Dua Mahasiswa HI Wakili Indonesia Unjuk Gigi di Korea Selatan

Prestasi membanggakan datang dari Aloysius Gonza Alnabe dan Muhammad Zair Baitil, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka sukses mewakili Indonesia di kancah Internasional lewat ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Korean Economic Daily, kegiatan ini diadakan pada tanggal 2-8 April 2025. Korean Economic Daily merupakan salah satu agensi berita ternama di Korea Selatan, setara Media massa berita yang ada di Indonesia. Agensi berita ini, hanya memfokuskan berita pada bidang ekonomi seperti bisnis, ekspor-impor, dan perdagangan internasional antara Korea dengan negara lain. Menurut Gonza, kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang perlombaan, namun juga sebagai wadah bagi mahasiswa dari seluruh dunia untuk menyalurkan minat dan bakat di bidang ekonomi serta mengasah kemampuan bisnis mereka secara langsung. Proses seleksi untuk perlombaan ini sangat ketat, hanya empat kelompok dari setiap negara yang berhak melaju ke Korea, termasuk dari Indonesia. Setelah melewati berbagai tahap penyaringan, Alnabe dan tim akhirnya terpilih untuk berangkat dan berkompetisi secara langsung di hadapan juri-juri profesional ditingkat Internasional. Setibanya di Korea, mereka tak hanya bersaing dengan peserta dari berbagai negara, tetapi juga dengan sesama tim dari Indonesia untuk memperebutkan gelar juara dan kesempatan membawa pulang penghargaan berupa uang pembinaan guna pengembangan bisnis ke depan. Korean Economic Daily berlangsung selama satu minggu. Kegiatan dibagi menjadi 3 sesi. Sesi pertama, perkenalan antar peserta dan dilanjutkan dengan games untuk menambah keakraban pada para peserta. Sesi kedua, dilanjutkan dengan presentasi dari 17 kelompok dari berbagai negara. Sesi presentasi ini cukup menegangkan karena, para peserta diminta untuk menyampaikan ide bisnis mereka dihadapan juri tingakat Internasional. Dan yang terakhir sesi awarding serta eksplorasi, sesi ini para peserta dibawa untuk berwisata dan menikmati pameran kopi khas Korea yang seluruh biayanya ditanggung penyelenggara. “Kami juga diberikan tugas mewawancarai pedagang lokal lalu, memilih salah satu stand bazar dengan potensi bisnis terbaik untuk kami wawancarai,” katanya. Gonza mneilai, kegiatan ini sangat menarik. Para peserta diberikan tugas untuk menelusuri profil CEO terkenal dari negara lain dalam sesi Protrail CEO. Tim Alnabe memilih ikon fashion dari Mongolia, menggali kisah perjalanan hidup, bisnis, visi misi, hingga alasan mendirikan brand yang sukses dikancah Internasional. Acara ditutup pada tanggal 4 dengan presentasi akhir serta pentas seni dari tiap negara sebuah penampilan lintas budaya yang mempererat solidaritas antar bangsa. Ia mengatakan banyak sekali mendapat pelajaran berharga dari ajang ini. Tak hanya belajar pitching dan berpikir strategis, dia juga semakin yakin dalam membangun Conatus Academy, bisnis bidang jasa kursus Bahasa Inggris yang sedang ia rintis. Selain itu, selama menjalani kompetisi ini ada tantangan terbesar yaitu menyatukan ide antar anggota tim. “Setelah diskusi, kami sepakat memilih tema food management yakni untuk mengurangi limbah makanan dari restoran melalui pengelolaan makanan sisa yang lebih bijak dan bermanfaat. Harapannya, dengan mengikuti kompetisi ini kami dapat menumbuhkan semangat yang lebih tinggi lagi dalam berbisnis dan keinginan untuk membuat dampak nyata jadi motivasi terbesar bagi banyak orang,” katanya. (nam/wil)
Pro Kontra AI dan HaKI, Dosen UMM Sebut Indonesia Perlu Regulasi Gamblang

