Mahasiswa UMM Sukses Raih Beasiswa IISMA 2022

Kabar gembira kembali datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, enam mahasiswa Kampus Putih sukses meraih beasiswa Indonesian International Student Mobility Award (IISMA) 2022 dari Kemendikbud-Ristek Republik Indonesia. Adapun mereka akan berangkat ke kampus dan negara tujuan masing-masing pada semester depan. Koordinator program mobilitas internasional mahasiswa International Relation Office (IRO) UMM, Very Kurnia Aditama, M.Pd. menjelaskan bahwa beasiswa ini memungkinkan mahasiswa untuk merasakan studi di luar negeri. Mereka juga akan dibiayai oleh pemerintah tanpa harus melakukan cuti. Hal tersebut dikarenakan agenda tersebut menjadi bagian dari implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Very, sapaan akrabnya menilai bahwa IISMA 2022 lebih kompetitif ketimbang tahun lalu. Terlihat dari perbedaan jumlah pendaftar yang awalnya 2000 mahasiswa pada 2021 menjadi 7000 mahasiswa pada tahun ini. Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi juga lebih detail dan rigid. Adapun pada tahun ini, ada 43 mahasiswa UMM yang mendaftar dan enam di antaranya diterima di universitas tujuan. “Ada mahasiswa yang diterima di Hanyang University Korea Selatan, di University of Liverpool dan juga di University if Szeged Hungaria. Adapula yang akan berangkat ke Universiti Teknologi Malaysia dan tentu saja University of Sussex, Inggris,” tambah pria kelahiran Bojonegoro tersebut. Terkait persiapan, ia dan tim sudah memberikan pelatihan bahasa selama dua bulan sebelum para mahasiswa mendaftar. Tidak hanya pelatihan IELTS, tapi juga TOEFL bahkan duolingo. Harapannya, ada banyak yang terjaring ke tahap wawancara dan akhirnya diterima di salah satu tujuan universtas masing-masing mahasiswa. Satu kendala yang Very dan tim temui adalah persiapan berkas. Selain banyak yang harus disiapkan, prosesnya juga panjang dan butuh ketelitian. Apalagi banyak dari mahasiswa yang berada di luar kota Malang, sehingga prosesnya cukup memakan waktu. Meski begitu, semua bisa diatasi dan selesai tepat waktu. “Kami tentu berharap antusiasme mahasiswa bisa meningkat pada pendaftaran tahun depan sehingga smeakin banyak yang turut serta dan memperbesar kemungkinan untuk diterima. Selain itu, peran kampus menjadi salah satu hal penting agar potensi dan kesempatan mahasiswa untuk merasaka  studi di luar negeri semakin besar. Semoga di IISMA selanjutnya, UMM bisa mengirimkan lebih banyak mahasiswa untuk belajar,” pungkasnya. (wil) Penulis: Hassanalwildan Ahmad Zain | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Prodi Magister Agribisnis UMM Raih Akreditasi Unggul

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meningkatkan kompetensi pendidikannya melalui pembaharuan akreditasi Program Studi (Prodi). Kabar gembira tersebut datang dari Prodi Magister Agribisnis yang berhasil mendapat akreditasi unggul. Adapun status akreditasi ini mulai diterapkan sejak Selasa (10/5) lalu. Ketua Prodi Magister Agribisnis, Prof. Dr. Lili Zalizar, M.S. Menjelaskan bahwa untuk mencapai tahap unggul, ada beberapa kriteria penilaian yang perlu dilengkapi. Salah satu hal yang diperhatikan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di lingkup prodi. “Alhamdulillah Semua dosen di Prodi Magister Agribisnis telah menempuh pendidikan strata tiga (S3), enam diantaranya bahkan telah meraih gelar profesor. Banyak pula dosen yang telah menjabat sebagai lektor kepala. Selain SDM, untuk mengawasi dan meningkatkan mutu pendidikan, Kampus Putih juga memiliki Badan Penjaminan Mutu Internal (BPMI) yang sangat