Jaga Lingkungan Tetap Aman, UMM Selenggarakan Kurban dengan Green dan Halal

Dalam rangka menjaga lingkungan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan kurban dengan konsep Green and Halal Kurban. Hal ini menjadi upaya Kampus Putih untuk tetap berbagi daging kurban dan tidak mengorbankan aspek kebersihan dan lingkungan. Misalnya saja dengan tidak menggunakan plastik untuk pengemasan, melainkan memakai daun jati, daun pisang dan besek. Adapun jumlah hewan ternak di UMM yang dikurbankan mencapai 59 ekor, terdiri dari 17 ekor sapi, 34 ekor kambing, dan 8 ekor domba. Sebagian dikirim ke titik-titik daerah di Malang Raya dan sebagian disembelih di Kampus pada 28-29 Juni. Dosen Peternakan UMM, Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt. menjelaskan bahwa green dan halal di sini tidak hanya dilaksanakan pada saat penyembelihan saja. Ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan jauh sebelum Idul Adha. Diawali dengan pemilihan tempat pembelian ternak yang sudah memenuhi standar kesejahteraan hewan atau animal welfare. “Dengan begitu, kita bisa mendapatkan hewan yang tidak stress. Sehingga tidak mudah memberontak dan lepas yang mana pada akhirnya memudahkan kami untuk menyembelih. Daging yang diperoleh juga minim memar, merah segar, dan lebih bagus,” katanya. Hal lain yang perlu diperhatikan dari Green dan Halal Kurban adalah pemilihan hewan ternak yang sudah divaksin, baik vaksin LSD maupun penyakit mulut dan kaki. Pun dengan pengecekan secara fisiologis yakni memilih yang berdaging, gemuk dan cukup umur. Semua proses tersebut dilakukan langsung oleh sederet dokter hewan yang dimiliki UMM, salah satunya Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, MS. Ali, begitu ia kerap disapa, juga menekankan terkait tempat pemotongan dan juga lubang untuk darah. Dalam pelaksanaan green kurban, darah dan kotoran harus dipendam ke dalam tanah dan tidak boleh dibuang melalui sungai karena akan mencemari. “Jika dibuang di sungai,  takutnya nanti ternyata ada histori penyakit dari sapi, kemudina menyebar ke tempat lain seperti kebun rumput. Pada akhirnya akan menulari dan menginfeksi hewna ternak lainnya. Selain itu juga dikhawatirkan air yang mengalir di sungai digunakan untuk mencuci maupun minum oleh masyarakat yang ada di hilir,” jelas Ali yang juga menjadi tim kurban UMM. Pengemasan daging dan alat pelindung diri (APD) juga menjadi pertimbangan dalam green kurban. Daging yang sudah dipilih dan dikuliti dikemas menggunakan bungkus ramah lingkungan. Tim kurban UMM menggunakan besek, daun jati, dan bahan alami lainnya. Bahkan kali ini, Kampus Putih tidak menggunakan plastik sama sekali sebagai bentuk komitmen menjaga lingkungan. Berbeda dengan bungkus bahan organik, jika plastik dibuang di tempat sampah, plastik cenderung mengeluarkan bau yang tidak sedap dan dikerubungi oleh lalat. Hingga pada akhirnya muncul belatung yang mengganggu lingkungan. “APD dan jenis pisau juga penting untuk melindungi diri. Di UMM, pisau yang digunakan berbeda-beda tergantung untuk apa. Ada pisau khusus untuk menyembelih hingga pisau untuk boning. Para pnyembelih juga sudah dilatih terlebih dahulu melalui pelatihan juru sembelih halal (Juleha) dari Halal Center UMM beberapa hari lalu,” terang Ali. Terakhir, Ketua Prodi Vokasi Agribisnis Unggas UMM itu berharap konsep green and halal kurban UMM ini bisa menjadi contoh bagi banyak pihak. Sehingga masyarakat ikut melakukan hal yang sama, berkurban dengan memperhatikan kelangsungan lingkungan. Dengan begitu, ibadah Idul Adha tetap jalan, lingkungan juga tetap aman dan nyaman. (Wil)

