UMM Komitmen Penuh Capai SDGs dan Lingkungan Kampus Hijau

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut aktif di berbagai kegiatan bermanfaat, salah satunya terkait aktivitas menciptakan keberlanjutan lingkungan di dunia akademik. Komitmen itu dibuktikan dengan keikutsertaan UMM di UI Greenmetrik sejak 2020 lalu. “Perguruan tinggi tidak hanya sekadar fokus pada proses belajar mengajar, tapi juga harus bisa menciptakan kondisi yang mendukung pembelajaran serta kampus hijau. Adapun UI Greenmetric adalah pemeringkatan dunia yang menetapkan standar infrastruktur dan tindakan menuju infrastruktur berkelanjutan di seluruh dunia,” kata Asisten Rektor bidang Akreditasi Internasional UMM Suparto, M.Pd. Disebutkan Suparto, ada 900 universitas di seluruh dunia yang turut bergabung. Selain itu ada enam indikator utama dalam program ini, yakni aspek lingkungan dan infrastruktur, energi dan perubahan iklim, serta pengelolaan limbah. Begitupun dengan transportasi serta pendidikan dan penelitian. Untuk mencapai indikator itu serta menjadi sustainabel university, Kampus Putih juga telah melaksanakan beragam program. “Sebagai kampus, kami sudah melakukan penelitian dan pengabdian terkait keberlanjutan lingkungan, menyediakan fasilitas untuk disabilitas, mengurangi area parkir dengan membangun parkir bertingkat, bahkan menyediakan air siap minum yang steril di beberapa titik kampus. Hal lainnya seperti pengoperasian mobil listrik sebagai transportasi umum, TPS terpadu dan pembangkit listrik tenaga mikro hidro, panel surya, biogas juga sudah kami lakukan,” terang Suparto. Dosen UMM itu juga mengatakan, Kampus Putih juga telah banyak berdiskusi terkait praktik terbaik dengan berbagai lembaga. Keterlibatan UMM di UI Greenmetric juga dapat dilihat secara konkret melalui sumber daya intelektual, infrastruktur, dan kemampuan untuk menjalankan penelitian yang inovatif dalam bidang-bidang terkait lingkungan dan keberlanjutan. Keterlibatan generasi muda, termasuk mahasiswa UMM, juga menjadi daya dukung yang strategis. Salah satu caranya yakni dengan memasukkan keberlanjutan dalam kurikulum dan mempromosikan perilaku berkelanjutan. “Kami tentu terus mempromosikan konservasi energi dan air, daur ulang sampah, dan transportasi ramah lingkungan. Apalagi melihat banyaknya isu lingkungan dan perubahan iklim yang mempengaruhi semua lini kehidupan. Hal itu terlihat dari suhu udara yang lebih panas, terganggunya siklus hidrologi, hingga maraknya bencana hidrometeorologi di berbagai belahan dunia,” katanya. UMM juga mendorong mahasiswanya untuk turut serta dalam upaya mencapai Sustainabel Development Goals (SDGs), termasuk di dalamnya kampus hijau. Misalnya saja dengan menyelenggarakan pendidikan berkelanjutan, penelitian berkelanjutan, kemitraan dengan masyarakat, dan konservasi lingkungan. Begitupun dengan pembangunan yang inklusif serta kesetaraan dan Inklusi. “Melalui komitmen terhadap SDGs, UMM tidak hanya menjadi lembaga pendidikan tinggi yang unggul secara akademik, tetapi juga menjadi pionir dalam perubahan menuju masyarakat yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Dengan langkah-langkah konkret ini, UMM berperan untuk menjaga kesejahteraan ekonomi masyarakat, keberlanjutan kehidupan sosial, kualitas lingkungan hidup, serta pembangunan yang inklusif, dan berusaha untuk mewariskan dunia yang lebih baik untuk generasi mendatang,” kata penanggungjawab program Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes. (*/wil)
Sukses Cetak SDM Andal Bidang Branding, SCDC UMM Mulai Tahun Kedua

