Bahas Peran Gen Z di Sektor Pariwisata, Mahasiswa UMM Juara Ajang Esai Nasional

Banda Neira merupakan salah satu pulau yang terletak di Maluku. Banyak wisatawan lokal dan mancanegara yang berlomba-lomba ingin mengunjungi Banda Neira karena keindahan alam yang dimilikinya. Namun sayangnya akses akomodasi menjadi penghalang untuk menikmati salah satu kekayaan negara itu. Hal ini menarik hati Afta Gita Muhammad, mahasiswa prodi Manajemen yang baru saja mendapatkan silver medal dan favorite poster pada ajang kompetisi Nasional Empowerment, Innovation, Research and Art (Neira) Competition, yang dilaksanakan pada tanggal 24-26 Mei 2024. Afta mengatakan bahwa kompetisi kali ini terdiri dari delapan subtema, di antaranya ada pertanian, pangan, lingkungan, kesehatan, teknologi, budaya dan pariwisata, pendidikan, hukum, sosial dan ekonomi. Sementara dia berfokus pada budaya dan teknologi, dengan menyusun esai berjudul “Inovasi Gen Z sebagai Generasi yang Berperan Aktif dalam Mencapai Indonesia Emas 2045”. Ia membahas mengenai sulitnya perjalanan turis ke Banda Neira kaerna akses akomodasi yang tidak mendukung. “Saya berangkat ke Banda Neira H min satu minggumengikuti jadwal keberangkatan kapal untuk menyeberang. Karena punya waktu yang lebih, saya manfaatkan kesempatan dengan berkeliling Banda Neira dan berbaur dengan warga lokal,” ujarnya. Mahasiswa semester tigas itu menyampaikan, esainya berfokus pada peran Generasi Z dalam mempromosikan budaya melalui media digital dan transformasi paradigma industri pariwisata. Hal itu karena Generasi Z dinilai memiliki kreativitas yang tinggi. Menurutnya, generasi Z dapat menjadi digital natives, yang mampu menerima dan menyebarkan informasi secara digital terkait keragaman budaya Indonesia yang belum tereskpos. “Kita hidup di zaman yang semua hal bisa dijadikan konten. Apalagi generasi zaman sekarang memiliki kretivitas yang luar biasa untuk menyampaikan informasi. Berbagai inovasi bisa dilakukan untuk mengenalkan budaya Indonesia. Baik itu lewat foto, video, atau konten cerita,” katanya. Dalam esainya, ia juga mencantumkan beberapa tips untuk mempermudah akomodasi ke Banda Neira. Ia menawarkan solusi digital yang memfasilitasi akses ke Banda Neira. Yakni melalui situs booking online dan aplikasi pemandu destinasi wisata, baik untuk turis lokal maupun mancanegara. “Sebagai generasi Z, kita memang harus memberikan kontribusi signifikan pada negara, termasuk dalam meningkatkan sektor pariwisata. Sehingga akan banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang akan datang. Dengan begitu, para UMKM atau warga sekitar Banda Neira juga otomatis bisa mendapatkan income lebih,” tutupnya. (ri/wil)
April, Wisudawan UMM yang Kenalkan Kopi Dampit ke Eropa

Menjadi perwakilan dan membawa nama indonesia merupakan suatu kesempatan yang tidak semua orang dapat merasakannya. Namun, hal itu diwujudkan oleh Aprilisfiya Handayani, wisudawan prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menghasilkan produk kopi dan berhasil dilirik pencinta kopi dari kota Helsinki, Finlandia dan juga Talin, Estonia. April, sapaannya menceritakan bahwa awal mula ia memulai usaha kopi dengan mengikuti International Business Matching (IBM). Ia mengajukan data bisnis yang ia punya pada tahun 2023 dan sukses dinyatakan lolos bersama sepuluh peserta lainnya. “Saya pergi ke dua tempat itu pada April lalu. Tiap-tiap peserta memiliki inovasi dan produk menarik dan berkualitas, termasuk kopi. Kebetulan kopi yang saya bawakan berasal dari Dampit, tempat kelahiran saya juga. Keunikan dari kopi ini bisa dilihat dari cara perawatan yang akhirnya menghasilkan aroma khas seperti karamel. Begitupun dengan sejarah panjang yang ia miliki,” tambahnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan proses pembuatan kopi Dampit yang ia tawarkan di ajang itu. Yakni dimulai dengan proses pencucian atau