Tim UMM Sulap Daun Mangga Jadi Pelapis Telur, Awet Tanpa Ubah Rasa

Siapa sangka, daun mangga tua yang sering dianggap sampah ternyata bisa menjadi kunci untuk membuat telur lebih awet dan aman dikonsumsi. Inilah yang dibuktikan oleh tim PKM-RE UMM yang berhasil mengubah limbah potensial menjadi lapisan pelindung canggih untuk salah satu bahan pangan paling populer di dunia. Permasalahan masa simpan yang pendek dan tingginya risiko kontaminasi bakteri pada telur menginspirasi lima orang mahasiswa untuk menciptakan solusi inovatif berbasis bahan alam. Tim dengan dosen pembimbing Apriliana Devi Anggraini,  S.Pt., M.Sc dan diketuai oleh Wirayuda Ahmad Yoga Bimantara dari Fakultas Pertanian Peternakan ini berhasil mengembangkan bio-coating. Ini merupakan lapisan pelindung alami dari ekstrak daun mangga (Mangifera Indica) yang terbukti mampu mempertahankan kualitas telur lebih lama. Penelitian yang terwadahi dalam Program Kreativitas Mahasiswa – Riset Eksakta (PKM-RE) ini menjawab tantangan besar dalam rantai distribusi telur. Kualitas telur umumnya mulai menurun drastis dan rentan terkontaminasi bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella setelah melewati hari ke-14. Solusi yang ditawarkan adalah lapisan antimikroba yang dibuat dari isolat flavonoid daun mangga golek tua, yang diketahui memiliki kandungan flavonoid tinggi. Isolat ini kemudian dicampurkan dengan kitosan untuk menghasilkan larutan pelapis. Prosesnya terbilang sederhana namun melalui tahapan ilmiah yang ketat. Setelah daun mangga diekstraksi, kandungan flavonoidnya diverifikasi melalui Uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan diperkuat dengan Uji FTIR. Tim kemudian membuat tiga variasi konsentrasi larutan pelapis, yaitu 6% (P1), 6,25% (P2), dan 6,5% (P3). Telur segar dari peternakan UMM kemudian dicelupkan ke dalam masing-masing larutan selama lima detik dan disimpan selama 14 hari. Uji coba kualitas telur yang dilaksanakan pada 26 Agustus 2025 menunjukkan hasil yang menjanjikan. Keunggulan utama dari inovasi ini terletak pada keamanannya. Metode pengawetan lain seperti penggunaan natrium silikat berisiko meninggalkan bahan kimia berbahaya. Sementara itu, penggunaan kapur dapat meninggalkan residu dan minyak kelapa dianggap relatif mahal untuk produksi skala besar. Sebaliknya, bio-coating dari daun mangga ini sepenuhnya alami, ramah lingkungan, dan terjangkau. Satu hal yang tak kalah penting, hasil uji organoleptik pada 27 Agustus 2025 membuktikan bahwa lapisan pelindung ini sama sekali tidak mengubah rasa asli telur. Tim yang diketuai oleh Wira ini berharap inovasi mereka tidak berhenti di laboratorium. “Kami berharap penelitian ini dapat bermanfaat langsung bagi masyarakat dan industri. Mengingat telur rentan terhadap kontaminasi mikroba, produk bio-coating kami menawarkan solusi yang aman dan sejalan dengan isu ramah lingkungan yang kini banyak diminati perusahaan. Dan Kami berharap dapat lolos ketahap PIMNAS.” Ujarnya. (bil/wil)

Lebarkan Sayap Internasional, UMM dan Universiti Malaysia Sabah Selenggarakan ICAS

