Citayam Fashion Week Viral, Begini Penjelasan Dosen Sosiologi UMM

Citayam Fashion Week menjadi perbincangan yang hangat di kalangan pengguna sosial media akhir-akhir ini. Fenomena mengenai para remaja berpakaian nyentrik yang memadati kawasan Dukuh Atas, Sudirman, Jakarta Pusat ini bahkan menarik minat media internasional seperti Tokyo Fashion. Melihat hal itu, Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos, . M.Si, memberikan penjelasannya. Luluk mengatakan bahwa kepopuleran tersebut menuai banyak pro dan kontra. Sebagian masyarakat mengapresiasi cara kreatif para remaja mengekspresikan diri melalui fashion. Sebagian lainnya menilai bahwa aksi para remaja ini mengganggu dan membuat kumuh kawasan Sudirman. Menurutnya, Citayam Fashion Week merupakan fenomena yang wajar. Hal ini didasarkan pada naluri manusia sebagai makluk sosial untuk membentuk kelompok sesuai karakteristik dan tujuan tertentu. “Komunitas ini terbentuk oleh beberapa anak muda yang tingggal di daerah Sudirman, Citayam, Bojong Gede, dan Depok. Sebagai daerah penyangga ibu kota para anak muda ini memiliki kreativitas yang lebih di bidang fashion. Saya melihat bahwa keberadaan Citayam Fashion Week ini merupakan sarana para anak muda untuk mengungkapkan diri mereka secara jujur melalui sebuah fashion,” ungkap Kepala Program Studi (Kaprodi) Sosiologi tersebut. Selain perkembangan tren fashion, Luluk sapaan akrabnya menjelaskan bahwa perkembangan sosial media juga turut mempengaruhi keberadaan tren ini, utamanya TikTok. Para remaja di Citayam Fashion Week ini memanfaatkan sosial media untuk menjadi terkenal dan mendapatkan uang. Hal ini juga melahirkan banyak seleb Instagram dan seleb TikTok seperti Jeje, Bonge, Kurma, Roy,dan lainnya. “Masifnya keberadaan sosial media mempengarui cara para remaja untuk berkreasi dan Citayam Fahion Week menjadi wadah baru untuk mereka. Selain itu, dengan munculnya komunitas ini juga menjadi sebuah wacana baru bahwa fashion yang selama ini identik dengan kalangan atas, juga bisa dilakukan oleh kalangan menengah ke bawah,” kata Luluk. Lebih lanjut, Luluk menjabarkan beberapa dampak positif lain dari kemunculan tren ini yaitu para remaja menjadi lebih memahami kehidupan bersosial. Kreatifitas para remaja sebagai content creator di media sosial juga meningkat. Selain itu, keberadaan para remaja ini juga meningkatkan penghasilan para Pedangan Kali Lima (PKL) yang berada di sekitar Sudirman. “Selain dampak positif, tentu saja hal ini juga menimbulkan beberapa dampak negatif seperti budaya buang sampah sembarangan dan cara berpakaian yg dinilai terlalu terbuka,” ujar dosen kelahiran Jombang itu. Luluk menjelaskan bahwa untuk melakukan pengurangan dampak negatif, perlu adanya kerja sama dari berbagai pihak, utamanya pemerintah. Hal-hal yang bisa di lakukan adalah dengan mengedukasi, mengarahkan, dan pendampingan kepada para remaja agar komunitas ini tetap berlangsung namun dengan minim dampak buruk. “Secara keseluruhan saya memandang bahwa tren ini sebagai hal yang positif. Saya berharap Citayam Fashion Week dapat menjadi komunitas yang dikenal secara positif tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia Internasional. Saya juga berharap komunitas ini dapat menunjukkan sebuah budaya fashion baru yang memiliki karakter sendiri,” pungkasnya mengakhiri. (Syi/Wil)
Ahmad Fajrul, Mahasiswa Fikes UMM Juara Badminton Bhayangkara Cup

