Mahasiswa UMM Rancang Smart Pen Deteksi Rekam Medis Pasien

Seiring berjalannya waktu perkembangan teknologi mulai masuk di berbagai sektor, salah satunya sektor kesehatan. Melihat akan hal itu, kelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merancang smart pen medical record. Rancangan yang tertuang dalam program kreativitas mahasiswa (PKM) ini akan memberikan akses data riwayat kesehatan pasien berbasis Internet of Things (IoT). Adapun PKM ini lolos dalam pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Republik Indonesia (RI). Anwar Syaddad selaku ketua tim menjelaskan bahwa ide ini muncul dari keresahan saudaranya terkait perkembangan teknologi dan penanganan kesehatan di Indonesia. Menurutnya, sebagian besar layanan kesehatan yang ada masih dilakukan secara manual. Berangkat dari keresahan itulah, tim mahasiwa UMM ini mulai merintis ide Smart Pen ini. Adapun ide ini mulai digarap dan didaftarkan sejak awal tahun 2022. “Apalagi melihat keadaan layanan kesehtaan luar negeri yang sudah menggunakan teknologi dengan baik. Sementara di Indonesia masih manual, padahal teknologi sudah bergerak maju,” ucapnya. Anwar, sapaan akrabnya kembali menjelaskan bahwa Smart Pen ini memiliki sistem kerja mendeteksi rekam medis secara otomatis dengan fitur fingerprint. Jadi, ketika pasien ingin memeriksa rekam medisnya, mereka hanya perlu scan sidik jari pada alat Smart Pen tersebut. Secara otomatis rekam jejak kesehatan pasien terkait akan keluar. Sehingga proses rekam medis tidak memerlukan waktu yang lama seperti sistem konvensional saat ini. Mahasiswa Teknik Elektro ini menjelaskan bahwa ada fitur tambahan yang menarik yaitu fitur pendeteksi oxymetri. Adapun fitur tambahan ini berguna untuk menambahkan dan mengetahui data saturasi oksigen pada tubuh. Sehingga selain bisa digunakan untuk mengecek rekam medis, juga sekaligus dapat mengetahui kondisi oksigen pasien. Selama pengerjaan, salah satu kendala yang mereka hadapi adalah akses template rekam medis. Itu tidak lepas dari aksesnya yang kini masih bersifat sangat privasi. Sehingga ia dan tim yang mendesain cukup kebingungan. Selama mengerjakan, Anwar merancangnya sendiri. Ia ditemani oleh Nahiva Nur Allyza (Kedokteran), Muhammad Akbarul Rahmadani (Kedokteran), Dinda Putri Savira (Ilmu Keperawatan), dan Janu Dea Siska (Manajemen) yang tergabung dalam satu tim. Pria asli Pamekasan ini berharap ia alat Smart Pen ini bisa direalisasikan dan digunakan di Rumah Sakit. Dengan begitu, proses rekam medis yang biasanya memakan waktu lama dapat dipersingkat. “Harapan besarnya, alat yang masih dalma proses perancangan ini bisa diimplementasikan dalam layanan yang ada di instansi kesehatan,” jelasnya. (Haq/Wil)
Kaji Gel Anti Jerawat Herbal, Mahasiswa UMM Ini Juara Lomba Esai Nasional

Jerawat merupakan salah satu masalah kulit yang umum terjadi di masyarakat, terutama pada kaum remaja. Timbulnya jerawat di wajah juga dapat menurunkan kepercayaan diri. Maka, melalui sebuah karya esai, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nia Yuniar Fitriana Putri membuat inovasi baru berupa gel anti jerawat dari bahan herbal. Esai ini berhasil meraih juara 2 dalam event Farmakesta Competition 2022 pada pertengahan Juni lalu. Tema besar yang diangkat pada lomba esai tersebut adalah Inovasi Obat atau Obat Herbal dan Kosmetika. Dari hasil riset berupa jurnal-jurnal yang telah di baca, Nia mengambil sebuah ide dengan judul esainya yakni Gel Anti Jerawat Kombinasi Ekstrak Daun Mengkudu (Morinda citrifoli L.) dan Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.). Nia yang merupakan mahasiswa farmasi ini menjelaskan bahwa daun mengkudu dan daun kemangi memiliki aktivitas antibakteri sehingga memiliki potensi sebagai obat jerawat. “Biasanya, jerawat diobati dengan antibiotik. Namun, penggunaan