UMM Teken MoU dengan HKTI bersama Gubernur Khofifah

Langkah strategis dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan meneken kerjasama bersama Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur, 24 Juli ini. Adapun penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dilakukan langsung di kantor Gubernur Jawa Timur (Jatim). Kolaborasi ini dilakukan bertepatan dengan pelantikan DPC HKTI kabupaten dan kota se-Jatim. Turut hadir Gubernur Jatim sekaligus Dewan Pembina DPD HKTI Khofifah Indar Parawansa dalam prosesi tersebut. Terkait kerjasama ini, Ketua HKTI Jatim Arum Sabil mengatakan, ini merupakan tindak lanjut dari konsorsium perguruan tinggi yang memang berupaya membantu persoalan daerah tentang pertanian. Begitupun dengan edukasi bidang pertanian yang juga menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan, penanganan kemiskinan ekstrem, dan stunting. “HKTI Jatim dan UMM tentu bersama-sama memberikan beragam solusi dan penyelesaian atas masalah-masalah yang ada. Khususnya kerjasama kami yang ada di bidang sains dan teknologi dalam pertanian,” katanya. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan, pihaknya berharap bisa turut mengembangkan teknologi pertanian bersama HKTI. Inovasi UMM di bdiang sains dan teknologi bisa diterapkan pada para petani di Jawa Timur. Tidak hanya mendampingi di awal dan akhir saja, tapi juga mendampingi dengan berbagai penemuan dan teknologi. “Salah satunya inovasi Biofarm karya dosen UMM dan pertanian oragnik yang tidak mencemari lingkungan dan tanah. Kerja keras tim dosen UMM ini sudah terbukti dan teruji di berbagai wilayah. Seperti di Bondowoso, Situbondo, Lumajang, bahkan Bali. Hasil produksi di lokasi tersebut meningkat dan juga tidak mencemari lingkungan,” katanya. Nazar melanjutkan, ini juga sekaligus mengawal program ketahanan pangan Indonesia. Kampus Putih berkomitmen untuk menjalankan hal serupa, termasuk langkah konkret untuk berkolaborasi dan menggandeng asosiasi dan perhimpunan bidang pertanian. Dengan begitu, UMM bisa menjadi kampus yang benar-benar berdampak bagi masyarakat. Nazar juga menegaskan bahwa pihaknya terus berkomitmen untuk dekat dan memahami masyarakat, khususnya dalam bidang pertanian. “Harapannya, kami dapat belajar sekaligus mengembangkan teknologi maupun mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di tahap pengelolaan lahan, pembenihan, hingga produk hilirisasi,” katanya. Hal serupa juga disampaikan Khofifah Indar Parawansa. Ia mengatakan bahwa HKTI memajukan sektor pertanian di Jawa Timur. Mengambil peran penting dalam menyukseskan kedaulatan pangan yang jadi salah satu program pemerintah. Ia juga berterimakasih kepada UMM yang senantiasa memberikan dukungan HKTI Jawa Timur melalui kerjasama HKTI berupa Memorandum of Understanding (MoU). (*/wil)

