Pengalaman Mahasiswa UMM Berpuasa di Uni Emirat Arab

Dapat menjalani puasa ramadhan di negara dengan kebudayaan Islam yang kental seperti Uni Emirat Arab merupakan impian bagi sebagaian masyarakat muslim. Keberuntungan tersebut datang kepada Lutfiana Sausan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sedang menjalani program pertukaran pelajar Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) 2022 di Abu Dhabi. Pertama kali menjalani bulan ramadhan di negara orang membuat Lutfi memiliki segudang pengalaman baru. Lutfi menjelaskan kalau waktu sahur dan berbuka selalu berbeda di tiap harinya. Dari hari kehari waktu salat subuh terus maju, sementara waktu untuk salat magrib terus mundur. Hal ini membuat waktu puasa semakin panjang tiap harinya. Selain itu Iklim di Abu Dhabi sangat panas. Pada siang hari suhu bisa mencapai 42 derajat celsius. Dengan iklim yang sepanas itu, anak terakhir dari tiga bersaudara ini mengaku bahwa ia sangat menghindari kegiatan di luar ruangan selama siang hari. “Awal puasa saya sahur pukul 04.30 dan berbuka pukul 18.48. Namun sekarang saya sahur pukul 04.26 dan berbuka pada pukul 18.55. Karena perbedaan waktu yang sering terjadi, saya dan teman-teman harus memperhatikan waktu dengan lebih baik,” ujar mahasiswa teknik industri tersebut. Sementara itu, untuk menunaikan ibadah salat tarawih Lutfi memilih masjid terbesar ketiga di dunia yaitu Masjid Agung Sheikh Zayed. Lutfi bercerita, untuk menuju ke Masjid Agung Sheikh Zayed, ia dan teman-teman harus menempuh jarak sejauh 14 kilometer tiap harinya. Dengan jarak tersebut Lutfi memerlukan waktu satu jam menggunakan bus dan 14 menit menggunakan taksi. “Secara umum, pelaksanaan salat tarawih di sini sama seperti di Indonesia. Cuma, untuk sepuluh hari terakhir solat tarawih dan witir dipisah. Pelaksanaan salat witir akan dilangsungkan tengah malam bersamaan dengan salat tahajud. Hal yang membuat saya takjub adalah dengan luas masjid yang sebesar itu, tiap hari selalu penuh dengan orang. Protokol covid juga diterapkan dengan ketat, salah satu contohnya adalah pembagian disposable prayer mat sekali pakai kepada para jamaah,” ungkap Lutfi. Pengalaman unik lain yang ia alami adalah bisa merasakan makanan dari seluruh dunia. Di awal bulan ramadhan, Lutfi dan mahasiswa internasional lainnya melakukan buka puasa bersama di asrama. Masing-masing mahasiswa membawa makanan khas dari negaranya. “Biasanya untuk berbuka puasa, saya membeli roti khas mesir bernama Umm Ali. Roti tersebut sekaligus menjadi makanan favorit saya selama di sini. Namun pada saat berbuka bersama dengan mahasiswa internasional lain, saya merasa sangat terpukau karena meja makan kami dipenuhi dengan makanan-makanan internasional yang baru pertama kali saya lihat. Ada satu makanan yang menjadi favorit saya saat itu yaitu olahan daging dengan yoghurt serta terdapat taco diatasnya,” jelas mahasiswa asal Malang itu. (*/wil)
KBB UMM Berbagi Kasih lewat Makanan Berbuka

Berbagi dan menebar kebaikan menjadi salah satu komitmen yang tidak hanya dipegang teguh oleh Universitas Muhammadiyah malang (UMM) sebagai instansi. Para sivitas akademika Kampus Putih juga melakukannya dengan konsisten. Salah satunya pembagian menu buka oleh Kelompok Berbuat Baik (KBB) UMM. Setiap harinya, mereka membagikan lebih dari 230 nasi kotak bagi para jamaah dan masyarakat selama bulan Ramadan. Thathit Manon Andini, M.Hum. selaku bendahara menjelaskan bahwa aktivitas ini sudah dilakukan sejak bertahun-tahun lalu. Berawal dari program Jumat berbagi, kemudian berlanjut dan dikembangkan pada bulan suci Ramadan. Menariknya, banyak dosen dan karyawan yang turut memberikan sumbangan sehingga jumlah nasi yang diberikan selalu bertambah. “Bukan hanya yang masih aktif, namun banyak