UMM-Bea Cukai Kenalkan tentang Cakap Cukai

Pengenaan cukai memiliki keuntungan ganda. Tidak hanya untuk membatasi konsumsi masyarakat, tapi juga bisa menjadi sumber pemasukan negara. Hal itu disampaikan oleh Nirwala Dwi Heryanto selaku Direktur Komunikasi dan Bimbingan Kepatuhan Pengguna Jasa Bea Cukai pada seminar Cakap Cukai pada Rabu (29/6) lalu. Adapun kegiatan itu merupakan hasil kerja sama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Direktorat Jenderal Bea Cukai. Nirwala, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa ia senang sekali bersosialisasi dengan para mahasiswa. Hal itu karena efek yang dihasilkan akan lebih luas. Mahasiswa tentu akan memberikan pemahaman lebih kepada lingkungan di sekitarnya. Menurutnya, aktivitas yang diberi nama Cakap Cukai itu memiliki dua arti. Cakap yang pertama berarti proses berbicara dan mengobrol terkait cukai. Lalu ketika sudah memahami cukai, maka para mahasiswa bisa dianggap sebagai pihak yang cakap. Terkait bea, ia menjelaskan bahwa tugasnya tidak hanya mengurusi ekspor impor. Tapi juga menjalankan fungsinya sebagai industrial assistan dengan mendampingi UKM dan IKM. Pun dengan upaya mempercepat arus barang dan community protection. “Makna community protection sangat luas. Tidak hanya berkutat pada narkoba, tapi juga masalah pornografi, buku ekspor dan impor yang berbau radikalisme serta lainnya,” katanya. Nirwala jug membeberkan beberapa kriteria sebuah barang yang bisa dikenakan cukai. Mulai dari barang yang konsumsi harus dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, hingga penggunannya yang memberikan dampak buruk bagi lingkungan atau manusia. Di samping itu juga sebagai upaya negara dalam menjamin keadilan. “Ini sifatnya alternatif, bukan kumulatif. Tapi untuk menjadi barang yang dikenai cukai harus melalui jalan yang panjang. Pun dengan pelaksanannya yang penuh pertimbangan. Misalnya saja plastik yang sebenarnya sudah dikenakan cukai sejak 2016. Namun pemerintah melihat kondisi masyarakat yang ada, sehingga belum dikenakan dengan maksimal,” tuturnya. Di sisi lain, Wakil Rektor III UMM Dr. Nur Subeki, M.T. menilai bahwa era ini menuntut kita untuk mengerti dan melaksanakan sesuatu lebih awal. Termasuk pengetahuan terkait bea dan cukai. Bagaimana mahasiswa bisa mengantisipasi segala perubahan yang mungkin terjadi di masa depan. Selain itu, dalam menghadapi era baru para mahasiswa juga harus melakukan beberapa hal. Diawali dengan kemampuan beradaptasi dan mengantisipasi. Kemudian bergerak denagn cepat serta terus berakselerasi. Namun itu tidak cukup, mahasiswa juga memerlukan partner yang bisa dipercaya. “Manfaatkan kesempatan dan momentum yang baik ini. Cakap Cukai juga bisa dijadikan portofolio saudara-saudara, menjadi bukti bahwa saudara sudah memahami proses di bea cukai. Semoga acara ini bisa menambah dan meningkatkan wawasan serta pemahaman tentang bea cukai,” tegasnya mengakhiri. (wil)