Kemajuan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) belakangan ini menggemparkan dunia dengan terobosan-terobosan baru yang bebas diakses oleh siapa saja. Terbaru, OpenAI memperkenalkan fitur menarik pada GPT-40 yang membantu pengguna menghasilkan gambar gaya artisitik, termasuk animasi kartun khas Studio Ghibli Jepang yang sedang viral di kalangan pengguna media sosial. Namun, dibalik kopupulerannya muncul juga kekhawatiran terhadap hukum serta Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang berlaku. Menanggapi hal tersebut, Dosen Hukum sekaligus Ketua Sentra HKI Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sofyan Arief, SH., M.Kn. menyoroti bahwa hingga saat ini belum ada regulasi Undang-Undang (UU) di Indonesia yang gamblang membahas isu tersebut. Sementara itu, di beberapa negara Eropa dan Amerika sendiri sudah ada peraturan yang menyebut bahwa karya yang dihasilkan AI tidak ada hak kepemilikan secara langsung. Ini menjadi hal kompleks lantaran AI bergerak sendiri berdasarkan data yang sudah tersedia dalam sistem, sehingga orisinalitas karya masih ambigu dan kerap dipertanyakan. Untuk itu, menurut Sofyan, sangat penting untuk mencermati dan memahami terlebih dahulu syarat dan ketentuan yang harus disepakati antara pihak terkait sebelum menggunakan pelayanan AI yang kerap kali diabaikan oleh pengguna. Seperti perjanjian untuk menunjukkan bahwa konten tersebut adalah buatan AI. Hal ini sebagai upaya untuk memberikan pemahaman kepada audiens agar dapat memberikan feedback yang tepat terhadap konten yang dibuat oleh AI. “Di samping menunggu regulasi kebijakan pemerintah mengenai fenomena tersebut, untuk saat ini, jalan tengah permasalah terletak pada kepakatan yang disetujui oleh pengguna dan pihak AI yang sudah tersedia. Terlebih lagi, jika kita menggunakan jasa mereka untuk kepentingan komersial,” jelasnya. Pada dasarnya, hakikat keberadaan AI adalah sebagai sebuah tools atau alat. Sebagaimana fungsinya, sebuah tools dipengaruhi oleh keinginan dan kebutuhan pengguna dan pencipta. Menurutnya, melihat kemajuan zaman sangat memungkinkan muncul berbagai perubahan kebijakan dan sebagainya. Misal, ketika sistem sudah berjalan dengan melibatkan campur tangan langsung pengguna melalui ide terhadap sistem atau program, bisa dihargai dalam penciptaan dari karya yang dihasilkan. Caranya, dengan sebuah perjanjian mengenai pemanfaatan dari hasil yang digunakan untuk komersial. Lebih lanjut, mengenai isu hangat perdebatan mengenai hak cipta konten AI, Sofyan menjelaskan sejauh mana unsur pelanggaran hak cipta karya AI terhadap karya orisinal yang dicontoh dan berdasarkan komersialisasi hasil. Maka dari itu, ia juga mengingatkan masyarakat untuk bisa memahami secara detail mengenai kerja sistem suatu program, serta selalu bijak dalam menggunakan tools digital. “Meski demikian, ke depannya, saya rasa perlu ada regulasi peraturan yang dibuat sebagai sebuah jalan keluar akan permasalahan yang terjadi. Namun, perlu kita ingat bersama bahwa AI bukan sebuah subjek hukum, sehingga tidak bisa dituntut oleh hukum,” tambahnya. (din/wil)
UMM-Universiti Kebangsaan Malaysia Perkuat Kerjasama Pendidikan dan Riset

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) kembali memperkuat kerja sama akademik yang telah berlangsung sejak lima tahun lalu. Termasuk melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan (FKSSK). Pertemuan lanjutan yang digelar pada Jumat, 10 April 2025 menjadi tindak lanjut konkret dari Memorandum of Understanding (MoU) yang telah berjalan sejak 2020. Pertemuan tersebut membahas tiga pilar utama implementasi kerja sama, yakni student exchange, joint research, dan visiting lecturer. Prof. Dr. Kadaruddin Aiyub selaku dekan FKSSK UKM menyampaikan, kerja sama dengan UMM khususnya dengan program studi Kesejahteraan Sosial (Kesos), telah membuahkan hasil yang signifikan. Salah satunya adalah program magang mahasiswa Kesos UMM di lembaga-lembaga prestisius di Kuala Lumpur, serta keikutsertaan dosen dalam skema visiting lecturer selama dua minggu di Malaysia. Untuk itu, diperlukan dorongan agar kerja sama ini tidak berhenti pada aspek formal, melainkan dikembangkan dalam bentuk kegiatan nyata seperti short course selama satu bulan untuk mahasiswa. “Terdapat program magang mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM di lembaga ternama Kuala Lumpur serta pelaksanaan dosen tamu dari UMM yang mengajar secara luring selama dua minggu di UKM. Kolaborasi ini sudah berjalan dengan baik. Termasuk kegiatan visiting lecturer dan riset bersama. Ini menunjukkan keseriusan kami untuk mendorong kolaborasi yang berdampak,” ujarnya. Dalam pertemuan