Sarung Bukan Asli Indonesia? Begini Sejarahnya

Sarung merupakan sepotong kain lebar yang dijahit pada kedua ujungnya sehingga berbentuk seperti pipa atau tabung yang juga terlihat seperti berbentuk kotak. Kini sarung umumnya dilengkapi dengan berbagai ragam, corak, dan bahan yang berbeda di setiap daerah di Indonesia. Sarung bukanlah pakaian asli orang Indonesia, sarung masuk ke Indonesia sekitar abad ke-14 seiring dengan masuknya Islam ke Indonesia. Salah satu teori masuknya Islam ke Indonesia berasal dari Arab, termasuk Yaman (Hadramaut). Sarung diperkenalkan oleh orang-orang Hadramaut (Yaman) ketika mereka datang ke Indonesia. Dr. H. M. Nurul Humaidi, M.Ag. selaku dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam (FAI) mengungkapkan bahwa akibat interaksi, masyarakat Indonesia meniru kaum pendatang dari Yaman. Namun, di balik itu, orang Hadramaut menggunakan sarung bukan sebagai pakaian resmi, tetapi sebagai pakaian tidur atau pakaian santai. Dalam pandangan Islam, sarung memiliki manfaat yang sama dengan pakaian-pakaian yang lain yaitu sebagai penutup aurat dan sebagai ekspresi dari sopan santun dalam masyarakat. Karena awalnya dikenakan oleh pendatang dari Yaman yang beragama Islam, oleh karena itu penganut Agama Islam di Indonesia juga mengikuti cara muslim pendatang tersebut dalam berpakaian. Terlebih ketika penjajah Belanda datang ke Indonesia dengan pakaian model Eropa, bangsa Indonesia yang menganut agama Islam semakin memperkuat jati diri melalui pakaian sarung. Ini seraya menjadi upaya menolak orang-orang Eropa beserta atribut yang dikenakan, yakni pakaian ala Eropa. Karenanya, bisa dikatakan bahwa sarung merupakan salah satu bentuk perlawanan masyarakat muslim Indonesia terhadap Belanda. “Bahkan ketika itu, sampai ada fatwa yang mengharamkan model pakaian seperti Belanda (penjajah.red). Sehingga, sarung kemudian menjadi atribut yang mengandung identitas keagamaan Islam,” ujarnya. Tidak banyak negara yang mengenal pakaian sarung sebagai pakaian resmi. Namun selain di Indonesia, sarung juga dikenal masyarakat muslim di Malaysia dan Brunei. Dua negara tersebut masih serumpun dengan Indonesia yang disebut bangsa Melayu. “Jadi ini menjadi kebiasaan kaum muslim yang menggunakan sarung untuk berpakaian, tidak ada dalil yang secara tegas menganjurkan atau mengharuskan memakai memakai sarung untuk berpakaian atau beribadah. Dalil yang ada hanyalah menutup aurat dan menghiasi tubuh,” tambah Nurul. Di akhir ia menjelaskan bahwa sarung merupakan produk budaya Indonesia yang diadopsi dari kaum pendatang dari Yaman. Maka, sarung boleh digunakan atau tidak digunakan, sama seperti model pakaian yang lain. Masyarakat boleh memakai pakaian apapun, selama fungsinya untuk melindungi tubuh, menutup aurat, dan berdasarkan asas kepantasan. (dit/wil)