antibiotik dalam jangka panjang bisa menyebabkan resistensi, kerusakan kulit dan imunohipersensitivitas. Maka dari itu, saya ingin membuat alternatif yang lebih aman untuk obat anti jerawat dari bahan-bahan herbal,” jelas Nia. Nia juga menambahkan sebelum akhirnya menentukan judul, dirinya telah melakukan riset terlebih dahulu mengenai penyakit apa yang sekiranya umum terjadi di masyarakat. begitupun dengan permasalahan kesehatan apa yang saat ini sering dialami orang-orang. “Setelah sudah jelas masalahnya, selanjutnya saya menentukan kira-kira produk apa yang menarik dan dibutuhkan. Biasanya saya mencari inspirasi judul melalui jurnal-jurnal kemudian menentukan ide apa yang menarik dan belum pernah dibahas oleh para peneliti sebelumnya,” tambah Nia. Nia mengungkapkan dirinya memang aktif mengikuti lomba esai. Keikutsertaannya tak sia-sia. Usaha dan semangat Nia membuahkan kemenangan. Lomba esai ini merupakan kedua kalinya bagi Nia mendapatkan juara di kategori esai tingkat nasional. Selain esai, Nia juga aktif mengikuti Karya Tulis Ilmiah (KTI) bersama timnya dan sebelumnya berhasil meraih juara 3 tingkat nasional. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan terharu karena saya bisa merasakan kemenangan ini lagi, setelah sebelumnya saya mengalami beberapa kekalahan di perlombaan,” ungkap mahasiswi asal Jombang ini. Nia berharap, esai yang telah dibuatnya bisa menjadi inspirasi dan dapat dilakukan penelitian lebih lanjut. Di samping itu juga bisa dikembangkan menjadi produk obat jerawat berbahan hewan yang terbaru. “Semoga saya masih tetap semangat menuangkan ide kreatif dan inovatif di penulisan esai lainnya. Sehingga mampu memberikan sumbangsih bermanfaat. Begitupun dengan teman-teman maahsiswa lain yang harus terus berinovasi agar mampu menjadi mahasiswa yang memberikan solusi di tengah permasalahan yang terjadi,” imbuhnya mengakhiri. (Zak/Wil)
Kunjungi OJK Malang, Mahasiswa UMM Kampanye Gerakan Perlindungan Konsumen

Edukasi dini tentang lembaga keuangan bagi mahasiswa mutlak diperlukan. Hal itu disampaikan oleh Dosen Prodi D-III Perbankan dan Keuangan Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) Yunan Syaifullah. Bersama dengan para mahasiswa, mereka melakukan kunjungan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang pada Selasa (21/6) lalu. Lebih lanjut, yunan, sapaan akrabnya mengatakan bahwa kunjungan ini bertujuan agar para mahasiswa dapat lebih mengetahui dan mengenal seluk-beluk lembaga keuangan. Diharapkan, melalui kesadaran masing-masing mahasiswa, mereka bisa memberikan kesadaran akan lembaga keuangan pada lingkungan di sekitarnya. Setidaknya bagi keluarga inti. “Apabila nanti ada masalah terkait lembaga keuangan, paling tidak mereka bisa memberikan solusi jalan keluar yang baik. Setidaknya, langkah yang dilakukan para mahasiswa mampu penjadi soar dalam memberikan consumer protection sekaligus mengurangi fraud,” papar Yunan Syaifullah. Menariknya, rangkaian agenda mahasiswa D-III Perbankan UMM tidak berhenti sampai di situ. Selepas kegiatan tersebut, mereka akan melakukan kampanye edukasi masif kepada masyarakat. utamanya materi terkait lembaga keuangan. Mereka dapat melangsungkan kampanye dengan tagar “Aku Indonesia, OJK-koe”melalui berbagai media sosial seperti Instagram, Twitter dan lainnya. Begitupun juga dengan Youtube. Di sisi lain, Kepala OJK Malang Sugiarto Kasmuri mengatakan bahwa tingginya keluhan masyarakat atas layanan lembaga keuangan menjadi perhatian serius OJK. Tidak jarang keluhan itu akhrinya berujung pada masalah yang merugikan masyarakat. Maka perlu adanya pemahaman lebih masyarakat terkait customer protection. “Saya rasa, pemahaman terkait customer protection bisa semakin maksimal jika para konsumen muda, seperti mahasiswa, memiliki pengetahuan terkait lembaga keuangan. Kemudian