Center of Excellence (CoE) School of Creative Digital Communication (SCDC) yang dimiliki Prodi Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memasuki tahun kedua. CoE ini optimis melahirkan talenta muda yang ahli dalam social media for branding, digital marketing, content creator, social media analysis, serta copywriting. Hal itu ditegaskan langsung oleh Ketua Prodi Nasrullah, M.Si. pada acara SCDC Inaugural di Ballroom Rayz Hotel UMM, 29 September lalu. Pada batch 2 atau tahun kedua ini, ada 40 mahasiswa yang mengikuti program COE SCDC. Setidaknya mereka akan mengikuti program tersebut selama dua semester. Tidak lupa, bahwa COE tersebut juga bekerjasama dengan berbagai dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Di antaranya PT. Trinusa Sosialoka Indonesia, ID Digital Entertainment, PT. Satoria Aneka Industri, Lembaga Sensor Film Republik Indonesia, hingga Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) diberbagai daerah di Indonesia. “Tahun pertama kemarin ada 30 mahasiswa yang mengikuti program COE ini. Melihat tingginya antusias dan kebutuhan dari DUDI, tahun ini kami tambah kuotanya menjadi 40 mahasiswa yang telah mengikuti seleksi ketat. Para mahasiswanya yang menjadi peserta juga akan mendapatkan konversi mata kuliha sebanyak 20 SKS di setiap semesternya,” jelasnya. Turut hadir Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. yang menyampaikan bahwa CoE hadit untuk menjawab kebutuhan DUDI terkait sumber daya manusia yang unggul di dunia kerja. Dia sempat menceritakan pengalamannya duduk bersama dengan petinggi perusahaan yang seringkali mengeluhkan kualitas SDM para fresh graduate. “Salah satu alasan awal adanya COE itu sebagai jawaban atas keresahan pimpinan perusahaan akan kualitas lulusan universitas di Indonesia. Akhirnya UMM memberikan terobosan yang menarik yakni CoE yang mencetak lulusan dengan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan DUDI. Jadi saat masuk ke perusahaan, mereka tidak perlu lagi training karena sebenarnya mereka sudah memilikinya saat mengikuti CoE,” kata Fauzan. Sementara itu, Fauzia Hanifa salah satu peserta COE SCDC Batch 1 mengaku ada berbagai ilmu yang ia dapatkan selama mengikuti program itu. Dia mengatakan, para praktisi yang dihadirkan sangat cakap membimbing para peserta. Apalagi mereka memang ahli, terjun dan bekerja langsung terkait apa yang diajarkan. Ia dan rekan-rekannya juga berkesemmpatan untuk magang di DUDI, sehingga tidak hanya materi yang didapat dari para praktisi, tapi mereka benar-benar turut bekerja dan berlatih di berbagai lokasi di bidang social branding. “Salah satu yang sangat membantu adalah pembelajaran yang runtut, mulai dari grand design mengelola media, manajemen medsos, hingga peningtakan branding. Tidak sekedar teori saja, namun terdapat praktik langsung setelah diberikan teori,” pungkasnya menjelaskan. (*faq/wil)
Bosan dan Kurang Produktif? Ini Solusi Jitu dari Dosen UMM

Pekerjaan adalah bagian penting dari kehidupan manusia untuk mencari nafkah dan eksistensi diri. Namun tak dapat dipungkiri bahwa terkadang rasa bosan datang menghampiri. Jika tidak diatasi, hal ini akan memberikan dampak negatif bagi karyawan atau individu yang bersangkutan maupun perusahaan. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Devina Andriany, M.Psi. menyampaikan sebelum mencari tahu cara mengatasi kebosanan, perlu ditekankan bahwasanya kebosanan berbeda dari burnout. “Kebosanan terjadi ketika tugas-tugas pekerjaan kurang menantang, sedangkan burnout terjadi karena stres kronis terkait pekerjaan. Tanda-tanda awal burnout meliputi kelelahan ekstrem, hilangnya motivasi, serta munculnya berbagai gejala fisik,” jelasnya. Devina melanjutkan, karena berbeda, strategi mengatasi dua kondisi tersebut juga berbeda. Untuk mengatasi kebosanan, diperlukan penambahan tugas yang lebih menantang, sedangkan untuk mengatasi burnout, manajemen stres dan self-care adalah kunci. “Positifnya, kebosanan dapat menjadi motivasi bagi karyawan untuk membuat perubahan pada pekerjaan mereka. Mencoba menyelaraskan minat pribadi dengan pekerjaan, mencari tantangan baru, atau mengembangkan keterampilan baru,” tambah Devina. Untuk mengatasi kebosanan, dosen Devina menambahkan ada beberapa strategi yang dapat dilakukan yaitu menerapkan mindfulness untuk fokus pada tugas. “Selain itu, menetapkan tujuan yang jelas sehingga meningkatkan semangat dalam melakukan sesuatu. Hal lain yang bisa dilakukan yakni mencoba hobi di luar pekerjaan yang menyenangkan. Terakhir, bisa juga dengan merayakan keberhasilan kecil untuk mengatasi fenomena kebosanan,” urainya menjelaskan. Di akhir, Devina menyampaikan dalam mengatasi kebosanan serta burnout, karyawan dan organisasi harus bekerja sama. Jadi, yang melakukan antisipasi dan solusi bukan hanya karyawannya saja, tapi juga organisasi atau perusahaannya. Ini termasuk meningkatkan kesadaran terhadap tanda-tanda awal hal ini muncul, mengelola beban kerja, dan menciptakan lingkungan kerja yang positif. “Dengan demikian, kebahagiaan dan produktivitas karyawan dapat terjaga. Ketika produktivitas meningkat, bukan hanya individu yang diuntungkan. Organisasi atau perusahaan yang menaungij uga mendapat keuntungan tersebut,” kata Devina mengakhiri. (*azmi/wil)
Muhadjir dan Gus Muwafik, bersholawat bersama di Haul Akbar Basyariah

Ribuan tamu memenuhi acara Haul Akbar Syekh Kyai Ageng Basyariyah dan Doa Bersama Untuk Bangsa sekaligus memperingati maulid Nabi Muhammad SAW 1445H bersama dengan 1.000 Ulama Se-Nusantara, 30 September lalu. Dalam haul yang dilaksanakan di Masjid Al-Basyariyah Sewulan, Madiun turut hadir Menteri Koordinator PMK Prof. Muhadjir Effendy, MAP. Wakil Gubernur Jatim Dr. Emil Dardak, dan sederet kyai, ulama, dan bahkan tokoh dari luar Jawa. Tidak banyak yang tahu bahwa Muhadjir merupakan keturunan ke-6 dari Kyai Ageng Basyariyah atau Raden Bagus Harun. Nenek moyang yang sama dengan Presiden Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Banyak pula tokoh-tokoh nasional dan pesantren yang dilahirkan, baik itu pada masa lampau maupun sekarang. Misalnya saja Mbah Sambu Lasem, Mbah Maimun Jubair KH. Ahfas Faishol Baidlowi Lasem, hingga Gus Baha, dan lainnya. Hal itu juga yang membuat Muhadjir sangat dekat dengan para kyai di kalangan Nahdhatul Ulama (NU). Beberapa saat sebelumnya, Muhadjir juga menerima gelar Raden Pangeran Anom dari Kasepuhan Majan di Serambi Masjid Kasepuhan Majan Tulungagung, Jawa Timur. Gelar yang disematkan secara langsung oleh Ketua dan Dewan Sesepuh Adat Kasepuhan Majan tersebut merupakan bentuk penghargaan kepada keturunan keluarga Sentono Dalem Majan. Terutama berkat jasanya kepada negara serta memiliki jiwa penuh semangat serta amanah pada tanggung jawab yang diemban. Turut hadir K.H. Ahmad Muwafiq menjelaskan bahwa ada beberapa alasan mengapa penyebaran Islam di pulau jawa sangatlah cepat. Salah satunya ialah peradaban Jawa yang cukup maju saat Nabi Muhammad menyebarkan Islam di Makkah, tepatnya pada abad ke 600 M. Hal itu dibuktikan dengan adanya banyak kerajaan-kerajaan yang berdiri di pulau Jawa. Sehingga proses penyebaran agama Islam yang dibawa ulama timur tengah juga menjadi lebih cepat dan mudah. Selain itu, menurutnya, konsep penyebaran Islam di pulau Jawa melalui pedagang merupakan diksi yang kurang cocok. “Yang benar adalah bahwa para ulama menjadi seorang pedagang untuk mampu membaur dengan masyarakat, konsep inilah