Peringati Hari Kesiapsiagaan Bencana UMM dengan Simulasi Terjun dari Gedung

Memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2024, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan pelatihan penanganan pertama bagi korban bencana, 26 April 2024 lalu. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa relawan siaga bencana (Maharesigana) UMM bekerjasama dengan Muhammadiyah Disaster Medical Center (MDMC) Wilayah Jawa Timur, Puska-pb UMM, MDMC Batu, Vertical Rescue Indonesia (Regional Malang), YEPE, Malang High Rope dan DIMPA. Kegiatan yang bertajuk Peringatan HKB di UMM ini menjadi salah satu upaya untuk membentuk kesadaran masyarakat untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana. Apalagi, Indonesia menjadi salah satu negara rawan bencana, sehingga pendidikan seperti ini sangat perlu bagi masyarakat. “Seperti slogannya ‘siap untuk selamat’. Adanya simulasi danpelatihan ini juga ditujukan agar tak hanya tim peyelamat saja yang mengetahui teknik penyelamatan, namun juga para masyarakat luas,” ujar Naibul Umam Eko Sakti, S.Ag., M.Si. selaku Wakil Ketua MDMC Wilayah Jawa TImur. Umam, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa simulasi yang dilakukan merupakan perwujudan kesiapsiagaan terhadap bencana sekaligus melatih keterampilan rescue mahasiswa. Diharapkan dengan adanya generasi yang sigap dapat menjadi tangan-tangan untuk memberi pendidikan dan menjadi tim penyelamat bagi masyarakat saat terjadi bencana. Sebagai informasi tambahan, PP Muhammadiyah memiliki program tangguh bencana, satuan pendidikan rawan bencana, dan tim siaga bencana di tingkat desa sebagai bentuk upaya membentuk sikap sigap masyarakat terhadap bencana. “Simulasi ini juga menjadi salah satu perwujudan kami dalam membangun kesiapsiagaan generasi mendatang terhadap bencana yang suwaktu-waktu dapat terjadi,” tambah Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si selaku Ketua Bidang Diklat MDMC Jawa Timur. Zakarija menambahkan, salah satu simulasi yang dilakukan berupa teknik penyelamatan bagi korban bencana di tebing atau gedung-gedung tinggi. Urgensinya adalah menyelamatkan korban yang sedang terluka dan tidak dapat menyelamatkan diri. Dalam prosesnya, mereka menggunakan berbagai macam teknik, salah satunya teknik HART (High Angle Rescue Technique). Adapula teknik ascending yaitu naik menggunakan akses tali, descending atau turun menggunakan akses tali, vertical rescue double rope evakuasi korban di tali secara vertikal, juga diagonal tension yaitu evakuasi korban dari ketinggian secara diagonal. Terakhir, Dr. Nur Subeki, M.T. selaku Wakil Rektor III UMM memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada tim Maharesigana yang bekerjasama dengan MDMC PP Muhammadiyah dalam melakukan simulasi tanggap bencana di UMM. Adanya agenda ini diharapkan dapat memenuhi cita-cita muhammadiyah untuk menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan umat. Dibalik banyaknya kasus bencana di Indonesia, pelatihan serupa dapat menciptakan generasi tangguh dan sigap terhadap bencana. Apalagi, melihat topografi UMM yang memiliki banyak gedung tinggi, sehingga pelatihan seperti ini sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya hal yang fatal. “Jika tidak ada generasi tangguh, maka bagaimana cara untuk meyakinkan masyarakat bahwa anak muda bisa menjadi penolong yang mumpuni di masa depan?” pungkasnya. (tri/wil)

