HI UMM Gaet 9 Pemda, Branding Kota Berstandar Internasional

Sebanyak 32 mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) yang tergabung di program Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Paradiplomasi diterjunkan ke 9 kota dan kabupaten di Indonesia. Mereka akan turut serta pemagangan selama empat bulan periode September-Desember 2023. Para peserta bertugas membranding kota-kota terkait agar bisa mencapai standar internasional. Hafid Adim Pradana, koordinator CoE Paradiplomasi, mengatakan bahwa para mahasiswa akan dikirim ke sederet pemda. Seperti misalnya Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Probolinggo, dan Malang. Begitupun juga dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pariwisata Kota Batu, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Jember, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang. Sebelum terjun, para peserta juga dibekali dengan pemahaman dan pelatihan. Utamanya terkait peranan diplomasi substate actor, regulasi dan undang-undang, dan manajemen kerjasama luar negeri untuk pemerintah daerah. Selain itu juga skill untuk inventarisir potensi daerah dalma kaitannya untuk branding kota berstandar internasional. Sementara itu, salah satu mahasiswa yang bertugas di Surabaya, Hilal Wahid mengaku senang dan tertantang. Apalagi selama bertugas di sana, ia dan rekan-rekannya menjadi jembatan anatara Kota Surabaya dengan sederet kota di luar negeri. “terbaru, kami juga sudah sering berkoordinasi perihal agenda sister city bersama dengan Kota Kitakyushu, Jepang,” katanya menjelaskan. Dalam kemitraan itu, ia dan tim fokus pada branding Kota Surabaya menjadi kota berstandar internasional melalui pengembangan sumber daya manusia (SDM), transfer teknologi, optimalisasi pariwisata, hingga pertukaran pelajar. “Kami juga ikut mengatur strategi pengembangan kerja sama Kota Surabaya dengan kota-kota mancanegara lainnya, termasuk strategi media sosial,” pungkas Hilal. Adapun melalui program CoE Paradiplomasi ini, diharapkan mahasiswa HI UMM dapat berkontribusi aktif dalam implementasi Permendagri No. 25 Tahun 2020 tentang Tata Cara Kerja Sama Daerah dengan Pemerintah Daerah di Luar Negeri dan Kerja Sama Daerah dengan Lembaga di Luar Negeri. Sehingga, setelah lulus nanti para mahasiswa dapat menjadi diplomat muda yang berdaya saing internasional, namun tetap strategis bagi pengembangan daerah. (*/Wil)
Bikin Prototipe Alat Pendeteksi Pangan, Mahasiswa UMM Menangi Lomba Nasional

Banyak inovasi dan terobosan yang ditelurkan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah malang (UMM). Salah satunya yang digagas Aulya Mauizzati, mahasiswa Program Studi Akuntasi UMM angkatan 2021. Ia bersama empat anggota kelompok lainnya membuat prototipealat portabel untuk pengamanan produk pangan olahan yang diber nama Portable Tool-Anti Food Fraud. Alat ini juga sukses membawa mereka meraih juara tiga pada Bidang Hukum, Sosial dan Ekonomi di Mandalika Essay Competition 3 di Universitas Gunung Rinjani, NTB. Aulya, sapaannya, menjelaskan bahwa gagasan ini muncul dari banyaknya kasus pemalsuan produk pangan di Indonesia. Salah satunya penggunaan ayam tiren yang digunakan sebagai bahan dasar bakso di Kabupaten Bantul, Yogjakarta pada 2022 lalu. Hal ini ditambah dengan terbatasnya indera manusia dalam mendeteksi pemalsuan produk pangan tersebut. “Pemalsuan yang dimaksud adalah, penggunaan bahan-bahan yang tidak sesuai dengan yang disampaikan kepada konsumen. Misalnya produk yang seharusnya