Fitness dan Gym Tanpa Personal Trainer? Begini Kata Dosen UMM

Olahraga fitness dan gym menjadi primadona belakangan ini. Selain bermanfaat untuk kesehatan, olahraga satu ini banyak diminati karena memberikan hasil yang siginifikan dalam membentuk tubuh. Bagi pemula, biasanya akan direkomendasikan menggunakan Personal Trainer (PT) untuk awal latihan. Sayangnya, harga pendampingan PT yang mahal membuat banyak orang akhirnya memilih untuk melakukan fitness sendiri. Kaprodi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph,D. meyampaikan bahwa hal ini tidak disarankan. Fitness dan gym memang memerlukan trainer untuk mengurangi kemungkinan cedera. Adapun fitness dan gym berbeda. Gym merupakan latihan menggunakan beban, sementara fitness lebih pada kebugaran yang dapat dilakukan tanpa beban. Walau ada perbedaan signifikan antara keduanya, namun tetap saja fitness membutuhkan PT terutama bagi pemula. “Personal trainer disini dapat membantu untuk memberikan pemahaman mengenai manfaat dan tujuan, pemberian dosis latihan dan resiko cedera yang kemungkinan terjadi. Pun dengan penanganan awal jika sewaktu-waktu terkena cedera,” jelasnya. Salah satu resiko cedera yang terjadi bagi pemula fitness dan gym tanpa PT adalah delayed onset muscle soreness (DOMS). Yaitu munculnya rasa nyeri setelah melakukan latihan. Ini biasanya terjadi 12-24 jam setelah berolahraga. Resiko cedera tersebut rentan terjadi karena kurangnya pengetahuan mengenai repetisi dan beban sesuai batas kemampuan. Apalagi biasanya pemula tidak sabar untuk bisa segera mendapatkan tubuh yang ideal hingga akhirnya memaksakan diri. “Fitness sebenarnya bisa dilakukan oleh siapapun dengan rentan usia berapapun. Bahkan lebih baik sudah dilakukan sejak masih kanak-kanak.  Seperti yang kita ketahui, anak-anak sekarang lekat  dengan teknologi yang membuat aktivitas fisiknya berkurang drastis,” tutur Dimas. Hal yang sama juga terjadi pada orang dewasa. Banyak masyarakat yang merasa telah cukup berolahraga lantaran aktivitas fisiknya tinggi. Sayangnya, persepsi tersebut tidak benar karena tubuh manusia membutuhkan maintenance yang jelas dan fitness memberikannya dengan baik. “Sedikit pesan untuk tenaga kesehatan maupun mahasiswa kesehatan. Tugas kita adalah memberikan edukasi ke masyarakat terkait hal mana yang salah dan mana yang benar dalam kesehatan. Sehingga kesalahpahaman tidak terjadi dan mereka sadar untuk menjaga kebugaran tubuhnya,” pungkasnya. (nia/wil)