pula dosen dan karyawan pensiun yang turut serta dalam kegiatan berbagi ini. Kami juga membuka kesempatan bagi pihak luar untuk ikut serta berdonasi dalam setiap kegiatan yang kami lakukan,” tambahnya. Thatit, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa pembagian makanan tersebut dilakukan setiap hari di Masjid AR. Fachruddin UMM dan Masjid KH Bedjo Dermo Leksono RS UMM. Sebagian juga dibagikan kepada masyarakat untuk menu berbuka. Bahkan dulu sebelum pandemi, tidak hanya dua masjid saja tapi KBB juga menyediakannya di seluruh masjid UMM. Menariknya, KBB tidak hanya melakukan kegiatan rutin semacam ini. Ada program insidental yang sering dilangsungkan, seperti pemberian stroller bagi mereka yang membutuhkan. Begitupun dengan penyaluran donasi ke para korban bencana yang beberapa waktu lalu terjadi. “Alhamdulillah, sampai saat ini ada lebih dari 50 trolly yang kami bagikan kepada masyarakat yang membutuhkan seperti para penjual jamu. Saat membuka donasi, para warga juga sangat antusias dengan memberikan hal-hal terbaiknya,” ungkap dosen asal Kediri tersebut. Thatit juga ingin agar KBB bisa menjadi salah satu wadah untuk berbagi dan membantu sesama. Di samping itu, KBB juga ingin bisa terus memfasilitasi para dosen dan karyawan untuk aktif berbagi serta menyisihkan sebagian hartanya. “Kalau membaginya secara individu sendiri-sendiri, saya rasa akan sulit dan kurang efektif. Berbeda kalau pembagiannya dilakukan secara kolektif dan bersama. Insyaallah lebih mudah dan efisien serta lebih cepat sampai kepada mereka yang membutuhkan,” pungkas dosen prodi Bahasa Inggris tersebut. (*wil)
Ahda, Mahasiswa UMM Habiskan Ramadan di Negeri Gajah Putih

Menghabiskan bulan ramadhan di negara minoritas muslim merupakan sebuah tantangan tersendiri. Hal itu pula yang dialami oleh Ahda Mutiari Hifdhi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sedang menjalani program pertukaran pelajar Indonesia International Student Mobility Awards (IISMA) 2022 di Thailand. Selama hampir sebulan menjalani puasa di negeri orang, Ahda, sapaan akrabnya menceritakan berbagai pengalaman menarik yang ia alami di bulan Ramadan tahun ini. Mayoritas masyarakat Thailand adalah penganut Budha. Ahda mengatakan hanya minoritas kecil masyarakat yang menganut agama selain Budha, termasuk agama Islam. Oleh karena itu, suasana Ramadan di negara gajah putih tersebut terasa seperti hari-hari biasa. “Saya berada di daerah Hat Yai yang memiliki populasi pemeluk Islam lumayan banyak, namun bulan Ramadan tetap tidak terasa seperti di Indonesia. Menemukan masjid juga sangat susah di daerah ini. Oleh karenanya, untuk salat tarawih biasanya saya dan teman muslim saya lakukan di kamar masing-masing. Kadang kami juga melakukan salat berjamaah. Untuk waktu azan dan imsak, kami mengandalkan pemberitahuan dari smartphone,” ujar mahasiswa program pertukaran pelajar di Prince of Songkla University Hat Yai Campus tersebut. Meski tidak bisa melaksanakan ibadah Ramadan seperti di Indonesia, anak pertama dari dua bersaudara itu mengatakan bahwa toleransi antar agama di Thailand sangat baik. Di sekitar tempat tinggalnya, ia bisa menemukan banyak makanan halal. Ada satu momen unik yang Ahda alami ketika akan membeli makanan, yaitu penjual yang dengan jujur mengatakan bahwa makanannya haram dikonsumsi oleh muslim. “Waktu itu, saya dan teman sedang memesan makanan di salah satu rumah makan. Namun sang pemilik dengan baik hati mengingatkan kami bahwa makanan yang ia jual mengandung bahan yang haram bagi muslim. Di situ saya sangat merasa berterimakasih dan takjub karena sang penjual rela kehilangan pembeli demi mengingatkan kami,” kenang Ahda. Menariknya lagi, beberapa hari sebelumnya, Ahda mendatangi salah satu festival yang bertepatan bulan