Mahasiswa UMM Jadi Duta Banyuwangi 2022

Nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali harum. Kali ini, prestasi datang dari ujung provinsi Jawa Timur, yaitu kabupaten Banyuwangi. Arifi Isqak Nurfian, Mahasiswa program studi (prodi) Ilmu Keperawat UMM berhasil menjadi Wakil 1 Thulik Banyuwangi 2022. Keberhasilan tersebut ia raih di ajang Banyuwangi Youth Festival 2022 yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi. Arifi mengatakan bahwa semua berawal dari keinginannya untuk menggali dan memaksimalkan potensi diri. Selain itu juga sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat Banyuwangi. “Sebagai generasi muda, saya tentu punya semangat untuk berkontribuai bagi daerah khususnya meningkatkan pariwisata untuk pihak luar,” ujarnya. Ia menjelaskan jika proses seleksi Duta Banyuwangi sangat ketat dan ladar. Dimulai dengan pendaftaran, tes tulis, tes wiraga dan tes wawancara ia ikuti dari Mei hingga Juni. Setelah lolos sepuluh besar, ia dikarantina kurang lebih selama dua minggu di Disbudpar Banyuwangi untuk menentukan tiga besar. Selama proses itu pula ia belajar mengenai sejarah, kebudayaan dan pariwisata Banyuwangi. Selama mengikuti karantina, Arifi sempat kuwalahan dalam aspek menari. Apalagi ciri khas duta Banyuwangi adalah kemampuan menari yang bagus. Apalagi selama ini ia hobi berolahraga yang membuat tubuhnya lebih kaku. “Saya sendiri masih awam dengan menari. Jadi awal-awal gerakan saya seperti roboto dan kaku. Saya bahkan harus berlatih ekstra untuk belajar tari di waktu-waktu luang,” ungkap Arifi. Ia mengaku bahwa banyak persiapan yang ia lakukan untuk menunjang kualitas dirinya. Menyiapkan mental, fisik dan materi adalah beberapa di antaranya. Ia bahkan harus memaksa diri untuk terus belajar banyak hal, meskipun sudah lelah dan suntuk. Hal itu dilakukan agar ia bisa lancar dalam menjawab pertanyaan yang diajukan. Apalagi ia harus tetap mengikuti perkuliahan seperti biasa. Mahasiswa asli Banyuwangi itu mengatakan jika peran UMM sangat besar selama proses seleksi. “Terutama kepala prodi yang memberikan dukungan dan izin dispensasi. Teman-teman dan dosen juga memberikan semangat dan solusi. Apabila dispensasi tidak diberikan, mungkin saya akan sangat kuwalahan,” terangnya. Terakhir, ia berpesan kepada anak muda untuk tidak rendah diri. Mereka harus beranggapan bahwa semuanya mungkin selama tetap berusaha dan berdoa. Ia mendorong pemuda untuk terus menggali diri dan menggunakannya untuk kebaikan masyarakat. “Jangan sampai ada kata minder. Apapun keadaannya harus tetap berusaha dan berpikir positif serta optimis. Sebab sejatinya kita melangkah tiap hari bagaikan kertas kosong, yang mana kita harus selalu menulis goresan-goresan di atasnya menggunakan tinta,” pungkasnya. (ros/wil)
Satgas UMM Ajari Peternak Sapi Kecamatan Tumpang Atasi PMK

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergerak dengan sigap dalam membantu para peternak sapi yang menghadapi virus penyakit mulut dan kuku (PMK). Di antara usahanya yakni dengan mengirimkan tim satgas PMK ke beberapa daerah, salah satunya ke Desa Jeru, Kecamatan Tumpang pada Senin (11/7) lalu. Puluhan warga Jeru yang bermata pencaharian sebagai peternak sapi mengikuti penyuluhan tersebut sampai akhir dan berkonsultasi. Tim Satgas PMK UMM Ali Mahmud, S.Pt. M.Pt. meminta agar para peternak tidak merasa panik. Ia menjelaskan bahwa wabah ini tidak hanya menyerang Malang, tapi seluruh daerah di Indonesia. “Saya juga punya sanak saudara dan kerabat yang sapinya sakit hingga akhirnya mati. Momen ini memang berat, tapi ada beberapa langkah yang bisa bapak ibu lakukan untuk mengantisipasi dan merawat hewan ternak yang terjangkit PMK,” tegasnya. Ali, sapaan akrabnya menuturkan ada empat langkah yang bisa dilakukan oleh para peternak. Dimulai dengan deteksi mandiri. Menurutnya, ada beberapa ciri jika sapi sudah terkena virus PMK yakni air liur yang berlebihan, matanya