Hadir di Halal Bihalal UMM, Menko PMK Minta Sivitas Akademika Tingkatkan Kepekaan Sosial

Doa untuk kepentingan umum itu akan lebih mudah dikabulkan dibandingkan dengan mendoakan diri sendiri. Maka perlu adanya peningkatan nilai sosial untuk memunculkan rasa simpati. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Muhadjir Effendy, M.A.P. selaku Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI sekaligus Ketua Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun ia memberikan tausiyah dan motivasi tersebut dalam agenda Halal Bihalal Kampus Putih pada Minggu (8/5) lalu. Lebih lanjut, Muhadjir mengatakan bahwa Idul Fitri dapat diartikan sebagai kembali ke fitrah dan suci. Jadi ketika bersih, maka akan doa-doa yang dipanjatkan akan lebih mudah dikabulkan oleh Tuhan. Terutama doa-doa yang menyangkut kepentingan umum. “Sayangnya, kita kan lebih sering berdoa untuk diri sendiri. Jarang sekali kita memanjatkan doa untuk kebaikan bersama, memajukan masyarakat yang mungkin belum sejahtera,” tambahnya. Maka, dalam rangka menjadikan diri sebagai orang yang bertaqwa, perlu adanya pembiasaan diri untuk berdoa di lingkup yang lebih besar. Menurutnya, Tuhan merupakan zat yang Maha Sosial. Bahkan, dalam beberapa ayat Alquran yang menganjurkan manusia memiliki jiwa sosial tinggi. “Allah itu menyukai mereka yang berjiwa sosial tinggi. Berderma, baik di keadaan susah maupun senang, menjaga amarahnya, serta memaafkan sesama meski tidak diminta,” ungkap Menko PMK tersebut. Muhadjir juga sempat membahas mengenai tantangan yang dihadapi di era digital. Bagaimana keburukan-keburukan malah dieksploitasi dan dijadikan keuntungan. Banyak masyarakat yang dulunya bukan siapa-siapa menjadi orang yang terkenal berkat keberanian melewati batas akhlak. Meski begitu, Muhadjir mengajak sivitas akademika UMM untuk yakin bahwa kebenaran akan datang. Sementara kebatilan akan hilang sehingga kehidupan manusia menjadi lebih baik lagi. Tak lupa, ia juga mengingatkan Kampus Putih untuk tidak hanya fokus pada diri sendiri dan merasa sudah besar. Ketika UMM berusaha maju, maka sudah barang tentu perguruan tinggi lain melakukan hal yang sama. “Maka perlu adanya terobosan yang baik dibarengi dengan visi yang baik pula. Apalagi di era yang penuh dengan ketidakpastian dan ketidakstabilan seperti saat ini,” tutur Muhadjir. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatkan bahwa Ramadan boleh berlalu, tapi nilai spiritual yang sudah dibangun harus terus dipertahankan. Utamanya dalam rangka menyempurnakan kehidupan yang sudah dijalani. Menurut Fauzan, kinerja yang sudah sivitas akademika Kampus Putih lakukan merupakan bagian dan cara untuk menjadi muttaqin. Apalagi jika mampu mengisi kinerja dengan nilai spiritualitas. “Insyallah jika sivitas akademika UMM menggunakan mindset spiritual dalam mengembangkan pekerjaan, maka tentu Allah akan menurunkan hidayah dan nikmatnya yang melimpah,” tegas Fauzan. Hal serupa juga disampaikan Sekretaris BPH UMM, Drs. Wakidi. Ia bersyukur kegiatan rutin halal bihalal Kampus Putih bisa berjalan kembali dengan keadaan yang lebih baik. Pada bulan Syawal ini pula, ia berharap semua dosa sudah diampuni dan mampu menjadi kehidupan yang lebih bermanfaat. “Tantangan kita saat ini ialah menemukan cara agar bisa istiqomah berjalan di jalan yang benar. Sekalipun sudah tidak berada di bulan suci Ramadan,” pungkasnya. (wil)
Dosen UMM Jelaskan Strategi Internasionalisasi Bahasa Indonesia

