Viral Guru yang Dikriminalisasi, Begini Kata Dosen FH UMM

Belakangan ini, dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja. Guru yang harusnya menjadi sosok paling berjasa di lingkungan sekolah, kini justru mendapatkan perlakuan kriminal terhadap dirinya. Menurut Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ratri Novita Erdianti, SH., MH., hal ini berangkat dari adanya upaya untuk menciptakan sekolah ramah anak. Dalam kasus ini, pihak sekolah dituntut untuk lebih mengutamakan kenyamanan siswanya. Selain itu, adanya UU perlindungan anak dan banyaknya kasus kekerasan terhadap anak membuat guru jadi subjek yang rentan dianggap sebagai pelaku. “Program atau kebijakan sekolah ramah anak adalah suatu kebijakan yang sangat bagus untuk diterapkan di Indonesia. Akan tetapi, menurut saya, penting sekali bagi masyarakat untuk berpikir terbuka secara objektif. Tidak semua guru itu mendisiplinkan atau mendidik siswa dengan nuansa kekerasan,” sambungnya. Ia juga menyoroti kasus kriminalisasi yang dilakukan orang tua siswa terhadap guru. Ratri menegaskan pentingnya komunikasi yang baik antara kedua belah pihak, yakni orang tua dan guru. Maksudnya, orang tua harus mengamati dengan terbuka ketika guru mendisiplinkan atau mendidik siswa. Aa alasannya dan bagaimana cara yang dilakukan oleh guru. “Jangan semerta-merta menghakimi guru melakukan tindak kriminal begitu saja,” tegasnya. Di samping itu, Ratri menegaskan, pada dasarnya guru boleh saja mendisiplinkan siswa selama tidak bernuansa kekerasan fisik, kekerasan seksual, serta tidak mengandung unsur SARA. Bahkan menurutnya, hal tersebut harus dilakukan guru sebagai bentuk kepedulian terhadap suasana belajar dan lingkungan sekolah yang disipilin. Selain itu dapat menumbuhkan sikap disiplin dan rasa bertanggung jawab dalam diri siswanya. Dalam penjelasannya, Ratri juga mnejelaskan mengenai beberapa prinsip dalam undang-undang perlindungan anak yang berlaku saat ini. Menurutnya, mayoritas prinsip-prinsip dalam UU tersebut terkesan memprioritaskan kepentingan anak saja, sehingga keberadaan payung hukum yang melindungi guru menjadi lemah. Tak heran, tidak sedikit kasus tindak kriminalisasi yang dialami guru kerap terjadi di masyarakat. “Zaman silih berganti. Jika kita amati bersama, anak-anak di zaman ini berbeda dengan zaman dahulu, begitupun kebijakan peraturan yang berlaku. Sayangnya, hal ini menjadi faktor yang signifikan terhadap munculnya beberapa kasus kriminalisasi terhadap tenaga pendidik,” sambungnya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa, guru juga dilindungi oleh Undang-Undang No. 14 Tahun 2005. Secara mendasar, menurut UU tersebut, dikatakan bahwa profesi guru sebagai tenaga pendidik memiliki jaminan perlindungan hukum dan dilindungi oleh negara dalam melaksanakan tugas serta tanggung jawab keprofesionalannya sebagai tenaga pendidik. Ditafsirkan juga bahwa seorang guru mempunyai kewajiban untuk mendidik atau mendisiplinkan siswa yang berbuat kenakalan atau kesalahan di lingkungan sekolah. Kemudian, UU No. 14 Tahun 2005 dalam pasal 39 dan 41 yang berbunyi ‘Guru itu berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, dan perlakuan diskrimintaif, intimidasi atau perlakuan tidak adil’. “Pasal tersebut sekaligus sebagai payung hukum. Guru itu tidak boleh dikriminalisasikan menjadi pelaku tindak pidana. Maka komunikasi antara guru, orang tua, dan siswa harus terus terjalin,” ungkapnya. Ia berpesan, para orang tua yang menitipkan dan mempercayai anak-anak kita kepada para guru harus membangun sinergisitas antara pihak sekolah dan bersikap lebih bijak. Bijak dalam memandang hukuman dalam rangka mendisiplinkan dari kacamata tiga batasan yaitu tidak bernuansa kekerasan fisik, kekerasan seksual, serta tidak mengandung unsur SARA. (Din/Wil)