menggunakan daging ayam ternyata terbuat dari daging tikus. Alat ini diharapkan bisa mendeteksi bahan-bahan berbahaya yang tidak seharusnya ada pada makanan,” tambah Aulya. Cara kerja alat ini adalah dengan memasukkan sample makanan ke dalam tempat yang telah disediakan. Selanjutnya pada layar touchscreen, akan ditampil 3 menu atau ikon utama yaitu database, measure, dan setting. Pada database, terdapat empat menu turunan, yaitu input yang berisi data real dari sampel yang diperiksa dan data referensi mengenai ciri umum kepalsuan pangan yang pernah terjadi di Indonesia. “Kemudian ada juga penyimpanan data, yang digunakan untuk menyimpan data asli dari sampel yang diperiksa sebelumnya beserta data referensi. Ada pula menu perbandingan, di mana akan dilakukan proses perbandingan dari database dan data referensi yang disimpan sebelumnya. Terakhir ada menu hasil dan laporan yang akan mengeluarkan hasil perbandingan yang dilakukan sebelumnya,” tambahnya. Pada menu measure, terdapat empat menu turunan juga. Pertama, pengukuran pemalsuan untuk mengukur tingkat pemalsuan pangan yang sedang di deteksi. Kedua, pengukuran kualitas hasil untuk mengukur keakuratan hasil pendeteksi pemalsuan pangan. Ketiga, Pelaporan hasil untuk mencentak hasil pendekti alat portabel ini. Keempat, pemberitahuan yang berisi pemberitahuan tingkat pemalsuan. Mulai dari rendah, menengah atau tinggi yang ditandai dengan warna merah jika tinggi, warna kuning jika menengah warna hijau jika rendah. “Menu terakhir adalah setting. Pada menu ini tedapat 3 komponen, yaitu pengaturan alat pemindaian untuk mengatur sistem yang ingin digunakan untuk mendeteksi apakah inframerah, ultravuolet portabel, dan cahaya tampak. Lalu ada pengaturan data base untuk mengubah atau mengedit data yang terdapat pada database,” jelanya. Kemudian yang terakhiryakni keamanan dan pengaturan untuk melindungi akses dan mengontrol izin pengguna alat ini. Sehingga alat ini tidak dapat digunakan atau disalah gunakan oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab. Karena bentuknya baru prototipe, mereka baru mengkampanyekan alat tersebut. Harapannya bisa di realisasikan sebagai salah satu bentuk antisipasi dalam pemalsuan pangan berkelanjutan. Dalam pengembangannya, Aulya tidak sendiri. Ia ditemani Uni Fitratunnisa, Mohammad Mirzan Abdillah, Ivanya Anindhi dan Aida Aulia. (nov/wil)
Kukuhkan Internasionalisasi, UMM Tuan Rumah Pameran Pendidikan AS

Pameran pendidikan Education USA U.S. Graduate Fairs kembali digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 5 Oktober lalu. Para mahasiswa bisa langsung berinteraksi dengan 20 perwakilan dari sederet universitas di Amerika Serikat (AS) dan lembaga pengelola dana pendidikan (LPDP), Komisi Fulbright (AMINEF), dan Kedutaan Besar AS. Pameran tersebut juga menampilkan sesi tips membuat lamaran dan penulisan esai, personal branding, dan peluang beasiswa. Meskipun sebagian besar perwakilan universitas akan merekrut mahasiswa untuk program magister dan doktor di Amerika Serikat, pameran ini juga akan menampilkan sesi informasi bagi mahasiswa yang mencari program pertukaran jangka pendek dan program S1. Konsul Jenderal AS, Jonathan Alan yang hadir menyampaikan, berbagai universitas yang ada di Amerika tentu akan memberikan pelayanan terbaik untuk mereka yang memiliki dedikasi tinggi kepada dunia pendidikan. Misalnya saja dengan mempertemukan mahasiswa dengan praktisi yang berkompeten untuk meningkatkan pengetahuan yang dibutuhkan. Selain itu, dia juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta pameran atas antusias yang luar biasa dalam mengikuti agenda ini. Terhitung, ada ribuan peserta yang turut serta, mendapatkan banyak pengetahuan, dan beberapa bingkisan. Jonathan juga mengapresiasi UMM yang memiliki berbagai macam program unggulan, salah satunya Center of Excellence (CoE) yang juga memiliki tujuan untuk meningkatkan skill mahasiswa. Baik untuk keperluan dunia kerja industri maupun kemampuan riset. Menurutnya, hal itu juga bisa menjadi modal yang bagus bagi mahasiswa untuk melanjutkan studi yang lebih intensif. Dia juga menyampaikan kepada seluruh peserta untuk tidak ragu dalam mengorek informasi sedalam-dalamnya ke booth-booth yang telah disediakan. Apalagi event seperti ini sangatlah spesial dengan mendatangkan ihak dari berbagai universitas yang ada di AS. Seperti University of Michigan, Harvard University, New York University, dan lain sebagainya. Sementara itu, salah satu peserta pameran Tirtania Wijayanti mengaku sangat senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, event itu memudahkan mahasiswa yang ingin tahu lebih dalam terkait informasi melanjutkan pendidikan S2 ke AS serta berbagai beasiswa yang disediakan. Baik yang disediakan univesitas di AS atau juga pemerintah Indonesia. “Seru dan sangat bermanfaat. Kami bisa mendapatkan info detail dari masing-masing booth. Jadi, saat kami ingin mendaftar, kami tidak lagi bingung dan sudahtahu cara serta kiatnya. Bisa langsung mengobrol dan bertanya berbagai hal ke perwkailan universitas dan bahkan alumninya,” pungkas Wijayanti. (Faq/Wil)
UMM-SMAM 3 Bungah Ajak Siswa se-Kecamatan Ikuti Tiga Kelas Asyik

Puluhan siswa sekolah menengah pertama (SMP) se-Kecamatan Bungah, Gresik terlihat riuh dan aktif mengikuti tiga kelas coaching clinic. Aktivitas itu merupakan garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama dengan SMA Muhammadiyah 3 Bungah Gresik. Ada tiga kelas yang disajikan pada 6 Oktober itu, yakni kelas menjadi jurnalis cilik, pengolahan teknologi kompos, dan fun akunistic. Salah satu kelas yang menarik adalah kelas pengolahan teknologi Kompos yang diisi oleh dosen peternakan UMM Ir. Ali Mahmud, M.Pt. Ia mengajak anak-anak untuk memanfaatkan kotoran kambing dan menjadikannya produk bermanfaat. Mereka yang awalnya ogah-ogahan memegang kotoran, malah asyik dan penasaran dengan prosesnya. Adapun beberapa langkah pembuatan pupuk tersebut yakni menghamparkan kotoran kambing setebal 20-30 cm. Kemudian ditaburkan dolomit, abu dan decomposer. Kemudian menyiramnya dengan biofarm yang sudah dicampur dengan air dan menutup timbunan dengan terpal. Setelah didiamkan selama satu minggu, baru bisa diaduk. Terakhir, tunggu hingga tiga minggu dan pupuk sudah bisa digunakan. “Anak-anak awalnya jijik dan tidak mau memegang kotoran. Tapi mereka cukup penasaran dan akhrinya mau mencoba. Semoga kelas ini bisa menginspirasi mereka dan mungkin bisa dicoba bersama teman atau keluarga di rumah,” kata Ali. Kelas menarik lain adalah jurnalis cilik yang diisi oleh Maharina Novia M. Ikom. Anak-anak SMP didorong menjadi pribadi yang kritis melalui latihan bertanya yang baik. Setelah itu juga diajari bagaimana menyampaikan sebuah info atau berita dengan maksimal. Baik secara tulisan maupun lisan layaknya reporter dalam sebuah program berita. “Kami membawa dan menggunakan prompter serta greenscreen agar teman-teman SMP benar-benar tahu serta merasakan bagaimana menjadi reporter. Membacakan berita, menghadap