Mahasiswa KKN UMM Inisiasi Kampung Pengolahan Limbah di Malang

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mendorong mahasiswanya untuk jadi generasi berdampak. Termasuk lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak di berbagai wilayah. Salah satunya dengan peresmian Kampung Ecoenzyme di Dusun Mondoroko, Desa Banjararum, Singosari yang dilangsungkan mahasiswa KKN, 6 Agustus 2025. Mereka mengajari cara pembuatan ecoenzyme, penggunaan, hingga penyaluran. Adadapun ecoenzyme adalah cairan serbaguna hasil fermentasi dari sisa organik seperti buah dan sayuran, gula merah, dan air. Cairan ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. “Semua berawal dair kesadaran kami bahwa di kampung ini ada banyak limbah organik yang tersedia. Baik itu dari pertanian, peternakan, maupun limbah dari penjual yang banyak cukup banyak. Dari situ, kami memiliki ide untuk memanfatkannya jadi ecoenzyme,” kata Pandu Hiro Zaisan selaku koordinator KKN. Pandu mengatakan ecoenzyme bisa digunakan di berbagai hal. Misalnya bisa menjadi pupuk untuk tanaman dan pertanian, terapi bantal, pengharum ruangan, hingga handsanitizer. Produk ini bahkan bisa dikembangkan menjadi cairan pel dan sabun cuci baju. Dengan begitu, limbah yang dulunya dibuang begitu saja bisa dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat. “Jadi kami mengajari warga tiap RT satu persatu, terutama ibu-ibu. Ke depan, kami berharap ini bisa menjadi sumber pemasukan baru bagi masyarakat,” kata mahasiswa manajemen itu. Di sisi lain, Kepala Dusun Mondoroko Solehudin mengapresiasi upaya dari para mahasiswa, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan. Namun, ia berharap para mahasiswa bisa terus memonitor program sekalipun periode KKN berakhir. Menurutnya, keberlanjutan program ecoenzyme bisa memberikan dampak yang lebih besar. Hal serupa juga disampaikan Wakil Rektor IV M. Salis Yuniardi, P.hD. yang turut mengunjungi KKN berdampak tersebut. Ia menyampaikan, ada beberapa kampus yang sudah menghilangkan program KKN karena target utamanya adalah melahirkan sarjana. Namun tidak dengan UMM yang memang berkomitmen penuh menjalankan KKN Berdampak di berbabagi wilayah. “Kami tidak ingin para sarjana dari UMM hanya siap bekerja, tapi juga harus bisa bermanfaat untuk masyarakat. Maka KKN Berdampak jadi pembelajaran mahasiswa untuk terjun ke masyarakat dan menebar kebermanfaatan. Menjadi problem solver di tengah pelbagai masalah yang ada,” katanya. KKN Berdampak ini juga menjadi cara UMM menjalankan arahan dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Universitas harus mampu memberikan dampak yang baik pada masyarakat. Maka dari itu, kami menugaskan mahasiswa untuk menjalankan program unggulan di masing-masing lokasi KKN. “Jadi harus ada program unggulan. Program yang kalau tidak ada mahasiswa KKN, tidak akan bisa jalan. Bukan hanya megajar mengaji, belajar membaca buku, atau membantu Agustusan. Tapi benar-benar bagus dan unik. Salah satu contohnya Kampung Ecoenzyme ini,” pungkasnya. (wil)