Awal April lalu, Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri mengusulkan Bahasa Melayu dijadikan sebagai bahasa resmi kedua di Association of South East Asian (ASEAN). Menanggapi isu tersebut, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim juga turut mendukung Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua di ASEAN. Bahkan juga mengkampanyekannya di media sosial Kemendikbudristek dengan melakukan aksi bela bahasa. Hal itu membuat Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Faizin, M.Pd. tertarik. Melihat dari perspektif linguistik, ia menuturkan bahwa setiap negara berhak untuk mengajukan dan mengusulkan fungsi bahasa negaranya menjadi bahasa internasional Tidak terkecuali Indonesia maupun Malaysia. Faizin juga mewanti-wanti masyarakat untuk tidak perlu kebakaran jenggot. Namun harus lebih intropeksi diri, usaha apa saja yang sudah dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah dalam melakukan Bahasa Indonesia. “Bahasa Indonesia sebagai peningkatan bahasa internasional sebenarnya telah diatur di Undang-undang Nomor 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan. Untuk mewujudkannya, memang butuh kerja keras, strategi, kerjasama, dan kolaborasi antar kementerian,” tambahnya. Pria kelahiran Sumenep juga menilai bahwa Malaysia pasti memiliki keseriusan dan strategi jitu saat menginginkan sesuatu. Terkiat isu bahasa ini, mereka telah mengadakan lomba antar bahasa yang memperebutkan piala perdana menteri. Adapun pesertanya bukan hanya dari Malaysia saja, tapi juga seluruh penutur bahasa melayu di seluruh dunia. Hebatnya lagi, gelaran tersebut disiarkan oleh televise nasional bahkan internasional. Banyak dari alumni yang belajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) yang malah ikut serta dan meramaikan ajang tersebut. Meski begitu, Faizin merasa bahwa Indonesia juga memiliki potensi untuk bisa menjadi bahasa resmi kedua ASEAN. Ada beberapa strategi yang ia tawarkan dalam mempercepat proses internasionalisasi Bahasa Indonesia. Salah satunya ialah membuat kajian baru yang membahas terkait sosiologi, politik dan linguistik atau disebut juga dengan sociopolitica linguistic. Kajian itu bertujuan untuk membahas secara komprehensif mengenai strategi penyebaran aspek bahasa. “Jarang sekali ada orang bahasa membicarakan politik. Padahal yang ingin mereka capai ialah bahasa internasional. Banyak pihak yang tentunya memiliki peran strategis seperti hubungan internasional, kementerian pendidikan, balai bahasa dan lainnya,” lanjutnya. Selain itu, perlu adanya langkah serius dari pemerintah dalam menanggapi isu tersebut. Menurutnya, dari awal Indonesia sudah unggul segalanya. Satu di antaranya ialah sejarah ejaan Indonesia yang cukup kuat. Mulai dari Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi, Ejaan Pembaharuan, Ejaan Melindo, Ejaan Baru Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK), Ejaan yang Disempurnakan (EYD), hingga Ejaan Bahasa Indonesia. Faizin menilai bahwa pemerintah Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah terkait isu tersebut. Politic will dan aspek kebahasaan adalah dua di antaranya. Begitupun dengan tata bahasa yang harus senantiasa dievaluasi. Problematika bahasa serta pengayaan kosakata juga perlu dimutakhirkan. “Dengan begitu, klaim kita untuk melakukan internasionalisasi Bahasa Indonesia bisa lebih mudah ketika semua pekerjaan rumah tersebut sudah dijalankan dengan baik. Maka peran setiap pemangku kepentingan harus jelas. Begitupun dengan peningkatan kecintaan akan bahasa kita,” tegasnya. (*/wil)
Maharesigana UMM Gelar Simulasi Penyelamatan Bencana