yang juga seharusnya diterapkan para pemimpin untuk bisa membaur dengan masyarakat,” kata Gus Muwafiq. Ada juga hal menarik disampaikan oleh KH. Moh Hasib Wahab Hasbulloh dari Ponpes Bahrul Ulum Tambak beras saat diminta untuk memimpin sholawatan. Ia mengatakan bahwa Muhadjir merupakan tokoh yang pandai bersholawat. Muhadjir juga dinilai cocok untuk mewakili masyarakat untuk memajukan umat dan bangsa Indonesia. “Dedikasi beliau untuk bangsa dan negara sudah teruji. Maka, mari kita berdoa juga agar beliau mampu memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” katanya. Di sisi lain, Wagub Jatim Emil ternyata juga merupakan salah satu keturunan dari Kyai Ageng Basyariyah. Dia menyampaikan, Jawa Timur merupakan tempat di mana banyak kyai lahir dan memberikan pengaruh yang besar. Terbukti dengan banyaknya pondok pesantren yang berdiri dan berkiprah di Jawa Timur. Lebih lanjut, Emil juga menegaskan bahwa pada 2022, Jawa Timur mendapatkan gelar Adinata syariah nasional. Penghargaan tersebut merupakan penghargaan atas capaiakn ekonomi syariah yang terus meningkat. Tentu hal itu tidak lepas dari barokah dan doa dari para kyai serta para elemen masyarakat yang menerapkan konsep ekonomi syariah. (*faq/wil) Shared:
Begini Cara Memaksimalkan Potensi Generasi Alpha ala Dosen UMM

Lahir di tengah era digital yang semakin berkejaran, generasi alpha kelahiran tahun 2010 hingga 2020-an memiliki ciri khas tersendiri dari generasi lain. Salah satunya adalah kehidupan mereka yang teintegrasi dengan teknologi seperti smartphone, tablet, dan internet. Hal ini membuat generasi tersebut memiliki berbagai keunikan termasuk dalam cara belajarnya. Dian Fitri Nur Aini, M.Pd., dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan, generasi Alpha cepat menyesuaikan diri dengan teknologi. “Mereka lebih nyaman belajar dengan dukungan teknologi seperti e-book dan e-quiz, dibandingkan dengan metode pembelajaran biasa,” tandasnya. Sesuai dengan karakteristik itu, peran guru pada generasi alpha juga mengalami perubahan. Guru bukan lagi hanya menjadi sumber pengetahuan utama, tetapi juga menjadi fasilitator pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi dengan aktivitas fisik yang menyenangkan. Sehingga, dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih menarik dan bervariasi. “Permainan edukatif berbasis teknologi menjadi kunci dalam metode pembelajaran yang efektif untuk generasi Alpha. Seperti aplikasi Kahoot!, Quizizz, dan Wordwall yang tidak hanya dapat digunakan sebagai media pembelajaran, tetapi juga sebagai instrumen evaluasi yang interaktif,” ungkapnya. Tak hanya sebagai pengguna, generas alpha juga harus mengembangkan keterampilan individu seperti technical skill. Menguasai alat-alat digital dan perangkat lunak yang relevan dengan dunia mereka. Selain itu, kemampuan berpikir konseptual juga sangat penting. Termasuk di dalamnya berpikir kreatif, merancang solusi untuk masalah kompleks, dan mengintegrasikan berbagai informasi dari berbagai sumber. “Pun dengan keterampilan interpersonal yang menjadi pondasi penting untuk sukses di masa depan. Generasi alpha juga perlu belajar berkomunikasi secara efektif, bekerja sama dalam tim, dan membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Kemampuan berkolaborasi juga dapat dilatih melalui pembelajaran berbasis proyek. Ini tidak hanya membantu mereka mengasah keterampilan berpikir kritis, tetapi juga meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah yang kompleks,” Meskipun peran teknologi semakin krusial di era generasi alpha, pembatasan dalam penggunaan gadget juga perlu diperhatikan. Terutama dalam hal yang tidak mengandung