Setiap orang memiliki potensi yang akan menjadi sebuah keunggulan jika dilatih dengan baik. Hal tersebut juga dilakukan oleh Ahmad Fajrul Alim, mahasiswa Prodi Farmasi Fakultas Kesetahan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia sukses mengalahlan puluhan peserta dan meraih Juara 2 Bhayangkara Cup yang diselenggarakan di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan pada awal Juli lalu. Fajrul, sapaan akrabnya menceritakan bahwa kemenangan ini melanjutkan rententan pretasiny di badminton selama berkuliah di UMM. Sebelumnya, ia sukses meraih Juara 2 Ganda Putra di Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) Jawa Timur 2019. Dalam persiapannya, ia memang sudah berlatih tiap minggu tiga kali. Kemudian intensitasnya ia tambah jadi tiap hari. “Saya dan teman-teman memang rutin berlatih. Tapi dua minggu sebelum lomba, pelatih memberi arahan lebih baik di fisik maupun teknik,” tegasnya. Adapun Fajrul telah meminati badminton sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sejak SMP hingga kuliah ia terus latihan dan meraih banyak prestasi dari tingkat regional hingga nasional. Hal tersebut terus berlanjut pada saat masuk perkuliahan. Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Badminton UMM ini kembali menjelaskan ada beberapa faktor kendala di setiap turnamen. Ia bahkan masih sering gugup dan tidak tenang sebelum bertanding. Tetapi, saat sudah di lapangan, ketegangan itu perlahan hilang dan berubah menjadi lebih fokus. “Gugup memang jadi penyakit saya selama ini. Bahkan tidak hanya badminton, tapi di banyak kegiatan. Namun seiring berjalan waktu, saya bisa mulai fokus dan seringkali memenangkan pertandingan,” ucapnya. Mahasiswa asal Banjarmasin itu berharap skill dan fisiknya bisa terus berkembang. Pemahaman akan strategi juga bisa ia kuasai sehingga dapat digunakan untuk mengalahkan lawan-lawannya. “Saya tentu masih haus belajar banyak aspek tentang badminton. Perlu banyak perbaikan dan kemajuan. Di samping itu, saya tentu harus bisa menyeimbangkan akademik dan non-akademik. Untuk teman-teman lain, tetap gali dan tajamkan potensi diri. Saya yakin prestasi juga akan mengikuri,” pungkasnya. (haq/wil)
UMM Launching Buku Syariah dan HAM Hasil Riset Belasan Tahun

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses meluncurkan buku berjudul Sharia and Human Right pada Sabtu (16/7) lalu. Buku hasil riset selama belasan tahun itu berisi tulisan dari para pakar dari berbagai belahan dunia. Mulai dari Indonesia, Norwegia, Malaysia dan sederet lainnya. Lena Larsen dari University of Oslo, Norwegia mengatakan bahwa buku ini merupakan kulminasi dari proyek penelitian terkait keselarasan dan ketidaklarasan antara dua sistem di ranah moral, hukum, dan politik dunia. Yaitu syariah atau hukum Islam dan Hak Asasi Manusia. Lena yang juga berkontribusi tulisan dalam buku cetakan Mizan tersebut menilai bahwa karya ini dapat menjadi pondasi dan dasar untuk bahan mengajar. Tidak hanya terbatas di UMM maupun Indonesia saja, tapi juga bisa melewati batas-batas negara. “Saya merasa sangat senang dan bahagia dalam proses penulisan hingga akhirnya menjadi sebuah buku. Saat saya mengunggah foto buku ini, banyak teman-teman dan peneliti dari Malaysia hingga Inggris yang tertarik untuk mendapatkannya. Apalagi nanti akan ada bentuk digital copy yang semakin memudahkan masyarakat mendapatkannya,” tambahnya. Turut hadir dalam launchig tersebut Nelly Van Door-Harder dari Wake Forest University USA dan Vrije Universiteit Amsterdam. Ia menilai isi dari buku itu sangat menarik, bahkan ada beberapa konten yang mirip dengan apa yang ia ajarkan di universitas. Menurutnya, selama ini banyak yang menganggap Syariah sebagai hal yang brutal padahal mereka belum mempelajarinya. Maka, buku ini menjadi salah satu jalan bagi masyarakat untuk lebih memahami Syariah dan HAM. Nelly, sapaan akrabnya menegaskan bahwa buku ini tidak hanya