Pro Kontra Istilah Marketplace Guru, Begini Kata Dosen Bahasa Indonesia UMM

Istilah marketplace guru akhir-akhir ini menjadi perbincangan di kalangan pendidikan. Fenomena ini menuai pro dan kontra. Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) mencetuskan ide tersebut sebagai upaya dalam mengatasi masalah tenaga guru honorer yang terjadi selama bertahun-tahun. Menanggapi hal tersebut, Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) M. Isnaini, M.Pd. mengatakan bahwa secara program, hal ini patut diapresiasi. Menurutnya, program tersebut dapat menjadi jalan pemerataan guru dan mampu mempermudah akses perekrutan guru. “Secara program, hal ini bukanlah suatu masalah yang signifikan. Meskipun ada plus minusnya, tetapi hadirnya program tersebut mampu membuat pemerataan guru di sekolah-sekolah,” ucap dosen yang akrab disapa Krisna tersebut. Meski demikian, Krisna juga mencermati istilah penggunaan kata “marketplace”. Menurutnya, istilah ini tidak menghargai marwah profesi guru. Hadirnya istilah ini jangan sampai membuat masyarakat yang tidak paham, menganggap bahwa guru menjadi barang dagangan. Guru yang seharusnya dihormati dan dihargai jasanya, malah dianggap rendah dan diremehkan begitu saja akibat pembuatan istilah yang kurang keberterimaannya di masyarakat. “Market itu kan pasar dan placenya itu penjualan secara online. Jadi terminologi bahasa yang dipakai menurut saya sangat kurang tepat. Jangan sampai orang atau manusia dianggap seperti barang. Marwah guru tentu akan jatuh. Nanti bisa-bisa muncul pertanyaan, guru bisa di-pay later kah? bisa COD dong?,” ucap Krisna. Ia lalu mengingatkan, bahwasanya di dalam Kementrian Pendidikan kebudayaan riset dan teknologo RI, ada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) yang memiliki tugas kontroling penggunaan dan perkembangan bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Adanya lembaga negara atau BPPB ini seharusnya bisa mengoreksi arau memberi pertimbangan atas penggunaan istilah tersebut. Menurutnya, ketika menteri akan membuat kebijakan, sudah seharusnya ada kajian sebelumnya, termasuk penggunakan istilah bahasa yang menjadi produk kebijakan Kemdikbudristek RI. Sebagai dosen bahasa Indonesia, ia juga menyarankan untuk menggunakan istilah-istilah yang ada di bahasa Indonesia. Hal itu lebih menunjukkan kedekatan kepada masyarakat dan lebih dekat dengan budaya dan sosial masyarakat. “Sebaiknya gunakan isitilah bahasa Indonesia, apalagi ada komitmen pemerintah melalui Kemdikbudristek RI terkait internasionalisasi bahasa Indonesia sebagai mana amanah UU nomor 24 tahun 2009 pasal 44 tentang peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. Dengan demikin rasa cinta Bahasa Indonesia terus hidup dan lekat secara sosiokultural,” pungkasnya. (Nel/Wil)
Hayati Rhizovit, Pupuk Ciptaan Dosen UMM Atasi Lahan Kering

Pupuk hayati memiliki beragam manfaat untuk membantu pertumbuhan tanaman. Kebutuhan tanaman akan nutrisi hara dalam tanah biasanya spesifik, sehingga pembuatan pupuk berbahan dasar tanaman dikembangkan dengan sifat dan kandungan yang juga spesifik. Hal ini dimanfaatkan oleh dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Peternakan Pertanian (FPP) dengan melakukan inovasi pupuk hayati. Khususnya bagi lahan kering atau lahan yang kekurangan air. Salah satu anggota tim, Dr. Ir. Ali Ikhwan, M.P. menjelaskan, bahwa pupuk ini diberi nama hayati rhizovit. Nama tersebut juga