UMM Jadi Kampus Paling Berkelanjutan di Malang

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih pencapaian membanggakan dalam pemeringkatan UI GreenMetric 2024, Desember lalu. Tercatat, Kampus Putih sukses menjadi kampus paling berkelanjutan di Malang. Capaian ini tak lepas dari berbagai program dan aktivitas yang sejalan dengan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Pencapaian ini membuktikan bahwa UMM adalah kampus yang peduli lingkungan dan memberikan dampak positif. Di Malang Raya, UMM menjadi kampus paling berkelanjutan, mengalahkan Universitas Brawijaya (UB), UIN Malang, dan Universitas Negeri Malang (UM) dan lain-lain. Di tingkat PTMA se-Indonesia, UMM juga meraih posisi pertama, mengalahkan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). “Alhamdulillah berkat kerja sama yang solid, UMM berhasil meraih peringkat yang sangat mengesankan. UMM terus berinovasi dengan berbagai program keberlanjutan, salah satunya adalah kampanye hidup sehat dan program parkir sepeda ontel yang dijalankan. Kami memang berkomitmen untuk terus meningkatkan program keberlanjutan lainnya dan memperkuat kesadaran civitas akademika dalam melestarikan lingkungan,” kata koordinator task force Sandi Wahyudiono, M.T. Adapun UI GreenMetric merupakan program tahunan untuk menilai upaya keberlanjutan universitas-universitas di dunia. Program ini bertujuan untuk mempromosikan universitas sebagai agen perubahan dalam keberlanjutan serta menyebarkan informasi terkait program-program berkelanjutan di kampus kepada pemerintah, badan lingkungan, dan masyarakat. Sandi menambahkan, GreenMetric juga berfungsi sebagai alat penilaian diri bagi institusi pendidikan tinggi dalam mengukur komitmen terhadap keberlanjutan dan pelestarian lingkungan sejalan dengan SDGs. Dosen Teknik itu melanjutkan bahwa pemeringkatan GreenMetric menilai universitas berdasarkan enam kriteria utama yakni infrastruktur, energi dan perubahan iklim, limbah, air, transportasi, serta pendidikan dan penelitian. Adapun UMM telah melakukan banyak hal terkait poin-poin tersebut. Misalnya penggunaan dan pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro dan PLTS, transportasi mobil buggy dan ckuter listrik untuk mobilisasi mahasiswa, bahkan melakukan penelitain dan pengabdian di bidang air dan energi di Subak, Bali. “Ini menunjukkan bahwa UMM siap berperan aktif dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang berkelanjutan. Meskipun pencapaian ini membanggakan, pihak universitas mengingatkan bahwa kesuksesan ini hanyalah awal dari perjalanan panjang untuk terus berinovasi dan meningkatkan upaya keberlanjutan,” tegasnya. UMM tengah mengembangkan langkah strategis untuk menjaga dan meningkatkan keberlanjutan kampus. Tim GreenMetric UMM bekerja sama dengan Bidang 4, PSLK, dan Unit AP dalam merumuskan kebijakan dan inovasi. Salah satu kebijakan yang akan diterapkan adalah penggunaan lift yang lebih efisien energi, yang akan dilaksanakan bertahap di seluruh kampus. Kampanye “Go Green, Go Healthy” juga akan dilanjutkan untuk mendukung kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. Sandi berharap, UMM dapat terus menjadi kampus hijau terkemuka di Indonesia dan aktif dalam kegiatan keberlanjutan. Dengan semangat tinggi, UMM berharap dapat terus memberikan kontribusi nyata untuk mencapai Indonesia Emas 2045 yang berkelanjutan. “Keberhasilan ini bukan hanya tentang peringkat, tetapi tentang komitmen untuk terus berinovasi dan melangkah maju menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” tutupnya. (*/wil)