Mahasiswa UMM Sabet Dua Penghargaan di Ajang Tourism dan Culture Jatim

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini giliran Devy Putri Susilo yang berhasil mengukir prestasi dengan meraih nominasi Miss Terfavorit dan Best Intelegensia dalam ajang bergengsi Mister & Miss Tourism and Culture Jawa Timur 2024, Oktober lalu. Ia juga akna kembali berkompetisi di ajang Mister dan Miss Teen Tourism Indonesia 2025 di Yogyakarta nanti. Dalam ajang tersebut, Ivy, panggilan akrabnya, menjadi salah satu dari peserta terpilih yang berhasil lolos ke tahap grand final. Sebagai perwakilan PBI FKIP UMM, Ivy menampilkan kemampuan dan pengetahuannya yang mendalam mengenai kebudayaan dan pariwisata Jawa Timur. Kecerdasan dan wawasan luas yang ditunjukkan Ivy berhasil membawanya meraih penghargaan Best Intelegensia, sebuah pengakuan bergengsi yang menegaskan keunggulannya dalam menjawab tantangan intelektual dan bersaing dengan para finalis lainnya. Nominasi Miss Terfavorit juga diraih oleh Ivy berkat dukungan banyak orang. Prestasi ini semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu finalis unggulan, sekaligus menjadi kebanggaan bagi PBI FKIP UMM atas keterlibatan mahasiswanya dalam ajang bergengsi di bidang pariwisata dan kebudayaan. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas pencapaian ini. Pencapaian yang tidak pernah saya duga, karena bisa mendapatkan dua nominasi sekaligus. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, khusunya PBI FKIP UMM dan keluarga saya,” kata Ivy. Menurutnya, ajang tersebut merupakan pengalaman berharga, karena tidak hanya menambah pengetahuan tentang budaya dan pariwisata, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu dia juga berpesan pada para mahasiswa untuk tidak ragu mencoba hal-hal baru dan terus berkarya. “Prestasi bisa datang dari mana saja, asalkan kita berani mencoba, berusaha, dan melangkah untuk meraihnya,” tegasnya. Keberhasilan Ivy dalam ajang Mister & Miss Tourism and Culture Jawa Timur 2024 diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berprestasi, baik di dalam maupun di luar bidang akademik. Dukungan penuh dari PBI FKIP UMM, serta bakat dan usaha luar biasa yang ditunjukkan Ivy, membuktikan bahwa mahasiswa mampu bersaing di tingkat provinsi. Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama Ivy, tetapi juga membawa nama baik kampus ke kancah yang lebih luas. (*/wil)
Menarik! Begini Situs Pencarian Kos Karya Mahasiswa UMM

Membangun bisnis bersama tim untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas merupakan hal yang luar biasa. Hal ini juga dilakukan oleh kelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bahkan mereka sukses lolos ke babak final Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia Expo 2024. Adalah Muhammad Abdullah Gymnastiar mahasiswa informatika sekaligus ketua, Sigit Setyo Budi, Miftahul Jannah, Afifah Shamvique, dan Mohammad Ghifari Catur Mubaraq yang membuat inovasi menarik. Yakni sebuah website dan aplikasi pencarian kos, rumah dan apartemen. Adapun KMI Expo diadakan pada tanggal 23-25 Oktober lalu di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Gymnastiar menjelaskan bahwa platform yang dinamai KostNih ini telah dilaunching sejak tanggal 28 April lalu. Platform ini diperuntukkan bagi masyarakat yang mencari tempat tinggal dan para pemilik kos, termasuk para