FISIP UMM Bahas Peluang Bisnis Sociopreneurship

Pandemi Covid-19 menampilkan fakta positif yang menarik yakni inovasi masyarakat dalam menciptakan lapangan kerja baru. Hal tersebut juga dibahas dalam webinar Sociopreneur Series yang dilangsungkan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politk (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menghadirkan dua pemateri andal terkait sociopreneurship, webinar yang dilangsungkan selama Februari ini mengupas tuntas mengenai peluang entrepreneurship di bidang sosial. Mengawali webinar, Hutri Agustino, M.Si. selaku inisiator Pondok Sinau Lentera Nusantara menyebut angka wirausaha di Indonesia naik dari angka 13 % pada Februari 2020, menjadi 25 % pada Oktober 2020. Dalam pemaparannya, ia mengatakan bahwa kenaikan jumlah minat wirausaha intersebuti tentu menjadi peluang tersendiri. Di sisi lain, aneka permasalahan sosial akibat pandemi juga muncul dan tak bisa dibiarkan begitu saja. “Maka, sociopreneurship dapat mnejadi cara baru yang tidak hanya menghasilkan keuntungan finansial semata, tapi juga keuntungan sosial. Sekaligus dapat menjadi bagian dari jalan keluar atas masalah-masalah di tengah masyarakat,” tambahnya. Hutri, sapaan akrabnya menyebutkan ada sembilan jenis model bisnis sosial yang sangat memungkinkan dilakukan di masa sekarang. Ada jenis entrepreneur support model, market intermediary model, employment model, fee for service model dan beberapa jenis model bisnis sosial lainnya. “Di beberapa wilayah di Indonesia misalnya, sudah ada usaha namanya Kopi Tuli. Yaitu unit usaha yang melibatkan teman-teman tuli. Ini adalah bentuk socioentrepreneur yang tidak hanya sekedar mencari profit melalui usaha bisnis jualan kopi, tapi juga memberikan lapangan pekerjaan untuk teman-teman tuli,” jelas Hutri. Kepekaan terhadap masalah sosial atau keluhan di masyarakat juga perlu dilatih sejak dini. Menurut inisiator Kampung Warna-Warni Jodipan Jamroji, M.Comms. mengungkapkan bahwa sebuah bidang usaha pada dasarnya bisa dibangun berbasis pada keluhan seperti apa yang dilakukan oleh para pembuat aplikasi. Salah satunya yakni perusahaan Gojek. Banyaknya keluhan masyarakat yang kesulitan mencari ojek pangkalan melahirkan aplikasi yang memudahkan. “Jika kita cerdas dan kritis, keluhan-keluhan itu bisa menjadi sumber ide untuk membangun sebuah unit usaha mandiri. Bahkan bisa menjadi solusi bagi permasalahan sosial melalui bentuk sociopreneurship,” tutur Jamroji. Menurutnya, perlu adanya pengembangan sikap kritis ini sejak dini. Sehingga mahasiswa merasa peka akan peristiwa yang terjadi di sekitar, termasuk kepekaan terhadap keluhan. Sementara, sociopreneur menjadi upaya untuk mengkonversi permasalahan sosial menjadi sebuah peluang usaha. Menurut Jamroji, sociopreneur memungkinkan kita untuk membangun bisnis yang berangkat dari keluhan orang atau masyarakat. “Tujuannya utamanya tentu untuk membantu masyarakat. Sementara pendapatan adalah bonus yang kita peroleh. Ada dua modal penting yang harus dimiliki dalam membangun sociopreneur ini, yakni kepekaan sosial dan kemampuan kritik sosial,” pungkasnya. (haq/wil)

