Sempat Tak Ada Biaya, Wisudawan UMM Malah Jadi Wisudawan Berprestasi

Dinobatkan sebagai lulusan berprestasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ternyata menyimpan sebuah cerita perjuangan yang luar biasa. Ayu Suryandari, gadis asal Bengkulu, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah tembok penghalang untuk meraih segudang prestasi. Ia, seorang anak petani yang dibesarkan di tengah kebun, berhasil menaklukkan tantangan dan mengukir namanya dengan tinta emas di almamaternya. Perjalanan Ayu di Kampus Putih tidak dimulai dengan mudah. Lahir dari keluarga petani dengan ekonomi menengah ke bawah, tantangan finansial menjadi rintangan pertama yang harus dihadapinya. Kegalauan akan biaya kuliah sempat membayangi mimpinya, namun semangatnya untuk menimba ilmu di tanah Jawa jauh lebih besar. Ayu tidak menyerah. Di sela-sela kesibukan akademisnya, ia rela bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi demi menambah uang saku dan meringankan beban orang tuanya. Bahkan ia sempat bingung karena tidak ada biaya ketika menginjak semester tiga. Beruntung, berkat berbagai informasi dan peluang beasiswa di UMM, ia mampu melanjutkan kuliah. Titik terang mulai muncul ketika Ayu mendapatkan Beasiswa Bakti Tani dari Yayasan Khow Kalbe. Beasiswa dengan syarat utama merupakan anak petani, berkuliah di jurusan pertanian, dan memiliki IPK di atas 3,5, membuat Ayu percaya diri mendaftar dan berhasil lolos. Beasiswa tersebutlah yang menopang biaya pendidikannya, sehingga membuatnya lebih fokus dalam perkuliahan dan prestasi. Dan prestasi itu datang silih berganti. Sejak menjadi mahasiswa baru, Ayu sudah menunjukkan taringnya dengan masuk melalui jalur prestasi non-akademik dan meraih penghargaan UMM Students Awards 2021. Keaktifannya berlanjut di dunia organisasi, mulai dari menjabat sebagai Sekretaris Bidang Organisasi HMPS Agribisnis, Bendahara Umum Senat Mahasiswa, hingga menjadi Sekretaris di UKM Business Entrepreneur. Tak hanya di bidang organisasi, Ayu juga unjuk gigi dalam berbagai kompetisi dan program bergengsi. Ia menjadi bagian dari Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) yang lolos hingga ke ajang Abdidaya Nasional 2023, serta berhasil lolos Insentif Program Kreativitas Mahasiswa Artikel Ilmiah (PKM AI) 2024 yang artikelnya terbit di jurnal terindeks Sinta 3. Pengalaman internasional pun ia jajaki melalui program International Company Visit ke Singapura. Motivasi terbesar Ayu berakar kuat dari tanah kelahirannya. Keprihatinannya melihat fluktuasi harga hasil pertanian yang kerap merugikan para petani di desanya menjadi alasan utama ia memilih jurusan Agribisnis. Meskipun tak jarang menerima cemoohan karena memilih jurusan pertanian meski telah merantau jauh ke Pulau Jawa, tekadnya tak goyah. “Kalau saya bisa kuliah pertanian, siapa tahu saya bisa memajukan minimal pertanian di daerah saya,” ungkap Ayu dengan sorot mata penuh harapan, menjelaskan cita-cita mulianya. Kini, setelah menyelesaikan studi sarjananya, Ayu tidak berhenti. Ia melanjutkan pendidikannya melalui program fast track dan sudah memasuki semester kedua di Agribisnis UMM. Harapannya sederhana, yaitu menyelesaikan pendidikan dan kembali untuk mengimplementasikan ilmunya, membawa mimpi yang lebih besar untuk tanah kelahirannya. “Berharapnya dengan saya mendapatkan fasilitas pendidikan yang lebih baik, harapannya juga saya bisa membawa mimpi yang lebih besar saat nanti pulang,” ucapnya. (bil/wil)
Mahasiswa UMM Kembangkan Teknologi Augmentarium Atasi Hama Jeruk

