UMM Turun Atasi Angka Stunting dan Kemiskinan di NTT

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memberikan dampak dan manfaat di berbagai wilayah. Terbaru, UMM bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) provinsi NTT untuk menekan angka kemiskinan ekstrem dan stunting. Beragam kegiatan tersebut dimulai pada 1 Oktober 2025 ini hingga beberapa tahun mendatang dan menyasar para warga di berbagai lokasi. Mulai dari pelatihan pertanian dan peternakan hingga pendidikan dan pangan. Menyambut rombongan UMM, Sekretaris Daerah TTS Drs. Seperius Edison Sipa, M.Si. mengapresiasi berbagai program yang sedang dan akan dijalankan UMM di wilayah tersebut. Ia menjelaskan, TTS memiliki daerah yang luas, terdiri dari 32 kecamatan dan 266 desa. Ada hampir 500 ribu jiwa yang tinggal di wilayah ini. “Ada beberapa persoalan yang kami hadapi, dua di antranya adalah angka kemiskinan ekstrem dan stunting. Saat ini, kami menjadi salah satu daerah dengan angka stunting yang tinggi di NTT dan juga angka kemiskinan. Jadi, kedatangan tim profesor dan pakar UMM menjadi warna baru untuk mengatasi masalah dan tantangan ini,” katanya. Ia berharap, lebih dari 25 program yang UMM miliki bisa memberikan dampak yang bagus. Baik itu di bidang penurunan angka kemiskinan maupun angka stunting. Pihaknya mendukung penuh berbagai kegiatan yang ada melalui dinas dinas terkait. Sementara itu, Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerjasama UMM Dr. Salahudin, S.IP, M.Si., M.P.A. menjelaskan, ada lebih dari 25 program yang sudah dan akan berjalan di NTT, khususnya Kabupaten Soe. Bahkan UMM juga melibatkan 75 tim yang terdiri dari profesor, doktor, pakar, dan dosen dosen mumpuni agar program terlaksana dengan baik dan benar-benar berdampak. “Ini menjadi cara UMM untuk menguatkan diri sebagai kampus berdampak. Tidak hanya di sekitaran Jawa, tapi juga di wilayah-wilayah lain yang membutuhkan. Salah satunya di NTT,” katanya. Salahudin menegaskan, fokus program ini bertujuan untuk menekan angka kemiskinan dan menurunkan angka stunting. Maka, kegiatan-kegiatan diawali dengan lima sektor utama yakni kesehatan, sosial dan pemberdayaan komunitas, pertanian peternakan, pendidikan, dan pangan. Menurutnya, program ini juga sangat sesuai dengan tujuan prioritas nasional yang terus diupayakai. Hal serupa juga disampaikan Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. yang menekankan pemtingnya menebar manfaat untuk masyarakat. Menurutnya, UMM memiliki tekad kuat untuk memberikan dampak di berbagai wilayah. Tidak terbatas di Jawa saja, tapi juga menyebar ke berbagai lokasi, salah satunya NTT. “UMM memang terus mendorong profesor untuk memberikan dampak. Jadi tidak hanya berhenti pada pemikiran saja, tapi benar benar bisa dirasakan masyarakat, baik itu produk maupun skema. Saat ini UMM juga telah memiliki Direktorat Saintek yang bertugas menghilirisasi berbagai penelitian maupun invoasi dosen dan mahasiswa. Dengan begitu, mampu memberikan solusi atas pelbagai masalah di masyarakat,” pungkas Nazar. (wil)

