Dosen Ikom UMM: Jangan Jadi Influencer Kalau Belum Tahu Dua Hal ini

Fenomena influencer terus berkembang pesat dan menarik minat banyak orang untuk terjun ke dunia ini. Namun, menjadi seorang influencer yang sukses tidak semudah mengunggah konten semata. Menurut Arum Martikasari, seorang dosen ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), modal utama seorang influencer adalah basis pengikut yang kuat, dibarengi dengan kredibilitas dan kepercayaan dalam bidang yang diusung sebagai branding. Martikasari menjelaskan bahwa langkah pertama yang perlu disiapkan adalah menentukan persona atau citra diri yang hendak dibangun. “Seseorang perlu mengidentifikasi kebiasaan atau keahlian apa yang bisa dikemas sebagai personanya di media sosial,” ujarnya. Setelah persona terbentuk, konsistensi dalam mempertahankan citra tersebut menjadi krusial. Jumlah pengikut yang banyak memang penting bagi seorang influencer, karena ini menjadi indikator bahwa konten yang disajikan diterima dan relevan dengan audiens. Untuk menaikkan engagement secara organik, Arum menekankan pentingnya komunikasi dua arah. “Jangan hanya mengunggah konten, tapi juga harus rajin berinteraksi dengan pengikut. Balas komentar, atau ucapkan terima kasih ketika konten dibagikan,” sarannya. Mengenai konten ideal, Arum menyatakan bahwa hal tersebut sangat bergantung pada niche atau segmen pengikut yang dituju. Untuk menjaga konsistensi dalam pengelolaan konten, ia menyarankan memiliki kalender konten dan rutin berinteraksi, baik melalui komentar maupun membalas pesan langsung (DM). Menariknya, Martikasari menyebut bahwa penggunaan iklan berbayar (ads) tidak menjadi hal sepenting itu bagi seorang influencer. Strategi untuk menjangkau audiens juga dapat berubah seiring waktu. “Tidak ada hasil yang instan. Selama strateginya tepat dan bisa menjangkau audiens, itu yang terpenting,” imbuhnya. Terakhir, Martikasari mendorong para calon influencer untuk berkreasi dan mengeksplorasi ide-ide sebanyak mungkin, mengingat pemahaman generasi saat ini tentang perkembangan teknologi. Namun, ia memberikan penekanan khusus, “Jangan lupakan etika bermedia sosial. Tanpa adab dan etika, semua akan sia-sia. Ingatlah bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Jadi, silakan berkarya sebanyak-banyaknya, tetapi kembali lagi kepada adab dan etika,” katanya (bil/wil)
Ekonomi Pembangunan UMM Kaji Kerjasama Jepang-Indonesia

Dalam rangka menguatkan program internasionalisasi, Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (EP UMM) mendatangkan pemateri internasional dalam kajian kerjasama Indonesia-Jepang. Agenda yang dilaksanakan April lalu itu mendatangkan tokoh East Java Japan Club (EJJC) Yuriko Nakajima. Ia membahas terkait penguatan kerjasama ekonomi antara Indonesia dan Jepang. Yuriko memaparkan lima pokok bahasan, salah satunya terkait bagaimana kerjasama Indonesia-Jepang untuk kesejahteraan masa depan. Apalagi mengingat keduanya punya kekuatan yang menarik di mata internasional. Begitupun juga kajian terkait sejarah kerjasama, perjanjian kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang, memperkuat kerjasama bilateral, serta mewujudkan kemakmuran di masa depan. Ia juga menjelaskan secara gamblang sejarah kerja sama Indonesia-Jepang dan kerja sama apa saja yang sudah disepakati antara dua negara Asia ini. Diantaranya tentang peningkatan kerja sama sumber daya dan infrastruktur untuk menjamin ketahanan energi dan dekarbonisasi. Di samping it juga di bidang mitigasi bencana, pendidikan, serta ketahanan pangan. “Ini tentu memberikan peluang bagi kedua negara dalam memajukan ekonomi. Apalagi dengan adaya kemajuan digitalisasi dan teknologi. Kedua hal ini sangat erat kaitannya dengan inovasi. Sebab melalui inovasi kesejahteraan dapat terwujud,” tegasnya menambahkan. Adapun tema tersebut mencoba agar mahasiswa bisa memahami