unsur akademik. Misalnya, game dan media sosial yang tidak jarang memunculkan ragam permasalahan. Apabila penggunaan teknologi tidak sesuai dengan kebutuhan, akan muncul berbagai dampak buruk. Di antaranya, perubahan pola interaksi sosial, ketergantungan pada teknologi, individualisme dalam belajar yang dapat mengurangi keterampilan kolaborasi, hingga turunnya fokus belajar karena gangguan dari hiburan gadget. “Gen Alpha berpotensi untuk menjadi generasi yang kreatif, inovatif dan mampu menjawab tantangan global yang berkaitan dengan kebutuhan pekerjaan. Dengan pemahaman dan penggunaan yang tepat, teknologi dapat menjadi alat yang memajukan, bukan menjadi penghambat perkembangan di masa depan,” pungkasnya. (*lai/wil)
Banyak Peluang, Konjen Jepang Dorong Wisuwadan UMM Berkarya dan Studi di Jepang

Indonesia dan Jepang telah bekerjasama di bidang ekonomi sejak tahun 1968. Kerjasama ini bertujuan untuk saling membantu dalam membangun ekonomi bersama. Hal ini disampaikan oleh Takeyama Kenichi Konsul Jenderal Jepang yang menghadiri wisuda ke-110 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 26 September lalu. Lebih lanjut, Takeyama mengatakan, kerjasama Indonesia dan Jepang sebenarnya sudah terbangun sejak 1920. Banyak masyarakat Jepang yang bermigrasi ke Indonesia dan membangun perumahan di sana. Pada saat itu, berdiri juga sekolah bagi warga Jepang di Tahun 1925. Kemudian, saat perang dunia kedua konsulat dan sekolah jepang di Indonesia akhirnya ditutup. Kemudian, pada tahun 1968 kerjasama antara Indonesia dan Jepang kembali terjalin. Pada saat itu, sejumlah perusahaan Jepang membuka peluang usahanya di Indonesia. Ada sekitar 150 perusahaan yang telah berdiri khusunya di Jawa Timur hingga saat ini. Sebaliknya, banyak juga masyarakat Indonesia yang juga bekerja mauppun menempuh pendidikan di Jepang. “Salah satu dampak dari kolaborasi itu adalah semakin banyaknya peluang pekerjaan yang terbangun dan pemberdayaan masyarakat. Maka wisudawan dan mahasiswa UMM bisa mengambil kesempatan ini untuk melanjutkan studi atau bahkan bekerja di negeri Sakura. Apalagi saat ini Jepang sedang mengalami krisis penduduk,” tambahnya. Di sisi lain, ada pesan dan hal penting yang disampaikan oleh Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa timur Dra. Rukmini, M. Ap. Menurutnya, wisudawan harus mengutamakan adab kemudian baru ilmu saat terjun dimasyarakat. “Karena nilai tidaklah begitu penting. Yang penting adalah adab dan perilaku bermasyarakat,” tambahnya. Rukmini juga menekankan bahwa rahasia seseorang untuk menjadi sukses adalah dengan tetap mengingat orang tuanya. Begitun dengan tidak melupakan almamater yang membesarkannya serta selalu mendoakan guru atau dosen yang telah mengajarinya banyak hal. Hal yang tak kalah penting adalah skill yang sesuai dengan kebutuhan industri. Hal itu disampaikan Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. Menurutnya, pintar saja tak cukup, alumni UMM harus aktif dan beradab serta memberikan solusi terbaik untuk banyak permasalahan. Melalui program Center of Excellence (CoE, Kampus Putih juga melatih mahasiswanya untuk bisa membangun soft skill yang dibutuhkan dunia kerja. “Saya yakin, 2.471 wisudawan yang diwisuda saat ini adalah calon-calon emas bangsa. Semoga, ilmu yang didapatkan dari UMM bisa menjadi bekal terjun ke dunia masyarakat,” tandasnya mengakhiri. (*faq/wil)
Target Tingkatkan Benih Kentang Berkualitas, UMM Potato Seeds Latih Petani Probolinggo