Bantu Tunanetra, Mahasiswa UMM Bikin Kacamata Pintar Deteksi Obat

Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan inovasinya dalam bidang teknologi kesehatan. Lewat proyek bertajuk Vision Medichine, tim mahasiswa berhasil mengembangkan kacamata pintar (smart glasses) berbasis machine learning yang ditujukan untuk membantu penyandang tunanetra dalam mendeteksi jenis obat secara otomatis. Adapun alat ini berhasil mendapat pendanaan dari Kemdiktisaintek RI dalam pengembangannya. Didesain secara khusus dengan pendekatan generative AI dan teknologi voice assistant, Vision Medichine dirancang untuk memberikan informasi obat melalui keluaran suara secara real-time. Inovasi ini berangkat dari keprihatinan sang penggagas atas banyaknya penyandang tunanetra yang mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi obat yang mereka konsumsi. Terlebih ketika berada dalam kondisi mendesak. Tim yang terdiri dari Al Fitra Nur Ramadhani (Informatika), Muhammad Hanif (Informatika), Dwi Sukmawati (Farmasi), Zaki Hanif Izzet (Teknik Elektro) dan Riko Dwi Firmansyah (Teknik Elektro) ini memang memiliki optimisme dan semangat tinggi untuk menciptakan produk kebanggaan ini. Proyek ini bermula dari proses mereka ikut seleksi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang digelar di tingkat universitas. “Awalnya saya dari prodi Informatika, waktu itu memang lagi gencar-gencarnya untuk ikut seleksi PKM dan Alhamdulillah kami yang lolos dan terpilih,” kenang Fitra. Menurutnya, masih banyak berita dan informasi tentang tunanetra yang mengalami kesusahan untuk deteksi obat. Padahal aspek kesehatan merupakan hal yang penting bagi manusia. Dari situ, ia dan tim memutuskan untuk mengambil topik kesehatan ini. Penciptaan Vision Medichine ini terinspirasi dari perangkat virtuality yang selama ini digunakan oleh kalangan disabilitas. Dengan teknologi pemindai (scan) yang terintegrasi, pengguna cukup mengarahkan kacamata ke obat yang akan dikonsumsi, lalu perangkat secara otomatis akan membacakan nama dan informasi dasar mengenai obat tersebut. Tak hanya itu, Vision Medichine juga dilengkapi dengan fitur voice assistant yang memungkinkan pengguna bertanya langsung kepada perangkat. “Alat ini didukung dengan voice assistant, jadi penggunanya atau tunanetranya ini bisa tanya-tanya juga terkait data setempat,” lanjut Fitra. Kelebihan lainnya adalah bentuk alat yang ergonomis dan efisien sehingga memudahkan tunanetra dalam penggunaannya sehari-hari tanpa perlu pelatihan teknis yang rumit sehingga dapat membantu penyandang Tunanetra dalam segi kemandirian. Hingga saat ini, proyek Vision Medichine sudah menunjukkan progres signifikan. “Alhamdulillah kemarin kita juga sudah sempat progres, mungkin kalau dihitung dengan persentase, mesin ini sudah mencapai 30-40 persen. Masih banyak yang harus dilakukan, tapi semua lancar dan aman. Apalagi komponen-komponen yang dibutuhkan sudah datang serta bimbingan dari dosen seperti Pak Galih Wasis Wicaksono yang sangat membantu,” ujarnya. Meski begitu, pengembangan alat ini tidak luput dari tantangan teknis. Beberapa komponen seperti kamera sempat tidak berfungsi dengan baik saat uji coba di lapangan. “Ada beberapa komponen yang kita beli namun tidak berfungsi seperti yang kami harapkan, misalkan kamera ketika kami uji coba di lapangan hasilnya beda dan tidak berfungsi,” jelasnya. Dengan semangat kolaboratif dan dukungan dari berbagai pihak, tim pengembang Vision Medichine berharap bisa melanjutkan proyek ini hingga ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Inovasi ini menjadi bukti nyata komitmen UMM dalam mencetak mahasiswa yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga peduli terhadap persoalan sosial dan mampu menciptakan solusi teknologi yang inklusif dan aplikatif. (hud/wil)