puasa, yakni Festival Songkran. Meski bukan festival Ramadan, namun ia dan kawan-kawannya merasa senang karena banyak makanan yang bisa dicoba serta suasana yang ramai. “Jadi festival itu sebenarnya untuk memperingati tahun baru Thailand. Saya dan teman-teman juga menyempatkan berbuka puasa di agenda tersebut,” tambahnya. Lebih lanjut, Adha mengaku kalau ia merindukan makanan-makanan Indonesia, terutama menu takjil yang gampang ditemui di jalan-jalan Indonesia. Untuk mengobati rasa rindunya, ia sering pergi ke pasar untuk mencari jajanan khas Thailand yang mirip dengan takjil Indonesia. “Untuk berbuka puasa, saya suka beli Thai tea atau mango sticky rice karena rasanya manis. Lalu untuk makan beratnya, saya suka sup daging kuah tom yum bening pakai nasi atau kalau lagi bosan saya beli pad thai atau clear noodle soup. Meskipun begitu, saya sangat rindu makanan Indonesia. Saya sampai membuat list makanan dan minuman yang akan saya makan ketika pulang, seperti kolak, nasi padang, dan bakso,” ujar mahasiswa asal Purwokerto ini. Selain rindu makanan Indonesia, mahasiswa teknik industri UMM ini juga mengaku sangat merindukan keluarganya di Indonesia. oleh karenanya ia sering berbagi foto makanan dan minuman apa yang ia konsumsi kepada keluarga. “Saya sering video call ketika ada waktu senggang. Keluarga juga sering menanyakan menu berbuka maupun sahur saya. Itu cukup mengobati rasa rindu yang saya rasakan selama di Thailand,” ucapnya mengakhiri. (Syi)
Bareng Mahasiswa Asing, UMM Wujudkan Mimpi Anak-anak YPAC Naik Bis Keliling Kota

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu berkomitmen untuk menebar manfaat dan membantu sesama. Terbaru, tim Kampus Putih mengajak anak-anak Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang untuk jalan-jalan berkeliling kota. Dilanjutkan dengan sederet hiburan, menonton film bareng, penyerahan donasi dan mainan anak-anak, cerita dongeng, bermain permainan asyik hingga berbuka bersama pada Sabtu (23/4) lalu. Anak-anak YPAC juga diajak naik bis melewati alun-alun, balai kota, velodrome hingga lapangan rampal. Mereka terlihat antusias dan sering bertanya kepada para mahasiswa yang menjadi pemandu. Menariknya, ada beberapa mahasiswa asing Kampus Putih yang turut serta dan terjun menghibur. Dalam agenda itu pula, Kampus Putih memberikan donasi dan sekardus mainan. Kemudian menutup hari dengan berbuka puasa bersama para penghuni YPAC Malang. Koordinator acara, M. Isnaini, M.Pd. mengatakan bahwa acara ini merupakan “hutang” yang belum terlaksana pada 2018 lalu. Saat itu tim UMM berkunjung dan menanyakan kepada anak-anak YPAC, cita-cita apa yang ingin dilakukan. “Kemudian banyak dari mereka yang ingin berkeliling kota dengan mengendarai bis, melihat hal-hal menarik yang jarang mereka jumpai di luar. Sempat terkendala karena pandemi, Alhamdulillah mimpi sederhana mereka dapat Kampus Putih kabulkan di tahun 2022 ini,” ungkapnya. Krisna, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa tim Kampus Putih sengaja mengajak mahasiswa asing untuk turut serta. Hal itu dirasa bisa meningkatkan rasa kepedulian serta kemanusiaan. Sekalipun masih dibatasi oleh sekat bahasa yang ada. “Ini ada beberapa teman teman asing yang memang baru datang dan belajar Bahasa Indonesia. Kosa katanya masih terbatas namun sama sekali tidak membatasi untuk menebar kebahagiaan dan senyum bersama teman-teman YPAC,” tambah Dosen Bahasa Indonesia UMM itu. Adapun kerja sama dan agenda ini akan selalu dilakukan Kampus Putih di masa yang akan datang. Tidak hanya di YPAC saja, tapi juga di sederet instansi lain sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat yang diupayakan oleh UMM. Sementara itu, Ketua Yayasan YPAC Malang Iswahyudi Budi Susetya mengtakan bahwa pihaknya baru