membantu. Dengan begitu mutu pendidikan di UMM bisa tetap terjamin,” ungkap dosen asal Subang, Jawa Barat tersebut. Tak hanya fokus di peningkatan sumber daya manusia, Lili, sapaan akrabnya mengatakan bahwa pihak prodi juga berfokus untuk mendorong publikasi ilmiah dari para dosen. Bahkan juga dari para mahasiswanya. Tak hanya publikasi di media, mahasiswa juga didukung untuk mempublikasikan karya tulis ilmiahnya di jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional. “Untuk mendorong upaya publikasi ilmiah, setiap mata kuliah memiliki luaran berupa publikasi artikel ilmiah, buku, tulisan, maupun jurnal. Pihak kampus juga memberikan hadiah kepada mahasiswa yang telah menerbitkan karyanya. Selain itu, untuk meningkatkan wawasan, kami juga berpartisipasi dalam konferensi internasional yang diselenggarakan oleh direktorat pascasarjana Kampus Putih setiap tahunnya,” Jelas Lili. Terkait peningkatan akreditasi yang telah diperoleh Prodi Magister Agribisnis, Lili mengatakan bahwa capaian tersebut tidak lepas dari kerja keras dari semua pihak. Tak hanya dari prodi dan kampus, prestasi ini dapat diraih berkat komitmen dari mahasiswa dan juga alumni. “Terlepas dari capaian ini, kita tentu tidak boleh berpuas diri. Prodi magister agribisnis juga akan terus berusaha untuk memperbaiki aspek-aspek yang kurang sekaligus meningkatkan yang sudah bagus. Tentu, target kami selanjutnya adalah sertifikasi dan akreditasi internasional,” ungkapnya mengakhiri. (syi/wil) Penulis: Syifa Dzahabiyyah | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Sukses Capai Unggul, HI UMM Targetkan Akreditasi Internasional

Kabar menggembirakan datang dari Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil mendapatkan Akreditasi Unggul. Sebelumnya, prodi HI juga sukses mempertahankan akreditasi A selama sembilan tahun sejak 2013 lalu. Kini, prodi satu ini mampu membukukan diri sebagai prodi dengan akreditasi unggul berdasarkan SK nomor 2868/SK/BAN-PT/AK-ISK/S/V/2022 yang dikeluarkan Selasa (10/5) lalu. “Kami sudah mempersiapkannya sejak bulan Januari dengan mengundang Unit Pelayanan Terpadu Akreditasi Peringkatan (UPTAP) dan Unit Pengelola program Studi (UPPS). Keduanya mendorong kami untuk segera mendapatkan akreditasi Unggul ini. Kemudian akhirnya disusunlah dokumen serta membentuk beberapa tim khusus dalam rangka mengurusi upaya ini,” terang Ketua Prodi HI UMM, Syaprin Zahidi, S.IP. M.A. Mesi berhasil mencapai tujuan, Syaprin mengaku bahwa pihaknya mengalami beberapa kendala. Salah satunya yakni sukarnya mengumpulkan data-data dosen lintas prodi. Namun, berkat kerja sama yang apik, prodi HI sanggup menyelesaikannya tepat waktu. Ia juga menilai bahwa adanya UPTAP memberikan kemudahan tersendiri dalam menemukan data dosen yang memang sudah dipusatkan. Ia juga mengapresiasi tim-tim yang sudah dibentuk dalam mencapai akreditasi Unggul. Raihan ini tentu semakin memcau prodi HI untuk memberikan pelayan yang lebih bagus. Baik itu dari segi pengajaran, program, inovasi dan lain sebagainya. Selain itu, Syaprin juga menilai bahwa raihan ini bukanlah akhir, melainkah sebuah awal untuk mematok target yang lebih tinggi. “Satu visi penting yang saya emban yakni bprodi HI bisa segera membuka kelas pembelajaran reguler bagi mahasiswa asing. Salah satu upayanya yakni kami akan secepatnya mengurus akreditasi internasional, diawali dengan akreditasi tingkat regional Asia Tenggara pada semester depan,” ungkapnya. Syaprin berharap, ke depannya prodi HI UMM bisa berlari lebih kencang untuk menggapai mimpi-mimpi yang lebih besar, termasuk akreditasi dan sertifikasi internasional. Ia juga ingin agar kualitas yang diberikan pihaknya memberikan kebaikan bagi semua pihak. Salah satu caranya yakni mendorong dosen-dosen muda untuk berupaya pelan-pelan meriah gelar doktor maupun profesor. (Ros/Wil)