lesu, pupil kurang baik karena tidak mau minum dan akhirnya dehidrasi. Peternak juga bisa memperhatikan bau yang ada di kandang karena sapi yang terkena PMK memiliki bau yang khas. Kemudian, langkah kedua yakni dengan penanganan dehidrasi dengan mencekoki cairan. Bisa juga dengan dicontang atau digelonggong. Pun dengan pemberian betadine atau obat biru di mulut sapi yang sakit serta mengobati kuku-kuku sapi yang terluka. Menurutnya, merawat sapi yang sakit PMK memang harus dilakukan dengan telaten dan rutin. “Paling tidak harus sering memberisihkan mulut sapi yang luka atau penuh nanah. Bisa menggunakan campuran bahan-bahan alami seperti air rebusan daun sirih. Kalau memiliki akses ke obat-obatan, bapak ibu juga bisa memberikan obat yang sesuai. Lalu langkah selanjutnya yakni penanganan medis dan membentuk tim kecil agar lebih mudah merawat sapi-sapi yang sakit,” tambahnya. Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S. juga menjelaskan bahwa PMK merupakan salah satu penyakit ternak yang ganas dan mudah menular. Tetapi peternak tidak perlu khawatir karena PMK nyatanya bisa disembuhkan. Namun pengobatannya tidak bisa hanya dilakukan sekali. Lili mengatakan bahwa virus PMK tidak tahan dengan asam, maka peternak bisa memberikan vitamin C. Virus itu juga tidak tahan basa sehingga bisa menyemprotkan air garam ke mulut dan kuku yang luka. “Bapak dan ibu bisa menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah atau yang mudah didapat. Tetapi paling tidak sudah punya persediaan desinfektan dan vitamin,” tambahnya. Lili juga memberikan cara membuat desinfektan alami. Yakni dengan menggunakan daun sirih atau juga daun buah ceri. Berdasarkan pengamatannnya, dua bahan alami ini bisa digunakan dengan baik sebagai desinfektan alami. “Nanti jika ada proses vaksinasi, bapak dan ibu jangan menolak. Vaksin akan membuat ternak kita lebih kuat dan memiliki antibodi. Kita juga bisa meningkatkannya dengan memberikan perhatian dan kasih sayang kepada ternak yang kita miliki,” tambah Lili. Adapun Kepada Desa Jeru, Ahmad Saiful Hadi, berterimakasih karena UMM mau datang dan memberikan penyuluhan. Selama ini, belum ada yang memberikan penjelasan rinci tentang virus PMK cara-cara mandiri menanganinya. “Sejauh yang saya tahu, di desa sekitar juga belum ada penyuluhan semacam ini. Tentu ini sangat membantu para peternak sapi yang kebingungan dan awam tentang cara penanganan sapi terjangkit PMK,” tambahnya. Ia berharap para peternak sapi di Jeru bsia memanfaatkan pertemuan ini dengan maksimal. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya dapat membantu mereka dalam mengatasi virus PMK. Ia tidak ingin para warga diam saja dan akhirnya tetap tidak tahu langkah-langkah yang harus dilakukan. “Semoga agenda ini menjadi awal upaya dalma mengatasi virus PMK di Tumpang, utamanya Desa Jeru. Mungkin nanti pihak UMM bisa mengirimkan tim dokter atau juga mahasiswa dalam membantu peternak merawat dan menjaga kondisi sapi agar bisa lebih prima dan sehat. Sekali lagi kami berterimakasih banyak tim Satgas PMK UMM bisa datang,” pungkasnya. (wil)
Prodi HKI UMM Beri Cara Bangun Keluarga Kekinian

Keluarga bukan hanya dipimpin oleh seorang ayah, begitupun dengan urusan mendidik yang bukan menjadi beban ibu saja. Tetapi keduanya harus saling bahu membahu membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Hal tersebut diungkapkan oleh Prof. Alimatul Qibtiyah, S.Ag., M.Si., P.hD. dalam sebuah Talkshow Keluarga Kekinian. Adapun acara ini diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Kamis (7/7) lalu. Komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Republik Indonesia (RI) itu menjelaskan bahwa saat ini, ibu masih menjadi pihak yang berkontribusi banyak dalam urusan mendidik anak. Sedangkan ayah sibuk pergi mencari nafkah. Padahal menurutnya, seorang anak memerlukan kehadiran sosok ayah dalam tumbuh kembangnya. “Tidak harus semua urusan