Indonesia secara geografis berada pada jalur Ring of Fire dan juga tiga pertemuan lempeng besar. Hal ini membuat Indonesia sering mengalmai bencana. Berangkat dari hal tersebut, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) bekerjasama dengan Vertical Rescue Indonesia, melaksanakan peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB), pada Selasa (26/4) lalu. Adapun mereka melakukan simulasi penyelamatan ketika terjadi bencana. Dr. Nur Subeki, ST, . MT selaku Wakil Rektor III UMM mengatakan bahwa peringatan HKB ini menjadi momentum peningkatan kesiapan dalam mengadapi bencana. Ia bersyukur para relawan yang ada senantiasa sigap dan siap membantu ketika bencana datang. Ia berpesan agar mereka bisa terus meningkatkan kewaspadaan mengingat adanya global warming yang terjadi saat ini sehingga menyebabkan susahnya memprediksi bencana. Eki, sapaan akrabnya berharap para relawan, khususnya UMM dapat terus meningkatkan kualitas diri dan tidak pernah lelah untuk belajar. Baik itu secara strategi, taktik lapangan dan rencana. Ia juga menekankan akan pentingnya pendalaman mitigasi bencana sehingga ketika para relawan turun lapang, proses evakuasi berjalan semestinya. “Mitigasi bencana dalam peroses evakuasi menjadi hal yang krusial. Maka dari itu skill, starategi, dan taktis lapangan harus ditingkatkan,” ucapnya. Sementara itu, Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP selaku ketua Maharesigana menjelaskan bahwa pada peringatan HKB tahun ini, pihaknya juga mengundang Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lainnya. Seperti Palang Merah Indonesia (PMI) UMM, Hizbul Wathan (HW) dan Divisi Mahasiswa Pencinta Alam (DIMPA) UMM. Ke depannya, mereka akan menjadi satu kesatuan sebagai relawan Kampus Putih. Menariknya, peringatan HKB kali ini juga menyajikan demonstrasi metode penyelamatan yang dilakukan oleh tim. “Jadi, peringatan HKB ini memang menjadi momen yang tepat dalam meningkatkan kesiapan bencana. Oleh karenanya, kamu juga melangsungkan praktek di lapangan guna memberikan ilmu penyelamatan yang tepat,” tambah Indra. Sementara itu, Mukti Cahyani selaku tim Maharesigana mengaku senang HKB dapat diperingati kembali. Mengingat pada tahun-tahun sebelumnya, aktivitas ini masih terhalang pandemi. Menurutnya, agenda ini bisa menguatkan ukhuwah antar relawan Muhammadiyah serta menyatukan UKM di bidang kerelawanan menjadi satu keluarga Relawan Muhammadiyah. (haq/wil)
Kisah Mahasiswa Mesir UMM yang Empat Kali Lebaran di Indonesia

Merayakan lebaran jauh dari keluarga, memunculkan rasa rindu tersendiri. Hal tersebut yang dirasakan salah satu mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia adalah Rania Hamdi Ramadan Elsayed Mohammed Elsaba, mahasiswa asal Mesir yang bercerita pengalaman berlebaran di Indonesia. “Sejujurnya jauh dari keluarga itu tidak mudah dan tidak akan pernah mudah. Namun beruntung, saya berada di negara mayoritas muslim seperti Indonesia yang masih memberikan euphoria lebaran meskipun sedikit berbeda di negara saya. Namun, beberapa teman Indonesia saya banyak yang pulang ke kampung halaman, jadi terasa agak sepi,” sambungnya. Rania yang sudah menjalani tahun keempatnya di Indonesia meliai bahwa tidak ada perbedaan yang jauh terkait perayaan lebaran di kedua negara. Banyak yang pulang, berkumpul dengan keluarga di daerah asal. Menariknya, makanan favorit Rania saat berlebaran bukanlah opor ayam atau sejenisnya. Namun ia lebih suka menyantap bakso Malang yang bisa dengan mudah ditemui. “Saat makan Bakso Malang, suasana hati yang sedih langsung bisa terobati. Apalagi banyak yang berjualan kan di sini,” tambahnya. Lebih lanjut, ia juga lebih suka berlebaran bersama teman-teman dekatnya yang juga mahasiswa asing. Memiliki kerinduan yang sama akan keluarga semakin mendekatkan mereka. Biasanya, usai salat idul fitri, mereka berkumpul, memasak bersama, makan bersama seraya menonton film. Rania juga mengaku sangat bahagia meski harus merayakan idul fitri di Indonesia. Hal itu tidak lepas dari orang-orang Indonesia yang ramah dan suka memberikan senyum. Bahkan beberapa kali ia menerima bingkisan untuk dinikmati bersama kawan-kawannya. “Orang Indonesia itu ramah sekali. Saya tidak bisa memungkiri hal itu. Saat mereka terseyum kepada saya, senyuman mereka terasa damai dan menenangkan. Alhamdulillah meski jauh dari keluarga, saya dikeliling oleh teman-teman dan masyarakat yang ramah,” ungkap Rania mengakhiri. (Zak/Wil)