diperuntukkan bagi pemeluk Islam. Namun bisa juga dibaca dan dipelajari oleh non muslim sehingga bisa saling mengerti dan meminimalisir kesalahpahaman. “Setelah membaca buku ini, kita bisa lebih mengetahui Syariah dan HAM. Dengan begitu, kita bisa menciptakan harmoni di tengah masyarakat saat ini,” tegasnya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. senang karena setelah sekian lama tak bisa berkolaborasi secara langsung karena Covid, kini UMM bisa mengundang para pakar dan meluncurkan buku tersebut. Ia mengatakan bahwa sebelum pandemi, Kampus Putih UMM secara rutin menyelenggarakan agenda-agenda yang mengkaji HAM dan Syariah. Terakhir yakni pada akhir 2019 lalu. “Tentu kami senang bisa kembali berdiskusi lagi serta meluncurkan buku hasil proyek selama 11 tahun. Semoga bisa berkolaborasi di program-program maupun proyek lain di masa depan,” katanya mengakhiri. (wil)
PPG UMM Cetak Guru Persiapkan SDM Masa Depan

Mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) bukan hanya sekadar mendapatkan sertifikat dan formalitas saja. Tapi juga upaya menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dalam menentukan masa depan Indonesia. Hal itu disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Fauzan, M.Pd. dalam orientasi akademik PPG UMM, Senin (18/7) lalu. Pada kesempatan itu pula, PPG UMM juga melaunching 16 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) buah karya kolaborasi para mahasiswa dan dosen. Sederet HKI tersebut berupa poster, metode serta lembar kerja peserta didik. Ini menjadi bukti PPG Kampus Putih untuk terus berinovasi dan mengembangkan para mahasiwanya. Fauzan menilai bahwa sistem PPG yang ada memiliki tujuan untuk mengantarkan peserta agar memiliki kualifikasi yang tinggi. Pun dengan kompetensi yang dimiliki. Dengan begitu, guru bisa meningkatkan kualitas SDM melalui pembelajaran. Utamanya dalam menyongsong bonus demografi yang dimulai pada 2030 nanti dan Indonesia emas di 2045 mendatang. “Suadara-saudara harus mampu memahami era di 20 tahun ke depan. Akan jadi seperti apa dunia kita nanti. Ini harus jadi bahan perenungan kita bersama sehingga kita mampu memberikan inovasi dan perubahan signifikan. Mau tidak mau kita juga harus berubah seiring perubahan zaman,” tegas Fauzan. Ia menegaskan bahwa program PPG ini harus bisa membentuk guru yang memiliki mindset bahwa pendidikan itu dinamis. Akan selalu berubah dan menyesuaikan dengan era yang ada. Menurutnya, investasi paling utama adalah investasi pendidikan, karena kualitas SDM akan menentukan warna peradaban yang akan dicapai Indonesia. Adapun mahasiswa PPG UMM dalam jabatan 2022 kategori I prodi PPG yang mencapai 945 orang. 35 di antaranya dari bdiang bahasa Indonesia, 35 bahaa Inggris, dan 35 PKN, dan sebanyak 840 dari bidang pendidikan guru sekolah dasar. Ratusan mahasiswa tersebut berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. Terkait tingkat kelulusan, beberapa tahun belakangan PPG UMM berhasil mencapai lebih dari 85% yang berhasil lulus dari program ini. Sementara itu, Koordinator Pokja Inovasi dan Transformasi Asesmen PPG Ferry Maulana Putra, S.Pd. M.Ed. menjelaskan bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mendorong peserta didik agar aktif dalam mengembangkan potensinya. Maka perang seorang guru sangatlah signifikan atas upaya tersebut. “Maka, seorang guru harus mampu menjadi pendidik profesional yang mengajar, mendidik, membinbing, mengarahkan, melatih, menilai hingga mengevaluasi peserta didik. Harapannya, akan terlahir anak-anak muda pemangku tongkat yang kompeten di masa depan,” tuturnya. Fery, sapaan akrabnya mengatakan bahwa strategi utama Kemdikbud