11 Dekan UMM Dilantik, Siap Jadi Penggerak Strategis

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi melantik 11 dekan baru untuk periode 2025–2029. Prosesi yang digelar di Aula BAU UMM pada Selasa, 30 September 2025 ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan kampus putih, menandai estafet kepemimpinan dari periode sebelumnya kepada generasi baru. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Tohir Luth, MA., menegaskan bahwa jabatan dalam Muhammadiyah tidak boleh dipandang sebagai kehormatan pribadi, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan. Seorang dekan tidak cukup hanya berbekal kemampuan akademik, tetapi juga integritas moral dan keberanian mengambil keputusan. Kepemimpinan kampus, menurutnya, harus memberi keteladanan nyata bagi sivitas akademika. “Kepemimpinan adalah medan perjuangan. Ia harus dijalankan dengan kerja cerdas, ikhlas, dan penuh integritas, karena yang diemban bukan sekadar urusan administrasi, melainkan tanggung jawab terhadap umat dan institusi. Pemimpin sejati adalah mereka yang menggerakkan orang lain menuju kebaikan,” ujarnya. Anggota Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Si., memandang pergantian dekan sebagai siklus penyegaran yang memungkinkan fakultas lebih adaptif menghadapi tantangan zaman. Ia menekankan bahwa peran dekan tidak hanya administratif, tetapi juga strategis dalam menentukan arah pengembangan fakultas. “Mereka ini berperan sebagai motor penggerak pengembangan akademik, riset, dan pembinaan mahasiswa. Arah fakultas lima tahun ke depan sangat ditentukan oleh kepemimpinan para dekan baru,” ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menggarisbawahi prinsip dasar kepemimpinan Muhammadiyah yang berakar pada tiga pilar utama yaitu memperkuat iman dan takwa, mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan melalui kesederhanaan. Ia menilai tiga hal tersebut harus menjadi fondasi utama bagi para dekan dalam merumuskan kebijakan fakultas maupun membimbing sivitas akademika. “Pemimpin fakultas harus hadir sebagai penggerak, bukan pemberi masalah. Kita ingin UMM melahirkan generasi cendekia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap masalah kemanusiaan dan siap berkontribusi di tingkat global,” jelasnya. Deretan dekan baru membawa misi besar di bidang masing-masing. Fakultas Agama Islam (FAI) kini dipimpin Dr. Imamul Hakim, SE., M.Sh., dengan agenda memperkuat tradisi keilmuan Islam dan moderasi beragama. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dinakhodai Dr. Fauzik Lendriyono, S.Sos., M.Si., yang berfokus pada pengembangan riset kebijakan publik dan jejaring politik global. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dipimpin Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., dengan fokus pada inovasi pendidikan guru di era digital. Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) kini di bawah kepemimpinan Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto, SE., M.E., Ph.D., yang menekankan kewirausahaan berbasis riset dan ekonomi kreatif. Pada bidang hukum, Prof. Dr. Tongat, SH., M.Hum., kembali dipercaya menakhodai Fakultas Hukum (FH) dengan komitmen pada hukum progresif yang berkeadilan. Fakultas Teknik (FT) dipimpin Dr. Ir. Sulianto, MT., dengan visi memperkuat kolaborasi industri dan daya saing teknologi global. Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) kini di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Ir. Warkoyo, MP., yang berfokus pada riset pangan, energi, dan ketahanan lingkungan berbasis kearifan lokal. Fakultas Psikologi dipimpin Dr. Rr. Siti Suminarti Fasikhah, M.Si., dengan agenda pengembangan psikologi lintas budaya serta kesehatan mental masyarakat. Untuk bidang kesehatan, Fakultas Kedokteran (FK) dinakhodai Dr. dr. Meddy Setiawan, Sp.PD. yang berkomitmen memperkuat pendidikan kedokteran dan riset klinis. Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dipimpin Dr. Hidajah Rachmawati, S.Si., Apt., Sp.FRS., dengan fokus pada farmasi dan kesehatan masyarakat. Terakhir, Fakultas Vokasi dipimpin Dr. Lailis Syafaah, M.T., dengan komitmen memperluas pendidikan vokasi berbasis praktik yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Melalui kepemimpinan baru ini, UMM meneguhkan tekadnya menjadi universitas yang adaptif, inovatif, dan kolaboratif. Pergantian dekan tidak hanya sekadar rotasi jabatan, melainkan momentum strategis untuk mengokohkan UMM sebagai pusat keilmuan dan pengabdian yang memberi kontribusi nyata bagi bangsa maupun dunia. (vin/wil)