Jawa Timur merupakan salah satu sentra produksi kentang yang besar di Indonesia. Daerah penghasil kentang didominasi dari Probolinggo, Pasuruan, dan Lumajang. Maka dari itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Potato Seeds melatih para petani milenial yang tergabung dalam Gapoktan dari empat kecamatan Probolinggo, yakni Kecamatan Sumber, Kecamatan Krucil, Kecamatan Sukapura, dan Kecamatan Lumbang. “Saat ini, kebutuhan akan benih kentang berkualitas hanya dapat terpenuhi sebesar 15% saja. Maka dari itu, kehadiran tim UMM tentu akan memberikan manfaat dan juga meningkatkan produksi benih yang baik,” ungkap Ir. Didyk Rudi Prasetya, MMA selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Pemprov Jatim saat membuka acara pelatihan, pada 21 September lalu. Ada beberapa materi yang diajarkan kepada para petani. Mulai dari produksi benih penjenis melalui kultur in vitro, aklimatisasi plantlet kentang, produksi benih kentang dalam bentuk stek tanaman hingga produksi benih kentang G0 dirumah kasa. Adalah Dr. Ir. Syarif Husen, MP. yang senantiasa memberikan materi dan pengalaman. Ia merupakan ,anajer UMM Potato Seeds, peneliti, sekaligus dosen UMM. Pelatihan tersebut dilaksanakan selama dua hari. Bahkan ada demo yang dilakukan langsung oleh tenaga ahli sehingga apra petani bisa langsung praktik. Mereka juga diajak untuk melihat laboratorium UMM Potato Seeds untuk melihat peralatan dan produk yang telah dihasilkan. “Adanya pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan pengatahuan akan produksi benih kentang oleh petani milenial. Sehinggake depannya, akan terciptanya kemandirian benih kentang di daerah-daerah Kabupaten Probolinggo,’ harap Syarif. Di sisi lain, pelatihan ini diapresiasi oleh para peserta, salah satunya Bima. Ia senang karena bisa diajak melihat dan mengikuti proses pengembangan benih. Bahkan sampai ke Pujon Kidul untuk mengamati rumah kasa. “Kami sangat antusias pada hari kedua ini, karena kami dapat langsung merasakan bagaimana tahapan dalam menghasilkan benih kentang berkualitas. Kami juga bisa langsung praktek dengan bantuan tenaga ahli,” katanya. Para peserta juga dilatih melakukan aklimatisasi plantlet kentang dari botol kultur ke rumah kasa, kemudian bagaimana cara memproduksi benih kentang dalam bentuk stek tanaman yang diambil dari tanaman induk. Terakhir, yakni penanaman benih stek sehingga mampu menghasilkan benih kentang G0. “Pada akhir kegiatan kami diajak panen benih G0, dan perlakuan benih sebelum disimpan digudang sehingga selama masa penyimpanan benih tidak mengalami kerusakan. Semoga ilmu yang kami dapat bisa bermanfaat,” tegasnya Bima mengakhiri. (*/wil)
Virus hingga Transformasi Teknologi Dibahas di Konferensi Internasional UMM

Beragam tantangan mulai bermunculan di era pasca pandemi. Maka, salah satu cara mengatasinya adalah memaksimalkan transformasi digital. Hal itu ditegaskan CEO Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Prof. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D. dalam International Conference on Medical and Health Sciences (ICMEDH), 23 September lalu. Konferensi garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu bertajuk bertemakan Global Health Challenges and Innovations In the Post-Pandemic Era. Lebih lanjut, Ali menjelaskan, tantangan pertama yang dihadapi saat ini ialah transisi demografi. Kemungkinan besar, sekitar 50% anggota BPJS adalah orang dengan usia di atas 60 tahun. Kemudian, tantangan kedua adalah transisi epidemiologi. “Sebagian besar kasus yang ada saat ini adalah penyakit kronis. Kemudian kami juga harus bersiap jika penyakit seperti TBC, malaria, Covid-19 dan lainnya muncul kembali. Perubahan iklim pun dapat memberikan dampak, misalnya seperti polusi disekitar Jakarta. Saya pikir transformasi digital adalah salah satu cara yang baik untuk mengatasi