kita pilih gemuk berdaging serta terlihat segar pada saat kurban. Jika melihat dari segi perilakuhewan, kita harus memiliki hewan yang menunjukkan perilaku normal dan tidak stres. Misalnya hewannya agresif atau sudah di atur. Ternak harus menunjukkan nafsu makan yang baik pula,” tambahnya. Dengan memperhatikan kriteria-kriteria di atas, seseorang dapat memastikan bahwa hewan yang dipilih untuk kurban adalah hewan yang memenuhi syarat. Selain itu juga layak untuk dijadikan kurban sesuai dengan ajaran Islam. (bal/wil)
Ekspansi Jurusan Bahasa Indonesia UMM Kembangkan BIPA di Thailand

Perkembangan pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Thailand selatan menjadi perhatian Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hal itu mendorong tim dosen PBI UMM untuk terbang ke Thailand dan melihat secara langsung praktek pembelajaran PBI. Di Thailand, tim ini mengunjungi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Songkhla, Thailand dan salah satu Sekolah terkemuka di Thailand Selatan, yakni Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School pada 30-31 Mei lalu. Kunjungan itu juga menjadi cara UMM menjalin kerja sama dengan berbagai pihak di luar negeri dalam pelaksanaan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Mereka diterima langsung oleh Konsul RI, Suargana Pringganu, beserta dua staf Fungsi Sosial dan Budaya, Marsya Fadhia Akmal dan Gregorius Bangkit yang memiliki latar ke-BIPA-an. Tim UMM juga memaparkan sepak terjang BIPA UMM serta sejumlah program internasional unggulan yang dijalankan. Pringganu mengaku senang mendengar paparan tim UMM. Ia juga mengatakan bahwa tidak semua program BIPA yang dijalankan di Thailand Selatan terekam di KJRI. Menurutnya, minat orang Thailand belajar bahasa Indonesia ke Indonesia memang luar biasa. Lulusan luar negeri orang Thailand kebanyakan belajar ke Indonesia dan Mesir. Pembelajaran BIPA di Thailand Selatan juga berkembang pesat meski saat ini mengalami penurunan akibat dihentikannya program pengiriman guru BIPA ke luar negeri. “Minatnya tinggi, namun terkendala biaya. Sehingga, ketika pemerintah Indonesia tidak lagi mengirim guru BIPA, banyak titik-titik BIPA yang tidak lagi berjalan,” ungkapnya. Karena itu, ia mengaku sangat senang bahwa Prodi PBI FKIP UMM memiliki program Center of Excellence (CoE) Diplomasi Bahasa dan akan mengirimkan mahasiswa magang BIPA di Thailand Selatan. Hal itu akan membuka titik BIPA baru. Ia juga berharap dosen UMM dapat memberikan pelatihan pengajaran BIPA kepada orang Indonesia yang ada di Thailand. Karena, selama ini banyak ditemui pengajar BIPA di Thailand Selatan yang tidak berasal dari bidang bahasa Indonesia dan belum memiliki pengetahuan ke-BIPA-an yang mumpuni. “Kami menyambut baik gagasan dan rencana UMM dalam menjalin kerja sama dengan Thailand Selatan. Kami akan mempromosikan program-program UMM dan membantu hal-hal yang dibutuhkan untuk merealisasikan hal itu,” katanya. Di sisi lain, Dosen PBI UMM Fida Pangesti M.A. menjelaskan kerja sama ini diharapkan dapat menjadi medium bagi pengembangan kompetensi mahasiswa yang tergabung dalam COE Diplomasi Bahasa. CoE ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan akan instruktur BIPA yang semakin meningkat. Melalui desain mata kuliah yang tidak hanya secara teoritis, tapi juga praktis. Diharapkan akan lahir pengajar-pengajar BIPA profesional yang mempercepat pencapaian visi peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Selanjutnya, ia juga menjelaskan berbagai program internasional UMM yang dapat untuk diakses mahasiswa Thailand. Salah satunya adalah beasiswa UMM Summit. Beasiswa kampus UMM ini memiliki dua skema yaitu fully funded scholarship dan partial scholarship. Adapun UMM