Pengakuan Maba UMM dari Tangerang hingga Lombok tentang Pesmaba

Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Gen 25 memberikan kesan mendalam bagi banyak mahasiswa baru. Salah satunya Qonita, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang senang bisa melihat berbagai atraksi unik dan memukau. Menurut mahasiswi asal Tangerang itu, pelaksanaan Laser Show dan Flashlight Mob membuatnya takjub dengan beragam formasi. Pesmaba yang dilaksankan 9-12 September itu menjadi salah satu momen yang paling memorable baginya. Formasi-formasi yang dibentuk di antaranya, peta wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke, lambang burung garuda, bangunan ikonik Gedung Kuliah Bersama (GKB) UMM dan lainnya. Bahkan ia juga turut membentuk lambang ‘Pita Hitam’ yang diiringi dengan menyanyikan bersama lagu ‘Ibu Pertiwi’ yang tak hanya keren, tetapi juga mengandung berjuta makna mendalam. Gema nyanyian dan alunan irama nada lagu yang menjadi salah satu favoritnya tersebut membuat suasana terasa hangat, meski di tengah gelap dan dinginnya malam. Di saat yang sama, Ia juga harus mengerahkan konsentrasi dan fokus terhadap instruksi, agar hasilnya memuaskan. Selain itu, Ia juga merasa bersyukur bisa bertemu dan mendapat banyak teman dari berbagai daerah lainnya. “Jujur, seru banget! Ini adalah momen yang sangat berharga bagi saya sebagai mahasiswa baru UMM. Meski di tengah kota perantauan, saya bertemu dengan banyak teman baru dan tidak merasa sendirian. Terimakasih UMM, semoga bisa terus on top dan bisa membentuk kami para mahasiswa menjadi generasi unggul yang paha ketahanan pangan serta energi,” katanya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Suryaindah, Ia sangat bersemangat dan merasa senang berkesempatan ikut serta dalam Pesmaba UMM yang telah dinanti-nantikannya selama lebih dari 4 bulan. Pesmaba tahun ini tak hanya menghadirkan flashlight mob yang memukau, tetapi juga menampilkan inovasi khas UMM. Mahasiswa baru diajak menyaksikan pacu jalur versi UMM menggunakan sepeda kayuh bebek ikonik kampus putih. Tak kalah menarik, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Divisi Mahasiswa Pecinta Alam (Dimpa) ikut memeriahkan dengan mengibarkan bendera Maba Gen 25 UMM. Melintas di atas danau menggunakan perahu karet yang dikayuh bersama. “Pokoknya ini jadi mood booster bagiku karena keren banget. Oh iya, ada SwanUMM yang lucu juga. Semoga ke depan semakin banyak pengalaman seru yang bisa kita rasakan di sini,” tambahnya. Gelaran Upacara Pembukaan Pesmaba UMM juga mendapatkan antusias hebat dari para mahasiswa baru Gen’25 UMM. Salah satunya Rauhil Miskiyah, mahasiswa baru dari Fakultas Psikologi UMM asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ia menyebut bahwa, UMM sangat serius dalam memberikan dan membentuk awal yang baik bagi para mahasiswa. Tak hanya itu, berbagai kincir angin turut menghiasi Heliped UMM, bukti tekad kuat UMM dalam membentuk generasi penerus bangsa yang berdaya dalam mendukung ketahanan pangan dan energi, selaras dengan tema Pesmaba yang digaungkan. (din/wil)
Pesmaba UMM Resmi Dibuka, Lahirkan Generasi Ketahanan Pangan dan Energi

Suara riuh sorak-sorai mahasiswa baru memenuhi helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Jaket almamater merah dengan logo khas UMM, berpadu dengan topi yang baru saja disematkan secara simbolis, menjadi penanda dimulainya perjalanan panjang mereka sebagai mahasiswa Kampus Putih Generasi 2025. Perjalana mereka dimulai dengan ikut aktif di Penengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM, sejak 9 September 2025 ini. Tidak hanya mahasiswa dari berbagai penjuru tanah air, beberapa mahasiswa asing juga ikut dalam barisan formasi Gen 25 yang memenuhi lapangan helipad. Selain itu, Pesmaba juga dibuka secara simbolik dengan menyalakan turbin kincir angin sebagai bukti tema Pesmaba tahun ini, ‘Ketahanan Pangan dan Energi Negeri’. Semangat mereka makin menggebu ketika prosesi dilanjutkan di Hall Dome UMM, menandai bahwa Pesmaba tahun ini bukan sekadar seremonial, tetapi sebuah momentum lahirnya Generasi Penguat Ketahanan Pangan dan Energi Negeri. Mengawali Stadium General, Wakil Menteri Diktisaintek sekaligus Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., memberikan pesan mendalam. Menurutnya, mahasiswa baru adalah