Dosen UMM Raih Gelar Dosen Inspiratif berkat Inovasi Produk Mawar

Memanfaatkan kekayaan sumber daya alam lokal yang melimpah, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menangkan penghargaan sebagai ‘Dosen Inspiratif’ berkat ciptakan produk inovatif dari pigmen bunga mawar. Adalah Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP. guru Besar UMM yang berhasil menangi piala serta piagam penghargaan atas inovasinya pada bazar dan pameran produk Usaha Kecil Menengah (UKM) di ajang Indonesia Mental Health Summit (IMHS) pada 10 November lalu. Produk minuman sari mahkota mawar antioksidan tinggi yang diberi nama Elviza tersebut sukses menarik perhatian juri dan masyarakat. Adapun IMHS 2024 merupakan event perdana pertama kali digelar di Indonesia yang diselenggarakan oleh salah satu komunitas asosiasi psikologi Indonesia yang bekerjasama dengan Alisa Khadijah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Malang Raya. Ada sederet rangkaian acara, mulai dari webinar internasional dan nasional, berbagai perlombaan mengasah kreatifitas dan bidang olahraga, serta bazar pameran produk UKM lokal juga dihadirkan. Masing-masing kegiatan dikompetisikan dengan beberapa indikator berbeda. Elfi bersama tim mewakili UKM dan bidang usaha Malang dengan kreasi produk Elviza, berhasil memenangkan kategori penilaian karakter ‘Sisi Kronologis Kreasi Produk’. Kreasi produk sari bunga mawar tersebut berangkat dari penelitian berbasis pigmen antosianin bunga yang jarang sekali dimanfaatkan sebagai sumber pangan. Elfi juga mengaku terinspirasi dari ayat Alquran dan fenomena alam dimana bunga-bunga seringkali banyak dihinggapi kupu-kupu dan hewan lainnya. Mawar tabur lokal organik menjadi fokus pengembangan penelitiannya sebagai sumber pangan alternatif, pewarna alami produk pangan, herbal, kosmetik dan pewarna batik organik. “Saya terinspirasi dan meyakini kalam Allah SWT bahwa, madu itu dari sari bunga. Selain indah dipandang, tak disangka bunga mawar tabur lokal juga kaya akan antioksidan dan banyak mengandung vitamin C. Untuk itu, saya tergerak mengembangkan produksi beragam produk mulai dari minuman, suplemen herbal, effervescent, hingga pewarna batik organik yang dipasok dari para petani mawar lokal seperti Pasuruan, Lawang, hingga Nganjuk,” sambungnya. Beragam produk pangan yang telah berhasil Elfi kembangkan adalah hasil dari tekad kuat dalam penelitian yang telah Ia tekunkan selama puluhan tahun sejak tahun 2002. Hasil penelitian minuman ini mengandung antioksidan tinggi hingga sekitar 82-87%. Dalam ilmu kesehatan, persentase tersebut sudah dikategorikan sebagai sumber antioksidan. Selain sebagai produk pangan, pigmen mahkota mawar lokal bermanfaat sebagai handbody lotion. “Kandungan luar biasa pada mahkota bunga mawar lokal ini juga dimanfaatkan sebagai skincare. Hingga pada saat itu, saya berkesempatan teken kerjasama dengan brand kosmetik terkait hal tersebut. Saat ini saya tengah mengembangkan pigmen mawar ini menjadi formula obat yang bisa dimanfaatkan dalam dunia kesehatan,” ungkapnya. Terakhir, Elfi mengaku sangat senang mengetahui kekayaan alam hayati yang sudah tersedia di tanah air yang dulunya masih belum banyak dieksplor. “Alhamdulillah, kini masyarakat mulai peka dengan harta karun alam di sekitar. Saya merasa senang telah diamanahi penghargaan ini. Selebihnya, saya banyak berharap generasi muda potensial bisa berinovasi. Tentu dengan semangat gotong royong dan tekad yang kuat untuk membantu perekonomian lokal tanah air,” pesannya. (din/wil)
Mahasiswa UMM Menangi Ajang Nasional berkat Bikin Aplikasi Konseling