Nixon, Mahasiswa UMM yang Jadi Influencer Tiktok Makanan

Berawal dari hobinya membuat konten komedi, Nixon Farrel Mahatma, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berhasil menapaki jalan menjadi seorang influencer Tiktok. Nixon, sapaan akrabnya bercerita bahwa ia mulai membuat konten Tiktok pertamanya saat aplikasi tersebut masih belum terkenal seperti sekarang. “Pada 2019 Tiktok merupakan aplikasi sosial media yang masih baru. Jadi, saya membuat konten komedi di Tiktok hanya karena penasaran ingin mencoba aplikasi tersebut. Saya sama sekali tidak menyangka kalau konten itu akan ditonton banyak orang dan masuk For Your Page (FYP),” ungkap mahasiswa Ilmu Komunikasi tersebut. Lebih lanjut, Nixon menceritakan bahwa akun tiktoknya makin berkembang ketika ia mulai memfokuskan diri untuk membuat konten review cafe dan foodies yang ada di Kota Malang. Anak terakhir dari empat bersaudara tersebut mengatakan bahwa perpindahannya dari konten komedi ke review cafe dan foodies juga merupakan sebuah kebetulan. “Saat saya masih membuat konten komedi di Tiktok, saya juga magang sebagai marketing di salah satu kafe di Malang. Untuk menghemat uang promosi, saya akhirnya menggunakan akun Tiktok saya untuk mengenalkan cafe tersebut ke masyarakat. Tak disangka konten review itu menjadi viral dan masuk ke FYP Tiktok berkali-kali,” ujar Nixon. Setelah beberapa konten reviewnya viral, Nixon mulai memfokuskan diri untuk mengenalkan kuliner Malang kepada masyarakat luas. Kini, ia memiliki 64,3 ribu follower Tiktok dan lebih dari lima ribu follower di Instagram. Nixon mengungkapkan bahwa dalam sehari ia bisa membuat dua sampai tiga konten review cafe dan foodies. “Selain mengenalkan kuliner Malang ke masyarakat, dengan pembuatan konten ini saya juga ingin membantu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Malang untuk mempromosikan produknya. Dengan begitu, saya juga bisa memberikan manfaat ke sesama,” kata Nixon. Meski sibuk membuat konten, Nixon tidak pernah mengesampingkan pendidikannya. Ia mengaku bahwa pemberlakuan kuliah online karena pandemi sangat membantunya untuk mengatur jadwal. Kegiatan kuliah bisa ia lakukan di mana pun, bahkan di sela-sela waktu membuat konten juga ia isi dengan kuliah ataupun mengerjakan tugas. “Risiko menjalani kegiatan kuliah dan pembuatan konten ini adalah sedikitnya waktu untuk beristirahat. Meski begitu saya senang menjalaninya. Saya juga sangat beruntung dengan adanya ekosistem kampus putih yang memperhatikan influencer seperti saya. UMM banyak memberi wadah bagi saya untuk berkreasi sekaligus berjejaring dengan influencer-influencer lain yang ada di UMM,” ujar Nixon. Diakhir wawancara, Nixon berharap bahwa pandemi dapat segera berakhir sehingga UMKM serta pariwisata Malang dapat bangkit kembali. “Selain itu saya juga berharap bahwa kampus-kampus lain di Indonesia dapat bersinergi dan membantu para Influencer muda untuk bertumbuh di dunia kreatif dan mendorong mereka untuk membantu perkembangan banyak sektor,” pungkasnya. (syi/wil)