ialah membentuk sekolah-sekolah yang ada menjadi sekolah penggerak yang diisi oleh guru penggerak. Ada beberapa program utama Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Di antaranya transformasi kepemimpinan pendidikan dan pengemabngan ekosistem belajar guru di setiap provinsi. “Di samping itu juga dengan mengupayakan pemberdayaan komunitas pendidikan secara gotong royong dan regulasi tata kelola SDM baik. Saya berharap proses PPG ini bisa menjadi salah satu alasan agar bisa menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik lagi,” pungkasnya. (wil)
Gaet Kings College London, UMM Perkuat Program CoE

Jaringan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus meluas. Kali ini, Kampus Putih UMM terima kunjungan dari tim King’s College London (KCL), Inggris pada Jumat (6/7) lalu. Kunjungan ini juga mempertegas komitmen UMM untuk menjadi universitas kelas dunia yang melahirkan hal-hal bermanfaat untuk memajukan masyarakat. Deputy Vice President Global Business Development KCL Helen Bailey merasa senang bisa mengunjungi berbagai universitas di Indonesia, khususnya UMM. Menurutnya, melalui proyek yang didanai oleh British Council ini, bisa memberikan berbagai opsi dan kesempatan dalam membangun kerjasama. Terutama kolaborasi dalam bidang-bidang yang potensial seperti pendidikan dan ekonomi. Dalam pertemuan tersebut, tim KCL, UMM dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari membahas mengenai berbagai peluang kerjasama. Tidak hanya terbatas pada pendidikan, tapi juga kesehatan. Helen, sapaan akrabnya mengatakan bahwa bidang teknik dan digital menjadi hal yang sangat mungkin dikerjasamakan. “Saya rasa kita bisa mengembangkan hal-hal terkait fintech maupun data science dengan baik. Bisa juga diadakan sederet short course, pengembangan kurikulum, dan bahkan pertukaran sivitas akademika. Dengan diskusi yang lebih panjang, saya yakin akan tercipta program yang meyakinkan seperti summerschool maupun joint research,” tambahnya. Helen menilai bahwa fasilitas dan kualitas UMM sangat impresif. Lingkungan pendidikan yang memadai serta kepuasan mahasiswa yang terlihat tinggi. Ia juga mengapreasiasi beragam inovasi yang ditelurkan Kampus Putih UMM, salah satunya Center of Excellence (CoE). Pun dengan keramahan yang ia terima, tidak hanya dari pejabat maupun pegawainya tapi juga dari para mahasiswanya. Ia juga menilai bahwa berbagai perbedaan yang ada merupakan sebuah hal yang menarik. Dari situ, akan muncul keingintahuan yang tinggi dari keduanya. Bagaimana perbedaan kultur, pola pikir, dan model solusi bisa berjalan beriringan dan akhirnya menciptakan sebuah inovasi solutif yang bermanfaat. “Menurut saya ada beberapa kata yang bisa mewakili UMM yakni inovatif, tak terduga, ramah, komunitas dan juga kampus yang hijau. Saya sangat menyukai kampus yang tidak hanya memiliki pembelajaran yang menarik dan sivitas akademika yang antusias, tapi juga kampus yang dihiasi dengan banyak tumbuhan seperti UMM ini,” ucapnya. Sampai saat ini, UMM telah memiliki lebih dari 2.600 kerjasama, termasuk kerjasama internasional yang tersebar di berbagai benua. Ada Erasmus Mundus di benua eropa yang mencakup sederet universitas seperti Universidad de Murcia Spanyol, Wrocalw University Polandia, Universidade Do Minho Portugel, dan lainnya. Adapula kerjasama di benua Amerika Selatan seperti Universidad Nacional de Colombia hingga Universidade Regional de Blumenau (FURB) Brazil. Kolaborasi serupa juga dimiliki UMM di kawasan Asia, Amerika Utara, hingga Afrika. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa pertemuan ini menjadi langkah strategis bagi masing-masing pihak. Ia ingin agar bisa segera ditindaklanjuti sehingga bisa mendorong akselerasi kemajuan perguruan tinggi, baik UMM maupun KCL. Apalagi melihat potensi kedua universitas yang sama-sama luar biasa, terutama di level internasional. “Pertemuan ini menjadi awal dari rentetan panjang program-program yang bisa dikolaborasikan. Apalagi sampai saat ini UMM sudah memiliki jaringan kerjasama internasional di lebih dari 35 negara. Tentu KCL akan menjadi salah satu partner yang bagus dalam mengembangkan berbagai kegiatan internasional,” ungkap Fauzan. Fauzan melihat, kunjungan KCL tersebut bisa memperkuat inovasi yang sudah UMM laksanakan. Utamanya CoE dan Center for Future of Work (CFW) yang diharapkan bisa melahirkan generasi masa depan yang memiliki skill mumpuni. Ia yakin kerjasama internasional akan memiliki efek yang signifikan pada lebih dari 20 CoE yang sudah diresmikan. Begitupun dengan CFW yang menyediakan kelas-kelas beroreintesi pekerjaan masa depan. “Semoga segera ada implikasi dan aplikasi konkret setelah pertemuan ini. Bagaimana kedua belah pihak bisa saling membantu dalam rangka memajukan dan mencapai target masing-masing,” harapnya mengakhiri. (wil)
Mahasiswa UMM Juara Voli Pantai Porprov Jatim

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali cetak prestasi di bidang olahraga. Kali ini datang dari mahasiswa Prodi Farmasi, Ahmad Wibisana Dharmawan. Ia berhasi meraih juara 2 perorangan dan juara 3 beregu putra pada cabang olahraga voli pantai dalam kejuaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur. Adapun kejuaran ini dilaksanaan bertempat di Watersport Jasalindo Situbondo pada akhir Juni hingga awal Juli lalu. Wibi sapaan akrabnya merasa sangat bangga bisa mewakili UMM dan Malang pada kejuaraan Porprov tahun ini. Apalag ajang ini menjadi Porprov terakhirnya. ”Jadi ada batas usia untuk mengikuti Proprov. Tentu, saya tidak akan melupakan berbagai memori di kejuaraan ini. Sudah banyak hal yang telah saya korbankan untuk mengikuti dan memenangkan kejuaran ini. Baik itu waktu, tenaga, bahkan pikiran,”ungkap Wibi. Wibi menjelaskan persiapan yang paling utama sebelum perlombaan adalah menjaga kondisi tubuh agar selalu fit. Proses latihan rutin yang dilakukannya kurang lebih enam bulan. Intensitasnya semakin tinggi pada tiga bulan terakhir. Wibi juga beberapa kali mengalami cedera selama proses latihan. Apalagi ia juga harus membagi waktu antara latihan dan kuliah. “Tiga bulan sebelum perlombaan, saya sempat mendapat cedera patah tulang kaki. Kemudian sebulan setelahnya saya juga mengalami cedera dislokasi ligamen pergelangan tangan kanan. Kedua cedera itu benar-benar menjadi kendala terbesar sebelum perlombaan. Bukan hanya harus mengembalikan kesehatan fisik, tapi juga harus bisa mengatasi trauma karena cedera,” tegasnya. Beruntung, berkat dukungan penuh teman-teman, kerabat dan orang tua serta UMM, Wibi mampu bangkit dengan baik. Bahkan bisa mempersembahkan juara. Ia menilai, doa orang tua adalah salah satu alasan kenapa dia bisa berprestasi. Motivasi yang diberikan orang tua juga membuatnya lebih kuat dan berhasil bangkit. Terkait dunia voli, ia bercerita bahwa telah menyukai voli sejak sekolah dasar. Awalnya terpaksa karena diminta orang tua. Namun lama kelamaan malah menjadi kegiatan favoritnya. Sebelumnya, Wibi juga sukses meraih berbagai juara. Mulai dari juara 4 Kejuaraan Provinsi Remaja Jatim 2018 hingga Juara 2 pada kejuaraan yang sama. Lebih lanjut, Wibi mengatakan perlombaan kemarin menjadi pertandingan yang sangat ditunggu-tunggu para atlet karena sudah lama vakum karena pandemi. “Jadi saya memang ikut di duan kategori, yakni perorangan dan beregu. Keduanya terasa berbeda, terutama dari segi suasananya ya. Pertandingan lebih ketat di perorangan karena beberapa daerah memang kuat diperorangan,” ungkap mahasiswa asli Malang itu. Ia berpesan pada anak muda untuk selalu semangat. Boleh berhenti untuk beristirahat tapi tidak untuk terus berjuang. Ia percaya bahwa tiap orang punya bakat yang bisa disalurkan dna dimaksimalkan. Lebih-lebih jika bisa memanfaatkannya untuk kebaikan masyarakat. (zak/wil)