Mahasiswa Kesos UMM Berdayakan Janda Desa Pandansari lewat Program PHP

Mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jalankan program Perempuan Hebat Pandansari (PHP) di Desa Pandansari. Mereka menggaet para perempuan rawan sosial dan ekonomi (PRSE) dan janda di sana selama satu bulan sejak awal Maret 2023 lalu. Salah satu pelatihannya yakni terkait pembuatan kue mochi. Terhitung ada puluhan peserta dari tujuh dusun yang berpartisipasi aktif. Koordinator tim Enggar Hikmatul menjelaskan bahwa sebagian besar PRSE di Desa Pandansari adalah mereka yang ditinggal suaminya. Timnya mencoba memberikan pelatihan skill agar para janda ini bisa lebih mandiri melalui pengolahan mochi. “Mochi dipilih karena melihat salah satu potensi Desa Pandansari, yakni susu sapi dan durian. Susu adalah bahan utama dalam pembuatan mochi, makanya kami menilai bahwa mochi akan sangat cocok dikembangkan di sini. Ditambah dengan durian yang bisa dijadikan isiannya,” jelasnya. Tidak hanya pengolahan, para janda juga diajari terkait branding produk. Hal itu agar mereka bisa sekaligus mencari dan mengembangkan pasar mochi yang sedang digeluti. Menurut Enggar, upaya timnya tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan bagi para janda saja, tapi juga menggerakkan masyarakat untuk mengembangkan potensi yang ada. Jika berlangsung dengan baik, usaha pembuatan mochi ini akan mampu mencapai pasar yang luas. Kegiatan PHP ini disambut baik oleh pemerintah desa. Salah satunya Kepala Desa Pandansari, bambang Riyanto. Ia sangat mengapresiasi dan antusias akan program tersebut. Apalagi sangat jarang ada program yang memberdayakan perempuan untuk berkarya. “Ini adalah kegiatan yang kreatif. Selain mendorong dan memacu para janda untuk terus berkarya dan menghidupi keluarga, aktivitas ini juga membuat mereka mendapatkan skill baru yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya,” tambahnya. Bambang, begitu ia kerap disapamenilai, jika produk ini bisa dikembangkan dan dilakukan secara kontinyu, ia yakin mochi buatan Desa Pandansari dapat dikenal oleh masyarakat luas. “Semoga dengan diadakannya pelatihan ini, dapat menggugah inovasi para masyarakat. Khususnya ibu-ibu muda dan PRSE,” ujarnya. Nanik, salah satu peserta, juga senang bisa turut aktif dalam pelatihan pembuatan produk mochi. Ada banyak pengetahuan yang ia dapat, baik itu proses pembuatan mochi maupun cara memasarkannya. Ia berencana untuk mendalami pengembangan mochi dan akan membuka usaha sendiri. Dengan begitu ia juga turut membuka lapangan kerja bagi warga desa. “Sebenarnya, pembuatan kue mochi ini sangat mudah dan tidak ribet. Bahannya juga mudah didapatkan di toko-toko terdekat,” ungkapnya mengakhiri. (*/wil)

PBA UMM Semarakkan Pembelajaran Bahasa Arab lewat Alepo

Festival mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini hadir lebih menarik. Menjadi tahun ke enam diadakan, Al-arabiya Festival Expo (Alepo) dilangsungkan pada 6-9 Maret 2023 dan diikuti ratusan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Ketua Pelaksana, Muhammad Zarfan Yamin menilai bahwa festival ini bukan hanya menyelenggarakan lomba, tapi juga menghadirkan sederet pembicara. Sehingga diharapkan Alepo mampu menjadi wadah kolaborasi untuk mendalami Bahasa Arab. Pun dengan meningkatkan semangat serta minat dalam pengembangan bahasa terkait. “Nama Alepo terinspirasi dari sebuah kota yang bernama serupa di Suriah. Kota ini memiliki sejarah tinggi dan kecemerlangan yang bisa dijadikan inspirasi. Apalagi dulu, kota ini juga telah mencapai kemaayhuran dan kemakmuran dalam bidang seni, ilmu pengetahuan dan sejarah Arab. Maka digarpakan festival ini juga menghasilkan hal yang sama,” tegasnya. Sederet acara yang ada di Alepo di antaranya talkshow, lomba tingkat pelajar hingga kompetisi antar mahasiswa di berbagai cabang lomba. Para peserta bersaing di beberapa cabang menarik seperti lomba debat bahasa arab, olimpiade bahasa arab, puisi, pidato, menyanyi hingga komentator yang suanya berlangaung dalam bahasa Arab. Lebih dari 270-an peserta memperebutkan juara. Adalun festival tahun ini mengambil tema visual yng lebih trendi. Yakni dengan menerapkan tema classic retro yang naik turun. Diharapkan, visual ini bisa lebih menyemarakkan lomba dan festival terkait. Menarikny, ada juga bazar yang menyediakan berbagai makanan karya anak-anak mahasiswa. Sehingga mereka bisa belajar berwirausaha dan mengembangkan jualannya. Meski menggunakan istilah festival dan kompetisi, panitia juga mengalokasikan waktu untuk hiburan. Seperti menghadirkan stand up comedian, Fajar Mukti dan Wawan Saktiawan dalam comedy show di akhir kegiatan. “Semoga Alepo dapat mengubah mindset belajar bahasa Arab yang seringkali dianggap sulit. Padahal belajar bahasa arab itu asyik, kekinian, dan bermanfaat. Kami juga berharap festival tahunan ini bisa mengharumkan nama besar PBA di kancah nasional, bahkan juga internasional,” pungkasnya. (*zak/wil)