Tingkatkan Kualitas, Ratusan Peserta Dilatih Layanan Prima di UMM

Public speaking bukan sekadar keterampilan berbicara di depan umum, melainkan sebuah seni untuk membangun komunikasi lisan yang efektif, terarah, dan bermakna dengan audiens. Hal itu disampaikan Moqoddas Al Aslami sebagai pemateri dalam Pelatihan Service Excellence, 27 September ini. Acara kolaborasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Bank Syariah Indonesia (BSI) ini diikuti ratusan staf dan karyawan di lingkungan Kampus Putih. Selain Moqoddas, adapula Dian Budi Wijaksono yang memberikan paparan. Lebih lanjut, Moqoddas mengatakan bahwa public speaking adalah seni sekaligus ilmu yang menuntut penguasaan logika, emosi, serta kredibilitas agar pesan benar-benar sampai dan berkesan. Sejak era Socrates, public speaking telah menjadi sarana menemukan kebenaran, meraih kemenangan, sekaligus menjadi alat persuasi ilmiah. Terdapat tiga aspek utama dalam public speaking, yaitu ethos, pathos, dan logos. Ethos berkaitan dengan moralitas agar pembicara dipercaya, pathos menyentuh sisi emosional audiens, sedangkan logos menekankan pada rasionalitas dan argumen yang kuat. Ia menilai, kombinasi ketiga unsur itu akan membuat pesan tersampaikan lebih meyakinkan, karena berbicara jelas saja tidak cukup tanpa kehangatan emosi dan alasan logis. “Bahasa tubuh harus sejalan dengan pesan yang disampaikan agar kredibilitas tidak diragukan. Open palm gesture menandakan keterbukaan, sedangkan apex gesture digunakan saat menyampaikan informasi penting. Gestur yang tepat akan memperkuat pesan dan meningkatkan kepercayaan audiens,” ujarnya. Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa hambatan komunikasi bisa muncul dari faktor fisik, psikologis, bahasa, budaya, maupun teknologi. Moqoddas menekankan pentingnya empati, kecerdasan emosional, serta latihan yang konsisten melalui diskusi atau workshop. Ia menutup dengan pesan bahwa komunikasi bukan sekadar berbicara, melainkan membangun koneksi. Public speaking, menurutnya, adalah keterampilan seumur hidup yang layak terus dikembangkan. Sementara itu Area Manager BSI Malang Waskito Vergino, MBA menjelaskan bahwa selama ini BSI tumbuh signifikan, baik dari kuantitas customer, dana, maupun pembiayaan-pembiayaan. Hal ini tak lepas dari bagaimana service excellence yang sudah dijalankan. Bagaimana layanan kepada masyarakat dan komunikasi yang baik. Ia juga menyanpaikan, sebagian orang saat kecil seringkali dimarahi ketika salah bicara dan ini membuat trauma. Pada akhirnya membuatnya tidak bisa memiliki public speaking dan berpengaruh pada layanan. “Maka, harapannya agenda ini bisa memberikan efek baik, baik itu tips-tips maupun cara memberikan layanan yang baik dan terbaik untuk mahasiswa, orangtua, bahkan masyarakat,” katanya. Hal serupa juga disampaikan oleh Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak, M.M. Menurutnya, acara ini juga menjadi bentuk sinergisitas antara UMM dengan BSI. Bagaimana bisa saling meningkatkan kualitas SDM dengan pelayanan prima terbaik. Juanda melihat, pelatihan service excellence ini menjadi sesuatu yang relevan. Terutama untuk teman-teman yang ada di front office yang nanti akan berhadapan dengan para mahasiswa hingga masyarakat. “Jika kita kerucutkan, ada tiga tugas utama dari core bisnis perguruan tinggi. Yakni menjemput, merawat, dan mengantarkan. Menjemput calon mahasiswa, merawat mahasiswa agar baik, dan mengantarkan mereka menjadi pribadi yang mandiri dan siap kerja. Semoga acara ini bisa semakin menguatkan kualitas layanan,” katanya menambahkan. (wil)

Mberot Negatif Begini Hasil Riset Mahasiswa UMM yang Sebut Mberot Bisa Perkuat Karakter

