Lakukan Pengabdian berbasis Riset, Mahasiswa UMM Menangi Penghargaan di Pilmapres Nasional

Prestasi gemilang berhasil ditorehkan mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025. Bermula dari inovasi hebat agar dapat berdampak pada masyarakat, kiat sukses ini berhasil mengantarkannya meraih penghargaan anugerah Pemberdaya Masyarakat pada Pilmapres 2025, Oktober lalu. Dia adalah Abi Mufid yang telah lama berkontribusi lebih pada masyarakat melalui inovasi turbin angin di daerah terpencil dan mnegatasi rheumatoid di panti jompo. Bahkan kegiatan ini dilakukan berdasarkan penelitian ilmiahnya yang sudah terpublikasi di jurnal Scopus Q2. Dalam kompetisi bergengsi ini, terdapat beberapa aspek yang dinilai secara ketat. Pertama adalah gagasan kreatif yang mencakup bagaimana ide seorang mawapres untuk menyelesaikan permasalahan. Kedua adalah capaian unggulan yaitu 10 prestasi terbaik mahasiswa dari berbagai bidang seperti kompetisi, pengakuan, penghargaan, hasil karya, kewirausahaan dan pengabdian. Kemudian ada juga aspek kecakapan. “Mahasiswa diminta melakukan presentasi dan saling tanya jawab antara satu sama lain. Terakhir yakni sikap. Seorang mawapres harus bersikap baik, disiplin, jujur. Serta tentunya mempunyai problem solving, critical thinking,” ungkapnya. Dua inovasi utama dari Abi, menunjukkan kepeduliannya yang mendalam terhadap masalah masyarakat. Dia membuat inovasi turbin angin untuk sistem irigasi dengan desain sederhana dan ditempatkan di daerah terpencil. Desain ini sudah tervalidasi pada penelitian turbin angin hasil risetnya yang telah dipublikasi. Tak hanya itu, dia juga membuat inovasi dan melakukan pemberdayaan pada salah satu rumah jompo di kota Malang untuk mendeteksi penyakit rheumatoid arthritis melalui kuku. Ini sangat membantu karena apabila melakukan pengecekkan di rumah sakit, akan memakan banyak biaya dan waktu. Kemudian, mahasiswa multitalenta ini telah mengumpulkan segudang prestasi, termasuk Juara 2 pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat LLDIKTI 7 (Jawa Timur), Juara 1 program kreativitas mahasiswa Muhammadiyah, juara 2 PIMTANAS, juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional, pendanaan PKM KC 2024, Conference IRIC dan I-Contine, First Author buku ISBN, First Author Scopus Q3 (2 jurnal), pemegang hak cipta, dan lainnya. Semua pencapain dan prestasinya ini dimulai dari kedisiplinan dan berbakti kepada kedua orang tua. Proses menjadi mahasiswa berprestasi nasional dimulai sedari mahasiswa baru. Menurutnya, menjadi seorang mawapres nasional tidak bisa disiapkan dalam setahun atau dua tahun. “Banyak hal yang harus disiapkan salah satunya adalah niat dan kesadaran diri untuk menjadi agent of change. Jadi anak muda haurs mempersiapkan diri dari jauh jauh hari, sebab beras yang kita masak hari ini tidak di tanam kemarin sore,” tegasnya. Mengakhiri kalimatnya, Abi berharap semangat ini dapat menginspirasi generasi muda Indonesia. Mahasiswa dan anak muda di Indonesia terus berproses dan memiliki mentalitas yang luar biasa, menjadi generasi penerus bangsa yang selalu sadar bahwa masa depan di tangannya. “Selain itu dengan adanya pilmapres saya berharap banyak inovasi-inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat, menciptakan sebuah inovasi solutif,” tutupnya. (nam/wil)
Mendikdasmen RI Pidato Bahasa Indonesia di UNESCO, Begini Kata Dosen UMM

Hal menarik terjadi di Sidang Umum UNESCO di Samarkand, Uzbekistan, beberapa waktu lalu. Dalam forum internasional itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu’ti menyampaikan pidato perdananya menggunakan Bahasa Indonesia. Peristiwa bersejarah ini menjadi bukti bahwa bahasa nasional Indonesia kini diakui secara resmi di panggung dunia, sekaligus menandai babak baru diplomasi kebahasaan Indonesia di tingkat global. Terkait hal itu, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd. menjelaskan, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia merupakan tindak lanjut dari Resolusi 42 C/28 yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 UNESCO sejak tahun 2023. Langkah tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang aktif memperjuangkan keberagaman bahasa dan budaya dunia. Maka dari itu, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM juga terus berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten dalam bidang pendidikan bahasa serta memiliki kesiapan menjadi tenaga profesional pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Upaya ini sejalan dengan visi UMM untuk mengantarkan bahasa nasional tampil di kancah global sebagai bahasa diplomasi, budaya, dan ilmu pengetahuan. Lebih lanjut, Krisna, sapaannya, menilai bahwa keputusan UNESCO menjadi bukti keberhasilan diplomasi budaya Indonesia. Ia menegaskan bahwa UMM memandang peristiwa ini bukan hanya sebagai bentuk pengakuan, tetapi juga peluang besar bagi lembaga pendidikan bahasa untuk berperan dalam internasionalisasi bahasa nasional. Ini adalah langkah dan upaya yang sangat baik karena menjadi bagian dari penguatan diplomasi bangsa melalui bahasa dan budaya Indonesia. “Diplomasi bahasa merupakan instrumen penting dalam memperkuat citra bangsa di dunia internasional. Penyebaran Bahasa