kamera, dan langsung melihat potret dirinya dengan teknologi greenscreen. Semoga bisa memotivasi anak-anak untul terus meraih mimpinya,” tegasnya. Di sisi lain, Kepala Sekolah SMAM 3 Bungah Mufrikha S.Pd., M.M. mengapresiasi program yang dilakukan UMM di sekolahnya. Apalagi ketiga kelasnya dibalut dengan asyik sehingga anak-anak tidak bosan dan ikut aktif. Siswa-siswi SMP yang datang juga beragam dari beberapa desa yang ada di kecamatan Bungah. “Semoga kegiatan ini memberikan manfaat bagi banyak orang. Kami tentu akan melaksanakan program-program asyik lainnya. Bukan hanya menyasar anak-anak SMP maupun SMA, tapi juga untuk masyarakat luas,” pungkasnya mengakhiri. (*wil)
ICEdu UMM Kaji Teknologi, Sebut AI Tidak Lebih Pintar dari Bayi

Perkembangan teknologi begitu menjamur di kalangan masyarakat. Mulai dari gawai, alat sehari-hari, hingga perkembangan alat bantu manusia seperti Artificial Intellegent (AI). Teknologi AI dapat dikatakan memiliki perkembangan yang sangat pesat. Tak jarang hal ini membuat masyarakat resah dan takut digantikan oleh kecerdasan buatan. Namun pernyataan ini dibantah oleh Prof. Stella Christie, Ph. D. dalam forum Internasional Conference on Education (ICEdu) kedua yang diadakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Oktober ini. Menurutnya, kecerdasan buatan tidak akan bisa menggantikan manusia. “Dari penelitian yang saya lakukan, kecerdasan buatan itu sebenarnya tidak lebih pintar dari bayi berusia dua tahun,” tegasnya. Stella mengatakan, kecerdasan buatan tak perlu ditakuti. Manusia tidak akan digantikan oleh kecerdasan buatan di bidang pendidikan, pekerjaan, maupun bidang lain. Karena kecerdasan buatan pasti memerlukan manusia untuk membantunya terus berkembang. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri AI juga harus diimplementasikan di dunia pendidikan. Utamanya dalam upaya membantu siswa untuk berkembang mengikuti zaman. Begitupun dengan meningkatkan kemampuan dan jiwa kompetitif siswa sehingga bisa berdaya di dunia yang sebenarnya. Maka, Stella menilai teknologi memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Adapun gelaran internasional yang menginjak tahun kedua itu membahas rinci mengenai pemberdayaan dan keunggulan pendidikan. Turut hadir para praktisi, dosen, hingga peneliti dari berbagai bidang di Indonesia. Di sisi lain, untuk menanggapi teknologi yang semakin mutakhir khususnya di dunia kerja, pemateri lain Associate Prof. Dr. Zulnaidi Yaacob memberikan buah pemikirannya. Menurutnya, ekosistem kewirausahaan juga harus ada di perguruan tinggi. Hal ini dapat melatih mahasiswa dan mengasah kemampuannya menghadapi dunia industri. Dunia industri, teknologi dan pendidikan harusnya bisa dikolaborasikan menjadi satuan struktur yang saling membangun satu sama lain. Misalnya dengan memasukkan nilai-nilai kewirausahaan ke kurikulum pembelajaran bagi setiap mahasiswa. Hal itu yang biasa disbeut dengan kurikulum katalis. Yaitu kurikulum yang diubah dari teori menjadi sistem yang lebih aplikatif. Mahasiswa diajari mengimplementasikan apa yang telah ia dapatkan di bangku kuliah agar semakin terasah dan siap terjun ke dunia kerja. “Hal ini juga bisa menjadi empowering education atau pemberdayaan pendidikan. Yaitu mampu meningkatkan taraf pendidikan siswa maupun mahasiswa serta mengurangi kesenjangan keterampilan pendidikan,” katanya menambahkan. Hal serupa juga sudah dilaksanakan oleh UMM, yaitu menjalankan pendidikan yang membekali mahasiswa dengan skill yang sesuai dengan kebutuhan industri. Proses itu terjadi melalui Center of Excellence (CoE). Tak hanya dibekali materi, mahasiswa juga dibekali dengan kemampuan spesifik untuk mendukungnya di dunia kerja. Dengan adanya teknologi, mahasiswa diharapakan lebih mengenal dunia dan siap bersaing serta berkolaborasi dengan teknologi. Karena, semakin maju teknologi akan mendorong masyarakat untuk terus berkembang mengikuti zaman. Jika tidak mengikuti zaman, masyarakat bisa tertinggal dan sulit memasuki dunia global. (tri/wil)
