Dosen UMM: Pendidikan Karakter Solusi Maraknya Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual kini menjadi salah satu isu paling mendesak dalam dunia pendidikan. Mirisnya, tindakan ini tidak hanya terjadi antarsesama pelajar, tetapi juga dilakukan oleh oknum pendidik sosok yang seharusnya menjadi teladan. Dr. Ariana Restian, M.Pd. dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengungkapkan bahwa maraknya kasus kekerasan seksual di dunia pendidikan disebabkan oleh sejumlah faktor. Salah satunya yaitu relasi kuasa yang tidak seimbang, seperti antara guru dan murid atau senior dan junior, menjadi salah satu pemicu utama. Ditambah lagi kurangnya literasi seksual dan kesadaran gender membuat batasan pribadi kerap dilanggar. Selain itu melekatnya budaya patriarki dan victim blaming yang menjadikan korban enggan berbicara fakta bahwa ia adalah korban kekerasan seksual. Sehingga, tidak ada ruang aman untuk menjadi sandaran berlindung. Ariana mengatakan, keamanan dalam menimba ilmu di dalam lingkungan pendidikan perlu menjadi fokus utama yang perlu dijadikan poin penting dan harus ditegakkan. Misalnya seperti yang dilakukan UMM yang berkomitmen menegakkan keamanan untuk menjadi ruang aman untuk berlindung dari kekerasan seksual. Misalnya pendidikan nilai gender yang sudah terintegrasi dalam mata kuliah AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan), menyediakan ruang pelaporan yang aman dan rahasia, serta jaminan pendampingan bagi korban berkoordinasi dengan UPT Bimbingan Konseling UMM. Bahkan juga membentuk satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual. “Langkah-langkah seperti ini mungkin bisa diadopsi dan dilakukan di sekolah maupun lembaga pendidikan lainnya,” katanya. Selanjutnya, masyarakat dilingkungan pendidikan diharapkan memiliki kesadaran kolektif untuk merespons kekerasan dengan cepat, tegas, dan berpihak kepada korban. Budaya saling menjaga sangat perlu ditanamkan, dan menghapus kebiasaan menghakimi yang kerap menyudutkan korban. Selain itu juga menyediakan akses terhadap layanan pendampingan baik hukum, psikologis, maupun konseling. Arina melanjutkan, di balik maraknya kasus kekerasan dan ketimpangan relasi sosial, budaya patriarki masih membayangi kehidupan sehari-hari. Ketimpangan kuasa menjadikan alasan utama suara korban semakin sulit terdengar. Apalagi melihat bahwa sosialisasi terkait kekerasan seksual yang selama ini dilakukan belum menggugah empati masyarakat dan belum menanamkan nilai-nilai yang hidup dalam hati. Dia meyakini, perubahan harus dimulai dari pendidikan karakter yang mengajarkan empati, keberanian untuk berbicara, dan kesadaran diri akan hak serta batas tubuh sendiri. Tak kalah penting, ia menekankan perlunya pendidikan seksual yang mudah dipahami oleh masyarakat luas. Bukan hanya sekadar informasi biologis, tapi pengetahuan tentang fungsi tubuh, batas aman dalam interaksi dengan orang lain serta bagaimana membangun relasi yang sehat dan saling menghormati sesama. “Harapan kami, agar kampus-kampus bisa menjadi pelopor kampus merdeka yang aman, inklusif, dan beradab. Hal serupa juga dilakukan oleh UMM. Kampus bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi tempat tumbuhnya manusia yang utuh yang cerdas secara intelektual, kuat secara moral, berkemajuan dan luhur dalam adab. Kami berharap adanya sinergi antara kebijakan, sistem pendukung, dan budaya kampus yang menolak segala bentuk kekerasan,” tutupnya. (nam/wil)