Bitcoin Marak, Ini Penjelasan Dosen Informatika UMM

Bitcoin menjadi salah satu mata uang digital yang semakin hari nilai pasarnya semakin meningkat. Bahkan data terbaru menunjukkan nilai tukar dari satu koin Bitcoin menembus angka 400 juta rupiah. Melihat trend Bitcoin tersebut, Fauzi Dwi Setiawan Sumadi, ST., M.CompSc. salah satu Dosen Prodi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan penjelasan. Fauzi, sapaan akrabnya menerangkan bahwa Bitcoin adalah sebuah mata uang kripto pertama yang dikembangkan oleh Satoshi Nakamoto dari teknologi blockchain pada tahun 2009. Bitcoin merupakan salah satu model currency virtual yang diamankan dengan menggunakan teknik kriptografi satu arah (hashing) SHA-256. Sehingga akan sangat susah dimanipulasi dengan adanya kemajuan perangkat komputasi sekarang. Manfaat implementasi Bitcoin salah satunya yakni model pencatatan transaksi yang terdistribusi sehingga mengurangi kompleksitas dalam transaksi keuangan tanpa adanya otoritas sentral yang mengatur proses tersebut. “Bisa dibilang Bitcoin adalah mata uang digital yang disimpan secara digital dan tidak ada bentuk fisiknya, juga tidak ada otoritas yang mengendalikannya,” imbuhnya. Fauzi kembali menjelaskan bahwa dalam mendapatkan satu koin Bitcoin, kita bisa melakukan proses mining (menambang). Setiap orang bisa secara langsung melakukan proses mining asalkan memiliki perangkat komputasi yang memadai untuk memecahkan masalah matematika yang tersedia. Ketika seseorang menjadi pihak pertama yang berhasil memecahkan permasalahan tersebut, maka hasilnya akan tercatat dalam block, kemudian Bitcoin akan memberikan reward koin kepada pemenang mining. Oleh karena itu, kita sering menjumpai penggiat mining yang memiliki puluha perangkat Graphic Processing Unit (GPU). “Sederhananya, proses mining dilakukan dengan cara memecahkan permasalahan matematika menggunakan perangkat komputasi CPU/GPU/ASIC. Jika berhasil, maka yang memecahkan masalah tersebut akan mendapatkan koin dari Bitcoin” ucapnya. Pria asli Bumiayu, Kota Malang ini juga sempat menuturkan bahwa saat sudah ada fatwa terkait kripto yang kebanyakan mengharamkannya. Dikarenakan tidak adanya kepastian dari sistem dan impelementasinya yang berujung pada kerugian. Maka dari itu menurutnya, alangkah baiknya masyarakat mengikuti fatwa-fatwa yang sudah dikeluarkan, baik itu oleh MUI, Muhammadiyah maupun NU. Ia juga berharap agar teknologi blockchain ini bisa mengedepankan transparansi agar bisa digunakan dalam sistem administrasi pemerintahan. (Haq/Wil)

Dosen Sosiologi UMM Kaji Fenomena Mudik

Mudik nyatanya telah lama dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Utamanya ketika menjelang hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha. Meski rutinitas tersebut sempat dilarang pada tahun 2020 dan 2021 karena pandemi, kini pemerintah sudah memperbolehkannya. Memberikan kelonggaran bagi masyarakat untuk memungkinan mudik ke kampung halaman. Dosen Sosiologi UMM, Mochamad Aan Sugiharto, M.Sosio, menjelaskan bahwa fenomena mudik ini muncul seiring proses urbanisasi masyarakat Indonesia. Banyaknya masyarakat usia produktif yang menimba ilmu maupun bekerja di kota-kota besar membuat momen libur lebaran menjadi kesempatan emas. Dalam hal ini kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga. “Sebenarnya tidak ada data pasti kapan pertama kali fenomena mudik ini