tercermin pada banyaknya manfaat dan kandungan yang mampu menghasilkan osmoprotektan yang meningkatkan ketahanan tanaman pada kekeringan. Selain itu, terdapat hormon yang dapat memacu pertumbuhan tanaman. Pun menghasilkan senyawa yang dapat berfungsi sebagai pertisida organik sehingga membendung serangan hama penyakit bagi tanaman. “Penelitian ini berfokus pada lahan kering. Apalagi melihat luas lahan kering di Indonesia mencapai sekitar 150 juta hektar. Angka ini jauh lebih luas ketimbang lahan yang memiliki perairan teknik irigasi yang baik”, ucap Ali. Ia kembali menjelaskan bahwa saat ini banyak peneliti yang hanya berfokus pada lahan perairan. Padahal ada aspek lain yang bisa dikembangkan dan diteliti. Salah satunya yakni lahan kering. Adapun dalam penelitian ini menyasar pada lahan jagung. Terkait pembiayaan, Ali dan tim mendapatkan dana dari Badan Riset dan Inovasi Nasional selama tiga tahun. Pupuk ini juga saat ini dalam proses dipatenkan. Kemudian disebarluaskan untuk para petani yang ada di Indonesia. Utamanya mereka yang memiliki masalah pada lahan kering. “Kami memulai penelitian ini pada 2020. Ada banyak mitra yang sudah kami ajak kerjasama. Begitupun dengan kelompok tani. Beberapa sudah mencoba menggunakan pupuk ini sembari menunggu paten terbit,” katanya melanjutkan. Berdasarkan penelitian, hasil produksi jagung yang menggunakan pupuk rhizovit hayati melonjak naik hingga 90an persen. Adapun pupuk ini dikeluarkan berbentuk granul dan cair. Tujuannya agar para petani memiliki pilihan, mengingat tidak semua pupuk dalam bentuk cair dapat dikirim ke seluruh Indonesia. Pupuk hayati rhizovit ini juga memiliki biaya produsi yang lebih murah. Hal itu karena pupuk tersebut lebih efektif dan efisien. Baik itu dari aspek bahan hingga biaya produksi. ”Semoga saya dan beberapa pihak yang terlibat dalam penelitian ini dapat memberikan manfaat. Salah satunya memberikan keuntungan yang lebih banyak bagi bagi petani jagung dengan harga pupuk yang terjangkau,” pungkasnya. (Wil)
Bagaimana Pengucapan Kata QRIS? Ini Jawaban Dosen Bahasa Indonesia UMM

Beberapa waktu lalu muncul perdebatan tentang pengucapan QRIS. Adapun QRIS merupakan kepanjangan dari Quick Response Code Indonesian Standard yang berfungsi sebagai sistem pembayaran di Indonesia. Sebagian masyarakat membacanya dengan “kyuris”, sebagian menyebutnya dengan “kris”. Bahkan ada yang mengucapkannya dengan sebutan lain seperti “kiris” hingga “keris“. Lalu bagaimana seharusnya QRIS dibaca menurut ejaan yang benar? Menanggapi fenomena ini, dosen Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Drs. Sudjalil, M.Si., M.Pd. memberikan penjelasannya. Menurutnya, dalam kaidah bahasa Indonesia, ada pengucapan yang lazim adapula pengucapan lafal baku yang sesuai dengan hurufnya. “Jadi kalau QRIS dibacanya ya ‘kris’ bukan ‘kyu,ar’ atau yang lainnya,” katanya. Sujadlil, begitu ia kerap disapa, menjelaskan bahwa di Bahasa Indonesia terdapat pemendakan pengucapakan kata yang memiliki kaidah fonologis. Adapun QRIS muncul dari sebuah singkatan bahasa Inggris. Meski begitu, cara membaca singkatan tersebut harus sesuai pelafalan huruf di bahasa Indonesia. “Memang, ada banyak orang yang salah melafalkan penyebutan. Apalagi bahasa Indonesia memang memiliki banyak kata serapan dari bahasa asing. Misalnya saja kata ‘target’ yang banyak orang melafalkannya dengan ‘tarjet’. Pun dengan ‘manajemen’ yang seringkali dibaca ‘menejemen’. Termasuk juga AC yang dibaca ‘ase’ padahal seharusnya ‘ace’,” jelasnya. Menurutnya, pelafalan bahasa Indonesia harus diucapkan dalam kaidah bahasa Indonesia pula. Kebanyakan orang hanya mengikuti kefamiliaran penyebutan kata tanpa tahu mana yang benar dan mana yang salah. Ada pelafalan yang salah tapi seringkali digunakan karena sudah terlanjur dipakai secara luas di masyarakat. Adapula penyebutan yang benar tapi tidak digunakan karena dinilai kurang cocok dan kurang enak didengar. “Terkait QRIS, yang serupa dengan QRIS adalah cara baca IQ. Yang benar adalah ‘iki’ bukan ‘ai-kyu’. Pun dengan QRIS yang cara bacanya adalah ‘kris’. Memang perlu diucapkan dan digunakan agar familiar. Tidak jarang penyebutan yang benar ditertawakan oleh orang-orang sekitar. Padahal itu yang benar,” pungkasnya mengakhiri. (Nel/Wil)
UMM-Kemendag RI Percepat Perdagangan melalui Sistem Elektronik

Tercatat, pada tahun 2022 nilai transaksi elektronik e-commerce di Indonesia mencapai 475 triliun rupiah. Hal itu ditegaskan oleh Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI Dr. Ir. Kasan, M.M. dalam program Kemendag goes to Campus yang dihadiri 1.500 UMKM dan mahasiswa. Agenda yang dilaksanakan pada 20 Juni di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu berupaya memberikan pemahaman terkait kebijakan perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE). Kasan melanjutkan, angka 475 triliun rupiah didapat dalam rentang satu tahun. Jika dihitung, maka akan ada skeitar 1,5 triliun transaksi elektronik dalma sehari. Maka, pemerintah, termasuk Kemendag memang fokus unutk mengembangkan dna memaksimalkan bidang ini. Salah satunya dengan membuat beberapa kebijakan yang bisa merangsang pertumbuhan transaksi terkait. Ia juga menjelaskan bahwa pandemi yang terjadi mulai dari 2020-2022 membuat manusia sadar akan pentingnya penggunaan teknologi digital. Apalagi saat pandemi Covid-19, interaksi fisik antar manusia dibatasi sehingga mau tidak mau harus menggunakan transaksi digital. Hal ini pula yang mendorong pesatnya perkembangan PMSE. Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia cukup besar,yakni mencapai 100 miliar USD. Jika nilai kursnya Rp15.000, maka berada di angka 1.500 triliun rupiah. Angka bahkan diprediksi akan naik pada 2025 yakni rata-rata 20 persen tiap tahun menjadi 120-130 miliar USD. “Saya rasa, upaya PMSE ini juga selaras dengan program Center of Excellence (CoE) UMM yang mencetak sumber daya manusia unggul. Bukan hanya melahirkan entrepreneur tapi juga memberi bekal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dna industri. Ini hal yang dibutuhkan oleh Indonesia saat ini,” tegasnya. Di sisi lain, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengapresiasi kerjasama dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Apalagi dengan mendatangkan para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Malang. Pun dengan para mahasiswa yang memiliki peran signifikan di masa depan. Syamsul, sapaannya mengatakan bahwa kebijakan PMSE ini cukup selaras dengan program CoE UMM. Menggaet ratusan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), Kampus Putih mengundang praktisi untuk berdiskusi membuat matching curriculum. Dengan begitu, para mahasiswa yang ikut CoE bisa mendapatkan skill yang benar-benar dibutuhkan oleh industri. Sehingga daya serap di dunia kerja semakin tinggi. “Tiap prodi di UMM memiliki CoE dan kelas-kelas keahlian yang bisa dicoba. Misalnya saja di fakultas pertanian dan peternakan yang punya CoE Unggas, Udang hingga Koi. Pun dengan Fakultas Teknik dengan kelas welding inspector hingga metaverse. Sampai saat ini ada lebih dari 54 CoE yang sudah berjalan,” katanya mengakhiri. (wil)