Dosen FKIP-FH UMM Wujudkan Sekolah Ramah Anak Melalui GEDSI dan Literasi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen untuk mendorong pendidikan berkualitas dan inklusif. Salah satunya melalui kegiatan yang dilaksanakan sederet dosen dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Hukum (FH) UMM. Mereka melakukan program pendampingan di berbagai sekolah dasar (SD), termasuk di SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, akhir Desember ini. Kegiatan ini berfokus pada mewujudkan lingkungan sekolah ramah anak berbasis Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), dengan integrasi program literasi sekolah. Salah satu tim UMM, Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. menjelaskan program ini berupaya menciptakan ruang aman dan inklusif. Pendampingan yang dilakukan melibatkan guru, siswa, dan komunitas sekolah dalam menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan mendukung keberagaman. Para dosen memberikan pelatihan kepada para guru mengenai implementasi GEDSI dalam proses pembelajaran dan pengelolaan lingkungan sekolah. Hal ini mencakup pemahaman tentang pentingnya kesetaraan gender, inklusi bagi siswa berkebutuhan khusus, serta upaya pencegahan diskriminasi sosial. “Lingkungan sekolah ramah anak bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga bagaimana guru dan seluruh ekosistem sekolah mampu menciptakan suasana yang mendukung perkembangan emosional, sosial, dan akademik siswa tanpa ada diskriminasi,” katanya. Uniknya, program ini juga mengaitkan GEDSI dengan peningkatan literasi sekolah. Para siswa diajak untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis melalui kegiatan literasi yang relevan dengan tema inklusi dan keberagaman. Salah satu contohnya adalah lomba menulis cerita pendek bertema ‘Persahabatan dalam Keberagaman’ yang mendapat antusiasme tinggi dari siswa. “Kegiatan ini sejalan dengan visi kami untuk menjadi sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mendukung pengembangan karakter siswa. Pendampingan dari UMM sangat membantu kami mewujudkan sekolah ramah anak yang sesungguhnya,” kata Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Hana Ayudah, M.Pd. Adapun harapannya, pendampingan ini dapat memberikan dampak yang berkelanjutan. Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi UMM dalam mendukung pendidikan berkualitas sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek pendidikan inklusif dan kesetaraan gender. Dengan sinergi antara GEDSI dan literasi, program ini membuktikan bahwa pendidikan ramah anak adalah kunci untuk mencetak generasi yang unggul, berkarakter, dan peduli terhadap keberagaman. (*/wil)
Rektor UMM: Kepala Daerah Ingin Berhasil, Prioritaskan Empat Aspek Ini

Pilkada serentak sudah usai dan para kepala daerah harus mulai bekerja memberikan yang terbaik untuk rakyat. Hal itu ditegaskan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si. Menurutnya, ada empat aspek penting yang perlu diupayakan agar pemerintahan yang diemban kepala daerah bisa berjalan sukses dan berkelanjutan. Nazar mengatakan, keterbatasan dana masih menjadi problem utama pembangunan infrastruktur di berbagai daerah. Karena itu, pemilihan skala prioritas yang tepat adalah hal kursial untuk dilakukan agar kepuasan masyarakat atas public utilities setara dengan pajak yang dibayar. Nazar juga menilai bahwa prioritas yang tepat dalam pembangunan infrastruktur menjadi salah satu solusinya. Ini bisa dilakukan oleh kepala daerah berbagai daerah di Indonesia. Setidaknya, daerah-daerah bisa menyelesaikan dulu masalah infrastruktur di bidang kesehatan, pendidikan, dan pariwisata. Ditambah dengan kemudahan akses jalan di tiga bidang itu. Nazar memberikan contoh pada infrastruktur bidang wisata. Menurutnya, ketika orang selesai menikmati tempat wisata, seharusnya orang tersebut bisa bekerja lebih giat. Wisata diharapkan mengembalikan energi untuk produktif. Tujuan itu tidak akan tercapai ketika kondisi pariwisata mengecewakan. Tak terkecuali akses menuju lokasi wisata. Kemudian infrastruktur di bidang pendidikan. Minimal akses pendidikan dasar bagi masyarakat terpenuhi seluruhnya. Itu bisa dievaluasi dari seberapa banyak perbandingan anak usia sekolah dengan yang bersekolah atau Angka Partisipasi Murni (APM). Misalnya APM tingkat SD di Kota