UMM Bekali Wisudawan Dua Jurus Kesuksesan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membekali para wisudawannya dengan dua jurus agar bisa mencapai kesuksesan. Hal itu disampaikan oleh Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dalam prosesi wisuda pada Selasa (28/6) lalu. Adapun dua jurus itu adalah kompetensi keilmuan dan kompetensi leadership yang selalu disalurkan melalui beragam kegiatan. “Pertama, mahasiswa selalu dibekali dengan ilmu dan teknologi agar bisa menjadi orang bermanfaat. Kemudian jurus kedua yakni UMM bertekad meningkatkan kompetensi leadership para generasi muda dengan berbagai kegiatan yang ada. Sekarang, saudara bisa menggunakan dua jurus itu agar bisa menjadi manusia yang diperhitungkan,” tegasnya. Fauzan berharap segala ilmu, prestasi, dan pengalaman yang sudah didapat dari Kampus Putih UMM bisa diejawantahkan di dunia nyata. Menurutnya, masyarakat sudah menunggu sumbangsih dan kontribusi dari para sarjana baru, utamanya dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Pada kesempatan yang sama, hadir pula Aprianto Prabudi, alumnus UMM yang kini menjadi senior talent acquisition head manager for DP Program PT. Berau Coal Energy (Sinar Mas Group). Menurutnya, para wisudawan ini adalah seorang petarung karena sudah melalui beragam tantangan saat berkuliah. Kini, waktunya untuk naik level dan menjadi petarung dalam persaingan kerja. Ada tiga faktor untuk menjadi petarung hebat di dunia kerja, yaitu mindset, attitude dan kompetensi. Menurutnya, untuk bisa masuk ke dunia profesional, diperlukan mindset yang profesional pula. Begitupun dengan attitude yang mana harus dimiliki oleh para wisudawan agar bisa bertahan di lingkungan kerja masing-masing. Kemudian dilengkapi dengan kompetensi mumpuni agar mampu memberikan yang terbaik serta inovasi terbaru. Aprianto, sapaan akrabnya menilai bahwa mindset akan terefleksikan dalam perilaku. Ia mencontohkan pada proses wawancara kerja dan berada di fase penentuan salary. Cara menjawab fresh graduate akan mewakili mindset yang dimiliki. Biasanya, mereka akan menjawab sesuai kebutuhan, padahal gaji di dunia kerja dilihat dari harga pasar. “Hal serupa juga terjadi pada faktor kedua dan ketiga. Terkait kompetensi, ada empat hal yang harus saudara-saudara kuasai, mulai dari kompetensi teknis, administrasi atau IT, komunikasi dan yang terakhir yakni kompetensi kolaborasi,” tambahnya. Ia juga sempat menjelaskan pentingnya kolaborasi dan teamwork, utamanya di era digitalisasi saat ini. Ia berharap para sarjana baru ini bisa terus melatih dan mengasah tiga faktor utama tadi. Dengan begitu, skill mereka bisa tumbuh dan akhrinya bisa menjadi petarung yang hebat di dunia kerja. Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P.  mengingatkan jika tantangan nyata ketika lulus akan semakin banyak. Maka, para wisudawan tidak boleh hanya diam dan puas dengan bekal yang ada, melainkan harus berubah sesuai kebutuhan zaman sehingga bisa bertahan. Lebih lanjut, disampaikan Muhadjir, berdasarkan dara 2020 hingga 2021 ada sejumlah 146 juta angkatan kerja. Tujuh juta di antaranya belum bekerja, sehingga persaingan untuk mendapatkan posiis strategis akan semakin sulit. “Namun, karena anda lahir dari rahim UMM maka saudara harus bisa berada di depan untuk bisa mnejadi yang terdepan. Tidak hanya untuk bekerja, tapi juga bisa menjadi wirausahawan dan entrepreneur. Bukan hanya mencari, tapi membuat lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat luas. Apalagi saudara sudah memiliki bekal untuk bermain data. Saya doakan suadara bisa menjadi orang yang sukses dan tidak melupakan almamater,” pungkasnya. (ros/wil)

Kaji Big Data, FISIP UMM Buka Kelas B-Sospol

Dalam menghadapi arus dan perkembangan zaman yang cepat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka kelas khusus Center Of Excellence (CoE). Kali ini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM menyelenggarakan kelas khusus Big Data School of Social Politics (B-Sospol). Diikuti oleh puluhan peserta, kelas B-Sospol ini dilangsungkan sejak Senin (27/6) lalu hingga hari ini. Direktur Pengembangan Program dan Riset B-Sospol Dr. Salahudin, S.IP, M.Si, MPA mengatakan bahwa tujuan dari kelas ini adalah untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Utamanya dalam menghadapi era digital serta mampu mewujudkan program UMM Pasti Lulus Tepat Waktu, Pasti Profesional (PASTI). “Hadirnya kelas ini juga berupaya untuk membantu dunia industri untuk mengembangkan organisasi berbasis big data dan Artificial Intelegent (AI). Kelas B-Sospol ini akan terus berlanjut dengan memberikan inovasi-inovasi sehingga mampu mencetak profesional. Dengan begitu mereka bisa menjadi rujukan dunia industri sebagai pusat pengembangan SDM unggul dalam bidang data science,” ungkap Wakil Dekan I FISIP UMM itu. Hal serupa juga disampaikan oleh Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin, M.Si. Menurutnya kelas-kelas CoE yang telah disediakan memang ditujukan bagi para mahasiswa maupun praktisi. Salah satunya kelas B-Sospol yang berusaha memberikan pemahaman lebih dalam tentang big data dan AI. Ia juga menyinggung tentang paradigma dan literasi baru yang tidak lagi berbasis sekadar menghitung, membaca dan menulis. Melainkan juga mengharuskan manusia untuk memahami literasi data serta menganalisisnya. “Data tentu akan berkaitan erat dengan teknologi. Maka kita harus segera berbenah dan belajar teknologi dengan lebih baik. Bukan hanya perangkat kerasnya saja, tapi juga cara menggunakan dan memaksimalkannya,” jelasnya melanjutkan. Muslimin, sapaan akrabnya, tidak lupa mengingatkan bahwa skill lain yang perlu dimiliki adalah pikiran yang kritis serta kreatif. Tanpa keduanya teknologi yang maju, tidak kan ada artinya. Begitupun dengan kolaborasi, inovasi, dan komunikasi dengan baik. Sejalan dengan hal itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menilai bahwa saat ini sudah banyak pekerjaan-pekerjaan baru yang bermunculan. Satu di antaranya adalah data science. Tidak hanya di dunia industri, kemampuan big data analysis juga dibutuhkan oleh bidang akademik di sekolah maupun kampus. Maka menurutnya, kelas ini menjadi hal yang penting untuk diikuti agar bisa memahami big data dengan baik. “Menariknya, peserta tidak hanya berasal dari mahasiswa sospol saja, tapi ada juga mereka yang basicnya di luar itu bahkan juga dari luar UMM,” tambahnya. (zak/wil)