washed process. Kopi yang sudah dipetik kemudian harus melalui proses fermentasi selama kurang lebih tiga hari, kemudian digiling basah. Setelah melewati langkah pertama, kopi Dampit perlu melalui proses semi-washed yakni dicuci kembali dan dikeringkan. Kemudian yang terakhir yakni full washed di mana kopi kembali dicuci dan dikeringkan. Dari ajang IBM itu, April mengaku mendapatkan banyak kesempatan untuk menjalin mitra bisnis di Finlandia dan Estonia. Hal ini dapat meningkatkan potensi ekspor dan impor Indonesia ke internasional. Menurutnya Finlandia dan Estonia menjadi target pasar yang bagus untuk usaha kopinya karena kegiatan jual beli antar negara masih terbuka lebar. Bahkan bisa mendapatkan keuntungan dari puluhan hingga ratusan juta. “Dari sebelas orang yang lolos, akhirnya kami membuat sebuah organisasi Liga Kopi Indonesia (LKI) yang dinaungi langsung oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (KBRI). Hingga akhirnya kami dikirim ke Helsinki dan Talin mewakili indonesia dalam Festival Budaya yang rutin dilaksanakan tiap tahunnya,” katanya. Kini kopinya sudah dipatenkan dengan nama ‘Kopi Prameswari’ dan telah mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) . Ke depan, ia sangat ingin mengekspor kopi miliknya dalma jumlah besar ke Helsinki dan Talin. Selain karena mendapatkan income yang bagus, ia juga sangat menyukai hal-hal baru yang bisa membuatnya lebih bersemangat. Saat ini, April tengah melakukan persiapan studi magister sembari menjalankan usaha kopinya. (ri/wil)
Cedera Pasca Olahraga? Dosen Fisioterapi UMM: Jangan Dipijat!

Banyak orang memulai olahraga tanpa pemanasan. Meski terkesan remeh, namun hal ini ternyata dapat membawa dampak yang serius, seperti cedera. Dimas Sondang Irawan, SST.Ft, M.Fis. selaku Kaprodi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan, cedera terdiri dari dua jenis. Pertama, yaitu traumatik yang disebabkan oleh kontak seperti keseleo atau terbentur. Kedua, yakni cedera repetitif (overuse), contohnya saat seseorang lari namun sepatu yang digunakan kurang pas, serta teknik lari yang kurang tepat sehingga menyebabkan shin splint atau nyeri di area kaki bagian depan. “Jika hal ini terjadi, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghentikan kegiatan olahraga. Banyak kasus yang terjadi karena sebagian besar pasien membiarkan keadaan overuse pada tubuhnya dan mengira itu hal yang biasa,” tegas Dimas. Langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah mengompres cedera dengan es batu. Meski ada penelitian yang mengatakan bahwa usaha tidak efektif untuk inflamasi atau pembengkakan, namun langkah ini baik untuk mengontrol rasa nyeri. Langkah ketiga yakni memeriksakan diri ke dokter atau ke klinik fisioterapi agar bisa mengetahui apa yang sedang dialami. “Sayangnya, masih banyak masyarakat yang salah melakukan perawatan saat mengalami cedera. Ada yang mengompres dengan handuk hangat, mengoles cream, bahkan memijat,” ujar Dimas. Menurutnya, hal-hal tersebut harus dihindari. Melakukan hal yang salah justru akan membuat cedera semakin parah. Cedera harus ditentukan apakah termasuk traumatik atau overuse agar penanganannya juga tepat. “Perlu dipahami bahwa proses penyembuhan dari cedera tidak bisa disamaratakan. Kita harus melihat jaringan apa yang rusak. Misalnya ligamen yang rusak atau pergelangan kaki terkilir. Keduanya bisa membutuhkan kurang lebih satu bulan untuk perawatan. Kemudian jika yang terjadi adalah kontusio atau benturan biasa, kemungkinan tiga hari sudah bisa sembuh,” jelasnya. Dimas melanjutkan, masyarakat kadang mudah menilai bahwa dirinya sudah sembuh lantaran rasa sakitnya mereda. Kemudian memutuskan untuk kembali berolahraga yang sama. Padahal belum tentu cedera yang dialami sudah sembuh total. “Dalam perspektif fisioterapi, sembuhnya cedera bukan hanya masalah hilang atau tidaknya nyeri. Melainkan juga kembalinya