Cerita 30 Hari Dosen Fikes UMM Berpuasa di Taiwan

Melaksanakan puasa Ramadan di negeri orang selalu memiliki cerita menarik dan juga pelajaran. Hal serupa juga dirasakan oleh Muhammad Muslih, dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini sedang menempuh studi doktoral di Taiwan. “Kalau Bang Toyib tiga kali puasa tiga kali lebaran, saya sudah lima kali puasa lima kali lebaran di sini,” kelakarnya. Menjadi tahun kelimanya berpuasa di Taiwan, Muslih yang merupakan mahasiswa Taipei Medical University, Ph.D. program in Nursing ini, sudah terbiasa dengan suasana Ramadan di sana. Menurutnya, suasana di luar negeri tentu memiliki perbedaan ketimbang di Indonesia. Tidak ada yang namanya budaya membangunkan sahur hingga berburu takjil. Musim juga menjadi kendala saat pertama kali ia ke Taiwan karena berfek pada rentang waktu berpuasa yang bertambah dua jam. “ Satu-satunya yang mengingatkan kita adalah jam dan aplikasi muslim yang ada di gawai. Lamanya waktu puasa juga tergantung musimnya. Kalau April seperti ini, biasanya jam 4.15 sudah shubuh dan magrib sekitar pukul 18.24. Jadi biasanya berpuasa 14 jaman, bahkan kalau summer bisa hampir jam tujuh malam,” ungkapnya. Ia bercerita, dirinya biasanya jalan-jalan ke masjid-masjid untuk bertemu dengan saudara-saudara muslim dari berbagai negara. Selain itu, Muslih yang tinggal bersama anak dan istirinya di Taiwan juga lebih sering menyiapkan makanan berbuka. Apalagi mengingat tidak ada festival Ramadan di Taiqan yang menjual makanan berbuka seperti di tanah air. “Selama 30 hari Ramadan ini, saya biasanya main ke masjid sekalin iftar dan tarawih. Kalau ke tempat lain, rasanya sama saja seperti hari biasa. Paling seru ya ketika main ke masjid, bertemu saudara muslim dari berbagai negara, berbagi cerita dan makanan,” tambahnya. Terkait makanan, Muslih tidak memiliki makanan favorit selama di sana karena ia sering memasak sendiri bersama keluarga. Menurutnya, makanan Taiwan cenderung hambar, ebrbeda dengan Indonesia yang khas dengan rempah-rempahnya. Kalaupun ingin makan makanan Indonesia di luar, ia akan mengajak keluarganya untuk pergi sederet restoran yang menyajikan menu nusantara. “Taiwan ini merupakan salah satu dari tiga negara tujuan muslim friendly yang terbaik karena banyaknya makanan dan produk halal yang bisa jadi pilihan. Jadi tidak perlu khawatir kesulitan mendapatkannya,” ungkap Muslih. Ia juga merasa senang karena mahasiswa muslim di Taiwan seringkali mengadakan acara buka bersama kemudian dilanjutkan dengan tarawih. Acara seperti itu ia nilai bisa mempererat silaturahmi di bulan Ramadan. “Adapun salat tarawih umumnya dilakukan di masjid yang tersebar di beberapa kota. Kalau di Taipei, ada di Taipei Grand Mosque dan Taipei Cultural Mosque. Selain itu, biasanya mayoritas komunitas mahasiswa muslim di tiap tiap kampus juga mengadakan acara buka bersama dan tarawih bersama selama Ramadan,” pungkasnya. (Zak/Wil)
Bayu, Staf UMM Cerita Keunikan Puasa di Negeri Paman Sam

