Muhadjir Effendi Ketua BPH UMM, Terpilih Jadi Komisaris Utama Bank BSI

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Syariah Indonesia Tbk memutuskan Ketua PP Muhammadiyah Prof Muhadjir Effendy menjadi komisaris utama. Ia yang juga merupakan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu memang seringkali memegang peran penting dalam pemerintahan. Termasuk menduduki sederet posisi strategis di era pemerintahan Jokowi dan Prabowo Gibran kini. Misalnya pada 2016-2019 saat dia sempat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Lalu pada 2019-2024 dia sempat menjadi Menteri Kordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Sementara itu, dalam struktural PP Muhammadiyah 2022-2027, Muhadjir Effendy merupakan Ketua PP Muhammadiyah yang khusu membidangi Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal. Sementara di periode sebelumnya, pria kelahiran Caruban itu juga memimpim pada Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan. Awal karirnya saat menjabat rektor UMM 3 periode 2000 – 2016. Kiprahnya di Muhammadiyah memang banyak. Muhadjir pernah menjadi anggota Tim Visi Indonesia Berkemajuan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2014), anggota Badan Pelaksana Harian Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) PP Muhammadiyah, Ketua Litbang Tapak Suci Putera Muhammadiyah, dan lainnya. Berbagai pengalaman memimpin tersebut menjadi bekal yang bagus untuk Muhadjir membawa BSI ke posisi yang lebih strategis dan baik. Beragam konekai dan wawasan akan membantunya menjalankan amanah sebagai komisaris utama BSI. Selain itu, RUPST BSI juga mengangkat Meidy Firmansyah, Mochammad Agus Rofiudin, dan Kamaruddin Amin sebagai komisaris. Lalu Nizar Ahmad Saputra, Muhammad Syafii Antonio, dan Addin Jauharuddin sebagai komisaris independen. (wil)
Parkir Liar Merajalela, Begini Solusi Dosen UMM

Indonesia berada di posisi top 4 populasi terbesar di dunia dengan mencapai angka 283 juta jiwa pada tahun 2024 (melansir World Population Review 2024). Sayangnya, jumlah populasi tersebut tidak sepenuhnya memberikan efek positif. Realitanya, jika dihubungkan dengan budaya konsumtif masyarakat terhadap kendaraan pribadi dan ketersediaan lahan parkir, peluang timbulnya permasalahan yang serius sangat mungkin terjadi. Mulai dari kemacetan, isu parkir liar, hingga kriminalitas. Mendekat pada kenyataan di lapangan, guru besar bidang politik dan kebijakan publik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. menyoroti maraknya praktik parkir liar atau parkir illegal di Kota Malang. Menurutnya, salah satu faktor penyebab munculnya parkir liar atau illegal yakni sistem perparkiran yang tidak optimal dan tidak jelasnya pihak yang memegang kewenangan penataan. Ia menyayangkan adanya pemberian ruang bagi masyarakat untuk membuka lapak parkir pribadi secara resmi oleh Dinas Perhubungan (Dishub). Apalagi banyak yang malah disalahgunakan. “Peluang yang dibuka ini justru memunculkan banyak PR baru bagi pemerintah. Ini juga menjadi salah satu faktor penyebab banyaknya parkir liar, akamsi-akamsi, dan oknum ‘Pak Ogah’ di beberapa daerah di Kota Malang,” ujar Tri menambahkan. Hingga kini, parkir liar masih dapat dengan mudah ditemukan di hampir seluruh penjuru kota. Pasalnya, pemberian ruang ini menghasilkan peluang lahirnya oknum-oknum Juru Parkir (Jukir) liar tak bertanggung jawab yang bekerja secara terstruktur berdasarkan sistem zonasi di bawah kendali ‘Shadow Power’. Di sisi lain, faktor sosiologis dan ekonomi menjadikan fenomena parkir liar ini sebagai hal yang wajar, bahkan dianggap sebagai ‘sedekah’ oleh sebagain besar masyarakat. Untuk itu, Ia menyoroti respon masyarakat yang terlalu permisif terhadap parkir dan Jukir liar ini. Akibatnya, parkir-parkir illegal di bahu jalan, trotoar, dan jalur sepeda masih saja beropereasi, dan kemacetan menjadi suatu keniscayaan. Ini juga berdampak pada pengurangan