Konferensi Internasional Hukum UMM Kaji Penyatuan Hukum hingga Keamanan Siber

Terus berkomitmen menjadi kampus berdampak yang peduli pada isu-isu hukum global, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar International Conference on Law Reform (INCLAR) 2025 yang ke-6 pada 21-22 Juli lalu. Ajang tahunan yang bertema ‘Hukum, Konflik, dan Kemanusiaan: Menuju Keadilan yang Berkelanjutan dan Masyarakat yang Tangguh’ menghadirkan pembicara ahli dari berbagai institusi luar negeri, seperti Amerika Serikat, Skotlandia, hingga Malaysia. Hadir sebagai keynote spekaer, Indra Rosandry Direktur Hukum dan Perjanjian Politik dan Keamanan Kementerian Luar Negeri RI menyoroti isu tantangan global yang semakin kompleks. Mulai dari konflik bernsenjata, keamanan siber, hingga perubahan iklim yang menjadi topik utama dalam konferensi ini. Ia juga membahas pentingnya hukum internasional sebagai pondasi perlindungan hak asasi manusia, khususnya dalam situasi konflik perang di Gaza. Selain itu, ia juga menggarisbawahi peran pendidikan, akademisi, dan negara dalam membentuk kebijakan hukum yang responsive dan berkelanjutan. Lebih dari itu, dalam forum diskusi ini menghadirkan presentasi urgensi nilai-nilai terhadap isu hukum global dari berbagai susut pandang para ahli baik praktisi maupun akademisi. Lebih lanjut, Indra percaya salah satu output dari agenda ini adalah para peserta mampu mengidentifikasi perkembangan terbaru serta keberlanjutan periode hukum internasional terkait perlindungan anak di era kontemporer. Selain itu, juga mampu merumuskan berbagai solusi untuk memanfaatkan peluang yang ada guna mendukung pengembangan hukum internasional yang lebih baik. Harapannya, langkah ini dapat menumbuhkan sistem keadilan yang berkelanjutan. Lebih lanjut, Hilaire Tegnan, Ph.D. Project Assistant Center Of Legal & Court Technology, William & Mary Law School, Amerika Serikat membahas mengenai tantangan penyatuan hukum di negara berkembang: dari pluralisme hukum menuju sinkretisme hukum di Indonesia. Ia menyampaikan, pluralisme hukum memiliki sejumlah kelebihan yang berkontribusi positif terhadap kehidupan bermasyarakat. Di antaranya adalah mendorong kerja sama antar sistem hukum, serta mendukung proses desentralisasi yang memberikan keleluasaan daerah untuk mengatur kepentingannya. “Namun, pluralitas juga justru memicu kerancuan dalam pelaksanaan hukum dan prediktabilitas menjadi kelemahan utama. Kondisi ini dapat mempersulit penegakan keadilan, karena masyarakat cenderung bingung dalam menentukan hukum mana yang berlaku,” katanya. Oleh sebab itu, dibutuhkan harmonisasi regulasi agar pluralisme hukum dapat berjalan seimbang, memberikan manfaat, dan meminimalkan potensi konflik. Untuk itu, menurut Tegnan, sinkretisme hukum menjadi solusi melihat keberanekaragaman agama, adat istiadat, suku, dan ras menjadi bagian indah dari Indonesia. Ia mengagumi dan terinspirasi dari semboyan Bhineka Tunggal Ika sebagai prinsip kuat dan berdaya lebih besar untuk mempersatu perbedaan. “Sinkretisme hukum tidak dapat hanya melihat bagaimana sistem kelompok mayoritas saja, kita dapat mencoba memahami sistem hukum, tetapi bukan dengan pendekatan top-down,” ungkapnya. Di sisi lain, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menyampaikan rasa hormat atas kehadiran para tamu dan peserta dalam konferensi internasional. Nazar juga menyoroti pentingnya peran hukum di tengah konflik global seperti perang di Ukraina dan Palestina, yang tidak hanya menjadi masalah politik tetapi juga tragedi kemanusiaan. Konferensi ini, menurutnya, menjadi ruang refleksi untuk mencari jawaban tentang bagaimana hukum dapat melindungi martabat manusia, mendukung hak korban, dan mewujudkan keadilan yang berpihak pada kemanusiaan. “Melalui forum ini, UMM terus berkomitmen bahwa pendidikan tak hnya sekedar transfer pengetahuan, tetapi juga penguatan tanggung jawab sosial bagi para mahasiswa dan anak-anak muda Indonesia,” tegasnya. (*/wil)

