Khofifah di Tanwir IMM: Kolaborasi untuk Negeri

Forum Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 29 Oktober 2025, menjadi ruang strategis bagi pertemuan gagasan antara tokoh nasional dan kader muda Muhammadiyah. Dalam forum tersebut, semangat kolaborasi dan sinergi lintas generasi menjadi titik tekan utama dalam membangun arah baru perjuangan kebangsaan. Turut hadir Gubernur Jawa Timur, Dr. Hj. Khofifah Indar Parawansa, yang menyampaikan pesan kuat tentang arti sinergi dan persaudaraan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Ia memuji inisiatif IMM yang mampu menghidupkan semangat kolaboratif dan menyiapkan generasi muda dengan orientasi kepemimpinan yang visioner. Ia mengajak seluruh kader IMM untuk terus berinovasi dan berpartisipasi aktif dalam agenda kebangsaan yang inklusif. Menurutnya, IMM tidak boleh terjebak dalam aktivitas seremonial semata. Tanwir harus dijadikan momentum memperkuat kesadaran kolektif dan tanggung jawab sosial kader muda terhadap nasib bangsa. Ia menilai, generasi muda Muhammadiyah memiliki energi moral dan intelektual yang besar untuk mendorong kemajuan Indonesia. “Tanwir IMM ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi ide luar biasa yang menghadirkan semangat menyiapkan masa depan bangsa dengan kolaborasi. IMM harus menjadi pelopor dalam membangun energi kolektif untuk negeri,” ujar Khofifah. Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur itu menegaskan bahwa generasi muda harus meneladani semangat para pendiri bangsa yang menjadikan kolaborasi sebagai napas perjuangan. Ia menyebut, IMM memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan sinergi di antara berbagai elemen masyarakat, baik di ranah sosial, politik, maupun pendidikan. “Persaudaraan antara Muhammadiyah dan NU luar biasa. Bagaiaman hubungan antara KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan, keduanya sama-sama mewariskan nilai-nilai kebersamaan dan perjuangan untuk umat. Kita harus menjaga warisan itu sebagai pijakan dalam membangun negeri. Bangunlah negeri ini dengan seluruh energi yang kalian miliki. Kolaborasi antar-ormas, antar-generasi, dan antar-daerah adalah kekuatan terbesar Indonesia,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Agung Danarto, M.Ag, dalam sambutannya menekankan pentingnya komitmen ideologis terhadap Pancasila dan NKRI sebagai fondasi perjuangan kader Muhammadiyah. Ia menjelaskan bahwa Tanwir IMM harus menjadi wadah penguatan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan yang seimbang, agar mahasiswa tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga matang secara moral. Ia mengatakan bahwa pengetahuan harus ditempatkan sebagai sarana pengabdian, bukan semata alat pencapaian pribadi. “Sejak Muktamar 2015, Muhammadiyah telah meneguhkan komitmennya bahwa negara Pancasila adalah Darul Ahdi wa Syahadah — negara hasil kesepakatan yang harus dijaga dan tempat pembuktian amal nyata. Langkah progresif IMM yang membuka ruang dialog dengan menghadirkan berbagai tokoh nasional lintas latar belakang ini mencerminkan kedewasaan intelektual dan komitmen IMM untuk terus memperluas cakrawala berpikir dalam membangun narasi kebangsaan yang konstruktif,” ujarnya. Dengan demikian, sebagai Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Tanwir IMM di kampus yang dikenal dengan semboyan “Kampus Putih” itu. Ia menilai forum ini bukan sekadar pertemuan organisasi, melainkan ruang strategis untuk mengonsolidasikan gagasan besar tentang masa depan Indonesia. Dengan semangat ‘Energi Kolektif untuk Negeri’, Tanwir XXXIII IMM di UMM menegaskan bahwa kolaborasi, persaudaraan, dan kesadaran ideologis merupakan kunci utama membangun bangsa. Forum ini menjadi bukti bahwa semangat mahasiswa Muhammadiyah tetap relevan dan dibutuhkan dalam perjalanan panjang Indonesia menuju keadilan dan kemakmuran. (vin/wil)

