Sebal Karena Pertanyaan Klise? Dosen Komunikasi UMM Punya Tipsnya

Kesempatan berkumpul bersama keluarga maupun teman yang jarang bertemu, kerap jadi momen istimewa. Namun, tak jarang dari mereka justru menanyakan hal-hal yang lebih personal. Mulai dari ‘Kapan lulus? Kapan nikah? Kapan punya anak?’ dan pertanyaan klise lainnya. Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut nampak biasa. Namun, tak sedikit juga yang merasa kurang nyaman atau justru bingung menanggapinya. Menurut Winda Hardyanti, S.Sos., M.Si, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), deretan pertanyaan tersebut berkaitan dengan budaya orang Indonesia yang menyukai basa-basi untuk memulai obrolan. Di sisi lain, ini juga merupakan bentuk kepedulian orang lain terhadap kita, namun dengan cara yang berbeda. “Jika ditinjau dari komunikasi interpersonal, pertanyaan-pertanyaan tersebut berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk membuka diri atau melakukan self disclosure. Banyak orang bertanya agar mendapatkan feedback, tapi tidak semua orang nyaman dengan pertanyaan yang cenderung ke arah capaian personal,” jelas Winda. Lebih lanjut, Teori Joseph Devito juga menjadi sorotan Winda yang menekankan bahwa tingkat keterbukaan diri dalam komunikasi interpersonal dipengaruhi banyak faktor. Pertama, perbedaan situasi di dalam kerumunan besar dan dalam lingkungan yang lebih personal. “Saat berada di kerumunan besar, individu cenderung merasa kurang nyaman untuk memberikan tanggapan yang mendalam terhadap pertanyaan yang diajukan,” terangnya. Kedua, adanya perasaan afiliasi, kesukaan atau kedekatan. Seseorang yang merasa dirinya dekat, maka akan lebih mudah untuk menjawab dan mengungkapkan jawaban yang sebenarnya tanpa harus merasa canggung atau kurang nyaman. Ketiga, faktor kompetensi antara penanya dan penjawab. Apabila hal ini tidak seimbang, maka akan ada gesekan atau counter back dalam obrolan tersebut. “Selanjutnya, faktor diadik di mana ada kesalingan membuka diri atau cerita antar satu sama lain. Sehingga, menimbulkan sikap saling empati. Tentu, masih banyak lagi yang harus diperhatikan sebelum melontarkan pertanyaan. Bukan hanya karena lama bertemu, berarti bisa langsung melontarkan pertanyaan seadanya. Semua harus memenuhi faktor keterbukaan diri tersebut,” tegasnya. Namun demikian, seseorang memiliki kendali atas bagaimana merespon beberapa pertanyaan tersebut. Menurut Winda, mengubah pola pikir terhadap pertanyaan orang lain jauh lebih bermanfaat daripada langsung memberikan jawaban negatif. Misalnya saja, ketika ada yang melontarkan pertanyaan ‘Kapan lulus?’ baiknya dijawab dengan ‘Mohon doanya ya’. “Kalau pertanyaan tersebut ditanggapi dengan mindset negatif, maka komunikasi tersebut tidak dapat disebut komunikasi yang efektif. Hasilnya, hubungan antara kedua belah pihak tidak terjadi dengan baik. Anggaplah mereka peduli, hanya saja belum paham konteks,” tambahnya. Selain itu, Winda juga menyarankan agar merespon pertanyaan dengan santai, netral dan elegan agar emosi tetap stabil. Meskipun berinisiatif untuk mengubah topik, tapi perlu diperhatikan agar tidak terlalu jauh dan tidak terlihat kalau sedang tidak nyaman. “Peduli boleh, asal pastikan bahwa kamu memahami apa dan siapa yang ditanyai. Pilih topik lain, karena masih banyak topik lain yang bisa ditanyakan agar berdampak pada komunikasi efektif dan keberlangsungan relasi. Misalnya saja hobi ataupun kegiatan dan kesibukan sehari-hari,” tutupnya. (lai/wil)