Kenapa Anak Pakai Kacamata Sejak Dini? Ini Penjelasan Dosen UMM

Seringkali kita mendapati anak-anak di usia dini sudah menggunakan kacamata. Hal ini biasanya terjadi karena kelainan refraksi. Yaitu kondisi di mana bayangan yang terbentuk di retina mata, tidak tajam maupun tegas. Karenanya penglihatan menjadi kabur. Apa saja penyebabnya? Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dr. Aryani Vindhya Putri, Sp.M. menjelaskan, kondisi ini terjadi karena pemanjangan atau pemendekkan ukuran bola mata. Semakin panjang ukuran bola mata, maka minusnya akan semakin tinggi. Sebaliknya, jika ukuran bola mata semakin pendek, maka plusnya yang akan semakin tinggi. Panjang pendeknya ukuran bola mata ini, utamanya dipengaruhi oleh faktor keturunan. Meski demikian, beberapa faktor lain juga turut menjadi penyebabnya. “Pertama adalah penggunaan gadget yang berlebihan. Aktivitas ini dapat memperparah terjadinya mata minus,” kata Aryani. Dewasa ini, banyak anak-anak yang diberikan akses gadget oleh orang tuanya. Padahal menurut penelitian, anak usia 0-2 tahun tidak dibolehkan menggunakan gadget. Bagi yang usianya diatas 2 tahun, penggunaan gadget juga harus dibatasi yakni maksimal 2 jam per hari. “Selain itu, agar mata tidak lelah, jangan lupa untuk menggunakan ‘rule of twenty’. Yaitu 20 menit melihat gadget, kemudian istirahat 20 detik dengan cara melihat benda sejauh 20 kaki, atau setara dengan 5-6 meter. Ini dilakukan agar mata kita tidak tegang dan lelah,” katanya. Faktor lain yang menyebabkankan seorang anak harus mengenakan kacamata sejak dini adalah seringnya membaca ditempat minim pencahayaan. Dalam kondisi ini, mata harus “memaksakan diri”. Oleh karena itu, Aryani berpesan untuk para orang tua agar memeprhatikan kesehatan mata anak. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan penglihatan, hendaknya segera memeriksakan diri ke dokter mata. Beberapa tandanya adalah sering memicingkan dan mengucek mata, membaca dengan jarak yang terlalu dekat hingga kesulitan fokus karena penglihatannya yang buruk. “Kalau mata anak sudah terbiasa tidak melihat jelas, maka otaknya pun tidak terbiasa untuk melihat jelas. Kalau sudah begini, akan menyebabkan mata malas pada anak. Jika sampai telat sadar, memakai kacamata ukuran berapapun penglihatannya tidak akan bisa maksimal,” jelasnya. Di akhir, Aryani berpesan, jika berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter mata memutuskan agar anak memakai kacamata, hendaknya orang tua tidak perlu takut atau berkecil hati. Penggunaan kacamata akan mencegah terjadinya mata malas. “Dengan menggunakan kacamata, anak jauh lebih fokus, penglihatannya juga lebih baik dan otaknya pun bisa tetap berkembang maksimal,” pungkasnya. (*dev/wil)
Profesor Penggerak UMM Sukses Panen Padi Organik di Bali hingga 12,5 Ton per Hektar

