Guru Besar UMM Tanggapi Masuk Sekolah Jam 5 Pagi di NTT

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) menerapkan peraturan siswa SMA sederajat untuk masuk sekolah pukul 05.00 WITA. Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) menyampaikan bahwa peraturan yang ditetapkan sejak akhir Februari itu dinilai mengajarkan banyak hal positif kepada siswa. Hal ini juga menjadi salah satu upaya memperbaiki sumber daya manusia (SDM) di NTT. Hal itu menarik perhatian Prof. H. Akhsanul In’am, Ph.D. selaku dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). ia berpendapat bahwa kebijakan tersebut sudah bagus, akan tetapi tidak tepat. Ia mengatakan bahwa mayoritas masyarakat NTT adalah non-muslim dan beberapa di antaranya tidak terbiasa bangun subuh seperti para muslim. Hal ini merupakan kebiasaan dan akan sulit untuk diubah dalam waktu yang relatif singkat. “Jika hal ini diterapkan pada seorang muslim mungkin tidak menjadi masalah, ya. Tapi di NTT kan banyak non-muslim juga sehingga menurut saya toleransi juga harus dipikirkan,” katanya. In’am menilai kebijakan ini juga dapat membahayakan para siswa. Lantaran keadaan yang masih gelap gulita, kecelakaan tentu akan lebih mungkin terjadi. Pada rentang pukul 05.00 – 05.30 WITA, banyak siswa yang masih kesulitan dalam mendapat transportasi umum ke sekolah sehingga kebijakan ini tidak akna begitu efektif. Idealnya, pelajaran dapat dimulai pada pukul 06.30 pagi karena pada saat itu siswa telah siap menerima pengetahuan baru serta langit sudah terang. Namun jika tetap ingin masuk pukul 05.30 WITA, In’am berpendapat bahwa pemerintah provinsi perlu memberlakukan jam malam. Hal ini agar para siswa tidak keluyuran di kafe dan sejenisnya dan dapat bangun lebih segar di pagi harinya. Selain itu, membangun asrama untuk siswa juga bisa menjadi solusi penting. Sehingga mereka lebih aman, tertib da dapt mengikuti peraturan yang sudah diterapkan. “Jika kebijakan masuk jam 05.30 WITA disandingkan dengan asrama, saya kira akan bisa berjalam lebih efektif dan baik,” tandasnya. Namun, menurutnya ada banyak solusi lain yang bisa ditempuh jika ingin memperbaiki dan mencetak SDM yang berkualitas. Beberapa diantaranya yakni dengan memaksimalkan potensi masing-masing siswa dengan berbagai program, memberikan perhatian lebih, hingga apresiasi tinggi bagi mereka yang berprestasi. Pun dengan pemberian beasiswa maupun fasilitas yang lebih mumpuni sehingga para siswa lebih bersemangat dalam belajar. “Di beberapa negara, para siswa diberikan fasilitas yan gbaik sheingga mampu memaksimalkan potensi. Baik mereka yang baik dalam akademik maupun non akademik. Hal itu tentu memudahkan mereka untuk berkarya dan menumbuhkan semangat belajar,” pungkasnya. (dev/wil)
Beasiswa Talenta Unggul Maba UMM, Potongan Kuliah hingga Lulus

Berbagai beasiswa menarik diberikan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya beasiswa talenta unggul yang memungkinkan mahasiswa baru mendapatkan potongan SPP sampai lulus semester delapan. Selain itu, skema ini juga memberikan kesempatan bagi penerimanya untuk ikut di berbagai kegiatan kepemimpinan dan peningkatan skill selama berkuliah di UMM. Nurudin, Kepala UPT Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM mengatakan bahwa semua calon mahasiswa baru punya kesempatan untuk mendapatkan beasiswa talenta unggul. Adapun calon mahasiswa Fakultas Kedokteran akan diberlakukan aturan tersendiri yang sudah disiapkan. Nantinya, penerima beasiswa akan mendapatkan potongan SPP dari awal kuliah sampai nanti semester delapan. Potongannya juga bervariasi yakni 25-75% tiap semesternya. Meski begitu, mereka juga diharuskan untuk memiliki indek prestasi (IP) yang stabil, yakni di atas 3,80 tiap semester. Hal itu