Fenomena kesenian mberot di Malang Raya tengah menjadi sorotan. Popularitasnya kian meluas, tercatat ada sekitar 1.336 kelompok bantengan yang menaungi kesenian tersebut. Kesenian rakyat ini tidak hanya digemari masyarakat umum, tetapi juga diikuti oleh anak-anak usia sekolah dasar, generasi alpha. Namun, di balik maraknya pertunjukan, budaya mberot kerap dikaitkan dengan stigma negatif. Beberapa pentas justru berujung ricuh, adanya minuman keras, dan lainnya. Kondisi inilah yang menggerakkan tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menginisiasi riset dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Penelitian yang diketuai oleh Meilisa Tri Adinda Putri dengan anggota Febila Serlina Efendi, Fitriya Maharani, Ana Maulida Azura, dan Wiga Septiyan Vindiani ini bertajuk ‘Gayenge Malang: Kajian Pambudi Luhur Budaya Mberot Menggunakan Metode Gioia untuk Mitigasi Pergeseran Karakter Generasi Alpha di Wilayah Malang’. “Selama ini mberot lebih sering dilihat dari sisi negatif, padahal di dalamnya tersimpan nilai-nilai luhur yang justru bisa membentuk karakter anak-anak,” ujar Meilisa. Menurutnya, melalui pendekatan penelitian yang tepat, kesenian ini berpotensi menjadi media pendidikan karakter yang kontekstual sekaligus melestarikan budaya lokal. Dalam riset tersebut, tim menggunakan metode Gioia, sebuah teknik analisis kualitatif yang memungkinkan peneliti menggali data secara mendalam. Observasi lapangan dilakukan di Kabupaten Malang, antara lain Desa Tajinan dan Kecamatan Turen, serta di Kota Malang dan Batu. Para peneliti mewawancarai pelaku mberot usia sekolah dasar, pemilik sanggar, guru, kepala sekolah, hingga penonton pertunjukan. “Yang pertama dengan melibatkan adik-adik kita, yang paling utama adalah untuk memperkenalkan seperti apa sih kebudayaan kita yang utama ini, dengan harapan agar nanti kita tidak kehilangan budaya-budaya yang ada di Indonesia,” ujar pemilik sanggar mberot . Keterangan pemilik sanggar juga didukung dengan pernyataan pemain mberot dan penonton mberot yang merasa bahwa budaya mberot ini memiliki nilai positif seperti membuat anak lebih suka berosialisasi, tidak kecanduan gadget, dan melatih motorik kasar mereka. “Di tempat latihan, iya bareng-bareng. (ikut Mberot) Seru temannya banyak.” Ujar Reval, anak sekolah dasar di kota malang yang mengikuti kelompok budya mberot di daerahnya. Hasil penelitian mengungkap, nilai-nilai pambudi luhur yang terkandung dalam budaya mberot mencakup tiga aspek utama: nilai moral etika, kearifan lokal, serta nilai religius spiritual. Dari ketiganya, aspek moral etika dan kearifan lokal tampak lebih dominan. Temuan ini menjadi bukti bahwa mberot sesungguhnya tidak semata-mata soal atraksi fisik, melainkan ruang internalisasi nilai yang relevan bagi generasi muda. Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, S.Pd., M.Pd., dosen pembimbing riset, menegaskan pentingnya reposisi makna mberot. Menurutnya, jika hanya menyoroti perilaku-perilaku negatif saat pertunjukan, maka mberot akan terus dicap negatif. Padahal, ada filosofi pambudi luhur yang bisa digali. Mahasiswa perlu hadir untuk mengembalikan esensi budaya ini sebagai sarana pendidikan karakter. Melalui penelitian ini, tim berharap dapat menawarkan strategi mitigasi untuk mengurangi potensi penyimpangan nilai dalam praktik mberot. Salah satunya dengan merumuskan panduan berbasis nilai pambudi luhur yang dapat diterapkan di sanggar maupun sekolah dasar. Strategi ini diharapkan mampu mengarahkan generasi alpha agar menjadikan mberot sebagai wadah pembelajaran moral, sosial, dan spiritual, alih-alih hanya tontonan hiburan yang rawan disalahgunakan. (*/wil)