Kontribusi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) aspek pertanian di Subak Bengkel, Tabanan, Bali memberikan hasil yang bagus. Hal itu dapat dilihat dari panen perdana beras organik yang mampu menghasilkan 9 hingga 12,5 ton per hektar di lahan yang diproses dengan sistem organik. Turut hadir dalam panen perdana itu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan I Made Subagia, Perwakilan Unesco, hingga Asisten Bupati Tabanan Bidang Perekonomian dan Pembangunan Gede Dalem Trisna Ngurah. Beberapa bulan sebelumnya, sederet tim beserta Rektor UMM dan pemerintah daerah setempat juga telah melakukan penanaman padi organik. Kemudian pada bulan ini, hasil dari penanaman tersebut akhrinya bisa dipanen. Adapun kontribusi dan bimbingan ini merupakan bagian dari program UMM yang disebut dengan Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M). Sebelumnya, Kampus Putih juga sukses bekerjasama dengan berbagai daerah seperti Bondowoso, Jember, dan lainnya. Ini juga upaya UMM untuk turut serta mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk menjaga kelestarian warisan budaya Subak di Bali. Ketua tim UMM Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P. menjelaskan pengerjaan proyek dan demplot tersebut berada di sembilan titik yang luasnya 6,5 hektar ditambah dengan 1,6 hektar. Ada dua tipe beras yang dihasilkan. Pertama, beras sehat yang dalam prosesnya ada pengurangan pupuk kimia 50 persen. Jumlah produk pertama yang dihasilkan mencapai 12,5 ton per hektar. Sementara produk kedua adalah beras yang dihasilkan secara full organik. Produk ini mampu dihasilkan sebanyak 9 ton per hektar. “Angka ini sudah tergolong bagus karena hasil dari penanaman secara organik biasanya menurun pada percobaan pertama dan baru meningkat pada percobaan ketiga atau empat. Sementara di Subak Bengkel ini hasilnya sangat memuaskan dengan sembilan ton per hektar pada penanaman pertama,” kata Indah, sapaannya. Ia mengatakan bahwa UMM tidak hanya mendampingi petani pada proses budidaya saja. Namun juga dari bagaimana petani menghasilkan produk saprodi seperti pupuk padat dan cair organik, pestisida hayati, proses pengolahan tanah, pengelolaan air dan lain sebagainya. Menurutnya, hasil baik ini menjadi bukti kerjasama yang apik antara pemerintah kabupaten Tabanan, para petani di Desa Bengkel, dan tenaga ahli dari UMM. Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian Tabanan I Made Subagia mengatakan, hasil bagus ini tidak lepas dari proses yang panjang. Baik itu proses kelembagaannya, peningkatan sumber daya mansua, dan lainnya. Termasuk terkait bimbingan dan dampingan dari dinas pertanian, tim Kampus Putih UMM serta Unesco. Sehingga beras organik dengan nama Asasta bisa diproduksi dengan baik. Apalagi didukung dengan adanya tempat pengolahan sampah berbasis reduce reuse dan recycle (PS3R) yang ada di lokasi. Sehingga mampu menghasilkan dan memodifikasi pupuk organiks ecara mandiri yang memiliki kandungan yang sesuai dengan kebutuhan petani. Hal serupa juga disampaikan Perbekal Desa Bengkel I Nyoman Wahya Biantara. Pihaknya mengapresiasi bimbingan dan arahan dari UMM terkait pertanian organik di Desa Bengkel. Menurutnya, hasil yang didapat cukup menggembirakan hingga 9-12,5 ton per hektar. Ia mengaku, ada beberapa kendala dalam prosesnya, terutama terkait perubahan pola dalam menanam dan larangan menggunakan bahan kimia. “Kerja keras semua pihak terbayar lunas dengan hasil yang menggembirakan ini. Ke depan, kita bisa terus meningkatkan roda perpurataran sirkulasi ekonomi dengan lebih baik lagi. Mulai dari hulur ke hilit,” pungkasnya mengakhiri. (*wil)
Berkat Teliti Pariwisata Halal, Dosen UMM Raih Dana Hibah Dikti