dimaksudkan agar para mahasiswa yang menerima punya tanggungjawab dan usaha keras untuk mempertahankan nilai. Selain itu, mereka juga akan mendapatkan bebas biaya program Center of Excellence (CoE) yang melahirkan SDM yang siap bekerja. Pun dengan program kepemimpinan yang bisa mereka ikuti secara gratis, bahkan juga untuk kursus bahasa. “Adapun beasiswa ini terbagi menjadi dua skema, yakni lewat jalur akademik dan non akademik. Untuk akademik, calon mahasiswa mendaftar menggunakan rata rata nilai raport 80. Sementara untuk non akademik, para pendaftar bisa menggunakan sertifikat atau bukti lain yang memperlihatkan keaktifan di olahraga, organisasi, kepemimpinan, sosial dan lainnya. Misalnya saja sertifikat hafiz sepuluh juz atau juara kompetisi pencak silat,” kata Nurudin. Menariknya, jalur non akademik juga bisa dicoba oleh para content creator. Adapun untuk youtuber harus memiliki subscriber sebanyak 5.000, sementara mereka yang aktif di Instagram minimal memiliki 10.000 follower. Nurudin mengatakan bahwa hal ini menjadi upaya UMM untuk memberikan pengakuan bagi mereka yang punya karya. “Terutama bagi mereka yang aktif dalam membuat konten kreatif, edukatif, dan positif. Adapun pendaftaran jalur prestasi ini akan dibuka hingga 8 Juni 2023 mendatang. Tiap awal bulan akan langsung diumumkan siapa saja yang lolos beasiswa dan jalur ini. Tahun lalu ada 3.709 pendaftar yang terdiri dari 3.273 jalur akademik dan 432 non akademik,” tambahnya. Selain beasiswa talenta unggul, UMM juga membuka beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP), beasiswa yatim hingga potongan untuk alumni sekolah Muhammadiyah. Pun dengan beasiswa ulama yakni Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT), beasiswa saudara kandung, dan lain sebagainya. (wil)
Prodi Bahasa Inggris UMM Kini Punya Kelas Profesional Perhotelan

Demi mendukung Indonesia emas 2045, berbagai Center of Excellence (CoE) sudah dihadirkan oleh Universiats Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satu yang menarik adalah CoE English for Hospitality garapan Prodi Bahasa Inggris yang kini menggaet sederet hotel bertaraf nasional dan internasional. Beberapa di antaranya Hotel Aston Inn Batu, Hotel Samara Batu, Hotel Onsen Batu dan lainnya. Adapun program ini sudah dibuka sejak Februari 2023 ini. Menariknya, pembukaan program CoE itu juga diramaikan dengan kuliah perdana yang diisi oleh Rocky, general manager Hotel Aston Inn Batu. Di hadapan para peserta CoE, ia menceritakan kisa perjuangannya. Mulai dari kisah perantauannya ke Dubai, hingga sekarang menempati posisi sebgaai general manager. “Jangan takut untuk keluar dari zona nyaman. Cobalah hal baru agar mengerti banyak hal. Akan ada banyak sekali pengalaman yang sayang jika dilewatkan,” tegasnya. Hadirnya CoE English for Hospitality juga menjadi bukti nyata keseriusan prodi Bahasa Inggris untuk mencetak generasi unggul yang memahami dunia hosptality. Di sisi lain, Dekan FKIP UMM Dr. Trisakti Handayani, M.M. menegaskan bahwa CoE ini bertujuan mempersiapkan mahasiswa untuk bersaing di kompetisi kerja. Dengan begitu, ketika mereka lulus, akan ada banyak pekerjaan strategis yang bisa dimasuki. Apalagi dengan berbagai soft skill dan hardskill yang didapat selama proses CoE. “Bidang perhotelan adalah bdiang yang strategis. Jika mampu memanfaatkan kesempatan itu, saya yakin mahasiswa mampu memiliki karir yang moncer. Apalagi ditunjang dengan kemampuan ahasa inggris yang sudah dipelajari di perkualiahan,” katanya. Lebih lanjut, program ini juga mendukung pencanangan program kelulusan tepat waktu (KTW) UMM. Yakni memepersingkat studi mahasiswa dengan kebijakan konversi nilai mata kuliah. Hal itu membuat tingginya mahasiswa yang mendaftar program ini. Namun, hanya ada 30-40an mahasiswa yang diterima karena berbagai pertimbangan. Salah satu peserta yang diterima adalah Bella Thalita. Ia bersyukur bisa terpilih dan tidak sabar untuk mengikuti berbagai rangkaiannya. Apalagi dengan sederet praktek yang bsia dilakukan, sehingga ia tidak hanya mendapatkan toeri semata. “Dengan bekal ini, saya yakin bsia bersaing di dunia kerja nanti. Pun dengan ketepatan dalam hal kelulusan kuliah,” pungkasnya. (wil)