Ribuan Masyarakat Laksanakan Salat Idul Adha di UMM

Umat muslim harus memahami dengan mendalam nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Hal tersebut ditegaskan Dewan Syariah Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat (PP) Muhamadiyah Dr. H. Ari Anshori, M.Ag. dalam khutbah Idul Adha di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun salat tersebut dilaksanakan pada 28 Juni 2023 dan dihadiri oleh ribuan jamaah. Menurut Anshori, momentum Idul Adha harus dijadikan tempat untuk meningkatkan rasa keikhlasan, saling berbagi dan kebersamaan antar masyarakat. Banyak orang yang tidak sadar bahwa secara tidak langsung hal-hal itu hadir saat momen kurban. “Masyarakat yang sebelumnya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan pribadi seperti bekerja, kini bersatu padu, berkumpul, dan saling gotong royong saat salat id, penyembelihan, hingga proses distribusi daging. Nilai tersirat ini dampak yang besar bagi kondisi sosial masyarakat,” jelasnya. Ia melanjutkan, Idul Adha merupakan hari yang sangat monumental. Mengingatkan umat muslim tentang bagaimana kesediaan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismail demi ketaatanya akan perintah Allah. Beberapa poin-poin keteladanan yang bisa diambil adalah ketaatan kepada perintah Allah, tabah terhadap takdir Allah, tawakal serta yakin akan ketetapan Allah. Selain itu, sebagai khotib, ia berpesan kepada seluruh jamaah untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Saling merefleksikan diri berdasarkan surat Al-Asr yang menekankan pada pentingnya mengelola waktu. Hal tersebut berdampak kepada hasil yang terlihat, baik di dunia maupun di akhirat kelak. “Allah sudah bersumpah demi waktu dalam surat Al-Asr. Sumpah tersebut bukan hal yang remeh, waktu selalu berjalan dan tidak pernah akan beputar ke belakang. Waktu yang dimaksud juga bukan serta merta waktu di dunia saja, namun juga waktu kelak di akhirat. Mari mengoptimalkannya dengan beribadah kepada Allah,” pesannya. Atas nama pimpinan, Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. juga memberikan pengantar. Ia menyampaikan bahwa UMM tidak hanya mengadakan penyembelihan hewan kurban di lingkungan kampus. Tapi juga mendistribusikannya kepada masyarakat luas. Misalnya saja dengan mengirim puluhan hewan ternak ke desa-desa di sekitar Malang Raya. Hal itu menjadi salah satu bentuk dari pengabdian langsung Kampung Putih kepada masyarakat. Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Panitia Idul Kurban UMM, Ary Bachtiar SP., M.Si. Ia menjelaskan bahwa sasaran distribusi hewan ternak tidak terbatas untuk kalangan Muhammadiyah saja, tapi juga masyarakat secara luas. Misalnya saja dengan mengirimkan masing-masing satu sapi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Malang dan Lapas Kelas I Malang. “Sambutan dari masyarakat juga baik dan mereka bersyukur mendapat perhatian lebih. Tentu salah satu tujuan kami adalah untuk membantu serta menjadi syiar dakwah kami ke masyarakat,” tegasnya mengakhiri. (Faq/Wil)