Dosen UMM ini teliti Optimasi Pendidikan di Australia

Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Adi Slamet Kusumawardana, M.Si., tengah menempuh pendidikan doktoral di The University of Queensland, Australia. Studi ini ia jalani sejak Oktober 2024 dengan target penyelesaian dalam empat tahun, setelah berhasil meraih Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. “Keputusan saya memilih Australia, khususnya kota Brisbane, didasarkan pada kualitas akademik dan kesesuaian bidang riset. University of Queensland merupakan salah satu dari lima kampus terbaik di Australia, dan memiliki perhatian riset yang kuat pada bidang riset operasi, sesuai dengan keilmuan saya,” ucap Adi. Selain faktor akademik, ia juga ingin membangun jejaring internasional untuk memperluas kontribusi akademiknya di masa depan. Tentu saja perjalanan memperoleh beasiswa tidaklah mudah. Adi memulai dari persiapan sertifikat IELTS, memilih kampus yang tepat, hingga akhirnya memperoleh Letter of Offer (LoE). Setelah itu, ia mendaftarkan diri ke program beasiswa BPI dan dinyatakan lolos pada tahap kedua seleksi di akhir 2023. “Saat ini saya tengah fokus pada penelitian bertema optimasi penjadwalan di institusi pendidikan. Topik ini memiliki kompleksitas tinggi karena melibatkan banyak kepentingan, seperti peserta didik, pengajar, hingga kebutuhan kurikulum, sementara keterbatasan ruang dan waktu menjadi tantangan yang nyata. Optimasi ini tidak hanya penting untuk universitas, tetapi juga sangat relevan diterapkan di tingkat sekolah menengah,” katanya. Namun, pengalaman studi di luar negeri tidak sepenuhnya mudah. Meskipun sempat berkunjung ke Australia pada 2020, Adi tetap mengalami tantangan adaptasi, terutama dalam lingkungan multikultural dan sebagai minoritas muslim. Ia mengungkapkan sulit menemukan tempat salat dan makanan halal membuatnya lebih sadar akan pentingnya adaptasi dan rasa syukur. Ia juga menyadari bahwa standar akademik di Australia jauh lebih tinggi, terutama dalam kemampuan menulis ilmiah, analisis data, dan pemrograman matematis, yang menuntut mahasiswa S3 untuk menguasainya sejak awal studi. Kehidupan sosial dan sistem pendidikan di Australia turut meninggalkan kesan mendalam baginya. Ia mengagumi kemudahan akses fasilitas publik seperti taman, perpustakaan di hampir setiap distrik, serta perhatian serius terhadap kesehatan mental mahasiswa. Fasilitas ini mendukung keseimbangan antara studi dan kehidupan pribadi. Ke depan, Adi berharap studinya tidak hanya bermanfaat untuk pengembangan pribadi, tetapi juga berkontribusi nyata bagi UMM, baik dalam bentuk kerja sama riset, pertukaran akademik, maupun membangun jaringan internasional. “Saya ingin menjadi jembatan penghubung antara UMM dan institusi luar negeri, termasuk The University of Queensland. Studi ini bukan hanya tentang meraih gelar, tetapi juga tentang membangun kontribusi yang lebih luas untuk institusi dan bangsa,” ujar Adi. (vin/wil)

Menengok Diana, Dosen UMM yang Teliti Otot Lansia di Korea

Di balik tingginya antrian lansia di rumah sakit dan banyaknya obat yang harus mereka konsumsi, Diani Fatmawati melihat sebuah tantangan ilmiah: bisakah sel otot yang menua diperbaiki tanpa efek samping berbahaya? Pertanyaan ini membawa dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu menempuh perjalanan tak mudah mengejar gelar S3 di Department of Genetic Engineering, Kyung Hee University, Korea Selatan. Adapun ia menimba ilmu di sana dengan beasiswa HEAT (Higher Education for ASEAN Talents), sebuah program beasiswa dari pemerintah Korea Selatan untuk para dosen di kawasan ASEAN. Sebagai muslimah berhijab, adaptasi di negeri ginseng penuh tantangan, tetapi tekadnya untuk berkontribusi di bidang kesehatan membuatnya pantang menyerah. Diani memilih Kyung Hee University karena fasilitas laboratorium molekuler yang memadai. Lokasinya di Yongin, tidak seperti Seoul yang sangat metropolitan juga menjadi pertimbangan. “Area di sini enak banget, tidak terlalu ramai, cocok untuk fokus belajar,” ujarnya. Adaptasi di negeri ginseng ternyata tidak serumit yang dibayangkan. Diani mengaku dibantu oleh persiapan matang sebelum berangkat, termasuk diskusi dengan rekan yang pernah studi di Korea. “Alhamdulillah, saya tidak pernah mengalami diskriminasi sebagai muslimah berhijab. Orang-orang di sini justru ramah, meski mereka cenderung lebih cuek dalam urusan pribadi,” ceritanya. Salah satu hal yang menarik perhatian Diani adalah sistem pembelajaran multidisipliner di kampusnya. Teman-temannya ada yang dari teknik sipil, tapi meneliti genom bakteri. Ini menjadi sangat menantang sekaligus membuka wawasan. Di lab, ia tidak menemui senioritas yang kerap dikhawatirkan banyak orang. Justru, para senior lebih berperan sebagai mentor. Mereka mengarahkan dengan tegas bahwa sebagai mahasiswa doktoral, harus bisa berbagai hal. Semua diajari dengan detail. Salah satu yang menurutnya sulit di Korea adalah menemukan makanan halal. Penelitian Diani berpusat pada pengembangan terapi sel otot menggunakan bahan alami, menghindari senyawa sintetik yang berisiko memicu efek samping. “Kami memanfaatkan stem cell (sel punca) untuk mempercepat proliferasi dan diferensiasi sel otot, khususnya pada lansia yang mengalami sarkopenia atau penurunan massa otot akibat penuaan,” jelasnya. Inspirasi ini berawal dari keprihatinannya terhadap kondisi lansia di Indonesia. Melihat lansia harus antri berobat, minum banyak obat, lalu kembali lagi bulan depan. Ia ingin berkontribusi agar mereka punya kualitas hidup lebih baik. Ia berharap, penelitiannya tidak hanya bermanfaat secara nasional, tetapi juga diakui di kancah internasional. Sebagai dosen Muhammadiyah, Diani menekankan pentingnya memegang nilai-nilai Islam dalam menuntut ilmu. Jika semua diniatkan karena Allah, maka segala kesulitan akan dipermudah. Bonusnya, kita bisa dapat pengalaman luar biasa seperti melihat cherry blossom, merasakan salju, atau bertemu orang-orang hebat. Dengan semangat pantang menyerah, Diani membuktikan bahwa ilmu dan niat tulus bisa membawa seseorang melampaui batas, baik geografis maupun akademis. Kisahnya menjadi pengingat bahwa di balik setiap perjuangan, ada harapan untuk memberi manfaat lebih besar bagi sesama. (bil/wil)