Indonesia di berbagai negara dapat menumbuhkan pemahaman lintas budaya sekaligus membangun hubungan antarbangsa yang lebih harmonis,” katanya. Ia juga menyebut bahwa langkah UNESCO tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Dalam Pasal 44, undang-undang itu menegaskan pentingnya peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa implementasi konkret dari kebijakan ini salah satunya diwujudkan melalui pengembangan program BIPA oleh lembaga pendidikan tinggi, termasuk UMM. Melalui program BIPA, pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga media diplomasi budaya. UMM sendiri terus mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kemampuan pedagogis, linguistik, dan interkultural yang mumpuni untuk menjadi pengajar bahasa di luar negeri. “Kami ingin lulusan UMM menjadi bagian dari tenaga profesional yang dapat mengajar Bahasa Indonesia di luar negeri, baik melalui program pemerintah maupun kerja sama internasional,” ujarnya. Lebih lanjut, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia juga mencerminkan meningkatnya minat dunia terhadap pembelajaran bahasa ini. Banyak universitas asing dan komunitas diaspora Indonesia kini membuka kelas Bahasa Indonesia sebagai bagian dari studi budaya Asia Tenggara. Selain menjadi kebanggaan nasional, penggunaan Bahasa Indonesia di forum UNESCO juga menjadi simbol keberhasilan bangsa dalam menjaga identitas kebahasaan di tengah arus globalisasi. Menurutnya, internasionalisasi bahasa tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada peran aktif perguruan tinggi dalam mencetak tenaga pengajar yang berkualitas. “Kami melihat peluang besar bagi para lulusan fresh graduate untuk menjadi tutor dan pengajar Bahasa Indonesia bagi penutur asing di berbagai belahan dunia. Melalui kegiatan akademik, penelitian, dan pelatihan pengajaran BIPA, UMM bertekad menjadi pusat pengembangan pendidikan Bahasa Indonesia yang berdaya saing global,” ujarnya. Dengan optimisme bahwa Bahasa Indonesia akan terus memperluas pengaruhnya di dunia internasional. Ia menilai bahwa kolaborasi antarperguruan tinggi, lembaga bahasa, dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan diplomasi kebahasaan di masa depan. Harapannya, Bahasa Indonesia terus mendapatkan ruang yang lebih luas di dunia internasional. (vin/wil)
UMM Resmikan Japan Corner

Dari negeri Sakura yang dikenal dengan inovasi dan ketekunannya, semangat kolaborasi akademik kini menjangkau kampus putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang, kedua institusi resmi membuka babak baru hubungan pendidikan lintas negara. Acara yang digelar pada 5 November 2025 itu dirangkai dengan peresmian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner sebagai wujud nyata kerja sama kedua universitas. Penandatanganan ini tidak hanya menandai kerja sama akademik pertama Shimonoseki City University dengan perguruan tinggi di Indonesia, tetapi juga meneguhkan komitmen kedua institusi untuk memperkuat pertukaran ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan riset lintas negara. Melalui kerja sama ini, UMM dan SCU sepakat menjalin kolaborasi di bidang penelitian bersama, program pertukaran mahasiswa, pengembangan pascasarjana bidang agribisnis, serta pendirian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner di UMM. Adapun keberadaan Japan Corner diharapkan menjadi wadah pembelajaran bahasa dan budaya Jepang bagi mahasiswa, sekaligus pusat kegiatan penelitian dan inovasi bersama antara UMM dan SCU. Fasilitas ini juga disiapkan sebagai tempat pembekalan bagi mahasiswa yang akan mengikuti program pertukaran pelajar dan studi lanjut ke Jepang. Konsulat Muda Konjen Jepang, Kaori Marohira, turut menyampaikan ucapan selamat atas kerja sama yang terjalin. Ia menegaskan bahwa hubungan pendidikan antara Jepang dan Indonesia merupakan fondasi penting dalam memperkuat masa depan kedua negara. Dalam sambutannya, Kaori menyampaikan bahwa pemerintah Jepang memandang kerja sama akademik sebagai langkah strategis dalam membangun jembatan pemahaman antarbangsa. Ia menilai kolaborasi antara UMM dan Shimonoseki akan menjadi model kerja sama yang berorientasi pada kemajuan pendidikan, kebudayaan, serta penelitian yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, MoU ini juga menjadi peluang untuk mendorong generasi muda agar mampu beradaptasi dengan tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang mereka miliki. “Atas nama Pemerintah Jepang, saya menyampaikan selamat kepada kedua universitas. Kerja sama di bidang pendidikan dan akademik ini menjadi fondasi bagi generasi muda yang akan membentuk masyarakat berkelanjutan. Kami berharap penandatanganan hari ini menjadi langkah awal bagi hubungan yang lebih luas di masa mendatang,” ungkapnya. Sementara itu, Presiden Shimonoseki City University, Prof. Chang Wan Han, mengungkapkan rasa bangga karena kemitraan ini menjadi kerja sama pertama SCU dengan universitas di Asia Tenggara, sekaligus kerjasama pertama dengan universitas berbasis Islam. Ia menuturkan bahwa SCU yang telah berdiri selama lebih dari tujuh dekade memiliki sejarah panjang dalam membangun inovasi pendidikan di Jepang. Karena itu, kerja sama dengan UMM menjadi bagian