Dosen UMM Kuliti Merebaknya Imperialisme Budaya Baru Akibat K-Pop

Korean Pop (K-Pop) tidak lagi sekadar genre musik populer dari Korea, tetapi telah menjadi budaya baru yang menyebar ke seluruh dunia. K-Pop telah menjadi pemicu munculnya budaya baru dalam dunia hiburan. Budaya itu  berkembang menjadi identitas sosial baru yang mampu mengubah cara berfikir, menilai, dan bertindak individu dalam kehidupan sehari-hari. Hal demikian dikemukakan Nurudin dalam ujian terbuka promosi doktor di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4  Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 23 Kuli 2025 ini. Ia mengambil judul “Pembentukan Identitas Sosial Generasi Muda  Pada Komunitas K-Popers  (Studi Netnografi Pada Nctzenmalang.idn)”. Saat mempertahankan disertasinya, Nurudin mengemukakan bahwa K-Pop telah membentuk identitas sosial baru K-Popers (penggemar) yang diidentifikasi dari budaya Korea. Identitas sosial generasi muda terbentuk melalui proses identifikasi sosial mereka terhadap komunitas yang diikuti. Semakin kuat rasa keterikatan dan kesamaan terhadap kelompok, maka semakin kuat pula identitas sosial yang mereka bangun. “Serba Korea yang dipengaruhi oleh K-Pop pada akhirnya akan membuat K-Popers serba meniru ide, atribut dan perilaku yang merepresentasikan budaya Korea. Budaya pada generasi muda K-Popers berubah dan mengikuti budaya Korea. Di sinilah akan muncul imperialisme budaya baru. Generasi muda secara halus akan terjajah oleh budaya Korea. Budaya Korea yang menjajah tersebut akhirnya membentuk sebuah identitas sosial baru, “kata Nurudin yang juga dosen Ilmu Komunikasi itu. Menurut penelitiannya lebih lanjut, K-Popers tidak lagi hanya sekumpulan generasi muda yang mencari dan melampiaskan hiburan musik negeri ginseng. Komunitas K-Popers telah tumbuh menjadi kekuatan strategis yang ikut membawa perubahan di sekitarnya. K-Popers juga pernah terlibat dalam proses penggalangan dana kemanusiaan. Ia kemudian memberikan contoh keterlibatan penggemar pada kegiatan kemausiaan. “Tragedi Kanjuruhan yang  menewaskan 131 korban pada bulan Oktober 2022 dibantu komunitas K-Pop bernama Neo Culture Technology (NCT). Mereka bisa mengumpulkan dana  340 juta rupiah dalam waktu 24 jam melalui Kitabisa.com. Ini kan luar biasa?, “katanya lebih lanjut. Budaya populer memang punya dampak negatif dan positif. Terkait dampak itu, Oman Sukmana selaku Promotor dan dosen menyarankan sebaiknya institusi pendidikan, media, dan pemerintah melihat fenomena K-Popers bukan hanya sebagai budaya populer semata, tetapi juga sebagai wadah ekspresi identitas dan ruang interaksi sosial generasi muda yang potensial. “Dampak negatif memang akan ada, termasuk imperialisme budaya Korea. Namun bagaimana sebaiknya hasil penelitian ini bisa dijadikan dasar kebijakan agar dampak yang tidak diinginkan tak terjadi. Karena fenomena K-Pop ini sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Kita hanya bisa mengantisipasinya, “kata guru besar UMM itu. Penelitian disertasi yang digali datanya dari studi netnografi dan dilengkapi wawancara pada penggemar NCT itu telah memunculkan identitas sosial baru komunitas generasi muda. Tentu saja, identitas tersebut diharapkan bisa menjadi sebuah kekuatan strategis bagi perubahan ke arah kemajuan yang lebih baik. (*/wil)

Mahasiswa UMM Bikin Tiga Inovasi untuk Jaga Lingkungan

Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, menjadi lokasi kontribusi mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun kegiatan itu merupakan bagian dari praktikum politik lingkungan yang terlaksana selama tiga bulan. Menariknya, pada 2 Juni lalu, terlaksana pameran inovasi dan penandatanganan kerjasama antara UMM, pihak desa, dan pemerintah Kabupaten Pasuruan. Implementasi mahasiswa UMM tersebut fokus pada inovasi pengelolaan limbah dan penguatan ekonomi lokal. Selain itu juga memperkenalkan tiga inovasi menarik yakni teknologi Smokeless Burn Barrel, yakni alat pembakaran sampah tanpa asap, produksi eco-enzymedari limbah apel, serta pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Inovasi tersebut dirancang untuk mengurangi polusi lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi warga desa. Stand pameran yang menampilkan hasil karya dan inovasi mahasiswa bersama warga itu mendapat perhatian khusus dari para tamu. Asisten II Bupati Pasuruan, Bakti Jati Permana, yang hadir mewakili Bupati, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi antara UMM dan Desa Kayu Kebek. Menurutnya, mahasiswa UMM telah membantu pemerintah dan masyarakat desa dalam mengelola limbah menjadi produk yang bernilai ekonomi. Ini adalah langkah penting dalam mempersiapkan desa menuju desa wisata lingkungan. Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, dilakukan penandatanganan prasasti pendopo sebagai simbol dimulainya kerja sama berkelanjutan antara UMM dan Desa Kayu Kebek. Pemerintah daerah menyambut baik pengembangan potensi desa melalui kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan perguruan tinggi. “Inovasi yang dilakukan mahasiswa UMM sangat relevan dengan kebutuhan desa. Pemerintah daerah mendukung penuh upaya ini,” tambahnya. Sementara itu, Kabiro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM Dr. Salahudin, M.Si., M.P.A., menegaskan bahwa praktikum ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memberikan solusi yang aplikatif. Praktikum ini adalah langkah konkret menuju pengembangan desa wisata berbasis lingkungan,” ujarnya. Adapun kegiatan ini merupakan bagian dari program akademik semester enam yang telah berjalan selama satu setengah bulan dan kini diakui secara resmi sebagai pengganti skripsi, setelah mendapat pengesahan. Sebagai bentuk apresiasi, piagam penghargaan diserahkan kepada para mahasiswa atas kontribusi mereka dalam pengembangan desa. (vin/wil)