tersebut, UKM juga menawarkan skema pendidikan doktoral yang fleksibel bagi dosen UMM. Melalui program ini, peserta cukup hadir satu bulan setiap tahunnya untuk mengikuti kegiatan akademik intensif, sementara publikasi dan workshop difasilitasi secara gratis. Karena UKM ingin dosen-dosen dari UMM tetap bisa aktif di kampusnya sambil menyelesaikan studi doktoralnya di UKM. Sementara itu, Wakil rektor IV UMM Muhammad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D. menyampaikan bahwa semua program studi di FISIP seperti Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, Sosiologi, Pemerintahan, dan Psikologi didorong aktif dalam kerja sama ini. Beberapa dosen pun sudah mulai menyusun proposal untuk program visiting dan joint research di UKM. “UMM sudah menyiapkan insentif dan skema pendanaan internal untuk mendukung dosen dan mahasiswa dalam kolaborasi internasional, termasuk short course, magang luar negeri, dan penelitian bersama. Kerja sama dengan UKM ini sangat prospektif, dan kami dorong agar terus berkembang,” ujarnya. Adapun rangkaian kerja sama ini diharapkan tidak hanya memperkuat jaringan akademik, tetapi juga memberi dampak konkret pada kualitas lulusan, internasionalisasi institusi, penguatan kapasitas riset dosen serta mahasiswa. (wil)
UMM Duduki Peringkat Pertama Kampus dengan Penelitian Terbaik se-Indonesia

Prestasi gemilang kembali ditorehkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kampus ini sukses menempati peringkat pertama kampus swasta di Indonesia bidang research yang dikeluarkan oleh SCImago Institutions Rankings (SIR) pada 2025 ini. Adapun SIR merupakan lembaga pemeringkatan perguruan tinggi di dunia. Hal ini menjadi bukti bahwa UMM merupakan kampus dengan riset yang bagus, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. “Ini juga menjadi bentuk nyara bahwa kami memiliki komitmen yang sangat tinggi dalam meningkatkan kualitas tata kelola penelitian yang berdampak luas terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Wakil Rektor IV UMM Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerjasama Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa paling tidak ada 11 indikator yang menjadi landasan penilaian SIR. Salah satunya jumlah publikasi ilmiah pada jurnal terindeks Scopus. Selama ini UMM sudah mendorong sivitas akademikanya untuk menghasilkan riset yang terbaik di masing-masing bidang. Bahkan juga menyediakan program-program yang bisa membantu dan meningkatkan jumlah maupun kualitas penelitian yang ada. Selain itu, indikator lain yang tidak kalah menarik adalah jumlah artikel yang terbit pada jurnal internasional bereputasi kualitas tinggi (Q1) dan jumlah sitasi artikel pada jurnal internasional bereputasi. Hal ini menggambarkan bahwa kualitas penelitian UMM sangat baik. Banyak pihak yang mengambil dan mengutip sitasi dan penelitian-penelitian yang dilakukan dosen-dosen UMM. “Begitupun dengan indikator kolaborasi internasional. UMM sudah banyak sekali melakikan kolaborasi dengan banyak pihak. Tidak hanya terbatas pada universitas-universitas internasional, tapi juga dengan institusi-institusi lain seperti pemerintahan, perusahaan, NGO, Startup dan lainnya. Mulai dari institusi yang ada di Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan lain sebagainya,” katanya Salis. Indikator lain yang juga menjadi penilaian di antaranya normalized impact, excellence with leadership, not own journals output, own journals, high quality publications, excellence, scientific leadership, open access, scientific talent pool dan lainnya. UMM berhasil memenuhi indikator itu dengan baik dan akhirnya mampu menduduki peringkat pertama kampus swasta di bidang research. Terkait hasil ini, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan sivitas akademika Kampus Putih dalam meneliti dan menghasilkan penelitian mumpuni dan berkualitas. Rekognisi ini merupakan buah yang dituai oleh UMM yang selama ini memang salah satunya berfokus pada penelitian. Meski begitu, menurutnya, penelitian yang bagus juga harus mampu memberikan manfaat pada masyarakat luas. Bukan penelitian yang hanya berhenti dalam tulisan dan menjadi bacaan semata, tapi benar-benar bisa dirasakan oleh manusia untuk memajukan peradaban. (wil)