pemasukan anggaran pemerintah, terancamnya tingkat keselamatan dan keamanan pengguna jalan, serta berkurangnya akses ruang publik. Untuk itu, menurut Tri, regulasi kebijakan yang tepat dari pemerintah berperan utama disini. Sudah saatnya pemerintah merealisasikan perencanaan pertumbuhan kendaraan secara maksimal secara berkala. Kemudian, dalam proses operasionalnya, diperlukan pengawasan, serta penegakan hukum yang partisipastif dari pemerintah dan masyarakat. Selain itu, perlu adanya integrasi yang berkesinambungan dan orbitasi yang baik antara Angkutan Kota (Angkot) dengan layanan publik yang tersedia. Penerapan sistem parkir modern berbasis teknologi digital atau ‘e-Parkir’ menjadi satu solusi yang efektif. Terakhir, penting untuk ada literasi dan edukasi kepada masyarakat terkait tata tertib berlalu lintas. “Saya yakin, jika setiap orang mengamalkan solusi dan jalan keluar tersebut, baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat, jejak parkir liar akan berkurang dan menghilang bersamaan dengan lahirnya kota yang ramah dan nyaman,” harapnya. (din/wil)
Ribuan Siswa Ikut UTBK, Berebut Kursi Jadi Gen 25 UMM

Seleksi ketat Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Fakultas Kedokteran dan Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali hadir di 2025. Lebih dari 1.000 siswa bersaing untuk mendapatkan kursi untuk menjadi bagian dari Gen 25 Kampus Putih. Ujian yang dilaksanakan pada 15-17 Mei 2025 itu diikuti siswa dari berbagai daerah dan dilengkapi dengan sederet keamanan ketat. Menariknya, turut hadir Mobil Kamis Membaca (KaCa) untuk menghibur para peserta usai berjuang mengerjakan soal-soal. Tidak hanya menyajikan ratusan buku, tapi juga memberikan berbagia hadiah dan games sehingga para peserta bisa kembali ceria. Ada yang ikut membuat konten TikTok, bermain tebak-tebakan, hingga memanikan permainan tradisional dan lainnya. Terkait proses UTBK, Kepala Perekrutan Mahasiswa Baru (PMB) UMM Moh. Wahyu Kurniawan, M.Pd. mengatakan bahwa pihak panitia sudah menyiapkan alat-alat seperti metal detector untuk mengantisipasi kecurangan-kecurangan maupun joki. Selain itu juga dibantu oleh pihak kepolisian setempat untuk memastikan keamanaan dan kenyamanan selama proses ujian. “Pelaksanaan UTBK ini sudah berlangsung sejak enam tahun lalu. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi adanya joki maupun kecurangan-kecurangan lainnya. Di Setiap ruangan juga terdapat pengawas dan juga bagian teknisi untuk membantu para peserta jika terjadi masalah pada komputer,” jelasnya menambahkan. Dosen Pendidikan Kewarganegaraan itu juga berharap proses seleksi mahasiswa baru ini dapat berjalan dengan lancar dan aman. Apalagi megningat bahwa calon mahasiswa baru ini akan menjadi orang-orang yang sangat diperlukan di bidang kedokteran dan farmasi. “Kami tentu berharap mahasiswa baru yang terpilih nantinya bisa menjadi bibit-bibit unggul untuk masa depan,” ujarnya. Di sisi lain, salah satu wali siswa Novi Damayanti berharap, anaknya bisa menjadi salah satu bagian dari mahasiswa Kampus Putih di tahun ini. Ia melihat bahwa kualitas UMM sangat bagus dan punya rekognisi nasional dan internasional yang mumpuni. Apalagi, gedung baru untuk mahasiswa kedokteran dan kesehatan sudah jadi serta siap digunakan. “Semoga anak saya bisa diterima di UMM dan menjadi generasi unggul, terutama di bidang kesehatan. Saya yakin UMM bisa mengantarkan anak saya menjadi generasi muda yang bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya mengakhiri. (*/wil)
64 Cabang Lomba Diperebutkan di Ajang Rector Cup UMM