FEB UMM Launching Tiga CoE Baru

Melihat kebutuhan pasar akan sektor usaha mikro kecil dan menengah serta pariwisata, Fakultas Ekonomi dan Bisnis kembali luncurkan tiga kelas profesional Center of Excellence (CoE). Kelas-kelas tersebut ialah kelas Tourism and Hospitality, Supply Chain Management dan Acconting For SME’s. Adapun launching tiga kelas tersebut dilaksanakan pada Sabtu (25/6) lalu. Dekan FEB UMM Dr. Idah Zuhroh, M.M menyampaikan bahwa kelas manajemen untuk pariwisata dan keramahtamahan diluncurkan berdasarkan kondisi pariwisata yang sudah mulai membaik. Dimana dua tahun sebelumnya, situasi yang ada tidak memungkinkan bagi sektor ini untuk berkembang karena pandemi. Di samping itu, kebutuhan tersier dan sekunder masyarakat untuk berwisata juga menjadi kebutuhan yang diperlukan saat ini. “Ekowisata akan menumbuhkan distribusi pertumbuhan  yang cepat menyebar karena banyak sektor yang berkaitan. Pun denagn rantai pasok yang tentu dibutuhkan,” jelasnya. Idah, sapaan akrabnya kembali menjelaskan rantai pasok dinilai mampu mengendalikan arus barang, arus sumber daya dan informasi. Sehingga nantinya, hasil produk dari rantai pasok tersebut dapat membangun efisiensi ekonomi yang sangat kuat. Hal itu juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi serta pemerataan ekonomi masyarakat. “Prospek luar biasa dari UMKM harus dimaksimalkan. Saya yakin bisa berhasil asal UMKM ini siap dengan standar pelaporan yang sudah ada. Oleh karenanya, kita tidak hanya perlu bekerja sama dengan pihak pendidikan konvensional, tapi juga harus bekerja sama langsung dengan industri,” tanbahnya Idah. Hal tak jauh berbeda juga disampaikan oleh Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. Ia menilai bahwa perguruan tinggi harus adaptif terhadap perkembangan zaman. Tidak hanya berkutat dengan sistem pendidikan yang ada, tapi juga harus memunculkan inovasi-inovasi solutif yang baik. Adanya kelas CoE UMM menjadi upaya universitas dalam menyiapkan tenaga profesional yang ahli di bidang tertentu. Mahasiswa juga bebeas memilih pilihan sesuai dengan passion, minat dan bakatnya. Dengan begitu, mahasiswa bisa lulus dengan percaya diri, mandiri, dan memiliki dua kompetensi utama. Yaitu kompetensi akademik dan kompetensi leadership dari CoE yang sudah disiapkan. Adapun peluncuran kelas ini ditandai dengan penandatanganan MoU dan kerjasama dengan sederet industri terkait. Di antaranya Novotel Samator Surabaya, Rayz Hotel UMM, Grand Mercure Mirama Hotel Surabaya, PT. Berkat Ganda Sentosa, PT. Barata Indonesia dan PT. Aneka Jasa Grahadika. Sementara itu, Ketua PHRI Kota Malang,l Agoes Basuki, SH., SST. Par yang turut hadir menyampaikan bahwa asosiasi perhimpunan hotel dan restoran memiliki visi serta misi yakni membantu pembangunan ekonomi nasional. Salah satu caranya yakni dengan menggaet dunia akademik yang nantinya dapat melahirkan sumber daya manusia mumpuni. Selain itu juga menghasilkan produk usaha yang baik. Adalun prosuk usaha yang sedang dikembangkan saat ini adalah produk halal. Ia menilai, banyak hal yang bisa dieksplor dan didiskusikan untuk memajukan masing-masing pihak. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah Halal Center UMM yang bisa menjadi mediator dan pembimbing untuk usahawan mendapat sertifikat halal. “Saya juga yakin inovasi CoE bisa memberikan hasil yang baik. Tidak hanya untuk pihak-pihak terkait, tapi lebih juga untuk masyarakat,” tegas Agoes. (zak/wil)