Menghadapi tantangan pertanian di era modern, inovasi menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas. Ini bukan sekadar teori, melainkan aksi nyata yang diwujudkan oleh tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang beranggotakan 12 orang. Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2025, mereka memperkenalkan teknologi Augmentarium dan konservasi parasitoid berbasis IoT 5.0 untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas jeruk. Program ini dilaksanakan di Desa Bocek, Kabupaten Malang, sejak Juli lalu. Proyek ambisius ini tidak hanya bertujuan menekan populasi hama, tetapi juga menciptakan ekosistem pertanian yang lebih berkelanjutan. Program yang didanai Kemenristek Dikti ini berawal dari permasalahan yang dihadapi petani jeruk di Desa Bocek yang merupakan sentra produksi jeruk terbesar di Malang. Meski memiliki produksi melimpah, kualitas jeruk di desa tersebut kerap kali rendah akibat serangan hama lalat buah. Hal ini diungkapkan oleh salah satu anggota tim, M. Ahdi Furqon yang akrab disapa Ahdi. “Kami memilih Desa Bocek karena merupakan sentra produksi jeruk terbesar di kota Malang. Banyak produksi yang melimpah, tetapi kualitas jeruknya itu masih banyak yang jelek dan pohon-pohon banyak yang terkena serangan,” terang Ahdi. Melihat kondisi ini, tim berinisiatif mencari solusi inovatif yang dapat mengurangi kerugian petani. Setelah berdiskusi dengan Kelompok Tani Tri Rejeki, mereka menemukan bahwa masalah utama terletak pada buah jeruk yang rontok akibat serangan hama lalat buah. Untuk mengatasi masalah tersebut, tim menciptakan Augmentarium. Teknologi ini bekerja dengan cara mengumpulkan buah-buah jeruk yang terserang lalat buah ke dalam sebuah bangunan khusus. Desain bangunan ini dibuat agar parasitoid, musuh alami lalat buah dapat keluar dan menyebar ke kebun akan tetapi lalat buah terperangkap di bangunan tersebut. “Teknologi Augmentarium sendiri itu adalah teknologi yang mana kita mengkarantina atau mengisolasi buah-buah yang terkena serangan lalat buah,” jelas Ahdi. Proses ini memungkinkan tim untuk mengkonservasi parasitoid, yaitu membudidayakan musuh alami lalat buah di lingkungan yang terkontrol. Uniknya, teknologi ini diintegrasikan dengan sistem IoT 5.0. Ini memungkinkan tim memantau kondisi suhu dan kelembapan secara real-time. Hal ini memastikan lingkungan di dalam Augmentarium optimal bagi perkembangbiakan parasitoid. Adapun Ahdi mentakan, program tersebut tidak akan berjalan tanpa bimbingan dan dukungan dari dosen pembimbing, Ilmam Zul Fahmi, S.P., M.Sc. Ia merupakan dosen yang sangat aktif dan berdedikasi. “Pak Ilmam juga sering berkunjung dan mengarahkan mengenai bagaimana cara kita menggunakan jurnal, bagaimana cara kita membuat modul, bagaimana cara kita melobi-lobi ke kelompok tani yang lain, dan masih banyak lagi,” tutur Ahdi. Kehadiran program yang telah mencapai 90% penyelesaian ini telah memberikan dampak nyata bagi petani. Selain mendapatkan modul dan panduan teknis, petani juga memperoleh pengetahuan baru tentang pentingnya musuh alami dalam ekosistem pertanian. Jangka panjangnya, program ini diharapkan dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia, menciptakan pertanian yang lebih ramah lingkungan, dan meningkatkan kualitas serta kuantitas panen jeruk. Proyek ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga mampu mengaplikasikan ilmu untuk memecahkan masalah di masyarakat. Dengan dukungan penuh dari UMM, dosen, dan masyarakat desa, inovasi ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan pertanian berkelanjutan di daerah lain. (ali/wil)
Pesan OJK Pusat untuk Wisudawan UMM, Berdayakan UMKM dan Inovasi Pembiayaan Digital