Pariwisata halal menjadi tren baru dalam industri kepariwisataan. Negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan maupun Taiwan bahkan menyiapkan model pariwisata halal sekalipun mereka bukan negara berpenduduk mayoritas muslim. Hal itu sebagai bentuk persiapan untuk menyambut wisatawan mancanegara (wisman) dari negara berpenduduk mayoritas Muslim, seperti Malaysia, Qatar, Saudi Arabia termasuk Indonesia Realita tersebut menginspirasi Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sholahuddin Al-Fatih untuk meneliti dan mengahsilkan model pariwisata halal berkelanjutan. Dalam pengerjaannya, ia juga menggaet dua dosen dari institusi lain yakni Abdul Kadir Jaelani (UNS) dan Ahmad Siboy (Unisma). Gayung bersambut, kolaborasi riset mereka berhasil mendapatkan hibah Dikti Tahun 2023-2024. “Pariwisata halal itu bukan soal agama, ya. Tetapi pada aspek hospitality, keramahan, dan kualitas sarana dan prasarana yang sudah terstandarisasi dengan baik,” kata Fatih menjelaskan. Menurutnya, selama ini kebanyakan masyarakat salah kaprah memahi konsep pariwisata halal dan seringkali mengaitkannya dengan isu agama. Adapun model pengelolaan kepariwisataan halal berkelanjutan yang ditawarkan oleh Fatih dan kolega, bertitik tolak pada jaminan hukum serta implementasinya. “Selama ini, aspek ini hanya diatur soal pariwisata dalam undang-undang, juga Fatwa DSN Majelis Ulama Indonesia. Namun belum ada produk legislasi yang mengatur secara konkret pariwisata halal itu sendiri. Padahal hal ini sangat penting dan strategis,” tegas dosen fakultas hukum itu. Adapun penelitian itu berlangsung selama dua tahun, tepatnya pada tahun 2023 hingga 2024. Ada tiga destinasi yang akan diteliti, yakni Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau. Beberapa hal yang dihasilkan berupa buku, artikel ilmiah dan model pengaturan pariwisata halal. Semua itu dipublikasikan dan diserahkan kepada pihak terkait, seperti Kemenparekraf, Dinpar hingga Lembaga Legislaslatif. (*/wil)
Mahasiswa BIPA UMM Asal Vietnam Menangi Lomba Nyanyi se-Jatim

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya mendorong mahasiswa lokal untuk meraih prestasi, namun juga para mahasiswa internasionalnya. Salah satunya mahasiswa Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) yang berasal dari Vietnam, Nguyễn Hoài Ngân. Ia berhasil meraih juara 2 dalam lomba menyanyi se-Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur di Hotel Yello Jemursari, Surabaya, 3 Oktober lalu. Setidaknya lomba tersebut diikuti oleh para peserta yang merupakan pemelajar asing yang berkuliah di universitas-universitas di Jawa Timur. Lebih lanjut, Ningsih sapaan akrabnya, mengaku telah mempersiapkan lomba tersebut selama beberapa hari. Ia akhirnya juga memiliih dan membawakan dua lagu, yakni Indonesia Jaya dan Maju Tak Gentar. “Saya latihan terus menerus dalam 3 hari. Menguasai nada, intonasi, pelafalan dan juga menghafal lirik lagu yang saya bawakan. Cukup menantang dan membuat saya deg-degan,” katanya. Tidak hanya itu, mahasiswa yang memang memiliki hobi menyanyi itu, juga mengalami demam panggung sesaat sebelum tampil. Namun beruntung, dukungan para staf BIPA UMM membuatnya tegar dan mampu tampil dengan maksimal. Ia juga bangga dan senang bisa menorehkan juara dua di lomba tingkat Jawa Timur itu. “Rasa gugup tentu saya rasakan. Tapi itu saya patahkan dengan rasa percaya diri dan dukungan dari pendamping BIPA. Terimakasih juga kepada UMM yang memfasilitasi hobi