Tim Mahasiswa Ekonomi Pembangunan UMM Menangi Ajang Riset Nasional

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus didorong untuk menelurkan ide dan meraih prestasi. Salah satunya tim mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang berhasil meraih juara nasional dalam ajang bertajuk LPS Research 2025 promosing papers. Adapun ajang ini dilaksanakan pada awal Oktober ini dan menjadi wadah bersaing ratusan mahasiswa serta anak muda. Ketua tim Rafi Putra Zulkarnain menjelaskan bahwa karya yang mereka usung membahas mengenai enviromental social government (ESG). Rafi melanjutkan, tema tersebut dipilih karena masih belum banyak mahasiswa atau sivitas akademika yang mengkajinya lebih dalam. Pada pokoknya, mereka meneliti bagaimana peran bank dalam mengimplementasikan dana hijau atau ESG. “Kami menjawab dan menerangkan apakah ESG ini berpengaruh terhadap profitabilitas, efisiensi, serta daya saing bank itu sendiri? Mungkin karena jarang dikaji dan menarik sehingga tema ini mengantarkan kami menjadi juara,” katanya. Rafi, begitu ia kerap disapa, tidak sendiri dalam menyusun karya ilmiah itu. Ia dibantu oleh Erin Herawati dan Septi Kurniawati yang bahu membahu menyusun karya ilmiah yang sesuai, menarik, dan memberikan dampak yang baik. Menariknya, proses pembuatan karya itu menggunakan landasan beberapa mata kuliah yang mereka tempuh sebagai referensi. Misalnya mata kuliah Penilaian Kinerja Lembaga Keuangan, Perencanaan Strategis Industri Keuangan, Studi Kelayakan Pembiayaan, dan Ekonomi Makro Mikro. “Alhamdulillah segala puji syukur pada Allah atas prestasi ini. Kami juga tak lupa berterimakasih pada para dosen dan mahasiswa EP UMM atas dukungan serta bimbingannya. Prestasi ini menjadi motivasi kami dalam mengikuti kompetisi lainnya serta harapannya bisa melecut mahasiswa lain untuk berinovasi dan berprestasi,” pungkasnya. (*/wil)