Sukses Lewati Ujian Bahasa Inggris, Ribuan Mahasiswa Lulus FLSP UMM

Ribuan mahasiswa memadati Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengikuti gelar kelulusan (GK) Foreign Language for Specific Purpose (FLSP). Berbeda dengan wisuda, agenda yang dilaksanakan pada 8 Maret 2023  ini merupakan keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan proses belajar bahasa Inggris di UMM. Menariknya, tidak hanya penyerahan ijazah saja, mahasiswa juga dihibur dengan beragam penampilan dan sederet lomba. Mulai dari band, lomba menyanyi bahasa Inggris, menyanyi bahasa Mandarin, hingga story telling. Agenda itu juga diramaikan dengan hadirnya bazar yang terdiri dari unit bisnismaupun usaha para mahasiswa. Uniknya, para penjual dan pembeli diwajibkan menggunakan bahasa Inggris dalam proses jual-beli yang dilakukan. Hal itu menjadi kesempatan yang bagus untuk mempraktekkan bahasa Inggris para mahasiswa. GK FLSP tahun ini bertema ‘Grasp the Culture, Avoid Language Stutter’. Menurut ketua pelaksana, Roykhanan, tema ini dibuat untuk mendorong anak muda agar bisa berkomunikasi dengan baik. Utamanya melalui bahasa. Berbekal bahasa yang baik, komunikasi antar manusia akan lebih mudah =, meskipun berasal dari negara maupun wilayah yang berbeda. “Tidak hanya bahasa, mahasiswa UMM juga didorong untuk mempelajari budaya-budaya lain. Sehingga mereka juga bisa belajar toleransi dan memahami orang lain,” tambahnya. Turut hadir Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. untuk memberikan penghargaan bagi mereka yang mendapat nilai terbaik tingkat universitas. Syamsul, sapaannya, menegaskan bahwa Bahasa Inggris sangat penting karena merupakan bahasa Internasional. Tanpanya, mahasiswa akan mendapatkan kesulitaan, terlebih jika akan meneruskan atau mendapat beasiswa ke luar negeri. Adapun gelar kelulusan ini diikuti oleh mahasiswa angkatan 2021 UMM. Khusus untuk Fakultas Agama Islam, mereka adalah mahasiswa angkatan 2020. Para mahasiswanya ini sudah mengikuti satu tahun FLSP dan dinyatakan berhasil serta lulus. Sebelumnya, mereka juga diharuskan untuk mengikuti post test sebagai evaluasi dan melihat seberapa besar peningkatan yang dicapai. Terakhir, Wakil Rektor III Dr. Nur Subeki, M.T. juga mendorong mahasiswa Kampus Putih untuk menguasai bahasa Inggris. Apalagi di era yang penuh dengan kolaborasi. “Kalau kita tidak bsia berbahasa Inggris, tentu kolaborasi dengan pihak luar negeri akan tersendat atau bahkan tidak pernah terjalin. Maka, untuk menjembatani komunikasi di dunia internasional, bahas inggris memiliki peran yang penting,” katanya. (*/will)