Kesehatan mental adalah masalah yang paling banyak terjadi pada saat ini, utamanyabagi Gen-Z. Banyak terjadi kasus bunuh diri yang disebabkan karena stres, depresi dan sebagainya. Melihat hal tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan aplikasi bernama Curahkan’s Cyber Counseling, platfrom digital yang dirancang khusus untuk mendukung kesehatan mental. Ide itu bahkan berhasil membawa mereka menjadi juara pertama di Unnes Islamic Fair, Semarang, November ini. Adalah Khoirul Umar, Innasatun Nabilatin Nadif dan Ameliya Dalallul Hanan yang menginisiasi ide tersebu. Umar mengatakan, aplikasi ini bertujuan untuk menyediakan wadah yang aman dan dapat diandalkan bagi mereka yang ingin mengungkapkan perasaan mereka tanpa bergantung pada orang lain yang tidak dikenal. Aplikasi Curahkan’s ini hadir sebagai bentuk konseling berbasis daring yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Bahkan menggunakan sistem end-to-end encryption layaknya WhatsApp guna memastikan keamanan data pengguna. Salah satu keunggulannya, aplikasi ini menawarkan pilihan konseling dengan psikater profesional yang bukan hanya ahli di bidang psikologi, tetapi juga memiliki latar belakang keagamaan sebagai ustadz dan ustadzah. “Pengguna juga dipetakan berdasarkan jenis kelamin untuk memastikan kenyamanan dan kepercayaan mereka saat berkonsultasi,” tutur Umar. Mahasiswa ilmu komunikasi itu melanjutkan, dalam prototipenya ada beberapa fitur utama, seperti alat ungkap masalah (AUM) yang menjadi wadah pengguna untuk menuliskan keluhan atau curahan hati mereka. Setelah itu, mereka dapat mengakses Sack’s Sentence Completion Test yang berguna untuk mengetahui profil kepribadian dan Beck Depression Inventory untuk mengukur tingkat stres. “Selanjutnya, hasil akan menunjukkan bahwa aplikasi dapat mendeteksi kecenderungan seperti kesedihan yang mendalam atau keengganan bersosialisasi dengan memberikan notifikasi yang disesuaikan dengan kondisi emosional pengguna,” lanjutnya. Selain itu, Curahkan memiliki fitur Manajer Ibadah, sebuah fitur yang mengingatkan pengguna untuk melakukan ibadah harian, seperti salat. Bahkan mengingatkan tindakan kecil, seperti tersenyum. Ada beberapa kelebihan aplikasi ini. Pertama, dapat digunakan secara umum khususnya untuk umat islam terlebih lagi untuk Gen Z. Non-muslim juga dapat menggunakannya namun tidak dapat menggunakan fitur ustaz dan ustadah. Kedua, aplikasi ini mengimplikasikan surat Ar Rad ayat 28 dan dapat membimbing pengguannya untuk bersosialisasi agar tidak stres. “Aplikasi ini masih dalam pengembangan, jadi terdapat kekurangan yang perlu kami evaluasi lagi seperti. Masih memerlukan evaluasi secara berkelanjutan,” katanya. Umar dan tim berharap, aplikasi ini dapat mencegah bunuh diri di kalangan remaja, terutama di Malang. Selain itu juga dapat membantu mereka yang mengalami tekanan hidup. Ia ingin agar platform itu dapat memberikan bimbingan agama serta dukungan psikologis agar pengguna merasa lebih dekat dengan Tuhan dan mendorong mereka untuk hidup lebih positif. “Curahkan’s Cyber Counseling diharapkan menjadi salah satu langkah yang konkret dalam upaya mencegah masalah kesehatan mental seperti stres dan depresi. Untuk teman-teman gen Z,jJaga mentalmu karena kehidupan masih panjang. Kita harus berprinsip ‘Khoirunnas anfa’uhum linnas’ yang artinya manusia yang paling baik adalah yang membantu orang lain,” tutupnya. (nam/wil)
Cerita Nafik, Dosen UMM yang Belajar Studi Keagamaan di Budapest