UMM Masuk Deretan Kampus Terbaik Asia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih rekognisi dengan menjadi kampus swasta terbaik di Jawa Timur versi Times Higher Education (THE) kategori Asia University Ranking 2025. Dalam perinagkat yang dirilis pada 2025 itu, Kampus Putih juga menduduki peringkat 17 untuk kampus negeri dan swasta se-Indonesia. Adapun raihan ini menarik karena pada tahun sebelumnya, UMM tidak masuk ke dalam list Asia University Ranking dan berbenah untuk mendapatkan hasil terbaik. Terkait raihan ini, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik mengapresasi berbagia upaya yang dilakukan oleh sivitas akademika Kampus Putih dalam memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan serta layanan. Keseimbangan antara proses pendidikan, penelitian, serta pengabdian juga tidak kalah penting menyokong UMM menjadi salah satu kampus terbaik di Indonesia. Adapun THE menilai berbagai aspek yang krusial bagi aktivitas kampusdi berbagia belahan dunia, seperti penelitian, proses pengajaran, serta efeknya. Bahkan juga melihat dan meninjau data terkait rasio staf dan mahasiswa di setiap universitas, proporsi mahasiswa internasional, gender, dan lain sebagainya. Adapun pada tahun 2025 ini, THE telah merilis dan mengurutkan ranking sebanyak 853 univesitas di 35 negara. menilai dan mempertimbangkan peneltiain, pengajaran, proses transfer ilmu, hingga bagaimana aktivitas internasionalnya. Nazar menjelaskan bahwa rekognisi regional, nasional, maupun internasional merupakan hal strategis agar masyarakat bisa tahu kualitas dari sebuah universitas. Namun yang tak kalah penting adalah bagaimana sebuah kampus bisa benar-benar memberikan yang terbaik, mulai dari kualitas pendidikan hingga nanti ketika mahasiswa lulus. Kampus harus membuktikan bahwa rekognisi dan prestasi yang dicapai memang benar-benar sesuai dengan kenyataan. “Semoga hasil ini bisa menjadi bahan bakar bagi sivitas akademika UMM untuk meningkatkan berbagai aspek demi memajukan pendidikan. Pada akhirnya ini juga menjadi upaya UMM untuk membantu Indonesia memaksimalkan potensi anak bangsa dalam meraih Indonesia Emas 2045,” ucapnya mengakhiri. (wil)