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatat momen penting dengan menggelar Wisuda ke-119 pada Kamis, 28 Agustus 2025. Ribuan wisudawan dari berbagai fakultas resmi dilepas untuk mengabdi di masyarakat. Momentum akademik ini kian bermakna dengan hadirnya Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Prof. Dr. Agusman, S.E., Akt., MBA., Ph.D. Selain memotivasi para mahasiswa, ia juga menyampaikan orasi ilmiah mengenai pembiayaan digital. Hal menarik juga disuguhkan dalam wisuda tersebut. Belasan mahasiswa asing menunjukkan kebolehan dengan ikut bergabung dengan tim gamelan dan membawakan sederet lagu tradisional. Mereka membawakan tiga lagu yakni Suwe Ora Jamu, Mentok, dan Gundul-gundul Pacul. Hal ini membuat para tamu bertepuk tangan akan tampilan tersebut. Dalam paparannya, Agusman menegaskan bahwa keuangan global tengah mengalami transformasi besar akibat perkembangan teknologi digital. Layanan pembiayaan kini tidak lagi terbatas pada perbankan konvensional, tetapi merambah ke model peer-to-peer lending dan platform digital lain yang lebih cepat, mudah, dan murah. Data per Juni 2025 menunjukkan, pembiayaan digital telah melibatkan lebih dari 160 juta pengguna dengan nilai penyaluran menembus Rp83 triliun. Menurutnya, fenomena ini membuka peluang besar bagi inklusi keuangan, khususnya bagi UMKM yang selama ini kesulitan memperoleh akses pembiayaan. Namun, di sisi lain terdapat tantangan yang tidak bisa diabaikan, mulai dari risiko gagal bayar, lemahnya literasi keuangan, hingga ancaman kebocoran data dan kejahatan siber. “Digitalisasi keuangan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan. Generasi muda harus harus hadir sebagai penggerak inovasi agar pembiayaan digital memberi manfaat. Dengan ilmu dan keberanian, tantangan bisa diubah menjadi peluang untuk memberdayakan UMKM, mendorong ekonomi hijau, dan memperkuat keuangan syariah,” ungkapnya. Sambutan positif juga datang dari Prof. Erwin Akib, M.Pd., Pd.D. anggota Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang hadir mewakili PP Muhammadiyah. Ia menyampaikan bahwa capaian UMM dalam berbagai bidang merupakan bukti nyata komitmen kampus ini untuk terus bertransformasi menjadi universitas kelas dunia. Menurutnya, akreditasi unggul dan inovasi penyelesaian studi melalui karya monumental tanpa skripsi adalah langkah progresif yang mencerminkan keberanian UMM dalam merespons kebutuhan zaman. “Keberhasilan UMM bukan hanya milik institusi, melainkan juga menjadi kebanggaan Persyarikatan Muhammadiyah. UMM telah menunjukkan diri sebagai kampus yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga menanamkan karakter Islami. Alumni UMM diharapkan mampu menjadi pionir perubahan, menghadirkan solusi bagi masyarakat, dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan para wisudawan harus menjadi pribadi thrivers yang tangguh secara emosional, kuat secara mental, dan mampu memberi makna dalam setiap langkah kehidupan. Menurutnya, generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam mengarahkan perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Pentingnya integritas dan kecerdasan digital di tengah perubahan yang serba cepat. Ia menilai bahwa alumni UMM harus menjadi agen inovasi yang tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga berkontribusi bagi kemaslahatan masyarakat. “Perubahan zaman menuntut adaptasi cepat, visi jauh ke depan, dan semangat untuk terus belajar,” pungkasnya. (vin/wil)
Pesmaba UMM Belum Dimulai, Gen 25 Digoyang Ndarboy Genk

Ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) padati helipad pada 27 Agustus 2025. Mereka siap menyambut Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM dengan asyik bernyanyi dan berjoget bersama guest star, Ndarboy Genk. Terhitung, 10 lagu dibawakan Ndarboy Genk untuk menghibur para mahasiswa baru. Adapun ini menjadi agenda pra sebelum memasuki Pesmaba UMM bagi para mahasiswa baru yang akan dilaksanakan awal September nanti. Sebelum konser dimulai, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik juga secara langsung meluncurkan beasiswa pendidikan Indonesia