SDGs UMM Langsungkan Konferensi Khusus Dukung Program Pemerintah

Ada empat pilar utama yang menjadi faktor pembangunan berkelanjutan sebuah negara. Di antaranya yakni sosial, ekonomi, lingkungan dan hukum serta tata kelola. Hal itu ditegaskan oleh Koordinator Tim Ahli SDG’s Nasional, Yanuar Nugroho, P.hD. dalam konferensi yang dilaksanakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa SDG’s Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun acara yang dilangsungkan pada 9 Maret 2023 itu dihadiri ratusan mahasiswa dan pemuda dari berbagai daerah dan kampus. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ada banyak sekali indikator SDG’s pada 2021 lalu, yakni skeitar 222 indikator. Dari laporan, ada lebih dari 63 persen yang telah dicapau. Sedangkan sisanya masih belum terlaksana dan memerlukan perhatian khusus serta percepatan agar kembali on track. Menurutnya, masalah utama tersendatnya pelaksanaan indikator tersebut ialah kurangnya akselerasi pembangunan. Arah pembangunan sudah benar, tapi dirasa kurang cepat. Utamanya pada aspek pendidikan. “Maka, sebagai anak-anak muda penerus bangsa, kalian jangan hanya menjadi penduudk di atsa pulau. Tapi jadilah masyarakat yang peduli dan berperan aktif,” katanya di depan ratusan mahasiswa. Yanuar, sapaannya, juga menekankan bahwa setiap delegasi harus memiliki perangai ilmiah yang digunakna untuk mencari data dan bukti. Ia juga mendorong agar UMM juga harus menjadi kampus SDG’s. Salah satunya dengan mensosialisasikan tentang SDG’s dan memulai perubahan untuk mendukungnya. Pada kesempatan yang sama, hadir pula Dr. (HC) Priyo Iswanto, M.H. selaku eks Dubes Indonesia-Kolombia yang memberikan gambaran umum terkait SDG’s. Menurutnya, hal ini adalah awal mula menuju cita-cita yang diinginkan negara serta membuatnya lebih baik. Disampaikan Priyo, SDG’s memiliki 17 tujuan yang terdiri dari 169 target dan 222 indikator yang harus dibedah dalam forum konferensi. Bukan hanya itu, ia juga menekankan bahwa dengan adanya konferensi ini, diharapkan anak-anak muda bisa menghasilkan solusi dan saran. Utamanya dalam mengatasi masalah-masalah yang ada di tengah masyarakat. “Konferensi SDG’s ini bukan hanya untuk didiskusikan saja, tetapi juga harus dilaksanakan. Kita tidak bisa hanya memberi solusi tanpa turun langsung ke masyarakat. Teman-teman harus berpikiran praktis yang nantinya mampu menghasiulkan ide-ide brilian. Jadi akan cocok dengan tagline SDG’s yaitu no one left behind,” pungkas Priyo. (nel/wil)

Tingkat Penelitian Tinggi, UMM Kembali Masuk Klaster Kampus Mandiri

Kuantitas dan kualitas penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bagus mengantarkannya menjadi kampus yang masuk dalam klaster mandiri se-nasional. Bersama perguruan tinggi negeri dan swasta terbaik lainnya, Kampus Putih membuktikan diri bahwa mereka mampu menjalankan Tridharma perguruan tinggi. Adapun predikat ini diterbitkan oleh Kemendikbud-Ristek pada 8 Maret 2023 lalu. Wakil Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si. bersyukur atas raihan tersebut. Ia menjelaskan ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar bisa mencapai klaster mandiri. Mulai dari jumlah riset dan dana riset selama tiga tahun terakhir, jumlah publikasi jurnal internasional dan nasional, bahkan juga jumlah buku yang disusun oleh para dosen. “Jadi dalam aspek ini UMM memang sudah menjadi klaster mandiri sejak 2013. Ini membuktikan bahwa penelitian dan pengabdian kami dinilai bagus dan mumpuni,” tegasnya. Meski demikian, Vina, sapaannya mengatakan bahwa masa pandemi tiga tahun ke belakang memberikan dampak yang signifikan. Apalagi saat itu para dosen dan peneliti tidak bsia turun langsung unutk riset dan laboratorium ditutup. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat para dosen UMM untuk terus berkarya dan memenuhi syarat untuk menjadi kampus mandiri. Menurutnya, dengan berbagai hasil penelitian ini, sivitas akademika bisa lebih mudah mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru. Predikat mandiri dari Kemendikbud-Ristek ini juga menjadi rekognisi yang baik bagi UMM. Vina juga sempat membeberkan strategi yang dilakukan DPPM UMM untuk bisa mencapai tingkat mandiri. Salah satunya dengan menggabung tim dosen senior dengan dosen junior. Dengan begitu, akan ada banyak timbal balik antara keduanya dalam menghasilkan hasil riset. Selain itu, hal ini dilakukan sebagai langkah regenerasi dosen yang akan purna tugas. “Kami bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah (LPPI) untuk mendampingi dosen yang kesulitan menulis. Bahkan ada beberapa pelatihan dan workshop sehingga mereka bisa lebih familiar dan lancar dalam menghasilkan buku maupun jurnal internasional serta nasional. Kami juga terus bersinergi dengan perguruan tinggi lain agar bisa memaksimalkan potensi masing-masing.,” katanya. Menariknya, UMM juga mengambil kebijakan terkait penelitian para dosen. Satu di antaranya yakni mendorong mereka untuk bekerjasama dengan pihak luar negeri dalam melangsungkna penelitian. Dengan begitu, program ini sejalan dengan visi UMM pada 2023 yakni mengembangkan internasionalisasi kampus. “Semoga klaster yang kita capai sejak 2013 ini bsia terus dipertahankan dan dikembangkan. Dosen muda harus terus bersemangat, pun juga dengan peneliti serta dosen senior yang harus memberikan pengalaman dan contoh. Sinergisitas keduanya akan memberikan hasil yang maksimal,”pungkasnya. (wil)