bisa membagikannya kepada keluarga, kerabat maupun masyarakat luas,” ungkapnya. Ia juga sempat menjelaskan dan memberikan contoh terkait pinjaman online. Dibantu beberapa staf, Sugiarto memaparkan bagaimana mudahnya masyarakat memperoleh pinjaman online melalui smartphone dan gawai lainnya. Menurutnya, praktek digitalisasi layanan keuangan rentan menimbulkan masalah. Terlebih, hingga kini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dan mampu membedakan layanan digitalisasi keuangan yang legal dan liar. Salah satu contohnya yakni praktek pinjaman online yang makin marak. Oleh karenanya, OJK terus berupaya melakukan sosialisasi dan edukasi di berbagai kalangan tentang tata kelola dan aturan main layanan lembaga keuangan. Langkah itu dilakukan untuk memberikan kepastian dalam hal perlindungan konsumen. Adapun UMM menjadi tamu pertama yang datang mengunjungi kantor baru dari OJK Malang. Sugiarto berharap para mahasiswa mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga bsia membagikannya kepada masyarakat luas. (Wil)
Agribisnis UMM Cetak Petani Milenial

Pengembangan sektor pertanian memerlukan peranan dari berbagai pihak, baik dari sektor pemerintah, swasta, maupun generasi millenial. Begitulah sepatah kata pembuka yang diucapkan oleh Ketua Umum Perhimpunan Ahli Penyuluhan Pembangunan Indonesia (PAPPI) Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc dalam acara kuliah tamu Program Studi (Prodi) Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Secara umum, kegiatan yang diselenggarakan pada Rabu (15/06) tersebut membahas tentang peran generasi millenial dalam mendukung penyuluh pertanian di era digitalisasi. Lebih lanjut, Amanah sapaan akrabnya mengatakan bahwa milenial merupakan aktor utama dalam mendukung pertanian di era digital seperti ini. Namun saat ini banyak kaum muda yang beralih profesi ke bidang non-pertanian. Mereka enggan terjun dan memajukan sektor pertanian. Selain anak-anak muda, perlu adanya kerja sama yang bagus juga dari berbagai pihak seperti pihak swasta maupun pemerintahan. “Keberadaan lahan juga menjadi poin penting dalam keberlangsungan sektor pertanian. Diupayakan agar lahan pertanian tidak beralih tangan atau fungsi untuk kedepannya,” ungkap mantan ketua Asia Pacifis Islands Rural Advisory Service (APIRAS) Network tersebut. Untuk mencetak Sumber Daya Manusia di bidang pertanian yang berkualitas, Amanah menjelaskan bahwa penyuluhan memegang peranan penting. Penyuluhan ada sebagai gerakan pendidikan non formal yang diberikan kepada petani-petani di daerah. “Dengan adanya penyuluhan ini, hard skill maupun soft skill para petani akan meningkat. Dampak positif dari peningkatan tersebut adalah kualitas produksi yang membaik, pendapatan yang meningkat, serta kelestarian sumber daya alam (SDA) yang berkelanjutan,” ujar Amanah. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membangun kompetensi kepada para milenial dalam mendukung penyuluhan. Pertama adalah memberikan suasana pembelajaran yang kondusif kepada para millenial. Selanjutnya memberikan mindset baru kepada millenial tentang profesi seorang petani. Memberikan pemahaman mengenai komunikasi yang baik di ranah digital juga perlu diperhatikan. “Para penyuluh juga harus memberikan literasi baru berupa data, kemampuan teknologi informasi dan komunikasi, literasi teknologi terkini, serta penguasaan dan pendekatan metode penyuluhan kepada milenial dan para petani,” kata Board Member of Global Forum for Rural Advisory Services (GFRAS) tersebut. Senada dengan Amanah, Ketua Prodi Agribisnis Ary Bakhtiar, SP., M.Si mengatakan bahwa pada saat ini 70% petani yang ada di Indonesia terdiri dari para lansia. Sementara itu, generasi muda banyak yang beralih ke bidang profesi yang lain. Untuk itu, dalam rangka pemanfaatan bonus demografi di masa yang akan datang perlu upaya adanya peningkatan kualitas SDM di sektor pertanian. “Oleh karenanya, penyuluhan menjadi kunci penting untuk mengubah persepsi para kaum muda. Penyuluhan juga dapat berdampak positif bagi petani lansia agar dapat meningkatkan kapasitas kemampuan dan pengetahuan agar dapat hidup dengan lebih baik,” tandasnya mengakhiri. (Syi/Wil)