kemampuan fungsionalnya seperti kekuatan otot dan keseimbangan tubuh. Jadi harus mengikuti arahan dan aturan dari fisioterapis,” tegasnya. Di akhir, Dimas berpesan bahwa salah satu hal yang harus dihindari ketika cedera adalah melakukan pijat. Apalagi kuatnya stigma di masyarakat yang menyebut bahwa keseleo harus dipijat. Padahal belum tahu sakit yang dialami diakibatkan oleh apa. Apakah ada ligamen yang robek, tulangnya patah atau tidak, adanya dislokasi atau tidak, dan lainya. Maka sebaiknya mengujungi fisioterapis atau ahli yang memahami betul tentang cedera. (dit/wil)
Ini Wisudawan Berprestasi UMM, Bikin Aplikasi hingga Lulus tanpa Skripsi

Universitas Muhammadiya Malang (UMM) selalu melahirkan wisudawan yang menarik dan berperstasi. Salah satunya Hania Pratiwi Ningrum, wisudawan dari prodi Teknik Informatika yang sukses menjadi wisudawan terbaik pada wisuda 113 tahun 2024. Ia berhasil mencetak berbagai prestasi dan raihan membanggakan. Mulai dari membuat aplikasi Herbify, mendapatkan beasiswa leadership, lulus tanpa skripsi, dan lain sebagainya. “Melalui bimbingan UMM, saya juga tembus ke program magang dan studi Independen bersertifikat (MSIB) dari Kemendikbud. Bahkan karya ilmiah saya juga membuat saya bisa lulus dan diwisuda tanpa skripsi,” tambahnya. Adapun karyanya yang menarik adalah aplikasi Herbify yang berhasil masuk dalam top 20 Final Capstone Project Bangkit Academy Batch 1 2024. Aplikasi Herbify berorientasi untuk memperkenalkan tanaman herbal asli Indonesia ke masyarakat. Aplikasi ini bahkan mendapatkan pendanaan inkubasi ratusan juta. “Saya dan tim melihat bahwa banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengenal tanaman herbal asli Indonesia. Padahal banyak tanaman yang berkhasiat untuk tubuh dan kesehatan. Ketika sakit, kebanyakan dari mereka lebih memilih obat berbahan kimia atau memilih herbal china yang terkenal bagus untuk kesehatan,” katanya. Aplikasi ini memiliki fitur menarik seperti herbapedia yang dapat digunakan untuk mengetahui jenis herbal di Indonesia dan herbastore yang digunakan untuk melakukan penjualan tanaman herbal. Bahkan juga ada herbal talk yang dapat digunakan untuk berbicara dengan ahli mengenai herbal. Selain membuat aplikasi, Hania juga mengikuti berbagai konferensi internasional, misalnya Internasional Conference on Technology, Informatics, and Engineering (Icon-tine) tahun 2023 lalu. Melalui konferensi itupula ia berhasil menyusun karya ilmiah yang ia jadikan sebagai tugas akhir sehingga ia tidak perlu melewati proses skripsi. Ia meneliti klasifikasi penyakit jantung menggunakan pengembangan model prediktif melalui hyperparameter tuning. Penelitian yang ia lakukan menggunakan algoritma decision tree (hyperparameter tuning), yaitu metode yang dilakukan untuk mengambil keputusan menggunakan pohon keputusan. Tujuan utama penelitian yang ia lakukan adalah untuk meningkatkan akurasi dan keandalan model decision tree yang memungkinkan para ahli kesehatan membuat suatu keputusan. Hania menilai, beragam prestasi yang ia torehkan bisa tercapai berkat dukungan keluarga dan temannya. Dulu, ia memiliki impian untuk menjadi siswa yang berprestasi, namun gagal. Hingga pada akhirnya ia bisa berprestasi di bangku perkuliahan. “Sebenarnya saya tidak menyangka akan mendapat predikat wisudawan berprestasi di UMM ini. Ini menjadi kebanggan tersendiri karena telah berhasil mewujudkan cita-cita dan tantangan yang ada,” ucapnya. (tri/wil)
UMM Kembangkan Bambu Institute