Dosen UMM Beri Tips Pilih Hewan Kurban yang Tepat

Menjelang hari raya Idul Adha, umat muslim di seluruh dunia tentu sedang menyiapkan diri untuk menjalankan ibadah kurban. Salah satu proses di dalamnya adalah memilih hewan kurban yang sehat dan tepat. Apalagi dalam Islam, memilih hewan kurban tidak boleh sembarangan. Maka, dosen peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ir. Ahmad Wahyudi, M.Kes., memberikan beberapa tipsnya dalam memilih hewan kurban. Ia menegaskan bahwa hendaknya masyarakat memiliki hewan ternam yan sehat. Adapum hewan kurban yang diperbolehkan dalam ajaran Islam yaitu, sapi, kambing, domba, dan unta. Pemilihannya pun harus diperhatikan kondisinya seperti tidak cacat, buta, atau pincang. “Biasanya menjelang Idul Adha, hewan-hewan ternak yang bermasalah seperti sakit misalnya, akan diobati tiga bulan sebelumnya, “ tandas Wahyudi. Usia hewan ternak yang akan dikurbankan juga harus memenuhi syarat. Bisa dilihat dari kondisi gigi tetap pada rahang bawah hewan. Sapi yang memiliki gigi tetap sepasang pada rahang bawah mempunyai usia sekitar dua tahun. Sedangkan pada kambing dan domba sekitar satu tahun. “Hewan kurban juga harus ‘good looking’ atau bagus dilihat secara fisik. Biasanya kondisi fisik hewan kurban dilihat dari kondisi badan, bulu yang bersih, tanduk, dan janggutnya,” tambahnya. Namun, akhir-akhir ini terjadi masalah besar yang menimpa para peternak hewan kurban, yaitu munculnya virus penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Virus ini dapat menginfeksi mulut dan kuku hewan dan membuat mereka tidak ingin makan dan tidak dapat berdiri. Selain itu, penyakit kulit yang disebabkan oleh virus lumpu skin disease (LSD) juga dapat menyerang kulit hewan ternak. Masyarakat mengenal ini dengan sebutan penyakit virus lato-lato. Selain memeriksa hewan kurban dari kondisi tubuh, para calon pembeli juga perlu melihat kondisi dan kebersihan lokasi tempat penjualan hewan kurban. Kondisi lingkungan tempat hewan kurban tinggal akan mempengaruhi kesehatan mereka. “Cara untuk melihat sapi yang di tubuhnya ada cacing atau tidak, yakni dengan melihat bulu yang ada di garis punggung. Mulai dari belakang leher sampai ke belakang. Jika bulunya berdiri dan kusam itu artinya di dalam tubuh sapi itu ada cacing. Jadi pilihlah sapi yang bulu nya jatuh dan tidak kusam,” sarannya. Terakhir, Wahyudi menyampaikan bahwa sapi asli Indonesia seperti sapi Madura, sapi Bali, dan sapi Jawa tidak mudah terserang cacing. Berbeda dengan sapi-sapi hasil persilangan sapi lokal dan Eropa yang lebih rentan terserang cacing. “Sapi lokal menjadi pilihan yang bagus untuk berkurban, karna tubuhnya lebih tahan dari serangan penyakit. Ini lantaran hewan-hewan tersebut sudah lama hidup di daerahnya, sehingga tahan terhadap cacing,” pungkasnya. (sep/wil)
Pakar Kesejahteraan Sosial UMM Beberkan Solusi Permasalah Pekerja Sosial