Menjalani bulan ramadan di negara orang merupakan suatu tantangan tersendiri. Terlebih jika negara yang sedang ditinggali memiliki penganut muslim yang minoritas. Hal itulah yang sedang dirasakan oleh Bayu Dharmala, salah satu staf Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sedang menuntut pendidikan strata dua di The University of Arizona, Amerika Serikat. Bayu, sapan akrabnya menceritakan bahwa suasana ramadhan dan hari biasa di Amerika, khususnya Arizona terasa sama. Hal ini terjadi karena pemeluk muslim merupakan minoritas di daerah tersebut. Tidak terasanya suasana ramadhan di Amerika membuat anak tunggal tersebut harus mandiri dalam mempersiapkan sahur maupun berbuka puasa. Pelaksanaan bulan puasa yang bertepatan dengan musim panas di Amerika juga menjadi tantangan tersendiri. “Ramadhan di Indonesia identik dengan kajian ramadan, patroli untuk membangunkan sahur, takjil, dan lain sebagainya. Namun suasana tersebut tidak dapat saya rasakan di Arizona. Oleh karena itu saya tidak bisa mengandalkan suara azan maupun suara orang patroli untuk mengetahui waktu sahur dan berbuka puasa. Saya hanya mengandalkan alarm di smartphone sebagai penunjuk waktu,” ungkap alumni UMM asal Pasuruan itu. Lebih lanjut, Bayu mengatakan bahwa waktu untuk berpuasa di Amerika berlangsung lebih lama di lbanding jika berada di Indonesia. Total waktu puasa di Amerika adalah 14 jam 30 menit. Sahur dimulai pukul 04.30 sampai 04.45 lalu waktu berbuka puasa adalah pukul 19.00. Sementara itu untuk waktu solat tarawih dimulai pada pukul 20.00 malam. “Di Arizona, ada satu masjid yang dekat dengan tempat tinggal saya, bernama Susan Islamic Centre. Di masjid tersebut biasanya saya melaksanakan salat tarawih berjamaah bersama dengan masyarakat muslim lainnya di Arizona. Ada beberapa hal unik yang saya alami selama menjalani solat tarawih disini. Salah satunya adalah jumlah rakaat solat yang tidak biasa. Di sini, solat tarawih berjumlah 10 rakaat dan disusul solat witir berjumlah tiga rakaat. Jadi total solat tarawih di Arizona adalah 13 rakaat,” kata Bayu. Adapula hal unik lainnya juga dialami oleh Bayu. Banyak teman-teman kuliahnya yang belum mengerti akan puasa. Karena hal tersebut, pada waktu makan siang beberapa teman sering memberi Bayu makanan berupa roti maupun coklat. “Kadang saya bingung bagaimana menolak pemberian mereka tanpa menyakiti hati. Biasanya saya menerima makanan yang diberikan lalu saya simpan untuk berbuka puasa,” ujar Bayu. Meskipun tidak bisa merasakan ramadan seperti di Indonesia, Bayu mengatakan bahwa suasana ramadhan bisa ia dapatkan dari komunitas muslim yang ada di Arizona, yaitu Muslim Student Association (MSA). Komunitas ini sering mengadakan buka puasa bersama seminggu sekali. “Berkat berkumpul bersama saudara-saudara muslim lainnya di Arizona, saya jadi merasakan bagaimana suasana ramadan. Meskipun tidak bisa menjalani puasa seperti tahun-tahun sebelumnya, namun perbedaan yang ada membuat saya memaknai lebih dalam mengenai arti bulan ramadhan,” tandasnya. (Syi/Will) Penulis: Syifa Dzahabiyyah | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Iktikaf UMM: FGD dan Penguatan Spiritual Sivitas Akademika

Sepuluh hari terakhir Ramadan, umat muslim dianjurkan memperbanyak ibadah dan kebaikan. Salah satunya melalui aktivitas iktikaf. Melihat akan hal itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan rangkaian agenda iktikaf yang dilaksanakan di Masjid AR Fachruddin UMM. Adapun acara yang dilaksanakan di sepuluh hari terakhir ini dibagi menjadi empat kelompok yakni, iktikaf dosen laki-laki, dosen perempuan, karyawan laki-laki, dan karyawan perempuan. Muhammad Edi Sucipto, S.Pd.I. selaku Ketua Panitia menjelaskan bahwa acara ini sudah menjadi tradisi UMM di bulan ramadhan setiap tahun. Namun pelaksanaannya sedikit berbeda dibandingkan dengan tahun lalu. Jika ramadan sebelumnya para peserta diharuskan menginap, kali ini mereka hanya mengikutinya sampai jam sebelas malam. Agenda