Teknik Elektro UMM Undang Tiga Perusahaan Bahas Kurikulum CoE PLTS

Langkah konkret dilakukan Prodi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menginisiasi pusat keunggulan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Melalui lokakarya dan Memorandum of Understanding (MoU), Prodi Teknik Elektro membangun kerja sama dengan sederet perusahaan yakni PT Alfan Mechatronics Innovation, PT. Etrama Nusa Energi dan PT. Zaada Bana Engineering pada Sabtu (12/2) lalu. Dekan Fakultas Teknik Prof. Ilyas Masudin, P.hD. mengatakan bahwa pengembangan kurikulum kini harus mengacu pada kebutuhan industri. Utamanya dalamr angka mengimbangi kebutuhan pendidikan di era industri 4.0. “Maka dari itu, perluasan kerja sama dengan stake holder lainnya perlu dilakukan agar kurikulum bisa disesuaikan. Dengan begitu, para mahasiswa dan lulusan bisa dibekali dengan berbagai kemampuan dan skill bermanfaat untuk menjadi pribadi yang mandiri,” ungkap Ilyas. Di lain sisi, CEO PT. Zaada Bana Engineering Ivan Ahsanul Insan mengatakan bahwa pada dasarnya kurikulum yang dimiliki oleh Prodi Teknik Elektro UMM sudah mencukupi. Namun perlu ada beberapa tambahan di bidang bidang entrepreneurship, sales engineering dan pengembangan soft skill. Tiga hal ini dirasa mampu menjembatani bidang managemenet project, time scheduling, WBS, project schedule dan pembuatan proposal. Apalagi melihat derasnya permintaan pasar saat ini. “Kami tentu berharap langkah ini mampu mencetak talenta-talenta baru dalam bidang energi khususnya PLTS,” tutur Ivan. Hal tidak jauh berbeda juga disampaikan Technical Direktor PT. Etrama Nusa Energi Yongki Adi Pratama. Ia mengatakan bahwa pendidikan semestiknya mampu melahirkan tenaga kerja siap pakai. Maka, ini adalah langkah yang sangat rasional untuk meningkatkan efektivitas ekonomi serta  entrepreneurship dalam satu wadah. Di samping itu, manajemen dan kesehatan serta keselamatan kerja (K3) kelistrikan sudah sangat relevan untuk diganti menjadi sistem interkoneksi. Mengingat bidang tersebut menjadi krusial dalam pengembangan PLTS. Ia juga mengusulkan beberapa poin utama dalam pelaksanaan magang nantinya. Beberapa di antaranya ialah product knowledge, brand komponen atau peralatan utama, perencanaan dan aktualisasi pemasangan di lapangan. Harapannya akan menumbuhkan suasana kuliah dengan suasan kerja. “Saya rasa pelaksanaan magang juga sangat efektif bila dilakukan secara berkelanjutan. Bisa dilangsungkan selama empat hingga enam bulan. Apalagi mengingat man power bisa menjadi aset bisnis yang krusial di masa depan,” pungkasnya. (*/wil)

Mahasiswa UMM Edukasi Petani Tengger Teknik Stek Benih Kentang

Salah satu peran universitas dalam masyarakat ia menjadi pihak problem solver. Hal serupa juga dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berkontribusi memberikan program langsung di masyarakat. Salah satunya melalui mahasiswa-mahasiswanya. Kali ini Adelya Putri Andarista, Deni Purnama Sudiya Makarya dan Herlina Dwi Rahayu melangsungkan pelatihan dan edukasi pembibitan stek kentang di Kecamatan Tosari, daerah Tengger, Pasuruan, pada Januari-Februari ini. Program pengabdian ini juga merupakan hasil mitra bersama salah satu dosen, Dr. Ir. Syarif Husen, MP. Adelya selaku ketua tim menjelaskan bahwa masalah utama yang dihadapi petani tengger yakni bibit kentang yang mahal. Selain itu kondisi green house yang dimiliki masih tergolong sempit dan beberapa sekat masih terbuka. Hal tersebut membuat pembibitan kentang seringkali gagal. “Masalah-masalah itulah yang menggerakkan kami untuk memberikan pelatihan sehingga kegagalan dalam pembibitan dapat dikurangi,” imbuhya. Adel, sapaan akrabnya kembali menuturkan, pelatihan dan edukasi ini berkonsep praktek di lapangan sehingga petani dapat melakukannya secara langsung dan tidak kebingungan. Sebelumnya, para peserta juga diberi masukan dan materi terkait penyiapan green house yang sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). Begitupun dengan cara sterilisasi media untuk pembibitan. Pemindahan media planet kentang juga menjadi hal yang krusial karenan nantinya planet bisa distek pada usia satu bulan. “Dengan planet ini dan teknik stek ini, penanaman yang distek bisa dikembangkan menjadi empat bibit kentang,” tambah Adel. Mahasiswa Agroteknologi ini menilai para peserta yang notabene petani merespon baik program ini. Terlihat dari upaya renovasi dan perluasan green house yang sedang dilakukan. Mereka juga senang karena mendapatkan pengetahuan baru sehingga produksi dan panen kentang sesuai dengan yang diharapkan. Meski begitu, timnya sempat kesusahan tatkala cuaca hujan terus berlangsung. Hal itu berakibat pada planet menjadi layu sehingga sesekali harus menunda pelatihan. Arus air di green house juga dirasa kurang, sehingga harus menimba air terlebih dahulu sebelum memulai paparan dan praktek. Mahasiswa asli Pasuruan ini berharap petani setempat dapat menjadi mandiri untuk memenuhi bibit kentang melalui teknik yang sudah diberikan. Hal itu dirasa bisa menekan angka pengeluaran dan menambah pemasukan dari para petani kentang. “Program ini juga kami harapkan bisa meningkatkan pendapatan ekonomi warga setempat serta bisa memproduksi bibit kentang yang lebih banyak sehingga tidak begitu membutuhkan bibir dari pihak luar,” ungkapnya mengakhiri. (haq/wil)