mahasiswa yang ingin mencari kos yang tepat. Kemudian ada berbagai fitur pelengkap yang hadir dalam platfrom ini. Misalnya seperti fitur pencarian kos, detail keranjang, tambahkan produk, hingga fitur chat yang kini sedang tahap pengembangan. Sementara itu, pemilik kos juga dapat menyewa influencer yang diinginkan untuk mereview kos, rumah ataupun apartemennya. Sehingga bisa dikatakan platform ini merupakan multiplatform yang dapat digunakan semua kalangan masyarakat. Saat ini, baru ada puluhan kos dan ratusan konsumen yang sudah bergabung dalam KostNih. “Harapannya, angka ini bisa bertambah di kemudian hari. Selain itu juga kami ingin mengembangkannnya menjadi aplikasi karena saat ini baru berbentuk situs website. Kalau aplikasi kan lebih mudah, masyarakat tinggal download saja dari Appstore atau Playstore,” katanya. Ia juga bersyukur karena UMM senantiasa mendukung ebrbagai potensi mahasiswanya, termasuk dirinya. Berbagai wadah diberikan, dana dukungan juga disiapkan, sehingga para mahasiswa bisa memaksimalkan bakat dan minatnya. “Semoga saya dan tim bisa memberikan hal yang terbaik dan mampu mengharumkan nama kampus. Dukungan dari kampus tentu sangat berarti untuk pengembangan platform website aplikasi KostNih ini. Kami juga membuka peluang kolaborasi dengan pihak-pihak lain untuk menciptakan inovasi lainnya,” katanya mengakhiri. (zaf/wil)
Bahas Hubungan Fisik-Mental, Mahasiswa UMM Menangi Esai Nasional

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi. Kali ini giliran dua mahasiswa Fakultas Kedokteran UMM Juwita Rahmaningtyas dan Agung Cendekia Putra Nusantara. Keduanya sukses meraih penghargaan peringkat tiga di ajang lomba esai nasional Axonic pada Oktober lalu. Juwita, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa ia dan tim mengangkat tema sinergisitas olahraga dengan kesehatan mental menuju Indonesia emas 2045. Tulisannya mengusung tentang bagaimana olahraga Taekwondo bisa memengaruhi atlet-atletnya, utamanya pada aspek psikologis dan mental. Mereka menulis tentang tema itu karena melihat hal menarik yakni catharsis. Sebuah fenomena pelepasan emosi seseorang saat melakukan aktivitas fisik. Khususnya kegiatan yang sangat intens seperti yang biasa dilakukan dalam olahraga taekwondo. “Ini merupakan hal menarik akrena ternyata fisik dan mental memiliki keterkaitan yang erat. Adapun kami memilih taekwondo karena kegiatan ini cukup menguras fisik serta banyak gerakannya. Jadi akan lebih terlihat bagaimana efeknya pada para atlet yang ada,” kata mahasiswa yang duduk di semester tiga itu. Juwita menambahkan, ketika seseorang melakukan olahraga taekwondo, ia sebenarnya mampu mengontrol emosinya dan menambah kekuatan fisiknya. Selain itu juga dapat melatih seseorang untuk menjaga kesehatan mentalnya. Apalagi di tengah dunia digital yang penuh dengan tekanan. Ia dan Agung berharap esainya ini bisa menggugah masyarakat, terutama anak muda untuk melakukan aktivitas fisik yang cukup dna berolahraga. Tidak hanya menyehatkan badan dan tubuh, olahraga juga memberikan efek positif bagi mental dan psikis. Sebagaimana pepatah ‘dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat’. “Semoga bisa menginspirasi anak-anak muda lainnya. Memberikan ide dan inovasi untuk kebaikan negeri. Prestasi ini juga diharapkan menjadi bahan bakar saya untuk bsia terus mengharumkan nama kampus UMM. Apalagi pihak kampus juga sangat mendukung berbagai potensi yang dimiliki mahasisnya,” tegasnya mengakhiri. (*/wil)
Afta, Mahasiswa UMM yang Menang Best Leader, Dangdut, dan Pensi di Ajang Internasional