Pertamina Plumpang Kebakaran, Ini Kata Dosen UMM

Hingga saat ini, 19 orang meninggal, 49 luka-luka dan 1.085 warga mengungsi akibat kebakaran besar yang terjadi di kawasan Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara pada 3 Maret 2023 lalu. Pemukiman penduduk yang diperkirakan berada dalam radius 300 meter dari Depo Pertamina itu juga habis dilalap si jago merah. Dalam kunjungannya ke posko pengungsian pada Minggu (5/3), presiden Joko Widodo memberikan dua opsi solusi terkait permasalahan kebakaran maut itu. Adapun kedua opsi tersebut yaitu relokasi penduduk yang berada di sekitar Depo Pertamina Plumpang atau menggeser Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina Plumpang ke daerah reklamasi. Dari kedua opsi yang diberikan oleh Jokowi, beberapa pakar tata kota yang telah berpendapat memilih untuk melakukan relokasi warga setempat atau melakukan revitalisasi. Pendapat yang sama pun disampaikan oleh Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Amalia Nur Adibah, S.T., M.P.W.K. Amalia, panggilan akrabnya, menyampaikan dari aspek biaya, merelokasi masyarakat menjadi solusi yang jauh lebih murah. Apalagi melihat Depo Pertamina Plumpang  sudah terinstalasi dengan fasilitas penunjang yang lengkap, salah satunya yakni telah tertanam pipa sedalam 5 km di kawasan sekitar. “Selain itu, lokasi Depo Pertamina Plumpang sudah sangat strategis karena dekat dengan pelabuhan. Pun dengan aksesnya yang mudah ke jalan tol sehingga memperlancar distribus BBM,” ungkap Amalia. Dosen asal Malang itu menambahkan bahwa lokasi Depo Pertamina Plumpang sudah sesuai karena direncanakan sejak pembangunan induk Jakarta tahun 1960. Memulai pembangunan pada tahun 1972, Depo Pertamina Plumpang sudah ditetapkan di kawasan tanah merah. Dulu, kawasan tersebut jauh dari pemukiman penduduk dan masih berbentuk rawa. Namun seiring pertumbuhan penduduk di Jakarta, kawasan disekitar depo mulai padat. “Bisa dikatakan rumah penduduk sangat dekat dengan kawasan tersebut karena posisi tabung minyak dengan tembok pembatas tidak sampai 20 meter. Selain itu, yang membuat kebakaran semakin besar dan susah melakukan evakuasi adalah bangunan penduduk yang saling berhimpitan,” jelas Amalia. Bangunan vital seperti Depo Pertamina Plumpang sebaiknya memiliki jarak aman atau buffer zone 500 meter sampai 1 km. Buffer zone disini sangat penting karena selain untuk mencegah radiasi yang ditimbulkan dari tabung minyak, juga menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti peristiwa kebakaran ini. “Berdasarkan peraturan yang ada, jarak aman antar rumah atau pemukiman adalah 70/30. 70% kawasan terbangun dan 30% lahan kosong untuk beraktivitas,” terangnya. Menurut Amalia, pengelolaan tata ruang di sekitar Depo Pertamina Plumpang masih lemah. Dalam hal ini, banyak pihak yang bertanggung jawab. Tidak hanya pihak Pertamina saja, pihak pemerintah juga kurang tegas dalam menyikapi peraturan yang sudah dibuat. “Berdasarkan yang saya baca, rencana tata ruang wilayah kawasan tersebut mengalami perubahan fungsi guna lahan. Di mana awalnya merupakan zona hijau kemudian berubah menjadi kuning atau artinya kawasan pemukiman,” ujarnya. Terakhir Amalia menyampaikan jika relokasi ini berhasil, pihak pertamina dan juga pemerintah harus memperbaiki kembali tata wilayah di kawasan tersebut. Keberhasilan dari penataan Depo Pertamina Plumpang nantinya akan menjadi role model bagi kawasan vital sejenis di Indonesia seperti perusahan penghasil tekstil atau penghasil garam. “Seperti yang diketahui bahwa Depo Pertamina Plumpang ini merupakan salah satu aset strategis nasional yang dilindungi dan diperhatikan khusus oleh pemerintah. Oleh karena itu, baik pemerintah pusat, daerah dan Pertamina harus bekerja sama merelokasi warga ke lokasi baru dengan menyediakan berbagai fasilitas. Pun dengan pertimbangan peraturan yang ada serta solusi yang adil,” pungkas Amalia mengakhiri. (zak/wil)