generasi yang tengah memasuki fase penting dalam hidup, bukan lagi siswa, melainkan insan akademis dengan tanggung jawab moral yang jauh lebih besar. “Saudara sekarang telah menyandang predikat mahasiswa. Itu artinya ada beban etik, tanggung jawab moral, dan pola pikir yang harus berubah. Kuliah bukan mencari nilai, tapi mencari kehidupan. Ilmu dan keahlian yang kalian miliki harus berdampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Ia juga mengingatkan jangan hanya seperti ular yang berganti kulit tanpa perubahan makna. Tetapi, jadilah kupu-kupu, yang setelah berproses, hadir membawa manfaat, menjadi sosok yang diperhatikan, dan memberi kebaikan. Itulah evolusi yang harus ditempuh melalui pendidikan di UMM. “Pentingnya berorganisasi sebagai sarana pembelajaran kepemimpinan juga tak kalah penting. Maka dari itu, jangan sampai ada mahasiswa UMM yang tidak pernah ikut organisasi. Di sinilah kalian ditempa, baik untuk menjadi pemimpin formal maupun informal. Ini bagian dari pembelajaran kehidupan,” ujarnya. Lebih jauh, Fauzan mengingatkan bahwa Gen 25 akan berperan besar dalam menyongsong bonus demografi dan Indonesia Emas 2045. “Empat tahun ke depan, ketika kalian lulus, usia kalian masih sangat produktif. Inilah momentum strategis untuk menjadi generasi emas yang mengawal Indonesia menuju negara maju,” pungkasnya. Sambutan penuh energi kemudian datang dari Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Ia menegaskan bahwa semangat tersebut harus dibawa sepanjang perkuliahan. Karena datang ke kampus ini bukan untuk main-main. Ada tekad besar yang harus dipegang adalah belajar keras, disiplin, dan mengeksplorasi semua pengalaman yang diberikan kampus ini. Mengingat jargon yang dimiliki UMM yakni pasti lulus ‘tepat waktu, pasti bekerja, dan pasti mandiri’. “Tak hanya itu, akar spiritualitas dalam proses juga tidak boleh dilupakan. Belajar itu penting, tapi jangan lupa meningkatkan ibadah dan akhlak. Di sinilah kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter,” ujarnya. Dengan dimulainya Pesmaba Gen 25, ribuan mahasiswa baru resmi menjadi bagian dari keluarga besar UMM. Mereka diharapkan mampu memanfaatkan seluruh kesempatan, baik akademik maupun non-akademik, untuk menyiapkan diri sebagai generasi yang tangguh, kreatif, dan bermanfaat bagi bangsa. (vin/wil)
Laser Show dan Flashlight Mob Sambut Ribuan Mahasiswa Baru UMM

Kilatan cahaya terlihat memukau di gedung GKB dan Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 8 September 2025. Cahaya flash dari smartphone ribuan mahasiswa baru UMM sukses membentuk pola garuda, bintang, pulau-pulau Indonesia, dan lainnya. Ini menjadi sambutan perdana bagi ribuan mahasiswa baru (maba) UMM Gen 25. Ada lebih dari 25 formasi yang dilakukan oleh maba dan ditutup dengan laser show yang memberikan pesan untuk negeri. Jamroji, M.Comms. selaku koordinator flashlight mob menjelaskan, UMM memang terus memberikan inovasi yang berbeda. Adapun formasi flashlight mob ini sudah dilakukan UMM sejak tiga tahun ke belakang. Ia mengatakan bahwa Kampus Putih memang dikenal sebagai pionir flashlight mob dan sekarang ditambah dengan terobosan Laser Show. Menariknya, Jamroji mengatakan bahwa flashloght mob memiliki banyak kelebihan ketimbang papermob yang banyak kampus lakukan. Salah satunya dari aspek ekonomi dan biaya. Misalnya, rata-rata papermob memerlukan 25.000 rupiah tiap mahasiswa. Jika ada 10.000 mahasiswa, maka total biaya yang harus dikeluarkan bisa mencapai 250 juta rupiah. Sementara flashlight mob yang UMM lakukan berbiaya sangat rendah karena hanya memerlukan flash dari smartphone masing-masing mahasiswa. “Selain itu lebih dingin dan tidak panas karena pelaksanaannya malam hari. Berbeda jika papermob yang harus berpanas-panasan. Hasilnya juga lebih dramatis dan prosesnya sangat cepat. Yang paling penting, flashlight mob ini tidak menimbulkan sampah dan limbah yang mana mencerminkan kecintaan kita pada bumi,” kata Jamroji menambahkan. Sementara itu, Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. menambahkan bahwa laser show dan flashlight mob ini menjadi bentuk simpati UMM atas kondisi negeri sekaligus upaya memanjatkan doa agar Indonesia bisa damai dan sejahtera. Terkait Laser Show, ia menegaskan bahwa dari tahun ke tahun, UMM memang selalu memberikan