Adalah Afta Gita Muhammad, seorang mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses membawa banyak kemenangan di Ahmad Dahlan International Youth Camp, Oktober lalu. Ia berhasil memenangkan tiga kategori yakni best leader, pentas seni, dan dangdut song dalam ajang yang dilaksanakan di Kulon Progo, Yogyakarta itu. Adapun kegiatan itu merupakan platform bagi para pemuda dari berbagai negara untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, menjalin kolaborasi internasional, dan memperluas wawasan tentang isu global. Tema tahun ini adalah “Exploring Skills of Youngsters for Addressing Global Challenges,” yang fokus pada pengembangan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah. Afta, sapaan akrabnya mengatakan, kemenangan ini tentu tak lepas dari dukungan Kampus Putih UMM serta dosen pembimbing Novi Puji Lestari, S.E,.M.M. Dalam sesi best leader, ia menampilkan kepemimpinan yang baik, komunikasi yang efektif, dan mampu memfasilitasi diskusi dengan apik. Sementara pada kategori pentas seni, ia menampilan kemampuan pencak silat di hadapan para peserta lain. Ini menjadi caranya menunjukkan keterampilan dalma seni bela diri sekaligus menampilkan budaya Indonesia. “Saya juga Alhamdulillah meraih juara dua di penampilandangdut bersama tim. Sama seperti pencak silat, dangdut juga menjadi kesenian yang juga identik dengan Indonesia. Sehingga, ini menjadi cara saya memperkenalkan Indonesia ke peserta dari negara-negara lain,” katanya melanjutkan. Ia menilai, ADIYC 2024 memberikan kesempatan baginya untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, kreativitas, dan kerjasama tim. Selina itu juga dapat jadi wadah membangun relasi dengan peserta dari berbagai negara. Keberhasilan dalam berbagai kategori tersebut mencerminkan semangat dan kompetensinya dalam berbagai bidang, serta menjadikan pengalaman ini sangat berharga bagi pengembangan dirinya di masa depan. “Sederet penghargaan ini tidak hanya berarti bagi saya, tapi juga bagi anak muda lainnya. Saya ingin agar teman-teman pemuda bisa memberikan yang terbaik, memproduksi ide cemerlang, dan menyediakan solusi apik untuk masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Kita punya energi dan kreativitas yang tentu akan membantu dalam mewujudkan hal tersebut,” tegasnya. (*/wil)
Tim Mahasiswa Ini Sukses Menangi Penghargaan di Ajang Nasional
Tidak mudah menyerah serta selalu berusaha menjadi bentuk tanggung jawab tersendiri dari mimpi yang ingin diraih dan diperjuangkan. Hal itulah yang diterapkan oleh para mahasiswa Prodi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses meraih penghargaan presentasi kelompok terbaik dalma ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) yang dilaksanakan Oktober lalu. Mereka adalah Sonya Dzakiyah Zayyantri selaku ketua, Putri Setia Ningsih, dan Muhammad Nasir Falah. Menariknya, dalam proses mengikuti kegiatan Pimnas, dua anggota kelompok sudah lulus terlebih dahulu sehingga hanya tinggal Sonya yang harus berjuang. Terkait hal itu, Sonya bercerita bahwa ia sempat ragu untuk pergi dalam ajang Pimnas ini. Namun mengingat dua anggota lainnya selalu mendukung dan ingin menemaninya, akhirnya ia terus melanjutkan perjuanganya. Meski, melakukan presentasi hasil karya ilmiahnya seorang diri, ia tidak merasa sendirian karena dibalik itu dua orang anggotanya yang selalu menyemangati. Adapun karya ilmiah yang ia bawa terkait dengan pembangunan instalasi air melalui kabut atau udara untuk masa depan. Menurutnya, di masa depan akan ada kemungkinan air akan berkurang hingga berpotensi habis. Apalagi mengingat