Ini Kata Dosen UMM tentang Pro Kontra Childfree

Istilah childfree akhir-akhir ini banyak dibicarakan oleh masyarakat. Adapun childfree merupakan keputusan pasangan untuk tidak mempunyai anak atau keturunan. Hal itu dijelaskan oleh Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si selaku Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dilihat dari konsep modern, menurutnya, childfree biasanya selaras dengan kebijakan negara. Misalnya kebijakan negara di mana keluarga hanya boleh memiliki satu anak. Pun dengan negara yang memiliki harga kebutuhan yang tinggi tentu akan mempengaruhi keputusan pasangan. “Pasangan yang memilih untuk childfree berpikiran bahwa anak akan membebani secara ekonomi. Mengurus anak juga akan membebani secara waktu, apalagi jika kedua pasangan sama-sama bekerja di luar rumah. Kika hal ini diadopsi oleh negara-negara yang punya muslim yang banyak, tentu akan bertentangan dari konsep Islam. Kedudukan anak di dalam Islam adalah sebagai amanah yang diberikan Allah kepada hambaNya,” urainya. Vina, sapaannya, mengungkapkan bahwa anak juga dinilai sebagai sebuah anugerah. Sehingga orangtua harus merawat dan membesarkannya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa anak juga dapat menjadi ujian bagi orang tua. Hal ini sebenarnya tergantung bagaimana orang tua mampu merawat dan menyelesaikan ujian-ujian itu. Anak juga merupakan penerus generasi, karenanya idealisme childfree jika terus berkembang dapat mempengaruhi kuantitas generasi di masa yang akan datang. “Misalnya saja, ada 125 juta pasangan. Satu pasangan berpikir bahwa hanya dia dan pasangannya saja yang memilih untuk childfree, namun ternyata banyak pasangan lain yang berpikiran hal yang sama. Maka jumlah pasangan childfree makin banyak dan menyebabkan penerus generasi berkurang,” paparnya. Di Indonesia sendiri, mayoritas pasangan masih banyak yang ingin memiliki keluarga dan mempunyai anak. Tetapi di sisi lain, menurut Vina, sebagai makhluk yang berelasi, manusia harus saling menghargai keputusan orang lain. “Dalam kehidupan sehari-sehari kita harus menghargai keputusan mereka, namun kita juga bisa kembali kepada konsep Islam. Jika memang bisa punya anak, kenapa tidak memilikinya. Karena Allah menjanjikan pahala dan anugerah yang berlimpah bagi orang tua dan itu harus dipercaya,” tutupnya. (nov/wil)
Tekan Emisi Karbon, Mahasiswa UMM Rancang Knalpot Ramah Lingkungan

Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) menjadi salah satu penyebab sederet masalah yang tak menentu di Indonesia. Mengutip pernyataan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), emisi karbon yang dihasilkan pada 2021 di angka 259,1 juta ton dari seluruh penggunaan bahan fosil. Jika hal ini tidak ditangani, maka dikhawatirkan terjadi kerusakan lapisan ozon yang berakibat pada naiknya suhu dan perubahan iklim. Mengambil langkah awal pencegahan, Yuan Rafika, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama timnya merancang inovasi untuk mengurangi emisi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Alat tersebut diberi nama Exhaust Carbon Filter. Alat ini berupa knalpot yang dapat menyaring gas karbon dioksida (CO2) kemudian diubah menjadi oksigen. Senyawa yang dihasilkan melalui penyaringan tersebut adalah oksigen dan senyawa organik