Raup Ratusan Juta dari Bisnis Ternak, Begini Cerita Alumnus Muda UMM

Idul Adha tinggal menghitung hari, jumlah penjualan hewan ternak untuk kurban juga meningkat. Jika biasanya pengusaha hewan ternak datang dari kalangan orangtua, namun hal itu tidak berlaku untuk bisnis Ahmad Rizki Mubarok, alumnus Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia yang mendapat keuntungan ratusan juta sempat menceritakan dan memberikan tips berbisnis hewan kurban dalam UMM Talks pada 24 Juni lalu. Barok, sapaannya, bercerita bahwa berdagang bukan hal asing baginya. Sejak masih sekolah ia sudah mencoba peruntungannya. Misalnya saja menjual jamu dan memasarkannya ke sekolah. Hingga kini bisa mengembangkan bisnis ternaknya. Semua berawal dari kunjungannya ke salah satu rumah tetangga dan sesekali membantu mereka dalam merawat hewan. Kemudian ketertarikannya semakin menguat dan Barok memutuskan untuk mengawali bisnisnya. “Berangkat dari uang tabungan saya dan dibantu keluarga, modal awal usaha saya waktu itu 30 ekor kambing pada 2013 lalu. Sayang, saat itu hanya dua ekor yang berhasil dijual. Setelah saya pelajari, ternyata strategi penjualannya kurang maksimal. Akhirnya saya berdiskusi dengan banyak teman dan rekan cara memasarkan hewan kurban dengan efektif. Akhirnya saya memasarkannya ke dosen-dosen, masjid, dan mushola yang membutuhkan hewan kurban,” jelasnya. Waktu sepuluh tahun menjadi bukti tekad kuatnya dalam membangun usaha. Barok juga belajar dari dasar bagaimana cara merawat hewan ternak. Menurutnya, menjaga kesehatan hewan tidak jauh berbeda dengan manusia. Yakni dengan memberikan makanan yang sehat hingga kandang yang layak. “Kalau kandangnya kurang bersih, kambing dan domba akan kembung dan menderita gudik. Hal ini akan menurunkan harga jual, bahkan tidak layak dijual. Maka dari itu saya membuat kandang seperti rumah panggung, agar kotoran kambing dan domba bsia otomatis jatuh ke bawah,” katanya. Barok juga menjelaskan, herawat hewan ternak itu tidak mudah. Banyak yang perlu dipikirkan, pemilihan bibit hewan ternak kira-kira 80% dan 16% untuk pakan ternak, sisanya adalah untuk biaya lainnya seperti pengobatan, kandang, dan kebersihan hewan dan lingkungannya,” katanya Terkait strategi pemasaran, ia menekankan pada pemanfaatan momen. Misalnya saja dengan menggencarkan promosi di bulan-bulan dekat Idul Adha dan Idul Fitri. Pun dengan agenda-agenda akikah. Untuk menyiapkan hewan layak sembelih, pria asli Malang itu mengaku membutuhkan waktu sekitar 3-4 bulan sebelumnya. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah lemak hewan, kesehatan, hamil atau tidak, umur kambing, hingga ketebalan bulu. ia mengatakan bahwa hewan ternak yang ia tawarkan memiliki bobot 13-28 kilo untuk siap dijual. Di samping itu, relasi dan koneksi yang banyak juga turut mebantu berkembangnya usaha bisnis ternak. “Mempunyai relasi yang banyak memudahkan kita untuk berbagi informasi, utamanya mengenai kebutuhan konsumen. Sejauh ini saya cukup nyaman. Apalagi hewan yang kami pasarkan digunakan untuk berkurban dan hal-hal baik sehingga terasa berkahnya. Saat ini saya dan teman-teman juga membuka jasa penyembelihan di sederet masjid,” kata Barok mengakhiri. (Ri/Wil)

Tim Mekatronic UMM Siap Berlaga di Shell Eco Marathon Mandalika 2023

Nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mengudara jika berbicara mengenai mobil hemat energi. Tiap tahun, tim UMM selalu berlaga di ajang nasional maupun internasional dan mendapatkan juara. Terbaru, LSO Mekatronic UMM kembali mengirimkan dua timnya untuk memperebutkan gelar juara di ajang internasional, Shell Eco Marathon Asia Pasifik 2023. Utamanya, di kelas urban listrik dan proto gasoline. Ajang bergengsi yang kembali digelar di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat itu diikuti lebih dari 80 tim dari 14 negara se-Asia Pasifik. Anggota tim yang mayoritas berasal dari mahasiswa Prodi Teknik Mesin tersebut juga telah mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari. Ketua tim urban listrik, Evita Leninda menjelaskan bahwa kedua tim yang berangkat sudah siap 98% untuk berlaga di Mandalika. Riset dan latihan dilakukan hampir tiap hari untuk menyiapkan segalanya. “Satu kendala yang sempat dihadapi adalah aspek mesin yang sudah kami atasi. Bagaimana bisa mengerahkan tenaga yang besar namun dengan energi yang minimum. Besar harapan kami bisa menyabet juara pertama di kejuaraan ini,” tambahnya. Hal serupa juga disampaikan pembina LSO Mekatronic UMM Drs. Mohammad Jufri, ST., MT. Menurutnya, tim UMM sudah sangat siap. Bukan hanya mobilnya saja, tapi juga pengemudi yang sudah familiar dengan mesin terkait. Adapun pembuatan dua mobil tersebut memakan waktu sekitar enam bulan. Menariknya, mereka juga banyak mendapatkan sponsor untuk kebutuhan komponen dan rangka mobil dari banyak pihak. Ia menjelaskan, pada ajang kali ini mobil Mekatronic UMM harus menempuh jarak 12 km dalam waktu 27 menit. “Karena lomba ini dinilai dari iritnya bahan bakar, maka ada target hemat bahan bakar yang harus dicapai. Alhamdulillah, dari latihan yang sering dilakukan, kedua mobil sudah mencapai target hematnya. Mobil urban listrik capaian hematnya yaitu 200 km/kwh dan untuk mobil proto gasoline capaian hematnya yakni 1000 km/l,” ungkap Jufri. Menurutnya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar kendaraan bisa tetap irit. Di antaranya body mobil yang ringan, aerodinamik kendaraan dan konsumsi bahan bakar yang harus diperhatikan pengemudi. Pengemudi harus mengerti dengan baik karakteristik mobil dan juga sirkuit agar tidak terlalu membuang bahan bakar. “Harapannya tentu saja mendapatkan hasil yang terbaik. Karena di tahun sebelumnya, tim UMM sudah masuk ke dalam 4 besar Shell Eco Marathon Asia Pasifik 2022. Jadi tahun ini targetnya juara satu. Selain itu, tahun kemarin juga juara 1 di kelas urban listrik dan juara 3 di kelas proto gasoline dalam perlombaan Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE),” jelas Jufri. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan M.Pd. mengapresiasi karya mobil para mahasiswa yang akan berlaga di Mandalika. “Para mahasiswa yang berlomba ini bukan diundang begitu saja, mereka sudah melalui berbagai proses. Saya bangga kepada tim mekatronic yang mampu menunjukkan prestasinya yang luar biasa sampai saat ini. Kompetisi menjadi bukti bahwa kita sudah diperhitungkan di tingkat Asia Pasifik,” katanya. Menurutnya, keikutsertaan mahasiswa dalam sebuah perlombaan sangat penting untuk menumbuhkan jiwa berkompetisi. Kampus Putih selalu mendukung segala kegiatan mahasiswa yang potensial dan mengarah pada pengembangan diri. “Harapannya tentu saja juara. Kalau seandainya tidak juara, maka jangan putus asa. Kalian masih punya waktu dan kesempatan yang sangat banyak. Kekalahan adalah bentuk pembelajaran untuk pendewasaan diri. Namun manfaatkan kesempatan kali ini sebaik mungkin,” pesan Fauzan. (Zak/Wil)