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan komitmennya dalam menyeimbangkan kemajuan pendidikan dan kelestarian lingkungan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memperkuat kualitas sebagai kampus yang asri dan berkelanjutan. Selain di dalam area kampus, UMM juga berkontribusi pada kelestarian lingkungan melalui unit tata kelola yang aktif di berbagai bidang. Salah satunya melalui Hutan Pendidikan Pujon Hill yang memiliki aktivitas rehabilitasi hutan sebagai program utama. “Kegiatan penanaman pohon telah menjadi agenda rutin setiap tahunnya. Selain itu juga ada pengenalan pentingnya lingkungan pada anak muda dan warga,” jelas salah satu koordinator Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc. IPM. Ia menjelaskan bahwa di kawasan hutan pendidikan Pujon Hill, berbagai jenis vegetasi ditanam sebagai upaya penghijauan dan mitigasi bencana alam. Salah satu vegetasi yang ditanam adalah Bambu (Dendrocalamus). Di Pujon Hill, terdapat setidaknya 30 jenis koleksi Bambu, sebuah inisiatif dari Bambu Institut UMM yang dimpimpin oleh Tatag. Ia melanjutkan, program Bambu Institut UMM dapat menjadi sarana untuk menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Program ini juga membuka peluang untuk penelitian baru yang bermanfaat bagi masyarakat luas, selaras dengan komitmen UMM terhadap kemajuan pendidikan dan kelestarian lingkungan. “Hilirisasi bambu juga harus dikembangkan secara optimal guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa penyangga kawasan hutan. Termasuk untuk hutan pendidikan Pujon Hill UMM,” tambah Tatag. Menariknya, Bambu Institut berhasil mendapatkan apresiasi dari Prof. Dr. Tobias Cremer selaku kepala program Forest Utilization and Timber Markets Faculty of Forest and Environment dari salah satu universitas terkemuka di Jerman. Apalagi melihat hasil dan manfaatnya untuk warga sekitar. “Pendidikan dan lingkungan harus saling bahu-membahu. Tidak hanya memberikan pengetahuan berdasarkan jurusan, kampus juga harus memberikan pengetahuan akan kesadaran pentingnya menjaga lingkungan bagi generasi muda. Sehingga generasi penerus bisa merasakan lingkungan yang sehat dan baik. Ke depan, Bambu Institut UMM juga diharapkan menjadi jembatan untuk mewujudkan UMM sebagai kampus unggul berbasis kelestarian lingkungan,” katanya mengakhiri. (wil)
Gen Z Sulit Beli Rumah? Begini Kata Dosen Manajemen UMM

Di tahun 2024, semakin banyak laporan yang menunjukkan bahwa generasi Z kesulitan menghadapi tantangan untuk memiliki rumah. Faktor ekonomi dan sosial yang berkontribusi pada fenomena ini, membuat impian memiliki rumah tampak semakin sulit dicapai. Novita Ratna Satiti, S.E., M.M., selaku dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama yang membuat Gen Z sulit memiliki rumah adalah tingginya harga properti. “Dalam beberapa tahun terakhir, harga rumah terus meningkat secara signifikan, sementara pendapatan rata-rata tidak mengalami peningkatan yang sebanding. Terlebih, biaya hidup yang meningkat dan inflasi yang terus naik juga menjadi hambatan signifikan,” ujarnya. Selain itu, situasi ekonomi terutama pasca pandemi juga sangat memengaruhi kemampuan Gen Z untuk memiliki rumah sendiri. Banyak dari mereka yang bekerja di sektor informal dengan label gig economy atau perekrutan sistem kerja dengan jangka pendek yang tidak memiliki tunjangan kesehatan, pendidikan anak, dan jaminan hari tua. Menurut Novi, jika ditarik ke belakang, terdapat perbedaan signifikan antara tantangan yang dihadapi oleh generasi Z dan generasi milenial. Sebagai contoh, kenaikan gaji generasi milenial jauh lebih stabil dibandingkan dengan Gen Z yang sering kali harus menghadapi stagnasi upah. “Selain itu, generasi milenial menikmati akses yang lebih mudah terhadap kredit dan pinjaman pada masanya, sedangkan Gen Z kini dihadapkan pada persyaratan yang lebih ketat dan suku bunga yang lebih tinggi,” paparnya. Meskipun demikian, ada potensi unik yang dapat dikembangkan dalam hal pengelolaan finansial. Terlebih, Gen Z cenderung lebih melek terhadap teknologi dan seharusnya lebih sadar akan pentingnya investasi sejak dini. “Misalnya saja, aplikasi investasi seperti Bibit dan Ajaib memudahkan untuk mulai berinvestasi dengan modal kecil serta membantu mendapatkan edukasi keuangan