Nobar Semifinal AFC Timnas di Helipad UMM, Ramai dan Penuh Doorprize

Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dipenuhi para pendukung tim nasional Indonesia U-23, 29 April ini. Hal itu tak lepas dari tim UMM yang menyediakan agenda nonton bareng gratis pertandingan semifinal Asian Cup U-23 antara Indonesia dengan Uzbekistan. Menariknya, layar videotron sebesar 8×4 meter dihadirkan demi memanjakan para supporter. Tidak hanya nobar, para penonton juga berkesempatan mendapatkan hadiah-hadiah menarik yang sudah disiapkan panitia nobar. Terkait kegiatan itu, Kepala Humas UMM M. Isnaini, M.Pd. mengatakan, ini menjadi cara Kampus Putih dalam memfasilitasi sivitas akademika dan mahasiswa yang ingin mendukung timnas di semifinal Asian Cup U-23. Adapun Helipad dipilih sebagai lokasi karena melihat tingginya animo masyarakat Indonesia dalam mendukung timnas di kejuaraan tersebut. “Agenda ini kami laksanakan tanpa dipungut biaya. Para siviats akademika bahkan masyarakat bisa turut serta datang dan nonton bersama,” tegasnya. Lebih lanjut, ia juga menilai bahwa dukungan masyarakat merupakan salah satu cara warga negara dalam hal cinta tanah air. Tak jarang, dukungan itu menjadi energi tambahan bagi para pemain saat pertandingan, sekalipun tidak melihat di stadion. Terlebih lagi, sepakbola merupakan olahraga primadona bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. “Salah satu yang membuat banyak orang semakin mendukung timnas dalam kejuaraan AFC ini adalah adanya kesempatan melangkah ke Olimpiade Paris 2024. Jika berada menduduki juara pertama, kedua, atau ketiga, Indonesia berhak melaju ke Olimpiade. Adapun jika berada di posisi keempat, Kita mau tak mau harus bertanding di babak play-off dengan wakil benua lain,” jelas Krisna. Nobar seru tersebut juga menarik perhatian salah satu menonton, Devi Widiastuti. Meski jarang ikut nobar, namun ia merasa bahwa nobar pertandingan sepakbola memiliki keseruan tersendiri, apalagi pertandingan timnas Indonesia. Devi mengapresiasi pihak UMM yang sudah menyediakan wadah untuk menikmati pertandingan melalui layar yang lebar. Bahkan ada games-games berhadiah yang menarik. Menurutnya, sepakbola tidak hanya dimonopoli oleh laki-laki saja, perempuan juga bisa turut meramaikan, baik sebagai penonton maupun pemain. “Banyak juga yang bilang bahwa perempuan tertarik menonton sepakbola hanya karena wajah pemainnya yang tampan. Padahal sebenarnya, kami juga mendukung dengan tulus perjuangan timnas Indonesia di berbagai kejuaraan. Semoga Indonesia bisa mendapatkan hasil terbaik dan mampu melaju ke Olimpiade Paris. Menang atau kalah, kami akan selalu mendukung timnas Indonesia,” pungkasnya. (wil)

Pewaris Koruptor Meninggal, Siapa yang Bertanggungjawab? Begini Penjelasan Dosen FH UMM

Harta waris adalah wujud kekayaan yang ditinggalkan oleh pewaris kepada ahli warisnya. Bagaimanakah jika pewaris merupakan tersangka atau terdakwa tindak pidana korupsi? Radhityas Kharisma Nuryasinta, S.H., M.Kn. selaku dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan penjelasannya. Perlu diketahui bahwasa hukum pewarisan yang berlaku di Indonesia ada tiga jenis, yaitu hukum waris barat, hukum waris Islam dan hukum waris adat. Ketiga jenis ini masih berlaku dikarenakan faktor masyarakat Indonesia yang multikultural. Sehingga dengan adanya pluralisme masyarakat Indonesia, hukum waris ini adalah pilihan hukum. Tyas menjelaskan bahwa masyarakat boleh memilih ingin menggunakan hukum waris adat, hukum waris islam atau hukum waris barat. Hukum pewarisan ini tidak seperti Undang-Undang Dasar (UUD), serta Undang-Undang tindak pidana korupsi (UU Tipikor) yang memiliki hukum yang jelas. Sumber hukum waris barat adalah Burgerlijk Wetboek (BW) atau Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Kalau hukum waris Islam jelas bersumber dari Alquran. Sedangkan hukum waris adat, sesuai dengan tempat adat tersebut masih berlaku, seperti adat Minang, adat Batak, Bali, Jawa, dan lainnya. Unsur dari pada hukum waris ada tiga, yaitu pewaris atau pihak yang meninggalkan warisan, ahli waris yang menerima warisan dan objek. Pewarisan akan terbuka ketika pewaris meninggal. Selain aktiva seperti pendapatan berupa tanah, rumah dan aset lainnya, ada juga peninggalan pasiva seperti hutang, tanggungan biaya rumah sakit, biaya pemakaman yang juga merupakan harta waris. “Jadi tidak hanya mendapatkan aset, ahli waris juga bisa diwariskan hutang oleh pewaris termasuk mengembalikan aset negara jika pewaris dinyatakan sebagai koruptor,” katanya. Namun, ahli waris yang ditinggalkan tidak akan tiba-tiba dimintai pertanggungjawaban terkait aset negara yang belum memiliki putusan pengadilan. Pewaris harus dipastikan betul-betul bahwa ia merupakan terpidana koruptor dan aset yang dimiliki adalah aset negara. Setelah putusan pengadilannya jelas, barulah kemudian dicari aset-aset negara yang memang wajib dikembalikan. Ketika meninggal, kewajiban seorang koruptor tidak akan terhapus. Kewajibannya ini akan turun atau diwariskan ke ahli warisnya. Jaksa Penuntut Umum (JPU) akan melakukan gugatan terhadap ahli warisnya terkait jumlah aset yang harus dikembalikan oleh ahli waris. Inilah alasan mengapa tindak korupsi disebut sebagai extraordinary crime atau kejahatan yang luar biasa. “Selain merugikan negara, korupsi juga merusak moralitas bangsa. Sehingga harus ada sanksi yang tegas sekalipun pelaku yang menjadi pewaris sudah meninggal,” jelasnya. (dev/wil)