bagaimana memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang untuk kesejahteraan masa depan. Diharapkan dari diskusi internasional ini, mahasiswa juga terbuka wawasannya tentang kerjasama ekonomi Indonesia-Jepang. Di sisi lain, pemateri lain Happy Febrina Hariyani, SP, M.Si, secara umum mengulas tentang bagaimana hubungan perdagangan Indonesia-Jepang bisa menumbuhkan ekonomi berkelanjutan. Ada beberapa pokok bahasan yang dijelaskan. Diantaranya bagaimana kerjasama kedua belah pihak bidang kelautan dan perikanan. Termasuk, Happy juga membahas dinamika investasi Jepang di Indonesia dari tahun ke tahun, khususnya export-import. Serta perkembangan infrastruktur kedua negara mulai transportasi, komunikasi, energi, hingga ekonomi. (*/wil)
Khadafi, Mahasiswa UMM yang Sudah Bekerja sebelum Lulus

Program Center of Excellence (CoE) Corporate Law School dari prodi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatatkan prestasi. Adalah Muhammad Khadafi, salah satu peserta, berhasil diterima bekerja secara resmi di PT Cahaya Mas Solusindo, Jakarta Barat. Bahkan ia berhasil bekerja sebelum diwisuda. Saat ini, Khadafi aktif bekerja di PT Cahaya Mas Solusindo sembari menunggu proses yudisium dan wisuda. Kesuksesan ini menjadi bukti bahwa kurikulum kerja-berbasis industri yang dikembangkan UMM mampu menjawab kebutuhan dunia kerja dengan tepat. Adapun PT Cahaya Mas Solusindo merupakan perusahaan konsultan pajak terkemuka yang menyediakan layanan komprehensif dalam bidang perpajakan. Baik itu bagi klien-klien nasional maupun internasional. Melalui program magang COE Corporate Law School, Khadafi tidak hanya memperoleh pengalaman langsung di dunia industri, tetapi juga menunjukkan performayang luar biasa hingga dipercaya untuk bergabung secarapenuh. “Program Corporate Law School dari HKI benar-benarmembuka jalan saya menuju dunia kerja profesional. Saya dibekali keterampilan praktis yang langsung dapatditerapkan. Alhamdulillah, sejak magang saya sudah dipercaya menangani berbagai proyek. Akhirnya, sekarang resmi bergabung dengan perusahaan ini bahkan sebelum saya lulus kuliah,” katanya. Sementara itu, Soni Zakaria selaku PIC CoE Corporate Law School menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah cerminan dari visi besar program tersebut. Sejak awal, pihaknya merancang kurikulum yang bisa mengurangi gap antara dunia akademik dan dunia industri. Capaian Khadafi ini membuktikan bahwa dengan kurikulum berbasis praktik dan jejaring industri yang kuat, mahasiswa bisa langsung ‘landing’ di dunia kerja bahkan sebelum mereka lulus. Capaian Muhammad Khadafi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa untuk terus mengasah kemampuan praktis sejak dini. Ini juga sekaligus memperkuat posisi HKI yang menyelenggarkan Corporate Law School sebagai program unggulan yang siap mencetak tenaga profesional di bidang hukum korporasi dan sektor industri lainnya. (*/wil)
Tips Dosen UMM di Idul Adha: dari Memilih Hewan hingga Distribusi

Idul Adha akan segera tiba, umat muslim di seluruh penjuru dunia akan merayakan hari raya ini dengan berkurban. Berkurban merupakan salah satu kewajiban bagi umat muslim untuk yang sudah mampu dari segi ekonomi, atau berkelapangan. Namun, sebelum berkurban alangkah baiknya jika kita memilih hewan kurban yang ideal tidak sekadar mencari yang besar dan gemuk. Hal itu ditegaskan dosen peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ir. Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt. Menuruntya, kriteria utama terletak pada usia dan kesehatan hewan kurban. Seekor kambing harus berumur minimal satu tahun dengan tanda gigi sudah poel (tumbuh permanen), sementara sapi membutuhkan waktu lebih lama hingga dua tahun untuk memenuhi syarat. Ia menekankan bahwa proses pemilihan hewan kurban yang ideal dimulai dari pemilihan hewan dengan mempertimbangkan syariat Islam dan kesehatan, bukan hanya sekedar fisik semata. Untuk memastikan kualitasnya, dia menyarankan untuk membeli hewan 1 bulan sebelum Idul Adha agar mendapat harga lebih murah dan pilihan yang lebih banyak. Lalu, lebih baik membeli langsung dari peternak terpercaya dan untuk memotong rantai distribusi, atau patungan maksimal 7 orang untuk sapi/unta. “Pastikan hewan telah diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan atau juru sembelih bersertifikat (Juleha), serta memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Pilihlah hewan dari peternakan yang menjamin kesejahteraan hewan (animal welfare) dan telah divaksinasi” tegasnya. Proses penyembelihan pun tak kalah penting, penyembelihan hewan kurban harus dilakukan oleh Juleha (juru sembelih halal) bersertifikat dengan memenuhi syariat dan prinsip animal walfare (kesejahteraan hewan). Prosesnya diawali dengan membaca basmalah, menghadap kiblat, lalu memotong tiga saluran leher (trakea, esofagus, dan dua urat nadi) menggunakan pisau tajam. Tempat penyembelihan pun juga harus bersih, tidak licin, dan terhindar dari pandangan hewan lain. Kemudian, pasca penyembelihan disarankan untuk tumbuh dan memisahkan jeroan dari daging supaya daging dapat bertahan lebih lama. Daging jangan dicuci sebelum disimpan karena bisa memicu pertumbuhan bakteri lalu, dinginkan daging pada suhu ≤4°C selama 12-24 jam sebelum dibekukan dalam kemasan vakum atau plastik kedap udara. Untuk langkah olahan praktisnya, bisa dibagi dalam porsi kecil atau olah menjadi abon, dendeng, atau rendang yang lebih awet. Di era digital, kurban online semakin populer dengan keunggulan kepraktisan dan transparansi via laporan digital. Ali mengingatkan risiko penipuan banyak yang terkecoh rekayasa visual. Solusinya, adalah pilih lembaga terpercaya atau beli langsung dari peternak dikenal. Ibadah kurban menyimpan makna multidimensional yang relevan di segala zaman. Pada perspektif spiritual, dia menekankan berkurban harus dilandasi keikhlasan, bukan gengsi. Nilai di mata Allah terletak pada ketulusan, bukan karena besar kecilnya hewan. Kegiatan ini dapat menciptakan efek ekonomi dengan membuka lapangan kerja musiman bagi jagal, penjual, hingga tenaga pengemasan dan juga dapat media edukasi keluarga untuk menanamkan nilai kepedulian, terutama bagi anak-anak. “Jangan hanya selesai pada penyembelihan, tapi lanjutkan dengan berbagi, berempati, dan mendidik, menebarlah manfaat untuk mencerahkan umat” tutupnya. (nam/wil)
Peneliti NUS di UMM: Muhammadiyah Dikagumi Masyarakat Melayu

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) kembali menegaskan perannya sebagai pusat kajian Islam progresif dengan melangsungkan kuliah internasional bertajuk “Muhammadiyah dalam Perspektif Pemikiran Melayu Progresif”, Senin 19 Mei 2025. Acara ini menghadirkan Azhar Ibrahim Alwee, Ph.D., dosen Department of Malay Studies National University of Singapore, sebagai pemateri utama. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi kritis atas posisi Muhammadiyah di kancah pemikiran Islam Asia Tenggara, khususnya dalam relasi dengan masyarakat Melayu di Malaysia dan Singapura. Dalam pemaparannya, Azhar Ibrahim menggarisbawahi bahwa Muhammadiyah telah lama menjadi pusat perhatian intelektual di kawasan Melayu. Ia mengatakan lebih dari satu dekade meneliti dinamika wacana Islam Indonesia, khususnya Muhammadiyah, meski bukan peneliti khusus organisasi tersebut. “Minat saya terarah pada tawaran-tawaran intelektual Muhammadiyah, mulai dari Buya Hamka, Syafi’i Ma’arif, hingga Kuntowijoyo. Mereka memberi warna tersendiri dalam diskursus keagamaan di Asia Tenggara,” kata Azhar. Azhar menyoroti dikotomi klasik antara ‘kaum muda’ dan ‘kaum tua’ dalam masyarakat Melayu. Muhammadiyah menurutnya, sering diasosiasikan dengan kaum muda yang membawa semangat pembaruan dan rasionalitas, berbeda