dari misi global universitasnya untuk menjangkau mitra akademik di berbagai kawasan dunia. Ia juga menyoroti pentingnya membangun pendidikan berbasis kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi. Melalui kerja sama ini, SCU ingin berfokus pada pengembangan manusia yang berdaya saing sekaligus menjunjung tinggi keberagaman. “Kami sangat senang dapat bermitra dengan UMM, salah satu universitas terbaik dunia di bawah Muhammadiyah. Di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, kami tetap ingin menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan, menghargai keanekaragaman budaya, agama, dan bangsa,” ujarnya. Lebih lanjut, Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk nyata upaya internasionalisasi kampus yang terus dikembangkan UMM. MoU ini tidak hanya membuka jalan bagi kegiatan akademik lintas negara, tetapi juga menciptakan ruang baru untuk dialog kebudayaan dan kolaborasi riset yang inovatif. Menurutnya, kerja sama dengan SCU sejalan dengan visi UMM sebagai Kampus Putih yang berdampak global melalui penguatan riset, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat. Nazaruddin juga mengapresiasi dukungan penuh dari Kedutaan Besar Jepang dan SCU dalam mewujudkan berdirinya Japan Corner yang akan menjadi pusat pembelajaran bahasa dan budaya Jepang di kampus UMM. “Melalui MoU ini, kami berharap dapat membuka pintu yang lebih luas untuk penelitian bersama, program gelar ganda, dan inisiatif budaya yang menumbuhkan saling pengertian. Japan Corner akan menjadi ruang untuk belajar, berdialog, dan mengembangkan kolaborasi yang berdampak bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya. Acara ini turut dimeriahkan oleh penampilan UKM Sansekerta UMM yang membawakan tarian ‘Senbonzakura’, kolaborasi unik antara tarian tradisional Jepang dan tari daerah Indonesia. Penampilan tersebut menjadi simbol harmonisasi dua budaya yang kini semakin erat terjalin melalui kerja sama akademik. (vin/wil)
Prodi Kesejahteraan Sosial UMM Perkuat Kerja Sama Internasional

pwmu.co –Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat langkah internasionalisasinya. Setelah meraih akreditasi internasional dari Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA) pada 2025 dan predikat Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) sejak 2023, prodi ini semakin aktif menjalin kolaborasi global. Salah satu mitra strategisnya adalah Program Kerja Sosial Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan Universiti Kebangsaan Malaysia (FSSK UKM). Kerja sama yang telah terjalin sejak 2018 itu menghasilkan berbagai luaran sesuai dengan kesepakatan dalam Memorandum of Understanding (MoU). Capaian tersebut mencakup penelitian bersama dengan publikasi di jurnal bereputasi, teaching collaboration pada beberapa mata kuliah, guest lecture tematik, kegiatan praktikum mahasiswa yang menghasilkan sejumlah book chapter, hingga penyelenggaraan konferensi internasional. Selama periode pertama (2020–2025), kedua institusi menilai hasil kolaborasi sangat produktif dan memberikan manfaat besar bagi dosen maupun mahasiswa. Karena itu, UMM dan UKM sepakat melanjutkan kerja sama pada periode kedua, 2025–2030. Pertemuan koordinasi untuk kelanjutan kerja sama tersebut berlangsung di rooftop Rayz Hotel UMM, Senin (3/11/2025). Acara ini dihadiri langsung oleh Dekan FSSK UKM beserta tim, termasuk Ketua Program Kerja Sosial. Dari pihak UMM, hadir Wakil Rektor IV, Dekan FISIP, serta para ketua program studi di lingkungan FISIP. Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM, Hutri Agustino, menyampaikan bahwa kerja sama dengan UKM telah memberi banyak manfaat, baik bagi dosen maupun mahasiswa. Dalam dua tahun terakhir, UMM telah mengirim sepuluh mahasiswa untuk melaksanakan praktikum Pekerja Sosial Medis di Hospital Canselor Tuanku Muhriz (HCTM) UKM serta di NGO Adab Youth Garage (AYG) yang berfokus pada pelayanan sosial bagi anak dan remaja. Sebaliknya, dalam tiga tahun berturut-turut, Program Kerja Sosial UKM telah mengirim tujuh belas mahasiswa untuk menjalani Latihan Industri di beberapa lembaga mitra UMM, seperti UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra (RSBN), UPT Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW), dan Muhammadiyah Children Center (MCC) Lawang, Kabupaten Malang. Pada periode kedua ini, bentuk kolaborasi akan diperluas melalui program visiting professor. Dosen dari Program Kerja Sosial UKM dijadwalkan mengajar secara langsung di Prodi Kesejahteraan Sosial UMM selama dua minggu, dan sebaliknya dosen UMM juga akan mengajar di UKM. Selain itu, akan dimulai program student mobility selama satu semester sebagai kelanjutan dari kegiatan student exchange yang sebelumnya telah berjalan sukses. Hutri Agustino berharap berbagai kegiatan kerja sama dan kolaborasi internasional tersebut dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu dan praktik pekerjaan sosial di kedua negara. “Kami ingin mahasiswa mendapatkan pengalaman lintas budaya yang memperkaya perspektif mereka dalam menghadapi tantangan kesejahteraan sosial global, khususnya di kawasan Asia Tenggara,” ujarnya. (*)
Dosen FEB UMM: Dilema Purbaya, Menopang Industri Lokal atau Mematikan Thrifting?