Menjadi bagian dari kampus berdampak untuk bangsa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus membangun suasana belajar yang positif dari segala aspek baik akademik maupun non akademik. Hal ini sudah dijalankan UMM selama sudah lebih dari 3 dasawarsa melalui ajang kompetisi Rector Cup. Tujuan agenda ini tidak lain adalah untuk mengasah keterampilan, kemampuan dan bakat mahasiswa. Adapun agenda ini diikuti seluruh mahasiswa UMM dan diselenggarakan oleh 32 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) serta cabang olahraga. Total, ada 64 nomor perlombaan dan pertandingan yang diselenggarakan mulai 15 Mei hingga 30 Juni mendatang. Adapun Rector Cup UMM 2025 dibuka langsung oleh Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Ia membuka ajang tersebut dengan memasukkan bola ke dalam ring. Bahkan keseruan itu juga dibuka dengan pertandingan pembuka Basketball antara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) versus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Mengusung tema ‘Impacful Campus for a Vibrant Future: Compete, Connect, Celebrate’, Nazar menyebut tema ini menggambarkan spirit menghadapi masa depan. Salah satunya melalui tradisi penting Kampus Putih yang sudah diselenggarakan secara rutin setiap tahun ini. Dengan beragam kompetisi dan perlombaan bidang olahraga, agama, seni dan budaya, serta bidang akademik, ajang ini membangun tradisi Mensana in corpore sano. Maknanya, di dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang sehat. Lebih lanjut, UMM juga telah masuk list Perguruaa Tinggi dalam perangkingan QS World Ranking tingkat regional Asia. Untuk itu, Nazar berharap besar melalui Rector Cup ini dapat meningkatkan kualitas dan eksistensi UMM di kancah global. Ini memberi gambaran tentang cita-cita besar UMM untuk melahirkan kader pemimpin masa depan bangsa yang lebih cerah dan menjanjikan. “Apa yang kita kerjakan bersama hari ini, pada prinsipnya menanamkan posisi UMM di mata universitas-universitas dunia. Sekecil apapun tindakan yang kita kerjakan dapat memberi dampak kepada masyarakat luas. Selamat berpastisipasi dan berkompetisi yang sehat anak-anakku semua!” ujar Nazar menghidupkan semangat para mahasiswa. Di sisi lain, Ketua Panitia Amrul Faruq, Ph.D. mengatakan bahwa tema Rector Cup tahun ini menggambarkan semangat bersama antara kampus dan mahasiswa. Ia percaya, UMM sebagai kampus berdampak dapat membangun banyak kegiatan positif dalam bentuk olahraga dan kesenian. ‘Compete’ berarti agenda ini mengajak mahasiswa untuk tampil dengan percaya diri dengan performa terbaik mereka dalam kompetisi yang sehat. Kemudian, ‘Connect’ mahasiswa terkoneksi satu sama lain melalui kolaborasi. Tidak ada pencapaian tanpa apresiasi, menurutnya setiap pencapaian mahasiswa patut untuk diarayakan dan dibanggakan. Selain itu, Ia sangat mengapresiasi kontribusi para elemen kampus dibalik kesuksesan agenda ini. (*/wil)
UMM Segera Luncurkan Direktorat Saintek

Untuk mengokohkan komitmen bermanfaat bagi masyarakat, Universitas Muhammadiyah malang (UMM) tengah menjalankan berbagai program yang tertuang dalam Direktorat Saintek UMM. Wadah ini juga mendukung program-program pemerintah, utamanya dalam mencapai Asta Cita yang fokus pada pangan, kesehatan masyarakat, energi, serta pelestarian lingkungan. Ini juga menjadi program andalan terbaru UMM di bawah komando Prof. Dr. Nazaruddin, M.Si. sebagai rektor. “Selama ini, sivitas akademika UMM memang sudah banyak melakukan riset di berbagai aspek. Direktorat Saintek ini akan menjadi wadah untuk mengelolanya dan terintegrasi mulai hulu hingga hilir, bahkan hingga menghasilkan produk. Dengan begitu, mampu mengakselerasi pembangunan nasional,” kata Nazar. Lebih lanjut, proses hilirisasi produk UMM ini juga berkolaborasi dengan PT Hintek UMM agar bisa terlaksana dengan lebih sistematis. Direktorat ini juga memiliki berbagai output yakni paket teknologi yang implementatif dan produk riset yang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu juga mampu menghasilkan hilirisasi secara komersial dan meningkatkan kemanfaatan untuk pembangunan nasional. Direktorat ini tentu mengelola dan menyelenggarakan proyek-proyek reiset pengembangan yang dilakukan peneliti dan ekspert