dengan kaum tua yang cenderung mempertahankan tradisi. Namun, ia menekankan, penerimaan terhadap pemikiran Muhammadiyah di Malaysia dan Singapura tidak semudah di Indonesia. “Majelis agama di Malaysia, yang didominasi kaum tua dan dilantik oleh Sultan, cenderung mempertahankan status quo dan membatasi masuknya gagasan-gagasan progresif seperti yang diusung Muhammadiyah,” ucap Azhar. Lebih jauh, Azhar mengkritisi fenomena politik diskursus di Malaysia, di mana karya-karya Buya Hamka yang dulu dianggap progresif kini justru digunakan kelompok konservatif untuk menahan laju wacana Islam kontemporer dari Indonesia. Menurutnya bacaan atas Hamka di Malaysia lebih sebagai reaksi konservatif, bukan sebagai jembatan ke pemikiran progresif. Ini menunjukkan politik wacana sangat menentukan arah perkembangan pemikiran Islam di kawasan. “Kiprah Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan yang sukses di Indonesia, dengan jaringan rumah sakit, panti asuhan, dan kampus. Dapat dinilai dengan kekaguman masyarakat Melayu terhadap Muhammadiyah lebih pada keberhasilan kelembagaan, bukan pada adopsi pemikiran progresifnya. Di ranah Melayu, belum ada organisasi Islam yang mampu menandingi Muhammadiyah dalam hal manajemen sosial dan pendidikan,” ujarnya menegaskan. Di sisi lain, Ketua PSIB UMM, Zaenal Abidin, M.Si.juga menegaskan pentingnya forum semacam ini untuk memperluas wawasan dan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Ia mengatakan acara ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar pemikiran Islam berkemajuan benar-benar menjadi solusi kebuntuan sosial dan keagamaan di Indonesia. “Saya berharap acara ini tidak hanya memperkaya khazanah intelektual civitas akademika UMM, tetapi juga menjadi refleksi kritis atas tantangan dan peluang penyebaran pemikiran Islam progresif di kawasan Melayu,” pungkasnya. (vin/wil)
Ahmad Fatoni Dosen UMM: Belajar Bahasa Arab itu Mudah

Bahasa Arab sering dianggap sulit untuk dipelajari bagi orang awam karena memiliki struktur dan aturan kalimat yang cukup rumit. Salah satu tantangan utamanya adalah kekayaan kosa kata dan keragaman dialek bahasa Arab itu sendiri. Selain itu, tata bahasa Arab juga cukup rumit dan filosofis, sehingga membutuhkan waktu yang relatif lama untuk menguasainya. Hal itu ditegaskan Ahmad Fatoni, Lc., M.Pd. Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, Bahasa Arab memang memiliki karakteristik struktur yang unik dibandingkan bahasa lainnya, seperti perubahan bentuk kata kerja yang tergantung pada jenis kelamin dan jumlah. Bahasa Arab juga menggunakan sistem akar kata dengan pola tertentu untuk membentuk berbagai makna. Misalnya, dari akar kata ك-ت-ب dapat terbentuk كَتَبَ (menulis), كِتَاب (buku), كَاتِب (penulis), dan seterusnya. Pembentukan kata tersebut tidak hanya menambahkan awalan atau akhiran, tetapi juga mengubah bentuk internal kata itu sendiri. Lebih lanjut, Bahasa Arab memiliki sejumlah fonem yang tidak ditemukan dalam banyak bahasa lain, seperti ع, ح, dan ص, yang sulit ditiru oleh penutur asing. Lebih dalam, Bahasa ini merupakan bahasa yang memiliki beberapa bunyi yang tidak dimiliki bahasa lain. Misalnya, huruf ق adalah bunyi seperti huruf (k), namun diucapkan lebih jauh di tenggorokan. Selain itu, huruf-huruf dapat berubah bentuk berdasarkan letaknya di awal, tengah, atau akhir kata. Seperti, huruf ب berubah bentuk tergantung pada posisinya dalam kata. “Lalu dalam hal penulisannya, bahasa Arab ditulis dari kanan ke kiri. Hal ini sulit secara konseptual dan teknologi, sebagian besar sistem komputer dikembangkan untuk bahasa yang ditulis dari kiri ke kanan seperti bahasa Inggris” katanya. Fatoni juga membagikan metode yang efektif mengatasi tantangan dalam belajar bahasa Arab, salah satunya metode komunikatif, terutama bagi mereka yang ingin fokus pada percakapan sehari-hari. Pendekatan