Pertemuan mahasiswa aktivis lintas negara kini menjadi agenda nyata di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui International Conference of Asian Students (ICAS) 2025, UMM dan Universiti Malaysia Sabah (UMS) menghadirkan program pertukaran yang tidak hanya fokus pada diskusi akademik, tetapi juga pada penguatan kapasitas kepemimpinan dan jejaring organisasi kemahasiswaan. Selama empat hari, sejak 14 hingga 18 September 2025, puluhan mahasiswa aktivis UMS bersama lima dosen pendamping hadir di kampus UMM untuk saling berbagi pengalaman dan bertukar ide mengenai dinamika organisasi kemahasiswaan, khususnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Senat Mahasiswa Universitas (SEMU) di kedua universitas. Program ini menjadi kerja sama UMM dan UMS dalam ranah pengembangan kepemimpinan mahasiswa. Rangkaian kegiatan dimulai dengan konferensi internasional yang menghadirkan stadium general serta call for paper dari mahasiswa UMM maupun UMS. Para peserta mempresentasikan hasil penelitian dengan tema besar keberlanjutan, sesuai dengan tema konferensi Moving Forward for Sustainability. Dr. Ahmad Norazhar Bin Mohd. Yatim, Principal Tun Pangiran Ahmad Raffae Residential College UMS sekaligus Chairperson of MAPEK, menekankan pentingnya forum ini bagi penguatan jaringan mahasiswa Asia. Menurutnya, konferensi ini memberikan jalan berharga untuk memperkuat jaringan regional di antara mahasiswa Asia. Di sinilah wadah bertukar ide, membahas masalah global maupun regional, serta menabur benih kolaborasi yang akan menguntungkan generasi masa kini dan mendatang. Tidak hanya sebatas diskusi akademik dan organisasi, peserta juga diajak mengenal lebih dekat budaya Indonesia. Pada hari ketiga, rombongan mahasiswa UMS diajak mengunjungi sejumlah destinasi budaya dan wisata di Malang Raya, seperti kampung Topeng, candi-candi bersejarah, hingga kawasan wisata di Kota Batu. Melalui kunjungan tersebut, mereka diharapkan dapat memahami konteks sosial dan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa Indonesia. Ke depan, kerja sama ini tidak hanya berhenti pada kunjungan UMS ke UMM. Pihak panitia merencanakan adanya kunjungan balasan mahasiswa UMM ke UMS di Malaysia. Selain itu, kerja sama akan diperluas ke ranah lain, termasuk peluang credit transfer dan program peningkatan kapasitas aktivis mahasiswa di bidang kepemimpinan dan manajemen organisasi. “Harapannya, program ini bisa terus berlanjut. Bukan hanya soal silaturahmi, tapi juga wadah belajar bersama, baik dari sisi budaya, keilmuan, maupun pengembangan organisasi. Bahkan ke depan, kami ingin memperkuat kolaborasi di bidang akademik dan pengembangan kapasitas mahasiswa,” ujar Zainul Anwar, M. Psi. selaku ketua panitia pada ICAS 2025. Kolaborasi ini menjadi tonggak awal hubungan strategis antara UMM dan UMS, sekaligus membuka jalan bagi mahasiswa kedua kampus untuk memperluas wawasan kepemimpinan, memperkaya pengalaman lintas budaya, dan memperkuat jejaring internasional. (vin/wil)

Mendunia, UMM Sambut Puluhan Mahasiswa Internasional dari 21 Negara

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat posisinya sebagai kampus global. Sebanyak 47 mahasiswa internasional dari 21 negara yang berbeda secara resmi bergabung menjadi bagian dari keluarga besar UMM. Kehadiran mereka disambut hangat dalam acara welcoming ceremony for International Students yang penuh keakraban, menandai babak baru bagi atmosfer akademik kampus yang semakin kaya akan keberagaman budaya. Acara penyambutan yang berlangsung hangat ini menjadi titik awal penting bagi para mahasiswa internasional untuk menapaki perjalanan akademik mereka di UMM. Suasana penuh kekeluargaan semakin terasa melalui sambutan dari pimpinan universitas serta Kepala International Relations Office (IRO) yang menegaskan komitmen UMM sebagai rumah kedua bagi para mahasiswa dari berbagai negara. Kepala IRO UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP., dalam sambutannya menyampaikan betapa berharganya kehadiran para mahasiswa asing tersebut. “Kehadiran kalian sangat berarti karena selain mahasiswa baru, beberapa mahasiswa internasional dari angkatan sebelumnya juga turut hadir,” ujarnya dengan penuh kehangatan. Ucapan itu disambut antusias oleh para peserta, menambah nuansa kebersamaan yang erat di antara mahasiswa baru. Listiari memaparkan, 47 mahasiswa ini datang melalui berbagai jalur. Sebanyak 19 mahasiswa mengikuti program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) di tahun pertama dan 19 mahasiswa lainnya langsung masuk ke departemen masing-masing. Sisanya, sembilan mahasiswa, masih dalam perjalanan dan akan segera menyusul. Senada dengan Listiari, Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si., Kepala BIPA UMM, turut menyambut para mahasiswa dengan penuh semangat. Ia berharap momen ini bukan hanya tentang menimba ilmu, tetapi juga menjadi ajang mempererat persaudaraan lintas negara. “Di UMM, kami ingin Anda merasa seperti berada di rumah sendiri. Jadikanlah momen ini sebagai langkah awal untuk menggapai mimpi, membangun jejaring, dan mempererat persaudaraan lintas negara,” pesannya. Salah satu mahasiswa baru yang mencuri perhatian adalah Anna dari Madagaskar jurusan PGSD. Meski baru tiba, ia sudah menunjukkan antusiasme luar biasa. Ia bahkan bisa berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa Indonesia, sebuah kemampuan yang ia pelajari dari seniornya yang juga berkuliah di UMM. Anna mengaku sangat senang bisa mewujudkan mimpinya belajar di Indonesia. “Saya menyukainya karena Indonesia beragam budayanya,” ungkapnya. Saat ditanya tentang kesan pertamanya terhadap UMM dan Malang, Anna menceritakan pengalamannya dengan senyum lebar. “Saya merasa senang. Saya juga memiliki tujuan menjadi guru dengan cara mendisiplinkan diri sendiri. Orang-orang di sini (UMM) suka membantu orang internasional maupun orang lain,” katanya. Melalui kehadirannya, para mahasiswa internasional ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif, tidak hanya dari segi akademik, tetapi juga dalam memperkaya kehidupan kampus dengan perspektif global. Keberagaman yang mereka bawa menjadi bukti nyata bahwa UMM adalah kampus yang terbuka dan siap menjadi jembatan bagi para pemuda dari seluruh dunia untuk menggapai cita-cita. (ali/wil)