Mahasiswa UMM Ini Raih Lima Terbaik Pilmapres, Siap Wakili Jatim di Nasional

Setelah sering kali menyabet prestasi, kini salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mendapat predikat terbaik lima pada ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) 2024 LLDikti wilayah 7 Jawa Timur pada 24 April 2024. Mahasiswa tersebut tak lain ialah Evita Leninda Fahriza Ayuni yang kini tengah belajar di Program Studi Teknik Mesin UMM. Menariknya, Evita juga berhak untuk mewakili Jatim di tingkat nasional dalam kompetisi serupa. Ia mengaku sangat senang dan tidak menyangka dapat mewakili UMM ke ajang nasional mewakili Jawa Timur untuk pemilihan mahasiswa berprestasi. Adapun ia juga bersanding dengan mahasswa terbaik dari berbagai universitas lain seperti UB, Unair, Universitas Kristen Petra, dan lain sebagainya. “Namun hal itu tak membuat saya minder. Saya tetap berusaha semaksimal mungkin dengan mengumpulkan berbagai prestasi dan skoring capaian unggulan serta membuat gagasan futuristik,” ujarnya. Di balik hal itu, Evita memang memiliki segudang prestasi yang ia maksimalkan untuk melaju ke jaang pilmapres ini. Mulai dari prestasi tingkat nasional seperti juara lomba mobil hemat energi 2022, memenangkan emas dan perak di ajang internasional Korea Selatan berkat inovasi alat pengukur kekasaran jalan, medali bronze di Thailand dan lain-lain. Hal ini membuat dirinya yakin dan berusaha sebaik mungkin serta percaya diri bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa terbaik dari universitas lain. Adapun gagasan yang ia sampaikan dalam ajang pilmapres juga menarik. Evita membangun gagasan futuristik dengan mengangkat kembali aspek produksi garam lokal di pulau madura dengan menerapkan sistem teknologi demi meningkatkan kuantitas dan kualitas garam di selat madura. Beberapa teknologinya adalah monitoring parameter suhu, ketinggian air, kepekatan, penggunaan tunnel atau terowongan dan geomembran. “Adapun tunnel ini berfungsi agar proses kristalisasi tetap berlangsung meski turun hujan. Sementara geomembran bermanfaat agar warna hasil garamnya jadi lebih putih. Nanti di tingkata nasional, saya tentu akan menambah berbagai ide futuristik yang bisa memberikan manfaat lebih dan memberi nilai terbaik. Harapannya, gagasan futuristik ini dapat menjadi ide untuk pengembangan tambak garam di selat madura agar tidak kalah dengan produk impor,” jelasnya. Terakhir, ia berpesan kepada seluruh mahasiswa UMM untuk berani mengambil setiap kesempatan yang ada. Karena, menurut dia, kesempatan tidak akan datang kedua kali. Tidak hanya menunggu informasi, tapi mencari tahu berbagai kompetisi yang tersedia. “Tentunya hal tersebut juga tergantung niat dan upaya pantang menyerah dari individu. Untuk itu, kita harus bisa gunakan masa mahasiswa sebaik mungkin. Maksimalkan tenaga dan ide yang kita punya untuk mengharumkan nama kampus,” pungkasnya. (tri/wil)