hal yang baru. Tahun lalu mereka menyajikan water show sebagai penampilan menarik. Dua tahun sebelumnya, Kampus Putih juga menampilkan pesta udara bagi mahasiswa barunya. Ada berbagai bentuk dan konfigurasi dalam penampilan Laser Show UMM. Dimulai dengan garuda, bentuk peta Indonesia, beragam hashtag, mengenang lima tahun wafatnya guru bangsa dan founding father UMM Malik Fadjar. Keseruan-keseruan itu ditutup dengan berbagai lagu, musik, dan kembang api di akhir acara. Hal unik lain yakni bagaimana UMM mengajak para mahasiswa untuk menyanyikan lagu Ibu Pertiwi dengan konfigurasi Laser Show peta Indonesia. Ini bagian dari empati UMM atas kondisi bangsa belakangan ini. Bahkan ada konfigurasi memanjatkan doa yang dibalut dalam hashtag #untukIndonesiayangDamaidanSejahtera. “Kami selalu mencoba memberikan sambutan terbaik bagi generasi UMM, khususnya Gen 25 pada tahun ini. Kami juga ingin memberikan penghormatan yang edukatif dan menyenangkan. Penampilan Laser Show ini bukan sekadar hal baru, tapi kami juga ingin menonjolkan sederet ikon seperti gedung GKB UMM dan maskot SwanUMM yang dikemas dalam penampilan ini,” pungkasnya. (wil)
Didampingi UMM, Warga Lapas Bikin Buku dan Dibedah

Selalu berupaya berdampak dan berdaya, UMM kembali gandeng Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Malang. Bertekad wujudkan pemberdayaan dibalik pemidanaan, Lembaga Kebudayaan (LK) UMM Launching dan Bedah Buku Antalogi Cerpen “Liku Luka Di Aksara Besi Bisu” pada 3 September 2025. Buku ini merupakan karya dari Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) LPP Malang. Hadir sebagai pembedah Dosen Sastra Dr. Tengsoe Tjahjono, M. Pd dan Dosen Sastra FKIP UMM Dr. Purwati Anggraini, S.S., M. Hum, serta dihadiri juga oleh para akademisi, mahasiswa, dan sastrawan. Tengsoe, demikian Ia dikenal, mengapresiasi para penulis yang telah menghasilkan suatu masterpiece dari keterbatasan ruang dan waktu. Terkesan, Tengsoe menyoroti prolog yang diekseskusi menggunakan diksi sastra yang indah. Beragam cerita dari berbagai kisah perjalanan para warga binaan dibalik jeruji menjadi nyata melalui runtaian kata yang disusun dari rintihan hati penulis. Lebih dari sekedar fiksi, Ia menemukan aspek emosional kemanusiaan (Humaniora), psikologi, dan sosiologis di dalam buku tersebut. Ini juga dapat dikaji melalui pendekatan Antropologi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), apalagi untuk melihat segi antropologi potret kehidupan para WBP di Lapas. Lebih lanjut, Tengsoe tertarik membahas tentang judul buku yang merupakan perpaduan sempurna dari dua subjudul cerpen yang berbeda. Yakni, “Liku Luka” yang mengisahkan tentang pengakuan dan perjalanan menjalani kehidupan di Lapas. Sedangkan, cerita “Aksara Besi Bisu” melukiskan tentang ekspresi dan kerasnya beribu suara yang tersimpan dibalik besi bisu (jeruji) sebagai media keluh kesah mereka. Lebih lanjut, Tengsoe sangat support dan mendorong para penulis untuk terus menulis dan terus berkarya ke arah yang positif. “Jadilah penulis, terbitkan cerpen sebanyak-banyaknya, lalu setelah lulus dari Lapas bisa menemukan banyak kawan, membangun suasana kehidupan yang positif, dan kembali diakui eksistensinya di tengah masyarakat,” harap Tengsoe. Sementara itu, Purwati mengaku sangat terkesan dan emosional setelah membaca buku ini. Menurutnya, antologi ini bukan hanya refleksi diri bagi penulis maupun pembaca, tetapi juga menjadi bukti bahwa perempuan di dalam penjara tetap mampu menulis sebagai cara untuk mengobati luka, menggugat diri, dan menyalakan kembali harapan yang sempat redup. Ia berharap setelah keluar dari Lapas, para warga binaan mendapat pendampingan lanjutan karena banyak ketakutan besar yang mereka rasakan pasca bebas. Lebih jauh, Ia menilai buku ini juga penting dijadikan bahan kajian akademik, baik untuk riset maupun program pengabdian mahasiswa dan dosen, dengan perspektif beragam disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, bahasa dan sastra, hingga ilmu komunikasi. Di sisi lain, Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Malang, Yunengsih, Bc. IP., S. Sos., M.H., menyampaikan terimakasih dan harapan tulus terhadap kontribusi UMM dalam kolaborasi aktif yang sudah berjalan. Ia berharap, sinergi baik ini terus terjalin dan senantiasa berlanjut, sehingga lahir