Ana, Dosen Romania Jelaskan Isu Kontemporer Eropa-Indonesia di UMM

Masuk dalam daftar jajaran Perguruan Tinggi terekognisi internasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar kuliah tamu sebagai mitra program Erasmus+ Teaching Mobility. Terbaru, kampus putih kedatangan Ana-Gabriela Patea, Ph.D Associate Profeesor of Babes-Bolyai University yang berkesempatan mengajar langsung mahasiswa program studi Hubungan Internasional (HI) pada 22 April lalu. Dalam materinya, Ana memaparkan topik mengenai isu-isu keamanan dan kerjasama kontemporer antara Uni Eropa dan Indonesia. Meski topik yang dipilih tergolong kompleks, namun perkuliahan dikemas fresh and fun secara interaktif dengan diskusi ringan. Wanita asal Romania ini mengawali diskusi dengan pertanyaan dasar tentang ‘Bagaimana hubungan antara Uni Eropa (UE) dan Indonesia?’ dan ‘Kesempatan yang terlewatkan?’ Poin dasar dibalik hubungan diplomasi antara negara-negara Eropa dan Indonesia tak terlepas dari historis keduanya sejak tahun 1949. Hubungan keduanya juga difasilitasi dengan bergabungnya Indonesia dalam keanggotaan Association of South East Asian Nation (ASEAN). “Sejak saat itu, hubungan Indonesia dan UE berkembang pesat. Hubungan tersebut meliputi kerjasama bidang politik dan keamanan, sosial budaya, serta ekonomi dan perdagangan,” ia menambahkan. Selain itu ia juga menjelaskan konsep ‘Natural Partners’ yakni mereka yang memegang nilai-nilai yang sama dan memiliki kepentingan yang sama dalam urusan global. Lantas apakah hubungan UE-Indonesia bisa disebut sebagai ‘Natural Partners’? Sedangkan, dalam operasionalisasinya terdapat beberapa kontinum kesamaan kepentingan, nilai, dan tujuan bisa dilihat dari berbagai perspektif. Yaitu dukungan terhadap demokrasi, dampak globalisasi, toleransi terhadap orang asing dan etnis minor, serta sikap terhadap lingkungan, pekerjaan, politik dan sebagainya. Untuk itu, UE-Indonesia memiliki keselarasan sikap dalam menanggapi isu-isu global untuk periode 2004-2024. Menganalisis kondisi saat ini, ia melanjutkan dengan mengidentifikasi beberapa isu dan dilema yang terjadi antara UE-Indonesia. Belakangan, sikap Indonesia yang memilih untuk menjalin keanggotaan dalam kelompok negara berkembang Brazil, Russia, India, China, and South Africa (BRICS) menjadi salah satu tolok ukur perbedaan kepentingan antara UE-Indonesia. Terakhir, Ana menyimpulkan hubungan UE-Indonesia lebih kepada sebagai mitra strategis, tidak adanya realitas dari segi politik.  “Di samping itu, posisi konvergen terlihat dari perubahan iklim, kerjasama maritime, dan kontraterorisme,” lanjut Ana menutup diskusi. Adapun agenda tersebut merupakan langkah dan upaya perwujudan cita-cita UMM untuk memfasilitasi para tenaga pendidik luar untuk mengajar dan mendapatkan experience baik akademik maupun dari segi cultural. Tak hanya bagi tenaga pendidik, Dosen HI UMM Azza Bimantara M.A menyebut forum ini juga bermanfaat besar bagi para mahasiswa. “Ini juga untuk memberikan exposure kepada mahasiswa bahwa hubungan internasional memerlukan mahasiswa berwawasan dan berpengetahuan luas” ujar Azza. Selain itu, forum tersebut juga memiliki benefit besar lainnya dalam medukung mahasiswa untuk bisa mengenal sisi lain dunia yang merupakan objek pembelajaran mereka. Tentang bagaimana hubungan diplomasi di berbagai negara bekerja, termasuk di Eropa. Ia juga menyebut metode seperti ini adalah salah satu metode paling ideal untuk memperkenalkan eropa, yaitu dengan mendatangkan langsung dosen atau pengajar dari negara atau benua tersebut. (din/wil)