Ini Alasan Mahasiswa Madagaskar UMM Belajar di Indonesia

Senyum ramah, sapaan ‘mas’ atau ‘mbak’, hingga kebiasaan menundukkan kepala saat bertegur sapa—hal-hal kecil itu justru membuat Razafindrambinina Marie Anna jatuh hati pada Indonesia. Bagi mahasiswi asal Madagaskar yang kini menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sopan santun masyarakat Indonesia adalah pengalaman budaya yang tak ternilai, sekaligus alasan ia merasa benar-benar diterima di negeri orang. Keputusan Anna untuk kuliah di UMM berawal dari cerita pamannya yang pernah tinggal di Indonesia. Rekomendasi itu semakin kuat ketika ia mendengar banyak testimoni positif dari teman-temannya. “Mereka bilang UMM punya banyak mahasiswa internasional, fasilitasnya bagus, dan rankingnya juga baik. Lalu saya ditawari beasiswa penuh Summit. Itu membuat saya mantap memilih UMM dan mengambil di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP),” ujar Anna. Mahasiswa asal Madagaskar tersebut mengungkapkan jika UMM bukan hanya kampus dengan reputasi akademik, melainkan juga lingkungan yang indah. Ia mengatakan UMM punya fasilitas lebih baik dibanding universitas lain. Kampusnya luas, hijau dengan banyak pepohonan, tapi juga modern. Ia juga suka perpaduan eco-campus dengan arsitektur modern. Pengalaman pertama Anna di Indonesia adalah mengikuti Pesmaba (Pengenalan Studi Mahasiswa Baru), kegiatan tahunan untuk menyambut mahasiswa baru UMM. Baginya, Pesmaba adalah pintu masuk penting untuk mengenal kampus sekaligus budaya Indonesia. “Kesan pertama saya saat Pesmaba adalah senang sekali karena bisa bertemu banyak teman baru dalam kelompok. Saya juga ikut langsung berbagai kegiatan. Di antara semua, flash mob, konser di UMM adalah yang paling berkesan,” ujarnya. Selama seminggu tinggal di asrama menjalani P2KK, Anna belajar arti kebersamaan dalam keberagaman. Ia jadi tahu budaya yang berbeda, seperti musik tradisional, acara seni, hingga lukisan. Ia juga mengatakan jika memiliki teman yang baik dari Indonesia maupun internasional dan sangat ramah sehingga membuat ia menjadi cepat untuk beradaptasi dengan sesama. “Orang Indonesia sangat menghargai orang lain. Ada panggilan khusus seperti mas, mbak, pak, atau bu. Saat menyapa, mereka sedikit membungkuk dan selalu tersenyum. Itu hal yang sangat bagus menurut saya,” katanya. Meski jauh dari keluarga, Anna tetap memelihara semangatnya. Ia sadar bahwa perjalanannya di UMM adalah langkah besar untuk mewujudkan mimpi. “Harapan saya, bisa beradaptasi dengan baik, belajar sungguh-sungguh, dan kelak menjadi guru yang bukan hanya mengajar, tetapi juga membimbing dengan hati,” ujarnya. Anna adalah salah satu potret nyata bagaimana UMM bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan jembatan bagi mahasiswa internasional untuk menjemput mimpi. Dari Madagaskar ke Malang, perjalanannya adalah kisah tentang keberanian, persahabatan, dan keyakinan bahwa pendidikan mampu melampaui batas negara. (vin/wil)