buku-buku hebat lain kedepannya. Berkat pembinaan dari Kampus putih, warga binaan LPP Kelas IIA Malang dapat menghasilkan beberapa karya literasi yang diharapkan memberikan banyak manfaat. Sesuai judulnya, buku ini bukan hanya berisi tentang cerita perjalanan, tetapi juga memuat curahan hati, penyesalan, kegelisahan, ketakutan, dan harapan. Kepala Pusat Studi Kebudayaan UMM Dr. Daroe Iswatiningsih, M. Si. menyebut tujuan kolaborasi positif ini adalah wujud UMM khususnya memaksimalkan dampak Pusat Studi Kebudayaan sebagai akademisi yang bekerjasama dengan Lapas dan masyakarakat umum. Ini menguatkan kondisi literasi yang perlu diperkenalkan secara luas dan patut diapresiasi tinggi. Karya ini merupakan buku keempat dalam proses perjalanan kolaborasi Lembaga Kebudayaan (LK) UMM dan LPP Malang. “Saya berharap, buku ini tidak hanya menjadi sebuah dokumen saja bagi para penulis, tetapi juga sebagai media informasi luas kepada masyakat umum. Selamat kepada 38 penulis yang telah sukses menerbitkan 416 halaman dalam satu buku yang penuh makna,” ungkapnya. (din/wil)
Gubernur Akademi AL di Wisuda UMM: Pemuda Jadi Senjata Keselamatan Negara

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar prosesi wisuda di Dome UMM pada kamis, 4 September 2025. Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, wisuda kali ini menekankan pesan mendalam mengenai lahirnya generasi pemimpin baru yang berintegritas, berempati, serta memiliki visi global di tengah tantangan geopolitik dan transformasi dunia. Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Akademi Angkatan Laut, Laksamana Muda Dr. (C) Dato Rusman SN., SE., M.Si., M.Tr. Opsla. Ia menegaskan bahwa prosesi wisuda bukan sekadar penanda kelulusan, tetapi momentum lahirnya generasi baru yang harus siap menghadapi dinamika global yang semakin kompleks. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara kepulauan, namun hingga kini hampir 90 persen alutsista masih bergantung pada luar negeri. Kondisi ini dinilai rentan bagi pertahanan nasional, terutama di tengah konflik global dan potensi krisis energi serta pangan. “Hari ini kita merayakan lahirnya generasi baru pemimpin bangsa. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Karena itu, pemimpin muda Indonesia harus berintegritas, berani mengambil risiko, dan memiliki visi global,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa perebutan jalur laut dan energi terbarukan akan menjadi isu sentral di masa depan. Siapa yang menguasai selat strategis seperti Malaka, Sunda, dan Lombok akan menguasai perdagangan dunia. Sementara itu, transisi energi dan kebutuhan pangan berkelanjutan akan menentukan daya saing bangsa. “Gunakan ilmu pengetahuan sebagai senjata demi kemaslahatan bangsa dan negara. Di balik berbagai ancaman keamanan maritim, krisis energi, dan ketidakpastian global, selalu ada peluang yang bisa diraih. Energi terbarukan, ketahanan pangan, serta jejaring global adalah ruang strategis yang harus kalian isi dengan keberanian dan inovasi, tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa,” ujarnya. Pesan serupa juga disampaikan Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd yang juga merupakan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia. Ia menekankan bahwa setelah menyelesaikan pendidikan formal, wisudawan akan memasuki ‘kampus kehidupan’ yang lebih luas, tanpa batas ruang dan waktu. “Setelah ini, Anda tidak lagi diukur dengan jumlah SKS, tetapi dengan prestasi kehidupan. Ukirlah kampus kehidupan dengan potensi yang Anda miliki, dan jangan cemari dengan hal-hal yang merusak masa depan,” ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., mengingatkan pentingnya menumbuhkan empati di tengah transformasi besar yang tengah dihadapi bangsa. Menurutnya, empati adalah fondasi penting yang harus dimiliki lulusan perguruan tinggi agar mampu menjadi pribadi tangguh dan adaptif. “Proses pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan pintar di atas kertas, tetapi juga pribadi yang kuat secara emosional dan mampu memahami orang lain. Empati adalah modal utama menuju Indonesia Emas 2045,” kata Nazar. Ia menambahkan, UMM berkomitmen melahirkan alumni dengan joy of learning, keberanian menghadapi kegagalan, serta kepedulian sosial. Dengan modal tersebut, para lulusan diharapkan tidak hanya menjadi tenaga profesional, tetapi juga agen perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat luas. (din/wil)