yang relevan,” tambahnya. Namun, pengetahuan dan kemampuan menggunakan teknologi juga harus dibarengi dengan locus of control dan behavioral finance yang baik. Sederhananya, locus of control berarti Gen Z memiliki kendali atas keputusan finansial dan tidak mudah terpengaruh oleh faktor eksternal, seperti tekanan gaya hidup dan adanya kemudahan dari aplikasi Pay Later. “Sementara itu, pemahaman tentang behavioral finance juga dapat membantu mereka mengenali dan menghindari kesalahan dalam pengambilan keputusan keuangan, seperti kecenderungan untuk berbelanja impulsif atau mengambil risiko yang tidak perlu,” tegasnya. Adapun hal yang dapat dilakukan oleh Gen Z adalah dengan meningkatkan keterampilan dan pendidikannya daripada mengalokasikan uang untuk aktivitas hiburan yang tidak perlu. Pendekatan ini dapat membuka peluang pekerjaan yang lebih baik dan stabil. Bahkan, mencari sumber pendapatan tambahan sembari menyelesaikan studi seperti freelance, bisnis online, atau pekerjaan paruh waktu yang dapat membantu mengasah ketrampilan sekaligus mempercepat pengumpulan dana untuk membeli rumah. “Selanjutnya, manfaatkan aneka program beasiswa. Misalnya program Magenta (Magang Generasi Bertalenta), program Wirausaha Muda Mandiri (WMM) maupun program dari lembaga-lembaga mandiri lainnya. Program-program ini tidak hanya memberikan peluang tambahan untuk belajar dan berkembang, tetapi juga dapat memberikan dukungan finansial yang diperlukan untuk membantu Gen Z mencapai kesuksesan finansial dengan lebih cepat dan efektif,” sarannya. Terakhir, Novi berpesan agar gen Z hidup sesuai dengan kemampuan finansial mereka dan menghindari utang yang tidak perlu. Selain itu, penting untuk menetapkan tujuan keuangan yang jelas. Tujuan tersebut tidak hanya terbatas pada membeli rumah, tetapi juga mencakup rencana jangka pendek yang memerlukan perencanaan keuangan yang matang. (lai/wil)
Ramai Kasus Salah Tangkap, Begini Kata Dosen FH UMM

Isu salah tangkap tersangka sedang menjadi trending topic karena mencuatnya kasus pembunuhan Vina. Melihat ramainya kasus tersebut, Shinta Ayu Purnamawati, S.H., M.H. selaku dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan bahwa warga negara Indonesia (WNI) yang merasa menjadi korban aparat maupun korban tindak pidana dapat melaporkan pada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Menelaah lebih jauh, harus diakui bahwa kecerobohan aparat penegak hukum dapat mengakibatkan terjadinya pelanggaran HAM pada orang yang tidak bersalah. Namun di sisi lain masyarakat juga harus melihat kemungkinan kecerobohan ini karena adanya tekanan dari banyak pihak pada saat kasus tersebut terjadi, yang mana mengharuskan agar aparat segera menangkap dan menyelesaikan kasus tersebut. “Dengan adanya desakan tersebut, aparat kita ‘membabi buta’ demi untuk mendapatkan penilaian ‘baik’ dari masyarakat karena sudah berhasil menangkap pelaku kejahatan,” ujar Shinta Dari pandangan hukum, sudah jelas bahwa salah tangkap merupakan pelanggaran yang sangat besar. Akibat dari kesalahan tersebut seseorang yang tidak bersalah harus menjalani pidana penjara dan mendapat label narapidana. Negara bisa dengan mudah memulihkan nama baik orang tersebut, namun sakit dan kerugian psikis tidak bisa dibayarkan. Apalagi hal tersebut dapat membekas dan membutuhkan penyembuhan yang sangat lama, bahkan menimbulkan trauma seumur hidup. “Korban salah tangkap merupakan kasus pelanggaran hak asasi manusia dan termasuk ke dalam kejahatan yang serius. Karenanya, korban berhak menuntut penegak hukum yang telah salah tangkap secara sah, karena korban kehilangan hak hidup, hak pemilikan, hak memelihara kehormatan, hak kemerdekaan, hak persamaan dan hak ilmu pengetahuan,” jelasnya. Pihak yang dirugikan menurut hukum wajib diberikan ganti rugi dan rehabilitasi sesuai dengan peradilan yang menganut doktrin civil law system, yaitu