Malang sebesar 99,50 persen, Kota Batu 99,98 persen, dan Kabupaten Malang sebesar 98,63 persen. “Pemetaan data semacam itu bisa di jadikan dasar untuk pembangunan infrastruktur pendidikan. Jadi, prioritas penggunaan anggarannya digunakan untuk memastikan seluruh anak usia sekolah bisa menuntaskan pendidikan dasar lebih dulu. Adapun untuk memaksimalkan APM adalah pendidikan gratis. Namun untuk dapat mewujudkannya, masyarakat harus tertib dan ikhlas membayar pajak,” katanya. Hal serupa juga harus dilakukan di bidang kesehatan. Keberhasilan pembangunan infrastruktur dapat dilihat dari aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan. Misalnya seberapa dekat jarak tempat tinggal mereka dengan fasilitas kesehatan. Ukuran akhirnya bisa bermacam-macam. Seperti angka kematian ibu setelah melahirkan, Tuberculosis (TBC), stunting, hingga ketersediaan jumlah tenaga kesehatan (nakes). Sebagai contoh, berdasar data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) di Malang Raya, dalam 1,5 tahun, sudah ada sekitar 39 ibu hamil yang meninggal. Data itu bisa menjadi bahan untuk mengambil kebijakan tentang pembangunan infrastruktur kesehatan. “Terpenuhinya infrastruktur tiga bidang di atas perlu ditunjang dengan kelayakan akses jalan. Kelayakan jalan akan menunjang banyak hal, termasuk memecahkan masalah kendala pertumbuhan ekonomi dan pengembangan industri,” tambahnya. Adapun salah satu sumber anggaran untuk infrastruktur yakni APBD. Di dalamnya terdapat pajak daerah. Pembangunan infrastruktur memang membutuhkan dana yang sangat besar. Maka, lembaga eksekutif dan legislatif harus mampu mendistribusikannya sesuai kondisi di lapangan. Ini menjadi solusi tepat bagi berbagai daerah di Indonesia. (*/wil)
Dukung Program Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi

Pengembangan teknologi energi terbarukan menjadi salah satu fokus negara Indonesia. Begitu juga yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menjadikan EBT sebagai fokus utama. Melalui prodi Teknik Elektro, Fakultas Teknik UMM mengerjakan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Adapun latar belakang pengembangan ini berakar dari roadmap penelitian kampus yang selaras dengan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Proyek PLTS dan PLTB ini telah diterapkan di beberapa lokasi strategis, termasuk Masjid Chengho Gua China di Desa Sitiarjo Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Masjid Ahmad Dahlan di Karangploso, Wagir kabupaten Malang, SMP Negeri 21 Malang, SMP Negeri 24 Malang, dan lainnya. Termasuk di dalamnya Kampus 3 UMM yang telah banyak menggunakan teknologi ini. Baca juga : Rektor UMM: Kepala Daerah Ingin Berhasil, Prioritaskan Empat Aspek Ini Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM, Machmud Effendy, ST, M.Eng. mengatakan, salah satu alasan utama memilih sederet daerah itu sebagai lokasi implementasi adalah permasalahan ketidakstabilan listrik yang sering terjadi. “Kami ingin menjadikan UMM sebagai ikon pengembangan energi terbarukan, terutama di sektor PLTS dan PLTB yang telah dimulai sejak 2012. Salah satu contohnya di Masjid Chengho, di mana listrik sering mati karena jaraknya jauh dari transmisi PLN. Dengan adanya PLTS ini kebutuhan listrik untuk pompa air dan penerangan dapat terpenuhi tanpa kendala” katanya. Pelaksanaan dalam proyek ini melibatkan berbagai pihak, termasuk PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dan CSR PT Multi Sarana Insfrastruktur (BUMN) yang memberikan dukungan dana. Sementara, mitra CoE PLTS Teknik Elektro PT. Blue Energy bertindak sebagai inisiator utama yang berperan dalam pengadaan dan pemasangan panel surya. “PLTS memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan sumber energi lainnya, terutama untuk lokasi terpencil. Teknologi ini bersifat off-grid sehingga tidak memerlukan izin dari PLN, instalasinya sederhana, dan tidak membutuhkan infrastruktur besar seperti bendungan atau