saja membuka kunjungan. Sebelumnya, YPAC tidak menerima kunjungan karena masih berada di situasi pandemi dan angka penularan yang tinggi. Yudi, sapaan akrabnya mengaku bahwa biasanya banyak mahasiswa yang menyempatkan datang. Bermain bersama adik-adik YPAC dan bernyanyi bersama. Ia juga bersyukur masih banyak masyarakat yang memperhatikan yayasan ini, salah satunya UMM. “Kampus Putih memang sudah dari lama ingin mampir dan mengajak adik-adik berkeliling kota. Alhamdulillah bisa terlaksana pada sore hari ini,” kata pria asli Malang tersebut. Yudi juga menekankan bahwa YPAC yang berdiri sejak 1955 ini adalah milik masyarakat. Ia sangat berterimakasih kepada para donatur yang memberikan banyak hal bagi para penghuni. Ditambah lagi dengan banyaknya social worker yang membantu melaksanakan kegiatan sehari hari. “Kami tentu menerima segala bantuan selama itu berguna bagi adik-adik di sini. Kami juga berharap YPAC Malang mampu berjalan dengan mandiri,” pungkas Yudi. (Wil)
Dua Mahasiswa Fisioterapi UMM Raih Penghargaan di PIMAF

Rentetan Prestasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berlanjut di bidang akademik. Kali ini Syi’ar Aprillia Tanazza dan Lina Mitsalina Erawati, dua mahasiswa Fisioterapi UMM berhasil meraih Best Speaker dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Fisioterapi (PIMAF). Adapun event tersebut diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia (IMFI), pada Rabu (20/4) lalu. Syi’ar Aprillia selaku perwakilan tim meyebutkan bahwa paper penelitian yang diikutsertakan pada perlombaan ini berjudul “Analisis FIntervensi Fisioterapi Pada Penyekit Parkinson Menggunakan Vosviewer”. Paper itu menjelaskan terkait penyakit parkinson disease serta cara pencegahan dan penyembuhannya. Adapun parkinson desease adalah penyakit yang menyerang sistem syaraf. Mengganggu kemampuan tubuh dalam mengendalikan dan mengontrol gerakan. “Selain itu, parkinson ini memiliki efek nyeri otot dan tremor pada tubuh. Biasanya parkinson menyerang dan diderita mereka yang berumur 50 tahun keatas,” jelasnya. Ada tiga terapi untuk parkinson, baik itu untuk mencegah ataupun menyembuhkan. Pertama yakni intervensi konvesional yang lebih memaksimalkan kemampuan fisioterapis dan latihan penguatan. Selanjutnya intervensi modern yang mengedepankan teknologi yang dapat memulihkan syaraf, salah satunya infra merah. Terakhir yakni intervesi music and dance yang menjadi inovasi pengobatan parkinson di Indonesia. Para pasien diajak menari dengan mengikuti irama musik yang mana memberikan efek rileks untuk syaraf. “Intervesi musik dan tari ini bisa diaplikasikan di sini dengan menggunakan tari lokal Indonesia, mengingat intervensi ini baru dilakukan di Argentina dengan tari Tango,” ucapnya. Mahasiswa asli Sumbawa ini menceritakan bahwa selama presentasi, ia dan tim tidak mengalami kegugupan dan sudah menyiapkan persiapan matang. Mulai dari pendalaman materi, penguasaan panggung hingga dan yang paling penting adalah upaya untuk memberikan pemahaman bagi audiens. Persipan tersebut pun tidak sia-sia, bahkan membuahkan hasil dengan predikat best speaker pada ajang PIMAF ini. Namun, bukan berarti keberhasilan tersebut tanpa diiringi dengan halangan. Salah satu yang ditemui adalah kurangnya penelitian terbaru yang mengkaji materi terkait. Di akhir wawancara, ia berharap intervensi musik dan tari ini bisa dikembangkan dan diaplikasikan di Indonesia. Apalagi mengingat Indonesia memiliki budaya tari yang bermacam-macam. Sehingga dapat meningkatkan kesembuhan penderita parkinson. Ia juga berharap semangat penelitian dan belajar tetap membara dalam diri semua mahasiswa. “Jangan pernah takut berkompetisi karena dengan ajang itulah kita bisa mengukur kemampuan diri serta mengetahui luasnya dunia. Kemudian kita bisa meningkatkan dan memperbaiki diri sehingga mampu berprestasi,” ujarnya. (haq/wil) Penulis : Syarifuddin Raisul Haq K. I Editor : Hassanalwildan Ahmad Zain