Punya Tata Kelola SDM Bagus, UMM Jadi Referensi Kampus PTNBH

Baru-baru ini, Universitas Muhammadiyah malang (UMM) menerima kunjungan dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada 24 April 2024 kemarin. Kunjungan itu bertujuan untuk saling belajar dan diskusi terkait sistem dan tata kelola sumber daya manusia (SDM). Acara yang bertajuk benchmarking Unesa di UMM itu juga dimaksudkan agar terjalin silaturahmi sekaligus merencanakan kolaborasi di bidang tata kelola SDM di masa depan. Mohamad Sulton Arifin selaku Direktur SDM Unesa mengatakan bahwa dirinya dan tim ingin belajar bagaimana cara mengelola karyawan, dosen, ataupun mahasiswa dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Tak hanya di bidang kelola SDM, pihaknya juga berencana bekerjasama dengan UMM di bidang lain untuk menyukseskan pendidikan anak bangsa. Arifin menambahkan, pemilihan UMM sebagai salah referensi belajar tak lain karena UMM merupakan PTS yang memiliki sistem tata kelola SDM yang mumpuni dan bagus. Ia juga sempat melakukan studi banding ke beberapa Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) untuk mengetahui bagaimana cara mengelola SDM yang dimilikinya. Sebagai informasi, Unesa ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah RI Nomor 37 Tahun 2022 menjadi PTN BH per Oktober 2022 lalu. PTNBH memiliki kewenangan otonom untuk mengelola sumber daya dan keuangan mereka, termasuk dosen dan tenaga pendidik. Maka pengelolaan SDM menjadi penting dalam perjalanannya. Adapun dalam tata kelola SDM, UMM memiliki berbagai sistem yang terintegrasi dengan teknologi untuk memantau secara langsung aktivitas dosen maupun karyawan. Contohnya seperti SIM-SDM UMM yang digunakan untuk memantau aktivitas. UMM juga memiliki SIM PMM yang dapat digunakan oleh dosen untuk melakukan penelitian atau pengabdian. Sementara itu, untuk mahasiswa, UMM memiliki website Info KHS yang dapat diakses oleh mahasiswa untuk melakukan berbagai aktivitas terkait pembayaran, ujian akhir, permintaan surat kuliah, dan lain sebagainya. Orang tua juga bisa memantau pembayaran kuliah, nilai mata kuliah, dan segala informasi mengenai perkuliahan anak melalui aplikasi MyUMM Parents. “Semua sudah kami desain agar bisa dilakukan secara mandiri dan tentunya sangat efisien,” ujar Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si selaku Wakil Rektor V Bidang Pengembangan SDM & Al-Islam Kemuhammadiyaan. Terakhir, Tri, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa SDM menjadi unsur utama dalam pendidikan. Keberadaan SDM seperti dosen atau karyawan dapat menciptakan generasi bangsa yang siap dan mumpuni. Maka dari itu, adanya benchmarking Unesa ke UMM ini juga menjadi salah satu wadah untuk saling belajar dan berkolaborasi untuk menyukseskan pendidikan bagi generasi bangsa. “Mudah-mudahan setelah ini kami bisa saling berkolaborasi untuk mengembangkan perguruan tinggi masing-masing sesuai perkembangan zaman. Tak lupa juga, adanya kunjungan ini juga sebagai bentuk awal kami saling mengenal dan merancang program kolaborasi di bidang SDM,” ucapnya mengakhiri. (tri/wil)