Dosen UMM Sebut Manusia yang Gagap AI akan Tertinggal

Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Di tangan siapa pun yang mampu mengakses dan memanfaatkannya, AI telah menjelma menjadi asisten pribadi yang pintar, bahkan mampu menandingi peran manusia dalam menyelesaikan berbagai tugas. Namun, seiring pesatnya pertumbuhan teknologi ini, muncul tantangan besar untuk bagaimana kita bisa bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan AI. Ir. Galih Wasis Wicaksono, S.Kom., M.Cs., dosen Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menguraikan fondasi-fondasi penting yang perlu dipahami publik dalam menyikapi dan mengembangkan AI. Menurutnya, AI bekerja berdasarkan pelatihan intensif yang dilakukan oleh manusia, memungkinkan sistem komputer meniru proses berpikir, menyimpulkan, mengambil keputusan, hingga mendengarkan (listening). “AI itu hasil dari pelatihan. Secara sederhana, komputer belajar melakukan penalaran seperti manusia berdasarkan ilmu yang kita tanamkan,” kata Galih. Galih menjelaskan bahwa ada beberapa tipe pembelajaran dalam pengembangan AI, mulai dari supervised (pembimbingan penuh), unsupervised (belajar mandiri), semi-supervised, hingga reinforcement learning. Dari perjalanan tersebut, muncullah apa yang kini dikenal sebagai Generative AI—sebuah sistem AI yang bukan hanya mampu memahami konteks, tapi juga menciptakan konten baru berdasarkan data yang telah diserapnya. “Model generatif ini menarik karena dia tak hanya memberikan respon berbasis data, tapi juga mampu menghasilkan solusi abstraktif dan ekstraktif,” kata Galih. Misalnya, saat meminta meringkas atau menerjemahkan, dia tidak hanya mengulang data yang pernah dia pelajari, tapi meramu informasi dari berbagai sumber untuk menghasilkan jawaban baru. Model ini kemudian berkembang menjadi Large Language Models (LLM) seperti ChatGPT, LLAMA (Meta), Gemini (Google), hingga Grok (X), yang kini semakin akrab di tengah masyarakat luas. Menurut Galih, saat ini hampir setiap lini kehidupan dapat difasilitasi oleh AI. Mulai dari mahasiswa, dosen, hingga ibu rumah tangga. Bahkan, tak jarang AI dijadikan teman curhat digital. Namun, peran AI tidak serta-merta menggantikan manusia, melainkan memperkuat kapabilitas setiap individu. Tantangannya adalah bukan soal siapa yang bisa menggunakan AI, tapi siapa yang tahu cara memanfaatkannya dengan benar. Mereka yang tidak bisa menggunakan atau memahami AI akan tertinggal dalam perkembangan zaman. Bagi yang ingin lebih dari sekadar pengguna, Galih menekankan pentingnya penguasaan ilmu dasar komputer, mulai dari matematika, pemrograman, pembelajaran mesin (machine learning), hingga deep learning. Pengetahuan ini akan menjadi fondasi untuk membangun AI dari nol atau mengembangkan model yang telah ada. “Kalau ingin membuat AI, bukan hanya pakai, maka paling tidak harus menguasai dasar-dasarnya, mulai dari konsep dasar matematika, programming, machine learning, lalu naik ke deep learning,” kata Galih. Meski AI sangat membantu, ia menekankan pentingnya prinsip Responsible AI, yaitu menggunakan AI secara bijak dan bertanggung jawab. Penggunaan AI untuk manipulasi, penyebaran hoaks, atau pelanggaran hak cipta menjadi ancaman yang harus disikapi serius. Setiap alat yang dimaksudkan adalah seperti pisau bermata dua. Bisa sangat bermanfaat, tapi juga bisa berbahaya kalau salah pakai. Maka, penting untuk memahami batasan-batasan etis dalam menggunakan AI. Beberapa platform besar seperti Google dan Instagram kini mulai menerapkan penandaan (tagging) untuk membedakan konten asli dan konten hasil AI, sebuah langkah awal dalam membangun kesadaran digital masyarakat. Ia mengingatkan bahwa AI adalah alat, bukan ancaman. Namun, mereka yang tak mampu beradaptasi akan tertinggal. “Manusia itu tidak dikalahkan oleh AI. Tapi manusia bisa dikalahkan oleh manusia lain yang menggunakan AI. Kalau Indonesia ingin bersaing dengan bangsa lain, maka kita harus cakap memanfaatkan AI untuk kemajuan kolektif,” ucap Galih. (vin/wil)