Tiga Mahasiswa UMM Bawa Pulang Medali Pencak Silat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak henti-hentinya melahirkan prestasi-prestasi baru di bidang akademik maupun non-akademik. Teranyar, tiga mahasiswa Kampus Putih sukses membawa pulang tiga medali dalam ajang Pekan Olahraga Mahasiswa (Pomprov) Jawa Timur 2022, akhir bulan lalu. Rafif Naufal Sembiring, mahasiswa Fakultas Hukum adalah salah satunya dengan membukukan medali perak di kategori tanding kelas I putra. Adapula Iqbal Maulana Mandala yang memenangkan medali perak kelas B putra dan Ijti Hadia, mahasiswa Agroteknologi yang membawa pulang perunggu di kelas C putri. Birin, sapaan akrab Rafif Naufal Sembiring menceritakan ketertarikannya akan pencak silat sejak 2011 lalu. Sebelumnya, Birin juga sudah mengoleksi banyak medali dan piala di cabang olahraga pencak silat. Sehingga ia tidak begitu terkejut bisa menjadi salah satu pemenang dalam ajang Pomprov kemarin. Salah satu faktor utama kemanangannya dan dua temannya adalah keuletan. Kemudian juga persiapan fisik dan teknik agar mampu meraih hasil maksimal di setiap perlombaan. Ia juga menekankan bahwa tiap atlet memang diminta berusaha sebaik mungkin dan bertanggung jawab akan fisiknya masing-masing. “Saya ingat saat beberapa waktu lalu harus berusaha menurunkan berat badan. Ada sekitar 25-26 kg yang berhasil saya turunkan dalam rentang waktu satu bulan setengah. Tentu saja dengan upaya dan olahraga yang sungguh-sungguh. Belum lagi saya juga sempat mengalami cedera lutut di kedua kaki saya beberapa minggu sebelum bersaing di ajang terkait,” tambah Birin. Meski optimis, ia juga merasa harus meminta maaf kepada banyak pihak karena hasil yang ia dan teman-teman di Pomprov belum maksimal. “Terutama juara dua yang saya dapat. Namun, saya sangat berterimakasih kepada UMM yang senantiasa mendukung karya dan usaha para atlet. Begitupun dengan teman-teman seperjuangan yang sudah mengeluarkan keringatnya. Semoga di kompetisi selanjutnya, kontingen Kampus Putih dapat memenangkan lebih banyak medali,” harapnya. Terakhir, Birin juga berpesan kepada mahasiswa lain untuk terus berusaha berprestasi, sekalipun di masa pandemi. Menurutnya, manusia harus bisa melawan batasan diri untuk bisa menjadi sosok pirbadi yang lebih baik dari sebelumnya. “Karena sejatinya lawan terberat kita adalah diri kita sendiri,” pungkasnya. (zak/wila) Penulis : Novia Zahrotun Zakiyatina l Editor : Hassanalwildan Ahmad Zain
Upaya UMM Bangun Masyarakat Islam yang Moderat dan Berkemajuan

Islam moderat dan Islam berkemajuan merupakan identitas persyarikatan Muhammadiyah sejak awal didirikan. Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, telah mengimplementasikan Islam moderat ke berbagai pembangunan dalam perjalanannya. Oleh karenanya, Tadarus Ramadhan yang selenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membahas mengenai Alquran sebagai perwujudan masyarakat Islam yang berkemajuan. Adapun agenda tersebut digelar secara luring di Dome UMM, Sabtu (16/4) lalu. Salah satu pemateri Dr. Hamim Ilyas, M.A, menjelaskan bahwa salah satu aspek untuk menciptakan masyarakat Islam moderat yakni melalui pembangunan sistem sekolah yang berbeda pada zamannya. Hingga akhirnya, penerapan Islam moderat semakin meningkat dan berkembang. Lebih lanjut, masyarakat yang ingin dibangun oleh Muhammadiyah adalah masyarakat yang utama, adil, makmur, dan di ridhoi oleh Allah SWT. Pembentukan masyarakat sesuai kriteria-kriteria tersebut bukan tanpa alasan. Mewujudkan masyarakat utama berarti masyarakat yang berada di atas rata-rata. Diharapkan dengan