jumlah penduduk di Bumi yang semakin bertambah banyak seiring waktu. Maka, ia berharap ide mereka dapat membantu memberi solusi atas permasalahan air tersebut. Meski ada sederet kelompok yang membahas pada aspek air, namun hanya timnya yang memiliki gagasan unik untuk membangun instalasi air dari kabut tersebut. Ini menjadikan mereka satu-satunya kelompok yang membahas permasalahan air dengan metode yang baru dan unik. “Ide ini sebenarnya terinpirasi dari hewan kumbang yang hidup di gurun terbesar di Afrika yang bernama Gurun Namib. Apalagi saat kami menyadari bahwa hewan tersebut dapat bertahan dengan baik di tengah panasnya gurun. Kita akhirnya melakukan riset lebih jauh terkait sistem bertahan hidup kumbang untuk mendapat pasokan airnya tersebut,” katanya. Mereka akhrirnya menemukan fakta bahwa hewan kumbang ini dapat bertahan dengan cara berdiri dengan sudut 40 derajat. Di bagian punggungnya terdapat benjolan yang mengandung hidrofobik dan hidrofilik untuk mengumpulkan air dari kabut. Dari situlah, mereka memiliki ide untuk mengadaptasi bentuk jaring-jaring yang punya pola sesuai dengan sayap dari kumbang tersebut. “Nantinya kami juga akan memanfaatkan energi listrik melalui panel surya cahaya dan juga menambahkan turbin udara agar prosesnya semakin maksimal.” Ujarnya menambahkan. Ia juga merasa sangat senang bisa mendapatkan penghargaan di kompetisi bergengsi itu. Apalagi ada dukungan penuh dari UMM, kemahasiswaan, dan juga dosen pembimbing yang membuat mereka mampu bertahan hingga ajang Pimnas usai. Ia berharap, ke depannya semakin banyak anak muda yang mampu menelurkan ide brilian untuk kemajuan manusia, khususnya di Indonesia. (zaf/wil)
Bahas Lagu Anak, Alumnus UMM Menangi Ajang Penyiar se-Asia Pasifik

Salah satu alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Esty Sulistya sukses sabet juara 1 di ajang kompetisi bergengsi Asia Pacific Broadcast Union (ABU) Prizes 2024. Ia yang juga dosen praktisi di Prodi Pendidikan Bahasa Bahasa Indonesia UMM berhasil menyisihkan pesaingnya dengan apik. Esty berhasil melaju dan kalahkan para peserta lainnya dari 65 negara, lima benua, dan dengan 342 karya. Adapun ABU Prizes merupakan bagian dari rangkaian sidang umum ABU ke-61 yang dilaksanakan di Hotel Hilton Bosphorus, Istanbul, Turkiye pada 22 Oktober lalu. Esty merupakan seorang presenter di Pro 1 Radio Republik Indonesia (RRI) Malang. Ia berhasil meraih penghargaan peringkat pertama untuk kategori Radio On Air Personality. Ada beberapa aspek yang dinilai, mulai dari kemampuan bersiaran, menggali informasi, mengolah kata, menghadirkan harmoni, kenyamanan, kepribadian dalam siaran, hingga kemampuan meng-handle pendengar dan membuat narasumber merasa nyaman. “Ada juga lima kriteria penilaian yang dijadikan acuan di kategori ini, yaitu kreativitas, kedalaman pengetahuan presenter, kemampuan terhubung dengan pendengar, kualitas suara, serta pemahaman editorial seorang presenter,” terang Esty yang memiliki nama asli Etik Sulistyaningsih. Adapun dalam ajang itu, ia menyoroti salah satu tema yang menarik, yakni krisis lagu anak di Indonesia dalam dua dekade terakhir, baik itu dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Ia merangkumnya dengan apik dalam materinya yang berjudul “Melodies for Indonesian Children”. Ia juga mengajak para musisi, industri musik, orang tua, dan pemerintah untuk bersama-sama memfasilitasi serta mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu yang membangun karakter kepribadian anak Indonesia. “Anak-anak adalah masa depan bangsa kita. Jadi, sudah selayaknya