Bangun GKB V UMM Ramah Lingkungan, Targetkan Rampung di Tahun Ajaran Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini tengah merampungkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) V. Gedung tersebut ditargetkan selesai saat tahun ajaran baru datang. Menariknya, gedung tersebut mengusung green building dengan berbagai fitur dan keramahan lingkungannya. “Jangan sampai bangunan di masa depan menjadi penyumbang polutan terbesar di dunia. Terlebih lagi, material bangunan seperti semen, batu bata, dan lainnya merupakan penyumbang polutan nomor satu setelah batu bara. Untuk itu, pembangunan sekarang menerapkan desain ramah lingkungan untuk mendukung keberlanjutan dunia,” kata Ir. Erwin Rommel, M.T selaku Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kampus (BP2K) sekaligus dosen Program Studi (Prodi) Teknik Sipil tersebut. Adapun saat ini, ia tengah menangani pembangunan Gedung Kuliah Bersama (GKB) V Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bertempat di Rumah Sakit (RS) UMM. Pembangunan gedung tersebut menerapkan desain green building dan smart building untuk menunjang pembangunan berkelanjutan. “Saat ini, proses pembangunan sudah mencapai 50%. Kami menerapkan desain pembangunan bertahap mulai dari pengerjaan struktur bangunan, pemasangan sistem kelistrikan dan saluran, arsitektur bangunan, interior, dan terakhir landscaping agar nantinya bangunan dapat selesai sesuai target,” ucapnya. GKB V rencananya akan digunakan untuk perkuliahan dengan fasilitas dua bangunan utama. Yaitu 11 lantai gedung perkuliahan dan auditorium yang dapat menampung 400 hingga 500 orang. Nantinya, gedung tersebut tak hanya digunakan sebagai gedung perkuliahan saja, namun juga direncanakan dapat digunakan sebagai gedung pertemuan dan menjadi pemasukan generatif UMM. Desain ramah lingkungan dan smart building yang diterapkan pada bangunan GKB V ini memang ditujukan untuk mendukung keberlanjutan pembangunan sekaligus penunjang pendidikan. Erwin menyebutkan ada beberapa parameter yang menjadi penanda bangunan ramah lingkungan seperti adanya sirkulasi udara, pencahayaan yang sesuai, dan sistem kelistrikan yang menggunakan energi terbarukan. Salah satu penerapannya ialah penggunaan partisi untuk menggantikan bata dan semen pada sekat setiap ruangan. Selain itu, ia juga menggunakan sekat kaca peredam panas yang digunakan untuk menggantikan tembok. Pun ia mendesain sistem kelistrikan dengan kombinasi antara panel surya dengan listrik konvensional untuk mengurangi penggunaan listrik. Bangunan yang memiliki tinggi 45 meter ini juga akan dirancang tahan gempa, memiliki fasilitas pemadam kebakaran, fasilitas pembuangan limbah konvensional maupun limbah laboratorium, juga memiliki taman dengan luas 2 hektar yang difungsikan untuk taman baca dan area jogging bagi mahasiswa. “Kami juga merancang sistem pendingin ruangan yang dapat otomatis dinonaktifkan ketika ruangan tidak digunakan yang bertujuang untuk penghematan listrik,” tambahnya. Terakhir, Erwin berharap, bangunan ini akan rampung sesuai target pengerjaan yaitu awal tahun ajaran baru 2024/2025. Nantinya ia dan tim akan merampungkan pengerjaan setengah bangunan terlebih dahulu agar dapat segera difungsikan untuk perkuliahan. “Setelah merampungkan GKB V ini, kami juga akan merancang perbaikan dan perawatan pada bangunan lain di kampus 3. Ini juga menjadi salah satu fokus kami untuk menambah dan memperbaiki fasilitas yang ada di UMM,” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)
Dosen Hukum UMM: Hati-hati Uang Palsu Pasca Lebaran

Peredaran uang palsu perlu diwaspadai, terutama usai momen lebaran. Pasalnya, berbagi Tunjangan Hari Raya (THR) telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia pada Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat Indonesia akan mulai menukar uang pecahan atau uang baru untuk dijadikan THR atau “uang saku” saat lebaran. Tinuk Dwi Cahyani, SH., S.HI., M.Hum. selaku dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan bahwa adanya uang palsu ini dapat berdampak pada kepentingan umum, khususnya permasalahan ekonomi. Dampak yang paling signifikan adalah menimbulkan inflasi. Semakin