Dibekali Tanaman Ketahanan Pangan, Rektor UMM Berangkatkan Lebih dari 3.000 Mahasiswa KKN Berdampak

Lebih dari 3.000 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dilepas untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak, 21 Juli ini. Mereka akan melangsungkan berbagai program di berbagai wilayah, paling tidak di 12 provinsi dan 53 kota kabupaten. Dari Sumatera hingga Papua. Menariknya, pelepasan KKN Berdampak itu dibuka dengan melepaskan burung-burung merpati, penyerahan tanaman sayur dan buah, hingga color run. Pelepasan burung merpati menjadi simbol dan semangat UMM untuk menjaga lingkungan dan kelestarian bumi. Sementara berbagai tanaman sayur dan buah menjadi cara UMM mendukung program ketahanan pangan. Mahasiswa akan membawa ribuan tanaman itu ke daerah-daerah dan desa serta mendorong masyarakat untuk mampu mewujudkan ketahanan pangan Indonesia. Program yang diadakan juga akan fokus mengawal dan menciptakan atmosfer ketahanan pangan di desa lokasi KKN Berdampak di mana mahasiswa UMM ditugaskan. Terkait hal ini, Kepala LPPM UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, M.P., menyampaikan bahwa UMM melepas 3.010 mahasiswa untuk melaksanakan KKN berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, juga ada mahasiswa yang akan diberangkatkan khusus ke Riau minggu depan dalam program KKN Muhammadiyah dan Aisyiyah (KKN MAS). Untuk luar Jawa mereka akan dikirim ke Badung, Bima, Dompu, Lombok Timur, Lombok Barat, Makassar, Tanah Bumbu, Kalimantan, Tabanan, Sikka, Ternate, Maluku dan lainnya. Sementara di Jawa mereka akan dikirim ke Magetan, Blitar, Bangkalan, Situbondo, Pasuruan, probolinggo, Serang, Rembang, Nganjuk, dan puluhan lainnya. Adapun tahun ini, UMM memilih tema ketahanan pangan sebagai fokus utama, yang selaras dengan agenda prioritas nasional. “KKN kali ini mengusung tema ‘Ketahanan Pangan’. Oleh karena itu, setiap mahasiswa diwajibkan membawa bibit tanaman sayuran dan buah dalam sistem multikultur. Harapannya, ini bisa jadi langkah konkret untuk memperkuat ketahanan pangan lokal,” ujar Sutawi. Namun, lebih dari sekadar menanam bibit, UMM juga menekankan bahwa mahasiswa harus mampu membaca kondisi sosial di wilayah penempatan dan memberikan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Dengan menggandeng mitra strategis seperti ATRBPN dan BPS, mahasiswa ditantang untuk memahami langsung persoalan tata ruang, data sosial ekonomi, dan dinamika kebijakan yang berlangsung di masyarakat. Maka dari itu, rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan pentingnya mahasiswa hadir sebagai agen transformasi, bukan sekadar pelaksana formalitas program.   “Sejak dulu, KKN adalah misi mulia. Tapi tantangannya hari ini berbeda. Mahasiswa harus mampu mengenali masalah dengan cara ilmiah dan lintas disiplin. Mereka harus jadi ‘pabrik solusi’, bukan pencipta masalah baru,” tegas Nazar. Dalam konteks itu, kerja sama dengan lembaga bukan hanya simbolis. Ini diarahkan agar mahasiswa dapat melihat langsung tantangan kebijakan di lapangan—misalnya bagaimana masalah pertanahan menghambat ketahanan pangan, atau bagaimana data yang lemah menyebabkan program bantuan pangan tidak tepat sasaran. Egita Dilafebrianti, mahasiswa Teknologi Pangan 2023 yang akan melaksanakan KKN di Desa Karangsono, Pasuruan, menyambut positif tema ini. Ia menilai relevansi ketahanan pangan sangat kuat, apalagi sejalan dengan program Presiden Prabowo Subianto yang mendorong kemandirian pangan desa. “Kami sudah menyiapkan workshop keamanan pangan, pendampingan izin usaha UMKM, serta pembuatan olahan bergizi untuk balita melalui Posyandu. Tapi kami juga sadar, pelaksanaannya tidak mudah. Diperlukan komunikasi aktif dengan warga dan dukungan dari pihak desa,” ujarnya. Berangkat dari tantangan tersebut, KKN UMM tahun ini bukan hanya proyek tahunan kampus. Ia menjadi bagian dari eksperimen sosial besar dan sejauh mana perguruan tinggi mampu mempertemukan teori dan realitas, serta menghadirkan mahasiswa sebagai aktor perubahan nyata dalam masyarakat. (vin/wil)