Dosen UMM: Begini Langkah Ajarkan Bahasa Inggris ke Balita

Dewasa ini, banyak orang tua yang mendorong anaknya untuk belajar bahasa Inggris di usia lima tahun ke bawah atau golden age. Jika bersekolah, anak-anak tersebut akan masuk ke dalam kelas toddlers atau pre-school. Fenomena ini menarik perhatian Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed. Menurutnya, pembelajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak merupakan pilihan dari masing-masing orang tua. Meski demikian, ada beberapa aspek yang tetap perlu diperhatikan. “Pertama, memastikan bahwa anak telah memiliki paling tidak satu bahasa yang dipahami dengan baik. Misalnya saja bahasa Indonesia yang digunakan di berbagai dalam kegiatan pembelajaran atau bahasa resmi di sekolah maupun lingkungan,” jelasnya. Rina melanjutkan, ketika anak sudah memiliki satu bahasa, maka ia akan lebih mudah menghubungkan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lainnya. Namun ketika anak tersebut tidak mengetahui satu bahasa dengan baik, ia menyarankan untuk tidak memaksakan anak mempelajari bahasa lain. “Kedua, orang tua juga harus mengetahui metode apa yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Inggris tersebut. Pada masa golden age, anak dapat belajar bahasa Inggris dengan berbagai macam aktivitas. Seperti misalnya menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Mereka juga harus belajar dengan senang, bahagia dan dapat menikmati prosesnya,” urainya. Belajar bahasa Inggris, menurut Rina tidak hanya dapat dilakukan dengan membaca dan menulis. Kedua kegiatan ini justru dapat menyebabkan kebingungan berbahasa bahkan frustasi pada anak. Apalagi anak-anak memiliki tingkat konsentrasi yang tergolong pendek, sehingga guru harus memperhatikan kegiatan-kegiatan apa yang bisa mengakomodir. Rina berharap orang tua sebaiknya tidak memberikan target-target khusus kepada anak, karena fungsi dari pembelajaran bahasa Inggris pada dasarnya hanya untuk pengenalan. Anak-anak juga harus diberi kesempatan untuk menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan nyata, terlepas dari benar atau salahnya. “Namun apabila orang tua menginginkan anaknya menjadi seorang bilingual, maka orang tua pun harus berperan dalam hal ini. Misalnya, orang tua membuat satu aturan kepada anaknya bahwa ketika anak ingin berbicara dengan ibunya maka ia harus berbahasa Indonesia, namun apabila ia ingin berbicara dengan ayahnya maka ia harus berbahasa Inggris ataupun sebaliknya,” tuturnya. Sebagai seorang yang meneliti pembelajaran bahasa Inggris, Rina menyarankan bahwa anak-anak hendaknya diberikan kesempatan untuk belajar bahasa Inggris secara natural, bukan dalam paksaan. “Jangan sampai anak belajar bahasa Inggris dengan dibebani banyak hal. Tidak ada salahnya mereka belajar bahasa baru sejak dini. Hal itu justru akan memberikan banyak manfaat, seperti misalnya saling menghargai budaya. Ketika mereka belajar bahas Inggris, mereka secara tidak langsung juga turut belajar budaya tersebut,” katanya mengakhiri. (dev/wil)