Jadi Universitas Mitra, UMM Dampingi SPMI 14 PTS Lain

Untuk menjaga mutu suatu perguruan tinggi, penetapan dan pengelolahan standart harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Halitu lah yang selalu di upayakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mejaga mutu pendidikannya. Berkat kerja keras yang selama ini dibangun, UMM terpilih menjadi mitra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk melakukan pembinaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) kepada perguruan tinggi terakreditasi Baik maupun C. Kepala Badan Penjaminan Mutu Internal (BPMI) UMM Dr. Ainur Rofieq, M.Kes., menjelaskan bahwa selain UMM, ada tujuh perguruan tinggi terakreditasi A dan unggul lain yang menjadi mitra. Kedelapan universitas ini akan mendampingi kurang lebih 14 PTS untuk pembinaan SPMI. “Selain terakreditasi Baik maupun C, 14 PTS yang akan dibina ini ditunjuk langsung oleh Kemendikbudristek karena belum pernah mengupload dokumen bukti implementasi SPMI di perguruan tingginya pada SIM SPMI Dikti,” ungkap dosen pendidikan biologi tersebut. Lebih lanjut, Rofieq sapaan akrabnya menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang akan dilakukan universitas mitra selama masa pendampingan. Pertama adalah mendampingi 14 universitas untuk menyusun dokumen utama SPMI. Selanjutnya adalah mendampingi pengelolaan survei tingkat kepuasan para stakeholder terhadap universitas terkait. Tahap selanjutnya adalah penyampaian best practice implementasi SPMI dari masing-masing universitas mitra. “Terakhir, kami akan melakukan sharing pelaksanaan manajemen Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan Standar Dikti yang biasa disebut sebagai PPEPP. Program ini akan berlangsung sejak awal bulan Juli sampai bulan November 2022 mendatang,” kata Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan (BAN-PT) itu. Terkait terpilihnya UMM sebagai mitra SPMI, dosen kelahiran 1965 ini mengungkapkan rasa syukurnya karena implementasi SPMI UMM telah dinilai baik oleh Kemendikbudristek sehingga dijadikan mitra. Ia berharap apa yang dilakukan ini akan membantu lebih banyak perguruan tinggi yang mengalami kendala. “Saya juga berharap setiap perguruan tinggi yang menjadi mitra UMM akan memiliki dokumen, pengelolaan, dan implementasi SPMI yang sesuai dengan harapan serta ketentuan Kemendikbudristek. Selain itu, saya juga berharap kedepan perguruan tinggi mitra akan dimudahkan untuk mengikuti proses akreditasi yang diselenggarakan oleh BAN-PT ataupun oleh Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM),” pungkasnya. (syi/wil)
Mahasiswa HI UMM Lulus lewat Program Ekuivalensi Artikel Jurnal

Skripsi acapkali menjadi momok yang menakutkan bagi mahasiswa tingkat akhir. Oleh karena itu Fakutas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UMM memberikan alternatif mahasiswanya untuk lulus tanpa skripsi. Hal tersebut telah direalisasikan oleh Prodi Hubungan Internasional yang berhasil meluluskan puluhan mahasiswanya melalui program ekuivalensi artikel ilmiah jurnal. Kepala Prodi HI UMM Syaprin Zahidi mengatakan program ekuivalensi artikel ilmiah menjadi tugas akhir atau skripsi merupakan bentuk usaha untuk mendorong mahasiswa lulus tepat