Rencana Mendikdasmen RI Hidupkan Lagi Penjurusan, Begini Kata Pakar UMM

Hal menarik muncul darj pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Indonesia Prof. Abdul Mu’ti terkait menghidupkan kembqli metode penjurusan untuk SMA sederajat. Sebelumnya, metode ini resmi dihapus dan diubah menjadi Kurikulum Merdeka oleh nadiem (Mendikdasmen periode 2019-2024). Alhasil, isu tersebut mendapatkan berbagai tanggapan dari kekhawatiran dan keraguan masyarakat terhadap masa depan pendidikan Indonesia. Melihat kekhawatiran tersebut, Wakil Rektor I (Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Teknologi Digital) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Akhsanul In’am, Ph.D menyebut perubahan kebijakan ini merupakan hal umum terjadi dalam sistem pemerintahan. Teerkait kebijakan “Merdeka Belajar”, Ia menjelaskan beberapa celah yang menjadi evaluasi bersama baik pemerintah maupun masyarakat. Ia juga menyebut kurikulum ini memiliki beberapa kekurangan yang berdampak negatif bagi guru maupun siswa. Di antaranya yakni kualitas belajar siswa yang tidak fokus, peningkatan kualitas guru yang tidak terlaksana secara baik, serta hasil evaluasi siswa yang tidak tertulis sehingga muncul ketidakpuasan hasil. Padahal semestinya, siswa memiliki hak untuk fokus dalam belajar dan mendapatkan feedback yang mendukung proses belajar mereka. Sementara itu, pernyataan Menteri Dikdasmen mengenai menghidupkan kembali penjurusan adalah salah satu solusi. Menurutnya, prinsip kecenderungan siswa untuk suka dan menekuni salah satu mata pelajaran baik ilmu sosial maupun sains itu nyata terjadi. Untuk itu, peran pemerintah dan guru untuk menfasilitasi secara adil sesuai kebutuhan pendidikan lanjut dan masa depan para siswa sangat krusial. Kemampuan, peranan, dan sosok guru penting dilibatkan dan sudah menjadi tugas seorang guru untuk meningkatkan potensi yang dimiliki oleh siswa. “Rencana perubahan kebijakan ini sah-sah saja diterapkan. Sebab, tidak ada perubahan signifikan terkait sistem, namun lebih kepada perubahan model pembelajaran. Selain itu, ketersediaan tenaga pengajar atau guru sesuai kepakaran ilmu juga sudah terjamin. Seperti guru fisika, biologi, matematika, sosiologi, bahasa, dan sebagainya,” jelasnya. Secara keseluruhan, rencana kebijakan ini sangat baik untuk pendidikan tanah air agar lebih fokus dan terarah. Selain untuk mendukung fokus keilmuan siswa, hal ini juga memudahkan siswa untuk memilih jurusan di dunia perkuliahan dengan tepat sesuai minat dan keterampilan yang didapatkan di bangku sekolah. Apalagi mengingat transformasi digital saat ini yang menuntut guru untuk mampu memberikan pelajaran melalui pendekatan Heutagogy (mandiri), Peeragogy (kolaborasi/kelompok), dan Cybergogy (internet). Meski begitu, In’am menegaskan perlu adanya perhitungan yang matang dari pemerintah sebelum merumuskan kebijakan kurikulum tersebut. Selain itu, sosialisasi kepada masysrakat terutama para orang tua terkait isu-isu superioritas penjurusan tertentu juga harus diperhatikan. Langkah ini bertujuan untuk menghilangkan kecemburuan sosial dan kesalahpahaman orang tua siswa terhadap fasilitas laboratorium di masing-masing penjurusan. “Langkah ini juga penting untuk mewujudkan kesepahaman terkait fungsi dan tujuan kurikulum penjurusan itu sendiri. Peran guru sebagai pendamping utama siswa untuk terus inovatif dan kreatif terkait pembelajaran dan manajemen sekolah yang baik adalah kunci kebijakan yang optimal,” tuturnya. (din/wil)

UMM Dorong Aktivis Kampus Beri Solusi Isu Nasional dan Global

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar acara Halal Bihalal bagi seluruh organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus pada Rabu, 16 April 2025. Acara ini bertujuan menyatukan kembali gerak organisasi mahasiswa dalam bingkai silaturahmi yang memuat semangat kebersamaan, refleksi spiritual, serta penguatan peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Kegiatan ini dihadiri fungsionaris dari berbagai organisasi mahasiswa, seperti BEMU, SEMU, KORKOM IMM, BEMFA, Komisariat IMM, SEFA, UKM, hingga HMPS. Mereka berkumpul bersama pimpinan universitas untuk merumuskan kembali arah gerakan mahasiswa. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., hadir sebagai pemateri utama dan didampingi oleh Prof. Dr., Drs., H. Joko Widodo, M.Si, selaku ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM. Adapn Nazar menekankan bahwa halal bihalal kali ini harus dimaknai lebih dari sekadar rutinitas tahunan. Halal bihalal bukan sekadar ajang seremonial pasca-Ramadhan, kegiatan ini harus menjadi ruang konsolidasi ide dan energi baru, agar mahasiswa UMM tidak larut dalam kepasifan organisasi. “Untuk itu, bidang kemahasiswaan tidak terpisah dari bidang akademik, karena sejatinya proses pendidikan yang utuh tidak hanya dibentuk di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman sosial. Justru, kepemimpinan adalah pelajaran yang paling sulit, dan itu hanya bisa diasah lewat keterlibatan aktif di organisasi,” tegasnya. Ia juga mengajak mahasiswa untuk melakukan refleksi dan pembaruan arah dalam kehidupan sosial yang penuh fluktuasi. Dalam konteks 30 tahun pasca-Reformasi, Nazaruddin menekankan pentingnya kesadaran akan dinamika siklus kehidupan. Di titik terendah itulah, menurutnya, kapasitas kepemimpinan sejati diuji. Ia menegaskan pentingnya adaptasi mahasiswa terhadap tantangan zaman, termasuk kemampuan menciptakan ‘efek pembalikan’ saat menghadapi krisis sosial, ekonomi, maupun psikologis di tengah masyarakat. “Semangat ini harus menjadi kesungguhan hati untuk menjaga harapan dan meningkatkan kualitas diri yang lebih baik. Banyak mahasiswa kini dihadapkan pada situasi psikososial yang rentan akibat paparan informasi tak terfilter, sehingga kampus harus hadir sebagai pengingat dan penjaga semangat,” ujarnya. Lebih lanjut, ia mengajak mahasiswa untuk berpikir secara strategis, tidak hanya dalam lingkup kampus, tetapi juga pada isu-isu nasional dan global seperti ekonomi digital, geopolitik, dan konsolidasi sosial. Forum lintas organisasi, menurutnya, harus menjadi ruang diskusi yang konsisten dan berdampak. Pesan ini turut diperkuat oleh Joko Widodo, yang menyoroti pentingnya cara pandang positif dalam menjalani peran sebagai aktivis mahasiswa. “Apapun yang dilihat dengan kacamata hitam akan selalu tampak buruk. Tapi kalau dilihat dengan kacamata bening, pasti ada celah kebaikan. Sukses bukan sekadar jabatan, tetapi tentang memberi manfaat di manapun berada. Menjadi apapun nanti, harapan saya kalian tetap memberi manfaat,” tegasnya. Ia juga menekankan bahwa organisasi mahasiswa harus menjadi ruang yang dinamis, relevan, dan inklusif bagi seluruh sivitas kampus. Organisasi mahasiswa perlu menjadi wadah yang membangun semangat kepemimpinan dan keberanian untuk menyuarakan gagasan segar demi kemajuan bersama. Menurutnya, mahasiswa perlu gairah baru dan energi baru untuk menggerakkan budaya berpikir kritis dan inovatif di tengah hiruk-pikuk kehidupan mahasiswa. Untuk itu, penting menjadikan Ormawa sebagai ruang yang inklusif, dinamis, dan inspiratif, Organisasi harus ada perubahan yang lebih baik, terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, sekaligus menjadi tempat tumbuhnya karakter dan integritas. Melalui momentum halal bihalal ini, diharapkan terjalin sinergi antarorganisasi mahasiswa untuk saling menguatkan peran dan kontribusi strategisnya. Ia berharap seluruh fungsionaris Ormawa mampu menjadi pionir yang menghidupkan budaya diskusi dan tampil tangguh dalam memimpin perubahan. (vin/wil)