muncul. Namun melihat fakta bahwa mudik itu adalah suatu kondisi berpindahnya orang-orang yang kota ke desa untuk sementara waktu, maka hipotesanya adalah mudik mulai muncul seiring dengan banyaknya proses urbanisasi,” jelas kepala Laboratorium Sosiologi tersebut. Tak hanya untuk mempererat tali silaturahmi, Aan sapaan akrabnya, mengatakan bahwa mudik juga berfungsi untuk merekatkan kembali hubungan emosional antar individu. Dalam sosiologi, hal ini penting karena terjalinnya hubungan antar individu dapat mempererat solidaritas. “Solidaritas di masyarakat secara umum terbagi menjadi dua yaitu mekanis dan organis. Masyarakat kota itu tergolong bersolidaritas organis. Interaksi yang dibangun dalam keseharian cenderung karena kebutuhan. Sementara itu, masyarakat desa golong bersolidaritas mekanis. Interaksi dari solidaritas ini adalah keseharian yang cenderung kekeluargaan. Namun, saat ini mulai banyak masyarakat kota yang ingin menerapkan konsep kekeluargaan dalam setiap interaksinya. Oleh karenanya, mudik dapat memperkuat konsep tersebut,” ungkapnya. Selain dampak positif, mudik juga membawa beberapa dampak negatif. Mudik selalu identik dengan perjalanan panjang, lama, dan melelahkan yang terjadi karena kepadatan lalu lintas. Mobilisasi masyarakat secara besar-besaran menggunakan kendaraan pribadi menjelang hari raya menyebabkan masalah baru yaitu kemacetan. “Setidaknya ada tiga alasan utama kenapa masyarakat Indonesia tidak menggunakan tranportasi umum. Pertama, konektivitas sarana prasarana angkutan umum tidak menjangkau sampai ke pelosok desa. Stasiun ataupun terminal letaknya selalu di kota yang jauh dari tempat tinggal pemudik. Kedua, keterbatasan tiket dan waktu keberangkatan, di mana mayoritas pemudik adalah pekerja maupun karyawan yang waktu liburnya biasanya mendekati hari H. Sementara tiket biasanya tersedia jauh sebelum atau sesudah hari H,” jelas Aan. Terakhir, yaitu faktor aktualisasi diri. Menurut Aan, Pemudik biasanya cenderung ingin memberitahu kepada keluarga dan tetangga bahwa mereka sukses mengadu nasib di kota. Salah satunya dengan cara pulang dan membawa kendaraan pribadi ataupun simbol yang memperlihatkan kesuksesan mereka. (syi/wil) Penulis: Syifa Dzahabiyyah | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Kiat Aman Tangani Kecelakaan Ala Dokter RS UMM

Kecelakaan bisa terjadi dimana dan kapan saja serta tidak dapat kita prediksi. Tidak hanya di lalu lintas saja tapi juga kecelakaan di tempat lainnya, seperti yang terjadi di Ken Park Surabaya beberapa waktu lalu. Salah satu dokter spesialis bedah Rumah Sakit Umum (RSU) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Andi Abdillah SpB FINACS mengimbau para masyarakat untuk bertindak tepat saat berada di situasi tersebut. Menurutnya, kecelakaan dapat menyebabkan luka ringan hingga luka berat. Dalam menghadapinya, masyarakat awam diharap tidak melakukan hal-hal yang malah memperparah keadaan hingga nanti petugas medis datang. Maka, ia memberikan beberapa langkah pertolongan pertama untuk mencegah risiko yang lebih parah. “Hal pertama dan utama adalah jangan merasa panik. Kita harus bisa mengontrol diri sebagai orang yang ingin menolong agar tindakan yang diperbuat bisa baik pula. Kemudian, jika bisa memposisikan diri sebagai leader di lokasi kejadian, kita juga harus meminta orang-orang lain untuk ikut tenang. Selain itu juga menunjuk satu dua orang untuk segera mneghubungi pihak medis atau rumah sakit,” tuturnya melanjutkan. Memeriksa kesadaran korban menjadi langkah yang ketiga. Andi, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa langkah ini