ini menekankan pada penggunaan bahasa dalam konteks sehari-hari, melalui aktivitas seperti bermain peran, diskusi, dan simulasi, yang dapat membantu meningkatkan keterampilan berbicara dan mendengarkan dalam bahasa Arab. Dengan metode ini, pembelajar dapat berkomunikasi dengan lebih percaya diri dalam situasi sehari-hari. Selain itu, ada metode menghafal kosakata (mufrodat) dan pola kalimat (qowaid) cocok digunakan untuk orang yang ingin mempelajari bahasa guna meningkatkan keterampilan dalam membaca kitab-kitab berbahasa Arab yang tanpa harakat. Mengakhir penjelasannya, Fatoni menyampaikan ada beberapa cara yang dapat diterapkan agar minat belajar bahasa Arab bagi orang awam meningkat secara derastis seperti. Pertama, menyederhanakan metode pembelajaran bahasa Arab yang lebih mudah dan menyenangkan. Kedua, memanfaatkan media dan teknologi populer. Ketiga, mempertegas peran bahasa Arab dalam kancah percaturan global. Selanjutnya, dia menyetujui bahwa teknologi berperan penting dalam pembelajaran bahasa Arab dengan hasil yang sangat signifikan terlebih lagi diera serba digital seperti saat ini. Dengan adanya teknologi dapat mempermudah, mempercepat dan memperluas akses belajar bahasa. Teknologi dapat menjadi jembatan penghubung bagi pembelajar bahasa agar belajar bahasa dapat dilakukan dengan cara yang interaktif dan kreatif. “Para pembelajar bahasa Arab agar tidak mudah menyerah meskipun tergolong sulit, ialah dengan membangun motivasi yang kuat, sikap mental yang positif, dan strategi belajar yang mudah dan menyenangkan” tutupnya. (nam/wil)
Dosen Kehutanan UMM Sebut Rehabilitasi Hutan Tidak bisa Ditunda

Rehabilitasi hutan di Indonesia dinilai belum efektif. Penyebabnya bukan hanya pada kerusakan ekosistem yang semakin parah, tetapi juga pada kegagalan pendekatan yang digunakan selama ini. Menurut Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., dosen Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), masalah mendasarnya adalah ketidaktepatan strategi dalam perencanaan dan pelaksanaan rehabilitasi. “Selama ini orientasinya masih pada kuantitas, bukan kualitas. Fokus pada berapa banyak pohon yang ditanam, bukan berapa yang hidup. Ini menjadikan kesalahan dalam rehabilitas hutan. Rehabilitasi hutan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan seremonial atau instan. Perlu pemahaman ekologi dan historis suatu lahan. Tanpa itu, penanaman justru bisa memperparah kerusakan,” kata Tatag. Menurut Tatag, reboisasi yang benar harus dimulai dari identifikasi jenis tanaman yang secara alami tumbuh di kawasan tersebut. Karena pada dasarnya semua lahan itu mempunyai sejarah. Tidak bisa sembarangan menanam tanpa tahu tanaman apa yang cocok di sana sejak dulu. Contohnya di Batu, yang cocok merupakan pohon pinus dan ikaliptus, bukan sembarang jenis tanaman lain. “Proses reboisasi idealnya mencakup lima tahapan dengan mengidentifikasi lahan dan vegetasi lokal, pemilihan bibit yang sesuai, perencanaan waktu tanam (idealnya saat musim hujan), penanaman, dan pemeliharaan jangka panjang minimal lima tahun. Jika satu tahapan saja dilewati, maka keberhasilan sangat kecil. Banyak yang hanya berhenti di tanam saja. Setelah itu tidak ada perawatan. Akibatnya, tingkat kematian pohon sangat tinggi,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya seleksi bibit yang tepat. Bibit tidak hanya harus kuat secara fisik, tetapi juga harus sesuai dengan iklim, tanah, dan topografi setempat. Dalam pemilihan bibit menentukan seluruh masa depan ekosistem hutan. Bibit yang tidak cocok akan gagal tumbuh, meski ditanam dalam jumlah banyak. Maka menurutnya bukan soal berapa jumlahnya, tapi apakah cocok atau tidak dengan lokasi tanam. “Dampak dari rusaknya hutan sudah terlihat jelas. Salah satu contohnya adalah penurunan drastis mata air di kawasan hulu Sungai Brantas. Dulu ada lebih dari 700 