Dosen UMM Beri Win-win Solution untuk Konflik Papua

Papua yang menjadi provinsi paling timur di Indonesia mengalami konflik berkepanjangan dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) sejak masa penjajahan Belanda. OPM yang didirikan pada tahun 1965 itu bertujuan untuk memperoleh kemerdekaan bagi Papua Barat. Konflik ini telah menelan banyak korban jiwa dan menyebabkan ketegangan yang terus berlanjut antara pemerintah Indonesia dan kelompok separatis. Syasya Yuania Fadila Mas’udi, S.IP., MstratSt. selaku dosen prodi Hubungan Internasional menyatakan bahwa konflik ini berasal dari penyatuan Irian Barat ke Indonesia pada 1969 melalui Pepera, yang dianggap oleh beberapa pihak tidak mewakili keinginan mereka. Hal ini memicu pembentukan OPM dan konflik dengan pemerintah Indonesia. Untuk mencari solusi yang tepat untuk konflik OPM di Papua tersebut, Syasya menyampaikan bahwa perlu dilakukan pendekatan yang berfokus pada dialog terbuka dan saling pengertian antara pemerintah dan OPM. “Banyak yang berpendapat bahwa pendekatan yang seharusnya diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan konflik di Papua ini adalah pendekatan budaya. Menurut saya pribadi, perlu ada pemahaman yang lebih dari Pemerintah Indonesia terhadap apa yang sebenarnya diinginkan oleh saudara-saudara kita di Papua. Apakah memang pembangunan yang bersifat materialistik yang mereka butuhkan atau yang lain,” tambahnya. Selain itu, organisasi internasional, seperti PBB, dapat memfasilitasi dialog dan memberikan bantuan teknis dalam penyelesaian konflik di Papua. Dukungan dari negara-negara mitra penting untuk mempercepat proses tersebut melalui kerjasama dan kolaborasi. Pihak ketiga yang menjadi mediator harus pihak yang tidak memiliki kepentingan apapun terhadap konflik yang terjadi, dalam hal ini, mungkin bisa menunjuk Swiss sebagai negara yang netral. Tetapi proses mediasi tidak akan mungkin terjadi apabila salah satu pihak tidak mau duduk bersama untuk membicarakan solusi terbaik bagi mereka. Meski terlihat sederhana, namun penyelesaian konflik OPM di Papua cukup rumit. Kurangnya kepercayaan dan ketegangan bertahun-tahun membuat negosiasi menjadi sulit. Kepentingan politik dan ekonomi kompleks juga menjadi penghambat. Diperlukan komitmen kuat dari semua pihak untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan. Untuk mengakhiri konflik OPM di Papua, Syasya menegaskan perlunya dialog, negosiasi dan otonomi khusus. Inspirasi dari penyelesaian konflik Aceh bisa diterapkan, namun setiap konflik memiliki konteksnya sendiri. Ia berharap, konflik yang berlarut-larut di Papua bisa diselesaikan dengan win-win solution. Bukan dengan memaksakan salah satu pihak untuk setuju dengan keinginan pihak lainnya. (bal/wil)