Pelarangan total impor pakaian bekas atau akrab di telinga sebagai thrifting, kembali memicu geger di jagat ekonomi Indonesia. Setelah disuarakan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, kebijakan ini sontak menjelma menjadi “bola panas” yang dilematis. Di satu sisi, pemerintah berambisi melindungi industri tekstil dalam negeri yang meredup. Di sisi lain, ribuan pedagang kecil dan jutaan konsumen bergantung pada perputaran ekonomi barang bekas ini. Lantas, apakah melarang total merupakan jurus pamungkas yang paling bijak? Terkait hal itu, M.S. Wahyudi, S.E., M.E., Ph.D., yang akrab disapa Yudi, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), memberikan pandangan komprehensif yang mencerahkan. Ia sepakat dengan urgensi pemerintah untuk melindungi pabrik-pabrik lokal, namun ia secara gamblang tidak menyetujui pendekatan yang tergesa-gesa dan melarang tanpa solusi. Menurut Yudi, fokus utama kebijakan ini adalah mendorong daya saing industri tekstil dalam negeri, bukan semata-mata mengurangi defisit perdagangan. Menurutnya, isu ini menjadi perhatian karena Menkeu Purbaya ingin melindungi industru tekstil dalam negeri. Dampak lesunya industri tekstil ini berpotensi menimbulkan gelombang PHK di sektor yang banyak menyerap tenaga kerja. Namun, Yudi memberikan kritik tajam yaitu melarang saja tidak cukup. Konsumen memilih barang bekas impor karena alasan kualitas yang lebih bagus, harga yang lebih murah, dan bahkan faktor lebih fashionable. Maka menurutnya, industri tekstil dalam negeri harus harus memenuhi itu juga, tidak sekedar melarang. Apalagi saat ini industri lokal juga menghadapi gempuran barang baru murah dari luar negeri, seperti Tiongkok, menunjukkan bahwa masalahnya terlalu kompleks jika hanya menyalahkan thrifting saja. Yudi menekankan perlunya solusi yang bertahap dan berhati-hati agar tidak menimbulkan guncangan di tingkat ekonomi mikro. Banyak pelaku usaha kecil, mulai dari pedagang pasar hingga penjual online, menggantungkan hidup pada sektor ini thrifting. “Industri domestik harus dikuatkan dulu sebelum langsung melarang total,” kata dekan FEB itu. Untuk meredam gejolak ekonomi mikro, Yudi menawarkan solusi yang lebih komprehensif. Pertama adalah penguatan industri domestik, di mana pemerintah wajib memberikan insentif fiskal, seperti pemotongan pajak atau subsidi untuk pengembangan inovasi. Sekaligus menyingkap akar masalah yang menyebabkan UMKM tekstil domestik tidak mampu bersaing, bahkan dengan barang bekas. Kedua, dilakukan pembinaan pelaku usaha thrifting. Daripada dilarang total, pelaku usaha dapat dibina untuk beralih atau terlibat dalam usaha kreatif, seperti industri daur ulang tekstil atau upcycling. Terakhir, ia menyarankan adanya standarisasi impor bertahap, di mana larangan total dapat dimulai dengan menolak 100% barang impor bekas yang mengandung zat berbahaya atau tidak layak kesehatan, sehingga kebijakan lebih terukur dan solutif. Menurut Yudi, kebijakan thrifting bukan hanya tentang pakaian bekas, tetapi juga mencakup gaya hidup berkelanjutan (sustainability) yang dianut sebagian generasi muda. Agar berhasil, pemerintah harus menyiapkan infrastruktur industri dan alternatif pilihan, sehingga tidak terkesan membatasi pilihan konsumen. Generasi muda juga harus didorong untuk bangga terhadap produk domestik melalui kampanye yang gencar. (ali/wil)
Jadi Pembicara di MUI, Pakar UMM Jelaskan Pentingnya Sertifikasi Halal

Tak ada waktu tanpa berbagi ilmu menjadi bahan bakar sivitas akademika Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengabdi bagi negeri. Salah satunya yang dilakukan pakar sekaligus asesor halal UMM Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. Ia didapuk menjadi pembicara utama dalam acara bertajuk ‘Sosialisasi dan Akselerasi Sertifikasi Halal untuk Hotel dan Rumah Makan’ yang dilaksanakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batu, akhir Oktober lalu. Elfi, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa esensi dari sertifikasi halal melampaui sekadar pemenuhan aspek legal dan syariat. Mutu tertinggi produk halal justru terletak pada aspek intrinsik yang tidak terlihat, yaitu niat dan kejujuran dari produsen. Menurutnya, produk halal tidak hanya harus terbebas dari bahan haram, tetapi juga harus thayyib atau baik. Maksudnya adalah mencakup gizi holistik, di mana proses pengolahan yang diiringi dengan niat baik akan menghasilkan produk yang membawa keberkahan dan bahkan menjadi makanan penyembuh. Elfi juga menjawab sederet keraguan