besar jumlah uang palsu yang beredar, maka akan sangat mempengaruhi daya beli dan perekonomian masyarakat. “Uang palsu pun dapat digunakan untuk bertransaksi jika orang-orang tidak mengetahuinya. Sehingga, uang yang beredar tidak terkontrol dan malah membuat rupiah menjadi tidak bernilai,” jelasnya. Telah ada aturan mengenai Mata Uang di UU No. 7 Tahun 2011. Pada Pasal 26 dan Pasal 27, telah dijelaskan bahwa dilarang untuk memalsukan, menyimpan, hingga mengedarkan Rupiah yang diketahuinya merupakan Rupiah Palsu. Bagi yang memalsukan Rupiah, ancaman pidananya paling lama 10 tahun dan denda paling banyak 10 Milyar. “Jika mengedarkan, maka ancaman yang didapatkan bisa lebih tinggi,” tegas Tinuk. Ia pun melanjutkan jika Indonesia memiliki Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal) yang terdiri dari Badan Intelijen Negara (BIN), Kepolisian Negara RI, Kejaksaan Agung, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia (BI). Namun, kontribusi masyarakat tetaplah dibutuhkan untuk memaksimalkan pencegah dan pemberantasan edaran uang palsu ini. “Jika masyarakat memiliki keresahan terkait uang palsu, bisa segera melapor misalnya ke BI. Nanti BI akan merespon dan melakukan penelitian terhadap fisik uang tersebut. Jika BI sudah menyatakan itu palsu, maka akan dilakukan pengamatan dan penelusuran sumber uang tersebut,” pungkasnya. Untuk ini lanjut Tinuk, masyarakat dihimbau dapat terus kooperatif dan berperan aktif. Demikian pula toko kelontong maupun swalayan, bisa mulai menggunakan sensor untuk mendeteksi keaslian Rupiah. Hal ini dapat membantu mencegah dan mendeteksi lebih awal peredaran uang palsu. “Ini pentig agar lebih mudah terdeteksi,” tambahnya. Untuk momen lebaran dan usai lebaran, Tinuk pun memberikan beberapa tips agar tidak tertipu dan mendapatkan uang palsu. Pertama, kita harus teliti dengan bahan, ukuran, gambar, dan warna dari uang tersebut. Periksa apakah uang tersebut mirip dengan uang asli, dari segi ukuran, gambar, hingga bahan. Kedua, jangan mudah tergiur dan terburu-buru. Tukarkanlah uang di tempat resmi seperti Bank Indonesia. Selain karena tidak memiliki biaya tambahan, uang di Bank telah terjamin keasliannya. “Saya harap masyarakat tidak tergiur untuk menukarkan uang di tempat yang tidak resmi. Karena tempat seperti itu biasanya memiliki biaya tambahan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan keaslian uangnya,” tutupnya. (dev/wil)
Kasus Korupsi Mencuat, Dosen UMM Soroti Integrasi Pendidikan Anti-Korupsi

Tahun 2024, kasus korupsi di Indonesia kian jadi sorotan. Terbaru, kasus korupsi di PT Timah yang merugikan negara sekitar 217 triliun. Jika tidak diatasi sejak dini, dampaknya tidak hanya merugikan keuangan negara saja, tetapi juga memicu potensi peningkatan praktik korupsi di seluruh lapisan masyarakat. Lantas, apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengurangi hal ini? Mengintegrasikan pembelajaran anti-korupsi dalam muatan kurikulum rupanya dapat membantu mewujudkan Indonesia bebas korupsi. Hal ini disampaikan oleh Dr. Nurul Zuriah, M.Si., selaku dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Alasannya, pembelajaran anti-korupsi dapat membentuk karakter siswa dengan nilai-nilai integritas dan kejujuran. “Melalui pendidikan anti-korupsi, dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami akar permasalahan korupsi, mengenali tindakan-tindakan yang melanggar integritas, dan mengembangkan kesadaran akan pentingnya etika dan transparansi dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Nurul. Terlebih, pendidikan anti-korupsi juga diharapkan dapat membentuk karakter anak bangsa yang berintegritas dan berani menolak korupsi. Serta, mengajarkan pemahaman tentang dampak negatif korupsi baik pada individu maupun masyarakat secara keseluruhan. Sehingga, dapat membangun generasi