Bahlil Buka Tanwir IMM di UMM, Bahas Etanol Tekan Angka Impor

Masa depan negara ini ada di tangan pemuda, tetapi bukan sembarang pemuda—melainkan mereka yang benar-benar menyiapkan diri. Hal itu ditegaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia Bahlil Lahadalia, S.E., M.Si., saat membuka Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bertema “Energi Kolektif untuk Negeri”. Pembukaan acara Tanwir IMM yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu berlangsung pada 29 Oktober 2025. Bersama gubernur Jawa Timur Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua PP Muhammadiyah Dr. Agung Danarto, M.Ag, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. dan Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., Bahlil membuka Tanwir IMM tersebut dengan memainkan dan memetik alat musik dawai. Suasana pembukaan berlangsung meriah, mencerminkan semangat kebersamaan dan simbol kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan kader muda Muhammadiyah dalam membangun energi kolektif untuk negeri. Adapun tema tersebut selaras dengan pesan utama Bahlil tentang pentingnya kemandirian bangsa yang hanya bisa terwujud melalui generasi muda yang siap berproses, berdaya saing, dan memiliki semangat kolektif membangun negeri. Dalam orasinya, Bahlil menekankan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh kesiapan pemuda untuk beradaptasi dan berinovasi, terutama dalam menghadapi tantangan energi dunia yang terus berubah. Ia menilai IMM memiliki peran strategis dalam mencetak kader pemimpin yang tidak hanya kritis secara intelektual, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan nasional. “IMM adalah kader yang kelak menjadi pemimpin negara ini. Jangan hanya berhenti pada wacana, tapi harus turun tangan mengeksekusi gagasan. Negara ini butuh anak muda yang punya visi dan keberanian mengambil keputusan,” ujarnya. Lebih jauh, Bahlil menyoroti arah kebijakan energi nasional yang kini difokuskan pada dua hal utama, yaitu kemandirian energi nasional dan transisi energi berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terus bergantung pada impor bahan bakar, karena hal itu dapat melemahkan kedaulatan ekonomi bangsa. Bahlil kemudian menyoroti persoalan energi yang tengah dihadapi Indonesia. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak sedang berbicara soal oplos bensin, melainkan tengah mengembangkan etanol sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berbasis pada kekayaan alam Indonesia sendiri. “Saya tegaskan, kita tidak bicara soal oplos bensin. Yang sedang kami kembangkan adalah etanol—energi bersih yang bisa dibuat dari jagung dan singkong. Ini bukan akal-akalan, tapi langkah nyata agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor,” tegasnya. Bahlil menjelaskan bahwa etanol merupakan bentuk bahan bakar bioenergi yang mampu menggantikan sebagian kebutuhan bensin, sekaligus mengurangi emisi karbon. Ia mencontohkan negara seperti Brazil dan India yang telah sukses mengembangkan industri etanol, sehingga dapat menekan biaya impor bahan bakar dan meningkatkan nilai ekonomi pertanian. Ia mengatakan kalau serius mengembangkan etanol, petani akan diuntungkan, lapangan kerja bertambah, dan devisa negara bisa diselamatkan. Maka Indonesia akan punya potensi itu, tinggal kemauan dan keberanian untuk mengeksekusinya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki bahan baku melimpah untuk memproduksi etanol, terutama dari hasil pertanian. Karena itu, ia mendorong agar riset dan inovasi di perguruan tinggi terus dikembangkan guna memperkuat ketahanan energi nasional. “Saya ingin mahasiswa, termasuk kader IMM, ikut terlibat dalam pengembangan energi alternatif ini. Jangan biarkan potensi negeri ini diambil alih pihak luar karena kita ragu untuk mulai,” tambahnya. Sebagai bentuk dukungan terhadap generasi muda, Bahlil juga mengumumkan pemberian 10 beasiswa kepada kader IMM berprestasi sebagai bentuk dukungan terhadap regenerasi sumber daya manusia unggul di bidang energi dan kepemimpinan. Ia berharap kader IMM menjadi pelopor inovasi yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam, nasionalisme, dan kemajuan teknologi dalam kerja nyata bagi bangsa. Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Sultan Bachtiar Najamudin, S.Sos., M.Si., turut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi dan lembaga dalam membangun masa depan Indonesia yang berkelanjutan. Ia memperkenalkan konsep Green Democracy, yakni demokrasi yang tidak hanya menekankan partisipasi politik, tetapi juga tanggung jawab terhadap lingkungan dan kesejahteraan sosial. “Tidak ada lagi namanya one man show. Membangun bangsa sebesar ini hanya bisa dilakukan dengan kolaborasi. Demokrasi kita harus pro-pemuda, pro-rakyat kecil, dan pro-ekologi,” ucap Sultan. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Tanwir IMM di kampus yang dikenal dengan semboyan “Kampus Putih” itu. Ia menilai forum ini bukan sekadar pertemuan organisasi, melainkan ruang strategis untuk mengonsolidasikan gagasan besar tentang masa depan Indonesia. “Tanwir IMM bukan sekadar forum seremonial, melainkan momentum untuk meneguhkan peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan. Kami di UMM berkomitmen mendukung lahirnya generasi muda yang berani, cerdas, dan siap memimpin masa depan Indonesia,” pungkasnya. (vin/wil)