UMM Jadi Rujukan Bappenas untuk Inovasi Perguruan Tinggi

Dianggap sebagai kampus inovatif dan berdampak luas bagi masyarakat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terima kunjungan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI, 1 Agustus 2025 lalu. Agenda Sharing Session itu membahas kontribusi nyata UMM dalam isu-isu strategis nasional, seperti stuting, kesehatan dan gizi masyarakat, pendidikan inklusif, hingga penguatan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) UMM. Diskusi hangat ini menyoroti bagaimana UMM melalui KKN Tematik dan Program LPPM telah menyasar langsung kebutuhan masyarakat, seperti pemenuhan gizi ibu hamil dan balita sebagai upaya konkret penurunan stunting. Lebih lanjut, Hanifa Umi Haryati salah seorang Planner Bappenas menilai bahwa pendekatan UMM sejalan dengan arah Rencana Kerja Pemerinta (RKP) 2026, yang menekankan pembangunan manusia seutuhnya menuju Indonesia Emas 2045. Pendidikan inklusif dan kesehatan masyarakat menjadi prioritas nasional, dan UMM dinilai telah menunjukkan aksi nyata melalui riset, inovasi teknologi lokal, hingga pemberdayaan desa. Tak hanya itu, peran aktif UMM sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dalam mengelola program PPG juga menjadi sorotan. “Termasuk di dalamnya, kami ingin lebih mengetahui bagaimana kampus mengembangkan kurikulum, evaluasi pembelajaran, serta menyiapkan guru berkualitas untuk generasi masa depan,” ujar Hanifa melanjutkan. Menjawab hal ini, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP., IPU., Direktur Direktorat Saintek UMM menyampaikan bahwa UMM melalui Direktorat Saintek terus mengoptimalkan pemanfaatan hasil riset, khususnya di bidang kesehatan, gizi, dan ketahanan pangan. Direktorat ini telah menghimpun berbagai penelitian, termasuk yang berkaitan dengan stunting, baik dari dosen maupun mahasiswa. Kemudian, melalui program unggulan seperti Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), UMM aktif mengembangkan inovasi. Salah satunya beras analog tinggi zat besi (fe) sebagai solusi nyata di masyarakat. Masih mengenai isu stunting, UMM juga dipercaya turut serta dalam konsorsium perguruan tinggi terkait pengentasan stunting di NTT bersama Kementerian Diktisaintek RI. Ini menjadi salah satu contoh sinergi UMM dengan kementerian dan pemerintah daerah. Selain hasil riset, UMM juga mendorong penguatan literasi gizi, pertanian, dan produktivitas ekonomi masyarakat demi menurunkan stunting dan kemiskinan secara berkelanjutan. “Stunting adalah isu kompleks. Tak hanya soal gizi, tapi juga lingkungan, ekonomi, dan literasi,” ujarnya. Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., menegaskan komitmen UMM dalam menyelenggarakan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang unggul dan berstandar internsional. Menariknya, sejak 2007, UMM sudah aktif melaksanakan sertifikasi guru. Hingga saat ini, baik PPG Dalam Jabatan maupun Prajabatan menerapkan sistem pembelajaran blended dan kurikulum khas seperti AIK dan Mata Kuliah Manajemen Produksi Media Pembelajaran Digital sebagai mata kuliah elektif. Tak hanya itu, UMM juga tengah menjalin kerja sama internasional, seperti universitas di Australia, Rusia, Taiwan, Spanyol, dan lainnya. Bahkan, pada Oktober 2025 mendatang, UMM akan terlibat langsung dalam program konsorsium pendidikan Indonesia-Australia di Manado yang didukung Kedutaan Australia. Di sisi lain, Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A., Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerjasama Bidang VI UMM, menegaskan pentingnya sinergi antara UMM dan kementerian strategis seperti Bappenas dalam mendukung percepatan pembangunan nasional. Menurutnya, UMM telah merancang berbagai program yang berdampak langsung pada masyarakat melalui riset dan pengabdian masyarakat baik dari tingkat mahasiswa, maupun dosen. “Inisiatif ini menjadi bukti bahwa UMM tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mendorong implementasi di lapangan, utamanya aspek kesehatan gizi dan pendidikan,” katanya. (din/wil)

Dari Aceh hingga Papua, Ribuan Wali Mahasiswa Baru Padati Silaturahmi bersama UMM