sistem hukum yang berkembang di daratan Eropa. Sistem ini menekankan pada penggunaan aturan-aturan hukum yang sifatnya tertulis dalam sistematika hukumnya. Tuntutan ganti rugi dapat diajukan melalui persidangan praperadilan di pengadilan negeri akibat adanya tindakan yang merugikan pada tingkat penyidikan di kepolisian, penuntutan di Kejaksaan, dan peradilan di pengadilan. “Negara bertanggung jawab terhadap korban salah tangkap karena negara menjunjung tinggi hak asasi manusia. Hal tersebut merupakan hak yang fundamental sehingga harus terlindungi dan terbebas dari segala bentuk ancaman maupun penyiksaan. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHAP memang tidak mengatur sanksi bagi penyidik yang melakukan salah tangkap, namun mewajibkan bagi penyidik tersebut untuk memberikan ganti rugi dan rehabilitasi terhadap korban salah tangkap,” terang Shinta. Pengertian ganti rugi dalam perkara pidana dijelaskan dalam Pasal 1 ayat 22 KUHAP, mengganti kerugian merupakan hak seorang untuk mendapat pemenuhan atas tuntutannya yang berupa imbalan sejumlah uang karena ditangkap, ditahan, dituntut ataupun diadili, tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan menurut tata cara yang diatur dalam KUHAP. Merujuk hal tersebut, Shinta menyampaikan bahwa masyarakat bisa melapor ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk perlindungan. Namun, masih banyak masyarakat awam yang belum mengerti tentang LPSK. Ini adalah lembaga negara yang dibentuk untuk melindungi saksi dan korban tindak pidana, agar saksi dan korban dapat memberikan kesaksiannya secara bebas, tidak mendapatkan ancaman fisik maupun psikis dari pihak tertentu. “Sesuai dengan UU Nomor 31 Tahun 2014 tentang perubahan UU Nomor 13 tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban, tindak pidana yang menjadi prioritas perlindungan meliputi pelanggaran HAM yang berat, korupsi dan tindak pidana pencucian uang, terorisme, tindak pidana perdagangan orang, tindak pidana narkotika dan psikotropika, tindak pidana seksual terhadap anak, serta tindak pidana lainnya yang mengakibatkan posisi saksi atau korban dihadapkan pada situasi yang sangat membahayakan jiwanya seperti penyiksaan, penganiayaan berat dan tindak pidana kekerasan seksual,” tandasnya. Permohonan perlindungan dapat dilakukan atas inisiatif sendiri ataupun permintaan pejabat yang berwenang. Agar mendapat perlindungan dan bantuan itu, ada beberapa prosedur dan persyaratan yang harus dipenuhi pemohon. Pemohon dapat mengirimkan permohonan secara tertulis dengan mengirimkan langsung surat permohonan ke Jalan Raya Bogor Km. 24 Nomor 47-49 Jakarta Timur, DKI Jakarta 13750. Pemohon juga bisa mengajukan permohonan secara daring melalui berbagai platform online yang dimiliki LPSK. Tak lupa Shinta berpesan bahwa seluruh pihak harus saling bekerja sama untuk peduli terhadap sekitar untuk mengjindari kasus-kasus pelanggaaran hukum, termasuk melindungi saksi maupun korban. “Sinergisitas masyarakat, pemerintah, dan aparat penegak hukum untuk saling mengawasi dan evaluasi baik terhadap aturan, penegak hukumnya, maupun budaya atau kebiasaan di masyarakat sangatlah dibutuhkan,” pungkasnya. (dit/wil)
Aktif di bidang SDGs, Alumnus UMM Turut Andil di WWF ke 10

Adalah Haziz Hidayat, alumnus Program Studi (Prodi) Ekonomi Syariah Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menjadi salah satu perwakilan anak muda di World Water Forum (WWF) 2024, di Bali pada Mei ini. Ia yang mewakili SDGs Center UMM, turut andil memberikan solusi atas masalah global, terutama terkait air. “Pada Forum WWF itu saya berbagi kisah dan ide dengan pemuda-pemuda lainnya. Menjalin persahabatan dengan teman dari berbagai negara dan memperkenalkan UMM yang turut aktif menjalankan misi melalui SDGs Center UMM,” ucapnya. Ia merasa sangat bangga bisa bagian dari WWF dari UMM dan memperkenalkan Kampus Putih di hadapan