Riset Mahasiswa UMM Ciptakan Lapisan yang Bikin Tomat Lebih Tahan Busuk

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat produksi tomat nasional mencapai 1,15 juta ton, namun jumlah besar itu tersimpan masalah klasik yang merugikan. Yakni kerentanan tomat yang hanya mampu bertahan 3 hingga 7 hari setelah panen. Fenomena ini menyebabkan kerugian besar bagi para petani, sekaligus menghambat upaya ketahanan pangan. Berangkat dari keresahan tersebut, sebuah tim mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan sebuah solusi inovatif. “Kalau biasanya tomat hanya bertahan 3 sampai 6 hari, kami ingin membuatnya bisa segar hingga 20 hari lebih,” ujar Muti’ah Alawiyah, mahasiswa Teknologi Pangan UMM yang akrab disapa Tia. Bersama timnya yang terdiri dari empat orang, ia mengembangkan edible coating atau lapisan pelindung dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang melimpah yakni pati singkong dan ekstrak daun singkil. Inovasi ini berjudul Edible Coating Pati Singkong dengan Penambahan Ekstrak Daun Singkil sebagai Antibakteri untuk Peningkatan Umur Simpan Tomat. Ide ini lahir dari pengamatan sederhana, di mana tomat sebagai komoditas utama sering kali tidak sampai ke tangan konsumen dalam kondisi prima. Kerusakan pasca panen umumnya disebabkan oleh proses respirasi berlebih dan kontaminasi mikroba. “Kami ingin ada solusi yang ramah lingkungan, murah, dan mudah diterapkan,” tegasnya. Edible coating yang dikembangkan ini berbentuk lapisan tipis transparan, mirip dengan plastik. Proses pembuatannya dimulai dari ekstraksi pati singkong. Pati ini kemudian dicampur dalam air, ditambahkan sodium alginat sebagai pembentuk gel, serta gliserol dan kalsium klorida untuk memperkuat lapisan. Setelah itu, ekstrak daun singkil dimasukkan ke dalam campuran. Larutan ini kemudian dicetak pada wadah datar dan dikeringkan menggunakan oven bersuhu rendah hingga menjadi lembaran tipis. Lapisan ini bekerja dengan cara yang cerdas. Saat diaplikasikan pada permukaan tomat, edible coating ini bertindak sebagai penghalang mikroba dan udara berlebih. Kandungan flavonoid, saponin, dan tanin dalam daun singkil memiliki sifat antibakteri yang mampu menekan pertumbuhan bakteri perusak. Selain itu, lapisan ini memperlambat laju respirasi tomat, sehingga buah tidak cepat keriput. Berdasarkan hasil sementara dari penelitian yang telah mencapai 80%, tomat yang dilapisi masih segar hingga hari ke-10, jauh lebih lama dibandingkan tomat tanpa pelapisan. Selama proses penelitian, Tia dan timnya mendapat bimbingan intensif dari dosen pendamping, Hanif Alamudin Manshur, S.Gz., M.Si. Keunggulan inovasi ini tidak hanya sebatas memperpanjang umur simpan tomat. Lapisan pelindung ini menarik karena menggunakan bahan-bahan lokal yang melimpah, mudah ditemukan, dan murah, seperti pati singkong. Selain itu, pemanfaatan daun singkil yang jarang diteliti menjadikannya sebuah kebaruan ilmiah. Sifatnya yang ramah lingkungan juga menjadikannya pilihan ideal sebagai pengganti plastik konvensional. Lapisan ini sepenuhnya biodegradable dan aman untuk dikonsumsi karena terbuat dari bahan pangan. “Kalau selama ini masyarakat bergantung pada plastik atau bahan kimia impor, edible coating ini justru memanfaatkan potensi lokal yang murah dan efektif,” terang Tia. Ia berharap penelitian ini dapat berkontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional dengan mengurangi kerugian petani dan membuka peluang pengembangan bahan alami untuk pengawetan produk segar. (ali/wil)

Gaet BAZNAS, UMM Dirikan Z-Coffee Wadah Entrepreneur Muda

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat komitmennya dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan mahasiswa dan pemberdayaan ekonomi umat. Salah satunya melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Malang. Kerja sama ini diwujudkan dengan peresmian kewirausahaan dalam bidang FnB yakni coffe shop yang diberi nama Z-Coffee di lingkungan kampus, 23 September 2025. Acara ini berlangsung di Kantin Asri, depan Gedung Student Center UMM yang dihadiri oleh pimpinan universitas, Kepala BAZNAS, serta jajaran biro dan unit di lingkungan UMM. Grand launching ini menandai dimulainya operasional kedai kopi yang tidak hanya berorientasi komersial, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan praktik bisnis bagi mahasiswa, sekaligus menyalurkan keuntungan untuk program zakat. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., dalam sambutannya menegaskan bahwa kolaborasi ini selaras dengan visi UMM, untuk menciptakan lulusan yang unggul dan mandiri. Kedai Z-Coffee ini bukan sekadar tempat jual-beli kopi. Ini adalah laboratorium bisnis nyata bagi mahasiswa. Mereka dapat terlibat langsung mulai dari manajemen, operasional, hingga pengembangan produk. “Sesuai dengan tagline UMM yaitu UMM Pasti salah satunya adalah harus mandiri, kita juga harus memastikan anak yang kita didik ini kedepannya harus mandiri. Ciri-ciri mandiri bagi seorang mahasiswa adalah berprestasi yang dibimbing oleh dosen-dosen yang berkualitas,” katanya. Sementara itu, Kepala BAZNAS Kota Malang, Prof. Dr. Kasuwi Saiban, SH., M.Ag., mengapresiasi inisiatif dan komitmen UMM. Dia menjelaskan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk pendayagunaan zakat yang produktif dan berkelanjutan. Melalui Z-Coffee, dana zakat tidak hanya disalurkan secara konsumtif, tetapi ditanamkan dalam sebuah usaha yang produktif. Keuntungan yang diperoleh akan dikembalikan untuk program-program pemberdayaan mustahik (penerima zakat) lainnya di Kota Malang. “Ini adalah model pemberdayaan ekonomi syariah yang kita bangun bersama,” ungkapnya. Sementara itu, Novi Puji Lestari, SE., MM., mewakili Pembina Kewirausahaan UMM, yang juga terlibat langsung dalam pendampingan project ini menambahkan, konsep Z-Coffee dirancang untuk memberikan pengalaman yang sesuai dengan lapangan kerja. “Mahasiswa akan kami libatkan dalam seluruh rantai nilai, dari sourcing biji kopi, roasting, branding, hingga marketing. Kami ingin menumbuhkan mental entrepreneur sejati, yang mampu melihat peluang dan mengelola risiko. Kehadiran BAZNAS sebagai partner strategis memberikan nilai lebih, yaitu integrasi nilai-nilai keislaman dan ekonomi yang sesuai dengan syariat Islam,” paparnya. Kedai Z-Coffee yang berlokasi strategis di jantung kampus UMM ini diharapkan dapat menjadi destinasi baru bagi civitas akademika UMM dan masyarakat umum. Ke depannya, selain menawarkan berbagai varian kopi, kedai ini juga akan menjadi pusat kegiatan diskusi dan workshop kewirausahaan. Peresmian Z-Coffee menjadi bukti nyata sinergi antara institusi pendidikan dan lembaga zakat dalam mencetak entrepreneur muda yang berdaya saing dan berakhlak mulia. (nam/wil)