BEM UMM Raih Pendanaan Program Ditjen Diktiristek

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (BEM UMM) berhasil mendapatkan pendanaan program Peningkatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PKK Ormawa) 2022 pada pertengahan Juni lalu. Mereka sukses meraihnya melalui Program Kerja Bina Desa yang diusung oleh Kementerian Sosial BEM UMM.  Adapun PKK Ormawa ini dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa peduli mahasiswa. Utamanya dalam berkontribusi bagi masyarakat desa. Harissudin selaku Presiden Mahasiswa BEM UMM menyampaikan bahwa pihaknya sudah mempersiapkan beragam hal dari jauh jauh hari. Mereka bekerja keras dan menyusun proposal yang bertujuan untuk mengembangkan potensi desa berbasis potensi alam. Khususnya di Desa Girupurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. “Pada program bina desa ini, kami memiliki fokus di tiga sektor. Mulai dari bidang pendidikan, ekonomi kreatif serta bidang sosial lingkungan,” ungkapnya. Haris, sapapan akrabnya menerangkan bahwa ada salah satu program yang fokus pada mengedukasi para siswa terkait gerakan anti narkoba. Kemudian adapula pengembangan ekonomi kreatif yang bekerja sama dengan ibu-ibu PKK. Begitupun di sektor sosial dengan penanaman pohon, pembuatan kawasan rumah lestari dan rumah herbal. “Kami juga akan mengembangkan UMKM dengan menggunakan pendekatan digitalisasi dan modernisasi. Memberikan materi dan pembinaan serta evaluasi yang sudah dilaksanakan,” jelasnya. Terkait program unggulan, pihaknya ingin memaksimalkan alam lokal. Salah satunya yakni meningkatkan hasil pertanian di Desa Giripurno. Mereka ingin mengubah sayur-sayuran menjadi produk eco-enzyme yang bisa dijadikan sabun cuci piring. “Saat supply tinggi dan demamd rendah, tentu harga sayur akan anjlok. Maka untuk mengatainya, kami mengubah value sayur biasa menjadi produk eco-enzyme. Proses pemasaran juga senantiasa kami dampingi, utamanya terkait marketing dan branding,”ujarnya. Ia berharap dengan lolosnya pendanaan BEM UMM di PKK Ormawa, dapat menjadi pemantik mahasiswa ataupun organisasi lain untuk bergerak lebih maju. Selain itu juga bisa menjalankan tugas pokok utama sebagai mahasiswa yakni menjadi agent of change. Sementara itu, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT sangat mengapresiasi raihan BEM UMM yang berhasil lolos pendanaan PKK Ormawa. Ia mengatakan jika UMM senantiasa mempersiapkan mahasiswa untuk terlibat aktif dalam berkontribusi di masyarakat. “Harapan kami tentu ingin agar para aktivis mahasiswa dapat mengakar dan mau turun membantu sesama. Capaian ini juga menjadi bukti bahwa mahasiswa-mahasiswa kita selalu bersemangat dalam menebarkan manfaat. Saya ucapkan selamat dan sukses untuk menjalankan program yang dicanangkan,” pungkasnya. (ros/wil)