Tim Dome UMM Juara Satu Kontes Robot SAR Nasional

Kalahkan puluhan tim dari berbagai kampus ternama di Indonesia, delegasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) raih juara satu dalam Kejuaraan Nasional Kontes Robot Search and Rescue (SAR) Indonesia, 25 Juni lalu. Dalam Kompetisi yang diadakan di Universitas Semarang itu, Robot UMM mencapai hasil yang maksimal dengan torwhan nilai sebesar 1900 poin. Adapun tim tersebut berisi tiga mahasiswa bertalenta yakni Ahmad Syauqi Ramadhan dan Muhammad Aditya Dzikra dari prodi Teknik Elektro. Dilengkapi dengan kemampuan mumpuni dari M. Darma Putra Ramadhan yang merupakan mahasiswa prodi Teknik Informatika. Syauqi yang menjadi ketua tim robot UMM mengaku tidak mudah bagi timnya untuk bersaing di lomba tingkat nasional. Banyak persiapan yang digarap, di antaranya menyusun program coeing agar robot bisa bekerja sesuai yang diharapkan hingga penyesuaian berbagai komponen. Menurutnya, medan dan lintasan yang harus ditaklukkan cukup menantang. Menariknya, pada babak final mereka harus bertarung melawan sesama perguruan tinggi muhammadiyah, yakni UMS. Robot diuji dari aspek kecepatan, kecekatan, dan akurasi. “Kami bahkan harus memprogram ulang codingnya karena rintangan yang harus diselesaikan cukup sulit dan berbeda dari apa yang kami bayangkan. Berkat kerjasama dan visi yang sama, Alhamdulillah  robot Dome mampu menjadi pemenang,” katanya. Syauqi juga bersyukur berkuliah di UMM. Hal itu tak lepas dari dukungan Kampus Putih, bukan hanya yang berbentuk moril tapi juga materiil. Bahkan dalam kompetisi ini UMM membackup seratua persen pendanaan terkait. Ia juga mengatakan bahwa robot Dome SAR tersebut dapat diimplementasikan langsung di berbagai lokasi. Namun, perlu adanya upaya memperbesar ukuran robot sesuai dengan keadaan sebenarnya. Selama penggunaan algoritmanya benar, ia yakin robot tersebut bisa digunakan di lapangan. Kemenangan ini juga diapresisi oleh Pembina Lembaga Semi Otonom (LSO) Robot Fakultas Teknik (FT) UMM Khusnul Hidayat, S.T., M.T. Menurutnya, para anggota tim bekerja dengan sangat keras. Mereka bahkan akan mengulik robot saat ada waktu kosong di sela-sela kuliah, bahkan sampai dini hari. “Kemudian sukses mengalahkan lebih dari 100 tim di tingkat regional. Hasil positif juga akhirnya dituai dengan mendapat juara pertama nasional. Hal ini tentu menjadi prestasi membanggakan dan mengharumkan nama UMM,” tambah dosen Teknik Elektro itu. Sebagai pembina, para dosen juga membuka konsultasi jika ada yang perlu dikembangkan lagi. Ia juga mendorong tim Dome untuk melakukan trial and error agar mendapatkan komposisi terbaik. Termasuk terkait sensor dan pemrograman robot sehingga mampu melewati semau rintangan yang dilombakan. Adapun kontes robot SAR ini merupakan suatu ajang yang sangat bergengsi dalam dunia robotika di Indonesia. Pada tahun ini, ajang ini tidak hanya menjadi wadah kompetisi tapi juga tempat kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan memperluas jaringan. (Faq/Wil)