melihat korban mana yang menjadi prioritas untuk ditolong. Dalam istilah medis, langkah ini disebut dengan triase. Yaitu sistem yang digunakan dalam mengidentifikasi korban dengan cedera yang mengancam jiwa untuk kemudian diberikan prioritas dan dievakuasi ke fasilitas kesehatan. “Korban yang tidak sadar, kemungkinan mengalami cedera pada bagian otak atau kepala, tulang belakang leher ataupun pendarahan dalam. Jadi kita memprioritaskan mereka yang mengalami luka berat,” tambahnya. Selanjutnya, masyarakat juga diminta untuk memeriksa pernapasan dan kondisi luka yang diderita para korban. Menurut Andi, sangat penting untuk memeriksa pernapasan agar para korban tidak kekurangan oksigen usai mengalami kecelakaan. Langkah ini bisa dilakukan dengan screening, menanyakan pada korban mengenai keluhan sakitnya pada bagian tubuh mana. Andi menuturkan jika terdapat cedera bagian tangan atau kaki, diusahakan untuk memposisikan tangan atau kaki tetap lurus dan tidak menekuk. Sementara, jika ada luka luar atau pendarahan pada korban, bisa dengan menekan bagian luka dengan kasa atau kain bersih untuk menghentikan atau mengurangi pendarahan. “Satu hal penting lain yakni jangan memberi minum atau menyiram air pada korban yang tidak sadar. Ini tindakan yang cukup berbahaya karena bisa saja air masuk melalui saluran pernafasan kemudian malah membuat korban susah bernafas,” pungkasnya. (Zak/Wil) Penulis: Novia Zahrotun Zakiyatina | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Thalassophobia, Novel Viral Karya Mahasiswa PBSI UMM

Iim Khoiria, salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mampu beradaptasi dengan baik di era digital. Ia sukses menelurkan karya-karya novel melalui platform digital multinasional seperti Dreame, Wattpad, dan lainnya. Menariknya, salah satu novel garapannya, Thalassophobia, sudah dibaca lebih dari 1,4 juta orang serta mendapatkan 110 ribu vote. Iim, panggilan akrabnya mengatakan bahwa ini adalah capaian yang luar biasa. Pasalnya, ia cukup lama memikirkan dan menulis cerita, namun ia merasa kurang menarik bagi para pembaca. “Beruntung, ada beberapa mata kuliah di Prodi PBSI yang sangat membantu untuk menghasilkan ode dan karya menarik. Beberapa dosen juga terus memotivasi dan menjadi teman diskusi dalam proses pengerjaannya,” ungkapnya. Iim sudah tertarik dengan dunia tulis menulis sejak duduk di bangku SMP. Adapun ia mulai menerbitkan novel digital pertamanya pada 2018 dengan judul “Amira Azzahra”. Kemudian dilanjutkan dengan sederet tulisan lain. Hingga mencapai puncak saat Thalassophobia muncul ke permukaan. “Iya, novel satu ini menjadi karya saya yang paling booming. Sebenarnya Thalassophobia pernah ditawari lebih dari 20 penerbit indie dan semi mayor, tapi saat itu saya belum bisa menerimanya karena ada kendala saat 2021 lalu,” lanjutnya. Novel satu itu adalah novel yang mengangkat kisah seorang perempuan pengidap Thalassophobia (ketakutan berlebih terhadap laut lepas) karena trauma masa kecil. Ayah kandung tokoh terkait pernah hampir membunuhnya di laut saat bertengkar dengan Ibunya. Di dalam novel ini pula, kehidupan sosok Ayana sangat terombang ambing. Perjalanan hidup, mati, dan percintaannya dengan seorang dokter dibawa ke sana kemari. “Setelah novel saya ini viral, saya ditawari platform digital Singapura, Goodnovel, untuk menjadi editor. Selain itu juga memegang puluhan penulis yang ada di platform tersebut. Alhamdulillah, materi saat kuliah di UMM seperti menulis kreatif, sintaksis, morfologi dan lainnya sangat berguna sebagai pegangan saya untuk menulis dan menajdi seorang editor,” ucapnya mengakhiri. (*/wil)