rumah tangga dan mendidik anak diserahkan ke ibu. Harus ada campur tangan ayah sehingga bisa membangun hubungan hangat di antara anggota keluarga,” ucapnya. Di samping itu, ia juga menjelaskan bebarapa permasalahan keluarga kontemporer. Salah satunya tingginya gugatan cerai yang ada. Berdasarkan penelitiannya, banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka perceraian di Indonesia. Di antaranya ketikdakharmonisan dalam keluarga, masih terbelenggu oleh budaya lama dan ancaman baru teknologi digital. Dengan perkembangan teknologi digital yang semakin maju, bukan berarti masalah akan hilang. Justru malah memunculkan masalah baru bagi keluarga masa kini. Mulai dari perundungan yang makin masif, pelecehan di media sosial, kecanduan, penipuan dan sederet lainnya. “Perkembangan teknologi bukan hanya memunculkan solusi dan cara baru, tetapi juga memunculkan problem baru. Coba kita lihat, bagaimana kini kedekatan orang tua dan anak terasa kurang dan malah lebih fokus pada gawainya masing-masing,” paparnya. Belum lagi adanya pandemi yang menambah beban dan masalah. Dapat dilihat dari beban pendidikan yang memberatkan ibu karena harus memahami semua mata pelajaran. Apalagi jika ia bekerja. Selain itu, kekerasan dalam rumah tangga juga terus meningkat 85% untuk perempuan dan 10% untuk laki-laki. Pun dengan naiknya persentase pernikahan anak di bawah umur. “Budaya patriarki di Indonesia belum bisa hilang. Masih banyak sang ibu memikul beban yang berat, hal ini masih terjadi karena kebanyakan laki-laki berpikir kodratnya hanya mencari nafkah, sedangkan perempuan menjadi ibu rumah tangga. Mindset ini perlu diubah, keduanya harus saling membantu agar keluarga yang dibangun menjadi lebih baik,” imbuhnya. Pada akhir pemaparannya, Alim memberikan tips untuk mengembalikan spirit berkeluarga yang sakinah. Salah satunya adalah dengan membuat fleksibel peran dari seorang ayah atau ibu sehingga bisa saling menutupi kekurangan dalam berkeluarga. Kemudian juga mampu menciptakan lingkungan yang ayaman sehingga dapat mencinptakan konsep baiti jannati. Menjadikan rumah sebagai hunian yang baik untuk kesehatan jasmania maupun rohani. Terakhir mampu memahami hobbi dan kesukaan setiap anggota keluarga yang ada. Sementara itu, Pradana Boy ZTF, MA., Ph.D. selaku pemateri kedua menjelaskan terkait kondisi keluarga masa kini yang memiliki banyak tantangan. Misalnya saja pandangan keluarga akan gaji istri yang lebih tinggi ketimbang suami. Pun dengan keluarga berjarak atau long distance marriage (LDM) dan sederet lainnya. Perubahan sosial juga mengubah perilaku masyarakat dalam berkeluargnya. Misalnya saja para orang tua yang kini lebih mementingkan dan fokus pada karir. Sementara anak-anaknya dititipkan. Meski sebagian menggapnya bukan masalah, tapi banyak keluarga yang harus menghadapi tantangan tersebut. “Apalagi perubahan sosial itu diiringi juga dengan perkembangan teknologi yang mengubah kebiasaan masyarakat. Pun dengan pemahaman ideologi baru. Maka, pemahaman ba
Informatika UMM Kembangkan Artificial Intelligence di Bidang Batik

Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siap mengembangkan teknologi Artificial Intelligence (AI) di bidang batik. Hal itu diperkuat dengan kunjungan prodi ke Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad dan Balai Besar Kerajinan Batik (BBKB) Kementerian Perindustrian Indonesia, Yogyakarta. Agenda dan diskusi itu berlangsung pada akhir Juni lalu. Ir. Galih Wasis Wicaksono, S.Kom, M.Cs selaku Ketua Prodi Informatika UMM menjelaskan alasan pihaknya memilih batik untuk dikembangan ke dunia AI. Menurutnya, batik merupakan budaya asli Indonesia yang berasal dari perpaduan seni dan teknologi para leluhur bangsa. Batik juga telah menjadi ciri khas bangsa Indonesia. “Jadi tak ada salahnya kami mengembangkan AI di bidang batik ini. Apalagi . Apalagi United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) secara