Wisudawan Terbaik UMM Ini Lahirkan Puluhan Buku

Istiqamah dalam suatu hal bukan perkara yang mudah, banyak tantangan dan juga godaan yang menyertainya. Namun hal tersebut dapat dilalui dengan baik oleh Dr. Iwan Kuswandi, M.Pd. Berkat keteguhan hatinya dalam menulis, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini dapat melahirkan 25 karya buku dan berbagai artikel jurnal terakreditasi nasional serta internasional. Wisudawan Strata tiga (S3) yang dikukuhkan pada Selasa (28/06) ini menceritakan bahwa awalnya ia tidak tertarik pada dunia kepenulisan. Saat menjalani pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di pondok pesantren, ia lebih senang menghabiskan waktunya dengan berorganisasi dibandingkan menulis. Namun pada suatu hari, salah satu pengurus pondok memintanya untuk membuat biografi  kyai Muhammad Tijani Jauhari. “Awalnya sangat sulit bagi saya untuk menulis biografi tersebut. Namun berkat bantuan dari para kiai, saya dapat merampungkan penulisan biografi itu dengan baik. Sejak saat itu saya menanamkan tekad istiqamah menulis sebagai bagian dari hidup saya,” ujar Dosen Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumenep tersebut. Dari 25 buku yang telah ditulis, Iwan sapaan akrabnya mengaku ada salah satu buku yang paling berkesan untuknya. Buku tersebut berjudul Kera Pun Bisa Mengaji. Dalam proses pengerjaannya, pria asal Sumenep tersebut berjuang keras untuk menggali data dan mengidentifikasi fakta. “Buku ini membahas mengenai biografi dan rekam jejak para ulama islam di Madura. Kesulitan yang paling terasa adalah meyakinkan keluarga maupun ahli waris para ulama mengenai buku ini. Ada satu kejadian unik yang saya alami saat proses penulisan buku, yaitu ketika mewawancarai cucu Kiai Ahmad Dahlan karay. Semua jawaban yang dilontarkannya saat wawancara adalah tidak tahu. Itu cukup membuat saya kebingungan,” ungkap pria kelahiran 1987 itu. Terkait kepenulisan, guru pondok pesantren TMI Al Amien Prenduan Sumenep ini mengatakan bahwa perkuliahannya di UMM berperan besar pada pengembangan tulisannya. Peningkatan signifikan yang ia rasakan semenjak berkuliah di UMM adalah tulisannya yang tidak hanya termuat di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Bahkan beberapa tulisannya bisa meraih indeks dari Scopus. “Menulis adalah sebuah pesan dakwah Islam. Seperti yang tersirat dalam Surat Al-Qolam ayat 1 yang berarti demi pena dan apa yang mereka tuliskan. Dalam menulis, bukan hanya soal idealisme saja, tetapi juga kebermanfaatan bagi sesama. Bagi para muda mudi yang sedang atau ingin menulis, saya sarankan ditingkatkan lagi istiqamahnya dan jangan mudah putus asa saat berproses,” pungkasnya mengakhiri. (Syi/Wil)