Cerita Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UMM Ajarkan Bahasa Arab di Serawak

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa memberikan eksposur internasional pada mahasiswanya. Salah satunya dengan memberangkatkan enam mahasiswanya untuk menjalani program magang internasional di Institut Tahfiz Bintulu, Sarawak, Malaysia. Program yang dilaksanakan Juli-September 2025 ini merupakan hasil kerja sama strategis antara Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UMM dengan lembaga pendidikan tahfiz terbesar di Sarawak yakni Institut Tahfiz Bintulu. Enam mahasiswa terpilih yang diberangkatkan pada Juli lalu adalah Muhammad Alfaridzi, Ameliya Dhalallul Hanan, Yusuf Tirta Ali, Innasatun Nabilatin Nadif, Zakiah Salsabila, dan Khoirul Anam. Mereka berhasil lolos melalui proses seleksi yang ketat. Adapun program magang ini berfokus pada pengembangan dan pengajaran bahasa Arab kepada para santri di Institut Tahfiz Bintulu. Mahasiswa UMM turut menyusun dan melaksanakan berbagai kegiatan pembelajaran seperti pengajaran mufrodat (kosakata), insya’ (mengarang), muhadatsah (percakapan), hingga kelas multimedia bahasa Arab. Seluruh rangkaian kegiatan diakhiri dengan ujian akhir yang mencakup ujian lisan dan tulis. Khoirul Anam, salah satu peserta magang yang menjadi perwakilan kelompok, mengaku banyak mendapatkan pengalaman yang berharga. “Melalui program ini, saya dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang selama ini saya pelajari di bangku kuliah dengan suasana baru yakni siswa luar negeri, Ini adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan bagi saya,” ujar Anam. Anam juga menceritakan keseharian mereka selama di Sarawak. Banyak tempat hiburan seperti Mall, Play Ground, Pantai dan Kebun Binatang. Namun jarang sekali ramai pengunjung karena, warga sana lebih senang bekerja dari pada liburan. Bahkan ada beberapa mall tempat harus gulung tikar karena sepi pengunjung. Kemudian, kuliner lokal seperti nasi lemak, nasi kerabu, kari, milo, hingga teh tarik, serta dinamika sosial masyarakat setempat yang harmonis juga menyenangkan meski terdiri dari berbagai latar belakang agama. “Karena disana mayoritas umat Tionghoa, jadi kami harus lebih hati-hati dalam memilih makanan karena umat Islam di Sarawak merupakan minoritas,” katanya. Di sisi lain, Dr. Muhammad Fadli Ramadhan, S. Pd. I., M.Pd. selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), menegaskan bahwa, dua bulan ini bukanlah sekedar memenuhi SKS semata. Namun tentang menempa diri belajar mandiri di negri orang memahami budaya baru dan yang paling terpenting mengaplikasikan ilmu dan pengabdian nyata. “Jadikan setiap pelajaran, teguran, senyuman yang kalian dapatkan di sana sebagai bekal yang berharga terus kembangkan potensi,” ujarnya. Program magang ini menjadi bukti nyata komitmen UMM dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga berdaya saing global. Para mahasiswa berharap program ini dapat terus berlanjut dan membuka lebih banyak peluang bagi generasi berikutnya untuk belajar dan mengabdi di luar negeri. (wil)