multidisiplin secara terintegrasi. Ke depan, akan muncul berbagai produk yang menarik dan bermanfaat bagi masyarakat. Misalnya di bidang ketahanan pangan dan holtikultura yang mencakup bibit tanaman UMMSeeds, produk saprodi, sandang UMMFAbrics, dan lainnya. Adapula di bidang pangan peternakan dan perikanan yang mencakup UMMChick, UMMFish, UMMMachinery, dan lainnya. Begitupun di bidang kesehatan masyarakat seperti obat-obatan UMMMedicine maupun UMMHealth. “Direktorat ini sudah pra-launching bersamaan dengan peringatan Hardiknas. Dalam bulan Juni ini akan dilakukan peluncuran khusus dengan menggelar pameran produk dan karya inovasi peneliti UMM. Harapannya, pada awal 2026, Direktorat Saintek bisa langsung menghilirisasi produk-produk riset yang bermanfaat. Jangan sampai, riset-riset yang sudah dilakukan hanya berhenti di laboratorium. Berbagai riset ini harus bisa memberikan solusi atas pelbagai masalah masyarakat yang ada,” tegas Nazar mengakhiri. (wil)
FPP UMM Sebut Pentingnya Rumah Sakit untuk Hewan Ternak

Masih dalam suasana kegiatan benchmarking, kali ini Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan seminar internasional dengan pemateri yang didatangkan langsung dari Universitas Kastamonu Turkey. Dilangsungkan pada 2 Mei, agenda ini merupakan salah satu dari rangakaian benchmarking antara Universitas Kastamonu Turkey dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Salah satu pemateri adalah Assoc. Prof. Osmen Daniz yang fokus pada bidang management animal hospitality. Daniz menyampaikan berbagai penjelasan mengenai rumah sakit bagi hewan, khususnya hewan ternak. Menurutnya, pendidikan di bidang manajemen rumah sakit bagi hewan ini sangat penting untuk menunjang keberlangsungan peternakan yang baik dan juga higenis. Ketangkasan dan sikap tanggap akan adanya masalah yang dihadapi peternak menjadi salah satu tanggung jawab dan peran rumah sakit hewan tersebut. “Secara umum, fungsi pendidikan manajemen rumah sakit bagi hewan ini adalah untuk memberikan diagnosis umum dan khusus, tempat edukasi bagi peternak, serta mendukung akademisi dalam melakukan penelitian,” ucapnya. Lebih lanjut, rumah sakit bagi hewan ternak ini memiliki struktur dan organisasi yang sama dengan rumah sakit umum. Namun, pada jenis rumah sakit ini harus memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang sesuai seperti adanya higenitas yang layak, peralatan terstandar, dan terhindar dari mikrobia lain. Menurut Daniz, manajemen rumah sakit bagi hewan harus memiliki lisensi khusus penanganan berbagai masalah yang dihadapi oleh hewan. Seperti pada hewan ternak kuda yang terjangkit parasit. Penanganan yang tidak sesuai seperti higenitas yang kurang layak atau sistem injeksi pengobatan yang tidak tepat dapat berdampak buruk bagi kuda seperti pembengkakan kelenjar dan kerusakan jaringan. Di sisi lain, Dekan FPP UMM Prof. Dr. Ir. Aris Winaya, M.M., M.Si., IPU., ASEAN Eng turut bangga dengan adanya seminar internasional ini. Menurutnya, seminar internasional ini dapat membuka peluang mahasiswa untuk belajar. Tidak hanya dari bangku kuliah saja, namun juga dapat menerima ilmu dari berbagai bidang dan keahlian. “Seminar internasional bertajuk teaching management hospital ini dapat memberikan gambaran bagi mahasiswa, khususnya Prodi Peternakan untuk mengembangkan peternakan yang berbasis SOP yang sesuai,” ucapnya. Ia berharap, seminar internasional ini dapat berdampak signifikan bagi mahasiswa peternakan untuk menciptakan sistem peternakan yang baik. Selain itu juga membuka peluang belajar sebesa-besarnya bagi mahasiswa. (*/wil)
FEB UMM Ajak Anak Muda Melek Investasi