memang sudah sejak lama menjalankan program BIPA. Sejauh ini salah satu negara penyumbang terbanyak mahasiswa BIPA di UMM adalah Thailand, khususnya Thailand Selatan. Hal itu ditegaskan Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. Menurutnya, itu merupakan modal yang kuat untuk menjalin kerja sama lebih jauh dengan berbagai instansi yang ada di Thailand Selatan. Oleh karena itu, kunjungan tim UMM kali ini juga dalam rangka mengunjungi alumni yang saat ini bekerja sebagi pengajar BIPA di Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School. “Salah satu alumni kami menjadi pengajar BIPA di Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School. Dan kami secara proaktif kami berkunjung dan menjajaki kerja sama. Ini merupakan langkah penting untuk mewujudkan visi internasionalisasi bahasa Indonesia,” tegasnya. Kunjungan tim UMM juga disambut hangat oleh Direktur Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School, Seri Ingkhong, terlihat antusias. Ia menjelaskan, sekolahnya memiliki program bahasa asing tidak hanya untuk siswa SMA, tetapi juga siswa SMP. Sejauh ini, program bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa asing favorit siswa. Bahkan, mereka telah memenangkan berbagai kompetisi bahasa Indonesia tingkat nasional. Oleh karena itu, kunjungan UMM dan penjelasan tentang program-program yang ditawarkan UMM dapat menjadi angin segar bagi Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School. Ia pun tertarik untuk berkunjung ke UMM untuk membahas lebih jauh poin-poin kerja sama yang dapat dikolaborasikan. “Kolaborasi ini sangat penting bagi kita dalam rangka memajukan pendidikan, khususnya pengajaran bahasa Indonesia di sekolah kami,” tutupnya. (*/wil)
Dosen UMM: Kenali Gejala PTSD dan Cara Penyembuhannya

Akhir-akhir ini banyak kasus terjadi, mulai dari penganiayaan, pelecehan, pemerkosaan, dan lain sebagainya. Hal tersebut mengakibatkan korban mengalami trauma yang berkaitan dengan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Menurut Uun Zulfiana, M.Psi selaku Psikolog dan juga dosen Psikologi Universitas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), PTSD adalah gangguan jiwa yang cukup ekstrim. Penyebabnya adalah rasa trauma yang besar, bukan hanya stressor atau problem kecil saja. “Namun seseorang tidak bisa serta merta dikatakan menderita PTSD jika tidak sesuai dengan gejalanya dan mengalami secara konsisten selama satu bulan atau lebih,” ujar Uun, panggilan akrabnya. Terdapat empat kategori gejala yang dialami oleh penderita PTSD yang akan muncul secara konsisten dan resisten minimal selama satu bulan atau lebih. Pertama, intrusif yakni gejala yang berhubungan dengan ingatan dan pikiran yang traumatis tanpa disadari. Misalnya saat diam tiba-tiba teringat peristiwa buruk yang pernah dialami. Kedua, penghindaran terhadap kognitif pikiran dan perilaku. Misalnya ketika ada keluarga atau orang terdekat yang mengalami kecelakaan sampai meninggal saat hujan dan menggunakan kendaraan tertentu. Orang PTSD cenderung akan menghindari hujan dan kendaraan yang mirip seperti peristiwa tersebut. Ketiga, perubahan negatif dalam pikiran atau suasana hati. Orang dengan PTSD akan lebih mudah marah atau takut saat mengingat sesuatu. Bahkan ekstrimnya, mereka bisa menyalahkan diri sendiri. Terakhir, adalah perubahan gairah atau reaktivitas seperti sulit berkonsentrasi, respon kejut, kesulitan tidur dan sebagainya. “Tentu gangguan jiwa seperti PTSD bisa muncul karena adanya penyebab. Jelas penyebab utamanya adalah kejadian traumatik, baik yang dialami sendiri atau orang lain yang ia saksikan dan berdampak pada dirinya,” jelasnya. PTSD bisa semakin parah jika ditambah dengan faktor resiko. Misalnya kurangnya dukungan