Emas untuk para generasi muda. Terutama mereka yang memiliki potensi dan siap ditempa UMM untuk menjadi pemimpin masa depan. Ndarboy Genk mengawali aksi panggungnya dengan berbagai lagu seperti Ambyar, Pergi Pagi, Lanang Tenan, dan lainnya. Bahkan mereka juga mengajak penonton untuk menari bersama mengiringi lagu yang dibawakan. “Untuk para mahasiswa baru, belajar yang serius, jangan banyak main. Semoga kuliahnya lancar hingga skripsinya selesai,” kata vokalis Ndarboy Genk, Helarius Daru. Sebelum menyanyikan beberapa lagu terakhir, Rektor Nazar juga sempat menyematkan almamater UMM kepada vokalis Ndarboy Genk. Kemudian ikut menari bersama para wakil rektor sehingga membuat para peserta smeakin ramai dan riuh. “Konser ini menjadi bentuk syukur karena UMM kedatangan Gen 25 UMM, para mahasiswa baru yang akan menimba ilmu di kampus putih tercinta ini. Walaupun di tengah hujan rintik, tapi saya lihat semangat saudara terus menyala. Selamat datang di UMM dan bersiaplah mengikuti Pesmaba,” kata Nazar. Di sisi lain, salah satu mahasiswa baru Angel mengungkapkan rasa senangnya bisa bergabung menjadi keluarga besar UMM. Menurutnya, mengawali dunia perkuliahan dengan seru dan menyenangkan, membuatnya semakin bersemangat. Apalagi ia juga baru saja menjadi bagian dari Digital Team Kampus Putih. “Rasanya seneng banget bisa jadi mahasiswa UMM. Apalagi pihak kampus menyambut kami dengan sangat meriah. Cuma di UMM, pembukaan ospeknya seseru ini. Bahkan ini belum ospek Pesmaba, tapi sudah seasyik ini. Saya semakin tidak sabar untuk menyambut Pesmaba UMM 2025 dan menjadi Gen 25,” kata mahasiswa jurusan Hubungan Internasional itu. (wil)
FDI UMM Atasi Masalah Eceng Gondok hingga Jadi Produk Bernilai

Desa Kaumrejo kini tidak hanya dikenal sebagai desa dengan potensi alam yang besar, tetapi juga sebagai pionir dalam mengubah limbah menjadi berkah. Berkat inisiatif dari UKM Forum Diskusi Ilmiah (FDI) Universitas Muhammadiyah Malang melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa), hadir sebuah gerakan inovatif yakni ‘Rumah Inovasi Wirausaha berbasis Eceng Gondok’. Program yang diketuai oleh Azli Julianto ini telah berlangsung sejak Juli dan akan terus digulirkan hingga Desember 2025. Fokus utamanya adalah memberdayakan masyarakat desa melalui pengolahan eceng gondok menjadi produk bernilai ekonomi tinggi seperti briket bahan bakar, pupuk organik, hingga kerajinan tangan. “Tujuan utama kami adalah membentuk ekosistem wirausaha baru yang berkelanjutan di Desa Kaumrejo, dengan menjadikan eceng gondok sebagai solusi, bukan masalah,” ujar Azli. Desa Kaumrejo dipilih sebagai lokasi utama karena memiliki permasalahan serius dengan penyebaran eceng gondok di waduk desa. Tanaman gulma ini telah menutupi sekitar 150 hektare atau 20% dari luas waduk, menghambat aktivitas masyarakat, terutama nelayan. Melalui pendekatan kreatif, kelompok FDI menghadirkan pelatihan-pelatihan intensif yang melibatkan ibu-ibu PKK, karang taruna, BUMDes, hingga mitra lokal. Salah satu momen paling menarik adalah Workshop Briket Eceng Gondok yang digelar di Posko PPK Ormawa FDI, yang dihadiri oleh lebih dari 90% anggota kelompok Wirausaha Baru. Mereka diajarkan langsung cara membuat briket dari campuran arang eceng gondok, parafin, tepung kanji, dan air. Menghasilkan briket yang lebih hemat, ramah lingkungan, tahan lama, dan tentunya bernilai jual tinggi. “Selama ini eceng gondok dianggap sebagai pengganggu. Tapi lewat inovasi ini, kami melihat potensi luar biasa untuk menjadikannya sebagai sumber energi alternatif,” ujarnya. Manfaat program ini sangat dirasakan oleh masyarakat. Hera, salah satu peserta pelatihan, menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka matanya akan nilai ekonomi dari eceng gondok. Ia mengaku optimis, produk seperti