yang disiapkan juga berfokus pada diskusi terpumpun serta penguatan spiritual. “Iktikaf yang menjadi bagian dari Syiar Ramadan UMM ini juga kami nilai sebagai bentuk follow akan materi-materi yang sudah disampaikan di Baitul Arqam,” tambahnya. Edi, sapaan akrabnya kembali menjelaskan bahwa FGD dalam Iktikaf ini membahas terkait masalah-masalah yang biasa warga muslim hadapi. Dimana, setiap kelasnya akan dibimbing dan didampingi oleh seorang instruktur. Setelah berdiskusi, Edi melihat akan banyak pertanyaan yang muncul terkait isu yang dibahas. Salah satu contohnya yakni kasus perbedaan tanggal awal Ramadan maupun idul fitri. Setelah sesi pleno dengan pemateri, acara ini ditutup dengan tadarus dan tadabur Alquran. Hal ini dilakukan sebagaimana pembelajaran pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan yang sering mengkaji dan mengamalkan Alquran. Pria asli Tuban ini berharap, agenda ini bisa terus dilanjutkan pada bulan Ramadan tahun-tahun berikutnya. Apalagi melihat antusiasme peserta juga tinggi. Bahkan beberapa juga menginginkan ada agenda serupa di luar Ramadan. Dengan begitu, mereka bisa dengan mudah mengisi ulang semangat untuk menjadi orang yang lebih baik. “Iktikaf Ramadan ini juga bisa digunakan sebagai salah satu forum silaturahmi antar karyawan dan dosen. Jadi bisa lebih saling mengenal sehingga lingkungan kerjanya juga ikut membaik dan mampu membangun layanan pendidikan yang baik pula,” pungkas Edi. (Syi/Wil)
RBC UMM Kaji Pemikiran dan Keteladanan Malik Fadjar

Ibarat bahan bakar dalam sebuah kendaraan, begitulah pentingnya literasi dalam membentuk paradigma humanis, damai, dan luwes. Inilah gagasan utama yang mencuat dalam Tadarus Pemikiran A. Malik Fadjar yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Cerdas (RBC) Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (20/4) lalu. Membuka jalannya diskusi, Dr. Nazaruddin Malik, M.Si selaku Wakil Rektor II UMM menjelaskan bahwa pemikiran Malik fadjar, Menteri Pendidikan RI periode 2001-2004 berangkat dari imajinasi yang kuat tentang buku dan perpustakaan. Kehidupan Malik selalu dekat dengan buku. Bahkan, dalam banyak kesempatan, kedekatan Malik dengan berbagai macam referensi, menjadikannya sebagai salah satu sosok pemikir unggul yang memiliki visi jauh melampaui zaman. Menurut Nazar, apa yang dilakukan Malik terkait perpustakaan semakin relevan untuk hari-hari ini. Sebut saja fenomena lunturnya ruh literasi masyarakat yang berakibat pada jebakan hoaks dan ekstrimisme. Tentu, perpustakaan sebagai wadah literasi adalah lokus alternatif untuk mewujudkan lahirnya pemikiran-pemikiran humanis yang luwes dan santun. Tidak pula gumunan dan ekstrem. Maka itu, Tadarus Pemikiran Islam A. Malik Fadjar yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur tersebut, dimaksudkan untuk menggali percikan-percikan pemikiran Pak Malik. Utamanya pemikiran yang selalu mengandung kesegaran dan keteladanan yang bersimpul pada satu kata kunci, yakni literasi. Sebagai tokoh pendidikan yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Malik Fadjar juga selalu melahirkan terobosan-terobosan yang tidak hanya segar, tetapi juga humanis. Hal itu disampaikan oleh Wakil Rektor I Kampus Putih Prof. Syamsul Arifin. Menurutnya, Malik senantiasa memaparkan gagasan-gagasan yang fokus pada masa depan. “Pak Malik adalah inspiring teacher dan living curriculum yang pemikirannya tidak hanya transformatif, tapi jauh cenderung futuristik, berorientasi masa depan.” ujarnya. Lebih lanjut, kekuatan gagasan Malik jauh terlihat unsur futuristiknya, meskipun sisi-sisi transformatifnya juga terlihat. Dalam hal ini, pergumulan kekuatan literasi dan aktivisme Pak