adanya masyarakat ini, warga Muhammadiyah akan selalu menjadi yang terdepan dalam berbagai kebaikan atau yang biasa disebut dengan fastabiqul khairat. “Sementara itu, masyarakat yang adil akan membawa kedamaian bagi masing-masing individu. Untuk pembentukan masyarakat yang makmur, tidak terbatas pada bidang ekonomi saja tetapi juga di bidang pendidikan dan kesehatan. Sementara konsep masyarakat yang diridai oleh Allah SWT terangkum dalam surat Al-Fajr ayat 27-30 yang terjemahannya berbunyi Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku,” ungkap pria asal Klaten tersebut. Lebih lanjut, Hamim sapaan akrabnya mengatakan bahwa Islam berkemajuan merupakan merupakan wakil yang tepat dari Islam rahmatan lil alamin. Ada tiga ciri dari islam Islam rahmatan lil alamin yaitu sejahtera, damai atau tidak dalam ketakutan, dan bahagia. Menariknya, ketiga hal tersebut selaras dengan masyarakat yang ingin dibangun oleh Muhammadiyah. “Dalam pembangunan masyarakatnya, Muhammadiyah juga bertumpu pada Alquran Surat Albaqarah. Di dalamnya ada beberapa ciri-ciri masyarakat islam yang baik, satu di antaranya yakni berjiwa besar. Ketika seseorang sudah berjiwa besar maka pikiran dan langkah yang diambilnya pun juga akan besar. Kemudian ciri kedua yakni adanya sistem sosial yangegalitarianism atau kesamaan hak dan kewajiban. Dan yang terakhir adalah kepribadian masyarakat yang selalu berada di depan kebaikan,” kata wakil ketua majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiya tersebut. Disisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa kajian ramadhan ini dilaksanakan rutin setiap harinya selama satu bulan penuh. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan kesadaran para sivitas akademika terkait hak serta kewajibannya terhadap Allah SWT. Selain itu juga meningkatkan hubungan baik dengan sesama manusia. “Kesadaran itu berada di wilayah yang sangat abstrak. Namun, jika kesadarannya telah dibangun, maka akan bermunculan pula produk-produk keimanan dan muamalah yang berada di garis Allah SWT. Oleh karenanya, kita sebagai warga Muhammadiyah tidak boleh berhenti mengupdate kesadaran masing-masing,” tandasnya mengakhiri. (syi/wil) Penulis: Syifa Dzahabiyyah | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Latihan Kepemimpinan Mahasiswa UMM Wujudkan Generasi Sociopreneur

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya ingin mahasiswa mampu mengusai kemampuan entrepreneurship. Lebih dari itu, para mahasiswa harus mampu menginisiasi dan menjadi seorang sociopreneur. Hal itulah yang menjadi spirit dalam rangkaian Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) yang mengkaji mengenai sociopreneurship dan spirit eksistensi organisasi. Adapun LKMM yang dilaksanakan selama tiga hari sejak Selasa (19/4) lalu ini, diikuti lebih dari 170 peserta fungsionaris dari lembaga intra mahasiswa hingga unit kegiatan mahasiswa di UMM. Menjadi pemateri pertama, Sekretaris Diktilitbang PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., P.hD. menjelaskan bagaimana kondisi Islam dan spirit socopreneurship di kalangan mahasiswa. Menurutnya, kepemimpinan merupakan salah satu skill yang berharga. Tidak hanya untuk masa sekarang, namun juga bagi masa depan. Sayuti, sapaan akrabnya juga mendorong mahasiswa untuk menjadi bagian dari solusi di masyarakat. salah satu jalannya yakni melalui sociopreneurship. Berbeda dengan model bisnis yang hanya memperkaya diri, sociopreneurship tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri. Namun juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat. “Bisnis konvensional nyatanya memperlebar kesenjangan antara yang kaya dan miskin, menekan pihak yang lemah, dan cenderung merusak lingkungan. Namun sociopreneurship tidak seperti itu, malah