Kesadaran berinvestasi di kalangan generasi muda semakin meningkat, namun pemahaman yang benar terhadap pasar modal masih perlu ditingkatkan lebih lanjut. Hal inilah yang mendorong Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar seminar bertajuk “Level Up Finansial: Saatnya Melek Pasar Modal” pada Rabu, 7 Mei lalu. Menghadirkan dua narasumber berkompeten, seminar ini menyajikan pembahasan kritis mengenai peluang dan risiko dunia investasi, khususnya di pasar modal. Venus Kusumawardana, S.E., M.M., membuka materi dengan menegaskan bahwa investasi bukan soal ikut-ikutan atau mengejar keuntungan cepat, melainkan soal kesadaran finansial dan perencanaan jangka panjang. Karena masih sering kali orang berpikir investasi itu hanya tentang untung, tanpa sadar bahwa yang dibeli adalah bagian dari perusahaan, dan itu punya risiko. “Banyak investor pemula terjebak dalam pola konsumtif yang terselubung di balik istilah ‘trading harian’ atau ‘saham gorengan’. Kecenderungan generasi muda yang membeli saham berdasarkan popularitas atau viralitas semata. Jangan hanya terpaku pada harga saham murah. Saham murah bisa jadi tidak layak beli jika tidak ada fundamental yang jelas. Lihat laporan keuangan, perhatikan dividen, dan pahami sektor industrinya,” kata Venus. Lebih lanjut, Venus menguraikan konsep capital gain dan dividen, serta menjelaskan bahwa memahami siklus pasar dapat menjadi alat penting untuk menghindari kerugian besar. Ia menyampaikan bahwa pasar modal memiliki siklus mingguan, tahunan, bahkan dekade, dan menekankan bahwa tanpa kesabaran dan perencanaan, investor bisa tersapu oleh fluktuasi. Ia juga menyarankan agar mahasiswa mulai berinvestasi dengan jumlah kecil, seperti Rp100 ribu per bulan, namun tetap konsisten dan cermat dalam memilih saham. Sedangkan pembicara kedua, Hesty Tri Budihartati, S.E., M.M., memperkuat pembahasan mengenai urgensi literasi keuangan dengan data dan realita di lapangan. Ia menyebutkan bahwa meski jumlah investor Indonesia mencapai lebih dari 16 juta jiwa, tingkat literasi pasar modal masih di bawah 5 persen. “Banyak yang punya akun efek tapi tidak tahu apa itu emiten, apa itu KSEI, bahkan tidak paham beda tabungan dan investasi. Inilah yang memicu mudahnya masyarakat terjebak dalam skema investasi bodong. Saya ingin teman-teman paham, investasi itu bukan sekadar tren, tapi alat untuk melawan inflasi. Jadi jangan cuma ikut-ikutan, pelajari dulu dasarnya,” ucap Hesty. Hesty juga menyoroti pentingnya memiliki alokasi keuangan yang sehat. Ia mengimbau agar seseorang mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan dalam pengeluarannya. Ia menjelaskan bahwa setidaknya 20 persen dari penghasilan, bahkan jika itu hanya berupa uang jajan, sebaiknya dialokasikan untuk investasi dan dana darurat. Ia juga mengingatkan bahwa menabung sebaiknya tidak ditunda sampai memiliki pekerjaan tetap. Dekan FEB UMM, Prof. Dr. Idah Zuhroh, M.M., juga menyampaikan refleksi penting terkait mentalitas mahasiswa terhadap keuangan. Ia menegaskan bahwa menjadi mahasiswa ekonomi seharusnya juga berarti berpikir ekonomis dan strategis. “Literasi harus mendahului inklusi. Jangan terjun ke investasi hanya karena ikut tren saja tetapi, pahami dulu risikonya. Kita tidak bisa terus bergantung pada transfer orang tua. Jadikan penghasilan dari mereka sebagai modal untuk belajar mengelola keuangan secara bijak. Investasi bukan hanya tentang uang, tapi juga tentang pengetahuan, konsistensi, dan keberanian mengambil keputusan berdasarkan informasi yang akurat,” ujarnya. (*/wil)
Dalam Setahun, UMM Unggul di Pemeringkatan Internasional dan Nasional