Terjangkau dan Bagus, Ini Pakan Ternak CornBoost Ciptaan Tim Mahasiswa UMM

Inovasi demi inovasi dilahirkan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya oleh para mahasiswa prodi peternakan UMM yang menciptakan inovasi pakan hewan berkualitas tinggi pada sektor peternakan. Inovasi ini berawal dari masalah yang ditemukan tim mahasiswa peternakan ini. Yakni minimnya pakan berkualitas yang sulit didapatkan. Hingga akhirnya mereka menghadirkan produk pakan ternak bernama CornBoost. Prilla Ayu Putri salah satu anggota tim menjelaskan, CornBoost adalah pakan konsentrat kering yang berkualitas tinggi dan dirancang khusus untuk mendukung produktivitas sapi perah. Dengan bahan utama berupa jagung dan campuran nutrisi lainnya, membuat pakan lebih disukai sapi. Ini juga mampu meningkatkan konsumsi pakan bagi sapi. Kandungan yang terdapat pada produk ini di antaranya protein, lemak, serat, mineral, dan vitamin yang membantu menjaga kesehatan serta mendukung pertumbuhan dan reproduksi sapi. Prila mengatakan, produk ini dikembangkan dengan pendekatan berbasis nutrisi dan efisiensi. Yakni mmenghadirkan energi tinggi yang sangat dibutuhkan oleh sapi perah dalam masa laktasi. Formulasi nutrisi seimbang di dalamnya tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi susu, tetapi juga mendukung kesehatan ternak secara keseluruhan, termasuk sistem reproduksi dan pertumbuhan. Hal menarik dari produk CornBoost adalah pemanfaatan daun katuk yang dijadikan bahan campuran utama. Sebagaimana diketahui, daun katuk memiliki khasiat dalam meningkatkan produksi ASI pada manusia. Dengan pendekatan ilmiah, potensi produk ini dikhususkan pada peningkatan produksi susu sapi perah. Ini merupakan sebuah terobosan yang membuka jalan bagi penggunaan bahan lokal yang bernilai tinggi dalam dunia peternakan. “Alasan kami membuat produk ini adalah menciptakan pakan yg berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau” katanya. Meski produk ini belum resmi dipasarkan, namun sudah diperkenalkan kepada para dosen dan akademisi di lingkungan program studi. Ini juga menjadi bentuk pengujian tahap awal. Prilla dan timnya juga menunjukkan komitmen serius dengan mencari solusi atas kendala harga bahan baku yang tinggi, terutama pada komponen daun katuk kering. Dia mempunyai solusi yakni dengan melakukan pengeringan daun katuk segar secara mandiri  menggunakan oven demi menekan biaya produksi namun tetap menjaga kualitas. “Kendala kami ada di harga daun katuk yg mahal. Jadi kami mengambil solusi mencari daun katuk fresh yg kami keringkan sendiri dengan cara dioven,” ungkapnya. Mengakhiri kalimatnya, Prila berharap produk yang dia dan tim ciptakan dapat membantu para peternak dalam skala besar maupun kecil. Sehingga dapat meningkatkan produksi susu pada ternak. Selain itu juga dapat menjadi alternatif pakan lokal yang kompetitif, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional melalui sektor peternakan. (nam/wil)