Nafik Muthohirin, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini tengah menempuh studi S3 di Eotvos Lorand (ELTE) University, Budapest, Hungaria. Pemilihan kota Budapest itu bukan hanya karena beasiswa yang diraihnya, tetapi juga karena kecocokan yang ia rasakan dengan supervisornya di kampus tersebut. Supervisor Nafik adalah seorang ahli studi Islam dan Arab yang terlibat dalam riset mengenai masyarakat Muslim di Sulawesi dan Lombok. Ini menjadi faktor penting bagi Nafik dalam memutuskan studi S3 di luar negeri. Menurutnya, memilih supervisor menjadi hal vital untuk studi doktoral. Ia beruntung karena mendapatkan pembimbing yang ramah dan sangar terbuka. Bahkan terasa seperti teman sendiri karena bisa mengobrol dengan santai. “Program doktoral di ELTE membutuhkan waktu empat tahun—dua tahun untuk kelas dan dua tahun untuk riset. Setelah selesai, Nafik berencana kembali ke Indonesia. Baginya, hidup di tanah sendiri lebih nyaman. Selain itu, ia memang memiliki tanggung jawab sebagai dosen di UMM. Adapun bidang yang ditekuninya adalah Contemporary Religious Studies yang sejalan dengan riset-riset Nafik sebelumnya. Ia mengaku telah tertarik dengan isu sosial dan agama sejak kuliah sarjana. Baginya meneliti perkembangan masyarakat beragama terutama umat Muslim di Indonesia seperti menjalankan ibadah sosial. Dengan penuh semangat, ia berharap ilmunya kelak bisa berkontribusi besar bagi bangsa, negara, dan tentu saja UMM. Selama tinggal di Budapest, Nafik terkesan dengan keindahan arsitektur bersejarah yang membuat kota ini menjadi destinasi utama wisata di Eropa. Selain itu sistem transportasi publik yang teratur dan tepat waktu juga membuatnya kagum. “Di sini transportasinya selalu tepat waktu. Bersih, tertib, dan teknologinya canggih. Ini menjadi perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan di Indonesia. Semoga kita juga bisa memiliki transportasi yang lebih baik lagi,” katanya. Salah satu tempat favorit Nafik di Budapest adalah perpustakaan universitas yang terletak di pusat kota. Arsitektur gedungnya cukup khas dengan gaya Eropa abad pertengahan. Banyak mahasiswa dari kampus lain juga datang ke perpustakaan tersebut untuk menghabiskan waktu. Bahkan dari pagi hingga sore harikarena suasananya yang sunyi dan kondusif. Untuk mengisi waktu luang, Nafik senang mengunjungi museum-museum di Budapest, terutama ketika tanggal merah saat museum dibuka untuk umum. “Museum di sini bukan sekadar tempat simpan benda bersejarah, tapi dikelola dengan baik. Di Museum Nasional Hungary misalnya, ada kafe dan penjual aksesoris. Bahkan kadang ada pertunjukan seni juga,” jelasnya dengan antusias. (vin/wil)
Ramai Pro-Kontra Coding di SD-SMP, UMM Sudah Jalankan Program Serupa

Wacana memasukkan materi coding dalam kurikulum pendidikan menjadi hal menarik yang dititipkan wakil presiden Gibran untuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Indonesia Prof. Abdul Mu’ti. Rencananya, coding akan menjadi mata pelajaran pilihan di sekolah-sekolah yang mampu melaksanakannya. Ini menjadi cara untuk menyiapkan generasi cakap digital untuk Indonesia Emas 2045. Menariknya, wacana tersebut bahkan sudah dilaksanakan dengan baik oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sejak September 2024 lalu. Inisiasi tersebut telah dilakukan melalui Program Pelatihan Dasar Teknologi Digital (PDTD) UMM yang diberikan untuk semua mahasiswa baru, dimulai sejak mahasiswa baru Kampus Putih 2024. Dilansir dari berbagai media, UMM memang sudah membekali mahasiswanya dengan bahasa pemrograman python sejak masih menjadi mahasiswa baru. “Perkembangan teknologi dan digitalisasi berdampak besar pada perubahan kita sehari-hari, termasuk jenis pekerjaan. Maka, untuk menyiapkan