pipa. Cukup dengan memasang panel, sistem sudah dapat berfungsi. Ini membuat PLTS lebih mudah dan praktis untuk diterapkan di banyak tempat,” tambahnya. Dari segi perawatan, PLTS dirancang untuk efisiensi jangka panjang. Panel surya dapat bertahan hingga 20 tahun dengan perawatan sederhana seperti pembersihan rutin setiap enam bulan. Machmud menyebutkan bahwa baterai pada PLTS memiliki masa pakai sekitar 4-5 tahun dan dilengkapi dengan sistem manajemen baterai agar lebih awet. Hal ini memastikan bahwa teknologi tetap efisien dan dapat digunakan dalam jangka Panjang. Baca juga : Belasan Mahasiswa Teknik Mesin UMM Exchange ke INTI Malaysia “Harapan besar untuk proyek ini adalah dapat membawa manfaat besar bagi masyarakat dan menjadi model yang dapat diterapkan di tempat lain. Kami ingin teknologi ini dikembangkan di masjid-masjid lain, pondok pesantren, atau puskesmas, sehingga energi terbarukan bisa digunakan lebih luas. Hal ini sejalan dengan visi UMM untuk terus mendukung pembangunan berkelanjutan melalui inovasi teknologi. Begitupun dengan visi pemerintah Indonesia terkait energi,” pungkasnya. (*/wil)
Belasan Mahasiswa Teknik Mesin UMM Exchange ke INTI Malaysia

Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan berdaya saing global. Kali ini, sebanyak 12 mahasiswa terpilih untuk mengikuti program bergengsi International Student Mobility di International University (INTI), Malaysia, yang akan berlangsung dari 6 Januari hingga 11 Mei 2025 nanti. Sebelumnya, Teknik Mesin UMM dan INTI Malaysia juga sudah melangsungkan kerjasama di bidang pertukaran dosen dan kolaborasi riset. Acara pelepasan resmi digelar pada Kamis 26 Desember lalu di Kampus UMM dengan dihadiri Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. dan Kepala International Relations Office, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP. Dalam pelepasan itu, Salis mendorong mahasiswa yang turut serta dalam program itu untuk memanfaatkan peluang yang ada. “Kegiatan ini adalah peluang besar untuk mengembangkan diri dan memperluas wawasan. Tantangan yang Anda hadapi di luar negeri akan menjadi pengalaman berharga yang membentuk karakter Anda. Jadilah pribadi yang percaya diri, optimis, dan tetap rendah hati. Jaga nama baik almamater dan tunjukkan bahwa mahasiswa UMM mampu bersaing di level internasional,” pesannya. Di sisi lain, Kepala IRO Listiari menambahkan bahwa program ini membuka pintu bagi mahasiswa untuk menjalin jejaring global. Membangun relasi yang kuat dengan berbagai negara dna berkolaborasi untuk menciptakan inovasi baru untuk masyarakat. “Pelajari keberagaman budaya dan ciptakan koneksi yang konstruktif. Jadilah aktif, tetapi tetap bijak dalam pergaulan. Jaga integritas sebagai mahasiswa UMM dan pastikan Anda menaati semua peraturan yang berlaku selama di Malaysia. Saya percaya, pengalaman ini akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi Anda, tetapi juga bagi perkembangan UMM di masa depan,” pesannya dengan penuh optimisme. Hal serupa juga disampaikan Ir. Iis Siti Aisyah, MT., Ph.D. IPM. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata dari strategi internasionalisasi Teknik Mesin UMM. Menjadi langkah penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan global. “Kami ingin mahasiswa Teknik Mesin UMM tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga memiliki pengalaman internasional yang memperkaya kompetensi mereka. Semoga Anda menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain dan membawa manfaat besar untuk program studi ini,” jelasnya. Para mahasiswa peserta program juga menyampaikan rasa syukur atas kesempatan luar biasa ini. Mereka berkomitmen untuk memberikan yang terbaik selama mengikuti program di INTI, Malaysia. Kerja sama strategis antara Teknik Mesin UMM dan INTI Malaysia ini diharapkan terus membuka peluang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman internasional, memperkuat kompetensi, dan membangun jejaring global yang bermanfaat untuk masa depan. (*/wil)