Ribuan orang tua dan wali mahasiswa baru dari berbagai penjuru Indonesia memadati Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 2 agustus 2025. Momentum ini menjadi titik awal penting dalam membangun kolaborasi antara kampus dan keluarga dalam mendampingi generasi muda meniti pendidikan tinggi di UMM. Melalui pertemuan ini, UMM mengajak keluarga untuk bersama-sama mendampingi proses pendidikan yang bukan hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan arah masa depan. Pada kesempatan ini, UMM juga memberikan berbagai beasiswa bagi mahasiswa baru yang berprestasi. Mendorong agar para mahasiswa lain juga mampu memaksimalkan potensi untuk meraih prestasi. Dalam momen penuh kehangatan, Prof. Dr. Muhadjir Effendi, Ketua Badan Pembina Harian UMM sekaligus Penasihat Khusus Presiden RI untuk Urusan Haji, mengungkapkan rasa hormat dan terima kasih kepada para orang tua atas kepercayaan yang diberikan kepada UMM. Ia menekankan bahwa keberhasilan mahasiswa tak hanya lahir dari proses akademik di kampus, melainkan juga hasil kerja sama erat dengan keluarga. “Universitas hanya bisa membantu dan mendukung. Tapi arah dan tanggung jawab masa depan anak tetap berada pada orang tuanya. Maka penting bagi kita untuk bergerak bersama,” ujarnya. Dari sisi kepemimpinan universitas, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. selaku rektor menguraikan tekad UMM untuk menghadirkan pendidikan bermutu dan lingkungan pembelajaran yang berkarakter. Ia menyebut bahwa lebih dari 4.200 mahasiswa baru dari berbagai daerah—mulai dari Aceh, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Papua—telah resmi bergabung dengan UMM sebagai bagian dari Gen 25. Melalui pertemuan ini, para orang tua diajak mengenal lebih dalam filosofi pendidikan UMM, sistem akademik, serta ekosistem pembinaan yang dibangun untuk membentuk mahasiswa yang cerdas, tangguh, dan berintegritas. Ia menegaskan bahwa peran keluarga tetap krusial, terutama dalam mendorong putra-putri mereka menjauh dari hal-hal yang mengganggu proses studi, seperti kekerasan, obat-obatan terlarang, dan pelanggaran etika kampus lainnya. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga punya karakter kuat dan jiwa kepemimpinan. Kampus ini tidak hanya tempat belajar, tapi juga ruang tumbuh untuk menjadi pribadi utuh,” jelasnya. Namun, ungkapan paling mengesankan justru datang dari para orang tua. Salah satunya adalah Rosalia, yang datang dari Kalimantan Selatan untuk mengantarkan putrinya kuliah di jurusan Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan. Ia menilai pertemuan ini penting karena memberikan pemahaman langsung kepada orang tua mengenai dunia kampus serta membuka ruang komunikasi antara keluarga dan universitas. “Saya sangat senang dan bangga. Ini pertama kali saya ke Malang, dan kampus ini memberi kesan yang sangat nyaman. Harapannya, anak saya bisa betah, belajar dengan baik, dan ilmunya bermanfaat di masa depan,” ungkapnya. Kebersamaan yang terjalin menciptakan keyakinan bahwa masa depan mereka akan lebih baik bila didampingi dengan doa, dukungan, dan kerja sama yang solid antara orang tua dan perguruan tinggi. UMM menegaskan komitmennya untuk terus menjadi rumah yang aman, unggul, dan menginspirasi bagi setiap mahasiswa yang mempercayakan masa depannya di kampus ini. (vin/wil)

Lagi, Humas UMM Jadi Humas Kampus Terbaik se-Jatim

Hubungan Masyarakat (Humas) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menasbihkan diri jadi humas kampus terbaik se-Jawa Timur. Hal itu berkat keberhasilan menjadi terbaik pertama bidang pengelolaan media sosial dan laman dalam kompetisi Anugerah Humas Diktisaintek Jatim akhir Juli ini. Ajang ini dilaksanakan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) wilayah VII Jawa Timur. “Dengan hasil ini, kami sekaligus mewakili Jatim di Anugerah Humas tingkat nasional. Prestasi di Jawa Timur memang sudah kami menangkan empat tahun berturut-turut. Di level nasional juga berhasil menjadi humas perguruan tinggi terbaik dalam kategori laman dan media sosial tiap tahunnya,” kata Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. Menurutnya, prestasi ini tak lepas dari kerja keras dan cerdas tim Humas UMM di berbagai aspek. Mulai dari tim riset dan berita, tim media sosial, video dan foto, strategi komunikasi dan lainnya. Kolaborasi dan sistem yang dibangun memungkinkan Humas UMM mampu menghasilkan konten yang memiliki value tinggi, tidak hanya sekadar unggah dan menerbitkan saja. “Media sosial dan laman website jadi dua di antara banyak platform yang menyebarkan kiprah dan inovasi sivitas akademika UMM. Apalagi tema tahun ini adalah kampus berdampak yang memang sudah lama dilakukan UMM. Prestasi ini juga tak lepas dari dukungan penuh rektor UMM Prof Nazaruddin Malik,” katanya. Terkait tema, Krisna, sapaan akrabnya menilai bahwa mahasiswa, tendik, dan dosen UMM memang sudah banyak yang memberikan inovasi. Tidak hanya berhenti pada hasil penelitian saja, tapi juga benar-benar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Mulai dari pupuk organik, pakan ternak bergizi dan terjangkau, robot, aplikasi psikologi, metaverse hukum, bibit unggul, hingga mengubah berbagai kampung jadi kampung wisata. Sehingga tema kampus berdampak bukan hal yang baru bagi UMM karena sudah sejak awal berdiri memberikan dampak dan perubahan positif. Apalagi kini di bawah komando Prof Nazaruddin sebagai rektor, UMM telah mendirikan Direktorat Saintek yang menjadi wadah berbagai riset menarik. Beragam penelitian tersebut terus diuapayakan untuk dihilirisasi dan bisa dimanfaatkan masyarakat. Ini menjadi upaya dalam mendorong kemajuan bangsa Indonesia, termasuk di bidang pangan, teknologi, dan lainnya. “Semoga prestasi sebagai Humas Kampus terbaik Jatim ini bisa mendorong kami melakukan hal yang lebih baik lagi. Selain itu, saya dan tim juga akna berjuang keras untuk kembali berjaya di tingkat nasional seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Krisna menutup. (wil)