Wantimpres Sebut UMM Miliki Roadmap Memajukan Indonesia

Revitalisasi dan penguatan karakter bangsa menjadi hal vital yang harus diupayakan oleh bangsa Indonesia. Menariknya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sudah menjawabnya dengan berbagai program yang dilaksanakan, seperti Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat dan Center of Excellence (CoE). Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Wiranto, S.H., S.I.P, M.M. dalam kunjungannya ke UMM, 26 Juni 2023 lalu. Wiranto melanjutkan, ia dan tim memang ingin mendengarkan suara dan masukan dari pihak kampus. Mencari ide, masalah-masalah bangsa, dan berguru. Menurutnya, dalam membangun bangsa dan mencapai tujuan Indoensia emas 2045, perlu adanya persatuan, toleransi, dan juga kolaborasi dari semua unsur negara. “Salah satu aspek penting adalah pemanfaatan bonus demografi sebagai jalan meraih Indonesia 2045. Saat ini, bangsa pemenang tidak ditentukan dari siapa yang paling kuat dan besar, tapi siapa yang paling cepat. Utamanya yang paling cepat mengadopsi ilmu pengetahuan dan teknologi,” tegasnya. Wiranto menilai bahwa bonus demografi harus digunakan dengan sebaik mungkin. Jika tidak digarap dengan baik, pengangguran akan meningkatkan dan berakibat menjadi beban demokrasi. “Saya rasa roadmap menuju kemajuan Indonesia sudah diwujudkan melalui apa-apa yang dilaksanakan oleh UMM. Nanti tentu akan muncul butir-butir usulan yang menjadi bahan kami untuk memberikan masukan kebijakan pada presiden,” jelasnya. Dalam kunjungan itu, Wiranto tidak sendiri. Ia ditemani oleh para anggota yang terdiri dari Dr. H. Soekarwo, S.H., M.Hum., Putri Kuswisnu Wardani, M.B.A. dan Dr. (HC) dr. H. R. Agung Laksono. Salah satu hal menarik disampaikan Putri. Menurutnya, negara maju bisa berkembang dengan pesat berkat sinergisitas pihak pemerintah, akademisi, dan bisnis. Hal serupa juga seharusnya bisa diusahakan oleh Indonesia. Putri juga mengapresiasi CoE yang bisa mengisi kebutuhan pendidikan masa depan. Anak-anak muda tidak hanya belajar di kelas saja, tapi bisa langsung belajar di industri. Pada akhirnya, mereka bisa menjadi SDM siap pakai dan dapat membuka lapangan pekerjaan. Hal ini bisa jadi contoh yan bagus dan perhatian bagi perguruan tinggi lain. Hal serupa dijelaskan Soekarwo dan Agung. Menurut Soekarwo, ada banyak masalah yang harus segera ditangani Indonesia, termasuk terkait teknologi. Ia menyebut adanya tantangan-tantangan digital seperti penggunaan artificial intellegence (AI), big data, hingga internet of things. Tantangan community development juga masih menunggu untuk digarap. “Saya kira pengembangan pertanian dan pupuk organik yang dilakukan UMM sudah sangat tepat. Apalagi harga pupuk juga naik dan membebani petani,” katanya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan upaya-upaya nyata kampus Putih untuk membangun bangsa. Dua di antara program unggulannya adalah CoE yang mengatasi masalah negara Indonesia. Yakni dengan mengakselerasi dan memperkuat link and match antara perguruan tinggi dan industri. UMM memberikan kompetensi yang sesuai dengan dunia kerja sehingga lulusannya bisa bersaing dengan maksimal. Begitupun dengan program Profesor Penggerak Masyarakat yang meningkatkan ekonomi masyarakat. Misalnya saja pertanian organik yang digalakkan beberapa tahun terakhir di Bondowoso. Hal serupa juga dilaksanakan di Jember ditambah dengan pengembangan sektor energi. “Terbaru, kami juga merekonstruksi salah satu warisan budaya dunia, yaitu Subak yang terletak di Bali,” ungkapnya mengakhiri. (Wil)