Mahasiswa UMM Bikin Tiga Inovasi untuk Jaga Lingkungan

Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, menjadi lokasi kontribusi mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun kegiatan itu merupakan bagian dari praktikum politik lingkungan yang terlaksana selama tiga bulan. Menariknya, pada 2 Juni lalu, terlaksana pameran inovasi dan penandatanganan kerjasama antara UMM, pihak desa, dan pemerintah Kabupaten Pasuruan. Implementasi mahasiswa UMM tersebut fokus pada inovasi pengelolaan limbah dan penguatan ekonomi lokal. Selain itu juga memperkenalkan tiga inovasi menarik yakni teknologi Smokeless Burn Barrel, yakni alat pembakaran sampah tanpa asap, produksi eco-enzymedari limbah apel, serta pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Inovasi tersebut dirancang untuk mengurangi polusi lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi warga desa. Stand pameran yang menampilkan hasil karya dan inovasi mahasiswa bersama warga itu mendapat perhatian khusus dari para tamu. Asisten II Bupati Pasuruan, Bakti Jati Permana, yang hadir mewakili Bupati, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi antara UMM dan Desa Kayu Kebek. Menurutnya, mahasiswa UMM telah membantu pemerintah dan masyarakat desa dalam mengelola limbah menjadi produk yang bernilai ekonomi. Ini adalah langkah penting dalam mempersiapkan desa menuju desa wisata lingkungan. Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, dilakukan penandatanganan prasasti pendopo sebagai simbol dimulainya kerja sama berkelanjutan antara UMM dan Desa Kayu Kebek. Pemerintah daerah menyambut baik pengembangan potensi desa melalui kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan perguruan tinggi. “Inovasi yang dilakukan mahasiswa UMM sangat relevan dengan kebutuhan desa. Pemerintah daerah mendukung penuh upaya ini,” tambahnya. Sementara itu, Kabiro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM Dr. Salahudin, M.Si., M.P.A., menegaskan bahwa praktikum ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memberikan solusi yang aplikatif. Praktikum ini adalah langkah konkret menuju pengembangan desa wisata berbasis lingkungan,” ujarnya. Adapun kegiatan ini merupakan bagian dari program akademik semester enam yang telah berjalan selama satu setengah bulan dan kini diakui secara resmi sebagai pengganti skripsi, setelah mendapat pengesahan. Sebagai bentuk apresiasi, piagam penghargaan diserahkan kepada para mahasiswa atas kontribusi mereka dalam pengembangan desa. (vin/wil)

Mahasiswa HI UMM Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi

Limbah rumah tangga menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang tak kunjung usai dan minyak jelantah adalah salah satu penyumbang terbesarnya. Seringkali dibuang sembarangan ke tanah atau saluran air, minyak jelantah dapat mencemari lingkungan dan bahkan berbahaya bagi kesehatan tubuh. Namun, di tengah tantangan ini, muncul secercah harapan dari tangan kreatif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adalah Jo, koordinator tim dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, jurusan Hubungan Internasional, yang berinisiatif menghadirkan solusi inovatif, yakni lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Ide brilian ini bermula dari mata kuliah Gerakan Sosial di semester 5. Jo yang memiliki nama lengkap Alvinda Wijaya, menjelaskan bahwa inovasi ini didorong oleh kepedulian terhadap dampak merusak minyak jelantah. “Minyak jelantah ini kan salah satu limbah rumah tangga yang bisa dibilang susah dan merusak. Ini bisa merusak lingkungan karena minyaknya yang biasanya dibuang di jalan atau tanah dan juga merusak tubuh,” ungkap Jo. Ia dan timnya kemudian mengajak masyarakat, khususnya di Desa Kayu Kebek, untuk memanfaatkan limbah yang sering dianggap tak berguna ini. Meskipun terdengar rumit, Jo menuturkan bahwa bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat lilin aromaterapi ini sebenarnya sederhana. Untuk menjernihkan minyak jelantah, mereka menggunakan arang aktif (arang kayu). Jika bau masih membandel, minyak dapat dihangatkan, digoreng dengan bawang bombay, kemudian ditambahkan empat sendok bleacher sambil terus diaduk hingga tidak menggumpal. Tentu saja, di awal proyek ini, Jo dan tim dihadapkan pada beberapa tantangan. Jo sendiri mengaku gugup saat harus berbicara di depan banyak orang, terutama saat menghadapi sekitar 30 ibu-ibu PKK. Selain itu, tantangan teknis dalam meracik lilin juga tak kalah seru. “Tantangan membuat lilin saat pertama kali itu harus memikirkan rumus yang tepat seperti berapa gram steric acid-nya (bahan pengeras lilin) dan essential oil. Lalu terkiat minyak jelantah yang kadang susah menghilangkan baunya,” katanya. Lilin aromaterapi dari minyak jelantah ini bukan sekadar penerangan biasa. Produk ini menawarkan aroma yang khas dan memikat karena diberi essential oil atau fragrance oil, sehingga tidak hanya memberikan penerangan namun juga menciptakan suasana yang menenangkan. Selain itu, lilin aromaterapi ini juga bisa dikasih hiasan dan aneka ragam wadah, yang menjadi keunggulan produk ini dalam menjual kreativitas dan ketertarikan kepada konsumen. Yang paling penting, karena bahannya terdapat minyak jelantah, produk ini termasuk dalam gerakan peduli lingkungan sekaligus menambah rasa kreativitas orang atau warga yang membuatnya. Jo dan tim menargetkan penjualan lilin ini ke hotel atau tempat spa yang membutuhkan lilin beraroma. Namun, dengan pemikiran untuk menjual secara daring, ia berharap target pasar produk ini dapat melebar luas dan menjangkau lebih banyak konsumen. Visi utama mereka adalah mengajak masyarakat untuk peduli dan menjaga lingkungan. Mereka melihat inisiatif lilin aromaterapi dari minyak jelantah ini sebagai sebuah gerakan penyadaran lingkungan. Mereka berharap, kegiatan inimenciptakan sebuah “hilir” di mana masyarakat dapat terus berinovasi dan berkontribusi dalam menjaga lingkungan. (bil/wil)