RBC UMM dan Kak Seto Jadi Daya Tarik di Festival Literasi

Pegiat anak nasional Seto Mulyadi bersama RBC Institute A. Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut memeriahkan Festival Literasi Renjana Amerta Carita di Wisata Sumber Sira, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, 12–14 September 2025. Kehadiran keduanya menegaskan komitmen nyata dalam memperingati International Literacy Day (ILD) 2025. RBC menghadirkan Mobil Terbang (Bakti Terhadap Bangsa), mobil perpustakaan keliling yang membawa ratusan koleksi buku anak. Selama tiga hari, mobil ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang bermain literasi bagi anak-anak dan keluarga. Sejumlah pengunjung menyambut antusias. Uswah, guru pendamping peserta lomba mendongeng, mengaku anak didiknya begitu antusias saat berkunjung ke Mobil Terbang. “Biasanya anak-anak lebih betah melihat handphone, tapi di sini dia betah membaca. Bahkan minta saya untuk ikut datang lagi besok. Bagi kami, ini pengalaman berharga,” tuturnya. Sementara itu, Kak Seto tampil dengan gaya khasnya, menyapa anak-anak penuh keceriaan dan mengingatkan pentingnya menumbuhkan minat baca sejak dini. Didukung penampilan seorang ventriliquist, suasana festival semakin riuh penuh tawa. “Festival literasi seperti ini memberi ruang bagi anak-anak untuk bertemu buku sekaligus menemukan kegembiraan. Kami dengan senang hati berpartisipasi dan berharap Mobil Terbang dapat menjadi jembatan literasi yang dekat dengan masyarakat,” ujar Subhan Setowara, Direktur Eksekutif RBC Institute. Rangkaian kegiatan festival semakin kaya dengan pertunjukan seni anak, lomba mendongeng, hingga lomba mewarnai. Semua dirancang untuk menumbuhkan kepercayaan diri, kreativitas, serta kecintaan pada bacaan. Kehadiran Mobil Terbang RBC memperkuat suasana dengan menyediakan bacaan yang bisa langsung dinikmati anak-anak di lokasi. Subhan menegaskan, RBC akan terus memperluas jangkauan Mobil Terbang ke berbagai wilayah. “Literasi adalah pintu masa depan, dan setiap anak berhak atas akses itu. Karena itu, Mobil Terbang akan terus bergerak menghadirkan bacaan di tengah masyarakat,” ujarnya. Kolaborasi Kak Seto dan RBC Institute dalam festival ini menjadi penanda penting bahwa gerakan literasi tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan komunitas, akademisi, orang tua, serta pegiat anak nasional adalah kunci agar literasi benar-benar tumbuh sebagai budaya bersama. (*/wil)

Mahasiswa UMM Kembangkan CryoSynctive, Teknologi Plasma Penyembuhan Luka Diabetes