Sivitas Akademika UMM Tegaskan Ikrar Sumpah Pemuda untuk Bangsa

Rilis berita UMM 28 Oktober 2025 Sivitas Akademika UMM Tegaskan Ikrar Sumpah Pemuda untuk Bangsa Bangun pemuda pemudi Indonesia, sepenggal lirik lagu perjuangan itu seakan mencerminkan Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 28 Oktober 2025. Semangat yang terkandung di dalamnya diwujudkan nyata oleh civitas akademika melalui Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025 yang dirangkai dengan Pelantikan Wakil Dekan, Ketua Program Studi, dan Sekretaris Program Studi Periode 2025–2029. Ini juga menjadi ajang meneguhkan kembali nasionalisme, persatuan, serta tanggung jawab generasi muda dalam mengisi kemerdekaan. Momentum yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda tersebut dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai organisasi kampus—mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU), Senat Mahasiswa Universitas (SEMU), BEM Fakultas (BEMFA), Senat Fakultas (SEFA), Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Mereka turut menghadiri acara dengan mengenakan pakaian adat daerah dan kostum pejuang. Nuansa kebangsaan terasa kuat di seluruh area kegiatan, menggambarkan keberagaman Indonesia yang berpadu dalam semangat persatuan dan cinta tanah air. Acara juga diisi dengan pembacaan Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU), Wahyuddin Fahrurrijal yang menegaskan komitmen mahasiswa terhadap Pancasila, bangsa, dan bumi Indonesia. “Kami, generasi muda dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang berjiwa satria dan bersemangat kebangsaan yang membara, akan senantiasa setia pada Pancasila dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami bertekad menjadi pelopor perubahan yang berkarakter kerja keras dan berkemajuan, serta siap bergotong royong membangun peradaban bangsa yang adil, makmur, dan berkeadaban tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. Kami berjanji melestarikan bumi, air, dan kekayaan alam Indonesia sebagai warisan suci untuk generasi mendatang,” katanya. Isi ikrar tersebut mencerminkan semangat Sumpah Pemuda yang dihidupkan kembali dalam konteks zaman modern. Mahasiswa UMM menegaskan kesetiaan mereka pada dasar negara Pancasila, sekaligus berkomitmen untuk menjadi motor perubahan sosial yang berkeadaban. Adapun kegiatan dilanjutkan dengan seluruh perwakilan Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) melakukan penandatanganan naskah Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa sebagai simbol komitmen kolektif. Melalui kegiatan ini, UMM menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan historis, melainkan prinsip hidup yang terus dihidupkan dalam setiap langkah akademik dan kepemimpinan. Pergantian kepemimpinan fakultas yang bersamaan dengan deklarasi tekad mahasiswa menjadi pesan kuat bahwa regenerasi di kampus harus berjalan seiring dengan semangat kebangsaan, keberlanjutan, dan perubahan yang bermakna bagi Indonesia. (vin/wil)

Inovatif, Semua Mahasiswa Baru UMM Diajari Coding

Dalam rangka mewujudkan visi menarik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), seluruh mahasiswa baru Gen 25 dibekali dengan keterampilan bahasa masa depan yaitu pemrograman. Para mahasiswa mengikuti pelatihan intensif selama 4 hari mengenai Computational Thinking dan dasar-dasar coding, dimulai dari 21 Oktober ini. Ini jadi salah satu dari 10 program utama Rektor UMM, yakni menekankan pentingnya penguasaan tiga bahasa bagi lulusannya. Yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan yang tak kalah penting, Bahasa Pemrograman. Aminuddin, S.Kom., M.Cs. selaku Kepala Sistem Informasi dan Pelatihan Digital menegaskan pentingnya logika dalam dunia coding. Logic dalam komputer kita tanamkan dalam bahasa pemrograman agar memudahkan untuk para pemula, bahasa Python dipilih sebagai dasar bagi pemula. Adapun materi yang diberikan berfokus pada dua pilar utama. Pertama, teori Computational Thinking, yaitu teori bagaimana komputer dapat berpikir layaknya manusia. Kedua, sintaks-sintaks dasar pemrograman. Pelatihan ini tidak hanya berhenti pada teori dikelas saja. Pasca pertemuan, mahasiswa diberi tugas untuk membuat mini proyek berupa kalkulator atau aplikasi kasir. Hal ini dirancang untuk mengasah pemahaman mereka tentang tiga trik inti pemrograman yaitu: input data, lalu pemrosesan, dan hasil akhir yaitu output data. Google Colab, sebagai alat yang dapat diakses secara gratis, menjadi platform andalan dalam pengerjaan proyek ini. Lebih lanjut, Amin melihat pelatihan ini memiliki dampak yang lebih luas, bahkan berpotensi menjadi batu loncatan untuk switch career. Pemrograman yang dipakai juga dapat digunakan untuk menampilkan halaman rekomendasi dan analisa data. “Jadi penelitian yang bersifat kuantitatif dapat kita olah menggunakan Python. Saya optimis, potensi ini terbuka lebar tidak hanya bagi lulusan eksakta tetapi juga rumpun sosial,” katanya. Ia juga menekankan bahwa literasi pemrograman sudah seharusnya tidak dibatasi ruang dan umur. Kurikulum programming tidak hanya terpaku pada jurusan informatika saja, bahkan sekarang di tingkat sekolah dasar juga mulai dikenalkan logikal programming. Harapannya, melalui pelatihan ini, literasi dan logika dasar mahasiswa dapat terbangun. “Karena pemrograman tidak hanya sintaks, tapi alur logic yang harus kita penuhi sehingga komputer mengerti dengan kita. Itu juga ada logikanya,” tambahnya. Di sisi lain, antusiasme terpancar dari Rahma Fariza Cahya Ningtyas, mahasiswi Agribisnis UMM. Ia menilai pelatihan ini sangat seru. Apalagi para instruktur pelatihan menjelaskan materi dengan cara yang mudah dan simpel. Meski begitu, ia mengakui bahwa ada beberapa kesulitan dalam proses memahami bahasa pemrograman. Misalnya salah menginput data yang berakibat pada sistem eror. “Pelatihan ini membuka wawasan saya, karna selama ini kita hanya pengguna dan sekarang sebagai pembuat. Hal ini menjadikan saya lebih tertarik ingin membuat hal baru dari coding-coding tersebut,” tuturnya. (nam/wil)