Olimpiade Sains Nasional 2025, UMM Jadi Tuan Rumah

Olimpiade Sains Nasional (OSN) jenjang SMA tahun 2025 akan segera dilangsungkan, 6-12 Oktober 2025 mendatang. Ratusan siswa dan siswi akan bersaing pada berbagai mata pelajaran yang dilombakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selaku tuan rumah. Ajang bergengsi tingkat nasional ini juga menjadi wadah berkompetisi para generasi muda terbaik. Terkait hal ini, Staf Ahli Menteri bidang Manajemen Talenta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) Dr. Mariman Darto, S.E., M.Si. mengatakan, OSN juga merupakan langkah strategis menyiapkan talenta terbaik di setiap daerah. Mulai dari jenjang dasar hingga menengah. “Ini juga langkah untuk menyiapkan talenta unggul di bidang riset inovasi sekaligus memperoleh input untuk tahap pembinaan melalui bina talenta Indonesia. Ini juga perwujudkan dari pendidikan bermutu bagi semua karena ada proses penjaringan talenta terbaik dari seluruh Indonesia,” katanya. Adapun olimpiade ini mencakup sembilan bidang keilmuan. Meliputi matematika, fisika, kimia, biologi, astronomi, ekonomi, kebumian, geografi, dan informatika. Setiap bidang diuji tidak hanya melalui tes teori yang mendalam tetapi juga melalui praktikum atau eksperimen. Menguji kemampuan aplikatif dan pemecahan masalah nyata para peserta. Mariman, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa OSN juga menjadi cara mempercepat penjaringan prestasi putra-putri terbaik bangsa secara akuntabel. Yakni dengan melibatkan catur pilar pendidikan, mulai dari keluarga, satuan pendidikan, masyarakat dan media. Hal menarik juga ia sampaikan terkait bagaimana OSN menjadi satu langkah untuk menerjemahkan Asta Cita presiden Indonesia. Mariman menilai, ajang ini mengimplementasikan Asta Cita ke 4 yang berhubungan dengan penyiapan sumber daya manusiasekaligus menjadi program Kemdikdasmen pendidikan bermutu melalui pengembangan talenta dan prestasi. Di sisi lain, juga menjadi strategi untuk pencapaian RPJMN 2025-2029 yaitu tersedianya sumber daya manusia di bidang STEAM. Menariknya, tidak hanya berkompetisi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai tuan rumah juga telah menyiapkan berbagai agenda untuk menghibur para peserta. Mulai dari wahana perahu bebek, pameran karya inovatif, live musik, dan lain sebagainya. “UMM memang kerap dikenal sebagai kampus yang memiliki reputasi dan prestasi mentereng di tingkat nasional sehingga tidak berlebihan jika vanue OSN 2025 diselenggarakan di UMM,” kata Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. Sebelumnya, UMM memang sering menjadi tuan rumah kegiatan nasional maupun internasional, baik di aspek akademik maupun non akademik. Termasuk rangkaian acara seperti Darmasiswa atau juga ASEAN University Games dan lainnya. Selain itu, fasilitas yang UMM punya juga sesuai dan mendukung ajang OSN. (wil)