15 Mahasiswa UMM Lolos Virtual Exchange Singapore

Sebagai mahasiswa, berbagai macam pengalaman di lingkungan kampus saja tidak lah cukup. Harus ada pengalaman nasional hingga internasional. Kali ini, 15 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil lolos pada program Virtual Exchange Program. Adapun program exchange ini dilangsungkan bersama Singapore Polytechnic yang mengangkat tema “Singapore : Understanding History and Heritage”. 15 mahasiswa akan mulai mengikuti rangkaian agenda pada Jumat (24/7) nanti. Very Kurnia Aditama, M.Pd. selaku staff International Relations Office (IRO) UMM mengatakan bahwa program ini berubah menjadi virtual ketika pandemi Covid-19 datang. Sebelumnya, program berlangsung secara luring. Jadi para mahasiswa UMM serta mahasiswa SP bisa bertemu di Malang kemudian melakukan project bersama. “Program Exchange dengan Singapore Plytechnic ini sudah berlangsung sejak 2019 dan diadakan dua kali dalam setahun. Sehingga program dialihkan menjadi virtual,” ungkapnya menambahkan. Very sapaan akrabnya menjelaskan bahwa konsep virtual exchange ini berupa culture exchange. Selama berjalannya program, setiap mahasiswa diminta mempresentasikan budaya dari negara masing-masing. Baik itu dari Indonesia maupun dari Singapura. Sehingga kedua pihak bisa mendapatkan hal baru serta perspektif yang berbeda. Begitupun dengan budaya serta adat yang dimiliki. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pertukaran mahasiswa ini berlangsung selama satu bulan dengan empat kali pertemuan. Ada dua kelas yang akan disediakan dan berada di dua hari utama yakni Monday Class pada Senin dan Friday Class pada Jumat. Para peserta diminta untuk memilih salah satu kelas dan mengikutinya hingga akhir melalui platform Zoom meeting. “Ada lebih dari 80 peserta yang mendaftar dan ingin mengikuti virtual exchange ini. Kemudian, pada tahap administrasi ada 40 orang yang lolos. Akhirnya terpilihlah 15 mahasiswa final yang lolos jadi peserta program ini,” tambah Very. Pria asli Bojonegoro ini berharap agar seluruh peserta yang lolos dan mengikuti program ini bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Di samping itu uga meluaskan jaringan dan kenalan dengan mahasiswa internasional, utamanya dari Singapura. Dengan begitu, perspektif dan pandangan baru bisa mereka peroleh. “Bahasa juga menjadi aspek penting. Program ini menjadi tempat dan wadah yang cocok untuk melatih bahasa inggris mereka menjadi lebih baik,” tegasnya mengakhiri. (Haq/Wil)
Sekjen Kementerian PUPR Resmikan New Book Store UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meresmikan unit usaha baru. Dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI Ir. Mohammad Zainal Fatah, Kampus Putih melangsungkan soft launching New Book Store (NBS) UMM pada Senin (20/6) lalu. Adapun toko buku ini berlokasi di sebelah Rayz Hotel UMM di jalan Tlogomas Nomor 50, Malang. Menariknya, NBS tidak hanya menyediakan buku-buku dari penerbit mayor, tapi juga menawarkan buku-buku indie yang jarang ditemukan di toko lain. Ada juga coffeshop yang nantinya bisa dijadikan tempat favorit membaca bagi para pengunjung. Pun dengan podcast corner yang bisa digunakan siapapun untuk mengembangkan potensi diri. Zainal, sapaan akrabnya mengatakan bahwa ia teringat masa-masa menjadi mahasiswa saat datang dan meresmikan NBS. Ia ingat bagaimana buku menjadi temannya di setiap kesempatan. Saat itu, buku-buku yang dibelinya bukan buku