CoE Perbukuan UMM Luncurkan Ensiklopedia Tradisi Kampung

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan eksistensinya dalam dunia literasi melalui peluncuran buku berjudul Ensiklopedia Tradisi-Tradisi Kampung. Acara peluncuran itu berlangsung di Toko Buku Togamas Malang pada akhir Maret lalu dan dikemas dalam tajuk bedah buku yang menghadirkan dua narasumber. Yaitu Prof. Dr. Joko Widodo, M.Si., yang mengupas isi buku dari sudut pandang pembaca dan penikmat sastra, serta Deftania Putri Anggraini, yang membahas buku tersebut dari perspektif penulis. Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Arif Setiawan, dalam sambutannya turut mengapresiasi capaian mahasiswa yang berhasil menerbitkan buku ini. Ia berharap karya ini tidak hanya berhenti sampai di sini, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi penelitian ilmiah yang lebih mendalam. “Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia mampu berkontribusi dalam dunia literasi dan pelestarian budaya melalui publikasi akademik yang berkualitas,” ungkapnya. Adapun buku Ensiklopedia Tradisi-Tradisi Kampung merupakan hasil karya mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia yang mengikuti program Center of Excellence (CoE) Entrepreneur Perbukuan batch 4. Buku ini juga menjadi luaran dari mata kuliah Penyuntingan Substansif dan Mekanis. Dengan riset yang mendalam, buku ini menghadirkan wawasan mengenai berbagai tradisi yang masih hidup di masyarakat pedesaan, khususnya di Pulau Jawa. Tradisi-tradisi yang diungkap dalam buku ini mencakup ritual adat, upacara tradisional, serta kebiasaan sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Buku ini tidak hanya bertujuan untuk mendokumentasikan budaya lokal yang semakin terancam oleh modernisasi, tetapi juga untuk memperkuat ikatan sosial serta menjaga identitas budaya yang unik. Dalam sesi diskusi, Prof. Dr. Joko Widodo mengungkapkan apresiasinya terhadap karya mahasiswa ini. Ia menyatakan bahwa buku ini adalah wujud apresiasi terhadap tradisi. Ia pun mengatakan bahwa membaca buku ini telah membangkitkan nostalgia akan masa kecilnya, di mana berbagai tradisi yang tertulis dalam buku masih sering ia saksikan secara langsung. “Membaca buku ini seperti membuka kembali kenangan lama. Banyak tradisi yang dulu saya alami sendiri, dan kini terdokumentasikan dengan baik,” ujarnya. Lebih dari itu, ia berharap buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi mahasiswa dan akademisi, bahkan dapat dikembangkan menjadi bahan penelitian ilmiah sebagai pengganti skripsi. Ia juga menekankan pentingnya pelestarian budaya dalam menghadapi arus modernisasi yang semakin kuat. Menurutnya, tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas kolektif yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar setiap tradisi yang ada dapat dimaknai dengan baik sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman yang dapat merugikan lingkungan maupun nilai-nilai sosial yang telah terbangun dalam masyarakat. Sementara itu, Deftania Putri Anggraini, sebagai perwakilan dari 15 penulis buku, menyampaikan harapannya agar buku ini dapat memperkenalkan kembali budaya tradisional melalui dunia pendidikan, terutama bagi anak-anak usia sekolah. Selain itu, ia berharap buku ini bisa turut berkontribusi dalam peningkatan literasi di Indonesia dengan menyediakan bacaan yang ringan dan mudah dipahami. Lebih jauh, ia ingin agar buku ini dapat menginspirasi generasi muda untuk turut serta dalam melestarikan dan berpartisipasi dalam tradisi yang ada di daerah mereka. Peluncuran buku Ensiklopedia Tradisi-Tradisi Kampung ini menjadi bukti nyata komitmen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dalam mendukung pelestarian budaya melalui dunia akademik dan kewirausahaan perbukuan. Sebagai bagian dari program Center of Excellence (CoE) Entrepreneur Perbukuan, buku ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa untuk terus menggali, mendokumentasikan, serta mengembangkan warisan budaya Indonesia dalam bentuk karya yang bernilai edukatif dan komersial. (*/wil)