Tanggapi Isu Tren Sad Beige Mom, Dosen UMM: Orang Tua Tidak Boleh Egois

Tren parenting ‘Sad Beige Mom’ belakangan sedang naik daun dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Istilah ini kerap dikaitkan kepada orang tua yang menggunakan warna-warna lembut (netral) seperti warna beige, putih, dan krem, sebagai kiblat gaya estetika dalam pengasuhan anak. Diklaim memiliki nuansa classic dan bersih, tren ini menjamur ke berbagai kalangan masyarakat global, tak terkecuali Indonesia. Meski dianggap ‘aestethic’, tren ini masih menimbulkan pertanyaan besar mengenai dampaknya terhadap perkembangan psikis anak. Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Iswinarti, M.Si. menegaskan pentingnya pemilihan dan variasi warna dalam mendukung stimulasi visual dan perkembangan kognitif anak, sejak bayi. “Pada saat bayi beranjak usia 2-3 bulan, pergerakan benda dan suara-suara sangat berpengaruh terhadap stimulasi penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga) bayi. Sedangkan, dengan segala keterbatasan, penglihatan bayi cenderung menangkap benda berwarna cerah atau yang memiliki kontras tinggi, seperti hitam, putih, merah, kuning, dan lain sebagainya,” ungkapnya. Kemudian setelah itu, anak berada di tahap perkembangan stimulasi kognitif. Dimana pada tahap perkembangan ini, anak akan mulai mampu melakukan klasifikasi warna. Pada umumnya, orang tua akan memperkenalkan warna-warna dasar kepada anak, seperti merah, kuning, dan hijau. Sehingga, di tahap selanjutnya anak mampu melakukan klasifikasi warna yang diciptakan dari kombinasi warna dasar tersebut atau biasa dikenal dengan istilah warna pelangi. Disamping itu, Ia juga mengungkapkan psikologi warna juga merepresentasikan emosional, seperti warna cerah menggambarkan kecerian dan semangat, hitam berarti kesedihan yang mendalam, dan lainnya. “Biasanya anak akan cenderung mengenal warna dasar dan turunan kombinasinya atau warna-warna pelangi dari hasil perkembangan stimulasi kognitif. Sehingga, ketika anak hanya diberi satu warna dan warnanya tidak menarik perhatian anak, maka kemungkinan stimulasi kognisi anak tergolong kurang,” jelasnya. Terlepas dari fenomena tren ini, Iswinarti memandang, perbedaan selera seseorang terhadap warna, style dan sebagainya itu merupakan suatu hal yang wajar. Adapun penggunaan diksi ‘sad (kesedihan)’ dengan maksud memvonis dalam istilah tren ini dinilai cukup berlebihan. Namun, Ia juga menekankan sosok Ibu atau orang tua tidak boleh egois dengan memaksakan kehendak atau pikirannya kepada anak. Yang efeknya, dapat mengganggu perkembangan psikis, maupun kognitif anak. “Sejatinya, orang tua itu tidak boleh memaksa anak untuk menuruti kehendak atau passionnya kepada anak. Karena satu unsur yang tak kalah pentingnya dalam optimalisasi perkembangan anak ialah unsur stimulasi emosi yang tercermin dalam pola serta metode parenting orang tua kepada anak,” ungkapnya. Terakhir, Ia menegaskan pada masa stimulasi perkembangan anak, variasi warna penting diterapkan. Ia juga berharap masyarakat khususnya para orang tua lebih bijak lagi dalam memilih sesuatu yang berkaitan dengan parenting. (din/wil)
Meriahnya Pesmaba UMM: Flying Board hingga Formasi Flashlight

Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu menghadirkan hal-hal baru tiap tahunnya. Gelaran ini juga ditunggu-tunggu, tidak hanya oleh para mahasiswa UMM, tapi juga ditunggu oleh masyarakat. Pada Pesmaba 2024 yang dimulai pada 9 September ini, berbagai hal menarik disuguhkan. Mulai dari atraksi flying board di danau UMM, berbagai macam formasi flashlight, hingga pengibaran enam bendera oleh tim flying fox. Bahkan ada ucapan selamat datang raksasa di gedung kuliah dan kehadiran tim pemadam kebakaran yang memeriahkan. Terkait keseruan Pesmaba, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa semua hal menarik tersebut memang sudah disiapkan sejak