Meningkatnya kasus diabetes di Indonesia membawa tantangan besar, s alah satunya adalah penanganan luka kronis yang sulit sembuh. Di tengah permasalahan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir dengan inovasi menjanjikan. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), mereka menciptakan alat bernama CryoSynctive: Perangkat Nonthermal Plasma Berbasis Edge AI dan IoT untuk Penyembuhan Luka Kronis pada Pasien Diabetes. CryoSynctive merupakan prototipe alat kesehatan dari PKM-KC (Karya Cipta) yang dikembangkan oleh mahasiswa UMM. Ide ini dicetuskan oleh Fikri Yuda Pranata bersama tim beranggotakan lima orang dengan latar belakang beragam tiga mahasiswa teknik mesin, satu fisioterapi, dan satu biologi. Mereka dibimbing oleh dosen Andinusa Rahmandhika, S.T., M.Eng. yang berperan aktif memberikan arahan teknis, memperkuat metodologi, sekaligus memastikan rancangan alat sesuai standar keamanan medis. “Kami melihat ada celah di mana terapi luka yang ada saat ini seringkali kurang efisien dan mahal. Maka, kami mencoba menggabungkan metode terapi plasma yang sudah ada dengan teknologi terkini untuk menciptakan solusi yang lebih baik,” jelas Fikri. Cara kerja CryoSynctive dirancang agar mudah digunakan. Prinsip dasarnya seperti printer. Jadi, tangan atau kaki pasien yang luka dimasukkan ke dalam alat tersebut, lalu alat akan secara otomatis memetakan titik-titik luka yang ada. Proses ini dimulai dengan kamera termal yang memindai dan memetakan koordinat luka. Data tersebut kemudian dianalisis oleh sistem Edge AI di dalam alat. Setelah luka terpetakan, perangkat akan bergerak secara otomatis ke posisi luka dan menyinari area tersebut dengan Nonthermal Plasma. Nonthermal plasma bekerja dengan menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS) dan Reactive Nitrogen Species (RNS). Molekul-molekul reaktif ini berfungsi ganda yaitu membasmi bakteri dan mikroorganisme patogen, serta merangsang pertumbuhan sel-sel baru dan perbaikan jaringan. Proses ini juga disesuaikan dengan kedalaman luka pasien yang bervariasi. “Kami sudah membuat sistemnya semi-otomatis, jadi jika pasien tiba-tiba bergerak, alatnya akan berhenti secara mandiri untuk menjaga keamanan,” kata Fikri. Saat ini, CryoSynctive sudah mencapai sekitar 60% penyelesaian dengan fokus pada perakitan dan pemrograman. Tim juga merencanakan tahap uji coba terbatas sebelum pengembangan menuju tahap klinis. Harapannya, alat ini tidak hanya menjadi karya inovasi mahasiswa, tetapi juga bisa dipatenkan dan dikembangkan lebih lanjut sebagai produk medis yang dapat digunakan di rumah sakit maupun klinik. Keunggulan utama CryoSynctive terletak pada integrasi Nonthermal Plasma dengan teknologi terkini. Terapi plasma ini masih jarang digunakan di Indonesia karena sebagian besar penelitian baru sebatas laboratorium. Dibandingkan dengan terapi vakum atau ozon yang lebih umum, CryoSynctive menghadirkan pendekatan berbeda yang lebih cepat dan akurat. Selain itu, integrasi Edge AI dan IoT membuat alat ini lebih unggul. AI memberikan analisis luka yang presisi, sementara IoT memungkinkan data terapi tersimpan otomatis dan dikirim ke dashboard tenaga medis. Dengan begitu, dokter dapat memantau perkembangan pasien secara jarak jauh, melihat riwayat terapi digital, dan menerima notifikasi real-time jika terjadi anomali. Fitur ini juga membuka peluang pengembangan telemedicine yang semakin relevan di era digital. “Saya berharap alat ini bisa membuka peluang terapi baru yang lebih efektif dan efisien, serta membantu meringankan beban pasien maupun tenaga medis. CryoSynctive dirancang untuk mempermudah, bukan menggantikan, peran tenaga medis,” tegasnya. (ali/wil)