Tiga Mahasiswa EP UMM Kenalkan Budaya Indonesia di Tiga Negara

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mendorong mahasiswanya untuk berkontribusi, tidak hanya di dalam negeri tapi juga ke luar negeri. Hal itu pula yang mendorong tiga mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (EP UMM) yang turut serta dalam Internasional Volunteer Semangat Muda Indonesia Youth Exchange 2025 ke tiga negaara. Tiga mahasiswa tersebut ialah Salsabila Nur Husnia, Erin Herawati, dan Najwa Mahira. Adapun mereka melangsungkan kegiatan itu selama hampir sebulan dan berahir pada akhir Maret lalu. Terkait kegiatan tersebut, Salsabila mengatakan bahwa pada program University Visit: Global Insight Local Impact tersebut, ia dan temannya mengunjungi universitas yang berada di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Saat berada di Singapura mahasiswa EP UMM mengunjungi Nanyang Technological University (NTU) dan Singapore Management University (SMU) serta Sekolah Indonesia-Singapura (SIS). Sedangkan di Malaysia mengunjungi Universiti Malaya, serta di Thailand mengunjungi Prince of Songkla University (PSU). Menariknya saat di Singapura ini, mereka juga mengajar budaya di Sekolah Indonesia Singapura (SIS) yang siswanya sebagian besar adalah anak para pekerja migran Indonesia. Materi yang disampaikan di antaranya tentang profil budaya di Pulau Jawa serta Bali. Dipilihnya dua pulau ini karena melihat bahwa para siswa SIS lebih mengenal Bali serta sebagian siswa memiliki latar belakang keluarga yang berasal dari pulau Jawa. “Terkait budaya ini, kami adaptasi dari mata kuliah Sumber Daya Manusia (SDM) yang sudah dipelajari di semester awal. Hal ini juga terkait program SDGs (Sustainable Development Goals),” katanya. Selain itu, mereka juga ikut berdiskusi dengan mahasiswa lainnya dan menyampaikan materi terkait Kebanksentralan yakni menjelaskan tentang mata uang rupiah yang di dalamnya ada profil pahlawan, gambar pulau, dan keragaman flora-fauna. Materi ini sekaligus sosialisasi kepada siswa SIS tentang mata uang rupiah yang selama ini belum pernah dilihat secara langsung. Bahkan mereka menjelaskan profil masing-masing pahlawan dan pulau yang ada di mata uang lembaran nominal seribu rupiah hingga seratus ribu rupiah. “Semoga ikutnya kami dalam program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi kami, tapi jua benar-benar memberikan manfaat bagi orang lain. Termasuk para siswa yang ada di SIS agar bisa mengenal Indonesia lebih baik meski belum pernah ke Indonesia atau hanya mengenal sebagian saja,” tegasnya mengakhiri. (*/wil)
Dosen UMM Ungkap Faktor Melemahnya Rupiah dan Cara Mengatasinya

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan di awal 2025, dengan kisaran yang menyentuh Rp16.300 hingga Rp16.500 per dolar. Kondisi ini kembali memantik kekhawatiran pelaku ekonomi, sebab tekanan terhadap rupiah dinilai bisa berdampak luas terhadap stabilitas perekonomian nasional. Venus Kusumawardana, S.E., M.M., dosen Prodi D-III Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjelaskan bahwa melemahnya rupiah bukanlah fenomena baru. Namun, tetap harus diwaspadai karena penyebab dan tantangannya berbeda dari masa ke masa. “Fluktuasi nilai tukar sudah terjadi sejak lama. Pada 1998, misalnya, rupiah pernah melemah drastis dari Rp2.500 menjadi Rp17.000 akibat krisis ekonomi dan politik. Sekarang kondisinya berbeda, tapi pola gejolaknya tetap harus direspons dengan kebijakan yang bijak,” jelasnya. Ia menguraikan bahwa penyebab utama melemahnya rupiah tahun ini bersumber dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari luar negeri, kebijakan moneter The Fed menjadi pemicu kuat. Ketika bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan, investor global cenderung menarik dana dari negara berkembang dan menempatkannya di aset berbasis dolar karena dianggap lebih aman dan menguntungkan. Sementara dari dalam negeri, defisit neraca perdagangan serta tekanan inflasi turut memperlemah posisi rupiah. “Saat impor lebih besar dari ekspor, permintaan dolar naik