Ini Pakan Fungsional Garapan Dosen UMM, Bisa Turunkan Kematian Cempe

Jumlah kelahiran cempe atau anak kambing di Indonesia cukup tinggi. Sayangnya tingkat kematiannya bisa mencapai 25%. Hal iti ditegaskan oleh Dosen Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  Dr. Ir. Ahmad Wahyudi, M.Kes. IPU. Menurutnya, 75% cempe lainnya juga seakan hidup segan, mati tak mau. Wahyudi, sapaannya, mengatakan, cempe nantinya bisa dimanfaatkan, baik sebagai bakal hewan sembelihan atau menjadi induk yang sehat dan dapat melahirkan banyak anak. Sayangnya, risiko kematian cempe masih relatif tinggi. Maka dari itu, ia dan tim meneliti dan menciptakan pakan yang tepat bagi para cempe. Lebih lanjut, masih ada banyak peternak yang tidak memberikan pakan yang tepat sesuai dengan pertumbuhan kambing. Misalnya saja dengan hanya menyediakan rumput dan ampas. Pakan tidak diformulasikan terlebih dahulu, seperti misalnya unsur protein yang baik bagi perkembangannya. “Pemberian pakan yang tidak tepat akan menyebabkan stunting pada anak-anak kambing, sapi maupun domba. Maka dari itu inovasi pakan ini bertujuan untuk mengurangi kematian dan mengurangi stunting sehingga cempe bisa tumbuh dengan baik dan sehat,” ujarnya. Ia menegaskan, ketika lahir, seekor cempe harus meminum asi atau kolostrum yang menyediakan cukup imun. Jika tidak mendapatkan susu yang cukup, mereka akan berisiko mudah terserang penyakit. Hal sama juga berlaku bagi para induk yang harus dipenuhi gizinya. Jika tidak, air susu yang diberikan tidak akan berkualitas. Setelah mendapatkan air susu yang cukup, cempe juga harus mendapatkan nutrisi yang sesuai. Maka dari itu, ia menciptakan pakan fungsional yang komposisi yang bagus serta memenuhi syarat pakan yang bisa dicerna. Yakni skeitar 65-70 persen bisa dicerna. Berbeda dengan pakan pelet pada umumnya, pakan buatannya juga ditambahi dengan bakteri asam laktat sehingga lebih menyehatkan. “Banyak hal yang harus saya lewati agar inovasi ini bisa bekerja dengan baik. Saya bahkan harus belajar pakan fungsional selama enam bulan di Jepang. Utamanya cara menambahkan bakteri asam laktat ke dalam komposisi pakan,” tegasnya. Adapun pembuatan bakteri asam laktat ini dilakukan melalui isolasi. Yakni dengan mengambilnya dari tanaman jagung, kemudian diisolasi menggunakan media di laboratorium. Ia dan tim juga telah mematenkan inovasi pelet tersebut. Wahyudi menjelaskan bahwa sebelum jadi, ia telah melakukan penelitian sejak 2019 hingga 2021. Ia juga mengajak dan berdiskusi dengan berbagai pihak, termasuk tim ekonomi hingga ahli bidang peternakan. Ia menghabiskan banyak waktu di laboratorium peternakan dan mikrobiologi UMM untuk menguji dan menganalisa bakteri-bakteri. “Saat ini, produk ini masih dalma proses penawaran ke berbagai elemen masyarakat dan industri. Saya yakin inovasi ini memiliki manfaat yang besar untuk mengatasi kematian dan stunting pada cempe,” pungkasnya. (Nov/Wil)

Elly, Mahasiswa UMM yang Dapat Special Invitation Indonesia Got Talent (IGT)