briket dan kerajinan bisa menjadi tambahan penghasilan yang nyata bagi keluarga. “Program ini membuka wawasan kami. Eceng gondok kini tak lagi jadi limbah, tapi bisa jadi energi baru dan peluang usaha nyata,” ungkapnya. Tak hanya menyasar pada aspek ekonomi, program ini juga menargetkan pengurangan populasi eceng gondok hingga 40% per tahun serta peningkatan pendapatan masyarakat sekitar sebesar 15%. Hal ini sejalan dengan Asta Cita pemerintah, khususnya dalam mendorong kewirausahaan dan industri kreatif berbasis potensi lokal. “Harapan kami ke depan, Rumah Inovasi Wirausaha ini menjadi pusat pembelajaran dan produksi yang terus hidup bahkan setelah program berakhir. Kami ingin masyarakat Desa Kaumrejo bisa mandiri, kreatif, dan menjadi contoh bagi desa-desa lain,” kata Azli. Dengan semangat kolaboratif, inovasi lokal, dan keberlanjutan, Desa Kaumrejo membuktikan bahwa eceng gondok bukan sekadar gulma, tapi juga sumber energi dan harapan baru bagi ekonomi desa. (vin/wil)
Peternakan UMM Lestarikan Bumi, Ratusan Siswa SMA Diajari Ecoprint

Di era di mana kesadaran akan lingkungan semakin meningkat, tren fesyen juga turut berevolusi. Kebutuhan akan produk ramah lingkungan menjadi salah satu pemicu utama. Melihat potensi ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Studi Peternakan mengadakan pelatihan Ecoprint, sebuah teknik mencetak motif dari bahan alami langsung ke media kain atau kulit. Kegiatan ini menyasar siswa dan guru pendamping dari sekolah-sekolah menengah atas (SMA) berbagai kota dan kabupaten. Mulai dari Batu, Malang, Pasuruan, dan lainnya. Pelatihan yang bertema Ecoprint Training: The Art of Nature ini dipandu langsung oleh pakar di bidangnya, Prof. Dr. Ir. Wehandaka Pancapalaga, M.Kes., IPM. “Tujuannya untuk membekali peserta dengan keterampilan membuat syal bermotif alami menggunakan teknik Ecoprint menggabungkan seni, kreativitas, dan keberlanjutan lingkungan,” terangnya. Ia menjelaskan bahwa ecoprint merupakan jawaban atas tren fesyen berkelanjutan, di mana motif yang dihasilkan unik dan tidak dapat diduplikasi 100%. Selain itu, ia juga membuka peluang pasar yang luas, baik untuk penggunaan pribadi maupun komersial. Dalam pelatihannya, Wehandaka tidak hanya mengenalkan teknik dasar, tetapi juga melatih peserta untuk memilih bahan alami yang tepat, menghasilkan karya berkualitas tinggi, dan mendorong mereka untuk mengembangkan usaha kreatif berbasis Ecoprint. Ia menjelaskan bahwa tanaman dengan aroma tajam atau yang meninggalkan warna saat digosok adalah indikasi kuat sebagai pewarna alami yang bisa digunakan. Selain itu, digunakan pula zat bernama mordan yang berfungsi sebagai pengikat warna agar tidak mudah pudar. “Keberhasilan pewarnaan alami pada syal salah satunya ditentukan oleh ketepatan jenis mordan dan proses mordanting yang dipilih,” ujarnya. Antusiasme peserta begitu terasa, salah satunya Qorinah Isimah Ramadhani, siswi kelas 10 di SMAN 1 Batu. Ia mengaku sangat tertarik mengikuti pelatihan ini karena pernah gagal dalam proyek Ecoprint di SMP. Baginya, kegiatan ini sangat seru dan menyenangkan. Ia juga terkesan dengan metode yang diajarkan, yaitu Ecoprint dikukus yang berbeda dari metode palu yang pernah ia coba sebelumnya. “Aku paling suka bagian menyusun daunnya karena benar-benar sesuai imajinasi,” ungkap gadis yang akrab disapa Rinrin ini. Ia juga merasa tantangan utama justru saat menata daun karena memerlukan kreativitas tinggi. Ia harus memutar otak agar susunan daunnya menjadi menarik. Namun, hal ini tidak mengurangi semangatnya. Menurutnya, manfaat dari pelatihan ini sangat besar. Pertama, menambah skill untuk memanfaatkan barang-barang di sekitar dari alam. Kedua, upaya untuk berkontribusi melestarikan alam karena mengurangi penggunaan pewarna sintetis. (din/wil)