Berbagai masalah dihadapi oleh praktek pekerja sosial, terutama dalam perspektif suku-suku pribumi di Malaysia. Hal itu disampaikan oleh Prof. Madya Dr. Khadijah Alavi asal Malaysia pada kuliah tamu prodi Kesejahteraaan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pertengahan Juni Ini. Selain Khadijah, hadir sebagai pembicara profesor asal Malaysia pula Prof. Madya Dr. Zahara Abdul Manaf dan Dr. Rinikso Kartono. M.Si. Lebih lanjut, ia menjelaskan sederet masalah yang terjadi. Mulai dari aspek pendidikan dan kesehatan, hingga isu konflik utama yakni diskriminasi kekerasan. Melihat banyaknya problem yang terjadi, ia memberikan solusi bagi pekerja sosial agar bisa mencegah konflik dan memebrik dukungan. Utamanya bagi kefungsian sosial masyarakat pribumi berdasarkan temuan antropologis. “Tiga perkara penting yang harus dimiliki yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Kita harus paham budaya pribumi. Pekerja sosial harus mengesampingkan prasangka tentang agama, ras, sosial, ekonomi dan status kelas. Dengan begitu, mereka akan mau menghargai sistem nilai hidup walaupun berbenturan dengan nili yang mereka pegang teguh,” katanya. Adapun kuliah tamu ini mengusung tema “Social Work Practice In Indigenous Perspective”. Para pemateri mencoba membahas khusus tentang permasalahan sosial yang dialami oleh masyarakat pribumi. Sementara itu, Zahara menyampaikan isu-isu kesehatan sosial. Misalnya saja terkait stunting dan obesitas yang terfokus pada anak-anak suku pribumi. Menurutnya faktor penyebab kurangnya gizi pada anak salah satunya karena masalah sosial seperti kemiskinan, kurangnya pengetahuan tentang gizi, perubahan iklim dan faktor lingkungan. Di samping itu juga terbatasnya layanan kesehatan menjadi tantangan yang harus segera diatasi. Pun dengan praktik budaya dan keyakinan adat yang juga menjadi salah satu alasannya. “Maka dari itu, penanganan kurang gizi memerlukan pendekatan multi-aspek yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Namun pemerintah juga harus banyak mempertimbangkan konteks budaya yang unik dan melibatkan komunitas orang asli dalam merancang intervensi yang sesuai budaya, berkelanjutan, dan memberdayakan,” tandasnya. Di sisi lain, Rinikso memberikan penjelasan ciri profesi pekerjaan sosial dalam menangani masalah pribumi dalam pelayanannya. Ada sederet hal yang ia sebutkan. Mulai dari integrasi tradisi lokal, intervensi bantuan lokal ke dalam praktik kerja sosial arus utama (dukun, kepala desa) juga adaptasi pendekatan arus utama agar sesuai dengan konteks (batasan) lokal. “Sumber utama pengetahuan untuk praktek ekologi dan kebijaksanaan itu ada banyak. Seperti menghasilkan model pengetahuan dan praktik dari bawah ke atas, berdasarkan nilai, kepercayaan, adat istiadat dan norma budaya praktik pertolongan local. Pun dengan model Sarawak dan budaya lokal,” pungkasnya. (Nel/Wil)
Dorong Ekosistem Halal, UMM Gelar Pelatihan Juleha Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi pelopor bidang halal. kali ini Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal UMM (PSP3-Halal) mengadakan Pelatihan dan Sertifikasi Juru Sembelih Halal (Juleha). Setidaknya acara ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Pelatihan ini juga menyediakan praktik langsung menyembelih tiga ekor kambing, lima ekor Ayam, serta lima ekor bebek secara syar’i. Kegiatan ini juga dilakukan mengingat momen Idhul Adha yang akan segera datang. Pun sebagai langkah PSP3-Halal UMM dalam mendukung pemerintah Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Sistem Jaminan Halal. oleh Ketua PSP3 Halal UMM, Prof Dr. Elfi Anis Sa’ati, M.P. mengatakan, perlu adanya penekanan betapa pentingnya Juleha. Utamanya