FKIP UMM Kerjasama dengan Yala Rajabath University Thailand

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mengembangkan kerjasama internasional. Kali in, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM langsungkan kerjasama dengan Yala Rajabaht University (YRU), Thailand pada 19 April lalu. Turut hadir rombongan YRU yang terdiri dari rektor, wakil rekktor, dekan dan tim lain. Keduanya sepakat untuk bekerjasama dan tertuang pada penandatanganan MoU dan MoA. Sebelumnya, berbagai perguruan tinggi internasional Thailand juga sudah bekerjasaman dengan FKIP UMM. Di antaranya Rajamangala University di Bangkok, Pathumtani University di Bangkok, Thaksin University di Songklha, Fatoni University di Pattani, Ram Kam Heng University di Bangkok dan Rajabahti University di Yala. Kerjasama yang telah dilakukan meliputi student mobility, kuliah tamu, publikasi bersama dan seminar internasional. Terkait kerjasama itu, Wakil Rektor IV UMM bidang Kerjasama mendukung berbagai upaya yang dilakukan fakultas-fakultas dalam pengembangan kerjasam ainternasional. Ia menegaskan bahwa MoU merupakan awal dan harus ditindaklanjuti dengan berbagai program nyata. Misalnya saja pertukaran mahasiswa, publikasi bersama, kuliah tamu dan lain sebagainya. Salis juga mengatakan bahwa kerjasama ini bisa diperluas ke fakultas-fakultas lain karena YRU melibatkan fakultas ekonomi, fakultas teknik, dan fakultas sosial dan politik dalam kunjungannya ke UMM. “Kegiatan tersebut penting dalam rangka meningkatkan Indikator Kinerja Utama (IKU), baik IKU 2 terkait mahasiswa yang berkegiatan di luar kampus maupun IKU 3 yakni dosen yang berkegiatan di luar kampus,” katanya. Mendengar sambutan ini, Prof. Dr. Sirichai selaku Rektor YRU bersepakat dan menyambut baik serta meminta kepada para dekan terkait dari YRU untuk menindak lanjuti ide tersebut. Antusiasme juga datang dari Dekan FKIP YRU Prof. Dr. Muhammadtolan. Menurutnya, kerjasama ini juga menjadi bagian penting untuk dakwah Islam melalui perguruan tinggi. “Terimakasih kami sampaikan pada kedua belah pihak yang tidak ragu dalam menjalin kerjasama. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik untuk memunculkan program-program menarik dan bermanfaat di masa depan,” katanya. Mewakili Dekanat FKIP, Dr. Sugiarti, M.Si. menyambut gembira kunjungan rekotrat dna dekanat YRU. Menurutnya, ini merupakan bagian dari upaya memperluas dan menguatkan atmosfer internasional yang sudah lama dirintis oleh FKIP UMM. Ia juga menyebutkan ada beberapa program potensial yang bisa dikembangkan oleh ekdua belah pihak. Baik dalam bidang pengajaran, penelitian maupun pengabdian masyarakat serta Al-islam. “Modalitas program studi di FKIP UMM yang semuanya telah memiliki jurnal bereputasi dapat menjadi ujung tombak dalam kerjasama ini,” ungkapnya. Hal menarik lainnya dari kerjasama ini adalah waktu yang singkat dalam proses negosiasi. Ke depan, perlu adanya orientasi yang bisa menguntungkan kedua belah pihal sehingga mobilitas dosen maupun mahasiswa secara internasional menjadi semakin semarak. Mobilitas dosen dan mahasiswa berlevel internasional yang terealisasi dan berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan capaian IKU 2 dan IKU 3 dan memberikan dampak pada reputasi, prestasi dan promosi bagi setiap program studi. (wil)

Bagas, Mahasiswa UMM yang Menangi Kejuaraan Muay Thai Nasional

Kabar gembira kembali datang dari mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini adalah Bagas Aditya Firmandail yang telah berhasil membawa pulang juara 2 dalam ajang pertandingan cabang olahraga bela diri muay thai yang dilaksanakan pada akhir Maret lalu. Bagas yang mewakili Kota Malang memang sudah menggeluti muay thai sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Bagas menjelaskan bahwa selama proses pelaksanaan lomba ia mengalami kendala yang cukup kompleks. Misalnya saja berat badan yang melewati batas sekitar 10 kg. Mau tidak mau ia harus menjalani diet ketat selama kurang lebih satu bulan sebelum perlombaan berlangsung. “Selama masa diet, saya lebih banyak memakan protein dan gandum untuk tetap menjaga daya tahan tubuh. Tapi mendekati perlombaan, berat badan saya masih belum memenuhi kriteria sehingga saya sering minum air putih saja tanpa makan,” katanya. Mahasiswa semester empat itu juga mengatakan bahwa saat perlombaan berlangsung, ia juga mendapatkan kendala yang menyakitkan. Melawan atlet muay thai profesional dari kota Surabaya, ia mendapatkan luka robek di mulut dan harus melakukan operasi dengan empat jahitan. Hal itu membuatnya harus mundur pada babak akhir. “Menurut saya, jahitan ini menunjukkan keseriusan saya dalam cabang olahraga muay thai. Semakin sakit dan banyak luka, maka ilmunya akan semakin tinggi. Jadi tidak masalah dan saya tetap optimis mengikuti di lain kesempatan” jelasnya. Adapun anak pertama dari tiga bersaudara itu sejak SMA memang telah mendalami bela diri muay thai. Ia bercerita bahwa saat masih kecil ia sering bertengkar dna beradu jotos dengan teman-temannya. Kemudian ia akhirnya menyalurkan hal itu di kegiatan yang bermanfaat yakni muay thai. Sejak tahun 2021, ia telah mengikuti banyak ajang kompetisi dan selalu membawa pulang medali. “Tidak pernah ada kata mundur dalam mengejar prestasi. Walaupun keluarga besar saya sering menentang karena faktor luka dan kesehatan, tapi saya ingin berusaha sampai akhir dan membuktikan bahwa melalui hobi ini saya bsia membanggakan mereka,” katanya. Sama seperti mahasiswa lainnya, Bagas ingin selalu ingin berprestasi dan membanggakan nama kampus. Ia percaya kalau setiap orang mempunyai kelebihan, hanya saja belum menyadari dan mengasah kemampuannya. “Dari ajang kompetisi ini, saya berharap bisa membanggakan nama kampus dan terus aktif menjadi atlet. Saya mempunyai mimpi tinggi sehingga dapat mengharumkan almamater dan mengangkat derajat keluarga,” pungkasnya. (ri/wil)