Inovasi Model Jembatan Mahasiswa UMM Sabet Juara Internasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melakukan inovasi di berbagai bidang. Terbaru, inovasi model jembatan yang dirancang oleh dua mahasiswa teknik sipil UMM berhasil meraih juara tiga pada kompetisi internasional, Bridge Design Competition di Nanyang Technology University (NTU) Singapura, akhir April lalu. Pada kompetisi tersebut, Erwin Yoga Pratama dan Aliek Puji Wahyudi harus bersaing dengan 95 tim lainnya yang berasal dari Malaysia, Vietnam, Mesir, India, Indonesia dan Singapura. Erwin mengatakan bahwa proses pembuatan model jembatan berlangsung singkat. Dari proses pengumuman petunjuk teknis perlombaan sampai tahap pengumpulan model hanya berkisar dua hari saja. Adapun perancangan model jembatan didasarkan pada studi kasus yang diberikan oleh panitia. “Dalam merancang jembatan, kami merancang inovasi di beberapa aspek. Contohnya adalah pengurangan berat jembatan, pengurangan jumlah rangka, serta pengurangan biaya pembangunan jembatan. Hal ini dilakukan agar jembatan yang dirancang lebih efisien dan efektif tanpa mengurangi faktor keamanan. Adapun pembuatan model dilakukan dua kali yaitu saat tahap awal setelah pendaftaran dan tahap pertengahan untuk menentukan 15 besar. Kedua model tersebut juga memiliki studi kasus yang berbeda-beda,” jelasnya. Pada model jembatan yang kedua, anak pertama dari dua bersaudara itu menjelaskan bahwa mereka membuat jembatan campuran antara jembatan beton dan jembatan rangka. Jangka waktu pengerjaan model jembatan juga lebih lama dibanding model sebelumnya, yaitu tujuh hari. Penggabungan kedua jembatan ini berfungsi untuk mengatasi kasus yang ada di lapangan. “Untuk model jembatan yang kedua, ada beberapa area yang tidak bisa dilewati kendaraan. Oleh karenanya, kami membuat gabungan dua model jembatan agar bisa membuat jembatan baru yang berkelok,” ungkap Erwin. Terkait raihan juara ini, Erwin mengaku bahwa ia tidak menyangka dapat mengalahkan peserta lainnya dan dapat meraih juara tiga besar. Pasalnya, peserta yang ikut serta tidak tebatas dari Indonesia saja, tetapi juga beberapa negara. Banyak pula universitas-universitas ternama yang turut bersaing. “Tahun lalu saya mengikuti perlombaan yang sama, namun gagal di tengah jalan. Alhamdulillah di tahun ini bisa lebih baik daripada tahun sebelumnya. Secara pribadi, saya juga ingin ilmu-ilmu dari kompetisi ini dapat kami bawa dan realisasikan ke pembangunan infrastruktur jembatan di Indonesia,” pungkasnya. (syi/wil)

Dari Amerika hingga UEA, Ini Kisah Idul Fitri Sivitas Akademika UMM

Beragam cerita unik dan menarik datang dari beberapa sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berlebaran di luar negeri. Ada yang berkisah ramainya masjid Syeikh Zayed Uni Emirat Arab saat salat id, adapula yang berburu makanan nusantara di negara Paman Sam. Bahkan ada mahasiswa asing yang harus rela tidak salat id bersama keluarganya di Mesir seperti biasanya. Meski begitu, mereka tetap menikmati dan menganggapnya sebagai pengalaman yang tidak terlupakan. Satu dari sederet sivitas akademika Kampus Putih itu adalah Bayu Darmala. Menurutnya, suasana Ramadan di Amerika Serikat cukup berbeda dibandingkan dengan yang ada di kampung halamannya. Di  Amerika, kultur saling memaafkan, salam-salaman atau sungkeman tidak begitu terlihat. “Setelah salat id, saya sama sekali tidak melihat orang saling bersalaman layaknya apa yang ada di Indonesia. Di rumah salah satu senior juga tidak terlihat ada yang melakukan prosesi sungkeman,” tuturnya. Bayu mengatakan bahwa ia dan delapan