Mahasiswa UMM Unjuk Gigi, Sabet Juara 3 Nasional Ajang Cyber Security

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali ukir prestasi di tingkat nasional. Tim dari LSO Kaliber (Organisasi mahasiswa yang berfokus dalam bidang keamanan siber dan jaringan), berhasil meraih Juara 3 dalam ajang ACAD Defence Challenge 2025 yang digelar oleh ACAD CSIRT di Bandung. Kompetisi yang berlangsung pada awal Juli 2025 ini diikuti oleh lebih dari 70 tim dari berbagai instansi akademik di Indonesia. Mereka bersaing dalam kategori umum mulai dari tingkat pelajar, mahasiswa, dan umum. Berbagai tantangan yang dihadapkan pada peserta dalam ajang ini seperti menganalisis serangan, merespon insiden, memburu ancaman dan membedah jejak digital. Tim UMM yang terdiri dari Muhammad Salman Al Farisi, Bimo yudistira Ariel, dan Sutrisno Adit Pratama dari Program Studi Teknik Informatika UMM ini tampil solid dan percaya diri. Berbekal latihan intensif dan semangat tinggi, mereka berhasil menembus posisi tiga besar, mengungguli banyak pesaing lainnya. “Persiapan kami untuk mengikuti perlombaan memang sudah mencoba dari tahun-tahun sebelumnya. Oada tahun ini, alhamdulillah lolos kualifikasi selama 4 minggu dan berhasil menjadi juara dalam kompetisi tersebut” ujar Salman, mewakili tim. ACAD Defence Challenge 2025 merupakan agenda tahunan ACAD CSIRT yang bertujuan mencetak generasi muda yang siap menghadapi tantangan dunia maya. Melalui skenario serangan dan pertahanan digital, peserta diajak berpikir kritis, cepat, dan tepat dalam menangani berbagai potensi ancaman siber. Salman dan tim merupakan mahasiswa Teknik Informatika UMMyang aktif dalam organisasi kampus LSO Kaliber. Minatnya pada jaringan dan komputer muncul sejak awal kuliah. Ketika mengetahui adanya organisasi yang sesuai dengan minatnya, ia langsung tertarik bergabung, bahkan sempat diamanahi sebagai Ketua Umum LSO Kaliber. Aktivitasnya dalam LSO tersebut membuatnya lebih fokus dan menekuni bidang yang memnag sesuai dengan jurusannya. “Awal saya mengenal LSO Kaliber ketika Pesmaba dimana waktu itu salah satu pengurusnya memperkenalkan LSO Kaliber kepada mahasiswa baru. Motivasinya karena saya ingin mendalami bidang jaringan komputer dan selaras dengan penjurusan di prodi saya.“ jelas Salman. Capaian ini menambah deretan prestasi mahasiswa UMM dalam bidang teknologi dan digitalisasi. Kampus yang dikenal sebagai “Kampus Putih” ini terus mendukung tumbuhnya talenta-talenta muda berprestasi dari berbagai disiplin ilmu. UMM terus mendorong pengembangan diri mahasiswa melalui organisasi intra, kompetisi, hingga kolaborasi industri. Prestasi ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani mencoba, belajar, dan berkontribusi lewat keahlian yang mereka miliki. “harapan saya semoga bisa menjadi motivasi bagi anggota LSO yang lain untuk tetap berusaha dan berjuang di organisasi, kemudian untuk LSO semoga kedepannya bisa lebih banyak memperoleh prestasi dan semakin berkembang. harapannya agar kampus lebih mendukung dan mensupport kegiatan-kegiatan mahasiswa.” Pungkasnya. Salman, yang dipercaya sebagai ketua tim, menyampaikan harapannya agar pencapaian ini tidak berhenti sebagai kebanggaan semata, tetapi bisa menjadi pemicu semangat bagi mahasiswa lain, khususnya mereka yang tergabung dalam LSO Kaliber. Terlebih lagi, UMM selalu memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk fasilitas, pendampingan dosen, maupun kesempatan untuk mengikuti berbagai pelatihan dan perlombaan. (hud/wil)