mata air, sekarang tinggal sekitar 500. Ini alarm bahaya. Kalau hulu rusak, hilir akan kering. Ini akan berdampak langsung ke pertanian dan kehidupan masyarakat,” Lebih lanjut, konversi hutan lindung menjadi lahan pertanian juga mengancam keanekaragaman hayati. Satwa dan flora endemik kehilangan habitat, dan beberapa di antaranya sudah terancam punah. Ia menekankan bahwa rehabilitasi tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah atau lembaga. Masyarakat, termasuk anak muda, harus ikut terlibat. “Minimal tanam satu pohon dalam hidup. Itu kontribusi nyata. Jangan hanya mengandalkan negara. Edukasi dan pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan adalah kunci. Kalau mereka makmur, mereka akan menjaga hutan. Kalau tidak, mereka akan merambah karena butuh makan,” ucap Tatag. Untuk itu, ia menekankan bahwa rehabilitasi hutan semestinya diarahkan kembali pada fungsi utamanya, yaitu sebagai bentuk perlindungan terhadap lingkungan dan manusia. Ia menyampaikan bahwa hutan memiliki peran penting sebagai pelindung alami, dan kerusakan hutan dapat memicu berbagai bencana, memperburuk kondisi kemiskinan, serta memunculkan potensi konflik sosial. Oleh karena itu, upaya rehabilitasi hutan menurutnya bukan lagi menjadi opsi, melainkan sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda. (vin/wil)
Paparan Gadget Picu Ide Bunuh Diri? Begini Penjelasan Dosen Psikologi UMM

Muncul isu bahwa penggunaan gadget yang berlebihan bisa memicu keinginan untuk melakukan bunuh diri. Apakah hal itu benar? Ibnu Sutoko, S.Psi., M.Psi, psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan penjelasan terkait isu tersebut. Menurutnya, hubungan antara keduanya tidak bersifat secara langsung, tetapi melalui proses yang kompleks dan berlapis. “Kalau kita berbicara keterkaitannya, itu memang tidak bisa langsung terkait. Pasti ada hal yang membuat antara kedua hal tersebut itu sendiri berkaitan,” ujar Ibnu. Ia menjelaskan bahwa gadget bisa menjadi stimulan yang memunculkan reaksi emosional pada individu, terutama melalui konten-konten yang dikonsumsi. Konten yang menampilkan kehidupan ideal, seperti keluarga harmonis atau pencapaian tertentu, dapat memperparah konflik internal seseorang yang sedang mengalami masalah berat. “Misalnya ketika orang memiliki masalah yang berat. Kemudian ketika dia menggunakan gadget yang menampilkan kondisi keluarga cemara, keluarga yang harmonis yang tidak dia dapatkan, maka itu memunculkan konflik secara internal,” terangnya. Ibnu menambahkan, individu yang memiliki kecenderungan bunuh diri umumnya sedang mencari pembenaran rasional terhadap kondisinya. Akibatnya, algoritma media sosial justru akan terus menampilkan konten yang relevan, memperparah kondisi psikologis pengguna. “Saya beberapa waktu lalu membaca sebuah penelitian bahwa paparan screen time itu berpengaruh pada perilaku ide bunuh diri. Paparan lebih dari delapan jam sehari, terutama untuk media sosial, sangat berisiko,” jelasnya. Namun, ia menegaskan bahwa secara klinis, kecanduan penggunaan gadget belum dikategorikan sebagai gangguan psikologis, tetapi sudah masuk kedalam kondisi yang memerlukan perhatian serius. Dalam penjelasannya, Ibnu juga memaparkan bahwa ide bunuh diri sangat bervariasi tergantung usia. Remaja, misalnya, rentan karena sedang mencari jati diri. Dewasa awal menghadapi tekanan membangun relasi, dewasa pertengahan terbebani oleh pekerjaan dan hubungan asmara, sementara lansia bergulat dengan kesepian dan menurunnya produktivitas. Apabila individu tidak mampu memenuhi kebutuhan pada setiap fasenya, maka rentan untuk stress yang nantinya memunculkan ide bunuh diri. Adapun faktor yang menurutnya menjadi hal yang utama memunculkan ide bunuh diri adalah adanya tumpukan emosi yang terus tertimbun, yang lambat laun meledak. ”Itu disebabkan karena ada masalah yang tidak