lama. Khususnya untuk menyambut maba gen 24 UMM. “Maba harus mengawali perkualiahan dengan bahagia. Salah satu cara UMM yakni dengan menampilkan hal baru dan unik seperti di Pesmaba tahun ini,” katanya. Adapun saat atraksi, atlet flying board menunjukkan kebolehannya dengan manuver-manuver di atas air. Selain itu juga melakukan salto yang membuat takjub ribuan penonton yang memadati pinggir danau UMM. Adapula enam bendera yang dikibarkan para mahasiswa melalui jalur flying fox. Di antaranya bendera Selamat Datang Gen 24 UMM, Pionir Digital, dan Pelestari Bumi. Di samping itu juga ada bendera Stop Genosida Palestina, Hapuskan Rasisme Global, serta Bersama Wujudkan Kedamaian. “Tiap bendera memiliki maknanya masing-masing dan menjadi spirit berkontribusi Kampus Putih dan mahasiswa. Maba gen 24 UMM diharapkan mampu menjadi pionir digital sekaligus sukses melestarikan bumi. Mereka harus bisa menjadi pemimpin yang mencegah rasisme global, menghentikan genosida di Palestina, dan bersama mewujudkan kedamaian,” tambah Dr. M. Isnaini, M.Pd. selaku kepala Humas UMM. Sementara itu, koordinator flashlight Pesmaba Jamroji, S.Sos., M.Comms. menjelaskan bahwa setelah menjadi pioner sejak 2014 lalu, kini UMM mulai meninggalkan metode flashmob. Sebagai gantinya, Kampus Putih mempopulerkan flashlight yang lebih menarik dan unik. Adapun cara itu sudah mereka lakukan sejak Pesmaba 2023 lalu. “UMM memang selalu membuat tren baru. Dulu di 2014 kami menjadi pioner flashmob, sekarang kami juga datang dengan tren flashlight memanfaatkan gawai para mahasisa baru. Hal itu tentu memudahkan dan memberikan kesna unik,” katanya. Dalam kesempatan itu, para maba UMM membentuk dua formasi utama. Pertama, formasi dengan tulisan ‘Menyala UMMku’ sebagai komitmen untuk terus menyala dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Kedua, yakni formasi ‘Menyala Mabaku’ yang menjadi harapan agar para mahasisa baru bisa mengembangkan potensi dan bakatnya, kemudian menyala serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Gelaran spektakuler itu membuat takjub para mahasiswa baru. Salah satunya Zafira Azzahra Putri, mahasiswa manajemen asal Kalimantan timur. Ia mengaku senang dan bahagia bisa bergabung dengan UMM, apalagi Pesmaba tahun ini sangat meriah. Ia menilai hal itu membuatnya lebih bersemangat mengawali proses perkuliahannya di Kampus Putih. “Seru sekali, apalagi dengan adanya atraksi flying board dan flying fox. Kemudian juga formasi flashlight yang tidak ada duanya. Keseruan ini tentu akna viral dan membuat Pesmaba tahun ini semakin menarik perhatian masyarakat luas. Semoga berbagai pesan yang ada di pesmaba ini bisa kami laksanakan dan mampu mendorong kami menjadi generasi unggul yang siap wujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (Wil)
PSIF Kembangkan Sastra Profetik

KOMBINASI antara aspek sosial humaniora dan dimensi ketauhidan membuat sastra profetik lebih kaya dan seimbang. Hal itulah yang menjadi pesan dari kegiatan Kajian Islam Interdispliner (KII) satra profetik yang diadakan oleh Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (30/09). KII menghadirkan guru besar dan pegiat sastra Prof Dr Djoko Saryono MPd yang berbicara tentang “Sastra Profetik Perspektif Islam dan Sosial”. Bagi Djoko, dimensi transcendental dalam sastra profetik bisa memberikan dampak revolusi sosial bagi masyarakat. Dengan nilai-nilai dan pengaruh yang dikandungnya, Djoko mengatakan, karya sastra ini sangat erat kaitannya dengan komponen-komponen kehidupan bermasyarakat. “Sayangnya, karya sastra profetik yang ada di nusantara saat ini kurang mendapatkan kajian lebih mendalam,” tambahnya. Djoko mengungkapkan, sastra profetik dari zaman ke zaman mengalami degradasi. “Saat ini masyarakat lebih memahami agama hanya sebagai kepercayaan, bukan sebagai sebuah panduan hidup bermasyarakat. Melalui penciptaan karya sastra profetik, diharapkan agama bisa bermakna lebih dari itu,” paparnya. (nis/han)