yang telah tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai syarat sebuah Rumah Potong Hewan (RPH). “Kita harus ingat, sesuai arahan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa pada oktober 2024, semua produk makanan yang beredar di pasar harus sudah tersertifikasi halal. Namun kenyataannya masih banyak UMKM yang mengolah daging ayam seperti nugget, sosis, sempol dan lainnya masih belum tersertikiasi halal. Baik di aspek RPH-nya maupun proses produksi di UMKM itu sendiri. Maka Juleha juga menjadi aspek penting yang harus dipenuhi,” katanya. Menariknya, pelatihan Juleha ini bersetifikat dari BNSP. Tujuannya adalah untuk memberikan kompetensi Juru Sembelih Halal guna mendorong naiknya produk halal di Indonesia. Data tahun 2022 menunjukkan, RPH yang memiliki Sertifikat Halal hanya berjumlah 2% dari total seluruh RPH di Indonesia. Hal ini menunjukkan masih minimnya kesadaran halal pada RPH. Hadir pula dalam kesmepatan itu Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Ia bercerita perjalanannya ke berbagai negara. Ia menemukan bahwa banyak negara yang sudah memberi fasilitas bagi umat muslim berupa ketersediaan sertifikasi halal untuk makanan dan restoran. Sehingga, para muslim yang berkunjung merasa aman, nyaman, dan tidak khawatir akan kehalalan suatu produk. “Industri halal telah meengglobal di seluruh dunia. Bukan hanya terbatas di negara-negara Islam, namun juga di berbagai negara islam minoritas. Sebut saja Jepang dan Korea yang sudah mulai menerapkan sertifikasi halal,” ungkapnya. Syamsul juga berpesan kepada seluruh epserta Juleha untuk benar-benar memperhatikan berbagai langkah yang diajarkan. Utamanya terkait dengan alur penyembelihan hewan. “Outputnya tentu agar bisa memberikan perhatian lebih pada kualitas kehalalan makanan. Khususnya pada aspek cara menyembelih hewan yang syar’i,” pesannya. (Faq/Wil)
Dirikan Program Pendidikan hingga Tulis Buku, Mahasiswa UMM Ini Jadi Duta Pendidikan Jatim

Kabar membanggakan datang dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adalah Amira Syafana, mahasiswa PGSD yang sukses meraih penghargaan sebagai runner up 2 dalam event Putera Puteri Pendidikan Jawa Timur 2023. Adapun kompetisi ini diselenggarakan oleh Glamour Look Pageants di Kota Surabaya dan diikuti puluhan peserta. Tentu bukan hal yang mudah bagi Amira untuk menjalani berbagai proses event tersebut. Banyak sekali tahapan yang harus ia lewati untuk bisa lolos di grandfinal. Mulai dari pendaftaran pada Februari, dilanjutkan dengan tes tulis, tes wawancara dan focus group discussion, pra-karantina satu dan dua. Kemudian dialnjutkan dengan masa karantina dan puncaknya grandfinal pada 11 Juni 2023. Menariknya, ia juga merupakan seorang aktivis pendidikan yang seringkali terjun ke sekolah-sekolah dalam kategori daerah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal). Bahkan ia merintis lembaga advokasi Teacher for Charity yang memiliki tagline “Bersama Eksplorasi Sekolah Untuk Meningkatkan Mutu” (Bersatu). Lewat program itu, ia mengajar “Bermodalkan rasa keikhlasan dan semangat kepedulian akanpendidikan, saya tergerak untuk ikut andil dalam memajukan pendidikan ini terutama kepada daerah 3T. Salah satunya dengan mendirikan lembaga advokasi Teacher for Charity sejak tahun 2021 sebagai kendaraan formal saat saya terjun langsung ke sekolah-sekolah. Sekaligus menjadi pemantik bagi orang-orang untuk lebih peduli kepada