Ramai Amicus Curiae dalam Sengketa Pilpres, Begini Penjelasan Dosen UMM

Pada babak akhir sengketa hasil Pilpres 2024, sejumlah tokoh mengajukan diri menjadi amicus curiae. Lalu banyak orang yang bertanya-tanya dan ingin tahu, apa sebenarnya amicus curiae ini? Secara kebahasaan, amicus curiae dapat diartikan sebagai sahabat pengadilan. Amicus curiae bukanlah tradisi hukum di Indonesia, melainkan bagian tradisi hukum Romawi yang kemudian diadopsi dalam sistem hukum common law. Di mana hukum itu dimaknai sebagai hukum yang hidup di masyarakat, sehingga masyarakat itu diangggap paham terhadap hukum. Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sumali, SH. M.Hum. menjelaskan bahwa secara kelembagaan atau sistem hukum, amicus curiae ini diartikan sebagai orang atau sekelompok orang yang memiliki kepedulian pada suatu perkara hukum tetapi dia bukan menjadi pihak dalam perkara tersebut. “Amicus curaie ini memberikan opini kepada pengadilan atau hakim tentang bagaimana sebaiknya suatu perkara itu diputus atau diselesaikan,” ucapnya. Amicus curiae dalam pengajuannya ini tidak harus oleh advokat. Bisa juga diajukan oleh orang dengan pengetahuan atas suatu perkara, yang keterangannya berharga bagi pengadilan. Keterangan dari amicus curiae ini dapat berupa tulisan maupun secara lisan dalam persidangan. Tugas dari amicus curiae hanya sekadar memberikan pandangan dan opini, bukan melawan argumen dari pihak-pihak yang berperkara. Pandangan atau keterangannya nanti akan menjadi salah satu alat bukti diluar pengadilan, untuk hakim mempertimbangkan putusan dalam suatu perkara. “Walaupun amicus curiae tidak dikenal dalam aturan hukum Indonesia, selagi ada manfaatnya praktek ini tetap bisa dilanjutkan,” pungkas Sumali. Pada sengketa pilpres, amicus curiae boleh diajukan pada saat persidangan. Dalam hukum acara, pengadilan bisa berinisiatif memanggil pihak-pihak yang bisa atau punya kapasitas untuk menjelaskan suatu persolan. Keterangan dari amicus curiae ini sifatnya hanya untuk menambah keyakinan hakim dan nilainya tidak mengikat. Pun, tidak ada yang dapat menguji kebenarannya. Jika ini dijadikan dasar pembuktian, maka pembuktiannya menjadi cacat. Sehingga, tetap harus menggunakan bukti dalam pengadilan sebab akan selalu diuji kebenarannya. “Hanya hakim yang memiliki hak untuk bertanya pada Sahabat Pengadilan, tidak boleh pihak lain. Berbeda dengan pendapat dalam pengadilan, akan di uji oleh berbagai pihak,” jelasnya. (dev/wil)