kita memiliki banyak lagu anak tentang cinta tanah air, persahabatan, cinta kasih, toleransi, dan empati,” pesannya. Keberhasilannya saat ini tidak serta merta ia dapat dengan instan. Ada proses panjang harus Ia lewati untuk dapat menjadi pemenang. Perempuan yang sudah 25 tahun menggeluti dunia profesi sebagai penyiar, presenter, dan reporter radio ini harus melalui tiga tahap seleksi penjurian di level nasional. Sebelum akhirnya dirinya terpilih mewakili Indonesia di ajang bergengsi tersebut. Ia bersaing dengan perwakilan dari 69 RRI di Indonesia untuk kemudian dipilih menjadi lima terbaik hingga ditetapkan tiga terbaik. Di tahap ini, ketiga peserta didampingi untuk mendapatkan pembekalan, produksi baru, dan revisi hingga ditetapkan sebagai perwakilan Indonesia. Sementara itu di level internasional, sebanyak 342 karya diajukan para peserta dari 65 negara untuk diseleksi oleh 60 juri praseleksi. “Puncaknya penjurian akhir dilaksanakan di Kuala Lumpur 10-12 September lalu dengan 18 juri dan 60 buah karya peserta yang masuk finalis di semua kategori. Alhamdulillah saya menang di kategori Radio on Air Personalitiy ABU Prizes 2024 ini,” tuturnya. Adapun sejak sebelum kuliah, Esty memang sudah aktif menjadi MC, moderator dan kegiatan public speaking. Tak hanya di dunia profesi, Ia juga banyak torehkan prestasi di bangku perkuliahan sebagai mahasiswi Ilmu komunikasi UMM. Juara I mahasiswa berprestasi UMM 1998, Juara I lomba karya tulis ilmiah UMM, hingga menjadi wisudawati dengan lulusan terbaik I tingkat universitas UMM. Di tahun ini juga, Ia berkesempatan mewakili voice of Indonesia (VOI) saluran siaran luar negeri RRI. Terakhir, ia berharap radio menjadi media yang tetap bertahan di tengah kemajuan teknologi. Apalagi radio memang memiliki banyak penikmat di seluruh penjuru dunia. “Radio tidak akan mati karena mampu bermetamorfosa sesuai perkembangan zaman, menjadi media komunikasi bagi semua orang,” tutupnya. (zaf/wil)
Dosen Komunikasi UMM ini Jadi Pengajar Asia Pertama di Bydgoszcz Polandia

Beasiswa Erasmus Plus yang diraih dosen program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyisakan kesan mendalam. Bagaimana tidak, Widiya Yutanti, peraih beasiswa Program Erasmus+ Teaching Mobility itu disambut sangat hangat di Kazimierz Wielki University (Uniwersytet Kazimierza Wielkiego/ UKW). Ini karena Widiya adalah dosen asal Indonesia bahkan Asia pertama yang berhasil meraih kesempatan langka mengajar di kampus di kota Bydgoszcz, Polandia. Bagi Widiya, mengajar di UKW juga merupakan pengalaman pertama perjalanannya ke Eropa. Lulusan Master of Art Griffith University Australia ini begitu antusias karena biasanya yang memperoleh kesempatan beasiswa biasanya dari prodi-prodi di Fakultas Pertanian, Peternakan, Ilmu Kesehatan, Tehnik, Psikologi, Hubungan Internasional atau Ekonomi dan Bisnis. “Baru kali ini ada peluang untuk dosen Komunikasi, jadi saya coba apply. Alhamdulillah lolos,” tutur Widiya. Widiya yang juga Kepala Laboratorium Komunikasi UMM, mengajar selama seminggu di UKW semester lalu. Menariknya, ia masuk di kelas Journalism and Social Communication, Institute of Social Communication and Media. “Ini jurusan yang sangat sesuai dengan peminatan saya,” ungkapnya. Di kelas, Widiya menyampaikan topik menarik, yakni ‘An Overview on Mass Media and Journalism Practices in Indonesia’. Tak disangka, mahasiswa juga antusias ingin mendalami praktik media dan jurnalisme di Indonesia. Bagi mereka, Indonesia adalah negara dengan populasi besar yang tentunya memiliki karakteristik, dinamika dan keunikan yang