Ara, Maba Berprestasi UMM yang Menangi Kejuaran Nasional hingga Internasional

Keterbatasan postur tubuh tidak menjadi penghalang bagi Nayla Auvara Izzetiyya untuk mengukir prestasi gemilang di panggung seni pertunjukan pencak silat dan tapak suci. Mahasiswi baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 ini telah membuktikan bahwa dedikasi dan fokus adalah kunci utama kesuksesan. Ia juga menjadi salah satu mahasiswa baru berprestasi yang bergabung dengan Kampus Putih. Nayla, yang akrab disapa Ara, merupakan mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Di balik statusnya sebagai mahasiswa baru, ia adalah seorang atlet dengan segudang prestasi di cabang pencak silat seni, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ara memilih fokus pada kategori seni (peragaan jurus) karena postur tubuhnya tidak memenuhi kualifikasi kelas pada kategori tanding (sabung). “Kategori seni tidak memiliki aturan postur tubuh seperti berat atau tinggi badan, sehingga saya bisa fokus sepenuhnya untuk menampilkan keindahan gerakan,” jelasnya. Pilihan tersebut terbukti tepat. Ara berhasil meraih berbagai kejuaraan bergengsi, antara lain, Peringkat Pertama Seni Tunggal Putri (SMA) – Indonesia Paku Bumi Open 12th 2024 (Tingkat Asia-Eropa), Juara 1 Seni Tunggal Putri Tangan Kosong – Dandim Cup Kota Malang 2024 (Nasional), Juara 1 Seni Tunggal Putri Tangan Kosong – Ipsi Malang Championship 4 2024 (Nasional), hingga Juara 2 Seni Tunggal Putri Bersenjata – Ipsi Malang Championship 2 2023 (Nasional). Terbaru, ia menyabet Juara 1 Kategori Tunggal Putri Tangan Kosong Dan Bersenjata Pada Ajang 8th Invitasi Tapak Suci Open Ismail Navianto Cup 2025 Tingkat Provinsi. Kecintaan Ara pada pencak silat dimulai sejak kelas 3 SD, berawal dari keisengan semata. Meski perjalanannya tidak selalu mulus, ia sempat beralih ke cabang atletik saat SMP sebelum akhirnya kembali ke pencak silat di jenjang Madrasah Aliyah (MA). Dedikasinya tecermin dari jadwal latihannya yang intens. “Mendekati sebuah event, saya berlatih setiap hari dari sore hingga pukul sembilan atau sepuluh malam,” ungkap gadis asli Malang ini. Lebih dari sekadar mengejar kemenangan, Ara memiliki filosofi yang unik dalam setiap kompetisi. Tujuan utamanya bukan untuk sekadar menang, tetapi untuk mengalahkan versi dirinya yang kemarin. Untuk mewujudkan filosofi itu, ia selalu merekam setiap penampilannya sebagai bahan evaluasi. “Salah satu kelemahan saya adalah keseimbangan kaki yang terkadang kurang stabil. Dengan evaluasi rutin, saya terus memperbaikinya,” tambahnya. Pada kompetisi terakhirnya, ia menampilkan Jurus Tapak Suci yang disusun bersama pelatihnya. Ia menjelaskan ketatnya aturan, seperti durasi tampil yang harus tepat 2 menit. Apabila ada lebih atau kurang 10 detik maka dapat berujung diskualifikasi. Selain itu, poin dapat dikurangi jika terjadi kesalahan gerakan atau penggunaan aksesori yang dilarang. Dalam penampilannya, ia secara apik memadukan gerakan tangan kosong dengan kelihaian menggunakan tiga senjata: kipas ganda, karambit, dan tongkat kalif. Ketika ditanya mengenai kesan terhadap rangkaian pembukaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM 2025, Ara tampak antusias. Sebagai mahasiswa baru, ia mengaku sangat terkesan dengan kemeriahan acara yang disajikan. Menurutnya, rangkaian pertunjukan yang ditampilkan mampu memberikan semangat sekaligus pengalaman berkesan di awal perjalanannya sebagai mahasiswa. “Secara keseluruhan sangat asyik, terutama saat Flash Mob dan Laser Show. Ditambah lagi kehadiran maskot SwanUMM,” ujarnya. Menutup perbincangan, Ara menitipkan pesan untuk rekan-rekan mahasiswa baru seangkatannya. Ia berpesan agar tetap berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan, menjaga semangat hingga penutupan Pesmaba, serta menjadikan masa orientasi ini sebagai awal yang positif. (bil/wil)