yang lebih sadar akan dampak negatif dari korupsi. Dalam hal ini, Nurul juga menyoroti bahwa pembelajaran anti-korupsi harus merata di semua tingkatan pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga menengah ke atas. Lebih dari itu, metode pembelajaran yang interaktif dan praktis perlu diadopsi untuk memotivasi siswa berpikir kritis, berdiskusi, bermain peran dan melakukan kunjungan lapangan guna menginternalisasi nilai-nilai anti-korupsi secara lebih efektif. “Pastikan bahwa pelajaran anti-korupsi tidak hanya menjadi ‘mata pelajaran tambahan’ saja, tetapi terintegrasi secara holistik dalam seluruh kurikulum. Ini dapat mencakup aspek etika, hukum, dan tanggung jawab sosial,” tegasnya. Oleh karena itu, dalam mewujudkan sekolah berbudaya anti-korupsi, Nurul berpendapat bahwa memerlukan tiga pilar. Pertama, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang transparan, profesional, dan akuntabel. Kedua, integritas nilai-nilai anti-korupsi dalam kurikulum dan praktik sehari-hari di sekolah. Serta, keterlibatan orang tua, komunitas dan lembaga terkait dalam mendukung pendidikan anti-korupsi. “Meskipun hal ini akan berdampak menyeluruh, tetapi terdapat beberapa tantangan yang akan diatasi para pengajar dalam implementasi pendidikan anti-korupsi. Misalnya saja, keterbatasan sumber daya termasuk buku teks, materi ajar, dan pelatihan untuk pengajar. Sehingga, para guru harus berinovasi untuk mengatasi hal ini,” tambahnya. Tantangan selanjutnya adalah datang dari kesadaran dan minat siswa dalam mempelajari anti-korupsi. Tantangan ini menuntut para pengajar untuk menggunakan metode menarik dan relevan agar siswa tertarik dalam memahami materi.. Jika pembelajaran anti-korupsi resmi direalisasikan dalam muatan kurikulum, maka hal ini juga berdampak bagi pemerintah. Tentunya, menghasilkan warga negara yang lebih bertanggung jawab dan berintegritas, yang pada gilirannya dapat mengurangi tingkat korupsi di Indonesia. “Namun, tanpa informasi lebih lanjut pengajar tidak dapat memberikan saran spesifik. Secara umum penting bagi pemerintah untuk memperhatikan masukan dari para pendidik dan ahli pendidikan dalam upaya mengembangkan kurikulum anti-korupsi yang lebih efektif,” pungkasnya. (lai/wil)
Keren, Informatika UMM Raih Akreditasi Internasional

Kabar gembira kembali datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini Program studi Informatika UMM berhasil mendapatkan akreditasi internasional dari lembaga Akreditasi International Accreditation Board for Engineering Education (IABEE). Informatika UMM resmi mendapatkannya sejak 31 Maret 2024. Ini juga sejalan dengan milestone UMM yang menargetkan pada tahun 2026 setiap prodi mendapatkan rekognisi Internasional. Ir. Galih Wasis Wicaksono, M.Cs selaku ketua program Studi Informatika UMM mengatakan bahwa pihaknya memang telah mendapatkan banyak penghargaan sejak lama. Salah satunya Provisional Accreditation (PA) IABEE. “Keikutsertaan dalam PA ini juga menjadi upaya kami untuk mewujudkan rekognisi pemenuhan kriteria-kriteria General Accreditation (GA) dari IABEE. Berdasarkan hasil PA tersebut, kurang lebih satu tahun dari April 2023 hingga Maret 2024 kami mengikuti seleksinya,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa selama persiapan dan pelaksanaan penilaian akreditasi, ada taskforce khusus yang sudah disiapkan. Salah satunya terkait kurikulum yang berbasis luaran atau Outcome Based Education (OBE). “Selain itu, kami juga harus menyesuaikan dengan program pemerintah. Kami yakin, terdapat korelasi yang positif dengan misi kami untukmemajukan prodi Informatika UMM” katanya. Puncak pelaksanaan akreditasi GA IABEE trrlaksana saat visitas yang dilakukan untuk proses validasi dan verifikasi. Adapun kebethasilan meraih akreditasi internasional ini menjadikan Informatika UMM menjadi prodi