Malik, mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran baru khususnya dalam dunia pendidikan. Hal ini terlihat dari bagaimana Pak Malik mampu mengembangkan UMM menjadi salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia. Hal senada juga disampaikan oleh Pradana Boy ZTF, Wakil Dekan I Fakultas Agama Islam UMM. Percikan pemikiran Islam Malik bisa dilihat melalui tiga sumbu utama, yakni Islam sebagai ilmu, pemahaman Islam yang terbuka dan proporsional, dan Islam yang melampaui formalisme. Pemikiran Islam sebagai ilmu yang terinspirasi oleh Kuntowijoyo itu tentu terdorong oleh kekuatan semangat membaca Malik yang kemudian ditelurkan ke dalam gagasan yang kontekstual. Wujud paling nyata dari semangat itu bisa dinilai dari upaya Malik memperkenalkan wacana membangun ‘keilmuan dan keislaman’ saat ia menjabat sebagai rektor Kampus Putih serta Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam pemikiran Malik, Islam tidak hanya bertumpu pada hal-hal yang berkutat pada ibadah semata, melainkan juga inspirasi pembangunan peradaban. Dalam hal ini, Malik Malik berusaha membawa Islam melampaui sekat-sekat formalisme. “Misalnya, ketika Pak Malik berbicara tentang arabisme, ada semacam bias antara keislaman dan kearaban,” terang Boy. (wil) Penulis: Hassanalwildan Ahmad Zain | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Kepedulian Bengkel Rinjani UMM lewat Bukber dan Sahur on The Road

Bulan Suci Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah, baik untuk memperoleh pahala maupun untuk menyambung tali silaturahmi. Hal itu mendorong Bengkel Rinjani Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menggelar buka bersama (bukber), berbagi takjil, serta sahur on the road (SOTR) selama Ramadan. Ratusan takjil, makanan dan minuman dibagikan sebagai upaya memanfaatkan bulan Suci. Aktivitas ini turut diramaikan oleh lembaga kursus pelatihan RSDC, instruktur pelatihan mekanik, siswa RSDC, Komandan Dohar Alutista Arhanud, Muhammadiyah University Riders (MURid), UMM Adeventure (UMMad), UPT Pujon Hills dan beberapa kolega. Adapun agenda buka bersama dan bagi takjil berlangsung pada Kamis (21/4) lalu. Dimulai sejak sore hingga menjelang berbuka. Usai membagikan makanan, Bengkel Rinjani juga menyediakan tausiyah sebelum berbuka kemudian ditutup dengan ramah tamah. General Manager Bengkel Rinjani UMM, Eka Kadharpa Utama Dewayani, SE. MM. mengatakan bahwa pada dasarnya rangkaian agenda tersebut bertujuan untuk membagi rezeki ke sesama. Selain itu juga sebagai wadah silaturahmi dengan para stakeholder. Menurutnya, Ramadan menjadi awal yang baik untuk membangun kebiasaan yang mulia, salah satunya berbagi. “Acara ini juga bertujuan untuk membangun jejaring dengan kawan-kawan lain. Di samping itu juga sebagai tempat untuk saling bertukar pengalaman da inovasi. Kita kan hidup di lingkungan bisnis, maka sudah barang tentu memerlukan jaringan yang banyak untuk melancarkannya. Intinya ya silaturahmi,” ungkapnya. Tidak berhenti sampai di situ, tim Bengkel Rinjani juga melangsungkan SOTR dua hari kemudian. Berangkat sejak pukul dua belas dini hari, mereka membagikan ratusan paket makanan kepada para masyarakat yang membutuhkan. Tidak terbatas pada pemulung saja, tapi juga pekerja proyek, tukang becak, petugas pembersih sampah dan lainnya. “Saya rasa ini juga satu upaya kita membiasakan kawan-kawan untuk menebar kebaikan. Tidak hanya di bulan Ramadan saja, tapi juga di hari-hari lain,” tambah dosen asli Malang tersebut. Eka, sapaan akrabnya berharap kegiatan bagi-bagi ini bisa terus dilanjutkan dan dijadikan kegiatan rutin bulanan. Menurutnya, bulan suci hanyalah awal. Semua kebaikan harus terus dilanjutkan baik ibadah kepada Allah SWT maupun menebarkan kebaikan ke sesama. (Ros/Wil)