mahasiswa dan lulusan, UMM membekali mereka dengan skill teknologi digital. Mereka memperoleh kompetensi ekstra berupa bahasa pemrograman Python relatif mudah dipahami oleh semua mahasiswa, walaupun bukan dari prodi Informatika,” kata Kepala Biro Sistem dan Informasi dan Digitalisasi (BSID) UMM Dr. Ir. Suyatno, M.Si. Ia berharap, para mahasiswa dapat mengenal dan menguasai coding. Sehingga mereka bisa membuat inovasi, mengimplementasikannya apda dunia kerja, dan juga memberikan solusi menarik bagi masalah masyarakat. Bahkan juga bisa mengembangkan proyek sistem informasi dengan mengguanakn bahasa Python. Sederet materi sudah disiapkan, mulai dari konsep dasar pemrograman, struktur dan operasi dasar, analisis dan visualisasi data, dan lain sebagainya. “Bahasa pemrograman dan coding ini jadi bahan dasarnya. Kemudian mereka bisa mengkreasikannya menjadi berbagai hal menarik, misalnya aplikasi,” tegasnya. Adapun semua mahasiswa baru turut serta di dalam agenda ini. Dijalankan mulai September hingga Februari di tiap tahunnya. Suyatno berharap, program tersebut bisa mendorong anak-anak muda untuk terus berinovasi dan memberikan solusi. Adapun para pengajarnya pada program ini terdiri dari para dosen profesional serta sederet praktisi. Materi bahasa pemrograman Python diberikan secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari level dasar, lanjutan dan level profesional melalui mata kuliah yang melekat pada kurikulum masing-masing program studi. “Mendikdasmen masih menggodok kurikulum coding untuk SD dan SMP. Sementara kami juga sudah menjalankan program serupa di tinkat universitas. Jadi saya rasa akan ada kesinambungan jika di pendidikan dasar dan menengah sudah diajari coding. Adapun di UMM semua mahasiswa akan mendapatkan materi ini, sekalipun dia bukan mahasiswa informatika,” katanya mengakhiri. (wil)
Keren! Mahasiswa UMM Kembangkan Metaverse VR untuk Pendidikan

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuat inovasi. Kali ini, bersama timnya, Imelda Azalia, mahasiswa informatika UMM sukses meluncurkan proyek metaverse VR bernama DARI (Digital Art and Information). Ia dan timnya ingin membawa teknologi virtual reality (VR) ke dalam dunia pendidikan dan seni. Proyek ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih imersif dan interaktif melalui ruang belajar virtual dan galeri seni yang dapat diakses pengguna secara digital. Dengan dukungan dari dosen-dosen Program Studi Informatika UMM. tim DARI mengembangkan berbagai “space” dalam metaverse termasuk ruang belajar, museum, dan galeri, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan klien. Situs resmi mereka ’metadari.id’ menjadi pusat informasi publik sekaligus portofolio yang menampilkan hasil pengembangan ruang virtual yang mereka ciptakan. Ada sederet space yang sudah dibuat dan bisa dicoba oleh masyarakat, termasuk pelajar. Ada UMM Metaverse Hall, ruang sidang yang bisa digunakan untuk belajar hukum, batik metaverse, human anatomy dan lainnya. Bahkan mereka juga sudah menyiapkan space solar system, dna dinopark sehingga para siswa bisa berinteraksi langsung di dalamnya menggunakan teknologi VR. Mereka ingin membuat pembelajaran lebih seru dan dekat dengan dunia digital yang sekarang terus berkembang. DARI juga bisa berfungsi sebagai wadah untuk menyalurkan ide-ide kreatif mahasiswa yang tertarik pada teknologi VR. “Kami harap DARI bisa menarik perhatian banyak orang dan menciptakan banyak kolaborasi antara siswa, pengajar, dan komunitas seni di dunia metaverse ini,” tambahnya. Menurut Imeldan, proyek ini juga dijalankan untuk memperkenalkan