yang dirasakan oleh pengusaha terkait penting tidaknya sertifikasi halal. Salah satunya pertanyaan mengapa harus mengurus sertifikasi halal, bukan sertifikasi haram. “Di Indonesia sudah ada undang-undang sejak tahun 90-an yang mewajibkan produsen mencantumkan label jika menggunakan babi. Tapi kira-kira dipatuhi tidak? Hanya kurang dari satu persen. Karena itulah masyarakat muslim bingung dan galau,” jelasnya. Menurutnya, sertifikasi halal hadir memberingan ketenangan. Menariknya, kepercayaan ini bahkan meluas ke konsumen non-muslim yang menganggap label halal sebagai jaminan mutu, kebersihan, dan kualitas tertinggi. Ia juga terus mendorong para pelaku usaha untuk memaksimalkan penggunaan bahan baku lokal, sesuai dengan anjuran Rasulullah untuk memanfaatkan sumber daya terdekat. Langkah ini dinilai tidak hanya lebih efisien secara biaya, tetapi juga dapat memperkuat kemandirian pangan nasional. Sebagai praktisi yang produk olahan mawarnya pernah meraih penghargaan halal dunia di Malaysia, Elfi mengajak para pengusaha untuk menciptakan keunikan dan nilai tambah pada produk mereka. Misalnya memanfaatkan bahan-bahan yang ada di Batu. Termasuk bunga mawar yang berhasil ia olah jadi antioksidan. Ada juga bubuk bayam merah yang bisa digunakan sebagai suplemen zat besi atau juga kulit buah naga sebagai pewarna alami. (*/wil)
Mahasiswa UMM Bikin Structura, Platform Khusus Jual-Beli Bahan Bangunan

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berlomba menciptakan inovasi yang berdampak untuk masyarakat serta mendorong digitalisasi pada dunia e-commerce. Structura “Bangun Bersama Kami” adalah platform yang menjadi market place khusus bahan material konstruksi. Ide pembuatan marketplace khusus untuk bahan material konstruksi ini terbilang sangat unik karena muncul secara tidak sengaja. Diramu agar dapat meningkatkan penjualan bahan material dan Structura ini dapat diakses di www.structuraofficial.id dan Instagram @structura_id. Bisnis ini bahkan berhasil lolos dalma Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo XVI tahun 2025. Afta Gita Muhammad, sebagai ketua tim Structura, mengatakan melalui platform ini pihaknya ingin menonjolkan UI/UX dengan tampilan yang lebih sederhana. Desain logo dan website juga disesuaikan dengan representasi toko bangunan. Adapun platform yang mulai dikembangkan sejak bulan Juli ini bukan sekadar marketplace biasa, melainkan sebagai representasi rumah untuk kenyamanan bersama. “Ide awal structura ini karena kebetulan salah satu anggota kami mempunyai usaha toko bangunan dan sudah memiliki banyak cabang di Malang dan Pasuruan. Dari situlah kami mempunyai ide untuk digitalisasi toko bahan bangunan,” katanya. Lebih lanjut, Afta dan tim Structura dibimbing langsung oleh Immanuel Mu’ammal S.E., M.M. yang memberikan banyak masukan. Adapun Tim Structura mengalokasikan dana sekitar 8 juta lebih untuk pengembangan website dan sukses meraih omset 10-12 juta lebih perbulan. Apalagi melihat toko yang dituju juga sudah mempunyai langganan. Selain itu merek ajuga menjadi supplier untuk toko bangunan kecil. Afta mengatakan, branding dari Structura dan yang membuat berbeda dari kompetitor lain adalah pendekatan desain yang benar-benar disesuaikan dengan zaman. Kehadiran Structura di pasar digital menunjukkan peluang baru dalam segmen e-commerce niche. Desain-deisan ala Gen Z ini juga memiliki peran penting, apalagi saat ini Gen Z juga sudah mulai mandiri secara finansial. Mereka juga memiliki ketertarikan pada pembenahan rumah atau proyek-proyek kreatif. Platform ini menjawab kebutuhan akan sebuah marketplace yang tidak hanya fungsional, tetapi juga sesuai dengan nilai estetika dan kemudahan akses yang diharapkan oleh generasi digital native. Mengakhiri kalimatnya, Afta berpesan Lebih baik mencoba dari pada tidak sama sekali. Selain itu ia berharap semua lini dimasyarakat dapat berkembang bersama, termasuk secara ekonomi. Upaya mereka ini juga bisa jadi salah satu contoh bagaimana pemuda bisa membangun daerah. Ia juga berharap proses digitalisasi juga bisa berkembang dengan lebih bagus lagi, baik itu di sektor swasta maupun sektor pemerintahan. (nam/wil)
Lolos KMI Expo, Mahasiswa UMM Kembangkan Platform Conatus Academy