teman lainnya melaksanakan salat idul fitri di Tucson Convention Centre. Adapun tempat itu biasanya digunakan untuk acara konser, pesta dan lainnya. Mereka juga tidak bisa mengunjungi konsulat jenderal terdekat karena jaraknya yang cukup jauh dari Arizona. Lokasinya yakni berada di  di Los Angeles yang memakan waktu paling tidak sepuluh jam dari tempat tinggalnya, Arizona. Bayu juga merasa beruntung karena ada salah satu ibu-ibu asal Indonesia yang mengundangnya datang ke rumah. Tidak hanya Bayu, tapi juga orang-orang Indonesia lain yang juga merayakan lebaran. Beragam makanan telah dihidangkan seperti sate, rendang, lontong hingga opor. “Alhamdulillah banget bisa datang ke rumah Bu Fatimah. Biasanya kami memanggilnya bu lurah. Banyak makanan, banyak cerita pengalaman yang membuat suasana di sini jadi serasa di rumah,” ungkap staf Kampus Putih tersebut. Terbang ke Uni Emirat Arab (UEA), ada Lutfiana Sausan yang juga sedang menimba ilmu dan pengetahuan. Meski ia dan teman-temannya berangkat menuju masjid sejak pukul 05.00 pagi, nyatanya gerbang masjid Sheikh Zayed sudah ditutup. Bahkan sudah dipenuhi oleh ratusan jamaah. Padahal salat idul fitri baru akan dimulai sekitar pukul 07.00 pagi. “Jadinya kami harus rela untuk beribadah di luar pagar. Sedikit kecewa sih, tapi ini menjadi pengalaman luar negeri yang menarik bagi saya,” tuturnya. Usai salat, Lutfi, begitu ia disapa, tidak berangkat menuju kedutaan. Kebetulan ia diundang untuk menyantap makanan khas lebaran di salah satu saudara temannya yang tidak jauh dari lokasi salat. Opor ayam dan lontong tentu menjadi target makanan yang langsung ia santap karena memang Lutfi jarang memakan makanan Indonesia yang kaya akan rempah. Sayangnya, ia tidak sempat bercengkerama dengan mahasiswa asing muslim lainnya. Hal itu karena kebanyakan dari mereka lebih suka mengunjungi mall usai salat, sementara ia lebih memilih untuk mengunjungi saudara temannya. “Meski begitu, kami tetap saling bertukar pesan mengucapkan selamat idul fitri sebagai sesama saudara muslim,” terangnya. Lutfi juga tidak lupa menghubungi keluarga yang ada di tanah air. Menariknya, ia tidak bisa menggunakan Whatsapp untuk melakukan video call. Ada aplikasi khusus bernama BOTIM yang harus digunakan. Dengan begitu ia baru bisa melihat wajah dan keadaan orang yang ditelepon. “Saya tentu berdoa agar teman-teman yang bermimpi untuk menimba ilmu di negeri lain dapat terus menjaga asa. Keluh kesah pasti ada, tapi percayalah ada akhir yang cerah di ujung jalan nanti,” tegas Lutfi. Adapula Ahda Mutiari Hifdhi yang menjalani program pertukaran pelajar di Thailand. Ia menilai bahwa salat idul fitri di sana tidak seramai dan sepagi di Indonesia. Banyak tempat kosong yang tersedia, salat id juga dimulai pukul delapan pagi. Berbeda dengan Indonesia yang biasanya dimulai pukul tujuh bahkan enam pagi. “Saya salatnya di Central Mosque Songkla. Rasanya tidak seperti hari raya karena memang jarang sekali dengar takbir. Bahkan tidak kedengaran sama sekali. Tapi Alhamdulillah euforia idul fitri mulai terasa ketika sampai di halaman masjid,” jelasnya. Adapun Ahda, sapaan akrabnya mendapatkan kesempatan belajar di Negeri Gajah Putih Thailand berkat beasiswa Indonesian International Student Mobility Awars (IISMA) dari pemerintah. Ia akan menimba ilmu di salah satu kampus luar negeri selama satu semester. Tepatnya di Songkla University Hat Yai Campus. Sebelumnya, sederet mahasiswa UMM juga telah berangkat ke beberapa negara.  