Meriah, Ghea Indrawari dan Aci Resti Tutup Pesmaba UMM

Penutupan Pesmaba Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kian semarak dengan hadirnya penampilan spesial dari penyanyi muda berbakat, Ghea Indrawari. Dentuman musik dan lantunan suara merdunya membuat suasana Dome UMM bergemuruh penuh semangat sekaligus haru, 12 September 2025 ini. Lewat lagu-lagu andalan seperti Jiwa yang Bersedih, Manusia Paling Bahagia, hingga Teramini  Ribuan mahasiswa baru larut dalam sorak dan tepuk tangan, menutup rangkaian Pesmaba dengan kenangan indah yang sulit dilupakan. Dalam salah satu bait lagunya Teramini, Ghea menyampaikan pesan penuh motivasi ‘Ingin menyerah, namun hati kecilku terus berbisik. Bertahanlah, ingat kau sudah sampai sejauh ini’. Untaian kata itu menjadi simbol keteguhan hati dan semangat baru bagi mahasiswa UMM yang akan memulai perjalanan akademiknya. Penampilan Ghea pun menutup acara dengan kesan hangat, optimis, dan membekas di hati seluruh peserta. Selain itu, UMM juga menghadirkan Talk Show Inspirasi Pesmaba dengan menghadirkan komika sekaligus aktris, Aci Resti. Kehadirannya di Kampus Putih, berhasil memantik semangat ribuan mahasiswa baru yang akan menempuh perjalanan akademik empat tahun ke depan. Pemeran Prita dalam Film Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan itu menceritakan perjalanan karirnya. Berawal sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan peminatan Broadcasting, Ia justru menemukan panggilan hati di dunia stand up comedy. Disitulah Ia menemukan dunianya. Aci mengaku sempat menjadi introvert dan takut suaranya tak terdengar. Melalui stand up comedy, kata-kata dan pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dan didengar dengan caranya sendiri. “Padahal aku pemalu banget. Suara cempreng sering diledekin, tapi justru dari sana aku belajar percaya diri. Pertama kali naik panggung tahun 2015, rasanya deg-degan luar biasa. Tapi kuncinya, terus berani dan jam terbang,” ungkapnya. Aci juga membagikan tips public speaking, terutama bagi mahasiswa ‘introvert’. Menurutnya, kepercayaan diri bisa dilatih dengan niat, persiapan matang, serta berani mencoba. Kita yang menentukan identitas diri sendiri. Kelak, badai, tantangan, dan rintangan dihadapan akan datang. Tetap pegang teguh prinsip hidup dan jangan mudah terbawa arus adalah kunci. Lewat kisah dan pengalamannya, Aci mengajak mahasiswa baru UMM untuk terus menggali potensi, berani mencoba hal baru, dan menjadikan setiap proses sebagai pijakan menuju masa depan. Menjadi mahasiswa adalah suatu kebanggaan, sekaligus kesempatan besar untuk menentukan masa depan. Di sisi lain, penutupan meriah itu disambut baik oleh para mahasiswa baru UMM, termasuk Muhammad Rizki yang merupakan mahasiswa teknologi pangan. Menurutnya, sajian tampilan dari UMM ini menjadi penyemangat bagi maba untuk menagwali perkuliahan. Proses pembukaan bersama Wamen Diktisaintek, acara inti, hingga penutupan Pesmaba dengan Ghea serta Aci Resti sangat membekas di pikirannya. “Pesmaba gen 25 ini benar-benar memberikan semangat bagi kami untuk memulai perkuliahan di UMM. Semoga perjalanan studi kami lancar dan diberi kesuksesan di masa depan,” kata mahasiswa asal Bandung itu. (din/wil)

Haedar Nashir di Penutupan Pesmaba UMM: Jadilan Manusia Unggul yang memiliki Akhlak

Indonesia boleh bangga dengan ribuan kampus dan jutaan mahasiswa baru setiap tahunnya. Namun, pertanyaan besarnya adalah, apakah semua itu otomatis melahirkan generasi berkarakter? Pertanyaan itulah yang seakan dijawab oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., saat penutupan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara yang dilaksanakan pada 12 September itu diikuti oleh ribuan mahasiswa baru Kampus Putih. “Bangsa ini tidak akan kuat hanya dengan infrastruktur atau teknologi canggih, tapi dengan akhlak manusianya. Ilmu tanpa iman akan melahirkan kesombongan, sementara iman dan akhlak menjadikan hidup bermakna. Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya. Ia juga mengingatkan mahasiswa baru agar mengubah cara pandang tentang pendidikan tinggi. Menurutnya, kuliah di UMM adalah bagian dari mata rantai perjuangan Muhammadiyah yang diakui dunia, bukan sekadar pilihan pragmatis. “Jangan pernah merasa kuliah di tempat lain lebih tinggi. Kampus ini telah melahirkan tokoh-tokoh nasional yang diambil negara karena keilmuan dan integritasnya,” ujarnya. Hal serupa juga ditegaskan Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. Ia menekankan bahwa tantangan mahasiswa kini tidak hanya datang dari ruang kuliah, tetapi juga dari derasnya arus digitalisasi dan pergaulan bebas. Menurutnya, banyak mahasiswa di Indonesia terjebak dalam gaya hidup konsumtif, rendahnya literasi, hingga sikap apatis terhadap masalah bangsa. “Kalau Anda hanya sibuk pada kesenangan sesaat, Anda akan menjadi generasi yang hilang arah. Mahasiswa harus kritis, punya daya saing, tapi tetap berpijak pada nilai agama dan etika. Jangan biarkan lingkungan digital atau pergaulan salah arah merampas masa depan Anda,” ujarnya. Suasana penutupan semakin hidup dengan kesan dari mahasiswa baru. Avdila Ayurahmadani, mahasiswa Ilmu Keperawatan asal Blitar, mengaku mendapatkan pengalaman berharga selama Pesmaba. “Seru banget, karena Pesmaba UMM ini berbeda dari yang lain. UMM juga inovatif dalam mengemas acara, apalagi selalu menghadirkan bintang tamu spesial di akhir sehingga penutupan terasa lebih meriah. Harapannya, aku bisa survive di sini, punya teman yang mengerti, terus belajar mengembangkan soft skill maupun hard skill, dan betah di Malang tanpa homesick,” ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan pentingnya rasa bangga berkuliah di UMM. “Selamat datang di Kampus Putih. Jadilah generasi unggul yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menjunjung nilai kemanusiaan dan keislaman. Kebanggaan itu akan menentukan cara Anda berprestasi,” ucapnya. Dengan berakhirnya Closing Ceremony Pesmaba bertema ‘Generasi Penguat Ketahanan Pangan dan Energi Negeri’, ribuan mahasiswa baru UMM resmi memulai langkah akademiknya. (vin/wil)