teknologi VR kepada masyarakat terutama pelajar. Beberapa sekolah sudah mereka kunjungi, seperti SMP Al Azhar dan MAN Jombang untuk sosialisasi. Menariknya, proyek garapan mereka juga sukses iktu dan terjun dalam kompetisi seperti P2MW dan Gemastik serta seminar internasional untuk memperkenalkan metaverse lebih luas. Tidak hanya didukung oleh akademisi di UMM, proyek ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak termasuk perusahaan lokal dan internasional seperti PT Aku Cinta Indonesia dan One Animation. “Kami bangga bisa bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar, itu bikin kami semakin semangat untuk berkarya,” ujar mereka. Selain itu, kolaborasi juga terjalin dengan institusi internasional seperti NTNU dan Kedutaan Besar Amerika. Hal ini membuat mereka bisa terus mengembangkan dan mengahdirkan fitur-fitur baru. Meski begitu, pengembangan proyek ini juga tak lepas dari sederet tantangan. “Tidak semua orang paham soal teknologi ini, jadi kami harus rajin-rajin edukasi lewat sosialisasi di sekolah dan workshop,” tambahnya lagi. Terakhir, tim DARI memiliki harapan besar untuk masa depan proyek ini. Salah satunya mampu menjadi pionir di bdiang edukasi bdiang metaverse di Indonesia. Maka, kolaborasi menajdi kunci penting agar bisa mencapai level tersebut. (*/vin/wil)
Begini Pesan Wamen Diktisaintek RI di Student Day UMM

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek) RI Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. beri motivasi ke ribuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Kehadirannya menjadi penyemangat dalam pembukaan Student Day UMM, 9 November ini. Ini juga menjadi momen pertama Fauzan kembali ke UMM setelah dilantik menjadi Wamen. Sebelumnya, ia adalah rektor UMM periode 2016-2024. “Student Day ini merupakan tradisi lama yang sudah rutin digelar UMM dan tidak banyak dilakukan oleh perguruan tinggi lain. Beragam rangkaian kegiatan sengaja dihadirkan sebagai ruang bagi mahasiswa agar bisa mengeksplorasi minat. Baik dalam ranah akademik maupun non-akademik,” ungkapnya. Ia juga menekankan pentingnya berorganisasi dan mengelola ego selama mengarungi kehidupan sebagai mahasiswa dan kehidupan profesional. Kemampuan mengontrol ego menjadikan manusia lebih bijak dalam menyikapi masalah yang dihadapi. Ia jugamecneritakan bahwa pencapaian yang diraihnya ini tak lepas dari kontribusi UMM. Program-program mandiri yang menarik dan variatif milik UMM berhasil menarik perhatian Presiden RI yang berpikiran solutif dan mandiri. “Secara langsung, Pak Prabowo tertarik dengan program yang dijalankan UMM. Selain itu, dalam rangka melayani mahasiswanya, ada 3 poin kompetensi yang UMM tekankan. Yakni kompetensi akademik, entrepreneurship atau kewirausahaan, dan juga leadership,” katanya. Menurutnya, dalam menuju kesuksesan, ada dua indikator yang menjadi kunci utama. Kunci pertama adalah fokus berpegang teguh pada tujuan yang ingin diraih. Kedua, tidak mudah mengeluh terhadap masalah yang ditemui. “Anak-anakku sekalian, raihlah cita-cita dan impian dengan fokus. Hindarilah mengeluh akan rintangan masalah yang biasa ditemui di proses perjalanan. Mari manfaatkan waktu kita untuk introspeksi sebagai modal untuk mengukir perjalanan yang lebih baik lagi,” pesannya. Di sisi lain, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. berterimakasih atas kehadiran seluruh sivitas akademika UMM dan menyambut hangat serta haru acara tersebut. Rangkaian acara Student Day adalah representasi dan cara UMM menyemai gairah, atmosfer pendidikan dan kebersamaan, serta menyemaikan kultur untuk selalu optimis demi masa depan yang lebih baik. Nazar juga bangga sekaligus bersyukur terhadap kehadiran serta pencapain rektor sebelumnya, Prof Fauzan, yang kini berkesempatan berkecimpung di Kabinet Merah Putih. “UMM selalu bertekad untuk selalu melahirkan serta menghadirkan kader-kader terbaik untuk Indonesia. Saya ucapkan selamat datang kembali Pak Wamen. Terimakasih atas kehadiran dan pesan-pesannya pada mahasiswa,” tuturnya. (din/wil)