baru melainkan buku bekas yang dijajakan di pasar. “Saya memang tidak bisa dikatakan kutu buku, tapi dapat dipastikan saya membawa buku ke mana saja. Selain itu kalau kita lihat, kampus tentu memiliki perpustakaan. Tapi sepertinya sebagian besar mahasiswa lebih suka membeli buku langsung di toko buku,” tambahnya. Menurut Zainal, kehadiran NBS ini dirasa sangat tepat. Dengan begitu, para masyarakat dan mahasiswa bisa dengan mudah mendapatkan akses ke buku sebagai jendela dunia. Ia juga sempat mendorong agar kampus bisa memberikan beasiswa. Bukan hanya yang berupa finansial, tapi juga beasiswa buku sehingga para mahasiswa bisa menggunakannya dengan baik selama studi. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa kehadiran NBS ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya UMM dalam membangun iklim akademik. Utamanya bagi para sivitas akademika Kampus Putih. Di samping itu, Fauzan menilai bahwa NBS juga menjadi usaha pihaknya untuk memberikan kemudahan akan akses dan fasilitas literasi. Pun sebagai bagian dari ekosistem pendidikan berbasis buku, baik buku yang berbentuk hard maupun yang e-book. “Mudah-mudahan toko buku ini bisa menjadi objek dan destinasi masyarakat serta mahasiswa dalam mencari literatur. Sehingga wawasan dan pengetahuan mereka bisa bertambah seiring berjalannya waktu,” harap Fauzan. Nurul Hamidah, salah satu pengunjung NBS merasa nyaman dengan suasana yang diberikan oleh toko buku tersebut. Sederet buku yang disediakan juga ada, sehingga ia bisa dengan mudah mendapatkan karya-karya penulis favoritnya. Di samping itu, Mida, panggilan akrabnya juga mengaku senang karena NBS menawarkan alat-alat tulis kantor yang cukup lengkap. “Senang sekali rasanya ada toko buku yang dekat dan lengkap. Apalagi bagi saya yang memang suka membaca sejak lama. NBS tentu memberikan kemudahan bagi saya sebagai masyarakat. Begitupun juga bagi mahasiswa dan siswa yang mungkin membutuhkan buku untuk perkuliahannya,” kata perempuan asal Lumajang tersebut. Adapun NBS ini merupakan rebranding dari toko buku bookstore yang telah berdiri sejak 2005 lalu. Ini juga menjadi bagian dari upaya UMM untuk mendorong generasi muda menjadi generasi yang mencintai buku. Dibuktikan dengan tersedianya buku-buku edukatif dan sederet buku apik lainnya. Rangkaian soft launching tersebut juga dihadiri oleh berbagai penerbit yang turut berkontribusi menyalurkan buku-buku terbaiknya. (wil)
Hadir di Stadium General UMM, Sekjen Kementerian PUPR Bahas Krisis Air dan Pangan

Dunia internasional sedang menghadapi tantangan perubahan iklim, beberapa di antaranya adalah krisis air bersih dan krisis pangan. Untuk menanggulangi masalah tersebut, pemerintah mulai melakukan mitigasi. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) PUPR Ir. Mohammad Zainal Fatah pada acara Stadium General yang dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (20/6) lalu. Lebih lanjut, Zainal, sapaan akrabnya mengatakan melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (PUPR), pemerintah mulai membangun beberapa infrastruktur untuk mengatur kecukupan pangan dan air di Indonesia. Menurutnya, kebutuhan air global terus meningkat sebanyak 55% sampai tahun 2050 ke depan. Banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan kebutuhan air tersebut, seperti perubahan sistem pertanian, tata kelola kota, dan juga gaya hidup. “Meskipun kebutuhan air meningkat, ketersediaan air bersih semakin menipis. Banyak sungai dan danau yang sudah tercemari. Secara keseluruhan Indonesia masih pada tahap aman yang dilambangkan dengan warna hijau. Namun untuk beberapa daerah seperti pulau Jawa dan Sulawesi sudah menjadi daerah berwarna kuning. Inilah yang perlu kita waspadai kedepannya,” ungkap pria asal Pamekasan tersebut. Untuk menanggulangi krisis air yang akan terjadi, Zainal