Baksos di Pujon dan Ngantang Akhiri Rangkaian Syiar Ramadan UMM

Kegiatan bakti sosial (Baksos) akhiri rangkaian panjang Syiar Ramadan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Membawa rombongan besar, tim Kampus Putih berangkat menuju lokasi, yakni Pujon dan Ngantang, Kabupaten Malang pada Rabu (27/4). Adapun baksos ini merupakan bagian dari program UMM Berbagi untuk Negeri yang sudah dilaksanakan Kampus Putih sejak lama. Sebelumnya, UMM berbagi untuk negeri telah melaksanakan beragam kegiatan. Mulai dari berbuka bersama Lapas Prempuan, berbagi hewan kurban, menyambangi korban bencana gempa, dan lain sebagainya. Pada kesempatan kali ini, tim UMM tidak hanya memberikan bantuan berupa sembako, tapi juga menyediakan pemeriksaan kesehatan untuk masyarakat dan konsultasi parenting. Selain itu juga mengajak bermain anak-anak, mendongeng hingga menyuguhkan bacaan menarik melalui mobil Kamis Membaca (KaCa) dan Bakti terhadap Negeri (Terbang). Rombongan Muhammadiyah University Riders (MURid) juga menyertai baksos kali ini. Melepas keberangkatan rombongan baksos, Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menilai bahwa aktivitas ini menjadi upaya Kampus Putih untuk turut serta membagi berkah. Utamanya di bulan suci Ramadan yang sebentar lagi berakhir. Ia juga menyampaikan bahwa UMM siap memberikan kontribusi untuk negeri dengan berbagai kegiatan. Utamanya yang mampu memberikan senyuman. Nazar, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa alokasi dana yang digunakan bersumber dari infaq para karyawan dan dosen serta masyarakat luar yang juga ingin berkontribusi. Para donatur juga turut memberikna sumbangsih sehingga dana yang terkumpul bisa disalurkan dengan baik kepada mereka yang membutuhkan. “Semoga apa yang kita upayakan ini mendapatkan rida dari Allah SWT. Saya juga berharap model baksos yang dilakukan ke depannya bisa dikembangkan dan disleenggarakan dengan bentuk yang lain,” tambahnya. Sementara itu, Koordinator Baksos dr. Sri Adila Nurainiwati, Sp.KK. mengatakan bahwa pihaknya membawa banyak rombongan yang memiliki perannya masing-masing. Sebut saja mobil pick up yang membawa paket sembako, Mobil KaCa yang menyediakan permainan dan bacaan, Mobil terbang yang juga menyediakan bingkisan bagi anak-anak yang hadir, dan sederet rombongan lain. “Tidak lupa, kami juga membawa mobil ambulance dengan beberapa dokter untuk menyediakan pemeriksaan kesehatan serta konsultasi parenting gratis kepada masyarakat. Dengan begitu, mereka bisa mengetahui kondisi kesehatan sehingga dapat segera diatasi jika ternyata menderita penyakit,” tuturnya. Ninin, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa pihaknya akan menyasar dua lokasi, yakni Pujon dan Ngantang. Adapun penyerahan bantuan telah diberikan di SDN Bendosari 1 Pujon yang langsung diterima oleh Kepala Desa. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan dan pelaksanaan program di Ngantang. “Kami juga melangsungkan berbuka bersama para warga untuk memperkuat persaudaraan. Semoga apa yang kami lakukan ini bisa menginspirasi teman-teman lain untuk turut serta membagi dan mengadakan agenda yang sama demi menyunggingkan senyum ke sesama,” tambahnya. Kunjungan UMM disambut baik oleh masyarakat, salah satunya Vanessa Aulia Triananta yang ikut bermain bersama tim Mobil KaCa. Ia merasa senang bisa ikut bersenang-senang bernyanyi bersama, serta mendapatkan hadiah dari kakak-kakak Mobil KaCa Kampus Putih. “Menyenangkan sekali bisa bermain beragam permainan bersama teman-teman. Apalagi ada buku-buku menarik dengan gambar-gambar bagus yang bisa kami baca. Terimakasih kakak-kakak,” tutur Vanessa. (*wil)