Dukung SDGs, UMM Bekali Mahasiswa Wawasan Berkelanjutan

Sebagai salah satu pionir kampus hijau, UMM menghadirkan pembelajaran keberlanjutan yang terintegrasi di segala lini. Tahun 2025, UMM resmi menjalankan program Mata Kuliah Wajib ‘Wawasan Keberlanjutan’ melalui kurikulum lintas disiplin bagi seluruh mahasiswa semester 1. Ini sejalan dengan komitmen Kampus Putih dalam mewujudkan cita-cita global dalam konsep Living laboratory yang berfokus pada isu Sustainable Development Goals (SDGs) di berbagai bidang. Menariknya, program ini tak hanya lintas disiplin, tetapi juga berupa proyek aksi nyata bersama masyarakat. Mahasiswa juga diajak berperan aktif dalam berbagai gerakan hijau, kesehatan, dan sosial. Fokus topik pembahasan yang disampaikan antara lain: One Health melalui pendekatan kesehatan terpadu, Ecosystem Restoration Decade (2021–2030), UNEP Regional Seas Programme, Global Adaptation Network (GAN), dan SDGs. Perkuliahan satu semester ini dibagi menjadi dua batch, yakni pembelajaran berbasis wawasan dan teori hingga pertengahan masa perkuliahan, kemudian dilanjutkan dengan project-based learning. Lebih lanjut, Kepala Biro Pendidikan dan Pengajaran UMM Zulfatman, M.Eng., Ph.D., mengungkapkan bahwa isu SDGs adalah tanggung jawab bersama yang harus terus digerakkan dari generasi ke generasi. Untuk itu, UMM sebagai perguruan tinggi yang turut menyuarakan SDGs juga berkomitmen dan berkontribusi penuh melalui aksi nayata mahasiswa dan dosen. UMM merasa perlu mengambil peran penting dalam mendidik mahasiswa agar memahami serta mampu mengimplementasikan nilai keberlanjutan dalam kehidupan nyata.  “Tidak hanya sekadar wawasan, mahasiswa akan diajak aktif menyuarakan dan menggerakkan aksi sederhana namun berdampak sesuai bidang keilmuannya,” terang Zulfatman. Mata kuliah wajib ini dirancang komprehensif, mengombinasikan 17 tujuan SDGs dengan fokus utama pada lingkungan, kesehatan, dan sosial. Tujuannya tidak lain adalah membangun karakter lulusan Kampus Putih kaya akan wawasan kebangsaan, keberagamaan, serta berwawasan global. Output perkuliahan pun bervariasi, mulai dari video, animasi, hingga kampanye kreatif melalui media sosial dan aksi nyata. Sebelum diterapkan, dosen pengampu telah dibekali melalui workshop dan pedoman perkuliahan yang detail. Menurutnya, komponen penting dalam keberhasilan pembelajaran adalah keseimbangan sinergi antara knowledge dan behavior yang ditransfer oleh dosen kepada mahasiswa. “Suasana perkuliahan yang nyaman itu dimana para pengajar mampu mentrasfer knowledge (wawasan) dengan energy positif kepada mahasiswa. Ini juga menjadi komponen penting agar knowledge yang disampaikan dapat terefleksi dengan baik oleh mahasiswa,” ujarnya. Terkahir, Ia berharap, hadirnya mata kuliah ini tak hanya memperkuat karakter lulusan yang berwawasan nasional dan religius, tetapi juga memiliki pandangan global. Lebih dari itu, keberadaannya diharapkan mampu memperkuat kontribusi UMM dalam kampanye keberlanjutan, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas. (din/wil)

Kembali Dipercaya Kementerian, Dosen UMM Kembangkan Teknologi Budidaya Pisang dan Melon di Pandaan

Mengabdi untukk negeri jadi salah satu kegiatan yang terus dijalankan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Termasuk yang dilakukan oleh tim pengabdian Program Desa Binaan (PDB) yang diketuai Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes. IPU. di Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Pasuruan. Berkat kiprahnya yang bagus, tim ini kembali dipercaya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk melanjutkan program di tahun ketiga. “Untuk tahun ini, kami akan fokus pada pengembangan tanaman pisang. Jadi kami mengembangkannya menjadi 2 hektar dengan tiga jenis tanaman pisang. Yakni pisang Radja nangka, pisang radja bulu dan pisang cavendish. Tentu, prosesnya akan menggunakan teknologi agar memudahkan para warga dan petani,” katanya. UMM tidak hanya mengembangkan dan mendampingi, tapi juga memperkenalkan metode menggunakan teknologi. Yakni dengan menjalankan program smart farming di desa binaan ini. Sehingga, para warga tidak hanya paham menanam pisang, tapi juga paham memanfaatkan teknologi untuk memudahkan kehidupan. Selain itu, Sujono dan tim juga mengembangkan budidaya tanaman melon di greenshouse seluas 50×11 meter. Menariknya, ada beberapa keunggulan yang ditonjolkan dalam budidaya ini, yaitu menggunakan metode hidroponik dengan sistem smart farming. Adapun untuk sistem irigasi penyediaan nutrisi tanaman dikendalikan secara digital dengan handphone, sehingga tidak dilakukan secara manual lagi. Pengembangan tanaman melon dan tanaman pisang ini menjadi upaya menguatkan ciri khas nama desa yaitu “Sumbergedang”. Hal ini untuk mempercepat realisasi perwujudan Desa Sumbergedang menjadi desa mandiri dan sejahtera melalui pengembangan agrowisata desa. “Untuk membekali segenap sumberdaya pengelola desa maka dilakukan sederet pelatihan. Mulai dari budidaya tanaman melon secara Hidroponik dengan sistem Smart Farming, pembibitan secara kultur dan perawatan  tanaman pisang, dan model pelayanan wisata yang humanis,” pungkasnya menambahkan. Harapannya, ini menjadi proses yang strategis. Utamanya agar agrowisata desa mampu memberdayakan masyarakat desa untuk membangun semangat wirausaha melalui pengembangan UMKM kuliner desa (*/wil)