informatika universitas Islam pertama di Indonesia yang terakreditasi IABEE. “Di wilayah Malang Raya, hanya prodi Informatika UMM yang telah terakreditasi Internasional GA IABEE. Hal ini menjadi rekognisi eksternal sekaligus afirmasi positif bagi tim yang telah menjadi bagian dalam menjaga komitmen peningkatan mutu dan kualitas pendidikan berorientasi internasional. Mendapatkan akreditasi internasional menjadi dorongan bagi prodi Informatika UMM untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan agar melahirkan sarjana yang berkompeten. Selain itu juga menjadi inspirasi bagi seluruh institut pendidikan di seluruh Indonesia untuk mengejar standar internasional yang lebih tinggi dalam penyelenggaraan pendidikan” pungkasnya. (*/ri/wil)
Pakar UMM: Perang Iran dan Israel Berdampak pada WNI di Timur Tengah

Ketegangan yang sedang terjadi di Timur Tengah antara Iran dan Israel masih menjadi perbincangan hangat. Meluncurkan serangan terbuka ke Israel adalah pertama kalinya Iran lakukan, walaupun harus melewati wilayah kedaulatan Irak, Suriah, dan Jordan. Menanggapi hal tersebut Prof. Gonda Yumitro ,SIP.,MA .,PhD, selaku dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan bahwa pengaruh Indonesia sebagai negara diplomatik tidak akan terkena masalah geopolitik selama peperangan tersebut tidak berlanjut. Ia mengajaka untuk melihat sejarah pada tahun 1979, yakni Revolusi Ruhullah Khomeini mengkudeta Shah dan mendirikan Republik Islam Iran. Salah satu identitas utama Khomeini adalah tidak menerima imperialisme Amerika Serikat dan Sekutunya Israel. Sejak saat itu, hubungan dengan Israel terputus. “Adanya perseteruan pada tahun tersebut, membuat hubungan Israel dan Iran yang pernah mesra menjadi terganggu. Serangan kemarin hanya sebagai pengingat bahwa Iran mempunyai power yang cukup,” katanya. Namun menurut Gonda, serangan yang dilakukan Iran kepada Israel bisa menjadi boomerang. Misalnya saja akan berdampak kepada masyarakat muslim yang ada di Palestina dan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Timur Tengah. Saat ini, banyak negara yang mendukung Israel karena melihat kehancuran yang terjadi. Meskipun sasaran serangan yang dikirim Iran tidak membuat kerusakan pada organ inti Israel. “Jika serangan terus berlanjut, dampak perang akan semakin meluas. Maka dari itu, sekutu sangat mewanti-wanti Israel untuk tidak membalas serangan dari Iran. Banyak kerugian yang akan terjadi, tidak hanya negara tetangga Iran dan Israel saja, tetapi seluruh dunia akan terkena imbasnya,” ucapnya. Lebih lanjut Gonda mengatakan bahwa Indonesia tidak boleh memihak siapapun dan perlu berhati-hati menyikapi dinamika yang berkembang. Banyaknya WNI yang tinggal di kawasan Timur Tengah membuat Indonesia harus lebih bijak dan tetap pada sikap konstitusi. Yakni mendukung perdamaian dunia dan menentang segala macam bentuk penjajahan. “Tentu, Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi perdamaian dunia. Menolak keras segala bentuk serangan yang dapat menimbulkan korban sipil. Maka menurut saya, Indonesia tetap pada posisi normatif, dan memikirkan kondisi WNI yang bisa terdampak di kawasan,” tambahnya. Di akhir, Gonda menyampaikan, perang yang berkelanjutan perlu dihindari. Segala upaya yang ada perlu ditingkatkan untuk mencegah perang yang lebih luas terjadi. Masyarakat Indonesia juga perlu memiliki pandangan yang lebih kritis supaya tidak merugikan kepentingan nasional di kawasan, mengingat banyaknya WNI yang tinggal di Timur Tengah. (ri/wil)
Halal Bihalal UMM, Menghilangkan Luka Hati melalui Silaturahmi