UMM Buka Program KESI untuk Siswa SMA Sederajat

Terobosan demi terobosan terus ditelurkan oleh Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, Kampus Putih berupaya memberikan kompetensi ekstra bagi siswa-siswi kelas XII (kelas III) SMA/SMK/MA sederajat melalui program Kompetensi Ekstra Siswa Indonesia (KESI). Adapun program ini masih dalam tahap pendaftaran yang diperuntukkan bagi siswa seluruh Indonesia dan akan dilaksanakan pada bulan April tahun ini. Kepala Biro Informasi dan Komunikasi Ir. Suyatno, M.Si. menjelaskan bahwa KESI menjadi salah satu jawaban untuk membekali siswa dengan kemampuan baru yang sesuai dengan passion dan minat. Menurutnya, tidak banyak sekolah yang menyediakan pendidikan semacam ini, maka UMM hadir untuk menyediakannya. “Apalagi di era seperti sekarang ini, institusi pendidikan tinggi dituntut menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu beradaptasi dengan dunia yang serba digital,” ungkapnya. Yatno, panggilan akrabnya melanjutkan, selain memberikan materi ekstra, program ini juga menjadi sarana mengenalkan sistem pendidikan tinggi kepada siswa kelas III SMA. Akan ada lebih dari 30 course yang bisa dipilih oleh peserta. Mereka juga dibebaskan untuk memilih salah satu yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Adapun peserta nantinya akan mendapatkan beragam manfaat. Mulai dari sertifikat kompetensi ekstra terkait course yang diikuti, bantuan kuota internet senilai 100 ribu rupiah per siswa yang ditransfer langsung ke rekening bank siswa, potongan biaya pendafataran 100 ribu rupiah jika mendaftar sebagai mahasiswa baru UMM, dan kemudahan-kemudahan lain. Aktivitas ini nantinya diadakan secara full daring sebagaimana pendidikan berlangsung selama ini melalui Learning Management System (LMS) UMM. “Dalam pelaksanaannya, program KESI ini merupakan pembelajaran singkat atau kursus singkat yang mencakup hard skill dan soft skill bagi siswa. Akan ada instruktur dari dunia usaha-dunia industri (DUDI) yang juga juga mengisi course. Dengan begitu para siswa bisa mengetahui dan mengenal bagaimana dunia industri,” tambahnya. Yatno melanjutkan program ini meliputi kegiatan tutorial, praktek dan pemberian proyek kepada para siswa peserta. Ada total empat pertemuan yang terdiri dari dua pertemuan tutorial, satu kali penugasan atau proyek dan satu pertemuan evaluasi. Program terobosan ini diharapkan bisa menambah pengetahuan dan pengalaman siswa. Tidak hanya mengenai dunia kampus saja, tapi juga bagaimana dunia kerja berlangsung. Selain itu juga mendorong bertambahnya siswa yang melanjutkan studi ke jenjang universitas. “Pendaftaran program ini tidak dipungut biaya sama sekali atau gratis. Silakan para siswa memanfaatkan kesempatan terbatas ini untuk menambah kompetensi ekstra. Siswa-siswi kelas III SMA/SMK/MA dapat memperoleh informasi dan mendaftar secara online langsung di alamat kesi.umm.ac.id,” pungkasnya menerangkan. (wil)