Ada yang terbang ke Inggris, Skotlandia, bahkan Italia. Kembali ke Indonesia, ada Rania Hamdi Ramadan Elsayed, mahasiswa asing asal Mesir yang sibuk menyelesaikan pendidikan magister manajemen di Kampus Putih. Jika banyak orang menyukai opor ayam, maka tidak dengan Rania. Ia malah lebih suka bakso Malang yang sudah menjadi menu favorit semenjak ia menapakkan kaki di Malang. “Kalau saya sedih, saya biasanya langsung mencari bakso Malang agar bisa kembali senang. Begitupun saat saya harus menjalani lebaran keempat saya jauh dari keluarga seperti sekarang ini,” ungkapnya. Meski begitu, ia mengaku senang dan bahagia bisa berlebaran di Indonesia. Alasan utamanya yakni karena orang-orang Indonesia baik, ramah dan murah senyum. Bahkan beberapa tetangganya memberikan makanan untuk disantap usai melaksanakan salat id. “Saya sangat bersyukur masih dikeliling teman-teman sesama muslim lain. Jadinya masih terasa ramai. Adapula beberapa teman mahasiswa asing lain yang berkumpul untuk makan bersama,” pungkas Rania. (wil)

Dosen UMM Tulis Buku Kenalkan Mediasi

Dalam menyeleseikan sengketa, masyarakat Indonesia cenderung memilih jalur pengadilan. Padahal ada jalan-jalan lain yang bisa ditempuh, yakni mediasi. Hal itu mendorong Tinuk Dwi Cahyani, S.H., S.HI., M.Hum., dosen hukum Universitas Muhammadiyah malang (UMM) untuk menulis buku khusus mengenai alternatif sengketa, yakni mediasi. Buku tersebut berjudul Metode Alternatif Penyelesaian Sengketa. Tinuk, sapaan akrabnya, menilai bahwa masyarakat masih kurang mengetahui bagaimana proses mediasi. Padahal ini menjadi alternatif yang bisa dicoba selain arbitrase untuk perkara perdata seperti harta bersama. Adapun dalam bukunya, ia tidak hanya menulis beragam teori saja, namun juga memberikan contoh proses dan dialog yang biasa digunakan. “Jadi pembaca bisa mengetahui dan sedikit merasakan jalannya mediasi. Di antaranya terkait bagaimana mediator membuka hingga menutup, apa yang harus disampaikan pihak satu dan pihak lainnya. Sehingga saya rasa pembaca bisa dengan mudah memahami isi buku ini,” tambah perempuan kelahiran Madiun tersebut. Ditanya terkait alasan menulis buku itu, Tinuk mengatakan bahwa di negara maju seperti Amerika Serikat, warganya sudah memahami alternatif sengketa selain melalui pengadilan. Ia ingin bukunya ini mampu memberikan sumbangsih keilmuan dan wawasan bagi masyarakat luas. Adapun produk hukum dari mediasi ini adalah akta perdamaian yang nantinya bisa didaftarkan ke pengadilan. Kemudian dijadikan sebagai penetapan maupun putusan. “Alasan lain ya agar masyarakat tidak sedikit-sedikit ke pengadilan. Apalagi kalau lewat pengadilan, prosesnya akan sangat panjang serta putusannya diberikan oleh hakim. Berbeda dengan mediasi yang di dalamnya ada negosiasi, jadi para pihak bisa menemukan jalan tengah yang baik bagi keduanya,” tuturnya. Selama menulis buku yang diterbitkan oleh UMM Press pada Maret 2022 itu, Tinuk mengaku tidak banyak mengalami kendala. Satu hal yang membuatnya kesulitan adalah minimnya literatur yang mengkaji mediasi. Berbeda dengan arbitrase yang kini sudah tersedia cukup banyak. Beruntung, Tinuk sempat mengikuti pelatihan mediator yang bersertifikat Mahkamah Agung (MA) beberapa waktu lalu. Hal itu memberikan banyak materi dan sumbangsih dalam bukunya sehingga ia tidak kekurangan bahan. Apalagi kini Tinuk merupakan seorang mediator sehingga akan banyak kasus dan pengalaman yang bisa ia bagikan di bukunya tersebut. “Saya berharap buku baru ini bisa menambah literatur dan wawasan masyarakat terkait mediasi. Dengan begitu mereka dapat lebih jelas memahami. Apalagi sudah dilengkapi dengan beberapa contoh dan dialog sehingga para pembaca bisa merasakan prosesnya,” pungkas Tinuk. (*/wil)