Tampak Elly Rahmawati, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berjalan polos dan lugu saat memasuki panggung Indonesia’s Got Talent (IGT). Elly yang mengenakan setelan serba hitam masih saja terlihat kalem dan malu-malu saat menyapa para juri dan memperkenalkan dirinya. Namun pada saat juri mempersilahkannya untuk tampil, semua mata tertuju padanya. Reza Arap, Ivan Gunawan, Rossa hingga Denny Sumargo yang merupakan juri IGT takjub melihat kepiawaian Elly melakukan beatbox. Begitupun dengan gemuruh suara tepuk tangan penonton saat Elly menyelesaikan penampilannya. “Diam seperti terlihat cupu, tapi bergerak layaknya seorang suhu,” ungkap salah satu komentar warganet di salah satu video penampilan Elly yang ada di official akun Youtube IGT. Elly mengatakan sangat senang punya kesempatan untuk tampil di IGT. Penampilannya juga menjadi caranya membuktikan kepada masyarakat Indonesia bahwa perempuan juga bisa melakukan beatbox. Di samping itu juga sebagai upayanya membanggakan kedua orangtuanya. Menariknya, keikutsertaan Elly di ajang pencarian bakat itu merupakan sebuah undangan langsung dari IGT. “Awalnya memang ada keinginan untuk ikut IGT, tapi sebelum keinginan itu terlaksana, tiba-tiba ada direct message (DM) di instagram dari panitia IGT kalau aku dapat special hunt atau undangan langsung untuk ikut audisi,” ungkapnya. Perempuan yang masih ebrusia 19 tahun itu mengaku ada tantangan tersendiri saat berada di panggung dan tampil di hadapan juri. Ditambah lagi dengan fakta bahwa ratusan ribu bahkan jutaan orang juga melihatnya melalui media sosial atau bahkan televisi. “Oleh karena itu, saya butuh persiapan yang matang untuk penampilan selanjutnya. Sehingga beatbox yang akan ditampilkan bisa dinikmati oleh semua masyarakat. Beberapa persiapannya yakni konsep-konsep baru yang belum pernah dibawakan di IGT. Pun dengan pakaian yang dikenakan untuk menunjang penampilan,” jelasnya. Selain itu, anak pertama dari dua bersaudara ini sebelumnya memang sering mengikuti kompetisi beatbox, bahkan sampai di ajang internasional. Ia pernah menyabet Juara 1 Equinox Female Beatbox Battle 2020 dan Juara 1 Beat da Plague Female Exhibition. Ia mengaku bahwa semua berawal dari pertemuannya dengan seorang kakak kelas di SMP yang memang menyukai beatbox. Dari situ, ia tertarik dan menekuni seni beatbox ini. “Dari situlah akhirnya belajar sendiri teknik-teknik beatbox dari Youtube. Awalnya memang sempat tidak mendapat restu dari orang tua. Apalagi hobi ini lebih banyak didominasi oleh laki-laki, jadi orang tua sempat khawatir. Tapi semua itu aku buktka dengan prestasi, akhirnya orang tua sampai sekarang terus mendukung apa yang terbaik bagi anaknya,” tuturnya. Terakhir Elly berharap bisa lolos di tahap selanjutnya dan bisa menampilkan yang terbaik. Ia juga berpesan kepada anak muda lainnya untuk selalu percaya diri dengan kemampuan atau bakat yang dimiliki. Mungkin saja, dari bakat itu bisa menghasilkan prestasi dan mampu membanggakan orang tua serta diri sendiri. (zak/wil)