resmi mengakui batik masuk ke dalam daftar representatif budaya tak-benda warisan manusia,” tambahnya. Terkait tujuan kunjungan ke PPBI, Galih, sapaan akrabnya mengatakan pihaknya ingin merintis kemitraan yang nantinya akan mengumpulan dataset untuk kebutuhan pengembangan AI. Tidak hanya untuk AI, data set ini juga akan digunakan untuk kegiatan pendidikan, pembelejaran di perkuliahan atau juga riset terkait batik. Lebih lanjut, PPBI Sekar jagad juga menyambut baik tawaran kemitraan dari Prodi Informatika UMM. Bahkan ada beberapa rencana kerja yang bisa segera dilakukan kolaborasi. Di antaranya dengan proses digitalisasi buku batik yang melibatkan dosen dan mahasiswa. Galih menambahkan bahwa tujuan yang sama juga diemban saat datang ke BBKB Kementerian Perindustrian Indonesia. Mereka juga ingin lebih mengenal produk teknologi dari BBKB serta data set batik yang nantinya bisa digunakan untuk penyusunan AI yang lebih baik. Adapun beberapa kolaborasi yang bisa dilakukan adalah penelitian, magang, pengembangan data set AI yang nantinya bisa digunakan untuk riset atau proyek yang lebih mumpuni. Disampaikan Galih, BBKB saat ini telah memiliki aplikasi di bidang batik yakni Batik Analyzer dan Nadin. Aplikasi pertama digunakan untuk mengklasifikasi jenis batik tulis, cap, print, dan lain sebagainya. Sedangkan aplikasi Nadin diperuntukan untuk pencocokan warna atau color matching dari bahan pewarna alami, yang akan digunakan sebagai pewarna batik. “Berangkat dari hal ini, kunjungan ini membuka peluang para mahasiswa Informatika UMM untuk ikut serta dalam pengembangan aplikasi-aplikasi BBKB. Harapannya mereka bisa menambah pengalaman dan kompetensi mahasiswa serta memberikan inovasi solutif dalam pengembangan AI batik,” ucap Galih. (Wil)
Pujon Hill UMM Gelar Edukasi Kopi dan Hutan

Hal menarik dilakukan oleh Pujon Hill Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan menggelar edukasi kopi dan hutan. Agenda yang dilaksanakan pada awal Juli lalu itu berusaha menyampaikan pengetahuan baru terkait kopi sekaligus memberikan alternatif sumber ekonomi bagi warga sekitar. Acara ini juga mendatangkan pemateri dari petani lokal Pujon serta pertunjukan langsung barista yang mengolah kopi menjadi minuman menarik. Salah seorang anggota tim UMM, Tatag Mutaqin, S.Hut., M.Sc., menjelaskan bahwa tim Kampus Putih UMM ini tidak hanya dari dosen tapi juga para mahasiswa. Kedua elemen tersebut tergabung dalam program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) tematik. Tatag, sapaan akrabnya mengatakan bahwa budidaya kopi belum menjadi mata pencaharian utama masyarakat Pujon. Padahal potensinya cukup baik dan bisa dikembangkan lebih lanjut. “Sayang kalau potensi kopi ini tidak dimaksimalkan. Maka dari itu, kami ingin mengajak warga untuk lebih dalam mengetahui seluk beluk perkopian. Mulai dari budidayanya hingga memasarkannya. Ini juga menjadi usaha membantu petani desa untuk memperkenalkan Kopi hasil dari pertanian yang terletak di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang,” ungkapnya menambahkan. Lebih lanjut, Tatag mengatakan bahwa ketinggian tanah di kecamatan Pujon sangat bagus dan memadai untuk dijadikan lahan pertanian kopi. Uniknya, Kopi Pujon juga pernah menjadi perwakilan kopi dari Indonesia dalam ajang Athens Coffee Festival di Yunani pada tahun lalu. Dengan berbagai keunggulan itu, tim UMM akhirnya ingin melakukan berbagai pembinaan. Terutama dalam rangka mendorong industri kopi di Pujon. Asyiknya, sederet acara tersebut senantiasa ditemani dengan live music yang ditampilkan oleh Morning Station. Pun dengan demo pembuatan kopi yang dilakukan oleh para barista yang hadir. “Selain memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat, kami juga berharap dengan adanya kegiatan ini dapat membantu mereka untuk mencari alternatif sumber ekonomi lain. Apalagi di tengah kondisi yang tidak menguntungkan karena wabah PMK. Semoga upaya edukasi ini bermanfaat dan memberikan pengetahuan bagi yang hadir serta menjadi alternatif penghasilan lain,” ucapnya mengakhiri. (Wil)