semua tantangan ini,” ucap Ali. Tantangan-tantangan seperti inilah yang menurut Ali mampu meningkatkan pengoptimalan ekosistem digital. Ia menyadari bahwa pada dekade mendatang, kesehatan akan berkembang begitu cepat, maju dan akan terasa terpenuhi sepenuhnya dengan banyaknya teknologi baru. Promosi kesehatan pun akan dilakukan tanpa harus bertatap muka. Sementara itu, Febi Dwi Rahmadi, BSC.PH, MSc.PH, Ph.D. dari Griffith University, Australia membahas terkait krisis Covid-19 yang menyadarkan bahwa sistem kesehatan masih lemah. Maka dari itu, pengalaman dan sejarah ini harus bisa memberikan kesadaran agar masa depan bisa diperbaiki. “Keledai bahkan tidak akan jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Apalagi kita sebagai manusia, tentu lebih baik ketimbang keledai,” tegasnya. Febi juga menghimbau agar para tenaga kesehatan profesional dapat lebih memikirkan lingkungan. Karena berdasarkan data, sekitar 87.000 ton sampah plastik dalam kurun waktu Maret 2020 hingga November 2021 merupakan limbah medis yang sangat membahayakan tubuh. Hal menarik lain di konferensi tersebut adalah pembaahsan dari Prof. Goh Lee Gan dari Singapura. Menurutnya, meski bakteri berperan dalam penguraian, ada kemungkinan bakteri juga bisa membunuh manusia. “Bahkan bisa menjadi masalah besar ketika infeksi dapat menyebar dari satu orang ke orang lain dengan sangat cepat. Ditambah lagi dengan sedikitnya orang yang memiliki kekebalan terhadapnya,” kata Goh. Namun dibalik itu semua, pandemi Covid-19 juga memberikan banyak pelajaran dan perkembangan baru. Misalnya saja peningkatan penggunaan teknologi penyedia layanan primer. Seperti yang telah dilakukan oleh BPJS Kesehatan, yaitu merealisasikan proses teknologi data. (*dev/wil)
Bikin Film Psikologi Islam, Mahasiswa UMM Sukses Juarai Kompetisi Nasional

Prestasi membanggakan terus datang dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bukan hanya dari aspek akademis, tapi juga non akademis. Salah satunya datang dari tim Psikologi UMM yang mampu meraih juara pertama pada ajang kompetisi Ilmiah Mahasiswa Psikologi Universitas Islam (KIMPSI) kategori Teknik Film se-nasional, September ini. Adalah Annasa Al Fauza Firanda, mahasiswa jurusan Psikologi UMM yang sukses memimpin tim membuat short film bermutu. Afa, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa film pendek ini menceritakan kisah psikologi islam yang mengandung unsur rasa bersyukur, sabar, dan ikhtiar. Mereka memberi judul film tersebut dengan nama ‘Sadar Akan’. “Judul itu menyimpulkan isi cerita film, yaitu seorang perempuan yang ingin selalu terlihat sempurna di segala bidang dan tidak pernah puas atas pencapaiannya. Hingga pada suatu saat ia berada di titik rendah dan tidak menyadari ada sosok yang bisa menjadi tempat ia bersandar,” ujarnya. Adapun waktu pembuatannya kurang dari satu bulan dan Afa merasa cukup keteteran. Semua diawali dengan mencari ide dan menulis naskah. Afa dan tim saling berdiskusi dan mengobrol bersama untuk menemukan hal yang menarik. Beberapa kali, mereka bahkan mengubah alur cerita agar lebih mengena. Salah satu aspek penting adalah menemukan aktor yang bagus dan sesuai. Hal itu agar pesan yang ingin disampaikan bisa terwujud. “Kami melakukan casting beberapa orang untuk melihat pendalaman karakter dan seberapa cocok aktor yang akan berperan,” katanya. Ia juga menjelaskan bahwa pada prosesnya, terdapat kesalahan yang lucu dan sudah terlanjur berjalan jauh. Akhirnya, mereka memutar otak untuk melanjutkan proyek tersebut. Saat itu, Afa menjealskan bahwa hanya beberapa kru saja yang pernah dan berpengalaman dalam videografi. Sehingga masih banyak yang belum