Rakernas Asosiasi Prodi Bahasa Indonesia se-Nasional Bahas Pemanfaatan AI untuk Pendidikan

Asosiasi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada 18–19 Oktober 2025 di Kapal Garden Sengkaling milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan tersebut diikuti oleh 30 program studi PBSI dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah di seluruh IndonesiaRakernas tahun ini mengusung tema “Revitalisasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Berbasis Kecerdasan Artifisial (AI) dan Nilai Kemuhammadiyahan Menuju Era Indonesia Emas.” Tema tersebut menjadi refleksi atas pentingnya integrasi teknologi dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan bahasa Indonesia di era digital. Kegiatan dibuka oleh Ketua Umum Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) PTMA, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. Ia menyoroti pentingnya pemartabatan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Ia mendorong agar asosiasi dosen bahasa Indonesia mampu memenuhi standar internasional serta memperluas jejaring kerja sama antarpengajar dan antarperguruan tinggi Muhammadiyah di berbagai negara. Menurutmya, asosiasi PBSI harus mampu berdaya saing baik secara nasional maupun global, sesuai dengan tuntutan pengguna jasa pendidikan. “Kita perlu menghidupkan kembali penelitian dan pengembangan bahasa Indonesia di luar negeri. Mengingat pentingnya inovasi dalam menghadapi persaingan global, terutama dengan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH). Maka Asosiasi PBSI harus berani melakukan terobosan yang inovatif, kreatif, dan inspiratif agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan saat ini,” ujarnya Sementara itu, Ketua Asosiasi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia LPTK PTMA, Prof. Dr. Sugiarti, M.Si. menegaskan bahwa inovasi pembelajaran berbasis kecerdasan buatan menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Kehadiran AI tidak dapat dinafikan. Justru itu, teknologi ini harus dimanfaatkan untuk pengembangan asesmen, laboratorium, dan peningkatan keterampilan mahasiswa. Program tersebut meliputi penyempurnaan basis data, pertukaran dosen dan mahasiswa, riset dan pengabdian kolaboratif, hingga berbagai kompetisi akademik dan nonakademik bagi mahasiswa. “Asosiasi perlu menyiapkan kompetensi inti bagi mahasiswa maupun dosen PBSI, seperti literasi digital dan media, keterampilan abad ke-21, serta pedagogi inovatif. Selain hal itu, Rakernas kali ini membahas penyusunan program kerja untuk lima tahun ke depan (2025–2029),” ujarnya. Kepengurusan baru tersebut akan segera menyusun langkah strategis berdasarkan rekomendasi Rakernas. Seluruh program diarahkan untuk memperkuat pengembangan Asosiasi PBSI agar lebih adaptif dan transformatif dalam menghadapi perubahan zaman, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai Kemuhammadiyahan. Rangkaian Rakernas yang berlangsung selama dua hari itu ditutup dengan pemilihan kepengurusan baru Asosiasi PBSI periode 2025–2029. Secara musyawarah dan mufakat, Prof. Dr. Sugiarti, M.Si. kembali terpilih sebagai ketua umum. (*/vin/wil)