pendidikan,” katanya. Menurutnya, kesetaraan pendidikan di Indonesia saat ini masih sangat kurang. Terutama pada sekolah daerah 3T dari segi model pembelajaran, media pembelajaran, desain pembelajaran, hingga sarana prasarana penunjang Pendidikan. Saat ini, Amira juga fokus membantu dalam hal terapis keluarga autis tepatnya di Omah Terapi Autis. Di sana, ia mengajar basic life seperti membersihkan toilet sikat gigi, memegang sendok, hingga motorik kasar seperti melompat dan jalan. “Kebetulan saya mendampingi anak-anak usia sekitar 3-7 tahun. Saya tidak bisa menutup mata dengan keberadaan anak-anak yang spesial. Saya sangat bahagia bisa berbagi dan mendampingi mereka,” urainya. Amira juga produktif dalam dunia kepenulisan. Ia telah menelurkan delapan buku, beberapa artikel, dna bahkan opini yang mendapat penghargaan. Misalnya saja opini berjudul Merajut Asa Pejuang Merdeka Belajar yang sukses memenangi kompetisi Nasional PENMAS. Menurutnya, karya tersebut menjadi usahanya untuk memberikan semangat bagi mahasiswa dan anak muda lain untuk berkarya. Terakhir, dia berpesan kepada seluruh calon guru untuk lebih memperhatikan proses pendidikan. Pun dengan tidak pilih-pilih dalam menjalankan tugas sebagai seorang pendidik karena pendidikan merupakan garda terdepan dari sebuah bangsa. Intelektual dan moral suatu bangsa juga ditentukan oleh pendidikan yang disediakan. (Faq/Wil)
Mahasiswa UMM Menangi Kejuaraan Taekwondo Internasional

Derlin Julianto, Atlet Taekwondo Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sabet medali emas dalam kejuaraan Internasional. Tepatnya di kejuaraan Asia Invitational Taekwon-Do Championship yang dihelat di SRJK Shang Wu, Penang, Malaysia, pada 3-4 Juni 2023 lalu. Setidaknya terdapat lebih dari 850 peserta yang berasal dari sepuluh negara, antara lain Malaysia, Indonesia, Singapura, Hong Kong, Bangladesh, India, Taiwan, Sri Lanka, Thailand, dan Brunei. Dhein, sapaan akrabnya menceritakan bahwa dengan tekad yang kuat ia mampu mengalahkan lawan-lawannya. Apalagi dengan bekal latihan selama kurang lebih 5 tahun menjadi modal utama untuk mengikuti kejuaraan internasional tersebut. ”Saya sebenarnya ingin melatih dan menguji mental serta ingin mengetahui sensasi mengikuti kejuaraan taekwondo internasional. Jadi persiapannya bukan hanya satu dua bulan saja, tapi hingga bertahun-tahun agar bisa lebih matang. Kebetulan saya sudah menekuni beladiri taekwondo ini sejak 2018 lalu,” katanya. Mahasiswa Diploma-III Teknik Elektro, Vokasi UMM tersebut menyampaikan bahwa dia mendapat undangan langsung dari International Taekwon-Do Federation (ITF) Malaysia melalui ITF Indonesia untuk mengikuti kejuaraan tersebut. Ia juga mengapresiasi Kampus Putih UMM yang sangat mendukungnya untuk berlaga di perhelatan dunia itu. Baik itu dari segi finansial maupun fasilitas. Mahasiswa asal Konawe Utara, Sulawesi Tenggara itu juga sempat membagikan pengalamannya selama berkarir menjadi atlet taekwondo. Semua berawal pada tahun 2018 di mana Dhein menggeluti dunia taekwondo. Ia mengaku tidak memiliki dasar apapun di dunia bela diri sehingga ia benar-benar belajar dari nol. Namun, berkat keuletan dan konsistensi selama berlatih, dia mendapatkan buah dari hasil latihan tersebut berupa memenangkan berbagai kejuaraan beladiri. Menariknya, Dhein tidak hanya mengikuti kompetisi taekwondo saja. Ia juga sering kali terjun dalam berbagai kejuaraan beladiri seperti kickboxing, baik itu