dan cadangan devisa bisa tergerus. Ditambah lagi, inflasi menekan daya beli masyarakat dan pendapatan pelaku usaha, yang bisa memicu perlambatan ekonomi,” katanya. Untuk merespons situasi ini, Bank Indonesia (BI) telah menjalankan tiga kebijakan utama yakni intervensi di pasar valuta asing, penyesuaian suku bunga acuan, serta operasi pasar terbuka. Selain itu, BI juga menjaga cadangan devisa pada level aman, sekitar 140 miliar dolar AS. Namun menurutnya, menjaga stabilitas rupiah tidak cukup hanya dari sisi moneter. Ia menekankan pentingnya strategi lintas sektor yang menyentuh aspek fiskal, struktural, dan sektor riil. “Beberapa strategi yang perlu dilakukan adalah mendorong ekspor dan pariwisata untuk memperkuat cadangan devisa, menarik lebih banyak investasi asing langsung (FDI), serta mengurangi ketergantungan pada impor. Dapat dicontohkan bahwa investasi asing di sejumlah wilayah seperti Pasuruan serta beberapa daerah lainnya turut menggerakkan ekonomi lokal sekaligus memperkuat posisi rupiah melalui capital inflow,” terangnya. Selain itu, menurutnya pemerintah juga bisa memperluas penggunaan rupiah dalam transaksi domestik dan regional. Edukasi cinta produk dalam negeri pun tak kalah penting untuk mengurangi kebutuhan devisa. Karena, stabilitas nilai tukar tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau Bank Indonesia, tapi juga seluruh elemen masyarakat. Konsumsi produk lokal, peningkatan ekspor, dan efisiensi impor adalah bagian dari kontribusi nyata untuk menjaga kekuatan rupiah. (vin/wil)
Dosen UMM Ingatkan Cek Kondisi Kendaraan Usai Mudik Panjang

Sudah sepekan sejak arus mudik memuncak usai lebaran. Ada berbagai hal yang harus dicek sebelum kembali memulai pekerjaan dan aktivitas harian. Salah satunya kondisi kendaraan yang sudah dipakai perjalanan panjang ketika mudik. Maka, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dicek kembali. Hal itu ditegaskan dosen teknik mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ir. Iis Siti Aisyah, ST, MT, Ph.D. Iis mengatakan salah satu hal yang penting untuk dicek kembali adalah kondisi rem. Apalagi sudah digunakan lama dan intens selama perjalanan mudik. Jangan sampai kelengahan ini malah membuat rem blong dan mengancam. Ia berpesan untuk mengecek sistem rem kendaraan dalam kondisi prima. Periksa cairan rem, pastikan kampas rem tidak aus, dan ganti minyak rem secara berkala. Gunakan rem dengan bijak, hindari pengereman mendadak atau berulang-ulang dalam jarak pendek yang dapat menyebabkan rem panas. Jangan bawa muatan berlebihan yang dapat mengurangi daya rem. “Keamanan perjalanan harus menjadi prioritas utama, sangat disayangkan banyaknya tragedi rem blong. Untuk mencegah rem blong, lakukan perawatan rutin sistem rem, gunakan rem dengan bijak, periksa cairan rem, dan hindari pengereman berlebihan atau beban berlebih,” tambahnya. Lebih lanjut, kendaraan juga harus melalui pemeriksaan menyeluruh sebelum kembali digunakan. Terutama ban kendaraan yang sebaiknya dalam kondisi optimal, dengan tekanan yang sesuai dan alur yang cukup dalam. Ban yang sudah aus berisiko bocor di tengah jalan. Selain itu, cek juga mesin kendaraan, periksa juga oli dan radiator masih berada dalam rentang waktu yang disarankan (5.000-10.000 km atau 6 bulan sekali) dan ganti oli jika sudah waktunya. Oli yang sudah kotor dapat merusak mesin, sementara itu cairan radiator yang kurang dapat menyebabkan mesin overheat. Serta baterai dan sistem kelistrikan lainnya seperti lampu depan, rem, dan sein. Lampu yang tidak berfungsi bisa sangat berbahaya, terutama di malam hari atau saat hujan. Menariknya, Iis juga menegaskan bahwa pengetahuan dasar tentang mesin juga harus dipahami oleh para perempuan dan ibu-ibu. Mereka bisa mengingatkan para suami tentang hal-hal penting untuk memeriksa kendaraan mobil atau motor. Selain itu juga bisa lebih mandiri ketika melihat adanya kerusakan pada mesin kendaraan. Paling tidak, dasar-dasar perawatan kendaraan bisa dipahami dan diketahui. Selain tentang mesin, hal lain yang bisa kembali dicek adalah soal kenyamanan. Pastikan AC kendaraan berfungsi dengan baik agar perjalanan tetap nyaman meski cuaca panas, dan cek suara AC untuk menghindari masalah pada kompresor atau fan blower. Selain itu, jangan lupa menyiapkan perlengkapan darurat seperti kotak P3K, ban cadangan, dongkrak, kabel jumper, segi tiga pengaman, dan alat pemadam api ringan (APAR). Pastikan juga dokumen kendaraan seperti STNK, SIM, dan asuransi aktif dan siap dibawa. Periksa wiper mobil dan selalu jaga jarak aman saat berkendara. (nam/wil)