Penguasaan Bahasa Inggris telah menjadi paspor vital bagi mahasiswa untuk menembus beasiswa dan jenjang karier internasional. Sayangnya, akses terhadap pendidikan berkualitas seringkali terhalang biaya. Namun, di tengah tantangan ini, muncul inovasi berani. Tim mahasiswa yang diketuai Aloysius Gonzaga Alnabe, mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menolak menyerah pada keterbatasan tersebut. Ide bisnis mereka adalah Conatus Academy: Belajar Bahasa Inggris Wujudkan Mimpi Internasionalmu yang bisa di akses secara online maupun offline di Malang. Lahir dari refleksi pribadi, kini menjadi representasi UMM yang lolos dan siap mengguncang Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo XVI tahun 2025 di, Magelang. Transformasi keraguan menjadi solusi oleh Gonza menunjukkan bahwa visi wirausaha menuntut ketajaman analisis dan keberanian mengambil keputusan. Conatus Academy lahir dari refleksi mendalam Gonza dan tim tentang sulitnya menemukan akses pendidikan Bahasa Inggris yang sekaligus berkualitas dan terjangkau. Gagasan ini sebenarnya sudah muncul sejak semester pertama, namun baru benar-benar diwujudkan pada semester lima, setelah ia mendapatkan pengalaman berharga melalui program beasiswa IISMA ke Spanyol. Dalam proses pengembangannya, Gonza mendapat bimbingan dari dosen pedamping Havidz Ageng Prakoso, M.A. serta dukungan tim Conatus yang beranggotakan lima orang yang bersama-sama fokus mengembangkan bisnis jasa pendidikan Bahasa Inggris. Mereka berkomitmen menyajikan kursus yang bermutu namun tetap affordable, dapat dijangkau oleh masyarakat luas. “Kami mendirikan Conatus ini untuk bisa mengakomodasi mereka yang mau belajar tapi tidak memiliki privilege untuk bisa belajar Bahasa Inggris. Ini adalah poin utama yang membedakan Conatus dengan bimbel lainnya. Bahkan Conatus menyediakan beasiswa bagi mereka yang benar-benar tidak mampu membayar,” katanya. Keunggulan lain yang menjadi pondasi kuat Conatus Academy terletak pada metodenya yang unik dalam mengukur keberhasilan peserta. Di Conatus, fokus keberhasilan bukan hanya pada penguasaan materi, melainkan pada pengembangan kepercayaan diri siswa. Mereka tidak menjanjikan kelancaran berbicara dalam satu atau dua bulan, melainkan berupaya membangun fondasi yang kuat, terutama kemampuan critical thinking. “Yang kita kejar itu adalah bagaimana mereka setidaknya percaya diri terlebih dahulu dan yang kemudian mereka bisa mengadaptasi critical thinking tadi karena metode mengajar kita seperti tanya-jawab,” kata Gonza. Proses evaluasi pun dilakukan secara holistik. Tidak hanya melalui tes grammar dan speaking, tetapi juga dari observasi tutor terhadap peningkatan rasa percaya diri siswa di dalam kelas. Untuk KMI Expo XVI 2025, Gonza dan tim sudah menyiapkan strategi matang. Fokus utama mereka adalah menonjolkan pertumbuhan omzet dan novelty (kebaruan) dari model bisnis mereka. Mereka yakin, jarang ditemukan kursus Bahasa Inggris yang memiliki kurikulum berkualitas, didukung oleh 12 tutor berpengalaman internasional (mantan mahasiswa di Jepang, Australia, Spanyol, Korea) dengan harga yang terjangkau. “Kami akan berusaha untuk setidaknya memperkenalkan usaha kami ke tim-tim yang lain, ke mahasiswa-mahasiswa yang lain, agar mereka juga bisa menjadi perpanjangan tangan kami nanti di masa depan,” katanya. (ali/wil)
Begini Pesan Kapolri dan Menteri Desa untuk Pemuda di Tanwir IMM

Penutupan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) diwarnai pesan kolaboratif dari dua tokoh nasional, Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si. dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) RI, Yandri Susanto, S.Pt., M.Pd. Keduanya menekankan pentingnya sinergi antara generasi muda dan pemerintah dalam menghadapi tantangan global dan membangun kemandirian bangsa, khususnya di sektor desa dan ketahanan nasional. Adapun agenda ini dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 31 Oktober 2025 ini. Dalam paparannya, Listyo Sigit menegaskan perlunya kewaspadaan terhadap dinamika geopolitik global yang tengah bergejolak. Ia menyoroti lebih dari 110 konflik bersenjata di berbagai belahan dunia, termasuk perang Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina, yang berdampak besar terhadap stabilitas ekonomi, pangan, dan energi dunia. Ia melanjutkan, meski dunia menghadapi inflasi global dan ketidakpastian, Indonesia masih berada dalam kondisi yang cukup baik. Namun, Indonesia tidak boleh lengah. Ia juga menekankan pentingnya swasembada pangan dan energi sebagai kunci menghadapi krisis dunia. Ia menjelaskan bahwa Polri turut berperan aktif, salah satunya melalui program penanaman jagung di lahan seluas satu juta hektare. Maka menurutnya, Polri sangat terbuka kepada IMM untuk bekerja sama dalam hal tersebut. Selain itu, Listyo