Semarak Idul Adha Green Qurban UMM

Hal menarik tampak di proses kurban yang ada di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (9/7) lalu. Tak ada penggunaan plastik dalam distribusi karena Kampus Putih menerapkan Green Qurban UMM. Pun dengan upaya meminimalisir proses-proses yang mencemari lingkungan. Ketua panitia Idul Kurban UMM M. Arif Zuhri, Lc. M.HI. menuturkan bahwa pihaknya sengaja berupaya memulai green Qurban UMM. Salah satunya dengan penggunaan besek sebagai ganti plastik sebagai tempat distribusi daging. “Konsep ini memang ingin kamu mulai sebagai bentuk implementasi etika lingkungan. Dengan begitu, kita tetap bisa berkurban seperti biasa dan tidak mencemari lingkungan sekitar,” tambahnya. Arif, begitu ia kerap disapa, melanjutkan ada empat sapi dan enam ekos kambing yang dikurbankan di kampus III UMM. Sementara di kampus II UMM ada satu ekor sapi dan dua ekor kambing. Adapun daging yang ada dibagikan ke banyak pihak. Mulai dari para pegawai Kampus Putih, unit bisnis hingga masyarakat sekitar yang membutuhkan. Arif menegaskan bahwa pihaknya juga sudah memberikan satu ekor sapi hidup ke Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kota Malang. “Di samping itu kami juga berbagi dengan menyerahkan kambing ke Lapas Laki-laki. Tak lupa juga ke wilayah-wilayah yang membutuhkan di Malang Selatan dan sekitar UMM,” katanya. Pada proses kurban tersebut, Arif juga mengajak para mahasiswa yang mendapatkan beasiswa Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) dan beasiswa yatim. Hal itu dilkukan agar para mahasiswa mendapatkan pengalaman menarik dalam distribusi hewan kurban. Sehingga nantinya saat terjun ke masyarakat, mereka tidak kebingungan dan sigap melaksanakannya Terkait hewan kurban, UMM memastikan bahwa sapi dan kambing yang ada sehat dari berbagai penyakit. Hal itu ditegaskan oleh pendamping tim kesehatan hewan kurban UMM Mahmud, S.Pt. M.Pt. Menurutnya, semua hewan kurban UMM sudah diperiksa dengan teliti. Pada saat pembelian, pihaknya juga membawa tim untuk pemeriksaan lebih lanjut. Adapula surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) yang menjadi salah satu aspek dalam melihat keadaan hewan kurban. Baik itu sapi maupun kambing. “Sapi dan kambing ini sudah dinyatakan bebas dari cacing hati, antraks, dan bahkan virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Saat dipotong dan dilihat, semua jeroan, hati, hingga paru juga bersih dan sehat. Jadi memang benar-benar bebas dari unsur-unsur bakterial dan parasit,” ungkap Ali mengakhiri. (wil)
Khutbah Idul Adha UMM: Kurban Miliki Nilai Religius dan Sosial

Kurban tidak hanya memiliki nilai religiusitas saja, tapi juga makna sosial yang dalam. Hal itu disampaikan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. pada khutbah Idul Adha di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (9/7) lalu. Pada momen ini, Syamsul mengatakan bahwa umat muslim tidak boleh menganggapnya sebagai ritual ibadah semata. Lebih dari itu juga bertujuan untuk memperkokoh iman dan memantapkan integrasi spiritual dan moral. Sementara tujuan sosial dari kurban ialah menumbuhkan cinta solidaritas dan penerimaan terhadap orang lain. Bagaimana umat muslim mau mengorbankan diri sendiri untuk kemaslahatan bersama. “Rasulullah pernah bersabda bawah tidak sempurna keimanan seseorang sebelum ia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri. Kalau kita lihat, perintah pelaksanaan kurban di surat Alkautsar juga disandingkan dengan kata salat. Berarti, ritual ibadah saja masih belum cukup. Perlu adanya kebijakan keterlibatan sosial di masyarakat,” katanya. Syamsul, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa meski peradaban Islam sudah berumur hampir 1500 tahun, namun belum ada sistem penanggalan