harus mendorong masyarakat menuju kondisi yang lebih baik,” tambahnya. Alumni Newcastle University itu juga mengajak peserta untuk memaksimalkan aspek digital dan teknologi. Memperhatikan tiga situasi penting yakni sebelum pandemi, ketika pandemi serta era di mana pandemi berakhir. Apalagi muncul banyak perkembangan di bidang otomasi dan artificial intelegent. Maka perlu kesiapan dari mahasiswa untuk bisa menguasai dan menggunakannya untuk kebaikan. “Begitupun dengan perkembangan digital Indonesia yang pesat. Diiringi dengan model bisnis online yang meningkat lima kali lebih cepat. Maka, saudara-saudara diharapkan mampu memanfaatkannya dan menjadi sociopreneur mumpuni yang mampu menebar manfaat ke sesama,” jelas Sayuti. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa LKMM hadir dalam rangka membekali peserta untuk memasuki bonus demografi dan era indonesia emas. Kampus Putih juga sudah membuat berbagai fasilitas untuk mengantarkan mahassiwa memiliki keahlian di bdiang tertentu sesuai passion. Begitupun dengan high skill leadership. “Saat ini, kami juga tengah merancang sebuah fasilitas yang kita sebut dengan Center of Future Works. Program ini akan mengarahkan belasan Center of Excellence UMM untuk membentuk sumber daya manusia yang berorientasi pekerjaan masa depan. Rencananya program ini akan berlokasi di wilayah Karang Ploso dan bekerja sama dengan Kawasan Ekonomi Khusus Singhasari,” terang Fauzan. (wil)
UMM Undang Awak Media Ngaji dan Buka Bersama

Dalam rangka menjalin silaturahmi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengundang para awak media dan melangsungkan pengajian menjelang magrib serta berbuka bersama pada Selasa (19/4) lalu. Tidak hanya menyajikan kajian Islami menjelang berbuka, para tamu juga disuguhi dengan santapan menarik serta pemandangan indah dari Rooftop Rayz Hotel. Dr. Nurbani Yusuf, M.Si yang didapuk sebagai pemateri mengingatkan akan pentingnya kejujuran dalam mengemban pekerjaan, utamanya wartawan dan jurnalis. Menurutnya, pekerjaan yang bersinggungan dengan media memiliki tantangan tersendiri, bahkan bisa diibaratkan berada antara surga dan neraka. Apa yang diberitakan bisa jadi sebagian dari ghibah, atau malah menjadi sebuah fitnah. Beberapa kisah sahabat dan sufi berkaitan dengan penyebaran informasi disampaikan oleh Nurbani, panggilan akrabnya. Salah satunya cerita tentang seorang qodhi bernama Nasruddin. Ia diberitakan telah melakukan korupsi yang banyak di Baghdad. Hingga membuatnya harus mengundurkan diri. Menariknya, dua tahun setelah kemundurannya, Nasruddin dinyatakan bersih dan tidak bersalah. “Kemudian seseorang yang sebelumnya memberitakan korupsinya merasa bersalah dan berinisiatif untuk meminta maaf. Nasruddin berkata bahwa ia tentu akan memaafkannya, namun dengan satu syarat. Ia meminta orang tadi untuk membawa satu karung tepung esok hari,” tutur Dosen UMM tersebut. Lebih lanjut, hari yang ditunggu pun tiba diiringi dengan angin yang cukup kencang. Lalu Nasruddin meminta orang tadi untuk mengangkat tepung dan mengangkatnya ke langit hingga terbawa angin. Begitu terus hingga satu karung tepung itu terkuras habis. Kemudian Nasruddin berkata “Aku akan memaafkan salahmu, asal kamu bisa mengambil bersih tepung yang sudah tertiup angin tadi”. “Dari sini dapat kita lihat bahwa menyebarkan informasi yang tidak benar memiliki konsekuensi. Jika dosa syirik hubungannya hanya kepada Allah, tidak dengan bergosip maupun fitnah yang harus meminta penghalalan dan maaf dari orang lain. Maka perlu adanya kehati-hatian agar bisa menjalankan pekerjaan sebagai jurnalis,” tegas Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Agropolitan TV (ATV). Sementara itu, Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM Drs. Wakidi berharap kerja