Wakil Gubernur Jatim Dorong Mahasiwa UMM Jadi Wirausahwan Bertalenta

Potensi untuk merintis dan mengembangkan wirausaha di Jawa Timur (Jatim) sangatlah besar. Ada beragam keuntungan dan juga kelebihan tatkala membuka usaha di Jawa Timur. Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak di hadapan ratusan mahasiswa pada gelaran Talenta Wirausaha, Senin (14/2) lalu. Adapun agenda ini merupakan kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Bank Syariah Indonesia (BSI), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Emil, panggilan akrabnya melanjutkan, Jatim memiliki pertumbuhan ekonomi yang kompetitif di pulau Jawa dan dapat bersaing dengan provinsi lain. Ekonominya juga menjadi terbesar kedua di Indonesia dengan populasi yang cukup besar di angka 40 jutaan. Ia juga sempat membandingkan dengan Malaysia yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 30 juta dan dianggap sebagai salah satu islamic financial hub. “Tentu provinsi ini menjadi tempat yang tepat bagi saudara untuk memulai bisnis dan mengembangkannya menjadi lebih besar. Dan saya juga senang Jatim dipilih menjadi tempat pertama untuk memulai rangkaian acara Talenta Wirausaha ini,” imbuhnya. Wakil dari Khofifah itu juga menjelaskan bahwa Jatim memiliki lokasi yang strategis dan mitra dagang yang bagus dengan beragam provinsi. Bahkan provinsi paling timur pulau jawa ini juga menyumbang seperlima volume perdangan Indonesia dan seperempat di sektor industri manufaktur. Ia juga sempat menyinggung potensi perdagangan yang paling kentara, yakni banyaknya rute dagang tol laut. Setelah menerangkan potensi-potensi tersebut, Emil kemudian memotivasi para mahasiswa untuk siap menghadapi perubahan. Pada revolusi industri yang keempat ini, dunia dirasa terlalu sempit untuk manusia. Apalagi muncul berbagai inovasi dan mesin-mesin baru yang semakin mengikis kesempatan kerja bagi manusia. “Banyak yang bilang bahwa bonus demografi sangat menguntungkan Indonesia. Namun, jika tidak dipersiapkan dengan baik, keuntungan itu akan berubah menjadi malapetaka demografi. Dan kita tentu tidak ingin hal itu terjadi,” ungkapnya menegaskan. Maka, perubahan mindset harus segera dilakukan. Konsep kemapanan harus diubah dari yang dulunya bekerja di perusahan besar atau PNS menjadi wirausaha berbasis kompetensi. Ditambah dengan penerapan teknologi yang bisa dengan mudah kita terapkan ke seluruh elemen pekerjaan. “Salah satu sektor yang bisa teman-teman kembangkan yakni UMKM pertanian. Berdasarkan sensus ekonomi 2016 dan survei pertanian 2018, ada sekitar 9,78 juta unit usaha di Jawa Timur. Apalagi dibarengi dengan adanya BUMDes yang jumlahnya lebih dari 6118. Tentu, hal ini perlu dimaksimalkan untuk menciptakan Jawa Timur yang lebih baik dan Indonesia yang lebih maju,” tegas Emil. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai agenda ini adalah hal yang menarik karena mengundang mereka yang notabene generasi milenial. Apalagi yang dibahas adalah mengenai dunia usaha. Hadirnya tiga stake holder dari beragam pihak juga memberikan kesan tersendiri. Pertama yaitu wakil gubernur yang memiliki kekuasaan teritorial yang luas. Kemudian yang kedua adalah BSI yang mengajak untuk merajut masa depan yang lebih cerah. “Dan yang ketiga adalah kampus UMM yang merupakan sumber utama SDM. Dengan kerja sama yang baik di antara ketiganya, saya yakin kawan-kawan milenial kampus akan menjadi orang-orang yang kuat di masyarakat. tidak hanya untuk sekarang, tapi juga untuk kemajuan di masa depan,” pungkas Fauzan. (wil)

UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru FKIP

Dalam mengembangkan pendidikan, bukan hanya peserta didik saja yang perlu ditingkatkan, namun pendidik juga harus meningkatkan kapasitas keilmuannya. Hal tersebut juga dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Pengukuhan Tiga Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada Rabu (16/2) lalu. Adapun mereka yaitu Prof. Dr. Dwi Poedjiastutie, M.A., P.hD. (Bidang Pendidikan Bahasa Inggris), Prof. Dr. Baiduri, M.Si. (Bidang Pendidikan Matematika) dan Prof. Dr. Ribut Wahyu Eriyanti, M.Si., M.Pd. (Bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia). Sebelum dikukuhkan, ketiganya juga berkesempatan untuk menyampaikan orasi ilmiah berkaitan dengan bidang keilmuan yang dikuasai. Pada kesempatan itu, dilangsungkan juga launching Center of Excellence (CoE) terbaru Kelas Anggrek yang dikembangkan oleh Prodi Pendidikan Biologi. Dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kampus Putih UMM dengan Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) sebagai komitmen menjalankan kelas profesional yang dibangun. Menariknya, usai penandatanganan, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. juga dihadiahi anggrek hybrid varian baru yakni Anggrek Dendrobium dengan nama Fauzan UMM Biom. Disampaikan Dekan FKIP UMM Dr. Trisakti Handayani, MM., kelas ini memang memiliki tujuan untuk mempercepat kelulusan mahasiswa. Begitupun dengan pengembangan kemampuan serta wirausaha sehingga para lulusan dapat mendapatkan pekerjaan yang layak. Salah satu upayanya yakni menggaet beragam industri dan dunia kerja (Iduka) sehingga ada banyak impelemntasi program yang bisa dilangsungkan. Terkait pengukuhan guru besar, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa hadirnya tiga guru besar ini semakin menguatkan tekad Kampus Putih untuk melakukan perubahan. Utamanya terkait orientasi pembelajaran yang futuristik dan peran UMM sebagai problem solver di tengah masyarakat. Menurutnya, orientasi pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik, baik siswa maupun mahasiswa harus berujung pada hal yang bermanfaat serta bisa diimplementasikan. Pembelajaran juga harus bertanggungjawab akan masalah-masalah yang dialami warga secara luas. Sehingga, bisa lebih peka dan dapat terus ditingkatkan serta disesuaikan dengan tuntutan kemajuan zaman. Sementara itu, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Bebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. menilai bahwa guru besar layaknya tentara yang meraih pangkat jenderal. Merangkak dan bersusah parah dari bawah untuk meraih cita-cita berada di puncak. Orasi-orasi yang disampaikan oleh ketiganya juga dirasa Muhadjir bisa memberikan suasana dan perspektif baru di bidangnya masing-masing. “Saya ingin berpesan kepada para guru besar, baik yang lama maupun yang baru dikukuhkan untuk bisa terus menanamkan hal-hal bermakna untuk kampus putih. Di samping itu juga terus berupaya menjadi teladan yang baik seperti yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu. Hingga namanya masih dikenal dan diingat oleh seluruh sivitas akademika UMM sampai sekarang,” imbuhnya. Hal tak jauh berbeda juga dituturkan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah VII Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA. Menurutnya, capaian ketiganya merupakan karunia yang luar biasa dari Tuhan YME. Kini, mereka dituntut untuk bisa menyebarkan kepakarannya hingga bisa mengalirkan manfaat yang begitu deras. “Bapak dan ibu adalah manusia langka nan istimewa. Namun semua akan sia-sia jika bapak ibu tidak menebarkan kebaikan dan keilmuan yang dipunya untuk manusia-manusia lainnya,” tegas Soeprapto. Terakhir, Anggota PP Majelis Diktilitbang Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan berharap ketiganya bisa memberikan basis teori sebagai jangkar pendidikan Muhammadiyah. Perlu adanya elaborasi mumpuni sehingga dapat menciptakan filsafat pendidikan Muhammadiyah yang baik. Dengan jangkar yang sudah dibangun tersebut, kita tidak akan bisa dengan mudah diombang-ambingkan olrh dunia luar. “K.H. Ahmad Dahlan pernah berpesan bahwa manusia itu harus memiliki dua sifat yakni menjadi murid yang selalu belajar hal baru. Dan yang kedua yakni menjadi guru yang selalu membuka pikiran atas zaman yang baru sehingga tidak gampang terbawa arus zaman,” pungkasnya. (haq/wil)