Sukses Jadi Sekda Sumbawa, begini Pesan Alumnus UMM di Wisuda

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengukuhkan 600 lebih wisudawan pada Sidang Senat dalam rangka Wisuda ke-119 pada 26 Agustus 2025. Turut hadir menyampai kisah sukses, Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa, NTB, Dr. Budi Prasetiyo, S.Sos., M.A.P. Ia yang juga merupakan alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM membagikan pengalaman menariknya dan memberikan motivasi untuk para wisudawan. Dalam orasinya, Budi mengungkapkan rasa bangganya sebagai alumni UMM yang pernah merasakan wisuda di Heliped Kampus Putih 25 tahun lalu. Ia berpesarn, dalam menghadapi tantangan masa depan, soft skills seperti kreativitas, inovasi, komunikai, dan leadership, serta sikap hospitality dan attitude yang baik adalah kunci. Sedangkan, mengasah kemampuan dan keterampilan digital adalah keniscayaan untuk bisa survive di era global. Lebih lanjut, Ia menekankan kembali, berdiri di hadapan wisudawan UMM saat ini adalah satu dari mimpi besarnya yang menjadi kenyataan. Budi menegaskan pentingnya memiliki mimpi besar, berpikir positif, seta menebar kebahagiaan melalui sebuah senyuman. Disamping itu, merefleksikan QS. Ali Imran: 139, Ia mengajak wisudawan untuk tetap kuat, optimis, dan bersemangat menghadapi segala rintangan yang menanti di hadapan. “Alhamdulillah, saya bisa berdiri di sini karena doa, usaha, dan mimpi yang Allah ijabah. Banggalah menjadi alumni UMM. Jangan lemah dan jangan bersedih. Teruslah bermimpi dan berkarya demi cita-cita Indonesia emas 2045,” katanya. Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., mengapreasi perjuangan UMM melahirkan para mahasiswa dan wisudawan yang kuat. Ini adalah karya dan dedikasi nyata UMM untuk bangsa dan negara. Menurutnya, para lulusan diharapkan tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja dan memberikan dampak positif bagi kemajuan Indonesia. Wisudawan sebagai agent of change sekaligus pondasi dalam mewujudkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Ia juga menekankan pentingnya pendidikan tinggi yang berdampak memalui riset, hilirisasi, inovasi, dan kreativitas. “Dengan sinergi, kolaborasi, dan komunikasi efektif, Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Jawa Timur siap menjadi kekuatan strategis dalam mewujudkan cita-cita bersama. Selama ini berbagai karya dosen dan mahasiswa UMM sudah nyata dan bermanfaat bagi masyarakat. PLTMH, produk penelitian, dan berbagai pengabdian sudah dilakukan,” ujarnya. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. tak lupa mengapresiasi penuh kerja keras perjuangan orang tua dalam mendukung penuh akademik para putra dan putrinya di UMM. Saat ini, keterampilan adaptabilitas yang tinggi dibarengi dengan kapabilitas kepemimpinan yang baik menjadi karakter penting lulusan pendidikan tinggi. Semua hal ini diharapkan melekat dalam diri para lulusan dan mahasiswa UMM. Nazar menyebut tiga modal kekuatan yang harus dimiliki yaitu, kemampuan bekerja cerdas (agile), leaderships yang melek digital melalui organisasi, serta mampu menyikapi perubahan. Ini juga merupakan peluang untuk meningkatkan diri sebagai bangsa yang digdaya dalam bidang agroindustry dan teknologi. Sehingga, output yang diharapkan yakni mampu melahirkan sifat kolaboratif dan competitiveness sebagai sebuah bangsa yang tidak lekang oleh waktu. (din/wil)