Rektor Kick Off UMM Metaverse

Menjawab era disrupsi yang sangat cepat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembangkan teknologi metaverse. Diawali dengan kegiatan “Kick off UMM Metaverse Project & UMM-GCU Game Jam” pada Jumat (24/6) lalu. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menyampaikan bahwa metaverse akan menjadi langkah awal Kampus Putih UMM untuk menggunakannya sebagai media fungsional dan visibilitas akademik di universitas. Menurutnya, jika benar-benar efektif, bukan tidak mungkin UMM akan terus menggunakan dan mengembangkannya dengan lebih baik. Fauzan juga menegaskan bahwa UMM telah mendesain sebuah lembaga yang nantinya dijadikan sebagai Center for Future of Work (CFW). Maka, untuk mewujudkannya, ia berharap seluruh prodi dapat memiliki Center of Excellence (CoE). “Nantinya, setiap prodi memiliki pusat keunggulan yang dijadikan sebagai komoditi akademis dan mampu menjawab tantangan masa depan. Program-program teknik seperti ini juga diharapkan mampu menjadi pelopor dalam memperkuat CFW UMM,” tambahnya. UMM kini tengah membangun CFW yaitu pusat pengembangan sumber daya manusia (SDM) berbasis digital yang berada di kawasan ekonomi khusus (KEK) Singhasari. Kampus Putih juga telah berinvestasi beragam hal untuk mewujudkannya. Melalui program itu, diharapkan lahir SDM-SDM hebat nan mumpuni yang bertebaran di dunia kerja, khususnya alumni UMM. Adapun saat ini, Kampus Putih UMM sedang mengidentifikasi persoalan dan jenis pekerjaan yang akan muncul di masa depan. Pihaknya juga tidak hanya melakukan pendekatan melalui program studi dalam menjawab dinamika kehidupan eksternal, tapi juga menggunakan pendekatan CoE. “Kami berkomitmen untuk mengembangkan potensi mahasiswa berbasis passion. Salah satunya melalui metaverse ini. Sehingga jika ada mahasiswa, baik itu mahasiswa teknik atau bahkan peternakan, ingin mendalaminya, bisa langsung masuk ke program metaverse UMM. Ke depan, kami akan terus berinovasi dan tidak berhenti memberikan solusi terbaik bagi masyarakat,” tegas Fauzan. Di sisi lain, Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah Drs. Syukriyanto, M.Hum. berharap Kampus Putih UMM bisa menjadi universitas yang memiliki research center. Utamanya di bidang-bidang seperti teknologi, pertanian, kesehatan dan sederet lainnya. Ia juga mengingatkan agar perguruan tinggi senantiasa mampu melahirkan SDM yang hebat dengan kemauan yang kuat. “Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Dimulai dengan memaksimalkan pengamalan Alquran, mengembangkan SDM, dan juga meningkatkan ekonomi untuk membuka banyak lapangan pekerjaan. Kalau ini bisa kita lakukan, maka ini bisa menjadi bukti bahwa Muhammadiyah, terutama UMM mampu membangun perdamaian dan kesejahteraan,” harapnya. Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UMM Prof. Ir. Ilyas Masudin, MLogSCM., Ph.D. mengatakan jika proyek metaverse berjalan dengan baik, nantinya ruangan tidak begitu diperlukan. Begitupun dengan kelas-kelas karena para mahasiswa serta dosen akan terbiasa berkomunikasi lewat alam virtual. “UMM akan menjadi salah satu tempat di mana sejarah itu dimunculkan. Ini menjadi langkah pertama yang bagus untuk menggagas pendidikan berbasis metaverse. Maka, kita juga harus mendukung semua langkah baik yang telah disiapkan terkait Center for Future of Work,” terangnya. Adapun Galih Wasis Wicaksono M.Cs. selaku Ketua Prodi Informatika berharap semua pihak bisa turut membangun proyek metaverse ini. Dengan begitu, akan banyak orang yang bisa merasakan metaverse di masa depan.Galih yang juga penggerak program metaverse UMM juga mengajak kampus se-Malang raya untuk dapat terlibat dalam pembangunan metaverse. Sehingga, ekosistem kreatif yang ada di Malang bisa semakin masif dan maju. Selain itu, juga bisa menarik banyak minat masyarakat luas. “Semoga apa yang kita usahakan bisa berbuah manis dan bermanfaat bagi banyak orang,” ungkapnya mengakhiri. (Ros/Wil)

Launching UKM Golf hingga Senam Tiktok Ramaikan Pembukaan Rektor Cup UMM

Rangkaian menarik pembukaan Rektor Cup terlihat di Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (25/6) lalu. Acara itu dimeriahkan dengan senam TikTok bersama, tari, hingga musikalisasi puisi. Semakin ramai karena ada juga penampilan band yang menghibur para mahasiswa. Pada pembukaan tersebut, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. juga sempat meresmikan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) baru Kampus Putih yakni UKM Golf dengan memukul bola. Adapun unit kegiatan ini ada sebagai bentuk UMM memfasilitasi potensi, minat, dan bakat mahasiswa. Menurutnya, golf bukan menjadi olahraga yang hanya dimainkan oleh para elit. Siapapun bisa mencoba dan menggelutinya. Kalaupun memang benar hanya kaum elit, maka mahasiswa UMM juga masuk di dalamnya karena bisa ikut dan bergabung lewat UKM Golf. Terkait Rektor Cup, Fauzan menjelaskan bahwa ini merupakan usaha UMM dalam rangka mengembangkan mahasiswa-mahasiswanya. Utamanya dalam dua hal, yakni kompetensi akademik dan kompetensi leadership. “Rektor Cup ini menjadi satu dari rentetan aktivitas yang diorientasikan untuk meningkatkan kepercayaan diri saudara. Menjadi pribadi yang bertanggung jawab, penuh pikiran kreatif serta sportivitas,” tambahnya. Hal serupa juga disampaikan oleh Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM Drs. Wakidi. Menurutnya, Rektor Cup menjadi wadah untuk mengadu keterampilan dan keahlian mahasiswa, baik olahraga, seni dan aspek lainnya. Selama satu bulan, para mahasiswa akan diuji seberapa jauh mereka bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki. Bagaimana mereka berkompetisi dengan sportivitas hingga memperoleh kemenangan. “Pada prosesnya, Rektor Cup juga memerlukan pengendalian emosi yang bagus dan sportivitas yang tinggi. Agenda ini juga membentuk saudara menjadi pribadi yang sehat sehingga bisa beribadah dengan maksimal. Selamat bertanding dan tetap jaga kebersamaan,” tegas Wakidi. Adapun Rektor Cup bertajuk Beyond the Limit tahun ini akan menyelenggarakan 86 cabang pertandingan. Semua wakil fakultas akan bertanding untuk memperoleh kemenangan di kompetisi ini. Ribuan mahasiswa juga akan meramaikan gelaran Rektor Cup selama sebulan, baik sebagai peserta maupun supporter. “Rektor Cup juga menjadi pintu terbaik bagi mahasiswa untuk dapat mewakili nama Kampus Putih UMM di kancah yang lebih tinggi. Mulai dari level nasional hingga internasional,” ungkap Ketua Pelaksana Rektor Cup Rahadi, M.Si. mengakhiri. (Wil)