Idul fitri menjadi momentum perayaan untuk menyambung silaturahmi antar sesama. Idul fitri diartikan sebagai momen mensucikan diri dengan saling memaafkan antar saudara umat muslim. Untuk itu, keluarga besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar halal bi halal dalam rangka mempererat hubungan silaturahmi antar civitas akademika, 16 April 2024 lalu. Turut hadir juga KH. Nur Cholis Huda, M.Si selaku Penasihat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang menyampaikan tausiahnya. Ia mengatakan bahwa inti dari halal bi halal idul fitri ini adalah memperbanyak kawat atau tali silaturahmi. Tujuannya adalah untuk menghapuskan setiap dosa yang diperbuat, utamanya hubungan dengan sesama manusia. “Karena menyembuhkan luka itu sulit. Ibarat menancapkan paku di kayu dan mencabutnya. Lubang tersebut tidak akan mudah tertutup kembali,” ucapnya. Ia mengajarkan, ketika sedang merasa marah itu seperti menancapkan paku pada sebuah kayu. Jika hal tersebut diulang terus menerus dapat menjadi sebuah bekas yang sangat banyak dan tidak dapat dihilangkan. Hal ini juga sama seperti sebuah luka fisik maupun hati yang tak akan mudah hilang. Cholis juga menyampaikan ada dua tujuan utama dari halal bi halal. Yakni menyambung silaturahmi dan kedua untuk menyembuhkan luka di hati. Menyambung silaturahmi dalam hal ini ialah dengan berteman dengan siapa saja dan tidak memandang status atau kasta. Sementara menyembuhkan luka hati dengan saling memaafkan atas kesalahan yang diperbuat sebelumnya. Karena, jika luka tidak dimaafkan akan mengendap dalam hati dan membentuk kebencian dengan sesamanya. Sementara itu, Dr. dr. Sukadiono, MM selaku Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur juga mengatakan, dalam memaafkan ada tiga level berbeda. Pertama yaitu ta’fu atau menghapus kesalahan yang diperbuat orang walau tidak bisa melupakannya. Level yang kedua yaitu tashfahu atau memaafkan dengan lapang dada namun tidak bisa berbuat baik kepada orang tersebut. Level ketiga atau tertinggi yaitu taghfiru atau mengampuni kesalahan orang yang menyakiti kita dan tetap berbuat baik kepadanya. “Kalau bisa, di idul fitri ini kita menjadi manusia dengan level memaafkan tertinggi atau At-taghfiru. Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mencapai tingkatan maaf tertinggi yaitu dengan mengingat dan melupakan,” tambahnya. Maka dari itu, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP selaku Menteri Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) sekaligus Badan pembina Harian (BPH) UMM menyampaikan keterkaitan halal bi halal yang diselenggarakan UMM. Yakni dapat menjadi ajang membersihkan diri untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang dilakukan. Idul fitri juga menjadi tanda dari proses penyucian jiwa kita dan membuka lembaran baru untuk menjalankan kehidupan. Terakhir, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si selaku Rektor UMM berpendapat bahwa halal bi halal memberikan cermin adat kemanusiaan yang dijunjung tinggi di atas segala perbedaan dan kepentingan. Silaturahmi atau menyambung hubungan dengan istilah halal memberikan inspirasi mengatasi persoalan dan membuat suasana hangat. Hal itu juga menjadi kunci membuka pintu rezeki halal dan thayyib. Sementara idul fitri atau fitrah sendiri memiliki makna penting yaitu atau al khair (baik dan benar dalam keilmuan) yang digunakan untuk menjalankan tugas maupun kehidupan kemanusiaan kita dihadapan Allah. “Hal Ini juga mencerminkan cara kita menyikapi tantangan dan dinamika menjalankan misi kemanusiaan. Membawa UMM menjadi bermartabat serta bermaslahat bagi seluruh umat,” tegasnya mengakiri. (tri/wil)
Dirjen Haji Sampaikan Khutbah Ied di UMM