Mahasiswa UMM Bikin Smart Farming atasi Hama Tikus dan Burung tanpa Zat Kimia

Serangan tikus dan burung kerap menjadi momok bagi petani padi di Desa Ampeldento, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Selama ini, petani setempat masih mengandalkan cara tradisional untuk mengusir hama, mulai dari jebakan hingga penggunaan pestisida kimia yang justru menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program PPK Ormawa menghadirkan inovasi teknologi pertanian modern yang diharapkan bisa menjadi solusi berkelanjutan. Inovasi yang didanai Kemdiktiristek itu berupa Integrasi Smart Farming 5.0 berbasis SolarSonic IoT Guard, sebuah alat cerdas yang membantu petani mengendalikan hama tikus dan burung secara efisien serta ramah lingkungan. Produk ini dikembangkan oleh Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagri) UMM dengan dukungan dosen pembimbing dan kelompok tani setempat. Melalui teknologi ini, mahasiswa ingin menunjukkan bahwa pertanian bisa dikelola lebih modern tanpa harus merusak ekosistem. Ketua Himagri UMM, Galih Raka Yudistira, menjelaskan bahwa alat tersebut dirancang agar petani lebih mudah dalam menjaga tanaman padinya. “SolarSonic IoT Guard bekerja otomatis dan dapat dikendalikan lewat aplikasi. Jadi, petani tidak perlu lagi bergantung pada cara konvensional yang kadang tidak efektif. Dengan teknologi ini, hasil panen diharapkan lebih aman dari serangan hama,” ungkapnya. Produk inovatif tersebut dibekali dengan empat komponen utama. Pertama, Raspberry sebagai mikrokontroler yang mengatur sistem. Kedua, panel surya dan baterai sebagai sumber energi terbarukan sehingga bisa beroperasi 24 jam penuh. Ketiga, kamera thermal yang mampu mendeteksi perbedaan suhu tubuh hama dengan lingkungan sekitar. Keempat, speaker ultrasonik yang memancarkan gelombang suara khusus untuk mengusir hama tanpa merusak lingkungan. Alat Smart Farming 5.0 ini beroperasi secara otomatis sepanjang hari dengan dukungan energi dari panel surya dan baterai. Pada malam hari, kamera thermal aktif untuk mendeteksi tikus, dan apabila terdeteksi, speaker pengusir tikus segera bekerja hingga pagi. Sementara pada pagi hingga sore, sistem beralih ke mode pengusir burung, di mana speaker burung menyala secara periodik untuk menjaga sawah tetap aman. Seluruh mekanisme berjalan mandiri, sehingga petani hanya perlu memantau data atau menyesuaikan volume melalui aplikasi IoT sesuai kebutuhan. “Sistem ini dirancang adaptif sehingga dapat diperbarui seiring waktu. Hal ini penting karena tikus merupakan hewan pintar yang mudah beradaptasi terhadap gangguan berulang, sehingga pola penyalaan maupun frekuensi suara dapat diubah agar efektivitas alat tetap terjaga dalam jangka panjang,” katanya. Di sisi lain, tim mahasiswa juga menghadapi berbagai tantangan teknis. Beberapa komponen harus dibeli di luar Malang karena sulit ditemukan di daerah setempat. Biaya pengadaan komponen yang relatif tinggi pun menjadi kendala tersendiri. Selain itu, tim memerlukan waktu lebih untuk mempelajari integrasi sistem IoT, termasuk pemrograman image processing agar deteksi hama berjalan optimal. “Meski demikian, kerja keras itu membuahkan hasil yang menjanjikan. Alat ini mampu menekan kerugian akibat hama, meningkatkan hasil panen, sekaligus lebih ramah lingkungan dibanding penggunaan pestisida kimia,” katanya. Manfaat program juga dirasakan mahasiswa. Menurut Galih, keterlibatan mahasiswa dalam perencanaan hingga monitoring menjadi pengalaman penting untuk melatih kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan kemampuan manajerial. Mereka belajar bagaimana berkolaborasi dengan masyarakat, sekaligus memastikan bahwa ilmu yang mereka pelajari benar-benar bermanfaat secara nyata. (wil)
Summer Course FPP UMM Diikuti Mahasiswa Jepang hingga Filipina

Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan Summer Course Internasional 2025. Belasan mahasiswa dari berbagai negara ASEAN dan bahkan Jepang ikut serta. Mulai dari mereka yang berasal dari kampus Universiti Putra Malaysia, Universiti Sultan Zainal Abidin, Kasetsart University, Prince of Songkla University, Western Philippines University, hingga Itchy University, Jepang. Ini juga menjadi cara FPP UMM berikan pengalaman intrnasional bagi para mahasiswanya. Program yang berlangsung pada 19-29 Agustus ini menghadirkan berbagai pakar dan memberikan beragam workshop untuk meningkatkan kreativitas mahasiswa. Mereka bahkan diberi materi teori design thinking untuk mempersiapkan penelitian di beberapa lokasi proyek. Hal menarik yang bisa ditemui dalma summer course ini adalah dinyanyikannya lima lagu kebangsaan, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Jepang. Ini juga sekaligus menjadi simbol semangat kebersamaan antar bangsa. “Program ini menjadi wadah yang tepat bagi para mahasiswa untuk mengembangkan inovasi dan potensi diri. Teman-teman mahasiswa akan diajak langsung ke lokasi-lokasi proyek lalu mengembangkan prototipe yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Wakil Rektor IV UMM Salis Yuniardi, Ph.D. dalam sambutannya. Para peserta summer course juga diajak ke beberapa lokasi di Batu. Mulai dari petani jamur, kebun wortel, dan peternakan. Dari situ, mereka menciptakan sederet prototipe yang menarik. Salah satunya Ergonomic Sorting Table yang hadir dengan desain baru dan lebih efisien serta cepat untuk mendukung proses produksi wortel. Mesin ini dilengkapi penutup celah berbahan karet untuk menjaga wortel tetap utuh, penampung di bawah mesin agar wortel tidak tercecer, serta tangga untuk memudahkan akses pekerja. Selain itu, terdapat konveyor yang berfungsi sebagai jembatan penghubung dari keranjang wortel menuju area sortasi. Meja kerja dirancang sebagai stasiun khusus bagi penyortir dan pengemas, di mana wortel dapat tersebar merata di atas meja sehingga proses sortasi lebih mudah, cepat, dan nyaman. Dengan Ergonomic Sorting Table, tenaga kerja menjadi lebih efektif, produksi meningkat, dan keuntungan pun bertambah besar. Ada empat tahap yang diikuti oleh para peserta. Diawali dengan sense & sensibility, proses orientasi desa dan interaksi dengan masyarakat. Kemudian juga ada empathy, ideation, prototyping, hingga presentasi proyek yang sudah dilakukan. Pada penutupan, Dekan FPP UMM, Prof. Dr. Ir. Aris Winaya menyampaikan bahwa Summer Course ini menjadi salah satu wujud komitmen fakultas dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat jejaring internasional. “Kami berharap kegiatan Summer Course ini tidak hanya memberi pengalaman akademik, tetapi juga mempererat hubungan antarbangsa melalui pertanian, peternakan, dan keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya. (*/wil)
UMM Beri Beasiswa Pengembalian Biaya Studi pada Ghozi dan Jadi Wisudawan Anumerta

Suasana haru menyelimuti Wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digelar di Dome UMM pada Selasa, 2 September 2025. Sebanyak 3.046 wisudawan resmi dikukuhkan pada momen penuh kebanggaan tersebut. Namun, di tengah kegembiraan kelulusan, terselip duka mendalam atas kepergian almarhum A. Ghozi Mubarok, sosok mahasiswa inspiratif sekaligus influencer pendidikan yang wafat sebelum hari wisudanya. Hari ini, UMM tetap menganugerahkan gelar kelulusan secara anumerta bagi almarhum. Adapun Ghozi merupakan influencer pendidikan yang terus menyerukan pendidikan yang baik bagi semua. Ia sering diundang dan menjadi pembicara di hadapan mahasiswa berbagai kampus. Bahkan ia juga menjadi sosok pemimpin di digital team UMM yang memproduksi konten-konten pendidikan berkemajuan. Pada wisuda tersebut, Rektor UMM juga memberikan beasiswa pada Ghozi dalam bentuk pengembalian biaya studi selama berkuliah di Kampus Putih. Momen wisuda tersebut juga menghadirkan kesaksian penuh makna dari Danang Giru Sadewa, influencer pendidikan yang dekat dengan almarhum Ghozi. Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan bahwa perjuangan hidup seseorang sering kali tersembunyi di balik senyum dan canda. “Dikenal penuh tawa, ternyata almarhum menyimpan sakit yang tak banyak diketahui. Meski singkat, hidupnya memberi makna besar bagi sesama. Gelar anumerta ini bukan sekadar penghargaan, melainkan bukti kerja kerasnya untuk UMM,” ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa Ghozi merupakan sosok yang bersemangat dan produktif. Menurutnya, Ghozi bukan hanya aktif, tapi juga influencer muda yang membawa nama UMM lewat karya kreatif dan pesan-pesan positif yang ia sebarkan di media sosial. “Ghozi telah menjadi inspirasi kita semua. Maka, hari ini UMM memberikan penghargaan tertinggi dengan mengukuhkannya menjadi wisudawan anumerta. Ghozi sah menyandang gelar sarjana hubungan internasional,” katanya. Sebagai bentuk dedikasi, pengabdian dan perjuangan Ghozi untuk kampus tercinta dan masyarat, UMM memberikan apresiasi penghargaan berupa beasiswa penuh. Beasiswa ini diberikan denagn bentuk pengembalian biaya studi Ghozi di UMM kepada keluarga. Pidato inspiratif juga oleh Nazar yang menekankan bahwa lulusan harus memiliki sense of ownership atau rasa kepemilikan agar mampu menjadi solution provider bagi bangsa. Menurutnya, pendidikan di UMM tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga berkepribadian tangguh, adaptif, kolaboratif, dan berlandaskan nilai-nilai etika serta kepedulian sosial Muhammadiyah. “Transformasi sumber daya manusia ini sangat penting untuk melahirkan generasi new colar workers—lulusan yang adaptif, kuat, dan siap tumbuh bersama teknologi. Harapannya, alumni UMM dapat menjadi pribadi yang membanggakan, memiliki daya tahan mental, serta tetap berpegang pada ketakwaan kepada Allah SWT,” tegasnya. (vin/wil)
Kontribusi Maharesigana di World Humanitarian Day 2025

Peringatan World Humanitarian Day (WHD) 2025 yang diselenggarakan pada Jumat, 22 Agustus 2025 di Pos Bloc, Jakarta Pusat, menghadirkan beragam kegiatan yang meneguhkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam isu kemanusiaan. Salah satu sorotan utama tahun ini adalah keterlibatan Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang didaulat sebagai pembicara workshop. World Humanitarian Day diperingati setiap 19 Agustus sebagai bentuk penghormatan kepada para pekerja kemanusiaan dan sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas global. Di Indonesia, acara ini menjadi ruang refleksi, edukasi, serta kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan generasi muda, untuk memperkuat penanggulangan bencana yang inklusif. Dalam kegiatan ini, tiga delegasi Maharesigana yakni Nata Hendriati, Gifa Farabi, dan Sukma Ayu terlibat langsung dalam penyelenggaraan serta diskusi. Kehadiran mereka sebagai representasi mahasiswa menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam gerakan kemanusiaan. Sukma Ayu tampil sebagai pembicara yang memperkenalkan Maharesigana dan menjelaskan pergerakan mereka yang fokus pada tiga fase bencana: pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Pendekatan ini menjadi ciri khas Maharesigana sebagai gerakan mahasiswa yang konsisten mendukung penanggulangan bencana secara menyeluruh. Selain itu, mereka juga memperkenalkan diri sebagai agen muda yang siap terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. Sementara itu, Nata Hendriati, sebagai perwakilan Maharesigana sekaligus akademisi yang aktif dalam praktik penanggulangan bencana, menyampaikan perlunya kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Harapannya, penanggulangan bencana dapat dilakukan secara maksimal dengan berbagai pendekatan yang komprehensif dan melibatkan banyak unsur. “Ini menjadi satu aksi nyata dalam meningkatkan kolaborasi dan koordinasi dalam memberikan layanan terbaik dalam isu-isu kemanusiaan. Semoga Maharesigana bisa terus berkontribusi positif dan aktif dalam setiap proses penanganan isu kemanusiaan, dimulai dari gerakan mahasiswa,” katanya. Kehadiran dan kontribusi Maharesigana mendapatkan apresiasi dari berbagai tokoh yang hadir. Pendeta Victor Rembeth, Pendiri Humanitarian Forum Indonesia (HFI) sekaligus Unsur Pengarah BNPB menilai bahwa inisiatif Maharesigana luar biasa. Apalagi mengingat bahwa kemanusiaan merekat di semua sisi kehidupan. “Mahasiswa harus terus berkarya, membangun nilai kemanusiaan dan kebangsaan, serta menjadi penerus Sang Pencerah KH Ahmad Dahlan,” katanya. Sementara itu, Lilik Kurniawan, Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, menegaskan pentingnya peran generasi muda. Lewat Hari Kemanusiaan Sedunia 2025 ini, mengingatkan manusia bahwa bencana begitu dekat dengan kita. Semua pihak harus terlibat, tidak terkecuali mahasiswa. Ia berharap Maharesigana dapat menjadi agen perubahan yang mengedukasi masyarakat agar memiliki budaya tangguh bencana. Keterlibatan Maharesigana sebagai pembicara workshop tidak hanya menjadi pengalaman berharga, tetapi juga inspirasi bagi generasi muda lain untuk aktif dalam isu kemanusiaan. Melalui momen ini, mereka membuktikan bahwa mahasiswa dapat menjadi jembatan antara ide-ide dan aksi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat luas. (*/wil)