yang dapat dibuang secara langsung tanpa mencemari lingkungan. “Sistem kerjanya sebenarnya terinspirasi dari sistem fotosintesis pada tumbuhan, di mana CO2 dengan bantuan air dan sinar matahari diubah menjadi glukosa dan oksigen yang dilepas ke alam,” kata Rafika. Dengan mengadopsi sistem fotosintesis terebut, air nanti akan bereaksi dengan CO2 menggunakan bantuan sinar matahari yang digantikan dengan sistem listrik pada aki. Adapun jumlah air yang dapat ditampung pada knalpot yakni berkisar 100 ml untuk jarak tempuh satu hingga dua jam perjalanan. Durasi ini akan terus dikembangkan karena sifat air yang mudah menguap, juga melihat kondisi knalpot yang mudah panas. “Saat ini, fitur yang direncanakan ada pada knalpot tersebut adalah peredam suara sesuai ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan filter gas CO2. Nantinya, kami terus mengembangkan exhaust carbon filter ini dengan menambahkan fitur-fitur baru sesuai standar, agar produk yang dihasilkan semakin unggul dan banyak peminatnya,” tandasnya. Sasaran utama dari produk ini adalah para pemilik kendaraan umum yang ada di Indonesia. Rafika dan timnya berharap, hadirnya terobosan ini menjadi langkah awal untuk perubahan Indonesia menjadi lebih baik Utamanya dalam aspke lingkungan. “Mau tidak mau, Indonesia harus bergerak maju untuk perubahan yang lebih baik. Salah satunya dengan menggunakan knalpot ramah lingkungan ini. Semoga jika sudah rampung, knalpot ini dapat diproduksi masal dan diperjual belikan untuk masyarakat umum,” pungkasnya. (tri/wil)
Alumnus UMM Ceritakan Pengalaman Asyik Jadi Peternak di Australia

Selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha dan selalu ada harapan bagi mereka yang berdoa. Ungkapan tersebut datang dari Luthfin ‘Abidah, salah satu alumnus prodi peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Perempuan yang akrab di panggil Luthfin itu kini sedang berkarir sebagai Calves Management dan Farm Hand di salah satu perusahaan ternak sapi perah Australia, bernama Inionba Pastoral Pty, Ltd. “Saya bisa berkesempatan bekerja di Australia karena sempat masuk di salah satu media Australia pada Maret 2022 lalu. Dari situ, salah satu perusahaan tertarik dengan saya, kemudian menawarkan kesempatan berkarya. Setelah melalui seleksi wawancara, di tahun itu juga saya berangkat ke Australia,” terang Luthfin. Luthfin juga menambahkan, rekam jejak pengalamannya sebagai mahasiswa peternakan UMM juga menjadi salah satu hal yang membuatnya diterima dan dibiayai perusahaan tersebut. Pun dengan beragam kegiatan internasional yang sempat ia ikuti di Kampus Putih. Selama enam bulan bekerja, banyak pengalaman baru yang ia dapatkan. Ia dan tim harus mengurus 3000 sapi yang ada di peternakan. Mulai dari perawatan, memberi makan, cek kesehatan, hingga memerah sapi. Semua ia lakukan dengan maksimal dan baik. Menurutnya dengan berternak, ia bisa melatih cara berpikir dan bersikap menjadi pribadi yang lebih baik. “Pekerja perempuan dan laki-laki di tempat saya bekerja dan diperlakukan sama tanpa perbedaan. Hal tersebut juga membuat saya mau tak mau harus meningkatkan kemampuan dalam banyak hal. Menarik sekaligus menegangkan, tapi saya sangat menikmatinya,” ungkap Luthfin. Perempuan asal Ponorogo itu mengatakan UMM sangat berperan dalam kesuksesannya hari ini. ia merasa beruntung bisa mengenyam pendidikan di Kampus Putih. Kampus yang memiliki atmosfer internasional, sehingga mahasiswanya juga memiliki kesempatan untuk berkolaborasi dengan banyak dunia internasional. “Terhitung, sejak semester tiga saya sudah aktif magang di empat tempat berbeda termasuk di Australia. Hal itu bisa terjadi berkat dukungan dari prodi dan juga kampus,” jelas Luthfin. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa bahasa adalah pintu segala ilmu. Selain itu, kemampuan problem solving ,leadership, speaking dan listening juga harus dimiliki jika ingin berkarir diluar negeri. Ia mendorong anak-anka muda Indonesia untuk tidak bosan banyak belajar dan mencoba kegiatan internasional. Dengan begitu, wawasan akan meluas. Begitupun dengan jaringan yang sebelumnya tidak didapat. “Saat bisa menguasai berbagai bahasa, saat itulah dunia dalam genggaman kita. Sisanya bisa kita raih dengan mencoba pengalaman yang beragam. UMM menyediakan paket lengkap untuk pikiran dan rohani kita. Maksimalkan semampumu, saya tunggu sinarmu,” pesan Luthfin untuk para mahasiswa. (zak/wil)
LPT-KA UMM Tegaskan Pentingnya Pendidikan Seks bagi Anak

Akhir-akhir ini media sosial dan media dibanjiri informasi terkait meningkatnya kabar pelecehan seksual. Bahkan, berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, sepanjang tahun 2022 tercatat ada 542 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual. Nahasnya, angka kekerasan seksual pada anak juga tinggi yakni sebanyak 2.436 atau sekitar 53,8%. Berangkat dari itu, Laboratorium Psikologi Terapan Keluarga dan Tumbuh Kembang Anak (LPT-KA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergegas untuk beraksi yang dikemas berupa psikoedukasi. Adapun kali ini mereka menggaet MI Nurul Huda dan melaksanakannya pada akhir Februari 2023 ini. Salah satu pemateri, Siti Maimunah, S.Psi., M.M., M.A. menjelaskan bahwa pendidikan seksual bukan merupakan hal yang tabu. Menurutnya, orang tua seringkali melihat bahwa edukasi ini mengarah pada hubungan seksual. Padahal tidak demikian. Edukasi tersebut malah memberikan topik yang bermanfaat bagi anak, seperti nilai-nilai harus diterapkan dalam keluarga, penghargaan terhadap diri, dan menekankan batasan diri terhadap orang lain. Maksudnya adalah membatasi area tubuh yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain. Edukasi seks juga menekankan identitas gender sesuai fitrahnya, menjaga kebersihan area genital, dan tentang bagaimana anak mengetahui tahapan perkembangan fisik dan psikis masa pubertas sebelum mereka mengalaminya. “Orangtua merupakan garda terdepan untuk memberikan edukasi ini. Dengan memberikan pemahaman sejak dini, maka anak akan erbiasa menjaga area genital yang dimiliki dengan sebaik-baiknya,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa dalam pendidikan itu, harus ada komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak. Semakin sering orangtua mengajak komunikasi, semakin mudah pula anak untuk terbuka dan mengobrolkan banyak hal. Baik yang dialami maupun yang dirasakan. Sementara itu, ketua dari LPT-KA UMM Diana Savitri Hidayati, M.Psi. menyampaikan, psikoedukasi ini bertujuan untuk menekan angka pelecehan seksual yang terjadi di Indonesia. Ia berharap, orang tua bisa lebih perhatian untuk menjaga dan mendampingi putra-putri mereka. “Sejatinya, sebuah pendidikan memang harus terintegrasi antara orang tua, sekolah dan lingkungan. Maka, kami akan berupaya membangun kerjasama dengan berbagai sekolah lainnya. Kemudian menjelaskan pentingnya edukasi seksualn bagi anak,” tegasnya. Kegiatan tersebut disambut baik oleh pihak sekolah dan wali murid. Kepala Sekolah MI Nurul huda Sholeh, S.Pd. menilai, kedatangan LPT-KA UMM sangat bagus. Pendidikan seks memang seharusnya sudah dikenalkan sejak dini. Hal ini sebagai langkah intervensi meningkatnya angka kekerasan seksual. “Semoga para wali murid juga sadar dan paham akan pentingnya hal ini. Pun dengan upaya untuk menyebarluaskannya ke tetangga maupun masyarakat secara luas,” pungkasnya. (*/wil)
FKIP UMM-Kaltim Jalin Kerjasama Tuntaskan Sertifikasi 1.235 Guru