Pakar Komunikasi Eropa Paparkan Pandangannya di UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu memberikan eksposur internasional bagi mahasiswanya. Salah satunya yang dilakukan oleh prodi Ilmu Komunikasi yang kedatangan dosen dari Babeş-Bolyai University, Rumania yakni Delia Pop-Flanja sejak 23 September lalu. Kehadiran dia juga merupakan bagian dari skema Erasmus Mundus di mana UMM juga masuk di dalamnya. Ia juga diajak berdiskusi terkait peluang kerjasama serta didapuk menjadi pembicara di Inagurasi School of Creative Digital Communication UMM, 24 September lalu. Di momen inagurasi itu, Delia, sapaan akrabnya, menjelaskan bagaimana pandangan di eropa timur terkait raktisi profesional di bidang komunikasi. Khususnya dalam aspek media sosial. Menurutnya, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan yakni critical thinking, creativity, dan juga nilai lokal serta global. Aspek-aspek itulah yang dibahas di depan para mahasiswa Kampus Putih. Menurutnya, UMM memiliki kampus yang hijau dan segar. Selain itu memiliki kurikulum dan fisik yang bagus, termasuk prodi Ilmu Komunikasinya yang memang fokus pada digitalisasi. Bahkan ia juga kagum dengan banyaknya mahasiswa yang turut belajar di Kampus Putih. Delia menilai, kurikulum yang dilaksanakan di UMM tergolong advance dan cukup kompleks dibandingkan di Rumania. Ini menjadi bahan menarik untuk didiskusikan dan dikaji lebih dalam. “Kemarin juga sudah berdiskusi dengan teman-teman UMM terkait kerjasama yang bisa dilakukan. Mulai dari pertukaran pelajar, jurnal, summer school, bahkan konferensi. Semoga bisa dijajaki dan dijalankan di masa depan,” katanya. Di sisi lain, Ketua prodi Ilmu Komunikasi UMM Nasrullah, M.Si. menjelaskan kedatangan Delia merupakan bagian dari benchmarking kurikulum. Baik itu kurikulum di Rumania dengan UMM maupun sebaliknya. “Ia juga tertarik bagaimana Ilmu Komunikasi UMM memiliki tiga spesialisasi. Mulai dari PR and creative branding, journalism and creative media, hingga audio visual communication creative. Begitupun dengan progra di laboratorium yang tidak hanya berkegiatan di dalam lab, tapi juga di masyarakat. Mulai dari melangsungkan event hingga menggarap film,” katanya. Nasrullah melanjutkan, ada beberapa aspek yang dikerjasamakan dengan Delia dan kampusnya. Sejauh ini, Delia setuju untuk menjadi reviewer jurnal, kemudian juga mengajar kelas-kelas internasional yang ilmu komunikasi UMM miliki. Apalagi memang Ilkom Kampus Putih sudah memiliki kelas internasional sejak angkatan 2022. “Jadi, Delia akan mengampu mata kuliah yang fokus pada kajian perkembangan ilmu komunikasi di era digital. Utamanya dalam perspektif ilmuwan eropa. Selain itu, untuk kerjasama jangka panjang dengan universitas di Rumania yang bisa dilakukan seperti short course, credit transfer, double degree, dan lainnya. Jadi mahasiswa bisa dapat dua gelar, satu dari UMM satu dari kampus Rumania,” katanya mengakhiri. (wil)
Mahasiswa KKN UMM Ajari Warga Bikin Pupuk dari Limbah hingga Digitalisasi Peternakan

Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melakukan pengabdian menarik di masyarakat. Salah satunya tim yang melangsungkan program kerja di Desa Tempeh Tengah, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang. Mereka mengajari warga untuk mengubah limbah ktooran hewan menjadi pupuk. Bahkan mendampingi para peternak konvensional menyambut digitalisasi dan teknologi. Vemas Wika Putra, salah satu mahasiswa, mengatakan bahwa timnya mengusung tema mengembangkan potensi peternak lokal, mengolah limbah kotoran dan digitalisasi peternak konvensional. Fokus utamanya bagaimana mengubah permasalahan menjadi peluang, sekaligus membantu peternak meningkatkan daya saing. “KKN yang dilaksanakan sejak 21 Juli hingga 29 Agustus ini mencoba mengajari warga untuk menyulap limbah kotoran hewan menjadi pupuk organik, sehingga tidak mencemari lingkungan. Prosesnya melalui metode fermentasi sederhana yang ramah lingkungan namun efektif,” kata Vemas. Menuruntya, inovasi ini memberikan manfaat kepada warga, utamanya dalam aspek lingkungan dan membuka peluang ekonomi baru. Pupuk organik hasil olahan bisa dipakai petani setempat