berbeda dengan Polandia. “Itulah sebabnya, saya juga diminta untuk mengisi kelas Sosiologi dan kelas internasional yang diikuti belasan mahasiswa penerima beasiswa Erasmus dari berbagai negara di Eropa, Timur Tengah dan Asia. Tentunya dengan senang hati saya terima tawaran tersebut karena memang tujuan saya selain mengajar tentang komunikasi dan jurnalistik juga mengenalkan UMM dan Indonesia,” ungkap Widiya. Topik-topik berikutnya adalah ‘Media, Society and Pandemic in Indonesia’ dan ‘Journalism and Gender in Indonesia’. Dua topik ini diakuinya menjadi bahan diskusi menarik bagi mahasiswa dan dosen di sana. “Mereka tertarik untuk bisa terus melanjutkan Kerjasama ini ke level lebih lanjut, tidak hanya teaching mobility namun juga kolaborasi dalam bentu join research ataupun publikasi dalam bidang jurnalistik dan komunikasi.” Penanggung jawab kerjasama internasional di Institute of Social Communication and Media UKW, Joanna Janiszewska, PhD, mengungkapkan rasa senangnya dapat menerima Widiya. “Mahasiswa kami juga sangat antusias mengikuti kelas yang disampaikan oleh Widiya. Topik-topik yang disampaikan tentunya dapat memberikan insight dan perspektif baru pada mahasiswa kami terutama tentang praktik media di Indonesia. Saya berharap ke depan UMM terus bisa berkolaborasi dengan UKW,” ungkap Joanna. Widiya berterima kasih kepada UMM yang telah membuka kerjasamanya dengan Erasmus hingga memperoleh kesempatan mengajar ke Eropa. Kesempatan ini tidak disia-siakan untuk mengajak akademisi di UKW agar bisa bekerja sama lebih lanjut. Selain join research, kemungkinan kemitraan lainnya adalah publikasi, guest lecturer dan dan program student exchange lainnya. Selama di Polandia, Widiya juga berkunjung ke Warsawa untuk bertemu dengan alumni Komunikasi UMM yang sedang studi di sana. Iwa Gandiwa, alumni Angkatan 2005 tersebut, sedang mengambil kuliah S2 pada bidang Social Media Management. “Bu Widiya dosen idola saya, senang sekali bisa bertemu di Eropa. Sejak lulus dan bekerja di Pemerintah Provinsi NTB, saya belum pernah bertemu beliau. Terima kasih bu Widiya,” ungkap Iwa. (*/wil)
LK UMM Rayakan Kreativitas Generasi Muda di Hari Sumpah Pemuda
Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar acara final akbar Kaleidoskop Kebudayaan pada 28 Oktober lalu untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda. Ajang ini mempertemukan para finalis peserta SMA dan SMK yang bersaing dalam berbagai lomba. Mulai dari tari kreasi daerah, vokal kreasi daerah, baca puisi dan musikalisasi, hingga desain batik digital. Bahkan ada beragam lomba menarik lain seperti vlog dan fotografi seni budaya, hingga kaligrafi. Kegiatan tersebut mengangkat tema besar digitalisasi kebudayaan, dengan harapan menanamkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya Indonesia. Kepala LK UMM Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. menyambut hangat para peserta. Ia berharap aktivitas ini bisa mendorong dan menjadi pengingat pentingnya kebudayaan. Terutama bagi para anak muda saat ini. “Acara ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Sumpah Pemuda, momentum penting yang mengingatkan kita akan semangat generasi muda untuk menjaga persatuan dan kebudayaan bangsa. Bagaimana anak-anak muda punya semangat dan motivasi untuk berinovasi bagi negeri,” jelasnya. Antusiasme peserta pun semakin terasa saat Ibu Daroe mengapresiasi karya-karya yang akan ditampilkan di depan para juri. Ia mengajak para peserta untuk menunjukkan yang terbaik, serta berpesan agar mereka menumbuhkan kecintaan terhadap kebudayaan sebagai pondasi