Meski baru 2025 baru setengah tahun berjalan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sudah meraih banyak rekognisi dan prestasi. Paling tidak ada tiga raihan yang sudah dicapai, yakni peringkat pertama PTS di Indonesia bidang penelitian versi Scimago, peringkat pertama PTS di Jawa Timur versi Times Higher Education (THE) Rankings, dan peringkat pertama PTS di Malang Raya versi Science and Technology Index (SINTA) Kemdiktisaintek 2025. Hal ini semakin memperkuat kualitas UMM sebagai kampus yang unggul dan visioner. Terkait raihan ini, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik mengapresasi berbagia upaya yang dilakukan oleh sivitas akademika Kampus Putih dalam memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan serta layanan. Keseimbangan antara proses pendidikan, penelitian, serta pengabdian juga tidak kalah penting menyokong UMM menjadi salah satu kampus terbaik di Indonesia. Adapun THE menilai berbagai aspek yang krusial bagi aktivitas kampus di berbagia belahan dunia, seperti penelitian, proses pengajaran, serta efeknya. Bahkan juga melihat dan meninjau data terkait rasio staf dan mahasiswa di setiap universitas, proporsi mahasiswa internasional, gender, dan lain sebagainya. Adapun pada tahun 2025 ini, THE telah merilis dan mengurutkan ranking sebanyak 853 univesitas di 35 negara. Sementara itu, untuk Scimago, paling tidak ada 11 indikator yang menjadi landasan penilaian SIR. Salah satunya jumlah publikasi ilmiah pada jurnal terindeks Scopus. Selama ini UMM sudah mendorong sivitas akademikanya untuk menghasilkan riset yang terbaik di masing-masing bidang. Bahkan juga menyediakan program-program yang bisa membantu dan meningkatkan jumlah maupun kualitas penelitian yang ada. Indikator lain yang tidak kalah menarik adalah jumlah artikel yang terbit pada jurnal internasional bereputasi kualitas tinggi (Q1) dan jumlah sitasi artikel pada jurnal internasional bereputasi. Hal ini menggambarkan bahwa kualitas penelitian UMM sangat baik. Banyak pihak yang mengambil dan mengutip sitasi dan penelitian-penelitian yang dilakukan dosen-dosen UMM. Lebih lanjut, Nazar menjelaskan bahwa rekognisi regional, nasional, maupun internasional merupakan hal strategis agar masyarakat bisa tahu kualitas dari sebuah universitas. Namun yang tak kalah penting adalah bagaimana sebuah kampus bisa benar-benar memberikan yang terbaik, mulai dari kualitas pendidikan hingga nanti ketika mahasiswa lulus. Kampus harus membuktikan bahwa rekognisi dan prestasi yang dicapai memang benar-benar sesuai dengan kenyataan. “Semoga hasil ini bisa menjadi bahan bakar bagi sivitas akademika UMM untuk meningkatkan berbagai aspek demi memajukan pendidikan. Pada akhirnya ini juga menjadi upaya UMM untuk membantu Indonesia memaksimalkan potensi anak bangsa dalam meraih Indonesia Emas 2045,” ucapnya mengakhiri. (wil)
Tiga Guru Besar Baru UMM, Kaji Gender, Kacang Koro, hingga Sastra

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah guru besarnya. Kali ini, tiga gubes dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dikukuhkan, 10 Mei ini. Mulai dari Prof Trisakti Handayani sebagai guru besar bidang ilmu kajian budaya, Prof Elly Purwanti yang menjadi gubes bidang ilmu pendidikan biologi, hingga Prof Sugiarti yang menjadi gubes bidang ilmu bahasa dan sastra Indonesia. Orasi yang disampaikan juga menarik dan inspiratif. Pertama, ada Prof Trisakti Handayani yang terkait ‘Kajian Budaya Dan Isu Gender dalam Pendidikan Di Indonesia’. Ia menyoroti bahwa pendidikan tidak pernah berlangsung dalam ruang yang netral, melainkan selalu berada dalam pengaruh konteks sosial, budaya, dan relasi kekuasaan. Pendekatan kritis melalui kajian budaya ini memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat menjadi alat reproduksi ketidaksetaraan sosial, sekaligus memiliki potensi sebagai kekuatan transformatif untuk menciptakan keadilan dan inklusivitas. Perspektif gender membantu mengungkap dan menantang bias dalam berbagai aspek pendidikan, seperti kurikulum, interaksi kelas, hingga tata kelola lembaga. Pendidikan yang adil terhadap gender, sebagaimana ditegaskan Connell, tidak hanya bermanfaat bagi perempuan tetapi juga bagi semua gender, karena menciptakan ruang belajar yang demokratis dan memungkinkan semua peserta didik berkembang secara optimal. “Di era globalisasi dan percepatan teknologi digital, pendidikan di Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk menyiapkan generasi yang mampu