Kita perlu memupuk hati dan pikiran untuk bisa berjuang mendaki kebajikan. Pada Surat Al-Balad ayat 11-20 menceritakan dan menjelaskan satu konsep atau prinsip yang patut direnungkan, utamanya untuk mengisi hari-hari selepas Hari Raya Iedul Fitri ini dengan kebajikan-kebajikan. Termasuk terlibat secara sosial untuk mendorong kemanusiaan. Hal tersebut dijelaskan oleh Prof. Hilman Latief, MA, Ph.D. selaku Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam khutbah idul fitri di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 10 April 2024. Menurutnya, terdapat “jalan sukar” yang harus didaki atau ditempuh, atau “jalan terjal nan panas”. Jalan yang tidak semua orang mampu untuk menaklukannya. “Jalan tersebut mencakup beberapa hal, pertama melepaskan budak dari perbudakan, kedua memberi makan pada hari kelaparan, ketiga membantu anak yatim yang ada hubungan kerabat dekat, terakhir adalah membantu orang miskin yang sangat fakir,” ucap Dirjen Haji dan Umroh itu. Pertama, melepas budak dari perbudakan. Dari dulu, perbudakan dan kemampuan eksploitatif ini adalah salah satu yang menunjukkan kekuatan dan kekuasan seseorang. Al-Qur’an meminta orang-orang yang beriman untuk mulai membuka mata, menegakkan keadilan, menjunjung persamaan, mengangkat harkat dan martabat manusia. Maka dari itu, perlu membebaskan lingkungan sekitar dari sistem yang eksploitatif yang mendekati perbudakan. Kedua, memberi makan pada hari kelaparan. Zakat atau shadaqah sebagai bentuk ekspresi kedermawanan harus dipelihara secara profesional, transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. Pasalnya, krisis bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Sebagai orang beriman, kita harus senantiasa siap untuk menyumbangkan sebagian yang kita miliki agar orang lain terbantu sehingga bisa menjalani kehidupan secara layak. “Salah satu entitas yang harus mendapatkan perhatian kita adalah membantu dan memberikan makan anak-anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan,” jelasnya. Anak yatim umum diartikan sebagai anak yang ayahnya telah meninggal dunia. Namun, secara sosiologis juga dapat berarti sebagai anak yang tidak memiliki sandaran kehidupan ekonomi, walaupun secara fisik orang tuanya masih ada. Bantulah anak-anak yatim khususnya kerabat dekat kita, karena sesungguhnya harta yang paling berharga adalah keluarga. Terakhir, Tidak semua mendapatkan keberuntungan dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan kelayakan hidup. Maka, bantulah orang miskin yang sangat fakir baik di masa bulan Ramadhan dan terutama sesudahnya. Sementara, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. mengatakan bahwa kehidupan rohani yang baik akan menjadi energi untuk terus memberikan kemajuan dan pencerahan bagi kehidupan umat manusia yang bermartabat. “Idul Fitri, selepas puasa Ramadhan sebulan penuh, mestinya mampu membentuk kita menjadi lebih baik. Mampu memanjatkan dan merasakan rasa syukur yang mendalam di dalam batin kita,” pungkasnya.
Lumajang Disambangi Baksos UMM, Tes Kesehatan Gratis hingga Perpus Keliling

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak bosan-bosan menebar keceriaan dan kebahagiaan selama bulan Ramadhan. Kali ini, UMM hadir di Desa Sumberejo, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang pada 05 April lalu. Kehadiran tim UMM itu tidak lain sebagai giat bakti sosial dengan membagikan 200 paket sembako kepada yang membutuhkan. Selain itu, juga terdapat pemeriksaan kesehatan gratis, penyuluhan kesehatan oleh dokter dari Rumah Sakit Umum (RSU) UMM. Hadir pula Mobil Perpustakaan Kamis Membaca (KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Terbang). Muhammad Luthfi, S.H., S.Sy., M.H. selaku ketua pelaksana bakti sosial menyatakan bahwa pemilihan lokasi di desa sumberejo tersebut juga merupakan hasil kolaborasi dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) setempat. Selain itu, juga untuk membumikan syiar Muhammadiyah di desa Sumberejo. “Di sini Muhammadiyah menjadi minoritas dan perlu didukung untuk menyebar dakwah Muhammadiyah. Baksos ini juga menjadi media dakwah persyarikatan yang bisa langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar,” jelasnya. Selain