mengerti alur pembuatannya. Meski begitu, mahasiswa asli Malang itu percaya diri bahwa karya yang mereka buat memiliki teknik pengambilan gambar yang bagus, kualitas gambar dengan resolusi tinggi dan terkonsep dengan sistematis. Sehingga pesan yang ingin ada tersampaikan dengan jelas. Ia juga berterimakasih kepada kampus UMM yang selalu mendukung kegiatan dan potensi mahasiswanya. Beberapa kali ia mengobrol dna ebrdiskusi dengan para dosen untuk menemukan solusi yang tepat. Begitupun dengan dukungan moril dan materiil dari kampus. “Untuk teman-teman sesama mahasiswa, saya berpesan agar kalian jangan takut mencoba hal baru, karena kalau tidak mencoba kita tak akan pernah tahu hasilnya,” pungkasnya mengakhiri. (ri/wil*)
Viral Kasus Penganiayaan Anak di Cilacap, Begini Pertimbangan Pidananya

Masyarakat dibuat geram oleh kasus perundungan anak SMP yang terjadi beberapa hari lalu di Cilacap. Pelakunya juga masih berada di usia belia. Banyak yang meragukan pelaku mendapatkan hukuman yang tidak sesuai dan dirasa kurang berat. Lalu bagaimana sebenarnya hukum menyikapi kejahatan yang dilakukan anak dan mengapa hukuman yang diberikan cenderung dirasa ringan? Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ratri Novita Erdianti, SH., MH. menyampaikan, tetap ada pertanggungjawaban pidana bagi anak. Salah satu konsekuensinya adanya pidana penjara khusus bagi anak. Ini tercantum pada Undang-undang Sistem Peradilan Anak nomor 11 tahun 2012 sebagai upaya akhir. “Upaya akhir ini dilakukan jika tidak ada cara lain atau telah diusahakan berbagai cara bagi anak sebagai pelaku tindak pidana. Dalam mata hukum, sistem ini disebut ultimum dan remedium,” ujarnya. Hukuman penjara pada anak tidak mudah dijatuhkan. Hal ini karena umumnya penjara memiliki banyak konotasi negatif. Terpaan secara psikologis dan juga stigmatisasi dari masyarakat akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Usia anak yang dapat diberikan pidana pun terbatas, yakni pada rentang 14-18 tahun. Di bawah usia tersebut, tidak bisa diberikan sanksi atau pidana akhir penjara. Hanya akan diberikan sanksi yang dapat menjerakan pelaku. “Pemidaan pada anak harus sangat diperhatikan. Apabila tidak tergolong pelaku tindak pidana berat seperti pembunuhan dan asusila, maka akan diberikan pilihan pidana lain. Salah satunya seperti pembinaan dalam suatu lembaga yang diatur dalam Undang-undang Sistem Peradilan Anak, dapat menjadi pilihan yang diambil oleh hakim,” lanjutnya. Lebih dalam, Ratri juga menyampaikan bahwa terkadang anak tidak menyadari ada beberapa tindakan yang ternyata dapat dihukum atau mendapatkan pidana. Misalnya penganiayaan sehingga menyakiti orang lain. Maka dari itu, hukuman penjara pada anak sangat dihindari dan tidak dapat langsung diberikan tanpa melakukan banyak pertimbangan. “Lama masa tahanan pada anak pun telah dijelaskan dalam undang-undang. Tidak ada hukuman penjara seumur hidup, dan maksimal masa tahanan pun akan menjadi separuh dari masa tahanan narapidana dewasa. Selain itu lapasnya juga khusus bagi anak,” ucap Ratri. Pelaku yang masih anak-anak akan mendapatkan perlindungan hak untuk dilindungi identitasnya. Baik itu dari proses penyidikan hingga putusan hakim. Ini dilakukan agar tidak menimbulkan efek traumatis bagi anak. “Jika diperhatikan, mungkin bisa mengoptimalkan pilihan lain selain penjara. Namun tidak menurut kemungkinan pilihannya adalah penjara. Kita harus memahami bahwa prinsip kepentingan terbaik bagi anak adalah prioritas untuk mendaptkan pertimbangan pidana yang tepat. Apalagi mengingat efek jangka panjang yang berdampak positif atau negatif pada tumbuh kembangnya,” tutupnya. (*nia/wil)