Sigit menyinggung pentingnya bonus demografi yang harus dimanfaatkan secara produktif agar tidak berubah menjadi bencana demografi. Ia memaparkan berbagai langkah pemerintah, seperti pembangunan sekolah rakyat, peningkatan kesejahteraan guru, program magang vokasi, serta dukungan terhadap UMKM sebagai bagian dari strategi pembangunan manusia unggul. Kapolri juga mengingatkan bahaya penyalahgunaan teknologi digital, terutama fenomena misinformasi, disinformasi, dan deepfake yang dapat merusak sendi kehidupan sosial. “Kita memasuki era citizen journalism. Siapapun bisa mengomentari, siapapun bisa menjadi sumber. Maka, saring dulu sebelum sharing,” tegasnya. Isu sosial seperti judi online dan penyalahgunaan narkoba turut menjadi perhatian. Data Polri menunjukkan, pengguna judi daring tertinggi berasal dari kelompok berpendapatan rendah, bahkan melibatkan anak di bawah umur. Hingga kini, Polri telah memusnahkan 288 ton narkoba berbagai jenis yang berpotensi memengaruhi lebih dari 629 juta jiwa. Menutup pesannya, Listyo menegaskan dukungan Polri terhadap IMM sebagai mitra strategis dalam menjaga ketertiban dan menjadi kekuatan moral bangsa. Hal tersebut dikarenakan IMM memiliki peran penting sebagai suara moral dan intelektual yang menyeimbangkan kebijakan pemerintah. Sementara itu, Menteri Yandri Susanto hadir dengan semangat kolaboratif, mengajak IMM menjadi bagian dari gerakan pembangunan desa berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kehadirannya bukan untuk berceramah, melainkan untuk membangun kemitraan konkret. Ia menukil pesan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ‘Kita bukan superman, tetapi superteam’. Ia menyoroti tantangan urbanisasi ekstrem seperti di Jepang dan Korea Selatan, di mana sebagian besar penduduk meninggalkan desa untuk tinggal di kota. Fenomena ini, katanya, berpotensi menimbulkan krisis sosial dan ekonomi. “Desa telah menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek. Itulah mengapa pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan menjadi fokus utama pemerintah,” jelasnya. Yandri menjelaskan capaian positif Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mencatatkan pendapatan bersih hingga Rp28 miliar per tahun, serta kemajuan desa ekspor di berbagai daerah seperti Blitar dan Banyumas. Pemerintah, tambahnya, kini mendorong munculnya desa tematik, seperti desa ikan nila, desa ayam petelur, hingga desa jagung dan timun. Saat ini, pihaknya telah bekerjasama dengan Polri melalui program Desa Bersinar (Bersih Narkoba), yang melibatkan 20 satgas anti-narkoba di tiap desa. “Adapun hari ini saya siap menandatangani MoU dengan Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM), semoga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tambahnya. Dengan ditandatanganinya MoU antara Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bersama UMM di agenda IMM menandai langkah nyata sinergi. Yakni antara akademisi, pemerintah, dan generasi muda untuk membangun Indonesia dari akar peradaban yaitu desa. Sebagai tuan rumah, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menekankan pentingnya melahirkan insan paripurna, manusia seutuhnya yang tidak hanya unggul dalam transfer ilmu, tetapi juga spiritualitas, keagamaan, dan kebangsaan. “UMM sebagai amal usaha Muhammadiyah akan terus mendukung kegiatan seperti Tanwir ini,” ujarnya. Penutupan Tanwir XXXIII IMM menjadi titik penting kolaborasi antara pemerintah dan mahasiswa Muhammadiyah. Melalui kehadiran Kapolri dan Menteri Desa, semangat membangun bangsa dari desa hingga kota mendapat makna baru, bahwa perubahan sosial tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan melalui kerja sama, kepemimpinan moral, dan komitmen kolektif. (bil/wil)
Menteri Diktisaintek di UMM: Riset dan Inovasi Harus Hidup di Masyarakat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen menjadi kampus berdampak. Salah satunya dengan memperkuat kapasitas dan kontribusi tenaga pendidik dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif dan inovatif, melalui forum Penguatan Kampus Berdampak bagi Dosen, yang digelar di Basement Dome UMM pada Jumat 31 Oktober 2025. Forum yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Diktisaintek) RI, Prof. Dr. Brian Yuliarto, M.Eng., Ph.D., menjadi wadah refleksi dan inspirasi bagi para dosen untuk memperkuat peran mereka sebagai pendorong riset, inovasi, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat. Penyerahan simbolis karya-karya inovasi dari dosen maupun mahasiswa turut