Mahasiswa UMM Sulap Ampas Jamu jadi Herbal Candy

Inovasi terus lahir dari tangan-tangan kreatif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, inovasi luar biasa datang dari sekelompok mahasiswa Peternakan UMM. Berupaya mendukung para peternak menghadapi potensi wabah yang sewaktu-waktu dapat terjadi, kelompok beranggotakan 10 orang ini menghadirkan produk suplemen pakan untuk ternak ruminansia, khususnya sapi perah. Bahkan produk ini terbuat dari ampas jamu-jamuan. Produk ini diberi nama Herbal Candy. Adapun Yulya Ulfa Majoli sebagai salah satu anggota kelompok mengatakan bahwa, produk ini menjadi jawaban atas kebutuhan peternak akan suplemen pakan yang alami, aman, praktis, sekaligus ramah lingkungan. Herbal Candy berbentuk blok yang dirancang agar mudah dijilat oleh ternak. Terbuat dari bahan-bahan herbal seperti kunyit, jahe, temulawak, molase, dan mineral penting, suplemen ini didesain mampu meningkatkan daya tahan tubuh, nafsu makan, serta metabolisme ternak. Utamanya, sebagai booster produksi susu pada sapi perah. Menariknya, bahan herbal tersebut diperoleh dengan memanfaatkan limbah ampas jamu sebagai komposisi bahan utama. Menurut Ulfa, selain bernilai ekonomis juga mendukung konsep peternakan berkelanjutan di tanah air. Tak hanya mampu menstimulasi imunitas, Herbal Candy juga berfungsi memperbaiki pencernaan serat pakan. Kandungan molase di dalamnya menjadi sumber energi cepat yang sangat dibutuhkan ternak. Terutama saat masa laktasi atau penggemukan. Ditambah lagi, kombinasi kunyit dan temulawak berperan sebagai digestional booster yang merangsang produksi enzim dan empedu, sehingga kesehatan pencernaan sapi tetap terjaga. Lebih lanjut, Ulfa menjelaskan proses produksinya dimulai dengan seleksi dan penimbangan bahan kering sesuai formulasi ampas jamu, mineral, dan pollard. Kemudian, bahan kering yang sudah siap dicampur dengan molase hingga membentuk adonan homogeny. Adonan dicetak, dipadatkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari selama 1–2 hari atau dalam oven agar awet dan tahan lama. Setelah melewati pemerikasaan bobot dan kualitas, Herbal Candy dikemas rapi agar siap digunakan. Dari segi harga, produk ini juga lebih ekonomis. Satu blok seberat 550 gram hanya dibandrol Rp10.000 lebih hemat sekitar Rp5.000 dibandingkan suplemen sejenis di pasaran. Tak hanya itu, keunggulan lainnya terletak pada penggunaan bahan-bahan alami tanpa campuran bahan kimia, sehingga aman untuk pemberian jangka panjang. “Produk ini kami rancang harganya lebih terjangkau dan menggunakan bahan alami mengandung Kurkumin tanpa campuran kimia yang bersifat antibakteri dan anti inflamasi. Sehingga membantu menjaga kesehatan dan aman untuk digunakan dalam jangka panjang,” kata Ulfa melanjutkan. Lebih lanjut, Ulfa menceritakan dibalik produk inovasi ini, terdapat kerja keras tim mulai dari observasi, riset business plan, hingga proses produksi dan pengemasan. Di samping itu, Ia menyampaikan terimakasih kepada para dosen, teman, dan keluarga yang selalu support langkahnya. Menurutnya, di UMM, para mahasiswa tak hanya diberi pembekalan materi, tetapi juga menjadi wadah nyata yang menfasilitasi mahasiswa menyalurkan kreativitas dan inovasi. Selain memperluas wawasan keilmuan, program ini juga membekali mahasiswa dengan semangat kewirausahaan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat. “Dengan semangat inovasi dan kolaborasi, UMM terus mendorong mahasiswanya menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan solusi untuk kebutuhan masyarakat. Ini juga menjadi peluang nyata bagi kami para mahasiswa untuk bisa berkreasi dan berdampak bagi masyarakat luas,” ujar Ulfa. (din/wil)