mengatakan bahwa PUPR telah mambangun bendungan. Hujan yang terjadi di Indonesia dapat menghasilkan 2.73 triliun meter kubik air per tahun, namun air yang tertampung dan layak pakai hanya sebanyak 50 meter kubik air per tahun. Hal ini jelas tertinggal dari Amerika Utara yang mampu menampung cadangan air sebanyak 6000 meter kubik air per tahun atau Australia yang mampu menyimpan air sebanyak 4700 meter kubik air per tahun. “Pembuatan bendungan ini akan menjadi solusi pemerintah untuk menjaga ketersediaan air bersih di Indonesia. Saat ini kami telah menyelesaikan pembangunan 20 bendungan. Rencananya, kami akan membangun total 61 bendungan sampai tahun 2024 nanti. Selain itu, untuk menjaga ketersediaan pangan, pemerintah juga telah menetapkan daerah produksi pangan. Daerah ini bertujuan untuk menyokong kebutuhan pangan daerah maupun nasional,” kata Zainal. Terkait respon masyarakat mengenai pembangunan yang massif, Zainal menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia memiliki empat peran utama. Pertama sebagai lintas sejarah peradaban di masa yang akan datang. Kedua adalah sebagai peningkat daya saing dengan negara lain. Ketiga adalah sebagai pemerataan keadilan sosial di Indonesia. Terakhir, dengan banyak infrastruktur yang ada, diharapkan bisa memudahkan akses antar daerah dan mempererat persatuan bangsa. Di sisi lain Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd mengatakan bahwa dalam menyiapkan mahasiswa di masa mendatang, Kampus Putih UMM telah menyiapkan dua skema pembelajaran. Pertama, adalah pembelajaran akademik yang berlangsung selama perkuliahan. Kedua, yakni melalui kompetensi leadership yang dibangun di organisasi maupun kegiatan seperti stadium general ini. Potensi dan bakat mahasiswa juga terus didukung, salah satu caranya adalah dengan membentuk berbagai Center of Excellence (CoE). “Selain mendukung bakat mahasiswa, program CoE ini hadir dalam rangka meningkatkan interaksi antara mahasiswa dan dunia industri. CoE ini dapat diikuti oleh seluruh mahasiswa dan tak terbatas pada jurusan asal mahasiswa tersebut,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)
Satgas UMM Sigap Tangani Wabah Ternak PMK

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergerak cepat atasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak. Kampus Putih telah memiliki tim Satuan tugas (Satgas) khusus yang terjun dan membantu peternak dalam menangani wabah tersebut. Adapun tim ini berada di bawah koordinasi dari Dinas Peternakan atau dinas terkait yang ada di kabupaten maupun kota. Ketua satgas PMK UMM, Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S. mengatakan bahwa hingga saat ini, pihaknya juga sudah memberikan edukasi terkait PMK kepada para mahasiswa peternakan yang ada di Kampus Putih. “Banyak dari mahasiswa yang memang pekerjaan orang tuanya adalah peternak. Jadi mereka bisa memberikan pemahaman kepada warga sekitar yang ada di daerahnya agar ternak yang dimiliki tidak terjangkit virus ini,” tambahnya saat ditemui pada Sabtu (18/6). Timnya juga sudah memberikan konsultasi kepada peternak sekitar. Meski terbatas, bantuan tersebut dirasa bisa menjadi langkah untuk menekan angka penularan PMK. Lili, sapaan akrabnya, juga sering memberikan pemahaman dan arahan untuk menanggapi pertanyaan dari para mahasiswa atau warga yang ternaknya menderita penyakit ini. Adapun tim Satgas UMM tidak bisa bergerak langsung tanpa intruksi dari dinas peternakan. Hal itu karena penyebaran virus PMK yang mudah menular dan sangat cepat. Ditakutkan, penanganan tanpa koordinasi malah membuat penyebarannya semakin tidak terkontrol. “Memang ada larangan dari dinas untuk langsung turun tanpa koordinasi. Maka, kami menunggu intruksi dari dinas peternakan atau dinas terkait untuk melakukan penanganan lebih lanjut. Bahkan pihak