dunia. Haziz, sapaannya juga bisa banyak belajar terkait isu terkini dalam level global. Khususnya terkait ketersediaan air. Apalagi air memang merupakan bagian penting dalam keberlangsungan hidup manusia. Tak hanya itu, ia juga turut memperkenalkan Center of Excellent (CoE) UMM di hadapan perwakilan dari berbagai negara di WWF. Menurutnya, CoE bisa menjadi solusi dan dapat diterapkan di kampus bahkan daerah-daerah lain/ Terlebih lagi, melalui CoE UMM mahasiswa dilatih berbagai keahlian yang sesuai minat bakat mereka untuk menyongsong masa depan depan yang lebih baik bagi dirinya dan lingkungan. Adapun WWF ke-10 yang diadakan di Nusa Dua Bali memiliki tiga misi khusus yang disepakati yakni center of excellence on water and climate Resilience, mainstream integrated water management in small lands, dan kegiatan rutin world lake days. “Tiga misi WWF ini juga dapat dijadikan kiblat bagi UMM dalam mendirikan CoE baru yang bertemakan air. Terlebih lagi CoE umm telah berjalan cukup lama sehingga pendirian program serupa juga tidak akan sulit,” tambahnya. Terakhir, ia berharap keterlibatannya dan UMM dalam forum WWF ini dapat menjadi pembuka dan motivasi bagi mahasiswa untuk ikut terlibat dalam menjaga ketersediaan air dunia. Setelah forum ini selesai, target khusus Haziz adalah menyelenggarakan dan mendirikan komite khusus air yang bisa dijadikan konsentrasi UMM untuk turut andil melestarikan bumi. (tri/wil)
Presiden Iran Meninggal, Bagaimana Dukungan untuk Palestina?

Perang antara Israel dan Palestina terus memanas hingga saat ini. Serangan roket dari Gaza dan balasan militer Israel telah mengakibatkan ketegangan yang semakin sulit dikendalikan. Di tengah konflik yang berkecamuk ini, dukungan dari negara-negara lain menjadi faktor yang signifikan. Iran, yang telah lama mendukung Palestina, baru saja menghadapi guncangan besar dengan meninggalnya Presiden Ebrahim Raisi dalam sebuah kecelakaan helikopter. Lantas, bagaimana dukungan Iran pasca meninggalnya Presiden Raisi? Menanggapi hal tersebut, Haryo Prasodjo, M.A., selaku dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan pandangannya tentang dampak dari peristiwa ini. “Konflik antara Israel dan Palestina adalah imbas dari peristiwa di masa lalu. Dari segi hubungan internasional, Iran ingin menunjukkan kekuatan baru dalam politik regional,” ujarnya. Haryo menambahkan bahwa dukungan Iran terhadap Palestina juga dipengaruhi oleh dinamika internal seperti kepentingan politik, identitas regional dan adanya hubungan kerja sama dengan negara lain. Secara geografis, lokasi Iran yang relatif dekat dengan Israel dan Palestina menambah kompleksitas situasi. “Di negara-negara Timur Tengah, aspek kesukuan tidak dapat diabaikan. Ini mempengaruhi bagaimana Iran melihat kepentingannya dalam konflik ini,” jelas Haryo. “Sebenarnya konflik ini terjadi atas dasar masalah pengakuan atau kedaulatan, di mana Palestina tidak mendapatkan pengakuan dari internasional. Sementara itu, negara internasional terutama negara muslim belum cukup berani untuk memutuskan kedaulatan tersebut, karena saat ini cenderung menganut sistem barat,” jelasnya. Kematian Presiden Raisi menyebabkan ketidakpastian politik di Iran. Terlebih, Iran sedang mengalami masa transisi kepemimpinan yang penting. Iran harus mempertimbangkan kembali mengenai keterlibatannya dalam perang dan memastikan apakah pengganti presiden Raisi memiliki visi, misi, dan perspektif yang sama. Meskipun kematian Presiden Iran tidak langsung mengubah dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok militan Palestina, namun ketidakstabilan politik bisa mempengaruhi seberapa aktif Iran dapat terlibat dalam konflik Israel-Palestina. Menurut Haryo, saat ini belum ada perubahan signifikan dalam peta konflik antara Israel dan Palestina. “Dunia internasional masih fokus pada bantuan kemanusiaan, diplomatik di PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa), serta dukungan moril dan materiil,” jelasnya. Namun, ketegangan konflik diperkirakan akan semakin meningkat dengan adanya kabar meninggalnya Presiden Raisi yang belum jelas penyebabnya. Entah memang karena campur tangan Israel atau justru faktor internal dari helikopter maupun faktor cuaca. Di tengah situasi yang semakin kompleks ini, Haryo menekankan pentingnya kesatuan di antara kelompok-kelompok Palestina. “Hamas dan Fatah, sebagai dua kelompok besar di Palestina harus memiliki satu suara mengenai masa depan Palestina. Masalah internal ini seharusnya diselesaikan lebih dulu sebelum merambah ke tingkat internasional,” katanya. (lai/wil)
Tim Mahasiswa UMM Kembangkan Alat Bantu Jalan untuk Lansia

Sebuah inovasi mengesankan dikembangkan oleh mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka adalah Angga Dwi Aprilio berserta timnya Fajar Trikusuma Wardana, Nurul Aisyah Ramadhani dan Yussi Pradita Budianingsih. Muncul dari keinginan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya lansia dan korban kecelakaan yang mengalami kelemahan pada kaki, tim ini berhasil mengembangkan alat bantu berjalan yang canggih dan inovatif. Menggunakan metode motor penggerak micro controller, alat bantu ini dirancang dengan teknologi yang menggabungkan kenyamanan, keamanan dan kemudahan penggunaan. Angga, panggilan akrabnya menjelaskan bahwa inspirasi untuk menciptakan karya tersebut datang dari pengalamannya melihat banyak lansia yang kesulitan bergerak bebas. Begitupun juga para penderita kaki lemah yang harus bergantung pada bantuan orang lain atau alat. Hal ini menurutnya kurang praktis. “Cara kerja alat ini melibatkan program yang cukup kompleks. Kami merancang alat bantu berjalan ini dengan menggunakan motor penggerak yang diprogram melalui mikrokontroler. Alat ini juga dilengkapi dengan berbagai sensor, seperti sensor gerak dan berat. Sensor-sensor ini akan mengirim data ke sistem pemrograman, yang kemudian menghitung sudut dan kecepatan langkah pengguna,” jelasnya. Proses pembuatan alat ini dilakukan di laboratorium universitas dan melibatkan mahasiswa yang sedang mempelajari pemrograman dan mekanik. Tujuannya adalah untuk mensinergikan berbagai pengalaman praktis dan menghasilkan produk terbaik. Tak tanggung-tanggung inovasi ini berhasil lolos Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC). “Dalam pengembangan alat ini, kami juga mempertimbangkan aspek ekonomi. Dengan adanya alat ini, pengguna diharapkan dapat mengurangi frekuensi pemeriksaan medis yang membutuhkan biaya tambahan. Alat ini didesain untuk memberikan kestabilan yang otomatis, sehingga jika pengguna berjalan miring, alat ini akan otomatis menyesuaikan untuk menjaga keseimbangan,” tambahnya. Selain membantu mobilitas, alat ini juga dirancang untuk terapi seperti digunakan untuk memperbaiki urat dan otot yang lemah. Dengan tambahan fitur terapi ini, pengguna tidak hanya mendapatkan bantuan berjalan, tetapi juga dapat menjalani pemulihan saat menggunakan alat tersebut. “Terapi ini dirancang agar pengguna dapat menggunakan alat bantu tersebut sekaligus menjalani pemulihan. Rencananya, alat ini juga akan dilengkapi dengan baterai yang lebih tahan lama,” tambahnya. Angga dan tim juga ingin memproduksi alat ini secara massal dan menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga kesehatan. Dengan demikian, dapat membantu lebih banyak orang untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. “Adapun saat ini alat tersebut masih dalam proses pengembangan lebih lanjut. Semoga bisa membantu orang-orang yang membutuhkan alat bantu berjalan, seperti lansia atau mereka yang mengalami kelemahan kaki, agar dapat beraktivitas tanpa harus menggunakan tongkat. Sehingga meningkatkan kualitas hidup mereka dengan memungkinkan mereka bergerak lebih bebas dan percaya diri,” tutupnya. (bal/wil)