Raih Beasiswa, Mahasiswa UMM Berbagi Keunikan Negara Matador

Cerita seru kembali datang dari sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini giliran Ashilla Karaz Humaira, mahasiswa Prodi Hubungan Internasional yang tengah menjalani kuliah di University of Granada, Spanyol. Ia berhasil menjadi salah satu awardee program IISMA dan akan di sana selama beberapa bulan. Ia mengatakan, berkuliah di Spanyol merupakan salah satu mimpinya terbesarnya. Salah satu hal yang menarik di sana ialah di mana para dosen meminta para mahasiswa untuk keluar kelas selama istirahat. Bahkan dosen juga meminta mahasiswanya untuk tidak menggunakan gawai maupun laptop saat jam istirahat. Tapi benar-benar menikmati istirahat dengan baik sepertij alan jalan di sekitar kampus atau sekadara menikmati taman. “Dengan begitu, para mahasiwa bisa kembali segar dan bisa fokus belajar serta menerima materi. Ini membuat saya kagum dan respect pada budaya belajar mengajar yang ada di negara Spanyol,” kata Ashilla. Tidak hanya itu, hal menarik lainnya adalah budaya tapas gratis. Yakni adanya camilan dan makanan khas yang bisa dimakan secara gratis. Misalnya seperti kue-kue basah tradisional yang banyak disediakan di tempat bar ataupun café. Lebih dari sepuluh jenis hidangan tapas tersaji dengan bahan baku yang beragam seperti halnya ikan, kacang-kacangan, sayuran, roti, hingga daging sapi ataupun ayam. “Adanya budaya tapas gratis ini menurut saya sangat menyenangkan. Karena kapan lagi bisa menghabiskan waktu bersama teman terdekat sambil makan camilan ringan khas daerah sana dengan gratis. Tanpa sadar adanya budaya tapas ini juga bisa mengenalkan budaya makanan khas Spanyol kepada para turis asing,” katanya. Ashilla juga memberikan rekomendasi tempat sejarah menarik yang ada di sana. Di antaranya Alhambra, Albaicin, dan juga Katredal Granada. Selain itu, menurutnya warga disana tidak terlalu sering tersenyum, tetapi sebagian besar warga Granada suka menyapa orang yang dikenal ataupun orang asing. Terkadang warga Granada sering mengucapkan ‘hola’ ataupun ‘buenas’. Terakhir, Ashilla bersyukur bisa mendapat beasiswa pertukaran pelajar ini. Ia juga berterimakasih kepada UMM yang senantiasa mendukung dan menyediakan informasi dengan sangat baik. Kini ia juga merasa menjadi lebih terbuka dengan berbagai keberagaman yang ada di sekitarnya. “Semoga apa yang saya dapat di sini memberikan hal baik dan bermanfaat saat saya pulang nanti,” tegasnya. (zaf/wil)
Belasan Peserta TC Vokasi UMM Siap Terbang Bekerja di Jepang

Belasan peserta training center Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih sertifikat kompetensi dari Japan Formwrok Coontractors Association (JFCA) pada 6 November ini. Hal itu membuat mereka siap dan segera diberangkatkan ke Jepang untuk berkarya. Adapun sertifikat itu langsung diberikan oleh General Manager JFCA Yasushi Oshida di teaching factory Vokasi UMM. Oshida memberikan selamat pada 16 peserta dan turut berbangga. Ia berharap mereka bisa memaksimalkan potensi dan kesmepatan yang ada di Jepang nantinya. “Saya berharap kalian bisa berikan kemampuan yang terbaik di sana. Selalu ingat kepada kerabat, teman, dan tim