Ilmu Pemerintahan UMM Kini Resmi Miliki Kelas Profesional Analis Politik

Dalam rangka mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul, Program Studi Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) luncurkan dua Center of Excellence (CoE). Keduanya adalah kelas analis pemerintahan politik dan kelas pemerintahan desa. Pada prosesnya, dua kelas ini akan menggaet berbagai dunia usaha dan dunia industri (DUDI) seperti PT. Sinergi Visi Utama Yogyakarta. Pun dengan sederet pemerintah seperti Desa Tulungrejo, Kota Batu dan lainnya. Adapun program yang diluncurkan pada 7 Maret 2023 lalu ini juga bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Penanggungjawab program, Ali Roziqin, S.AP., MPA. menjelaskan bahwa peserta dari mahasiswa akan terjun selama kurang lebih enam bulan. Selama itu, diharapkan mereka bisa memperkuat praktek dan skill teknis mengenai pemerintahan politik dan desa. Mulai dari administrasi hingga menjalankan program di berbagai desa dan tempat. “Kelas ini juga mendatangkan para praktisi seperti dari lembaga konsultas politik dan pemerintahan. Pun dengan kepala serta perangkat desa yang akan menjelaskan bagaimana keadaan dan menjalankan sebuah pemerintahan. Sejauh ini ada lebih dari 10 desa di Magetan dan Batu serta sederet perusahaan yang sudah digaet,” kata dosen sekaligus kepala laboratorium IP UMM. Kelas ini nantinya akan mendatangkan para praktisi misalnya dari lembaga konsultan politik dan pemerintahan untuk kelas Analis pemerintahan dan politik serta kepala Desa dan perangkat desa untuk kelas Analis pemerintahan desa. “sejuah ini program ini telah bekerjasama dengan berbagai macam konsultan seperti PT. Sinergy Yogyakarta dan 4 Desa di Kota Batu dan 9 desa di Magetan, “terang Ali. Dua CoE ini disambut baik oleh para mitra. Salah satunya Suliono selaku kepala desa Tulungrejo. Ia menilai bahwa sinergisitas seperti ini dapat saling memnguntungkan. Mahasiswa bisa mendapatkan ilmu praktis tentan gpengelolaan desa. Sementara pihaknya bisa mendapatkan bantuan tenaga serta pikiran fresh dari anak-anak muda. “Dengan begitu, kolaborasi ini dapat mengasah dan menambah skill mahasiswa. Pun dengan pelaksanaan program pembeberdayaan masyarakat dan pembangunan ekonomi desa,” tegasnya. Adapun saat ini, sudah ada puluhan mahasiswa yang lolos seleksi. Mereka merupakan mahasiswa angkatan 2020 yang sudah dibekali dengan berbagai teri dan skill. Kemudian diasah melalui CoE tersebut. Program ini juga diapresiasi oleh Dekan FISIP UMM, Prof. Dr.Muslimin Machmud, M.Si. Ia optimis semua proses CoE akan berlajan dengan baik dan sukses. Menurutnya, adanya teknologi dan perkembangan literasi berdampak pada meanisme pasar kerja. Maka kelas unggulan ini diharapkan bisa menjawab tantangan itu. “Mahasiswa harus memanfaatkan kelas ini untuk memperoleh skill secara praktis agar bisa menjadi generasi peenang dan unggul di tengah ekrasnya persaingan kerja,” pungkasnya. (*/wil)