di tingkat kota hingga nasional. Meski sedikit berbeda, tapi sensasi kompetisinya membuatnya bersemangat. Terakhir, dia berpesan kepada seluruh atlet bela diri khususnya di UMM untuk berani mengikuti pertandingan persahabatan. Hal itu akan melatih serta meningkatkan skill serta mental dalam bertanding di gelanggang. “Semakin sering bertanding, semakin sering sparing dengan yang lain, semakin bagus pula untuk mental. Percuma teknik bagus tapi mental masih lembek. Percuma juga percaya diri tapi tekniknya kurang memadai. Keduanya harus diasah dengan seimbang,” tegasnya mengakhiri. (faq/wil)
Berkurban Wajib atau Sunnah? Ini Jawaban Dosen UMM

Terdapat beberapa perbedaan pendapat para ulama mengenai hukum pelaksanaan ibadah kurban. Ada ulama yang mengatakan bahwa berkurban adalah wajib, namun adapula yang mengatakan berkurban ini hukumnya sunnah. Melihat hal itu, Ketua Program Studi Studi Hukum Keluarga Islam (Prodi HKI) Muhammad Arif Zuhri, Lc., M.HI. memberikan penjelasannya. Jika mengacu pada pendapat yang dipegang oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, maka hukumnya akan lebih mengarah pada sunnah muakkad. Maksudnya adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan. “Namun, saya kira perbedaan pendapat tersebut tidak perlu diperselisihkan. Bagi yang ingin menganggap itu wajib silahkan, pun bagi yang menganggap itu sunnah silahkan diikuti,” jelasnya. Ketika seseorang memiliki kemampuan, maka setiap tahun dia memiliki syariat atau sunnah untuk melaksanakan ibadah kurban. Jadi ibadah ini tidak berlaku sekali untuk seumur hidup. Jika mampu melaksanakannya tiap tahun, maka sebaiknya ia berkurban karena hal tersebut merupakan bagian dari syari’at. Arif, sapaannya, juga memberikan beberapa anjuran bagi yang ingin melaksanakan kurban. Pertama, dianjurkan bagi orang yang berkurban untuk langsung menyembelih hewan kurban tersebut jika ia berani dan bisa. Jika tidak bisa, maka dapat diwakilkan ke mereka yang bisa menyebelih. Pemilik hewan kurban tersebut juga dianjurkan untuk menyaksikan proses penyembelihan dilakukan. Anjuran kedua yaitu tidak memotong kuku atau rambutnya sampai penyembelihan hewan kurban selesai dilaksanakan. “Namanya anjuran ya memang tidak wajib dilakukan. Namun akan lebih baik jika bsia dilakukan dan dilaksanakan,” ujar Arif. Lebih lanjut, Arif mengatakan, tidak semua hewan bisa dijadikan hewan kurban. Hewan tersebut harus masuk kategori hewan ternak. Hewan yang masuk kategori hewan ternak ialah sejenis unta, sapi, kambing, domba ataupun biri-biri. Syarat hewan kurban terdapat dari dua sisi, yaitu dari sisi fisik dan umur. Jika dari sisi fisik, hewan kurban itu harus sehat, tidak cacat dan memiliki tanduk. Adapun sehat di sini merujuk pada tidak sakit, hewan harus gemuk dan memiliki daging. Kemudian dari sisi umur, unta harus berusia minimal lima tahun, sapi berusia minimal dua tahun, serta kambing dan sejenisnya berumur minimal satu tahun. “Jika sudah mencari kemana-mana dan tidak ditemukan hewan yang memenuhi umur minimal, maka bisa menggunakan hewan jadza’ah yaitu kambing atau domba yang umurnya enam bulan hingga satu tahun,” kata Arif. Adapun Pelaksanaan kurban ini dilaksanakan pada saat Idul Adha 10 Zulhijjah hingga 13 Zulhijjah sebelum terbenamnya matahari. Tidak ada syarat tempat untuk melaksanakan kurban. Hanya saja lebih baik jika dilakukan di tempat salat atau ibadah, seperti di masjid ataupun lapangan. (dev/wil)