instruktur yang telah membantu anda selama ini,” katanya berpesan. Pemberangkatan tenaga kerja ke Jepang oleh TC Vokasi UMM ini bukan pertama kalinya. Dalam batch ke-2 ini, 16 peserta dari berbagai daerah di Indonesia telah diterima di berbagai perusahaan di bidang konstruksi. Dengan sertifikasi ini, mereka telah menguasai dougu (alat) hingga katawaku (teknik Bekisting). Instruktur Teknis Form Work Japan Tsuneo Takaishi menjelaskan, para peserta telah melalui masa pelatihan selama sekitar sembilan bulan, baik itu pelatihan Bahasa Jepang maupun keahlian dasar bekerja di bidang konstruksi. Pihaknya juga membekali peserta dengan berbagai keahlian terkait keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Di Jepang, peraturan soal K3 sangat ketat. Sementara itu, Dekan Fakultas Vokasi UMM, Prof Tulus Winarsunu mengaku kagum karena ke-16 peserta ini dapat lulus sertifikasi dalam waktu tak lebih dari setahun. Sebelumnya, TC Vokasi UMM juga telah memberangkatkan 19 peserta pada periode Mei-Juni 2024. “Alhamdulillah, ini sudah batch kedua. Hari ini mereka sudah mengantongi dua sertifikasi, dua keahlian sekaligus dan langsung diterima. Dalam waktu dekat, mereka sudah berangkat. Hanya tersisa masalah teknis saja,” kata Tulus. Sesuai kontrak, jelas Tulus, mereka akan bekerja di Jepang dengan durasi waktu 5 tahun. Setelah itu, mereka bisa pulang atau memutuskan untuk lanjut beekrja di Jepang lagi. Mereka juga bisa mencari kerja di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia. Adapun ini menjadi bagian dari komitmen Vokasi UMM dalam visi diaspora untuk menyelenggarakan pendidikan vokasi berstandar internasional yang melahirkan melahirkan generasi unggul dan mandiri melalui skill and job center. Di sisi lain, salah satu peserta Habiburahman dari Padanh mengaku senang karena mimpinya bekerja di luar negeri dapat terwujud. Usai menempuh pelatihan di TC Vokasi UMM selama satu tahun, ia telah resmi bekerja di perusahaan konstruksi di Distrik Saitama dengan gaji mencapai Rp24 juta per bulan. (*/wil)
Mahasiswa UMM Perkenalkan Batik di Irlandia

Ghozi Khamaluddin Daffa, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini tengah menimba ilmu di University College Cork (UCC), Cork City, Irlandia. Pengalaman itu ia dapatkan berkat meraih beasiswa Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Ghozi, sapaan akrabnya, akan belajar di sana hingga Desember nanti. Kehidupan akademis di UCC memberikan pengalaman baru yang tak terlupakan bagi Ghozi. Ia merasa suasana perkuliahan di Irlandia jauh berbeda dari yang biasa ia jalani di Indonesia. “Satu hal yang paling menarik menurutku adalah dinamika kelas, tidak bertele-tele tapi tetap ramah. Budaya tepat waktunya juga keren dan santai asalkan tujuan akhir dari modul udah tercapai. Ghozi juga kagum dengan fleksibilitas kehadiran di kelas. Para mahasiswa dituntut untuk bertanggung jawab menyelesaikan tugas tanpa harus selalu hadir,” ujarnya. Selain belajar, Ghozi juga merasakan pengalaman budaya yang berharga di acara Culturise yang mempertemukan mahasiswa internasional. Pada acara tersebut, Ghozi dan rekan-rekannya dari IISMA memperkenalkan batik kepada mahasiswa dari berbagai negara. Ia menjelaskan beberapa jenisnya, cara membuatnya, dan lain sebagainya. “Awalnya agak ribet tapi interaksinya asyik banget. Melihat antusias mereka terhadap budaya kita benar-benar berkesan. Apalagi batik kan salah satu budaya yang menarik dari Indonesia,” tuturnya. Selain kehidupan akademik Ghozi juga tertarik dengan infrastruktur transportasi di Cork yang mendukung pejalan kaki dan pesepeda. Di kota ini banyak