Ini Dia Beragam Karya Inovasi Mahasiswa UMM Bidang Peternakan

Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kuliah pakar bertajuk “Inovasi Nutrisi dan Pakan Ternak untuk Peternakan Berkelanjutan”. Menariknya, acara yang dilaksanakan pada 26 Juli ini juga memamerkan berbagai produk inovasi, serta menjadi bagian dari mata kuliah praktikum Pakan dan Teknologi Pakan. Inovasi produk pakan itu diproduksi langsung oleh mahasiswa Peternakan UMM. Produk yang dipromosikan bervariatif seperti MBP (Milkbooster ProMix), sebuah pakan berkualitas yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sapi perah secara lengkap. Di dalamnya mengandung energi, protein, serat, vitamin, dan mineral yang cocok diberikan saat laktasi goalsnya meningkatkan volume dan susu dengan kualitas tinggi. Kemudian ada juga Mafeed (Maggot Feed Layer) pakan alternatif ternak untuk unggas fase layer, Havpaya Feed peningkat nafsu makan domba atau kabing dari tepung daun papaya dan biji haver, serta masih banyak lagi. Adapun agenda tahunan ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dan menghadirkan dua narasumber ahli yang terjun langsung dalam industri pakan ternak. Mereka adalah Ir. Yahya M. Sofwan, S,Pt, MP, IPM selaku Feed and Nutrition Consultant dan Samsul Hadi Santoso yang merupakan General Manager Koperasi Agro Niaga (KAN). Dalam materinya, Yahya menyoroti pentingnya efisiensi dan inovasi dalam formulasi pakan ayam petelur. Ia menjelaskan berbagai jenis pakan seperti mash, crumble, dan kibble, serta pengaruh besar sumber cereal seperti sorgun, gandum, hingga jagung terhadap nilai nutrisi. Menurutnya, pendekatan phase feeding dapat mengoptimalkan performa ayam petelur dengan tetap memperhatikan efisiensi biaya dan keberlanjutan lingkungan. “Industri pakan saat ini mengalami disrupsi. Untuk itu, teknologi evaluasi pakan yang cepat dan tepat menjadi kunci untuk menekan biaya dan tetap menjaga kualitas,” jelas Yahya melanjutkan. Sementara itu, Samsul Hadi membahas pentingnya formulasi pakan sapi perah secara presisi. Pemenuhan kebutuhan nutrisi harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti bobot bada, status reproduksi, performa tubuh, ladar lemak susu, dan tingkat produksi susu pada sapi perah. Karena menurutnya, efisiensi nutrisi dimuali dari perhitungan yang matang. Dengan begitu, biaya produksi bisa ditekan tanpa mengorbankan kualitas pakan dan produk yang dihasilkan. Di sisi lain, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP., IPU selaku dosen pengampu menyebut bahwa kuliah pakar ini tidak hanya memberikan wawasan teoritis saja. Akan tetapi juga menguatkan pemahaman praktis mahasiswa dalam menghadapi tantangan nyata di sektor peternakan yang kian berkembang. Ini merupakan output positif setelah tujuh tahun Prodi Peternakan UMM menerapkan pendekatan pembelajaran menjadi berbasis proyek. Momentum ini menjadi yang selalu ditunggu mahasiswa dan dosen. “Dari sini lah wawasan mereka terhadap sains dan teknologi, team work, serta skill entrepreneur dimainkan. Produk-produk yang dihasilkan lebih dari ekspektasi kami, sangat inovatif, ramah lingkungan, dan bahkan menjadi kontributor terbesar inovasi PKM yang beberapa diantaranya lolos ke tingkat nasional,” ujar Indah. (din/wil)