yang boleh menangani langsung hanya dokter hewan. Para mahasiswa tidak dibolehkan untuk turut serta menangani. Hanya diperbolehkan untuk turut melakukan pencatatan dan juga handling,” tambahnya. Lebih lanjut, Lili mengatakan bahwa timnya yang terdiri dari dosen, dokter hewan, dan mahasiswa segera terjun langsung ke lapangan pada minggu depan. Dimulai dengan upaya melakukan vaksinasi bagi hewan ternak di beberapa daerah yang ada di Malang. Di samping itu, Kampus Putih UMM juga telah membuka call center dan layanan aduan penanganan PMK bagi masyarakat luar. Dengan begitu, para peternak bisa dengan mudah mendapatkan informasi dan cara menangani ternak yang tertular PMK. “Apalagi tim UMM telah diisi oleh para dokter hewan dan juga pakar yang memiliki pengetahuan mumpuni. Ini adalah bentuk konkret kami untuk membantu para peternak yang mengalami kesulitan dalam menangani ternak terjangkit virus PMK,” tambahnya. Terkait perawatan, anggota Satgas PMK UMM Dr. drh. Imbang Dwi Rahayu, M.Kes. menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh peternak. Dimulai dengan menyemprotkan desinfektan di kandang tiap pagi dan sore. Pembatasan gerak masuk dan keluar untuk ternak serta orang juga harus dilakukan. “Penyakit ini disebabkan oleh virus, jadi tidak ada obat yang bisa membunuh virus tersebut. Yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan antibiotik untuk mencegah infeksius sekunder dan tidak berubah menjadi lebih parah. Memang perlu ketelatenan lebih dalam merawat luka-luka yang dialami hewan ternak,” jelasnya. Imbang, begitu ia kerap disapa, juga menyarankan agar peternak bisa menyempatkan untuk memberi vitamin serta mencekoki hewan dengan makanan-makan lembut. Sehingga nutrisi dan asupan gizi ternak masih bisa dilakukan meski terserang penyakit. Sekaligus sebagai cara agar ternak yang dimiliki memiliki tenaga. Berdasarkan data, sampai saat ini ada lebih dari 7.500 sapi yang terjangkit. 390 ekor di antaranya sembuh dan 44 ekor mati. “Wabah ini menyebabkan kerugian yang cukup besar. Berat badan ternak yang terjangkit bisa turun sebesar 10-15 persen. Sementara untuk sapi perah, produksinya bisa turun di angka 30-80 persen. Bahkan jika menyerang pedet, kemungkinan kematiannya menjadi lebih besar,” tuturnya mengakhiri. (Wil)
Tim UMM Juara Kontes Robot Puspresnas 2022

Kabar gembira kembali datang dari Tim Robot Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka mampu merengkuh juara 2 pada Kontes Robot Indonesia 2022 Regional Wilayah II yang dilaksanakan pada 11-13 Juni 2022 secara daring. Tim kebanggaan UMM ini berhasil meraih kemenangan pada kategori Kontes Robot SAR (KRSRI) yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Adalah Salman Al-Farisi Ramadhani, Aditya Septiawan Dwi Andika dan Naufal Labib Althof yang menjadi orang-orang di balik robot Dome. Aditya mengungkapkan bahwa timnya tetap bersyukur walaupun meraih Juara 2 di tingkat regional. Apalagi dengan persiapan yang relatif singkat dan informasi yang mendadak. “Kami harus berusaha ekstra dalam latihan dan penyusunannnya agar robot tidak error saat perlombaan. Selain kerja keras, doa dari kedua orang tua juga menjadi hal penting yang melancarkan perjalanan kami,” tambahnya. Pada kompetisi tahun ini, kompetisi tersebut memberikan misi untuk memadamkan api di ruangan dan menyelamatkan korban. Aditya mengatakan keunggulan dari robot Dome terletak di segi desain dan strategi robot. Adapun proses perakitan memakan waktu lebih dari satu bulan. Belum lagi mereka harus mengalami kendala komponen yang susah ditemui. “Mungkin Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) menjadi lawan yang cukup sengit dalam KRI tahun ini,” ujar Aditya. Disampaikan Adit, usai menang di regional, ia dan tim nantinya akan bertarung dalam Kontes Robot Indonesia (KRI). Ajang ini