Unik, Tim UMM Atasi Stunting di NTT dengan Ajari Bikin Makanan Penuh Gizi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali hadir mengambil peran vital dalam upaya penurunan risiko stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebuah program pengabdian masyarakat difokuskan pada Pelatihan Pengolahan Nutricorn yang secara inovatif memanfaatkan kekayaan bahan baku lokal NTT. Para warga diajari cara mengolah makanan kaya gizi berbahan dasar bahan yang ada di wilayah tersebut. Adapun agenda yang termasuk dalam Profesor Penggerak pembangunan Masyarakat (P3M) ini diawali pada Oktober 2025 dan terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan. Dahlia Elianarni, S.T.P., M.Sc. selaku dosen Ilmu Teknologi Pangan UMM, memaparkan fokus utama kegiatan ini. Dahlia menjelaskan urgensi dari program tersebut, mengingat data stunting di NTT yang masih mengkhawatirkan. Angka stunting di NTT ini cukup tinggi yaitu 18% sehingga NTT ini punya target untuk mengentaskan stunting sampai 14%. Untuk mencapai target tersebut, tim UMM memperkenalkan dua jenis olahan pangan yang diformulasikan khusus untuk balita sereal dan nugget. Inovasi pangan ini mengandalkan bahan-bahan lokal yang melimpah di NTT, seperti kelor, tepung jagung, dan tepung ikan. Kombinasi bahan-bahan tersebut dirancang untuk memberikan asupan gizi optimal. “Salah satunya kita bikin olahan produk yaitu yang pertama adalah sereal yang biasanya disukai oleh balita dan juga nugget,” ujar Dahlia. Pendekatan ini menjadi faktor penting dalam mencapai keberhasilan karena tidak hanya memastikan makanan yang dihasilkan tetap terjangkau dan mudah diakses. Namun juga memberdayakan ekonomi daerah melalui pemanfaatan bahan baku lokal yang melimpah. Respon positif dan semangat belajar datang dari para peserta pelatihan. Salah satu peserta, mewakili ibu-ibu rumah tangga setempat, mengungkapkan rasa terima kasih dan komitmennya. “Kesan kami untuk pembuatan makanan stunting, untuk mencegah stunting ini sangat baik dan sangat bagus untuk kami dan kami akan menerapkan kegiatan atau pelaksanaan makanan ini di tempat kami bekerja,” tuturnya dengan semangat. Lebih dari sekadar penurunan angka stunting, program ini memiliki dampak ekonomi berganda. Output dari kegiatan ini adalah mengentaskan angka stunting, selain itu juga bisa membuka usaha baru untuk warga sekitar, harapan setelah program ini disosialisasikan. Selain itu, program ini adalah transfer ilmu agar ibu rumah tangga di NTT dapat memproduksi dan menjual produk ini secara mandiri. Melalui sinergi antara akademisi dan masyarakat, program pengabdian ini membuktikan bahwa penurunan stunting dapat diiringi dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi. Harapannya, Nutricorn dapat menjadi ikon gizi lokal yang sukses menurunkan angka stunting dan membuka lapangan-lapangan usaha baru di NTT. (ali/wil)

Rektor UMM Datangi Venue Muktamar Muhammadiyah, Beri Ide Area Khusus Inovasi

Muktamar Muhammadiyah yang ke-49 di Medan, Sumatera Utara, tinggal menghitung bulan. Namun berbagai persiapan sudah dilakukan untuk memastikan proses acaranya berjalan lancar. Salah satunya dilakukan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. yang melakukan kunjungan lapang pada 25 Oktober 2025 ke lokasi utama Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Nazar tidak hanya melihat prosesnya, namun juga memberikan masukan terkait skema perhelatan Muktamar serta penataan venue agar lebih maksimal. Termasuk arahan untuk pembangunan gedung maupun hall yang dapat dimanfaatkan. “Saat ini, kondisi pembangunan venue acara tengah berjalan dan diprediksi akan rampung pada akhir 2026. Ini waktu yang sangat cukup sebelum menyambut Muktamar Muhammadiyah pada 2027 nanti,” kata Nazar. Sebagai rektor yang punya kemampuan mumpuni di bidang manajemen, Nazar juga ingin memastikan final terkait pengerjaan venue yang ada. Apalagi akan dihadiri oleh ratusan ribu bahkan jutaan warga Muhammadiyah dari penjuru Indonesia. Maka persiapan matang menjadi kunci pelaksanaan yang ideal. Satu masukan menarik dari Nazar adalah membuat area khusus untuk berbagai pameran hasil karya riset dan inovasi karya warga Muhammadi yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Termasuk semua lapisan warga Muhammadiyah, mulai organisasi otonom (ortom, amal usaha seperti sekolah dan kampus, hingga rumah sakit. “Jika area ini dapat terealisasi, maka ini bisa jadi kekuatan baru UMSU, yang membawa nama baik Muhammadiyah, untuk bisa menjalankan perannya sebagai organisasi rahmatan lil alamin. Organisasi yang menyebarkan rahmat ke masyarakat dan memberikan dampak nyata serta solusi untuk berbagai masalah,” katanya. (wil)