Atasi Residu Kimia di Peternakan, Mahasiswa UMM Ciptakan Jamu Kambing dan Sapi

Ketergantungan peternak Indonesia terhadap pakan kimia dan antibiotik sintetis tak hanya berisiko bagi kesehatan hewan, tetapi juga berdampak pada konsumen. Residu kimia dalam produk ternak telah lama menjadi isu tersembunyi dalam sistem pangan nasional. Hal tersebut mendorong sekelompok mahasiswa Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggagas inovasi bernama Nutri Jamu—pakan herbal berbentuk pelet yang menyasar ruminansia seperti sapi dan kambing. Nutri Jamu memanfaatkan bahan lokal seperti temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dan daun pepaya (Carica papaya). Keduanya dikenal memiliki sifat antimikroba, antiinflamasi, serta mampu meningkatkan nafsu makan dan kekebalan tubuh ternak. Inovasi ini juga menjadi kritik terhadap dominasi industri pakan besar yang kerap meminggirkan peternak kecil. “Nutri Jamu bukan sekadar formula teknis, tapi juga bentuk keberpihakan. Kami ingin peternak punya alternatif sehat dan murah, tanpa tergantung pada pakan pabrikan yang harganya kian melambung,” ujar Oka Saputra sebagai ketua tim. Dari sisi kandungan, formulasi Nutri Jamu terdiri atas 5–10% temulawak dan 10–15% daun pepaya, dikombinasikan dengan bahan konvensional seperti jagung, dedak, dan konsentrat. Bentuknya yang berupa pelet membuatnya praktis, mudah disimpan, serta tahan lama tanpa pengawet, dengan kadar air maksimal 12%. Proses pembuatannya juga tergolong sederhana dan dapat direplikasi. Bahan-bahan lokal dikeringkan, digiling, dan dicampur sesuai kebutuhan nutrisi ternak. Setelah itu dikukus dan dicetak menggunakan mesin pelletizer. Hasil akhirnya adalah pelet padat dan higienis yang bisa disimpan hingga tiga bulan. “Salah satu keunggulan proses ini adalah kemudahan standarisasi di tingkat peternak. Selama ini peternak kecil kesulitan membuat pakan dengan takaran nutrisi yang pas karena dicampur manual. Nutri Jamu menyederhanakan itu semua,” jelas Oka. Lebih jauh, Nutri Jamu tak hanya fokus pada efisiensi pakan, tapi juga menawarkan solusi terhadap resistensi antibiotik dan kontaminasi residu. Karena konsumen sekarang makin peduli dengan isu keamanan pangan. Jadi penting bagi peternak untuk beralih ke pakan sehat seperti ini. “Saat ini, Nutri Jamu masih dalam tahap uji coba terbatas di peternakan mitra di Jawa Timur. Tim pengembang tengah memvalidasi dampaknya terhadap performa ternak sebelum nantinya dijual secara luas, lengkap dengan pelatihan teknis bagi peternak,” terang Oka. Ia berharap Nutri Jamu bisa jadi model pakan nasional berbasis herbal yang memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia. Sedangkan temulawak dan daun pepaya bisa diolah, jadi tidak harus impor suplemen sintetis dari luar negeri. Inovasi ini membuktikan bahwa solusi atas persoalan sistem pangan tidak harus datang dari industri besar. Dari tangan mahasiswa, gagasan yang berpihak pada lingkungan dan peternak kecil bisa menjadi motor kedaulatan pangan yang lebih adil dan berkelanjutan. (vin/wil)