mempertahankan identitas kultural. Pendidikan yang transformatif, harus menanamkan literasi kritis agar peserta didik mampu menyaring pengaruh budaya dan informasi secara reflektif. Oleh karena itu, dibutuhkan reformasi pendidikan menyeluruh yang memperhitungkan aspek budaya dan kesetaraan gender dalam setiap unsur sistem pendidikan,” katanya. Untuk itu, sinergisitas dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat sipil, komunitas, dan keluarga menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang tanggap terhadap kebutuhan lokal dan tantangan global. Mengutip Freire, ia menilai, pendidikan harus menjadi “praktik kebebasan” yang membebaskan individu dari penindasan dan memberdayakan mereka sebagai agen perubahan sosial menuju masyarakat yang adil, demokratis, dan berkelanjutan. Pada orasi selanjutnya, Prof Elly Purwanti Guru menjelaskan bahwa kacang koro merupakan salah satu pangan fungsional yang berbasis keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia. Kacang koro menjadi salah satu kekayaaan hayati Indonesia yang memiliki potensi besar untuk mendukung keberlanjutan dan ketahanan pangan nasional. Lebih dari itu, kacang koro dapat digunakan sebagai alternatif pengganti kedelai. Menurutnya, kacang koro tidak hanya menawarkan keunggulan agronomis dan nilai gizi tinggi namun juga nilai bioaktif yang dapat digunakan untuk pengembangan berbagai produk pangan yang fungsional. Produk pangan fungsional yang ada di Indonesia beraneka ragam, umumnya aneka kacang lokal menjadi sumber pangan penting bagi masyarakat bagi kehidupan di masa depan. “Koro, seperti Cajanus cajan (koro gude) dan Canavalia ensiformis (koro pedang), memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan nasional Indonesia. Kedua spesies ini sangat adaptif terhadap lingkungan tropis Indonesia, tumbuh subur di lahan marginal dan kurang subur, serta tahan terhadap kekeringan dan serangan penyakit. Kacang koro juga dikenal efisien dalam penggunaan air, lahan, dan energi, menjadikannya opsi yang lebih ramah lingkungan dibandingkan sumber protein hewani,” tambahnya. Dengan kandungan protein yang tinggi, kacang koro dapat menjadi alternatif yang baik untuk tempe dan tahu, serta berpotensi mengurangi ketergantungan pada impor kedelai. Dengan pemanfaatan dan pengembangan yang tepat, kacang koro dapat menjadi solusi strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia, khususnya dalam menghadapi tantangan seperti perubahan iklim dan pertumbuhan populasi. Sementara itu, Prof Sugiarti mengkaji ‘Perspektif Multidisipliner Sastra sebagai Agregat Membangun Peradaban Masyarakat’. Menuruntya, sastra memiliki peran strategis sebagai agregat pengetahuan yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu untuk memahami dan membentuk karakter bangsa. Sastra lebih dari sekadar karya estetika, karena ia mampu merefleksikan dan mentransformasikan berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk sosial, politik, psikologis, dan historis. Sastra menjadi cermin dinamika masyarakat, yang juga mencakup nilai-nilai kesetaraan gender dan kemanusiaan. Sastra berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan, serta antara logika dan empati. Ia menyatakan bahwa pembangunan peradaban bangsa tidak hanya bergantung pada angka dan data, tetapi juga harus memperhatikan kata dan makna yang terkandung dalam sastra. Sastra yang dipadukan dengan ilmu pengetahuan dapat memperkuat pondasi budaya bangsa yang beradab, inklusif, dan visioner. Oleh karena itu, sastra harus menjadi bagian integral dalam pendidikan dan pengembangan masyarakat yang humanis dan berkarakter. “Dengan pendekatan multidisipliner yang mencakup sejarah, filsafat, dan politik, sastra menjadi medium yang efektif untuk mengkritisi kehidupan sosial. Para pemikir seperti Edward Said dan Homi Bhabha menekankan bahwa sastra tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga berperan dalam mengonstruksi dan menantangnya, menjadikannya kekuatan lunak dalam membentuk nilai-nilai kemanusiaan dan arah peradaban,” tegasnya. (wil)