Halal Bihalal UMM Ingatkan Nilai-nilai Utama Bangun Pendidikan

Selepas berjuang sebulan berpuasa di bulan suci Ramadan, kini tiba saatnya untuk merayakan kemenangan bersama dalam meriah Idul Fitri. Idul fitri juga sangat erat dengan momentum introspeksi diri dan memperkuat silaturahmi antar sesama Muslim. Untuk itu, keluarga besar Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar giat tradisi Halal Bihalal dalam rangka menyambung silaturahmi, memperkokoh semangat perjuangan, serta mencairkan atmosfer kekeluargaan antar civitas akademika UMM, pada 09 April 2025 lalu Agenda semakin bermakna dengan pemaparan tausiyah yang dibawakan oleh Tokoh Senior UMM Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo. Ia mengawali tausiyahnya dengan menceritakan berbagai kisah serta sejarah perjuangan UMM menuju kampus unggul dan berkemajuan. Sebagai sosok yang telah mendampingi kampus putih selama hampir 50 tahun, Ia sangat bersyukur dengan pencapaian UMM saat ini yang telah melampaui cita-citanya dan para pendahulu. Menurutnya, kampus yang kini megah ini bukan hasil kerja sembarangan. Semangat juang dan kegigihan yang diiringi pengorbanan adalah kunci. Selain itu, memegang teguh nilai-nilai spiritual sebagaimana yang telah diwarisi oleh para tokoh senior (sesepuh) Muhammadiyah. “Di UMM itu ada semangat berjuang. Ini adalah kunci dari kesuskesan dan pencapaian UMM saat ini. Lalu, semangat juang itu diterjemahkan dan diimplementasikan. Selain itu, UMM juga selalu berpegang kepada Alquran dan Sunnah, serta kepada nilai-nilai yang dicontohkan oleh sesepuh Muhammadiyah,” sambungnya. Berpuluh tahun mendedikasikan dirinya mengembangkan UMM, Imam Suprayogo berhasil menyalurkan energi positif di lembaga pendidikan lainnya. Ia mengaku, kepemimpinannya and tranformasi yang dilakukannya untuk mengubah IAIN menjadi UIN Malang terinspirasi dari nilai-nilai dan etos kerja yang diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Oleh karena itu, Ia percaya bahwa jika sistem kerja UMM disusun secara ilmiah, akan lahir ilmu tentang pengembangan lembaga pendidikan tinggi yang benefitnya sangat luas untuk dunia pendidikan di Indonesia dan global. “Seyogyanya, kemajuan kampus ini modalnya adalah kerja keras, berpikir rasional, kesabaran, keikhlasan, dan perjuangan yang gigih. Untuk itu, di momentum yang fitrah ini, mari kita semua saling melengkapi kekurangan dan menyatukan kelebihan diantara kita untuk menjadi sebuah kekuatan dasar yang menjadikan UMM itu dasar,” pesannya. Sementara itu, tradisi Halal Bihalal yang sudah lama dibangun UMM ini merupakan bagian dari warisan budaya tak benda yang patut dilestarikan. Agenda ini juga sebagai wadah untuk mencairkan hubungan-hubungan yang beku melalui saling memaafkan. Hal ini disampaikan oleh Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Lebih lanjut, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si menegaskan pentingnya mecanangkan dan menegakkan niat untuk UMM berkemajuan melalui momentum Idul Fitri ini. Untuk itu, Nazar berpesan untuk dirinya dan seluruh warga UMM untuk terus mengasah dan meningkatkan ibadah. “Taqabbanallahu minna wa minkum, minal aidzin wal faidzin adalah bentuk menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Mari kita renungkan bersama momen ini, agar kita semakin termotivasi dan melakukan sesuatu di masa depan dengan lebih baik,” tuturnya. (din/wil)
Begini Cerita Dosen UMM tentang Sisa Idul Fitri di Hungaria