saya dan mengantarkan saya menjadi juara” tambahnya senang. Terakhir, dia berpesan kepada seluruh mahasiswa BIPA yang ada di UMM untuk tidak ragu dalam mengembangkan potensi yang dimiliki. Apalagi mengingat UMM senantiasa memberikan wadah serta sarana prasarana yang mumpuni untuk pengembangan potensi. “Saya sangat berharap setiap mahasiswa di BIPA dapat mengembangkan potensinya sehingga bisa meraih prestasi dan mengharumkan nama kampus,” pesanya mengakhiri. Adapun keikutsertaan Ningsih merupakan bentuk komitmen dari BIPA UMM untuk mewadahi minat dan bakat yang dimiliki mahasiswa asing. Hal itu juga selaras dengan misi BIPA yakni untuk memberikan pelayanan pembelajaran bahasa, seni, dan budaya yang mampu memenuhi kebutuhan dan harapan penutur asing. Sebelumnya, Ningsih juga seringkali diminta untuk mengisi dan tampil di beberapa kegiatan besar kampus. Misalnya saja pada penutupan Pesmaba, pentas seni, bahkan saat wisuda. (*faq/wil)
Dosen Fisioterapi UMM Beri Tips Atasi Saraf Terjepit

Saraf terjepit atau yang sering dikenal dengan kecetit merupakan tekanan pada saraf oleh jaringan-jaringan sekitar. Misalnya oleh otot, tulang atau ligamen. Hal ini umum terjadi pada persarafan tulang belakang. Efeknya bisa didapati nyeri menjalar di leher, lengan, pinggang, kaki, dan beberapa tempat lainnya. Menurut dosen Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Siti Ainun Ma’rufa, S.Ft., Ftr., M.Sc., penyebab saraf terjepit adalah pertambahan usia yang membuat kelenturan tulang belakang berkurang. Seiring bertambahnya usia, bantalan tulang belakang juga bisa menipis, hal ini bisa beresiko menyebabkan gesekan antar tulang hingga menjepit saraf. “Penyebab lainnya yakni trauma seperti kecelakaan, cedera olahraga, dan terjatuh. Selain itu, kondisi obesitas, postur tubuh yang tidak tepat ketika beraktivitas dan melakukan gerakan secara terus-menerus juga menjadi faktor resiko saraf terjepit,” tambahnya. Ainun, sapaannya, juga menyampaikan bahwa gejala yang biasa dirasakan yakni nyeri menjalar. Namun tidak jarang diirngi dengan kesemutan, rasa terbakar, mati rasa, hingga lemahnya otot di bagian tubuh yang mengalami saraf terjepit. Lalu, bagaimana terapi pertama yang bisa kita lakukan jika mengalami hal ini? Ainun menjelaskan ada latihan fisioterapi yang bsia dilakukan pada pednerita sarat kejepit. Latihan ini bisa meringankan rasa nyeri. Yakni dengan melakukan stretching (peregangan) juga strengthening (penguatan). “Gerakan tersebut meliputi knee to chest stretching, glutes bridging, pelvic tilting, leg raise dan lain-lain. Selain itu, kompres dingin dan hangat juga bisa diberikan pada area nyeri yang dirasakan,” tambahnya. Dalam beberapa kasus, penderita saraf terjepit harus menjalani rangkaian pemeriksaan penunjang terlebih dahulu untuk mendapatkan diagnosis. Terapi farmakologi juga biasa diberikan pada pasien untuk mengurangi gejala nyeri. “Akan tetapi pada kondisi yang lebih parah, ditemukan penjepitan saraf karena hernia nucleus pulposus atau spondilolistesis yang menyebabkan kondisi tulang belakang bergeser dari posisi normal. Maka tindakan operatif akan diberikan pada kasus ini,” tambahnya. Di akhir Ainun menegaskan bahwa kondisi saraf terjepit bisa terjadi berulang. Karenanya, menjaga gaya hidup sehat mutlak harus dilakukan. “Sangat dianjurkan pula pada penderita untuk membiasakan duduk dan berdiri dengan postur yang baik, melakukan pola hidup sehat untuk menjaga berat badan ideal, serta olahraga dengan teratur,” pesannya. (*sep/wil)