sosial, sudah mempunyai riwayat trauma dan penyakit mental sebelumnya serta penggunaan zat aditif. Jika sudah mengetahui penyebanya, maka langkah selanjutnya adalah melakukan intervensi atau pengobatan. Pengobatan yang harus dilakukan adalah dengan melakukan psikoterapi ke psikiater melalui cara seperti Cognitive behavioural Therapy (CBT). Yaitu mengubah pola pikirnya dan menerapkan pada perilaku. Bisa juga dengan terapi eksposur, yaitu terapi behavioral di mana subjek dihadapkan secara langsung atau bertahap dengan ketakutan dan trauma yang dialami. Setelah pasien menerima pengobatan dan telah dinyatakan sebagai eks pasien, maka perlu ada beberapa hal agar gejala tidak kambuh kembali. Pertama, harus ada motivasi eksternal seperti supporting system orang terdekat yang paham dengan keadaan eks pasien. Saat sudah mulai ada situasi atau indikasi yang mengarah pada trauma, maka orang terdekatnya harus mendampingi agar tidak merasa sendiri. Kedua, eks pasien harus melakukan latihan kewaspadaan, misalnya melatih kemampuan awareness terhadap dirinya saat merasa ketakutan atas traumanya. Di situlah dia dilatih agar tidak mudah terpengaruh oleh ketakutannya. “Terakhir yang penting dan harus selalu diingat bagi pasien atau eks pasien, yakni menjauhi konsumsi alkohol dan zat adiktif,” pungkasnya. (dit/wil)
Hadir di UMM, Kepala Perpusnas RI Mulai Fokuskan Digitalisasi Library

Perpustakaan memainkan peran penting dalam pengembangan reputasi institusi. Namun rendahnya tingkat literasi masyarakat seringkali menjadi tantangan. Ini diakibatkan oleh minimnya standar kompetensi pustakawan dalam mengelola perpustakaan. Hal ini ditegaskan oleh Plt. Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E. Aminuddin Aziz, M.A., Ph.D. dalam seminar bertajuk ‘Kontribusi Perpustakaan dalam Pengembangan Reputasi Institusi’. Ini merupakan agenda dari Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (FPPTMA) yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 5-7 Juni lalu. Turut hadir para pustakawan dari berbagai universitas di Indonesia. Lebih lanjut, Aminuddin menuturkan bahwa program intervensi seperti pengembangan budaya baca dan kecakapan literasi perlu dilakukan. Misalnya saja dengan pengadaan program pojok baca digital, penguatan perpustakaan di tingkat desa atau kelurahan, hingga pemenuhan fasilitas perpustakaan khusus dan perguruan tinggi. “Selain itu, penting untuk menjalankan kebijakan standarisasi dan akreditasi perpustakaan. Meliputi diklat tenaga perpustakaan, perlunya mengikuti sertifikasi dan uji kompetensi bagi pustakawan, serta memperkuat gerakan indonesia membaca bagi calon pembaca dan pengunjung perpustakaan,” tambahnya. Sementara itu, Dr. Labibah, MLIS. selaku Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga menyoroti bahwa perpustakaan harus menjadi bagian integral dari kampus dengan koleksi pengetahuan yang lengkap dalam berbagai format, baik elektronik, cetak, maupun digital. “Tenaga perpustakaan harus mampu menciptakan inovasi sistem untuk mempermudah akses dan pencarian buku. Bahkan, perpustakaan kampus pun harus memiliki program dan layanan profesional untuk meningkatkan kesadaran warga kampus akan pentingnya perpustakaan dalam mencari pengetahuan,” jelasnya. Untuk mencapai tujuan ini, pustakawan perlu menjalin hubungan baik dengan unit lain di kampus dan mengintegrasikan kegiatan perpustakaan dengan kebutuhan akademik dan administratif yang lebih luas. Hal ini akan mempromosikan layanan perpustakaan yang lebih komprehensif dan bermanfaat bagi seluruh sivitas akademika. Ia juga menekankan, perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan intelektual yang dinamis. Dengan demikian, perpustakaan harus terus berinovasi dalam menyediakan berbagai