waktu. Dimana, tujuan dari program ini yaitu untuk memberikan alternatif kepada mahasiswa untuk lulus melalui jalur akademik lain. “Artikel ilmiah yang dapat disetarakan dengan skripsi haruslah melalui proses bimbingan dengan dosen, review oleh reviewer jurnal, revisi dan tahapan editorial yang memadai sesuai dengan standar dan aturan yang berlaku. Artikel yang berhasil terbit juga harus melalui proses ujian yang ketat oleh dosen penguji,” tegas Syaprin. Syaprin mengatakan semua kategori jurnal dapat diajukan sebagai pengganti penulisan skripsi. Mulai jurnal internasional, jurnal nasional Sinta 1 hingga Sinta 6, bahkan jurnal ber-ISSN non-Sinta. Lebih lanjut, Syaprin juga menjelaskan bahwa ada jalur lain selain program ekuivalensi artikel yang bisa mahasiswa coba. Salah satunya melalui program Kampus Merdeka. Prodi Hubungan Internasional juga telah melakukan ekuivalensi ke dalam nilai mata kuliah bagi mahasiswa yang memiliki pengalaman internasional dan nasional. Hal tersebut merupakan upaya Prodi untuk mempertahankan Akreditasi Unggul yang telah diraih. Di samping itu juga sebagai langkah mempersiapkan akreditasi internasional. Di sisi lain, salah satu mahasiswa yang berhasil mengambil program ini yaitu Oktavia Widya Kumalasari, lulusan Prodi Hubungan Internasional yang lulus pada Wisuda Periode II 2022 lalu. Ia berhasil menyelesaikan studi dengan menulis artikel di Jurnal Sinta 4. “Lulus melalui konversi publikasi artikel lebih efisien dalam hal tenaga dan waktu. Karena kita tidak perlu menulis sebanyak menulis skripsi hingga ratusan halaman. Namun bukan berarti kita tidak menguasai penelitian dan topik yang kita tulis, karena proses tetap harus melalui bimbingan dengan dosen dan melewati proses review serta revisi,” ungkap Okta mengakhiri. (*/zak/wil)
Sambangi Caruban, Mobil KaCa UMM Bagi Keceriaan hingga Sunat Massal

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sambangi Caruban dan berbagi keceriaan melalui kegiatan Mobil Kamis Membaca (KaCa) pada Rabu (13/7) lalu. Tidak hanya menyediakan bacaan dan mengajak anak-anak bermain games, UMM juga menyediakan pengobatan gratis, konsultasi kesehatan dan sunat massal bagi warga Caruban hasil kerjasama dengan Rumah Sakit Umum(RSU) UMM. Salah satu tim Mobil KaCa UMM Maharina Novi, M.Ikom. mengatakan bahwa acara ini memang menjadi agenda rutin Kampus Putih. Sebelumnya, mereka juga menyambangi berbagai kota dan kabupaten seperti Blitar, Kediri, Trenggalek dan lainnya. Ini juga menjadi upaya dalam memberikan edukasi serta menghibur anak-anak. “Ada hampir 600an buku yang bisa dibaca. Mulai dari dongeng, cerita bergambar, novel bahkan juga keislaman. Besar harapan kami, dengan datangnya mobil KaCa ini bisa meningkatkan minat dan literasi membaca generasi muda. Permainan yang disiapkan juga bertujuan untuk membangun mental dan memupuk kerjasama,” tegasnya. Di sisi lain, Ketua tim kesehatan RS UMM dr. Wildan Firmansyah mengatakan bahwa sudah ada tim yang membantu warga untuk konsultasi kesehatan. Begitupun juga dengan pengobatan gratis yang diberikan pada lebih dari 150 warga. Menariknya, RS UMM juga melangsungkan sunat massal gratis bagi anak-anak Caruban. Terhitung, ada belasan anak yang hadir dan disunat secara gratis. Wildan, sapaan akrabnya menegaskan bahwa agenda ini menjadi salah satu cara syiar yang dilakukan Muhammadiyah. “Alhamdulillah, niat kami disambut baik oleh masyarakat. Banyak yang datang dan bertanya tentang kesehatan. Pun dengan orang tua yang membawa anak laki-lakinya untuk melakukan sunat gratis. Semua berjalan baik dan semoga bisa memberikan manfaat baik bagi sesama,” pungkasnya. Antusiasme tinggi ditunjukkan warga sekitar. Salah