sama yang sudah dibangun bisa diperkuat dengan berbagai langkah. Sehingga masing-masing cita-cita dapat tercapai dengan baik. Begitupun dengan kemajuan kemajuan Indonesia yang pasti diharapkan oleh semua pihak. Hal serupa juga disampaikan oleh Ir. Suyatno, M.Si. selaku Kepala Biro Informasi dan Komunikasi UMM. Ia mengatakan bahwa buka bersama media menjadi salah satu agenda rutin yang selalu Kampus Putih lakukan. Menurutnya, kedua belah pihak saling membutuhkan. Apalagi media juga menjadi salah satu aspek penting dalam perjalanan panjang UMM. “Semoga kita semua bisa terus bekerja sama dan menjalin silaturahmi dengan lebih erat lagi. Memberikan yang terbaik di bidang masing-masing serta membantu satu sama lain,” tambah Suyatno. (wil)
Mendekati Lebaran, UMM-Koramil Dau Langsungkan Booster

Dalam meningkatkan daya tahan tubuh semasa pandemi, vaksin menjadi salah satu kebutuhan untuk menangkal virus Covid-19. Maka dari itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Komando Rayon Militer (Koramil) Kecamatan Dau, Kabupaten Malang melangsungkan vaksinasi booster. Agenda yang diperuntukkan untuk masyarakat umum ini dilaksanakan pada Selasa (19/4) lalu, bertempat di Hall Dome UMM. Kapten Arm. Abdul Khadir Danramil 0818/29 Dau, selaku perwakilan dari Koramil menjelaskan bahwa percepatan dan pemerataan vaksin di berbagai daerah menjadi prioritas saat ini, terlebih mendekati lebaran. Pemberian vaksin ini juga menjadi upaya melanjutkan vaksinasi sebelumnya serta memudahkan masyarakat untuk mendapatkan booster. Utamanya untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan imunitas. Lebih lanjut, ia tetap mengingatkan bahwa setelah booster bukan berarti tubuh sudah kebal. Warga harus tetap melaksanakan 3M yaitu menjaga jarak, mamakai masker, dan mencuci tangan. Selain itu, ia juga mengajak masyarakat luas untuk segera melakukan vaksin demi kesehatan bersama. “Dalam hal ini saya tetap mengingatkan bahwa teman-teman harus tetap menjalankan 3M meskipun sudah booster demi kenyamanan dan menjaga kesehatan bersama. Terlebih mendekati lebaran, protokol harus lebih diperketat karena mobilitas juga semakin tinggi,” ucapnya. Di sisi lain, Dr. Nur Subekti, ST., MT. selaku Wakil Rektor III UMM mengatakan bahwa vaksinasi ini ditujukan untuk wilayah kos-kosan. Pun dengan menyediakan dan memfasilitasi vaksinasi bagi mahasiswa sebelum mudik dan lebaran. Ia juga berharap proses vaksinasi ini bisa terus digencarkan mengingat masih ada sebagian warga yang belum divaksinasi. Bahkan ada yang belum mendapatkan vaksin sama sekali. Eki, sapaan akrabnya juga mengatakan bahwa Kampus Putih sangat terbuka jika ada instansi yang ingin melakukan vaksinasi di UMM. Menurutnya, hal tersebut menjadi sebuah ikhtiar UMM dalam mengembalikan keadaan normal di masyarakat. Begitupun dengan upaya membentuk ekosistem perkuliahan secara full luring ke depannya. “Tentu vaksinasi ini menjadi ikhtiar kita dalam menormalkan kembali kondisi masyarakat. Ke depan, jika semua mahasiswa sudah mendapatkan booster dan kondisi makin membaik, bukan tidak mungkin semester depan bisa dilakukan perkuliahan luring dengan rasio yang lebih besar,” tambahnya. Adapun Aldin, salah satu peserta merasa senang dapat melakukan vaksin dengan mudah. Terlebih lagi jaraknya yang cukup dekat, yakni di kampus sendiri. Selama ini ia kesusahan dalam mendapatkan booster karena semakin dekat dengan lebaran. Perasaan aman dan nyaman juga sudah ia rasakan berkat vaksin ketiga ini. “Tentu kami berharap booster ini dapat menambah imunitas dan daya tahan tubuh agar semakin kuat menangkal virus. Semoga program vaksinasi seperti ini bisa lebih dimasifkan sehingga dapat lebih merata. Terutama di daerah yang susah dijangkau,” ujar mahasiswa informatika UMM ini. (haq/wil)