Sebanyak 1.235 guru di Kalimantan Timur (Kaltim) belum menyelesaikan proses sertifikasi guru. Oleh karena itu, tim Kesekretariatan Kalimantan Timur berkunjung ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk melakukan kerjasama. Adapun kolaborasi yang dilaksanakan pada Februari lalu itu untuk menuntaskan sertifikasi di Kaltim. Didi Rusdiansyah selaku Staf Ahli Gubernur Bidang dua mengatakan, masalah sertifikasi guru di Kaltim memang mendesak untuk dilakukan percepatan. Pasalnya, pada rentang 2021-2025, ada 912 guru Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat di Kalimantan Timur yang akan pensiun. “Kami sebelumnya telah berdiskusi dengan Kemendikbud Kaltim dan mendapat arahan untuk mendorong guru-guru kami mengikuti seleksi Pendidikan Profesi Guru (PPG). Guru yang terseleksi, nantinya bisa dipilah untuk dapat didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD),” ungkap Didi. Didi berharap FKIP UMM bisa memfasilitasi guru-guru yang ada di Kalimantan Timur untuk mendapatkan sertifikasi PPG. Mulai dari persiapan seleksi, pelaksanaan, hingga persiapan menuju uji kompetensi. Ia juga menargetkan proses percepatan bisa menjadi 6 tahun yang awalnya diperkirakan 12 tahun. Dalam kesempatan itu, Dekan FKIP UMM, Dr. Trisakti Handayani, M.M. menegaskan bahwa FKIP UMM siap memfasilitasi kebutuhan Kalimantan timur. Utamnaya terkait aspek-aspek pendidikan. Karena hal itu sejalan dengan visi misi fakultas untuk menjadi bagian dari pengembangan profesionalisme guru berkelanjutan. “Kami menyadari sinergisitas antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi sangat penting. Khususnya untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Untuk mengatasi masalah kekurangan guru di Kaltim, program PPG UMM juga menyiapkan skema prajabatan. Bisa juga melalui skema pelaksanaan kuliah di UMM maupun pelaksanaan PPL di sekolah di Kalimantan Timur yang kekurangan guru,” pungkasnya. Ia menambahkan, UMM dan Dinas Pendidikan Kalimantan Timur juga akan menyiapkan skema sertifikasi profesi bagi siswa-siswa SMK di Kalimantan Timur. Sehingga mereka bisa langsung diterjunkan untuk berkarya. Kunjungan itu juga disambut baik oleh Wakil Rektor IV, Dr. Sidik Sunaryo, S.H., M.Si. Menurutnya, FKIP sebagai tonggak awal berdirinya UMM telah memiliki pengalaman panjang terkait peningkatan profesionalisme guru. “Harapannya, kerja sama ini dapat memberikan dampak yang signifikan. Pimpinan kampus pun akan mendukung kerja sama dengan Kesekretariatan Daerah Kaltim dengan FKIP UMM,” terangnya. (*/wil)
Dosen Komunikasi UMM: Ini Langkah Jadi Content Creator Sukses

Saat ini, pekerjaan kreator konten sedang berkembang dengan pesat di Indonesia. Bisa dilihat banyaknya akun yang memiliki pengikut puluhan dan ratusan ribu, hingga jutaan. Konten yang disajikan juga uni dan menarik serta ditayangkan dalam bentuk video, gambar, maupun teks. Hal ini tentu membuat banyak anak muda ingin menjadi seorang kreator konten. Hal itu menarik perhatian dosen Ilmu Komunkasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si. Menurutnya, mereka yang sudah membuat konten patut diapresiasi. Bahkan ia memberikan jempol bagi mereka yang berani untuk ebrkarya dan membuat konten. Novin, sapaannya menilai bahwa potensi contetn creator Indonesia sangat besar. Peluangnya juga cukup besar untuk menjadi salah satunya. “Sekarang ini adalah eranya industri kreatif. Jadi tidak kaget kalau banyak content creator yang bermunculan. Hal itu bagus untuk mendorong kreativitas dan banyak aspek lainnya,” jelasnya. Peluang yang besar ini akan sangat bagus untuk mereka yang mampu menggunakan otaknya. Yakni dengan menciptakan hal inovatis dan kreatif. Apalagi perkembangan media sosial saat ini sangat pesat, sehingga memberikan banyak kesempatan untuk siapapun. “Kalau dulu mungkin masih