Tim FDI UMM Raih Medali Emas Internasional AISEEF

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengharumkan nama Kampus Putih di kancah Internasional. Kali ini tim dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Forum Diskusi Ilmiah (FDI) berhasil meraih medali emas pada kategori Social Science di ajang Asean Innovative Science Enviromental and Entrepreneur Fair (AISEEF). Adapun event ini diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Assosiaation (IYSA) dan Universitas Diponegoro (Undip) pada awal Februari lalu secara luring. Siti Mariyatul Qibliyah, salah satu anggota kelompok menjelaskan bahwa judul yang diangkat adalah ‘The Assistance of The PKK Group At Tanjungtani Village Through Utilizing Soybean Husk Waste Into Products’. Adapun inovasi ini adalah pemanfaatan limbah kulit ari kedelai menjadi abon siap dikonsumsi. Tidak hanya itu, mereka juga memberdayakan ibu-ibu PKK dalam mengembangkan dan meningkatkan ekonomi Desa Tanjungtani. Hal itu menjadi bagian dari upaya membentuk wirausaha baru dan menciptakan masyarakat mandiri. “Kami tidak hanya memasarkannya secara luring, tapi juga daring melalui marketplace dan beragam media sosial,” tegasnya. Menariknya, kompetisi tersebut memiliki konsep yang mirip dengan pameran. Para peserta diminta mendirikan stand dan menampilkan hasil produknya. Kemudian para juri dan pengunjung bisa bertanya dan melihat-lihat. Terkait penilaian, ada beberapa poin yang harus dipenuhi yakni kreatifitas stand, judul yang menarik hingga sebarapa bagus produk yang dijual. Menurut Riya, panggilan akrabnya, cerita dan pengalaman lomba dari kakak tingkat sangat membantu mereka dalam mengumpulkan nilai melalui produk dan presentasi. Kekuatan mental juga dirasa menjadi kunci penting dalam memenangkan medali tersebut. “Kami sempat kesusahan membawa produk dan perlengkapan. Apalagi ketika di Semarang, kami sangat kesulitan untuk mendapatkan toko yang menjual alat-alat untuk properti. Meski begitu, Alhamdulillah kami tidak putus asa dan menyelesaikan stand dengan sangat baik,” ucap Riya. Terakhir, mahasiswa Pendidikan Biologi tersebut ingin produk ciptaan mereka ini bisa dikembangkan lebih lanjut. Baik itu dari segi variasi rasa, kemasan yang lebih menarik dan juga strategi pemasarannya. “Saat ini kami juga sedang mengembangkan produk serupa tapi bisa dikonsumsi oleh mereka yang alergi daging dan vegan. Kami juga selalu bertekad untuk bisa kembali berprestasi di event-event lain,” ujarnya. Riya tidak sendiri dalam meraih medali tersebut. Ia ditemani oleh rekan-rekannya yakni Eginuari Ilhani (Hukum), Olivia Margareta (Pendidikan Bahasa Inggris), Aggy Pramesti Wary (Pendidikan Biologi) dan Siti Rofiatul Sazjiyah (Sosiologi). (haq/wil)