Kaji UU TNI, Mahasiswa Hukum UMM Menangi Ajang Debat Nasional

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim debat “Ki Hadjar Dewantara” yang beranggotakan Nanda Deshinta M.P, Ahmad Munawwir Al Ihsan, dan Reskhy Mulydar angkatan 2024 dari Program Studi Hukum berhasil meraih Juara 2 pada ajang nasional Law Fest Vol. 2, Agustus lalu. Dengan mengusung tema besar perlombaan ‘Reformasi Hukum Menuju Indonesia Emas’, kompetisi ini mempertemukan tim-tim debat terbaik dari berbagai universitas di Indonesia. Tim UMM yang seluruh anggotanya merupakan mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2024 tampil sebagai salah satu finalis setelah melewati serangkaian seleksi ketat. Format perlombaan menggunakan sistem debat Asian Parliamentary, yang membagi peran tiap pembicara mulai dari landasan filosofis, juridis, hingga sosiologis. Reskhy Mulydar, selaku ketua delegasi mengatakan saat final, mereka ada di posisi kontra atas mosi ‘Legalisasi Peran Militer dalam Sektor Non-pertahanan melalui Revisi UU TNI berpotensi mengancam prinsip-prinsip HAM’. Perjalanan menuju final bukan tanpa tantangan. Setelah babak penyisihan yang berlangsung secara daring pada, tim Ki Hadjar Dewantara harus melawan tiga tim berbeda dalam satu chamber sebelum akhirnya melaju ke semifinal dan final secara luring. “Kendala terbesar ada pada keterbatasan waktu riset, terutama ketika menghadapi mosi final yang bersifat impromptu. Kami hanya diberi 15 menit untuk mencari rujukan di podium, jadi sempat merasa tertekan,” katanya. Meski begitu, kerja keras mereka membuahkan hasil. Tim UMM berhasil menempati posisi Juara 2 dengan selisih tipis 10 poin dari lawan, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh anggota tim. Persiapan intensif yang mereka lakukan, mulai dari riset jurnal hingga berlatih membangun argumen pro dan kontra dari delapan mosi yang diberikan, terbukti menjadi bekal penting di panggung debat nasional tersebut. Selain prestasi, pengalaman ini juga memberikan pelajaran berharga bagi para mahasiswa. Menurutnya, kunci utama dalam tim debat bukan hanya riset yang matang, tetapi juga kekompakan. “Hal yang paling perlu dipersiapkan adalah chemistry antaranggota. Kita tidak boleh mementingkan ego masing-masing, karena debat itu kerja sama,” ujar Reskhy. Tak berhenti di situ, Ia dan tim yang aktif dalam komunitas riset dan debat UMM menargetkan prestasi lebih besar ke depan. Tahun ini, ia menargetkan bisa mengumpulkan lima trofi dari berbagai ajang, dengan tiga di antaranya sudah berhasil diraih. Inspirasi terbesar baginya datang dari buku Limitless Mind karya Jo Boaler. Salah satu kutipan yang ia pegang erat adalah bahwa ‘Hambatan terbesar untuk perubahan positif adalah keraguan pada diri sendiri.” Dari sanalah motivasinya dan tim terus tumbuh untuk menorehkan prestasi, membanggakan diri, universitas, dan almamater UMM di kancah nasional. (bil/wil)