Mahasiswa UMM Ajari Lansia Jombang Temukan Ketenangan Batin Lewat Mindfullness

Ternyata saya bisa bahagia hanya dengan mengingat hal-hal baik di masa lalu. Hal itu dikatakan oleh salah seorang peserta acara Panduan Mindfulness Berbasis Sains yang dilaksanakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan itu merupakan program yang diinisiasi mahasiswa UMM melalui kuliah kerja nyata (KKN) Berdampak pada 27 Juli ini. “Para lansia seringkali tidak mendapat perhatian, termasuk dalam aspek psikis. Maka panduan mindfullness berbasis sains ini diharapkan bisa membantu mereka untuk lebih menikmati hidup,” kata Zlatan Abil Ibrahim, koordinator kelompok. Sebanyak 37 lansia dari Kelurahan Jombatan, Jombang berkumpul dengan antusias untuk mengikuti kegiatan itu. Acara ini merupakan salah satu program psikoedukasi dan training yang digagas oleh Kelompok 285 dari program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) – KKN Berdampak UMM. Abil, sapaannya, menjelaskan bahwa program ini dirancang berdasarkan pemahaman akan fase perkembangan psikologis lansia, yang dikenal sebagai tahap integrity vs despair. Pada tahap ini, individu cenderung merefleksikan kembali perjalanan hidupnya. “Fase tersebut penting untuk para lansia didampingi dalam hal regulasi emosinya. Karena apabila tidak mendapat dukungan yang tepat, maka berisiko memunculkan kecemasan yang tentu akan berdampak pada kesehatan mereka secara menyeluruh,” katanya. Para peserta tidak hanya dibekali teori, tetapi juga diajak terlibat langsung dalam praktik tiga teknik utama mindfulness (kesadaran penuh). Mereka menjalani Mindful Breathing, yaitu latihan pernapasan sadar untuk menenangkan pikiran dan tubuh. Teknik ini menggunakan sistem pernapasan diafragm (perut). Selanjutnya, Mindful Reminiscence atau sesi refleksi positif melalui berbagi kenangan yang membangkitkan rasa syukur. Para peserta masing-masing diminta untuk menyebutkan hal sederhana apa saja yang sudah mereka syukuri hari ini. Terakhir adalah Mindful Eating, yaitu teknik menikmati makanan dengan kesadaran penuh agar setiap momen makan menjadi pengalaman yang lebih bermakna. Teknik ini dilakukan dengan sesi makan bolu bersama-sama. Inisiatif ini juga disambut hangat oleh Ketua Lingkungan Geneng, Imam. Ia berharap kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antar generasi. “Adanya kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk teman-teman lansia dan mahasiswa saling bertukar ilmu dan pengalaman,” ujarnya. Bagi para peserta, program ini terasa lebih dari sekadar pelatihan. Mereka mengakuinya sebagai ajang nostalgia, sekaligus kesempatan untuk bertemu kembali dan mempererat silaturahmi dengan kawan-kawan sebaya. Salah satu peserta bahkan menyebut kegiatan ini sebagai pengingat hidup masih bisa dinikmati dengan cara sederhana. Lebih dari sekadar satu program, inisiatif ini menjadi bukti bahwa pengabdian yang tulus mampu menciptakan dampak positif yang mendalam mempererat ikatan sosial, menebar kebahagiaan, dan memperkuat solidaritas lintas generasi. Ke depannya, rangkaian kegiatan masih akan berlanjut, termasuk psikoedukasi parenting digital, pelatihan Distress Tolerance dan Emotion Regulation untuk orang tua, serta pembentukan karakter anak melalui pendekatan psikologi bermain. (bil/wil)

Ribuan Anak Muda Ikuti Audisi Indonesian Idol di UMM

Ribuan anak muda datang ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk bersaing ikut audisi menjadi Indonesian Idol, 27 Juli 2025. Bertempat di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4, audisi ini menjadi kali kedua diselenggarakan di kampus putih setelah sebelumnya sukses menarik antusiasme besar dari peserta tahun lalu. Ribuan peserta memadati lokasi sejak pagi demi mewujudkan mimpi mereka menjadi idola Indonesia. Keseruan semakin lengkap dengan kehadiran dua bintang tamu, Kenriz dan Mesa, yang tampil menghibur dan memompa semangat para peserta. Dalam suasana penuh antusiasme, Kenriz menyampaikan bahwa setiap langkah kecil dalam hidup adalah bagian dari proses menuju mimpi yang besar. Semangat juga diberikan kepada seluruh peserta audisi. Tak hanya itu, Kenriz juga menyanyikan lagu singlenya berjudul ‘Sakit Hati’ yang langsung disambut dengan nyanyian bersama para peserta. “Tetap semangat mengejar mimpi kalian. Jangan pernah menyerah karena ini bisa jadi awal untuk masa depan kalian yang lebih baik. Semoga berhasil, dan jadikan ini langkah awal menuju panggung impian,” ujar Kenriz. Setelah penampilan Kenriz, Mesa pun naik panggung dan turut menyemarakkan suasana dengan mengajak peserta bernyanyi bersama, bermain games seru, dan bergoyang bareng di tengah audisi. Ia membawakan lagu ‘Nakal’ milik band legendaris Gigi yang sukses mencairkan ketegangan dan membuat peserta larut dalam keceriaan. Tak hanya para bintang tamu yang tampil mengesankan, semangat peserta juga terasa luar biasa. Salah satunya Latif, peserta asal Malang yang mengungkapkan bahwa dukungan sang ayah menjadi penyemangat utamanya untuk mengikuti ajang ini. “Papa selalu dukung saya untuk ikut banyak hal, termasuk menyanyi. Saya senang bisa kembangkan bakat saya. Kalau saya lolos, saya ingin kasih kejutan buat keluarga saya,” ujarnya. Sementara itu, Vivin, salah satu mahasiswa UMM juga turut mencoba peruntungannya di audisi kali ini. Ini bukan kali pertama baginya mengikuti Indonesian Idol, Vivin mengaku sebelumnya juga pernah mengikuti audisi di Surabaya. “Ini kedua kalinya saya ikut Indonesian Idol, yang pertama di Surabaya dan sekarang di kampus sendiri, UMM. Lagu yang saya bawakan berjudul Putri Iklan dari ST12. Harapan saya ke depan, semoga saya tetap punya semangat untuk ikut audisi-audisi seperti ini. Dan semoga UMM bisa terus jadi tuan rumah untuk audisi Indonesian Idol,” ujar Vivin. Kemeriahan audisi Indonesian Idol di UMM menjadi momen penuh semangat dan harapan. Tidak hanya sebagai ajang unjuk bakat, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk membuktikan diri dan melangkah lebih dekat menuju mimpi. (vin/wil)