yang satu. Hal ini tidak jarang mengakibatkan perbedaan tanggal untuk beribadah. Seperti awal puasa, waktu salat Idul Fitri hingga Idul Adha. “Hal ini terjadi bukan hanya karena perbedaan pendapat fiqh saja. Sebagian menganut rukyah, sebagian lainnya menganut hisab. Lebih jauh juga terjadi karena faktor alam itu sendiri seperti letak geografis. Semakin ke timur, semakin kecil kemungkinan rukyah. Sebaliknya, semakin ke barat semakin besar pula peluang untuk rukyah,” tambahnya. Menurutnya, secara teknis sistem penanggalan bukan tidak bisa disatukan. Namun ada perbedaan lain yakni terkait pandangan persatuan tanggal. Ada yang menekankan persatuan secara lokal, adapula yang menekankan persatuan penanggalan secara global. Syamsul mengatakan bahwa penyatuan ini memang membutuhkan waktu perenungan yang tidak singkat. Maka, masyarakat harus bijak menanggapinya dengan baik. Tidak ada pilihan lain selain meingkatkan toleransi antar umat beragama. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menuturkan bahwa Idul Adha akan terus datang setiap tahun dan tak akan berubah. Yang dituntut untuk berubah adalah umat muslim. Salah satunya dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Menurutnya, hal itu akan membuat hidup dan keimanan seorang muslim bisa lebih dinamis. Tidak terjebak di wilayah statis. “Mari kita petik banyak pelajaran dari kisah Ibrahim dan Ismail. Yakni tentang pengorbananan yang tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga saja. Tapi juga untuk kepentingan agama, nusa, dan bangsa,” ungkapnya mengakhiri. (wil)
UMM Bentuk Satgas PMK, Pastikan Kesehatan Hewan Kurban

Kesehatan hewan kurban menjadi hal krusial dalam perayaan Idul Adha. Maka, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan langkah konkret dengan menurunkan tim satuan tugas (Satgas) Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hewan ternak. Salah satu tugas tim ini adalah memastikan bahwa hewan yang akan disembelih sehat dan tidak berbahaya bagi umat. Ketua satgas PMK UMM Prof. Dr. drh. Lili Halizar, M.S. mengatakan bahwa pihaknya menerima beberapa permintaan pengawasan dalam pelaksanaan kurban. Mulai dari daerah Sengkaling hingga Kabupaten Lumajang. Lili, sapaan akrabnya juga telah menyiapkan peralatan, termasuk obat-obatan dan vitamin yang akan diberikan kepada hewan ternak maupun hewan kurban. “Selain dosen, kami juga akan dibantu oleh beberapa mahasiswa dalam upaya memastikan kesehatan hewan kurban yang akan disembelih. Dengan begitu, para masyarakat bisa lebih tenang dan mendapatkan edukasi yang lebih baik terkait virus PMK ini,” ungkapnya. Satgas UMM juga akan segera terjun ke daerah lain di Kabupaten Malang dan juga Lumajang. Lili, sapaan akrabnya menuturkan bahwa Senin (11/7) nanti Kampus Putih UMM akan mengirimkan tim PMK ke Tumpang. Kemudian dilanjutkan menuju Jabung, Pujon hingga Lumajang di hari-hari berikutnya untuk memberikan edukasi, bantuan obat dan vitamin, serta memotivasi para peternak yang saat ini sedang merasa pesimis. Terkait proses kurban, Lili juga mengingatkan agar para panitia yang ada di lokasi penyembelihan untuk lebih berhati-hati dan menerapkan sistem yang tepat. Sehingga virus PMK tidak menular ke ternak-ternak lain yang ada di wilayah tersebut. “Jangan sampai tempat penyembelihan malah menjadi tempat utama penularan PMK,” tegasnya. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh panitia. Dimulai dengan kesadaran bahwa setiap petugas bisa menjadi medium penularan virus PMK melalui tangan, pakaian dan sepatu. Pun dengan peralatan yang digunakan selama proses kurban seperti pisau dan plastik. Untuk alat-alat tersebut, Lili mengimbau untuk mencucinya dengan sabun dan disemprot desinfektan. Sementara untuk plastik, ia menganjurkan untuk membakarnya atau mencuci bersih sebelum dibuang ke tempat sampah. “Bayangkan jika plastik bekas kurban dibuang begitu saja. Ketika ada hewan ternak yang menjilatnya, maka sudah barang tentu akan tertular dan terus menularkannya ke ternak-ternak lain. Pun dengan proses pencucian jeroan yang biasanya dilakukan di sungai. Hal itu akan mencemari lingkungan serta meningkatkan risiko virus menjangkiti hewan ternak lain,” tambah Lili. Dosen asli Subang, Jawa Barat itu memberikan opsi dengan menggali tanah dan mencuci jeroan di dalamnya. Ketika selesai, lubang tersebut dapat dikubur kembali dan dituangi dengan kapur. Hal itu karena virus PMK akan mati saat terkena bahan asam maupun basa. Pembatasan masyarakat untuk datang ke lokasi penyembelihan juga harus dilakukan, paling tidak dengan memberi pagar agar warga tidak terlalu dekat. Pun dengan para panitia yang harus membersihkan diri dan disemprot desinfektan agar virus PMK mati. Dosen asal Subang, Jawa Barat tersebut kembali menjelaskan ciri-ciri ternak yang terjangkit PMK. Hal pertama yang bisa dilihat adalah ketidakmampuan ternak untuk berdiri tegak. Kemudian juga adanya pendarahan di daerah mulut, hidung serta rektum. Pun dengan keluarnya air liur yang berlebihan karena itu merupakan tanda adanya infeksi pada hewan terkait. “Meski begitu, menurut surat edaran menteri agama dan fatwa Muhammadiyah, hewan kurban yang terjangkit PMK boleh disembelih. Selama masih berada di tahap ringan dan tak mengkhawatirkan. Paling tidak masih bisa berdiri dengan baik dan tidak ambruk serta kuku-kukunya terlihat aman,” tuturnya. Terkait cara memasak dagingnya, Lili menekankan bahwa masyarakat bisa merebus daging minimal 70 derajat celcius dalam waktu 30 menit. Hal itu karena virus PMK akan mati jika dipanaskan di suhu dan jangka waktu tersebut. Lili menyampaikan bahwa sampai saat ini virus PMK ini tidak membahayakan bagi kesehatan manusia. “Selama cara memasaknya sudah benar, daging yang dikonsumsi tentu akan aman-aman saja dan bisa dimakan seperti biasa,” katanya mengakhiri. (wil)
Robot Dome UMM Juara Dua Kontes Robot se-Indonesia

Setelah sebelumnya berhasil merengkuh juara 2 pada Regional Wilayah II, kini Tim Robot Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melesat ke tingkat Nasional dengan raihan juara 2 Kontes Robot Indonesia 2022 yang diadakan pada 29-3 Juli lalu. Capaian tersebut mereka dapatkan di kategori Kontes Robot SAR Indonesia (KRSRI) yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Pupresnas), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tim Dome terdiri dari tiga mahasiswa teknik elektro angkatan 2020 yaitu Salman Al-Farisi Ramadhani, Naufal Labib Althof, dan Aditya Septiawan Dwi Andhika. Salman selaku ketua Tim Dome mengungkapkan rasa syukur atas raihan yang diperoleh. Terlebih dengan waktu yang singkat dan persiapan yang cukup mepet. Namun mereka mampu memaksimalkannya dengan sangat baik. “Biasanya lomba semacam ini memberi waktu sekitar dua bulan. Tapi khusus yang satu ini hanya ada satu bulan lebih sedikit. Dari regional ke nasional jangka waktunya hanya dua minggu,” tambahnya. Selain itu, Salam menceritakan bahwa timnya mendapatkan masalah yang belum diketahui sejak babak penyisihan. Mereka baru mengetahuinya pada babak semifinal. “Jadi ternyata da kabel yang hampir putus dan kami tidak mengira itu akan terjadi. Beruntung, kita sempat cek dan mengetahui lebih cepat serta berbenah dengan baik. Alhamdulillah kami bersyukur sekali, apalagi kita harus melewati semifinal dan babak final,” ungkapnya. Ia memahami bahwa dengan waktu yang singkat akan memberikan beragam masalah yang perlu dibenahi. Ia menilai bahwa kekompakan tim menjadi aspek penting dalam memenangkans etiap lomba. Adapun KRSRI tahun ini lebih menekankan pada misi pencarian dan penyelamatan bencana yang umum terjadi, khususnya di Indonesia. Implikasinya adalah memadamkan api sekaligus menyelamatkan korban kebakaran ke tempat yang aman. Lebih lanjut, ia menjelaskan jika robot yang dilombakan bernama Dome. Robot Dome tahun ini memiliki keunggulan dalam hal presisi dan