Begini Keseruan Pertukaran Mahasiswa UMM di UniSZA

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong kualitas dan kontribusi global mahasiswanya. Kali ini, angin segar datang dari salah satu mahasiswa Program Studi Agribisnis, Wahyu Astrid Fitriyani yang merupakan mahasiswi angkatan 2022. Ia bersama teman-temannya turut serta dalam Program Credit Transfer di Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia, pada Semester Gasal 2024/2025. Dalam program tersebut, Astrid berkesempatan mengikuti perkuliahan Agricultural Marketing atau Pemasaran Pertanian, baik secara daring maupun luring. Menurut Astrid, proses seleksi program ini cukup ketat dan bertahap. Ia harus melalui seleksi di tingkat program studi, fakultas, serta memenuhi syarat Indeks Prestasi (IP). “Yang tidak kalah penting adalah kemampuan Bahasa Inggris yang baik,” ujarnya. Selama program berlangsung, Astrid dan peserta lainnya mengunjungi tiga kampus utama UniSZA, yaitu Kampus Gong Badak, Kampus Besut, dan Kampus Kota. Selain itu, peserta juga diajak mengikuti kegiatan luar kampus, termasuk kunjungan wisata edukatif ke Pulau Redang. “Kami mengikuti perkuliahan penuh dari pagi hingga petang. Setiap hari sudah ada jadwal yang tersusun rapi. Biasanya pukul 07.30 kami berangkat dari asrama menggunakan bus kampus,” ungkapnya. Astrid mengungkapkan bahwa selama mengikuti program ini, ia mempelajari berbagai mata kuliah menarik seperti Mikrobiologi, Herbarium, Activity di tribe, hingga pengolahan hasil pertanian berbasis teknologi modern. Perkuliahan dilakukan bersama mahasiswa UniSZA yang menurutnya sangat ramah dan terbuka terhadap peserta dari luar negeri. “Mereka sangat welcome. Kami jadi bisa saling berbagi ilmu dan pengalaman. Selain itu, kami juga dikenalkan pada alat-alat modern dan pendekatan praktis dalam pengolahan hasil pertanian,” tuturnya. Astrid mengaku termotivasi mengikuti program ini karena keinginannya untuk memperluas wawasan dan menambah pengalaman internasional. Ia menilai bahwa pendidikan di setiap negara itu berbeda. Maka, ia ingin melihat langsung bagaimana sistem di luar negeri bekerja dan bagaimana mahasiswa menghasilkan inovasi. Misalnya, hasil panen ikan yang bisa dijadikan produk kreatif seperti kaos, dan itu dikelola langsung oleh mahasiswa. Ia juga menambahkan bahwa sebelumnya ia sempat gagal mengikuti program serupa ke Jepang, namun pengalaman itu justru memicu semangatnya untuk tidak melewatkan kesempatan kali ini di Malaysia. Selama mengikuti kegiatan, Astrid juga mengamati beberapa hal yang bisa menjadi inspirasi untuk UMM ke depan, terutama dalam hal fasilitas belajar yang memadai. Ia menutup dengan rasa syukur dan semangat untuk mengimplementasikan pengalaman tersebut ke lingkungan kampus. “Program ini benar-benar memberikan pengalaman dan ilmu yang mengesankan. Harapan saya, ilmu yang kami dapatkan bisa kami terapkan di UMM dan menjadi kontribusi nyata dalam pengembangan kampus ke depan,” pungkasnya. (bil/wil)