generasi emas Indonesia pada 2045. Ajang tersebut juga diharapkan bisa menjadi kesempatan berharga bagi peserta untuk mengekspresikan kecintaan mereka pada budaya. Selain itu juga sekaligus menambah wawasan untuk melestarikannya. Sementara itu, Wakil Rektor V UMM Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. menyambut baik antusiasme peserta dan mengapresiasi LK UMM atas terselenggaranya acara yang meriah itu. Tri juga mengajak generasi muda untuk terus menjunjung budaya bangsa dan tidak melupakan akar kebudayaan di tengah era digital yang terus berkembang. Tak hanya kompetisi, acara ini juga memberikan panggung bagi penampilan seni yang menggugah dan menyemarakkan suasana. Para peserta yang berasal dari berbagai daerah, tampil dengan karya yang menunjukkan kecintaan mereka terhadap kebudayaan lokal masing-masing. Rangkaian acara yang inspiratif ini diharapkan menjadi pengalaman berharga bagi seluruh peserta untuk menguatkan semangat kebersamaan dan mempererat rasa cinta mereka pada budaya bangsa. (vin/wil)
Kajian di UMM: Menemukan Beragam Inspirasi Sains di Alquran

Mempelajari dan memperdalam ilmu yang ada di Alquran menjadi nilai pedoman tersendiri bagi seorang muslim. Hal itu juga yang dilakukan oleh para sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang. Pada tanggal 24 Oktober lalu, UMM mengadakan pengajian umum Rabiul Akhir bersama pendakwah dan ilmuwan kondang Prof. Agus Purwanto yang digelar di Masjid A.R Fachruddin. Kegiatan yang dihadiri oleh jajaran rektor, dosen pengajar, hingga mahasiswa tersebut bertemakan Alquran sebagai kitab inspirasi ilmu pengetahuan. Adapun kajian serupa akan terus diselenggarakan UMM secara rutin setiap bulan. Sebelumnya, Kampus Putih sudah mengundang Prof. Haedar Nasir, kemudian putaran yang kedua ada Ustaz Wijayanto. Ini juga menjadi wadah silaturahmi sekaligus menambah ilmu dan pencerahan terkait agama Islam. Dalam kajiannya, Agus mengungkapkan bahwa banyak sekali inspirasi yang bisa didapat dengan mempelajari Alquran. Misalnya tentang bagaimana sebuah pesawat bisa terbang di langit. Alquran memberikan inspirasi bagi dunia penerbangan melalui penjelasan surat An-nahl ayat 79 mengenai burung. Selain itu Agus juga menjelaskan ayat lain yang bisa berkaitan dengan cara kerja kapal. Seperti dalam surat Al-Qamar ayat 13 dan juga Al-Jasiyah ayat 12. Dua ayat tersebut merupakan hal yang sama dan memiliki tujuan yang sama. Pada ayat yang pertama dijelaskan bahwasannya Allah menundukkan lautnya, sedangkan pada ayat yang kedua Allah menundukkan kapalnya. “Lautnya ditundukkan dengan menggunakan bahan yang terapung dan tinggal diberi mesin. Kemudian juga harus bisa menundukkan ombaknya sehingga kapalnya tidak tenggelam. Dua ayat tersebut memiliki misi yang sama. Menggambarkan karakteristik kapal yang berbeda antara kapal kayu dan kapal logam,” Kata Guru Besar Fisika ITS tersebut. Sebagai penutup, Agus yang pernah menjadi dosen UMM itu mengatakan, Alquran tidak hanya menjadi basis nilai saja. Tetapi juga bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi terkait pengembangan sains dan tehnologi. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lilalamin sehingga pola pikir muslim juga harus diubah. Misalnya dengan tidak hanya menjadi consuemr atau user, tapi bisa benar-benar memberikan produk atau inovasi baru agar mampu memberikan manfaat. “Jadi, mari bersama mengembangkan Islam yang mampu memahami materi ilmu-ilmu agama dan juga ilmu di bidangnya masing-masing. Dengan begitu, kita juga mampu memberikan sumbangsih untuk dunia,” pungkasnya. (zaf/wil)