sumber daya dan layanan yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna. Sehingga, pustakawan harus proaktif dalam mendukung kegiatan penelitian, pembelajaran, dan publikasi ilmiah. Selain layanan dan akses, personal branding pustakawan juga berperan penting dalam memperkaya fungsi perpustakaan. Dian Puspitasari, S.AP. selaku sekretaris II PP FPPTMA sekaligus pustakawan UMM menyampaikan, personal branding pustakawan dibentuk oleh tiga dimensi utama. Pertama, seorang pustakawan harus memiliki kompetensi khusus di bidang yang dikuasai. Kemampuan ini harus diimbangi dengan metode komunikasi yang baik. Pustakawan perlu melatih keterampilan berbicara di depan umum dan bisa terlibat sebagai konten kreator. Berpartisipasi dalam berbagai kompetisi, baik yang diselenggarakan oleh Perpusnas maupun forum perpustakaan lainnya, juga sangat dianjurkan untuk meningkatkan kompetensi ini. “Kedua adalah style yang mencakup lebih dari sekadar tampilan fisik, tapi juga mengenai kepribadian. Dengan berpenampilan trendy dan mampu menciptakan inovasi, pustakawan dapat memberikan kontribusi lebih signifikan,” tegasnya. Terakhir, standar tujuan dan capaian yang harus dimiliki pustakawan. Mereka perlu memiliki spesialisasi yang mencakup kemampuan, visi, misi, dan prinsip yang kuat. Berjejaring dengan sesama pustakawan dan memiliki keterampilan dalam literasi informasi juga sangat penting. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menyebut bahwa FPPTMA berperan penting dalam meningkatkan akses ke perpustakaan. Seperti halnya Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar. Awalnya merupakan perpustakaan pribadi Ahmad Malik Fadjar, kini telah diupgrade menjadi digital dan memproduksi banyak buku tentang pemikiran Bapak Malik Fadjar. “Dengan adanya forum seperti ini, diharapkan dapat melahirkan pemikiran baru dan memberikan energi baru bagi kita semua agar bisa menatap masa depan Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya. (lai/wil)
Ini Cara UMM Perkuat SDM Dosen

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), termasuk para pendidik dan dosen di universitas. Maka dari itu, hadirlah Darul Arqam Dosen (DAD) yang diselenggarakan bidang lima yakni pengembangan SDM, Al-islam, dan Kemuhammadiyaan dan berkolaborasi dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan UMM. Agenda ini dilaksanakan pada 3-7 Juni ini dengan berbagai pendalaman materi dan wawasan. Terkait hal ini, Kepala Pusdiklat SDM UMM Zen Amirudin, S.Sos, M.Med.Kom. mengatakan bahwa DAD ini diadakan secara periodik untuk semua dosen dan tendik UMM minimal setahun sekali. Agenda ini adalah suatu bentuk pembinaan di Muhammadiyah yang berorientasi pada pembinaan ideologi keislaman dan kepemimpinan. “Tujuannya tentu untuk meningkatkan pemahaman keislaman, menciptakan kesamaan dan kesatuan sikap, integritas, wawasan, dan cara berpikir di kalangan anggota persyarikatan. Termasuk di dalamnya para dosen UMM yang didorong untuk melaksanakan misi Muhammadiyah dengan baik,” tegasnya. Adapun DAD tersebut terbagi dalam 3 batch dan dilaksanakan di Pusdiklat SDM UMM. Batch pertama dimulai pada 3-7 Juni, batch kedua dari tanggal 10-15 Juni, dan yang terakhir dimulai pada tanggal 24 sampai 28 Juni. Zen, sapaannya, menjelaskan bahwa tujuan dari Daraul Arqam dosen dan tendik ialah untuk memberikan pemahaman kepada peserta, tentang Muhammadiyah sebagai gerakan sekaligus paham Islam berkemajuan. Kedua, membangun pemahaman dan kesadaran tentang Islam berkemajuan sebagai basis ideologi UMM. Kemudian yang ketiga, yakni membentuk pribadi yang memiliki pemahamam dan kesadaran untuk berkhidmat dalam persyarikatan. Terakhir, membentuk peserta sebagai hamba Allah yang patuh dalam menjalankan tuntunan ibadah