UMM-Siemens Kerjasama Percepatan Era digitalisasi

Siap hadapi masa depan dan melangkah maju menuju dunia kerja di industri teknologi 4.0., Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gandeng kolaborasi dengan PT Siemens Indonesia and partners. Kolaborasi ini diperkuat dengan gelaran Kuliah Tamu bertajuk “Prospek Masa Depan Industri Listrik Tegangan Rendah di Indonesia” kepada para mahasiswa Teknik Elektro, pada 17 April lalu. Agenda ini dikemas secara menarik menjadi sesi Dialogue Talk bersama empat panelis, termasuk diantaranya CEO PT Siemens Indonesia, Surya Fitri. Ia menegaskan bahwa saat ini industri dunia sudah memasuki percepatan trasnformasi era digitalisasi, bukan lagi konvensional. Hal ini juga berdampak pada prospek kerja di masa depan. Menurut Surya, dunia kerja masa depan tidak lepas dari aspek pertumbuhan ekonomi, transformasi digital, serta pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Ini merupakan peluang besar dan sangat menguntungkan bagi mahasiswa lulusan teknik elektro yang sejalan dengan kebutuhan industri. “Realita di sepuluh tahun terakhir ini semakin menuntut kita untuk mengembangkan teknologi dan inovasi. Sehingga, berbicara tentang industri 4.0 terhadap prospek kerja teknik elektro, itu sangat besar. Seperti inovasi lifehouse factory yang sudah menerapkan teknologi fully automatic,” sambungnya. Sementara itu, untuk menjawab ekspektasi dunia kerja industri ada tiga modal utama yang harus dimiliki. Yakni knowledge (pengetahuan), kompetensi, dan attitude. Ketiganya berlaku di semua aspek pekerjaan. Artinya, industri membutuhkan tenaga kerja berpengetahuan luas, kompeten dalam tugas pekerjaan, serta memilki attitude yang baik. Attitude baik yang dimaksud tak hanya baik dan santun perilakunya, tetapi juga open minded terhadap kolaborasi, inovasi dan kreativitas. Menurutnya, komposisi yang baik ketiga elemen tersebut menjadi value kepada potensi individu di dunia kerja. Menariknya, selain itu terdapat juga penandatanganan MoU hibah teknologi Democode SIMOCODE kepada Prodi Teknik Elektro UMM. SIMOCODE sendiri adalah inovasi perangkat manajemen dan kontrol motor. Alfando Lumbanraja selaku Head of Electrical Product PT Siemens Indonesia menyebut ini sebagai upaya bersama antara dunia industri dan lembaga pendidikan tinggi untuk melahirkan calon tenaga kerja yang berkualitas. “SIMOCODE technology adalah inovasi yang menarik. Sebagaimana, kunci komitmen Siemens dalam menjawab tantangan dan peluang masa depan terletak pada efisiensi dan safety dapat memberikan wawasan dan pengalaman lebih kepada para mahasiswa,” jelasnya. Adapun Simaris Training by Siemens Smart Infrastructure Electrical Products (SI EP) diadakan sebagai penutup kuliah tamu.  Simaris merupakan software perencanaan yang memiliki tools yang bervariasi dan berfungsi untuk perencanaan, perhitungan, serta desain jaringan listrik. Simaris Planning Tools terdapat tools diantara yaitu Simaris Design, Simaris Project, Simaris Sketch, dan masih banyak lagi. Dengan beragam tools yang ditawarkan, pengguna dapat dengan mudah membuat gambar desain panel atau trafo secara lengkap dengan informasi kebutuhan ruang, serta spesifikasi teknis. Di sisi lain, Dekan Fakultas Teknik Prof. Ilyas Masudin, ST., MLogSCM.Ph.D menyambut positif kolaborasi ini. Dengan segala bentuk kerjasama kampus putih dengan PT Siemens and Partners, Ia berharap dan percaya bahwa lulusan Teknik Elektro UMM mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan dalam percepatan kemajuan teknologi. “Terjun dalam dunia kerja tidak cukup hanya dengan ilmu yang didapatkan dari bangku perkuliahan. Untuk itu, melalui kolaborasi dan kerjasama ini diharapkan dapat memberikan benefit bagi para mahasiswa calon penerus bangsa,” ungkapnya. (din/wil)