didominasi orang-orang ilmu komunikasi dan jurnalistik, ya. Tapi kalau sekarang, sudah banyak yang bisa pakai kameran, bisa menulis narasi dan melahirkan sebuah karya,” imbuhnya. Dosen yang fokus di studi perfilman dan pertelevisian ini mengatakan jika riset adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang kreator konten. Tidak melulu membahas mengenai hal yang sedang tren, tapi minimal tahu persis apa yang sedang diinformasikan atau dibagikan. “Kreator konten itu kan memberikan informasi. Jadi ketika menyampaikannya, paling tidak ada isi yang menarik. Hal itu hanya bisa didapat dari riset yang baik dan mendalam, ” terangnya. Selain kemampuan riset, konsistensi juga penting untuk menjadi seorang content creator. Konsistensi yang dimaksud utamanya menyangkut tema atau konsep konten yang di buat. Pun dengan cara yang menjadi ciri khas, serta jadwal untuk mempublikasikan konten tersebut harus sesuai. Ini penting agar mudah dikenal bahkan dioptimalisasi oleh platform publikasi. “Jangan berpikir konten kita jelek. Berproses dulu. Habiskan masa jelek itu hingga kalian bisa bagus dan terus berkembang sehingga selanjutnya bisa survive,” tutup dosen yang juga seorang produser itu. (van/wil)
Tim FH UMM Raih Juara Tiga Debat Nasional

Kabar membanggakan kembali datang dari Univesitas Muhammadiyah malang (UMM). Kali ini giliran mahasiwa Fakultas Hukum UMM yang sukses meraih juara tiga dalam kompetisi debat konstitusional tingkat nasional. Adapun kemenangan ini diraih pada pertengahn Februari lalu di Uiversitas Negeri Gorontalo. Salah satu anggota tim, Saiful Risky menilai prestasi ini tak lepas dari dukungan kampus UMM. Para dosen dan seniornya memberikan banyak masukan dan evaluasi. Sehingga mereka akhirnya bisa tahu kekurangan dan memperbaiki dengan cepat. Apalagi ketiganya juga tergabung dalam LSO Komunitas Riset dan Debat FH UMM. “Support dari UMM sangat banyak dan kami bersyukur akan hal itu. Ini juga bukan jalan yang mudah. Sebelum turut serta bersaing di kompetisi nasional, kami harus bersaing di tingkat FH UMM. Mencari siapa yang paling cocok dan memiliki skill agar bisa mengharumkan nama UMM di kancah tersebut,” katanya. Ada sederet topik yang dihadirkan kompetisi debat tersebut. Mulai dari pembahasan terkait jabatan ketua umum partai politik dua periode, pelegalan pernikahan satu kantor, dan teman menarik lainnya. Mau tidak mau, ia dan tim harus banyak membaca dan menganalisis masalah-masalah yang disajikan. “Topiknya menarik untuk dibahas dan didebatkan. Mau tak mau kami harus menyiapkan dasar hukum dan argumen yang jelas. Alhamdulillah bisa berada di posisi ketigia,” katanya. Ia mengatakan, meski harus melewati banyak kesulitan, namun mereka bersyukur bisa ikut bersaing di lomba debat itu. Apalagi ada banyak kenalan baru, ilmu baru, wawasan dan pengalaman baru. Dengan begitu, mereka bisa meningkatkan kualitas diri. Menurutnya, kompetisi debat bisa dijadikan tolak ukur kapasitas dan kapabilitas mahasiswa. Pun dengan proses mengasah ilmu serta tingkat pemahamannya. Kemudian bisa membandingkannya dengan keilmuan mahasiswa atau pemuda dari berbagai kampus se-nusantara. Risky tidak sendiri, piala juara ketiga diraih bersama dengan dua sahabatnya yakni Cintya Mei Puspitasari dan Moh. Riski Fadjar Romadhani. Ia juga mengajak anak muda lain utuk berani berkompetisi. Menuruntya, hal-hal besar terjadi pada mereka yang tidak berhenti percaya, berusaha, belajar, dan bersyukur. Orang yang jatuh dan bangkit lebih kuat dari orang yang tidak pernah mencoba. “Tak perlu malu untuk mencoba. Mahasiswa harus berani maju agar bsia mengetahui seberapa jauh kapabilitasnya. Kalaupun bagus dan berhasil menjadi juara, itu adalah bonus yang luar biasa,” tegasnya mengakhiri. (wil)