terselesaikan.” Terkait meningkatnya kasus bunuh diri, Ibnu menyebut fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak dulu. Namun, perkembangan teknologi dan keterbukaan media membuat kasus-kasus tersebut kini lebih terlihat. “Kalau kita kaitkan dengan teknologi atau penggunaan gadget, itu sangat memudahkan seseorang dalam mengakses hal apapun. Bahkan sampai ada yang kalah judi online hingga miliaran. Akhirnya memilih mengakhiri hidup karena tidak punya pekerjaan untuk mengganti hutang tersebut,” katanya. Ibnu juga menyoroti efek dari pemberitaan kasus bunuh diri. Menurutnya, informasi tentang metode bunuh diri bisa menstimulasi individu lain yang sedang mengalami krisis. Seseorang yang bingung memilih cara untuk mengakhiri hidup, bisa terdorong untuk meniru kasus yang diberitakan. Sebagai langkah pencegahan, Ibnu menekankan pentingnya kesadaran diri dan keterbukaan untuk mencari pertolongan profesional. “Ketika tidak mampu menyelesaikan masalah sendiri, jangan merasa egois atau keras kepala. Kita harus sadar bahwa itu masalah dan harus diselesaikan,” ujarnya. Ia juga menegaskan pentingnya peran orang di sekitar. Perubahan perilaku, seperti menarik diri atau tiba-tiba menghilang dari lingkungan sosial, harus menjadi perhatian. Ibnu menyarankan individu yang mengalami gejala ide bunuh diri untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas jaringan sosial. Ia juga mengajak masyarakat untuk bijak menggunakan gadget dan mengenali stresor yang dihadapi. “Ciptakan coping adaptif, pengalihan stres yang sehat, sebagai langkah awal pencegahan,” tutupnya. (bil/wil)
Media Official Muhammadiyah Jatim Rayakan Milad di UMM

Perjalanan panjang media Muhammadiyah Jawa Timur diresmikan dalam perhelatan akbar Milad & Roadshow Media Official Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Agenda yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 17 Mei itu mengusung tema “Bersama Terus Mencerahkan”. Acara ini bukan hanya menandai pertambahan usia lembaga-lembaga media Muhammadiyah, tetapi juga menjadi forum strategis dalam membahas masa depan jurnalisme dakwah, keterbukaan informasi, dan penguatan sistem informasi organisasi. Selain itu juga menjadi momentum konsolidasi media dakwah Muhammadiyah sekaligus forum reflektif untuk merumuskan arah dan peran media dalam memperkuat narasi Islam berkemajuan. Adapun pada diskusi panel, agenda ini berbagai perspektif dari akademisi, pengurus persyarikatan, hingga pejabat publik. Tampil sebagai narasumber antara lain Jamroji selaku dosen Ilmu Komunikasi UMM, Muhammad Mirdasy sebagai Ketua LHKP PWM Jatim, serta Wakil Wali Kota Malang, Ali Mutohirin. Acara dibuka dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua MPID PWM Jatim, Dr. Aribawa, M.S., dan Rektor UMM, sebagai simbol komitmen bersama dalam penguatan ekosistem media persyarikatan. Dalam sesi penghargaan, UMM juga dianugerahi sebagai Mitra Terbaik media resmi PWM Jatim berkat kontribusinya dalam mendukung dakwah digital berbasis kampus. Aribawa menegaskan bahwa milad bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi ajakan memperkuat solidaritas dan sinergi antar media serta kader Muhammadiyah. Ia menyoroti pentingnya peran media dalam menyuarakan setiap napas gerakan Muhammadiyah hingga ke pelosok negeri. “Media Muhammadiyah harus mampu menjadi jembatan informasi antara pusat dan daerah, antara kebijakan dan masyarakat, serta antara nilai dan praktik dakwah. Semua yang dibutuhkan masyarakat akan kami hadirkan. Dari kota hingga pelosok, harus dapat merasakan dan memahami arah gerakan Muhammadiyah,” ujarnya. Dalam sesi berikutnya, Wakil Wali Kota Malang, Ali Mutohirin, memaparkan strategi pemerintah daerah dalam membangun keterbukaan informasi publik. Ia menyebut bahwa Pemkot Malang telah bekerja sama dengan lebih dari 80 media, termasuk 60 media daring dan 3 radio, untuk menjamin distribusi informasi yang merata. Menurutnya, tantangan era ini adalah kecepatan perubahan, kompleksitas, dan ketidakpastian. “Media Muhammadiyah juga bisa berbicara politik dalam kerangka yang mencerahkan. Ini penting agar warga Muhammadiyah tahu arah kebijakan publik dan tidak buta terhadap realitas politik nasional. Begitu juga branding melalui media juga sangat penting sebagai instrumen untuk membangun visibilitas, kredibilitas, dan loyalitas publik terhadap brand Muhammadiyah,” ujarnya. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., turut menekankan bahwa media bukan sekadar alat penyampai informasi, melainkan wajah dari tata kelola organisasi dan representasi peradaban. Menurutnya, keberlanjutan media harus dijaga melalui regenerasi dan pengelolaan yang sistematis. “Sistem informasi yang baik akan melahirkan pemahaman bersama. Dan ini yang harus terus kita bangun di Muhammadiyah. Kita punya misi suci, dari kegelapan menuju pencerahan. Media kita harus menjadi enzim yang menghidupkan ilmu, empati, dan akhlakul karimah. Ini fondasi peradaban Muhammadiyah yang tak boleh goyah,” ujarnya. Saat ini, ekosistem media Muhammadiyah Jatim meliputi berbagai platform dengan segmentasi khusus. Misalnya majalah MATAN sebagai media flagship yang telah memasuki usia ke-19 tahun. Selain itu, hadir Majelistabligh.id dan Maklumat.id yang berfokus pada dakwah kampus dan isu-isu sosial-politik. Kanal digital seperti PWMUTV, PWMU.CO, dan Muhammadiyah.jatim turut memperluas jangkauan informasi ke seluruh lapisan masyarakat. (vin/wil)
120 Tim dari Seluruh Indonesia Bersaing Meriah Juara di Agri Fair UMM

Ratusan siswa dari berbagai SMA di seluruh Indonesia bersaing dalam ajang AgriFair garapan Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 15 Mei lalu secara daring. Para siswa membreikan berbagai ide agar bisa memenangkna juara dalam kompetisi business plan tersebut. Mereka tidak hanya berasal dari Jawa saja, tapi juga dari beragam daerah seperti Kupang, Batam, Kalimantan, dan lainnya. Ketua prodi Agribisnis UMM Ary Bakhtiar menjelaskan bahwa AgriFair menjadi panggung penting bagi generasi muda untuk mempresentasikan ide-ide bisnis kreatif dan solutif yang berorientasi pada pertanian, pangan, dan pengembangan kewirausahaan berkelanjutan. Kegiatan ini juga merupakan media yang efektif dalam memperkenalkan dunia agribisnis sejak dini. “Melalui AgriFair, siswa dapat mengenal bagaimana merancang dan mempresentasikan ide bisnis secara profesional. Ini adalah bekal penting untuk masa depan mereka,” jelasnya. Tema yang diangkat dalam lomba business plan kali ini adalah ‘Inovasi Bisnis dalam Mendukung Blue and Green Economy untuk Masa Depan Berkelanjutan’. Dengan tema tersebut, para peserta diajak untuk merancang ide bisnis yang tidak hanya potensial secara ekonomi, tetapi juga berdampak sosial dan ramah lingkungan. Hal serupa juga disampaikan Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan, Aris Winaya, yang menekankan pentingnya ajang serupa sebagai bagian dari implementasi Merdeka Belajar. “AgriFair sejalan dengan semangat kampus untuk menghubungkan dunia akademik dengan dunia nyata. Kreativitas mahasiswa dan pelajar sangat kami dukung,” tuturnya. Lomba ini terbuka bagi seluruh siswa SMA sederajat dan tercatat lebih dari 120 tim mendaftarkan diri sejak pembukaan pendaftaran pada Januari 2025. Setelah proses seleksi proposal dan administrasi yang ketat, terpilih 20 tim terbaik yang melaju ke babak final. Masing-masing tim mempresentasikan business plan mereka di hadapan dewan juri yang terdiri dari akademisi dan praktisi bisnis. Setelah melewati proses yang panjang, akhirnya didapat tiga juara yaitu tim dari SMAN 1 Blega, Kelompok Seavora (Jawa Timur), SMAS Muhammadiyah 2 Genteng, Kelompok Tejarasa (Jawa Timur), serta SMAK Giovanni Kupang, Kelompok Tiga Serangkai (NTT). (*/wil)