merupakan kompetisi tahunan dalam bidang rancang bangun dan rekayasa robotika bagi mahasiswa. Ada beberapa tahap yang harus dilewati Adit dan tim agar bisa hadir dan bersaing secara luring. Dimulai dengan pengiriman proposal kemudian dilanutkan dengan pengiriman video yang menampilkan perkembangan robot. Hingga akhirnya sampai pada tahap menampilkan robotnya melalui video conference. Dari situ, akan menghasilkan sederet tim yang akan diundang secara langsung pada KRI Nasional 2022 yang nantinya diadakan di Surabaya. Ia berharap, tim Dome UMM bisa mengulang raihan gemilang tahun lalu dengan menduduki juara pertama di kategori KRSRI. Selain itu juga mampu menjadi tim dengan desain dan strategi terbiak. “Untuk tingkat nasional, kami akan lebih menguatkan mental karena euforianya tentu akan berbeda. Pertandingannya dilaksanakan secara langsung dan semoga kita dapat menjuarainya seperti tahun lalu,” pungkasnya. (Zak/Wil)
Hadiri Konferensi Internasional, Direktur RBC UMM Beri Sumbangsih Atasi Ekstrimisme dan Terorisme

Direktur Program Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute A. Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nafik Muthohirin, MA, Hum menjadi salah satu perwakilan Indonesia di konferensi internasional di Kairo, Mesir. Konferensi bertajuk “Religious Extremism: The Intellectual Premises and Counter-Strategies” tersebut menghadirkan perwakilan dari 42 negara yang terdiri dari pemimpin negara, mufti, ulama, serta akademisi dan peneliti. Adapun agenda tersebut berlangsung pada 7-9 Juni lalu. Konferensi tersebut membahas mengenai persoalan ekstremisme dan terorisme yang terjadi di berbagai belahan dunia. Menurut Nafik, sapaan akrabnya, aksi terorisme dan ekstremisme terus mengalami transformasi gerakan. Bahkan, sejumlah kelompok ekstremis melakukan propaganda pemikiran dan strategi perekrutan melalui cara-cara yang lebih kontemporer, utamanya melalui media sosial. Ia menambahkan bahwa belakangan ekstremisme dunia semakin diperparah dengan kebangkitran populisme agama yang disulut sejumlah politisi tertentu demi kampanye politik. Pada sisi yang lain, kebencian terhadap Islam (Islamophobia) banyak terjadi di negara-negara Barat, terutama dimulai pasca serangan World Trade Center (WTC) dan Penthagon atau biasa disebut peristiwa 9/11. “Maka pada konferensi internasional inilah para perwakilan dari berbagai negara berkumpul untuk membahas strategi penanganannya. Alhamdulillah, saya menjadi salah satu delegasi Indonesia dari unsur peneliti dan akademisi,” ungkapnya. Forum tersebut juga menjadi ajang tukar pikiran terkait strategi masing-masing negara dalam keberhasilannya memerangi ekstremisme. Di samping itu juga bertujuan untuk menguatkan nilai-nilai perdamaian dan koeksistensi berbagai komunitas keagamaan di dunia. Bahkan juga menjadi upaya membuka koneksi akademis dan riset terkait hal tersebut. Nafik menyebut bahwa perlawanan terhadap ekstremisme agama tidak bisa dilakukan secara sendiri. Untuk memeranginya, perlu aksi kolektif di antara pemimpin negara, pemimpin agama, dan akademisi/peneliti. “Hal itu pula yang disampaikan Grand Mufti Mesir Prof. Dr. Shawki Ibrahim Allam. Dia bilang kalau memerangi ekstremisme dengan pendekatan militeristik tidak cukup. Ada cara yang lebih humanis dengan memoderasi pemahaman dan perilaku keberagamaan pengikutnya,” kata Nafik yang juga dosen di Fakultas Agama Islam UMM. Adapun keterlibatan Nafik dalam konferensi tersebut merupakan afirmasi dari berbagai organisasi dalam Program Internasional Peningkatan Kapasitas Guru Madrasah atau Pesantren dan Ismuba dalam Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Beberapa organisasinya ialah Institute Leimena, Ma’arif Institute, Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah, dan RBC Institute A. Malik Fadjar UMM. (Wil)