Alumnus UMM Beberkan Lima Kiat Hadapi Persaingan Kerja di Acara Wisuda UMM

Persaingan dunia kerja sudah menunggu para sarjana baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Akan ada banyak tantangan yang siap ditaklukkan. Hal itu disampaikan oleh alumnus UMM Khabibullah Kanafie ke para wisudawan dalam wisuda UMM yang ke-104, Selasa (23/6) lalu. Adapun Kanafie yang merupakan Senior Manajer Operation dan Manufacturing Refenery PT. Pertamina. Lebih lanjut, Kanafie mengataka bahwa dalam menggapai mimpi, perlu adanya pengorbanan dan proses yang harus dilalui. Menurutnya, ilmu yang didapat di UMM sudah lebih dari cukup. Tinggal bagaimana para sarjana memanfaatkannya dengan baik. Ia juga membeberkan sederet tips yang bisa dilakukan fresh graduate untuk mempersiapkan masa depan. Pertama, para sarjana baru harus menentukan dan memiliki mimpi. Begitupun dengan pengetahuan dan memahami diri sendiri. Menurutnya, ketika ingin meraih mimpi, wisudawan harus tahu kapabilitas yang dimiliki, skill serta prestasi yang sudah diraih. “Jadi kita bisa melihat, sudah sampai mana portofolio kita untuk dijadikan modal menggapai masa depan. Dengan kita mengetahui diri sendiri dan cita-cita, kita juga akan memahami seberapa dekat upaya kita untuk menggapai impian yang diidamkan,” tambahnya. Kanafie juga memberitahu modal apa saja yang perlu dimiliki seorang fresh graduate agar bisa berkompetisi di dunia kerja. Dimulai dengan kemampuan kognitif yakni bagaimana seseorang melihat masalah dan mengatasinya. Kemudian kompetensi hard yakni bagaimana nilai akademik selama menjadi mahasiswa. Dapat dinilia dari indeks kumulatif prestasi yang dipunya. Ketiga, para fresh graduate harus memiliki soft competence yakni kemampuan mengatur emosi dan komunikasi dengan orang lain. Keempat, yakni harus memiliki nilai lainnya seperti kemampuan di luar jurusan atau dunia yang selama ini digeluti selama kuliah. “Selain dari keempat modal tersebut, kita juga harus berani untuk mengambil tindakan dan juga harus terus mau menambah nilai pada diri kita. Jangan lupa juga untuk mendasari cita-cita dengan niat ibadah. Insyaallah jika usaha dan doa seimbang, impian akan mudah ada di genggaman,”pesan Kanafie. Sejalan dengan yang disampaikan Kanafie, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd.  menilai bahwa para sarjana akan mendapatkan tuntutan yang luar biasa. Bagaimana mereka akan memasuki dunia yang tidak pasti. Kehadiran para wisudawan juga telah ditunggu oleh masyarakat untuk menjadi seorang problem solver. “Saudara juga akan menjadi panutan dan tokoh di masyarakat. Maka jangan sia-siakan harapan mereka bagi saudara yang menjadi alumni UMM. Semoga saudara bisa menjadi manusia-manusia yang bermanfaat bagi negara, bangsa dan agama,” ungkapnya. Menariknya, adapula kesan pesan dari mahasiswa asing Afganistan yakni Sayed Momin hashemi. Ia mengungkapkan bahwa saat pertama masuk Kampus Putih, ia merasa takut dan malu nanti ia akan diejek. Namun ternyata, ia malah mendapatkan banyak teman-teman suportif. “Dari situ, saya mendapat pelajaran bahwa dari manapun kita berasal, apapun sukunya, agamanya, kita harus saling mendukung satu sama lain. Saya juga bersyukur bisa menimba ilmu di UMM karena tempatnya nyaman, lingkungan belajar yang asyik, dan fasilitas memadai untuk kegiatan diskusi dan berbagi,” pungkasnya. (Zak/Wil)