Agribisnis UMM Kirim Mahasiswa Magang ke Jepang

Tingkatkan skill mahasiswa untuk berkontribusi nyata pada sektor pertanian dan perkebunan, Program Studi (Prodi) Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kirim mahasiswanya magang ke Jepang. Program tersebut difokuskan untuk membekali mahasiswa kemampuan yang dibutuhkan di industri nanti. Sampai saat ini. Agribisnis UMM telah mengirimkan puluhan mahasiswa untuk mahang internasional. Terkait program ini, Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian dan Peternakan Ary Bachtiar, M.Si. menjelaskan, pemilihan Jepang sebagai tempat magang tak lepas dari banyaknya inovasi dan teknologi yang ada. Mahasiswa didorong untuk belajat manajemen hingga pemanfaatan teknologi. Mereka akan diajari kangsung oleh praktisi selama satu semester. Lebih lanjut, magang internasional itu bekerja sama dengan Instansi Lingua Global Utama, Bandung. Pun dengan berbagai perusahaan yang ada di Jepang. Sebelum berangkat, para peserta diberi pelatihan terlebih dahulu, baik dalam aspek bahasa Jepang maupun skill dasar. Kemudian baru dikirim ke sederet lokasi seperti Ogoshifarm, Strawberry Farm Go, Indei Farm, dan lainnya. Dalam prosesnya, para mahasiswa akan mendapatkan ilmu seputar manajemen lapangan, pembibitan, perawatan tanaman, hingga pemanenan buah serta sayuran. Pengenalan terhadap teknologi modern pada sektor pertanian juga menjadi bahasan khusus bagi mahasiswa magang tersebut. Ary berharap, berbagai pengetahuan dan pengalaman yang didapat mahasiswa bisa diimplementasikan di Indonesia. Ary menegaskan beberap keunggulan yang bisa didapat oleh mahasiswa peserta magang. Misalnya saja konversi nilai kuliah dan kemudahan mendapat kerja. Pun dengan memperkuat koneksi dan menjadi perusahaan mitra tatkala mereka membuka lapangan pekerjaan bidang perkebunan dan pertanian di Indonesia. “Mahasiswa program magang internasional tersebut nantinya mendapat konversi nilai sebanyak 20 SKS, jaringan kerja sektor pertanian dan perkebunan internasional, intensif pembelajaran terkait teknologi pertanian dan perkebunan modern, hingga bekerja sama dengan berbagai perusahaan di jepang saat membuka lapangan pekerjaan di Indonesia” ungkapnya. Terakhir, dia berharap besar output yang bisa didapatkan mahasiswa. Baik dari peningkatan skill, kompetensi, hingga terbukanya cakrawala keilmuan. Dengan begitu, mereka bisa menjadi pionir pertanian dan perkebunan tanah air berbasis teknologi. “Pertanian dan perkebunan di Jepang sudah maju. Ini bisa menjaid contoh bagi Indonesia. Apalagi tanah kita sangat ideal untuk sektor pertanin dan perkebunan. Salah satu caranya yakni dengan peningkatan kulitas sumber daya manusianya melalui program magang internasional Agribisnis UMM,” pesannya mengakhiri. (faq/wil)

Stress Tidak Lulus SNBT, Ini Saran Dosen Psikologi UMM

Pengumuman Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) baru saja di rilis pada 20 Juni lalu. Banyak yang bersyukur lantaran berhasil diterima, namun banyak juga yang terpuruk karena gagal masuk di kampus impian. Menanggapi hal itu, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Iswinarti, M.Si. menyampaikan, banyak calon mahasiswa yang terpukul lantaran lantaran mimpinya masuk ke perguruan tinggi impian tidak terwujud. Mereka bisa mengalami stress atau bahkan depresi yang berat. “Ketika seseorang terlanjur stress saat tidak lulus dalam ujian masuk perguruan tinggi, support system dari keluarga dan teman harus muncul. Hal ini mampu mendukung orang tersebut agar mereduksi penyesalan yang sedang mereka alami,” ujar dosen yang akrab disapa Iswinarti tersebut. Individu yang mengalami stress harus diajak untuk melihat realita yang ada pada saat ini. Biasanya, ketika seseorang bercita-cita tinggi, mereka akan banyak membayangkan kemungkinan-kemungkinan saat sukses nanti. “Pada dasarnya bercita-cita setinggi mungkin itu suatu keharusan bagi setiap individu. Akan tetapi juga harus diimbangi dengan kemampuan melihat realita serta apa yang mereka miliki pada saat itu. Sehingga nanti ketika tidak tercapai, mereka bisa mengendalikan diri,” tambahnya. Iswinarti pun menambahkan bahwa ketika sudah berniat mengikuti ujian, pada saat yang sama mereka juga harus siap dengan dua kemungkinan yang akan didapat, diterima atau ditolak. Jika berhasil, maka patut disyukuri. Namun jika gagal, nilai yang harus ditanamkan adalah kampus tersebut memang bukan jalan mereka. Diabrengi dengan kepercayaan dan keyakinan bahwa mungkin ada jalan lain yang sudah disediakan dan lebih baik. “Misalnya saja, ketika memang ditakdirkan untuk memasuki perguruan tinggi swasta, mereka tidak harus berkecil hati. Karena nantinya, berdasarkan dari pengalaman-pengalaman yang mereka lalui, mereka akan menyadari bahwa dari sekian banyak proses, ini merupakan pilihan terbaik untuk diri mereka masing-masing,” tambahnya. Ketika seseorang pada awalnya telah menyiapkan diri berusaha, bertawakal, dan menyadari bahwa kegagalan itu pasti ada, mereka dapat belajar menerima keadaan dan menghindari keterpurukan. “Kita harus mampu menyediakan pilihan kedua dari keinginan kita. Sehingga saat rencana pertama tidak tercapai, kita masih bisa mengusahakn yang kedua. Pun dengan jalan-jalan yang bisa diambil nantinya,” pesannya mengakhiri. (fat/wil)