sebagaimana yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Tujuan itu juga menjadi target capaian saat pelaksanaan Darul Arqam tersebut. “Darul Arqam Dosen & Tendik ini sangatlah penting sebagai landasan ideologis atau core value dosen sebagai kader persyarikatan Muhammadiyah, khususnya di UMM. Ini juga sekaligus meningkatkan skill dan kemampuan mereka dalam menjalankan tugas mendidik para mahasiswa,” jelasnya. Setidaknya ada lima materi yang disampaikan dalam proses DAD. Di antaranya kelompok materi ideologi Muhammadiyah, pengembangan wawasan serta keterampilan, materi sosial dan kemanusiaan, kepemimpinan dan organisasi, serta muatan lokal. Zen berharap program Darul Arqam ini tidak hanya diikuti oleh dosen, mahasiswa, atau tendik saja. Tapi juga para karyawan dan warga di lingkungan amal usaha Muhammadiyah yang ada di UMM. Seperti misalnya seperti Rumah Sakit, SPBU dan atau unit lainnya. (dev/wil)
Dibuka Jokowi, Rektor Cup 2024 UMM Jadi Wadah Potensi Anak Muda

Mempunyai slogan ‘tiada hari tanpa prestasi’, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dorong mahasiswanya untuk berprestasi. Salah satunya melalui Rektor Cup yang dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan sejak Mei lalu. Agenda ini mempunyai tujuan untuk mengasah bakat dan menggali potensi mahasiswa. Adapun rektor cup ini diikuti 1.200 delegasi mahasiswa dari sepuluh fakultas dan 32 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Menariknya, tidak hanya mahasiswa lokal saja yang mengikuti kegiatan tahunan ini, namun mahasiswa asing juga turut meramaikan. Adapun Rector Cup UMM 2024 dibuka langsung oleh Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. Joko Widodo, M.Si. Menurutnya, ajang ini menjadi pelengkap bagi mahasiswa untuk berkreasi dan mengasah potensi. Sehingga akan terlihat dan muncul potensi terbaik dari masing-masing mahasiswa UMM. “Rektor Cup tentu akan terus dilaksanakan setiap tahun. Agenda ini penitng sekali untuk mendorong munculnya potensi dan bakat yang saudara miliki. Selain itu juga menjadi pelengkap pengalaman mahasiswa di dunia kampus,” tegasnya. Jokowi, sapaan akrabnya mengatakan bahwa kalah dan menang memang sudah biasa dalam perlombaan. Melalui pengalaman itulah mahasiswa bisa belajar berkompetisi, menghormati, dan legowo. Dengan begitu, mereka dapat menghadapi kehidupan sebenarnya di masyarakat dengan lebih baik. Di sisi lain, Ketua pelaksana Rector Cup 2024 Ruli Inayah Romadhoan, S.Sos, M.Si. mengatakan bahwa Kampus Putih sangat mendukung mahasiswa untuk selalu berprestasi. Rektor Cup ini menjadi wadah untuk terbentuknya insan yang berprestasi di segala bidang. “Tidak hanya skill yang menjadi indikator penilaian dalam Rektor Cup tahun ini, namun juga melatih stabilitas emosional dan manajemen waktu. Dengan begitu, ajang ini juga bisa menunjang mahasiswa di lingkungan luar kampus,” katanya. Tidak hanya itu, Ruli juga menjelaskan bahwa Rektor Cup juga menjadi wadah silaturahmi bagi para mahasiswa dari berbagai daerah. Meski berasal dari berbagai suku, adat, budaya, dan agama yang berbeda, namun tetap satu menjaga kedamaian dan kebanggaan. Beberapa bidang dilombakan dalam kompetisi ini, mulai dari olahraga, seni, penalaran, dan lainnya. Keseruan Rector Cup juga dirasakan Putri Nur Lutfia, salah satu mahasiswa prodi Psikologi. Ia merupakan peserta kompetisi di bidang Seni Tari. Ia mengaku bahwa kompetisi ini sungguh menguras tenaga, pikiran, dan waktu. “ Saya dan tim perlu membuat koreografi dan berlatih hampir setiap hari. Pada waktu yang sama, saya juga harus berkuliah dan mengerjakan tugas. Maka menjaga kestabilan emosi dan konsistensi adalah hal yang wajib. Apalagi ia dna tim sebelumnya tidak begitu kenal sehingga belum terbentuk chemistry yang baik,” katanya. Meski begitu, Lutfia yakin bahwa usaha tidak mengkhianati hasil. Ia juga merasa Rector Cup tahun ini seru dan menyenangkan. “Ajang ini memiliki kesan yang tidak bisa dilupakan karena memberikan pengalaman unik dan bisa memperluas jejering pertemanan,” ungkapnya mengakhri. (ri/wil)