Bermain dan Belajar Asyik di Edupark FPP UMM

Mengenal flora dan fauna secara langsung menjadi salah satu kegiatan belajar yang mengasyikkan. Tak jarang suara riuh murid taman kanak-kanak hingga sekolah dasar sering kali terdengar saat berkunjung ke Edupark Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hal itu tidak lepas dari banyaknya aspek yang bisa dipelajari di sana. Mulai dari bagaimana merawat sapi, menanam, hingga berinteraksid engan unggas dan lainnya. Manajer Edupark Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM, Riza Rahman Hakim, S.Pi, M.Sc. mengatakan awalnya Edupark UMM merupakan laboratorium FPP. Biasanya digunakan sebagai tempat praktikum para mahasiswa. Namun sejak tahun 2019, Edupark mulai menerima kunjungan dari skeolah-sekolah yang mengadakan outing class. Hal itu menjadi langkah untuk memperluas kebermanfaatan yang direncanakan. “Pihak sekolah atau anak-anak tak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Hanya dengan membayar biaya masuk 20.000 per orang, pengunjung yang datang dapat berwisata sambil belajar di empat area yang berbeda. Selain itu, pengunjung juga akan mendapatkan souvenir gratis yang bisa dibawa pulang,” ungkap Riza. Lebih lanjut, Riza menjelaskan keempat area di Edupark UMM terdiri dari area agrofarm, animal farm,  fish edupark dan UMM Bakery. Pengunjung atau anak-anak sekolah yang melakukan kunjungan akan diajak belajar tentang budidaya jamur, hidroponik, melihat proses pembuatan nata de coco serta melihat koleksi tanaman hias di green house. Selain itu, pengunjung diajak melihat langsung berbagai hewan ternak dan cara merawatnya. Misalnya seperti domba, sapi, dan kambing. Bahkan juga ayam petelur close house hingga proses pembuatan gas dari kotoran sapi (biogas). “Sedangkan di area  fish edupark, kami ajak pengunjung untuk melihat ikan lele, nila, patin, koi, dan bagaimana budidayanya. Jadi selain menyenangkan, anak-anak juga mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru,” katanya. Terakhir, yakni area UMM Bakery. Di sana, pengunjung dapat melihat proses panjang pembuatan roti. Menariknya, proses tersebut dilakukan dengan cara yang lebih modern dan menerapkan ilmu teknologi pangan. Pria asal Bojonegoro itu menyampaikan bahwa UMM menjadi satu-satunya kampus di Malang yang memiliki lab terpadu pertanian, peternakan dan perikanan di satu lokasi yang dijadikan sebagai edupark. Sejauh ini, Edupark UMM banyak diketahui orang melalui mulut ke mulut. Oleh karena itu, banyak pengunjung yang datang dari sekolah-sekolah. Respon para pengunjung juga positif karena anak-anak bisa belajar dengan suasana yang lebih menyenangkan. “Alhamdulillah, banyak sekolah yang terkesan dengan Edupark UMM. Guru-guru merasa sangat terbantu dalam proses belajar-mengajar anak-anak didiknya. Terutama terkait empat area yang disediakan Edupark UMM. Bahkan ada beberapa sekolah yang setiap semesternya selalu melakukan kunjungan kembali,” ungkap Riza. Terakhir, ia berharap Edupark FPP UMM ini bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas. Bukan hanya bagi anak-anak sekolah saja, tapi juga bagi mereka yang ingin tahu lebih dalam tentang pertanian dan peternakan sekaligus pembuatan roti. “Memang belum kami launchign secara resmi, tapi insya Allah dalam waktu dekat. Kami juga akna menambahkan beberapa fasilitas yang memudahkan agar semakin menarik untuk didatangi,” pungkasnya. (zak/wil)