Hari Raya Idulfitri tidak hanya soal kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga tentang upaya mempertahankan identitas, terutama bagi umat Islam yang hidup di tengah masyarakat non-Muslim. Inilah yang dirasakan oleh komunitas Muslim di Budapest, Hungaria — sebuah negara dengan mayoritas penduduk beragama Katolik dan sedikit pemahaman terhadap Islam. Nafik Muthohirin, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini sedang menjalani studi doktoral di Eötvös Loránd University (ELTE), Budapest, menggambarkan pengalaman berlebaran di Hungaria sebagai sesuatu yang emosional sekaligus reflektif. “Ramadan dan Idulfitri di Budapest bukan sekadar soal ibadah, ini adalah upaya konsisten mempertahankan iman dan kebersamaan dalam kondisi yang tidak ideal. Tantangan pertama yang paling terasa adalah waktu puasa yang panjang. Kami berpuasa sekitar 16 jam setiap hari. Matahari terbenam bisa sekitar pukul 8 malam, dan itu menguras energi, terutama bagi mahasiswa dan pekerja migran yang memiliki aktivitas padat,” jelasnya. Meski tantangan sebagai Muslim minoritas cukup berat, Nafik menyampaikan bahwa hal itu terbayar oleh kuatnya solidaritas antar sesama Muslim di Budapest. Ia mengungkapkan bahwa keberadaan masjid-masjid komunitas memiliki peran krusial dalam menjaga spiritualitas umat Islam di tengah lingkungan yang berbeda keyakinan. Menurutnya, Masjid Darussalam menjadi tempat yang paling sering didatanginya karena lokasinya yang berdekatan dengan kampus. Ia menggambarkan bahwa suasana Ramadan di masjid tersebut terasa sangat hidup, dengan berbagai kegiatan seperti buka puasa bersama, tarawih berjamaah, ceramah agama, hingga i’tikaf yang berlangsung setiap malam. “Kegiatan-kegiatan tersebut bukan hanya bersifat ritual, tetapi juga menjadi ruang sosial bagi para perantau. Kami bertemu, berbagi makanan, cerita riset, bahkan informasi akademik seperti konferensi internasional dan publikasi jurnal. Ada perasaan bahwa kami sedang membangun peradaban kecil dari komunitas yang sangat beragam,” ungkapnya. Dalam menjalankan ibadah Ramadan di negeri minoritas, komunitas Muslim di Budapest mengandalkan keberadaan masjid-masjid sebagai pusat aktivitas keagamaan dan kebudayaan. Nafik menjelaskan bahwa masjid-masjid di Budapest umumnya bercorak komunitas, seperti Masjid Turki, Masjid At-Taqwa, dan Masjid Pascal yang mencerminkan latar belakang asal para jamaahnya, lengkap dengan tradisi dan hidangan khas masing-masing. Meski berbasis etnis, ia menekankan bahwa masjid-masjid tersebut tetap terbuka untuk umum, hanya saja setiap orang yang ingin ikut serta dalam kegiatan, seperti buka puasa bersama, diwajibkan mendaftar terlebih dahulu secara daring karena keterbatasan tempat dan jumlah makanan yang tersedia. “Pada saat hari raya Idulfitri, kebersamaan itu pun semakin terasa. Shalat Idulfitri kami lakukan di halaman KBRI. Ada lebih dari 700 WNI berkumpul, dari mahasiswa, pekerja, sampai warga lokal yang menikah dengan orang Indonesia. Momen itu sangat emosional, karena kami merasa seperti menemukan kembali rumah yang hilang, mengingat mahasiswa Indonesia di Budapest cenderung jarang bertemu karena kesibukan masing-masing,” ujarnya. Nafik menilai bahwa di tengah masyarakat Hungaria yang cenderung individualistik, momen-momen kebersamaan dalam komunitas Muslim memiliki peran penting dalam menjaga nilai kolektif dan solidaritas. Ia menggambarkan kehidupan di Eropa sebagai sangat privat, bahkan antar tetangga pun belum tentu saling mengenal, sehingga keberadaan komunitas Muslim menjadi ruang pertemuan yang sangat berharga. “Saya tentu saja rindu suasana lebaran di Indonesia, tapi justru di perantauan ini saya belajar lebih dalam tentang makna ukhuwah. Kebersamaan yang tumbuh dari keterbatasan, dari perjumpaan dengan sesama Muslim lintas bangsa, terasa sangat kuat di sini. Di tengah masyarakat yang individualistik, komunitas Muslim menjadi ruang pertemuan yang sangat berharga,” jelasnya. Baginya, lebaran di Budapest bukan hanya soal ibadah, tapi juga soal menyadari bahwa iman itu bukan tentang tempat, tapi tentang komitmen dan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri. Ia berharap komunitas Muslim di perantauan, terutama para mahasiswa, bisa terus merawat solidaritas lintas budaya dan menunjukkan wajah Islam yang damai dan inklusif di mata dunia. (vin/wil)