kecepatan dibandingkan tahun lalu. Selain itu, perbaikan yang sekarang membuat robot dome lebih kompleks dalam menentukan suatu rintangan. “Saat event berlangsung, Robot Dome menuai pujian dari pihak penyelenggara. Bahkan robot kami merupakan yang tercepat ketimbang kelompok lain. Hanya saja karena perbedaan strategi, kami belum bisa meraih juara pertama,” terangnya. Salman berharap robot Dome ini bisa disempurnakan untuk persiapan tahun depan. Bisa dengan memperdalam riset ataupun menyiapkan strategi karena tiap tahun peraturannya berbeda. Dengan kedua hal itu, ia ingin tahun depan robot Dome UMM bisa kembali juara pertama seperti yang pernah dimenangkan tahun sebelumnya. Terakhir, ia berpesan kepada anak muda sekarang untuk meningkatkan rasa ingin tahu yang tinggi. Di samping itu juga mengupayakan kemauan belajar dan rasa ingin tahu yang lebih tinggi. “Mengalahkan rasa malas memang tidak mudah, tapi dengan bekerja keras dan belajar cerdas, saya yakin anak-anak muda bisa memberikan manfaat luar biasa. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain,” pungkasnya. (ros/wil)
UMM-BNPT Komitmen Atasi Terorisme di Lingkungan Kampus

Aksi terorisme seringkali menjual narasi-narasi berkedok agama. Padahal pada kenyataannya terorisme dan agama sama sekali tidak berkaitan. Ucapan tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H., pada kunjungannya ke Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (6/7) lalu. Lebih lanjut, Boy sapaan akrabnya, menjabarkan bahwa para teroris biasanya menggunakan agama agar politik yang mereka jalankan berhasil. Biasanya para teroris memasukan ideologi-ideologi yang tidak baik ini melalui beberapa kajian yang rutin diadakan. “Untuk menanggulanginya, kami bekerja sama dengan para ulama di Indonesia untuk mengatasi kesimpangsiuran nilai agama yang mereka bawa. Salah satu ulama yang selalu kami minta pendapat adalah Buya Syafii Maarif,” terang pria kelahiran Jakarta tersebut. Selain penyalahgunaan narasi agama, Boy juga menjelaskan beberapa karakteristik yang biasanya dibawa oleh para teroris. Karakteristik tersebut meliputi anti kemanusiaan, penggunaan kekerasan ekstrim dan transnational ideology. Pun dengan isu-isu intoleran, radikal, ekslusif, anti konstitusi negara dan ideologi Pancasila. “Para teroris juga memiliki beberapa pola propaganda yang biasanya mereka pakai. Pertama adalah sikap anti Pancasila yang menggiring pada ketidakteguhan akan dasar negara. Kedua yakni ajaran paham takfiri yang mengkafirkan orang-orang beda agama maupun ideologi. Ketiga ada sikap eksklusif terhadap lingkungan atau perubahan. Kemudian yang terakhir yakni adanya ajaran intoleransi terhadap keragaman dan pluralitas,” kata Boy. Lebih lanjut, Boy mengatakan menurut survei Urvey Alvara Research tahun 2020, sebanyak 30 Juta penduduk Indonesia berpotensi terpapar radikalisme. Oleh karena itu, selain meningkatkan peranan tokoh agama perlu juga adanya sinergitas antara semua elemen yang ada di masyarakat. “Penguatan nilai kebangsaan juga selalu kami upayakan, salah satunya dengan acara-acara yang diselenggarakan di sederet kampus. Kami yakin, narasi kerja sama yang kami bangun dengan UMM ini akan membuahkan hasil yang positif,” ujarnya mengakhiri. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa dalam menjalankan perguruan tinggi, UMM selalu melibatkan berbagai golongan masyarakat lintas agama. Kerja sama ini dibangun dalam rangka memupuk kesadaran pada mahasiswa maupun sivitas akademika bahwa Indonesia bisa maju dengan gotong royong yang baik antar golongan. “Untuk menghindari masuknya ideologi-ideologi yang negatif, kami juga telah mengupayakan beragam hal. Salah satunya adalah pendampingan terhadap kegiatan-kegiatan agama yang ada. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat untuk mendampingi mahasiswa dan melaporkan jika ada hal-hal atau aktivitas yang mencurigakan,” tegasnya mengakhiri. (syi/wil)