Dosen UMM Sebut PLTS Peluang Besar Menuju Indonesia Net-Zero Emission 2060

Tren penggunaan kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terus menunjukkan perkembangan positif di Indonesia. Hal ini dinilai menjadi angin segar dalam mendukung target dekarbonisasi nasional menuju net-zero emission pada tahun 2060. Dr. Machmud Effendy, ST, M.Eng. dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar, mencapai 207,8 Gigawatt (GW). Namun, pemanfaatannya masih tergolong rendah, yaitu baru sekitar 573,8 Mega Watt (MW) atau 0,28% dari total potensi. Data terbaru dari Kementerian ESDM menunjukkan adanya pertumbuhan signifikan dalam penggunaan PLTS atap. Angka pertumbuhannya meningkat dari 8.491 pelanggan di akhir 2023 menjadi 8.575 pelanggan pada Januari 2024, mengindikasikan peningkatan kesadaran dan adopsi energi terbarukan. Sementara itu, pada sektor industri, PLTS atap telah menjangkau 8.491 pelanggan dengan kapasitas terpasang mencapai 149 MWp. Proyek besar seperti PLTS Atap Coca-Cola di Cikarang (7,2 MWp) dan Danone Aqua di Klaten (3 MWp) menjadi bukti bahwa sektor industri mulai serius memanfaatkan energi bersih. Machmud menyampaikan bahwa integrasi PLTS dengan kendaraan listrik menjadi kombinasi yang ideal dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil. “PLTS dapat menjadi sumber energi terbarukan untuk mengisi daya baterai EV, sehingga mampu untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan meningkatkan keberlanjutan,” ujarnya. Konsumsi energi EV rata-rata adalah 1 kWh untuk menempuh 5–7 km. Artinya, untuk penggunaan harian sekitar 40 km, dibutuhkan 6–8 kWh. PLTS dengan kapasitas 3–5 kWp dinilai cukup untuk menyuplai kebutuhan rumah tangga sekaligus kebutuhan charging EV. Inovasi seperti smart inverter dan smart charging memungkinkan interkoneksi antara PLTS, baterai, dan jaringan PLN. Surplus listrik dari PLTS dapat disimpan atau digunakan otomatis untuk pengisian daya EV, meningkatkan efisiensi energi rumah tangga. Menurut Machmud, biaya pemasangan PLTS sangat bervariasi tergantung jenis sistem yang digunakan. Misalnya On-Grid (tanpa baterai) yang cocok untuk rumah dengan sambungan PLN. Biayanya sekitar Rp10 juta per 1 kWp dan menghasilkan 120–140 kWh/bulan. Adapula Off-Grid (dengan baterai) yang cocok untuk daerah tanpa akses PLN dan memakan biaya sekitar Rp13 juta. Selain itu, ada Hybrid (on-grid + baterai) yang paling fleksibel namun mahal, sekitar Rp15 juta. “Untuk penghematan signifikan, sistem 2 kWp on-grid dapat mengurangi tagihan listrik rumah hingga 70–80%. Sementara untuk kemandirian penuh, dibutuhkan sistem 2,5–3 kWp plus baterai 5–10 kWh,” tambahnya. Terkait panel surya, alat ini memiliki umur hingga 25–30 tahun dengan perawatan minimal. Baterai perlu diganti setiap 4 tahun dan cukup dibersihkan secara berkala. Namun, percepatan PLTS di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Di antaranya kebijakan yang tidak konsisten seperti penghapusan net-metering menciptakan ketidakpastian bagi investor. Infrastruktur PLN juga belum fleksibel terhadap sumber energi terbarukan yang intermiten. “Tantangan lainnya yakni minimnya insentif ekonomi, tidak ada subsidi, tarif khusus, atau kredit pajak serta harga baterai yang masih tinggi. Rendahnya literasi masyarakat mengenai PLTS juga perlu diperhatikan serta keterbatasan industri lokal panel surya dan inverter, yang masih bergantung pada impor,” katanya. Di akhir, Machmud menyebutkan bahwa PLTS berperan strategis dalam mempercepat transisi energi nasional. Dengan PLTS, masyarakat bisa menjadi produsen sekaligus konsumen (prosumer) energi. Dibandingkan pembangkit besar seperti PLTU atau PLTA, PLTS dapat dibangun dalam waktu lebih singkat, bahkan hanya dalam hitungan minggu atau bulan. (bil/wil)