EMT Muhammadiyah Diakui WHO, Ini Peran Vital Dosen UMM

Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) resmi mencatatkan sejarah baru. Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah dinyatakan lulus verifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Ahad (19/10) di Aula Masjid KH Sudja’, Bantul, Yogyakarta. EMT yang terverifikasi milik Muhammadiyah merupakan EMT Type 1 Fixed, yaitu Melakukan pelayanan medis dasar dan kegawatdaruratan yang bersifat menetap di satu lokasi. Keberhasilan ini menandai EMT Muhammadiyah sebagai tim medis darurat pertama di Indonesia yang diakui secara internasional dan menjadi bagian dari jaringan EMT global dengan nomor urut ke-63 di dunia. Dalam proses penting ini, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., sekaligus Koordinator Bidang Pelatihan Penanggulangan Bencana MDMC PP Muhammadiyah turut memainkan peran strategis. Yaitu memastikan kesiapan dan kesejahteraan psikologis seluruh anggota tim sejak tahap persiapan hingga pasca-misi. Menurut Zakarija, peran psikolog dalam EMT bersifat vital, terutama dalam menjaga psychological well-being para anggota. “Sebelum berangkat, setiap anggota harus melalui proses screening psikologis untuk memastikan kesiapan mereka menghadapi situasi bencana yang berat dan tidak menentu. Setelah kembali, kami juga melakukan asesmen untuk memastikan kondisi mental mereka tetap stabil,” jelasnya. Selain melakukan pemantauan psikologis, Zakarija juga berperan dalam penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) bidang kesehatan mental yang menjadi bagian dari dokumen verifikasi WHO. Ia turut menyiapkan panduan triase pasien, serta protokol pelayanan Psychological First Aid (PFA) bagi masyarakat terdampak. “Karena psikolog di tim terbatas, kami juga melatih seluruh anggota agar mampu memberikan bantuan psikologis awal di lapangan,” tambahnya. Verifikasi WHO terhadap EMT Muhammadiyah mencakup dua tahap utama: pemeriksaan dokumen dan verifikasi lapangan pada 18–19 Oktober 2025. Dokumen-dokumen yang diuji seperti SOP, ketersediaan peralatan penunjang, termasuk instrumen asesmen seperti DASS-21, diperiksa secara mendetail untuk memastikan kesesuaian standar internasional dan sekaligus dicek apakah datanya sesuai dengan dilapangan. Proses tersebut berlangsung lancar dan berujung pada pengakuan resmi WHO. Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Syafiq Mughni, menyebut capaian ini sebagai ‘bukti nyata profesionalitas dan komitmen Muhammadiyah dalam bidang kemanusiaan global’. Bagi Zakarija, keberhasilan ini bukan akhir, melainkan awal tanggung jawab baru. “Dengan verifikasi WHO ini, EMT Muhammadiyah harus siap jika sewaktu-waktu ditugaskan di kawasan Asia-Pasifik untuk misi kemanusiaan lintas negara,” ujarnya. Ia berharap pencapaian ini dapat menginspirasi banyak pihak untuk turut serta dalam misi kemanusiaan seperti yang dilakukan Muhammadiyah. Keberhasilan EMT Muhammadiyah menjadi hadiah istimewa menjelang Milad ke-113 Muhammadiyah, sekaligus menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan gerakan sosial-keagamaan mampu menghasilkan karya nyata bagi kemanusiaan, baik di tingkat nasional maupun global. (bil/wil)

Waketu Dewan Pengawas Danantara di UMM: Danantara Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi

Perekonomian Indonesia dinilai membutuhkan mesin penggerak baru di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menembus stagnasi pertumbuhan di angka lima persen. Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. Muliaman Darmansyah Hadad, Ph.D., Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara Indonesia, dalam Studium General bertajuk “Peran Danantara dalam Meningkatkan Kualitas Ekonomi Indonesia: Membangun Generasi Emas, Berdaya & Mandiri”. Adapun agenda itu digelar oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 23 Oktober 2025. Dalam pemaparannya, Muliaman menjelaskan bahwa Danantara Indonesia dibentuk sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) atau dana kekayaan negara yang berfungsi mengelola aset dan dividen dari BUMN secara lebih produktif. Menurutnya, langkah ini menjadi strategi penting dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional yang berorientasi pada keberlanjutan dan kemakmuran lintas generasi. Danantara hadir bukan sebagai lembaga baru semata, melainkan sebagai instrumen pembangunan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan menyiapkan tabungan jangka panjang bagi bangsa. “Pertumbuhan ekonomi kita terlalu lama tertahan di sekitar lima persen karena tumpuannya hanya pada APBN. Kita butuh mesin ekonomi kedua yang bisa menggerakkan produktivitas, mengonsolidasikan aset negara, dan menyalurkannya ke investasi jangka panjang agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Danantara memiliki peran penting dalam mentransformasi aset-aset BUMN yang nilainya jika dikonsolidasikan mencapai sekitar satu triliun dolar AS. BUMN selama ini merupakan aset negara yang dipisahkan (sovereign asset), dan melalui Danantara diharapkan bisa memberikan sumbangsih ekonomi yang lebih besar bagi pembangunan nasional. Lembaga ini juga mengadopsi prinsip-prinsip tata kelola global (Santiago Principles) untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam setiap kebijakan investasinya. “BUMN adalah aset negara yang harus produktif. Tugas Danantara adalah memastikan aset-aset itu tidak lagi menjadi beban, tetapi justru menjadi kekuatan baru untuk membangun ekonomi nasional yang berdaya dan mandiri,” ujarnya. Dalam kesempatan itu, Muliaman juga menjabarkan empat alasan fundamental dibentuknya lembaga SWF, yakni sebagai tabungan antar generasi, sarana diversifikasi aset, pendorong pembangunan ekonomi, serta mekanisme untuk memaksimalkan hasil investasi jangka panjang. Berbeda dengan negara-negara penghasil minyak seperti Norwegia atau Uni Emirat Arab, Indonesia membangun SWF berbasis non-komoditas, dengan fokus pada hasil usaha BUMN dan aset-aset domestik yang dikelola secara profesional. Menurutnya, Danantara menempatkan investasi pada delapan sektor prioritas, antara lain energi terbarukan, mineral dan pertambangan, infrastruktur digital, jasa keuangan, kesehatan, pangan, serta kawasan industri dan properti. Arah kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus mempercepat transformasi menuju Indonesia Emas 2045. “Sumber kekuatan kita bukan minyak atau gas, melainkan kreativitas dan produktivitas bangsa sendiri. Karena itu Danantara berfokus domestik, namun tetap membuka ruang bagi investor global untuk berkolaborasi,” jelasnya. Sementara itu, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., selaku Wakil Rektor II UMM bidang Umum dan Keuangan yang mewakili Rektor, menyampaikan bahwa UMM mendukung penuh visi pembangunan nasional melalui peran pendidikan dan penguatan SDM. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa UMM berkomitmen menjadi bagian dari ekosistem pembangunan ekonomi bangsa. “Melalui Center of Future Work (CFW) dan Center of Excellence (CoE), UMM berupaya menyiapkan lulusan yang proaktif, tidak hanya siap kerja tetapi juga mampu menciptakan kerja. Semangat yang dibawa Danantara untuk membangun ekonomi mandiri sejalan dengan misi UMM sebagai kampus berdampak, yang terus berkontribusi menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045,” ujarnya. Dengan hadirnya kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami bagaimana arah kebijakan investasi nasional dan peran Danantara sebagai bagian penting dalam memperkuat ekonomi bangsa. Kolaborasi antara dunia akademik dan lembaga strategis seperti Danantara menjadi kunci untuk membangun generasi emas yang berdaya, mandiri, dan siap menghadapi tantangan global. (vin/wil)