menjadi bagian penting dalam forum ini. Beragam karya yang telah berhasil dihilirisasi dan sebagian lainnya yang masih dalam tahap pengembangan dikumpulkan dan terus dikembangkan di Direktorat Saintek UMM. Ini menjadi bukti nyata eksistensi UMM sebagai Kampus Berdampak. Momen ini menegaskan komitmen UMM untuk tidak hanya menghasilkan inovasi di ruang akademik, tetapi juga memastikan karya tersebut memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan dunia industri. Dalam pemaparannya, Brian menyoroti salah satu persoalan mendasar dalam dunia pendidikan tinggi, yakni lemahnya hubungan antara hasil riset perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Menurutnya, banyak penelitian yang berakhir di jurnal ilmiah tanpa pernah sampai ke tahap implementasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. Fenomena ini disebutnya sebagai valley of death—jurang kematian inovasi—di mana ide dan hasil penelitian berhenti di tengah jalan karena tidak ada kolaborasi yang kuat antara kampus dan dunia usaha. Ia menambahkan, persoalan ini bukan hanya disebabkan oleh lemahnya jejaring dengan industri, tetapi juga karena belum terbentuknya ekosistem riset yang mendorong keberlanjutan inovasi. Riset sering kali berhenti setelah pendanaan selesai, tanpa ada mekanisme untuk melanjutkan hasilnya ke tahap pengembangan produk, kebijakan, atau teknologi yang dapat diterapkan. “Kita punya begitu banyak penelitian yang potensial, tapi terlalu sedikit yang benar-benar dimanfaatkan. Kalau universitas tidak hadir di tengah industri, maka hasil riset hanya akan berhenti sebagai tumpukan laporan. Perguruan tinggi harus turun tangan agar inovasi bisa hidup dan digunakan masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut, Brian menekankan pentingnya dukungan kelembagaan yang sistematis agar riset dosen dapat terhubung dengan pihak eksternal, baik pemerintah maupun sektor swasta. Ia menilai bahwa universitas perlu memiliki unit atau lembaga khusus yang menjembatani hasil penelitian dengan mitra pengguna, termasuk dalam hal regulasi, hak kekayaan intelektual, dan pendanaan lanjutan. Dengan cara itu, penelitian tidak hanya menjadi ajang akademik semata, tetapi juga berperan sebagai solusi konkret terhadap persoalan bangsa. Ia juga menegaskan bahwa peran dosen menjadi kunci utama dalam menghidupkan ekosistem tersebut. Dosen tidak hanya dituntut menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga mengarahkan risetnya agar selaras dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional. “UMM memiliki potensi besar untuk menjadi contoh universitas yang mampu memecah kebuntuan ini. Karena kultur kolaboratif dan tradisi pengabdian yang kuat di UMM bisa menjadi modal penting untuk membangun sistem inovasi yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, UMM dapat menjadi model kampus yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga produktif dalam menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat dan industri,” ujarnya. Sementara itu, Wamendikti saintek Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menyampaikan bahwa UMM selama ini telah membangun landasan kuat untuk menjadi universitas yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga berdampak sosial. Dosen memiliki peran penting dalam menciptakan budaya ilmiah yang progresif dan mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis serta produktif. Penguatan dosen menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Menurutnya, dosen harus berani keluar dari zona nyaman dan menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat perubahan sosial. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting bagi sivitas akademika untuk memperkuat komitmen sebagai kampus berdampak. Ia menilai, konsep kampus berdampak bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita yang harus diwujudkan melalui kerja kolektif, pengabdian, dan inovasi berkelanjutan. dosen harus menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat, menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan lokal maupun global. Salah satu langkah besar UMM yakni mendirikan dan menjalankan Direktorat Saintek UMM yang menjadi wadah hilirisasi hasil riset dan ide dosen maupun mahasiswa. “Kita ingin UMM dikenal bukan hanya karena kualitas akademiknya, tapi karena kebermanfaatannya bagi masyarakat. Setiap dosen adalah agen perubahan. Untuk itu, mari kita memperluas kolaborasi lintas bidang dan memperkuat riset yang memiliki nilai aplikatif,” tegasnya. (vin/wil)