Youtube Campus Day di UMM: Dorong Anak Muda Jadi Kreator Konten Positif

Jadi konten kreator merupakan pekerjaan yang didambakan generasi Z saat ini. Hal ini diperkuat data yang menunjukkan tingkat pertumbuhan konten kreator yang meningkat hingga 30% pada tahun 2022. Sampai saat ini, pekerjaan menjadi konten kreator nyatanya masih memiliki peluang yang besar. Hal itu sesuai dengan apa yang disampaikan Senior Manager Strategic Partnership Youtube Presthya dalam Youtube Campus Day di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 4 Juni lalu. Agenda ini merupakan kolaborasi antara Youtube, UMM, dan Telkomsel. Lebih lanjut, Thya, sapaan akrabnya mengatakan bahwa masih ada peluang besar bagi anak muda untuk menjadi kreator konten video pendek short di Youtube. Hal itu tak lepas dari jumlah pengguna Youtube di Indonesia yang mencapai 110 juta penonton video panjang maupun pendek. Itu angka yang besar jika dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang memiliki akses internet yakni 180 juta. “Sekarang, tinggal bagaimana kreator tersebut memunculkan ciri khasnya dan menarik penonton. Bagaimana mereka bisa menarik perhatian dan membuat mereka tetap menonton video buatannya,” katanya. Untuk menjadi konten kreator, ada beberapa hal yang bisa dilakukan menutu Thya. Pertama, menemukan konten apa yang akan dibuat. Misalnya, jika seseorang suka untu bermain game, maka bisa mengunggah cara bermain game atau streaming game bersama dengan penonton. Kedua yaitu konsisten untuk mengunggah konten di Youtube. Misalnya dengan mengikuti alur yang sudah dibuat untuk mengunggah konten. Sementara itu, hadir pula Hari Obbie, seorang kreator konten Youtube dari channel Kamu Juga Bisa yang memberikan tips. Ia menjelaskan, untuk menunjang konsistensi perencanaan konten, para peserta bisa menggunakan peralatan yang disediakan gratis di internet seperti AI. “Saat ini, perkembangan AI sangat membantu mempercepat proses riset konten.Meski begitu, kita juga perlu memiliki dasar dalam membuat konten seperti menampilkan ciri khas,” katanya. Menurut Obbie, ada juga konsep 5W+1H dalam menyusun sebuah konten. Dasar ini dibutuhkan agar bisa menciptakan hal yang lebih bermanfaat bagi penonton. “Misalnya saja ingin membuat konten makan-makan, maka videonya bisa dikaitkan dengan impact serta mengapa harus membuat konten tersebut. Lokasinya di mana, bagaimana rasanya, dan lain sebagainya,” tambah alumnus UMM tersebut. Sementara itu, turut meramaikan Fatwa Lahum Yasaruna atau yang lebih dikenal dengan Wawa Yasaruna, seorang konten kreator Travelling sekaligus alumnus Prodi Ilmu Komunikasi UMM. Ia mengatakan bahwa untuk menjadi seorang kreator, ada beberapa alat yang wajib dimiliki yakni tripod, lighting sederhana, dan juga ponsel. “Teman-teman juga harus sering-sering scroll media sosial. Kegiatan ini bukan pekerjaan yang haram kok karena kita bisa melihat apa yang sedang ramai dan tren, serta mendapatkan ide baru membuat konten,” tambahnya. Meksi begitu, Mirza Budiawan selaku Vice President Business Area Jawa Bali Telkomsel mengingatkan jika media sosial itu ibarat pedang bermata dua. Bisa memberikan hasil positif maupun negatif di masa depan, tergantung penggunaannya. “Jika teman-teman ingin menjadi kreator konten, jangan lupa untuk mengarahkan warganet ke arah yang positif. Karena media sosial juga bisa menjadi boomerang bagi diri sendiri dan orang lain,” tegasnya. (tri/wil)