satunya Said Abdullah yang mengantarkan anaknya untuk sunat. Menurutnya kegiatan ini sangat bermanfaat mengingat biaya sunat yang kini mencapai 800 ribu hingga satu juta rupiah. Ia merasa terbantu dengan adanya sunat massal yang dilaksanakan UMM. “Tadi juga sempat mengobrol dengan orang tua lain. Mereka menyambut baik acara bermanfaat seperti ini. Mungkin hal ini bisa juga dilakukan di lokasi-lokasi lain,” harap Said. Kedatangan tim UMM ke Caruban, Madiun ini juga menjadi salah satu rentetan kegiatan peresmian Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Caruban oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. pada Kamis (14/7). Turut hadir Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta pengurus Muhammadiyah Jawa Timur, Madiun dan sederet cabang serta ranting. (wil)
UMM Gaet Toyo Jewellery and Craft, Bangun CoE Perhiasan dan Mineral

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggaet industri untuk meningkatkan kualitas mahasiswa dan lulusannya. Terbaru, UMM bekerjasama dengan Toyo Jewellery and Craft dalam mengembangkan Center of Excellence (CoE) Mineral dan Perhiasan pada Selasa (13/7) lalu. Sekolah unggulan ini menjadi salah satu dari puluhan CoE yang sudah berdiri dan terlaksana di UMM. Adapun Toyo Jewellery and Craft merupakan perusahaan yang berlokasi di Surabaya dengan sederet cabang. Perusahaan ini memproduksi perhiasan dan aksesoris dengan style dan kualitas terbaik. Dibuat oleh pengrajin pilihan, pasar konsumennya juga luas, yakni lokal hingga internasional. Yudi Suharsono, S.Psi., M.Si. dari pihak UMM menjelaskan bahwa Kampus Putih senantiasa mengembangkan dan mencari peluang yang bagus. Utamanya untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. “Akan ada sederet fasilitas yang akan disediakan CoE ini. Mulai dari ruang workshop hingga laboratorium pengolahan mineral dan perhiasan,” tambahnya. Yudi, sapaan akrabnya mengatakan bahwa sekolah unggulan ini juga akan menyediakan dan membangun museum gemologi. Dengan begitu, para peserta dan mahasiswa bisa memahami terkait batu, permata alami, dan hasil pekerjaannya. Hingga akhirnya nanti bisa meningkatkan minat mahasiswa bahkan alumni untuk mendalami bidang tersebut. Menariknya, kedua belah pihak juga akan membuat galeri mineral dan perhiasan untuk menambah khazanah pengetahuan dan wawasan. “Ada banyak agenda yang sudah kami canangkan. Kami juga menyiapkan seminar tentang bidang ini, kemudian juga shortcourse serta workshop. Semoga sekolah unggulan ini bisa melahirkan alumni yang memahami perhiasan dan mineral dengan baik serta bisa memanfaatkannnya,” tegas Yudi. Di sisi lain, Suyoto selaku Direktur Utama Toyo Jewellery and Craft menilai bahwa sekolah unggulan yang dicetuskan UMM ini adalah inovasi yang baik. Menurutnya, para peserta yang ikut di CoE perhiasan dan mineral nanti pasti memiliki skill yang cocok dengan apa yang dibutuhkan industri. Maka, ini menjadi Langkah yang strategis dan menguntungkan untuk kedua belah pihak, baik bagi pihak industri maupun perguruan tinggi. “Tujuan Kerjasama ini tentu berusaha untuk peningkatan mutu mahasiswa dan alumni agar bisa menghadapi tantangan persaingan kerja yang semakin sengit. Semoga apa yang kami lakukan ini bisa bermanfaat bagi banyak orang,” tambahnya. Sampai saat ini, UMM sudah memiliki lebih dari 20 CoE Sekolah Unggulan yang bergerak di berbagai bidang. Mulai dari sekolah produksi kokoa, sekolah unggas, sekolah udang, sekolah digital, dan lain sebagainya. Adapun sekolah-sekolah ini menjadi upaya UMM untuk melahirkan generasi dengan skill terbaik sehingga mampu bersaing dengan SDM-SDM lain, baik dari dalam maupun luar negeri. (wil)