Gandeng Kampus Taiwan, Teknik UMM Dalami Metode Cepat Penggunaan Robot dan AI

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperluas jejaring internasional melalui kerja sama dengan dua universitas ternama di Taiwan. Kerja sama yang dilakukan oleh Fakultas Teknik (FT) UMM ini dibuka dalam sebuah seminar yang menghadirkan dosen serta mahasiswa UMM bersama dua profesor dari Taiwan, pada 29 Agustus 2025. Topik utama yang mejadi sorotan yakni, High-Level Synthesis (HLS) untuk percepatan perangkat keras heterogen berbasis SoC FPGA dan metode ultra-lightweight dehazing untuk visi robotic, serta penerapan pengembangan AI Computer Vision melalui konsep deep learning. Prof. Hsieh Jun-Wei, Professor National Yang Ming Chiao Tung University, Taiwan membahas perkembangan dan penerapan AI Computer Vision dari aspek teori hingga paraktik. Pemaparan dimulai dengan konsep Deep Learning dalam konteks individu, perusahaan, hingga negara. Proses ini bertujuan untuk memaksimalkan peluang keberhasilan dan kemenangan. Sejarah menunjukkan bahwa manusia kerap meremehkan hadirnya teknologi baru, padahal pertumbuhan teknologi yang berkembang secara eksponensial dan membawa konsekuensi besar yang sulit diprediksi seperti Hukum Moore. Perkembangan AI Computer Vision bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan perubahan mendasar yang memengaruhi ekonomi, etika, dan struktur sosial di masa depan. Kini, AI hadir dalam berbagai bentuk yaitu, Computer Vision, Generative AI, Large Language Models (LLM), serta aplikasi praktis di bidang kesehatan, pertanian, transportasi, dan kreativitas digital. Seperti GPT, DALL-E, Whisper, dan Codex yang menunjukkan kemampuan AI belajar dari teks, gambar, suara, hingga kode. Ini menjadi peluang besar untuk dikembangkan dan dimanfaatkan oleh manusia. Sementara itu, Prof. Dr. Ing. Chi-Chia Sun selaku Professor and Head of Department of Electrical Engineering National Taipei University, Taiwan menyoroti perkembangan FPGA (Field Programmable Gate Array) yang ditelusuri dari SOPC, SoC FPGA, hingga Cloud FPGA dan RFSoC. FPGA terkenal berperan penting dalam komputasi heterogen yang mengombinasikan prosesor multi-core, ARM CPU, ADC/DAC, dan akselerasi AI/ML. Ia juga menekankan peran High-Level Synthesis (HLS) sebagai solusi dalam mempercepat desain perangkat keras. “Dengan HLS, kode tingkat tinggi seperti C/C++ bisa langsung dikompilasi menjadi RTL, sehingga proses perancangan lebih cepat, hemat biaya, dan lebih menghasilkan efisiensi tinggi, jika dibandingkan dengan metode konvensional,” katanya melanjutkan. Lebih lanjut, Prof. Sun juga menguraikan terkait metode dehazing ultra-lightweight yang ditujukan bagi sistem visi robotik. Faktor seperti kabut, hujan, hingga pencahayaan rendah sering kali menurunkan akurasi deteksi objek dan klasifikasi. Sistem ini terbukti meningkatkan kualitas visual, melalui pendekatan baru berbasis ekstraksi dark channel, estimasi transmission map, dan pemulihan citra. Ini tekbukti pada uji coba COCO dataset yang menunjukkan peningkatan akurasi deteksi hingga 7,9 persen menggunakan YOLOv7-tiny pada kondisi kabut tebal. Dalam sambutannya, Dekan FT UMM menyampaikan apresiasi besar atas kesempatan berharga ini. Kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada program seminar saja, tetapi berlanjut pada berbagai program akademik lainnya. Beberapa dosen UMM sebelumnya juga telah menempuh studi lanjutan di universitas Taiwan sehingga menjadi penguat jejaring kolaborasi. Melalui langkah ini, UMM menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan, riset, dan publikasi internasional guna mencetak lulusan yang kompetitif di level global. Bersama pembukaan peluang beasiswa S2/S3 di National Taipei University dengan dukungan penuh biaya kuliah dan tunjangan bulanan. “Kolaborasi ini menjadi peluang besar, tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga dosen untuk menjalin kerja sama riset, publikasi bersama, hingga melanjutkan studi master, doktoral, maupun post-doctoral di Taiwan,” ungkapnya. (din/wil)