UKM Fair UMM Temukan Potensi Generasi Muda

Menjadi mahasiswa tidak hanya berkutat pada materi perkuliahan, tapi juga ada kegiatan lain yang tidak kalah menarik. Salah satunya melalui unit kegiatan mahasiswa (UKM). Hal itu disampaikan oleh Kepala Bagian Minat Bakat Universitas Muhammadiyah malang (UMM) Frendy Aru Fantiro, M.Pd. di ajang UKM Fair UMM pada Kamis (23/6) lalu. adapun rangkaian UKM Fair ini berlangsung dari 23-25 Juni ini. Menariknya, banyak UKM yang memamerkan kegiatan serta piala yang sudah diperoleh. Mulai dari kejuaraan regional hingga internasional. Adapula penampilan-penampilan unik dari masing-masing UKM agar para mahasiswa baru, khususnya angkatan 2020 dan 2021 untuk bergabung. Ada penampilan band, tari, pencak silat, taekwondo, hingga hal-hal lainnya. Frendy, sapaan akrabnya mengatakan bahwa pandemi membuat UKM Fair sempat tidak terlaksana dalam dua tahun terakhir. Ini menjadi kegiatan pameran UKM pertama yang diselenggarakan dengan tujuan menarik minat dari para mahasiswa. Khususnya mereka yang berada di angkatan 2020 dan 2021. “Ini juga menjadi bentuk dan upaya kami dalam memfasilitasi potensi serta prestasi dari mahasiswa. Di sinilah mereka bsia mengembangkan diri dan menggali bakat yang dimiliki,” tambah Frendy. Sampai saat ini, Kampus Putih UMM telah memiliki 39 unit kegiatan yang bisa diikuti oleh mahasiswa. Jumlah itu akan terus bertambah seiring banyaknya minat serta bakat yang ada. Terbaru, UMM juga membuka UKM E-Sport dan juga Biru Flying Club yang menjadi satu-satunya UKM berbasis dirgantara yang ada di Indonesia. “Jadi pihak kampus mengupayakan yang terbaik untuk membentuk wadah bagi setiap mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan meraih prestasi-prestasi. Semoga dengan adanya UKM Fair ini, para mahasiswa bisa lebih memanfaatkan waktunya dengan lebih baik,” tambahnya. Pada pameran itu, ada UKM yang berbasis seni, olahraga, olah pikir, bahkan juga gim. Salah satu yang seringkali berprestasi adalah UKM Sepakbola UMM. Tim tersebut mampu membukukan juara di beberapa kompetisi. Misalnya saja juara liga mahasiswa 2018 Jawa Timur, Torabika Campus Cup, hingga runner up liga mahasiswa nasional season 7. “Jadi di UKM ini kami upayakan berlatih seperti pemain profesional. Pelatihnya juga sudah berlisensi, begitupun dengan fasilitas yang sudah disiapkan dengan sangat baik. Kami juga memiliki dua tim, satu tim inti yang akan bertarung di kompetisi, kemudian ada juga tim kedua yang menjadi tempat seleksi. Sampai saat ini ada beberapa alumni yang sudah bermain di klub liga 2 dan juga liga 3,” ungkap pengurus UKM Sepak Bola UMM Ichbal Alarikhi. Di sisi lain, ada pula unit kegiatan yang berfokus pada seni. Salah satunya Ikatan Aktivitas Band Mahasiswa (Ikabama) UMM. di sana, para mahasiswa akan turut serta bermain musik hingga mengadakan event musik. Baik itu yang bersifat daring maupun luring. Mereka juga selalu menyusun album kompilasi band-band mahasiswa UMM dua tahun sekali. Beberapa band juga pernah tampil di Kickfest, menang di beberapa kompetisi seperti Fokus hingga Garasi Music. Bahkan dalam waktu dekat, mereka juga akan mengadakan event musik menarik secara offline. “Tentu kami berharap bisa menemukan anggota-anggota baru yang berpotensi dari mahasiswa UMM. Kami juga akan memberikan wadah yang sesuai agar potensi yang dimiliki bisa dimaksimalkan. Apalagi selama ini kan eventnya hanya lewat platform-platform online,” ungkap Ketua Ikabama, Andira. (Wil)