Juara di Porprov Olahraga Ekstrem, Begini Cerita Mahasiswi UMM

Nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali bergema karena torehkan beragam prestasi di ajang Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Jatim IX 2025. Kali ini, prestasi gemilang lahir dari Mahasiswa Sosisologi UMM yang sukses meraih Medali Perak pada Cabang Olahraga Gantole, kategori ketepatan mendarat Perorangan Putri Kelas B. Adalah Febyan Ayudya Muharram, mahasiswa asal Kota Malang yang berhasil dan sangat menyukai olahraga ekstrem sejak duduk di bangku sekolah. Menyukai hal-hal menantang adalah bagian dari dirinya. Untuk itu, Febyan mengaku tak ragu menjajal olaharaga ekstrem seperti gantole, bahkan rela menempuh jarak jauh setiap akhir pekan demi latihan. Dengan penuh semangat, Ia rutin mengasah keterampilannya di Bandara Notohadinegoro, Jember, setiap Sabtu dan Minggu. Kecintaanya pada olahraga udara bermula sejak SMA, saat dirinya aktif di ekstrakulikuler dirgantara. Ia sempat bergabung dalam aeromodelling dan bahkan ikut persiaan menuju Porprov kala itu. Sayangnya, impian itu harus ditunda karena fokus menghadapi ujian akhir sekolah. Meski demikian, Ia kembali menemukan jati dirinya dan mulai menekuni olahraga gantole sejak Agustus 2023 lalu. Lebih lanjut Febyan mengaku, dapat berpartisipasi dan meraih juara dalam ajang bergengsi Porprov adalah impiannya sejak kecil. Sebelum menjejak langit, Ia lebih dulu mengasah ketahanan fisik lewat karate. Ia bahkan pernah ikut seleksi Porprov, meski belum berjodoh lolos. Meski sudah terbiasa menghadapi tantangan, gantole pernah memberinya pengalaman pahit, seperti cedera ringan. “Pernah cedera saat landing, karena sudah lama vakum latihan saat itu. Tapi, ikut saran dokter tetap gerak agar otot tidak kaku. Alhamdulillah, sekarang sudah pulih,” jelasnya. Disamping itu, Ia sangat bersyukur dan merasa senang bercampur haru atas pencapaian yang sudah menjadi impiannya sejak kecil yang berhasil Ia wujudkan pada saat menjadi mahasiswa UMM. Apalagi dari cabang olahraga yang tak pernah diduga sebelumnya. Sementara itu, Ia menyebut kompetisi berlangsung seru dan menyenangkan, meski beberapa momen perlombaan harus tertunda karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. Tak hanya juara di Porprov, sebelumnya ia juga meraih Medali Perunggu mata lomba Sambar Pita Kelas B pada Kejuaraan Daerah Gantole Jawa Timur 2024 di Bandara Notohadinegoro, Jember. Lebih lanjut, Ia mengaku menemukan kekeluargaan yang sebenarnya di gantole. Apalagi memiliki tim yang solid, suportif, dan saling menguatkan satu dengan yang lain. Bagi Febyan, gantole bukan sekedar hobi namun juga bentuk ekspresi diri, melawan rasa takut, dan menyatu dengan semangat dirgantara. Ia juga sangat berterimakasih atas partisipasi aktif kampus UMM dalam mendukung dan memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk mengeksplor keterampilan mereka. “Dukungan UMM luar biasa jos, bahkan sejak persiapan Porprov. Buat teman-teman, jangan malas berprestasi. Kesempatan dan peluang itu banyak menanti, tinggal kita mau ambil atau tidak,” kata Febyan. (din/wil)