itu, Luthfi menegaskan bahwa kegiatan ini rutin dilakukan oleh UMM selama bulan Ramadhan. iIni juga menjadi salah satu bukti komitmen UMM untuk melakukan pengabdian kepada bangsa secara masif. Di sisi lain, Mukhlason selaku perwakilan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang mengapresiasi kegiatan baksos ini. Menurutnya, baksos tersebut memberikan sisi edukasi kepada masyarakat. Mulai dari anak kecil hingga lansia. “Alhamdulillah ada kegiatan seperti ini. Para orang tua ada tes kesehatan gratis serta penyuluhan Kesehatan seputar indikasi penyakit ringan seperti sakit punggung yang sering dialami. Yang anak-anak kecil juga ada perpustakaan keliling yang meningkatkan literasi dan game-game seru dengan berbagai hadiah yang diberikan,” ungkapnya. Terakhir, dia berharap seluruh masyarakat khususnya umat muslim untuk memiliki spirit kuat untuk memberikan manfaat kepada sesama. Apalagi mengingat bahwa Indonesia merupakan negara yang luas dan memiliki banyak lapisan masyarakat. “Sangat keren, harapannya acara seperti ini dapat dilakukan seserung mungkin. Tidak hanya dari UMM, tapi juga oleh teman-teman lain. Menebar manfaat seperti ini juga tidak harus dilakukan saat Ramadhan saja, namun juga bisa diluar Ramadhan. Ini juga sebagai upaya memberikan pandangan juga pada masyarakat bahwa dakwah Muhammadiyah itu dilakukan secara nyata dan tidak pilih-pilih,” pesannya. (*)
Bakti Sosial UMM di Lamongan: Pemeriksaan Kesehatan Gratis hingga Mobil KaCa

Masih dalam rangkaian Ramadan Ceria, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan bakti sosial di Desa Medalem, Modo, Lamongan pada 3 April lalu. Tidak hanya menyalurkan bantuan bahan pokok, tim UMM juga menyediakan pemeriksaan dan pengobatan gratis, serta penyuluhan kesehatan. Bahkan juga mengajak puluhan anak untuk bermain dan belajar bersama Mobil Kamis Membaca (KaCa) dan menyediakan beragam hadiah. Ketua pelaksana bakti sosial, Muhammad Luthfi M.H. menjelaskan bahwa kegiatan serupa selalu dilaksanakan Kampus Putih di setiap Ramadan. Tidak hanya di Malang, tapi juga di berbagai daerah sperti Lamongan, Lumajang, Batu, dan lain sebagainya. Timnya sengaja memberikan penyuluhan dan pengobatan kesehatan gratis agar warga desa tidak perlu jauh-jauh periksa ke dokter, terutama untuk penyakit yang ringan. Tim UMM juga didukung oleh para dokter dan perawat yang tergabung dalam grup kesehatan dari Rumah Sakit Umum UMM. Puluhan warga datang dan memeriksakan kondisinya agar nantinya bisa diberi arahan dan diperiksa. Turut hadir, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan Dr. Piet Hizbullah Khaidir, MA. Ia mewakili PDM dan warga Muhammadiyah setempat mengapresiasi kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan UMM. Menurutnya, kolaborasi seperti ini menjadi hal yang penting dan bermanfaat. Bagaimana kiprah dari lembaga pendidikan yang dilakukan bersama warga Muhammadiyah di daerah-daerah. “Membantu dan memebrikan kebaikan kepada saudara sendiri juga merupakan anjuran yang tertera dalam ajaran agama Islam. Apalagi kegiatan ini memang terlaksana dengan tepat sasaran,” tambahnya. Rangkaian bakti sosial tersebut dimulai dengan penyuluhan terkait car amenjaga kesehatan, terutama saat mengalami nyeri di beberapa lokasi seperti pinggng, punggung dan lainnya. Para warga diajari bagaimana postur yang baik agar tidak mengakibatkan nyeri di kemudian hari. Kemudian mereka juga mendapatkan pengobatan dan pemeriksaan kesehtaan gratis. Sementara itu, anak-anak diajak bermain sederet permainan yang seru. Mulai dari permainan memindahkan tali, pohon dan serigala, tebak kata, hingga lampu hijau merah. Tak lupa, masing-masing anak juga mendapatakan hadiah yang sudah disiapkan tim UMM. Anak-anak juga berkesempatan membaca ratusan buku cerita yang ada di mobil KaCa sembari menunggu adzan magrib. (*)