orang lebih memilih berjalan kaki atau bersepeda karena jalur bus yang memadai dan lingkungan yang nyaman. Kendaraan pribadi juga tidak banyak karena sistem transportasinya yang lebih memeadai. Adapun tempat favorit Ghozi di kampus UCC adalah Boole Library yaitu area ‘red zone’. Perpustakaan ini mewajibkan mahasiswa untuk menjaga suasana tenang sehingga pengunjung bisa fokus belajar dan mengerjakan tugas. “Nyaman banget buat belajar. Kalau di Indoensia, mungkin kita jarang menemui yang seperti ini,” katanya. Setelah kembali ke tanah air, Ghozi berharap dapat membantu teman-temannya di UMM yang ingin meraih beasiswa internasional seperti IISMA. “Aku bisa diterima IISMA berkat dukungan dan bantuan mentoring dari teman-teman, jadi aku ingin bantu yang lain juga. Makanya, aku akna bkin diskusi dan juga tips dan trik untuk bisa berkuliah di luar negeri. Kemudian juga tak lupa untuk memberikan inovasi untuk kebaikan masyarakat sekitar,” jelasnya. (vin/wil)
Mahasiswa UMM Bikin Embik Eco Green, Hasilkan Susu Kambing tanpa Bau hingga Pupuk

Kabar membanggakan kembali hadir Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini para sederet tim mahasiswa UMM yang lolos dalam ajang final KMI Expo 2024. Salah satu yang menarik adalah Embik Eco Green Farm ini yang sudah didirikan sejak 2018 lalu dan kini telah mempunyai 6 cabang di kota Malang. Adalah Lukman Hakim Arifin, mahasiswa Agribisnis juga selaku ketua tim yang sukses membawa bisnis ini menuju Kendari, Sulawesi Tengah untuk ikut KMI Expo pada akhir Oktober lalu. Ia tidak sendiri, Lukman ditemani Anastya Rifa Wardhani, Cobain Aprilliano, dan Denny Dwi Ariza. Adapun Embik Eco Green Farm memiliki tiga produk unggulan, di antaranta daging kambing, pupuk yang berasal dari limbah kotoran kambing yang juga tinggi akan kalium, dan produk susu kambing. Lukman menjelaskan, ia sudah mulai membangun bisnis ini sejak awal masuk bangku kuliah. Ia kemudian mengembangkan bisnisnya ke susu dan pupuk. Menariknya, keunggulan produk susu yang dihasilkan memiliki kandungan yang tinggi akan omega 3. Ini terbukti berdasarkan hasil Lab SIG yang terverifikasi dan produk susu ini tidak mengeluarkan aroma kambing sama sekali. Hal tersebut yang membuat banyaknya mitra hingga reseller bergabung dengan bisnis ini. “Susu ini tidak memiliki aroma kambing sehingga para pembeli dan penjual juga menyukainya. Banyak reseller yang bergabung dan semakin memperbesar usaha kami. Ini sedang proses menambah varian rasa agar semakin bervariasi,” katanya. Menurutnya, memanfatkan daging kambing menjadi makanan merupakan hal yang biasa. Namun dengan memanfaatkan kotoran kambing menjadi pupuk yang tinggi kalium baru hal yang tidak biasa. Ini bisa menjadi pupuk yang mempercepat pertumbuhan tumbuhan. Apalagi biasanya peternak lebih memilih untuk membuang ktoran kambing daripada memanfaatkannya. Kemudian Lukman juga mengungkapkan tantangannya dalam mengelola usaha ini. Ia mengatakan bahwasannya banyak masyarakat yang tidak menyukai bau kambing terutama pada produk susunya. Sehingga menurutnya hal tersebut yang terkadang membuat permintaan susu kambing menurun. Namun dengan adanya pendampingan dari Program Pengembangan Usaha Mahasiswa UMM (P2MW) dan kampus, tantangan itu bisa diselesaikan. Produk susu kambing ini kembali populer dikalangan masyarakat. “Semoga produk-produk dari Embik ini bisa dinikmati dengan baik oleh konsumen. Saat ini, kami juga sedang mengembangkan jejaring bisnis agar susu-susu ini bisa dipasarkan ke seluruh Indonesia. begitupun dengan pupuk yang kami buat, semoga bisa membantu para petani,” katanya. (zaf/wil)