bahkan dipasarkan melalui platform digital marketplace. Hal ini menambahkan hasil peternakan tidak hanya daging atau susu, tetapi juga produk turunan yang bermanfaat bagi sektor pertanian. Selain pengolahan limbah, mahasiswa PMM UMM juga memperkenalkan digitalisasi peternakan. Peternak dilatih menggunakan aplikasi sederhana untuk mencatat data produksi, kesehatan ternak, hingga strategi pemasaran. “Dengan begitu, peternak tidak ketinggalan di era yang serba digital ini. Jika mereka bisa memanfaatkan teknologi, mereka tidak hanya bergantung pada pasar tradisional tetapi sudah menembus pasar yang lebih luas melalui platform online,” katanya. Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan, Falistya Roisatul Mar’atin Nuro, M.Pd, mengapresiasi mahasiswa yang mampu menghadirkan solusi nyata. Mahasiswa tidak hanya belajar di kampus, tetapi juga turun ke lapangan. Program ini menunjukkan bahwa ilmu yang mereka miliki bisa langsung diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal serupa juga disampaikan para warga Desa Tempeh Tengah. Dengan adanya pengolahan pupuk dan pelatihan digital, mereka berharap usaha ternak di desa dapat terus berkembang. Perekonomian lokal pun berpotensi meningkat karena hasil peternakan bisa dipasarkan lebih luas, baik secara offline maupun online. Vemas tidak sendiri, ia melaksanakan program tersebut bersama mahasiswa jurusan lain. Termasuk A. Kurzany Akbar, Akmal Kautsar Ristio, Nigel Firdauzza R.D.E, dan Ramadya Faiza. (*/wil)
Tim Vokasi UMM Menangi Lomba Nasional berkat Ciptakan Taman Cerdas

Tim mahasiswa Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kalahkan ribuan peserta lainnya dalam ajang Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA), akhir Juli lalu. Ajang bergengsi ini diikitu 1.400 tim dari 28 perguruan tinggi vokasi se-Indonesia. Adapun mereka sukses memenangi juara 3 dalam kategori Applied Skill: Landscape Gardening. Adalah Krisna Hendriansyah, Andrhira Siva Kristy, dan Chyallo Exsel Heiga Handika yang tergabung dalam tim Gartonic UMM sukses menelurkan ide menarik dan memenangkan juara. Ide yang mereka tawarkan yakni sustainable park dan taman cerdas dengan parkir yang mampu memproduksi daya listrik dari panel surya. Di dalam taman tersebut, disediakan panel surya sebagai cari mendapatkan energi listrik yang mana digunakan untuk semua kebutuhan yang ada di taman. Mulai dari air mancur, charging station sepeda listrik, dan lainnya. “Jadi, taman ini sama sekali tidak mengambil listrik dari PLN. Sehingga semua kebutuhan listrik di taman ini diambil dari panel surya. Kalau kita lihat, ada banyak sekali taman tapi tidak dirawat dengan baik. Maka dari itu, ini jadi salah satu solusi yang mahasiswa vokasi UMM tawarkan,” kata Ilham Pakaya, M.Tr.T. selaku dosen pembimbing. Ilham melanjutkan, kompetisi ini merupakan ajang lomba kampus-kampus nasional yang memiliki program vokasi serta politeknik. Agar bisa bersaing, para mahasiswa vokasi UMM sudah mempersiapkan diri sejak Mei lalu. Mengikuti berbagai seleksi hingga akhirnya bisa mencapai babak final. Menurutnya, kemenangan ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan vokasi mampu melahirkan talenta-talenta unggul yang siap menghadapi tantangan masa depan. Para mahasiswa vokasi UMM berhasil mengalahkan kampus-kampus lain dalam kategori ini seperti Universitas Sebelas Maret, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, hingga IPB. “Keberhasilan Gartonic UMM tak hanya menjadi kebanggaan bagi civitas akademika UMM, namun juga menjadi motivasi bagi mahasiswa vokasi di seluruh Indonesia untuk terus berkarya, berinovasi, dan berkompetisi secara sehat dalam mengembangkan keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri dan pembangunan nasional,” kata Ilham mengakhiri. (*/wil)