Menko PMK Dorong RS UMM Antisipasi Covid-19

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. mengunjungi Rumah Sakit Umum (RSU) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (14/2) lalu. Ia melihat dan mengimbau para tenaga kesehatan RS UMM untuk bersiap menghadapi gelombang pandemi selanjutnya. Apalagi melihat angka penderita yang kembali meningkat. Muhadjir, panggilan akrabnya mengatakan bahwa RS UMM bisa belajar banyak kepada rumah sakit khusus infeksi yakni RS Sulianti Saroso, Jakarta. Menurutnya, rumah sakit tersebut memiliki tenaga medis dan alat-alat yang mumpuni dan advance. Harapannya, RS UMM bisa terus mengembangkan diri dan bisa menyamai atau bahkan melebihi RS Sulianti Saroso. Selain itu, Muhadjir juga mendorong RS UMM untuk melebarkan sayap melakukan vaksinasi kepada masyarakat, khususnya warga Malang. Apalagi melihat persentase vaksinasi warga lanjut usia (lansia) yang belum maksimal. Dengan meningkatkan persentase tersebut, Muhadjir yakin angka penularan Covid-19 bisa ditekan dan melandai kembali. Menteri yang juga menjadi Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM itu juga terus mendorong tenaga medis untuk senantiasa mengupgrade diri. Baik melalui kunjungan ke RS yang lebih maju di luar negeri atau juga pelatihan-pelatihan yang melengkapi skill dan kemampuan para dokter, perawat serta tenaga medis lainnya. “Saudara-saudara harus memiliki integritas yang tinggi serta selalu bersikap jujur. Senantiasa ikhlas melayani pasien sehingga apa yang dilakukan dan diterima mednapat berkah luar baisa dari yang maha kuasa,” imbuhnya. Sementara itu dr. Dedy Irawan, Sp.JP,FIHA menjelaskan jumlah pasien Covid-19 di gedung instalasi infeksi yang hanya memiliki satu pada bulan November lalu. Bahkan sempat kosong di bulan Desember. Namun angka itu kembali naik, khususnya penderita varian Omicron. Kemudian meningkat 16 pasien di bulan Februari. Angka tersebut masih di luar 30 pasien lain yang masih suspect dan beberapa dinyatakan positif. “Trennya memang meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kami juga memberikan perhatian khusus bagi ibu hamil yang menderita Covid-19. Terhitung, kita sudah melakukan lima operasi ibu hamil dan satu operasi pasien patah tulang,” tuturnya. Dedy melanjutkan bahwa RS UMM kini menjadi rumah sakit rujukan, utamanya di wilayah Kabupaten Malang. Para pasien yang dirawat nyatanya juga tidak hanya dari Malang saja tapi juga dari beberapa daerah lain, salah satunya Pasuruan. Menurutnya, ada beberapa rumah sakit yang menutup ruangan perawatan pasien Covid-19 karena melihat angka penderita yang melandai. Namun mereka akhirnya kurang siap tatkala angka tersebut kembali naik seperti saat ini. “Alhamdulillah, karena kami memiliki gedung khusus penyakit infeksi dan Covid-19, jadi bisa bergerak lebih cepat dalam menangani lonjakan angka Covid beberapa hari ini,” imbuhnya. Di lain sisi, Direktur RS UMM Prof. Dr. dr. Djoni Djunaedi, Sp. PD-KPTI turut mengapresiasi kinerja para tenaga medis dalam menghadapi pandemi. RS UMM bahkan sudah dipercaya oleh RSUD Saiful Anwar untuk merawat beberapa pasien Covid-19 yang tadinya dirawat di sana. “Kami juga memiliki tim untuk melacak pasien hingga ke rumah-rumah. Memberikan pelayanan bagi masyrakat, mulai dari resep hingga kepatuhan akan jadwal minum obat,” tegas Djoni. Lebih lanjut, ia juga bersyukur kerja keras pihaknya selama ini mendapat apresiasi baik dari pemerintah. RS UMM berhasil mendapatkan penghargaan dari bupati Kabupaten Malang serta wali kota Batu berkat upayanya menekan angka penyebaran virus Covid-19. Kemudian juga sukses memperoleh penghargaan dari gubernur Jawa Timur sebagai rumah sakit swasta terbaik yang menangani pandemi. (wil)

Mengunjungi Rooftop Rayz Hotel UMM, Tempat Nongkrong Nyaman di Malang

Rayz Hotel menjadi salah satu unit bisnis terbaik yang dimiliki oleh Universiats Muhammadiyah Malang (UMM). Dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang memanjakan, hotel bintang empat ini terus berbenah dan memberikan pelayanan terbaik. Satu spot menarik yang dimiliki adalah Sky Rooftop yang ada di lantai paling atas hotel satu ini. Keluar dari lift, kita akan disambut apik dan diarahkan menuju meja dan dijamu dengan baik. Sky Rooftop ini diklaim bisa menampung sekitar 80 orang. Maka tidak jarang acara serta meeting sering dilaksanakan di lokasi tersebut. “Sky Rooftop ini terbuka untuk umum. Siapa saja boleh mengunjungi dan menikmati hidangan serta pemandangan yang kami suguhkan. Begitupun dengan para tamu yang memang stay di hotel. Kami selalu buka setiap hari pada pukul sebelas siang hingga jam sepuluh malam,” jelas Manajer Hotel Rayz Yanuar Arifien. Selain hidangan lezat dan pemandangan lanskap Malang, para tamu juga bisa bermain permainan seru yang sudah disediakan. Membaca beragam majalah dan buku yang sudah disiapkan dengan iringan live music. Yan, panggilan akrabnya mengatakan bahwa para foodvlogger juga bisa datang dan mengeskplor beragam masakan terbaik yang disajikan dengan harga yang cukup terjangkau. “Ada dua makanan favorit yang mungkin bisa jadi pilihan yakni nasi bakar kemangi dan barbeque platter. Utamanya hidangan kedua yang banyak pengunjung menyukainya. Ada juga macam-macam kopi yang bisa dicoba, mulai dari jenis kopi kintamani hingga semeru. Harga makanan yang disediakan juga cukup terjangkau, mulai dari 30 ribu rupiah hingga 120 ribuan dengan rata-rata 50an ribu,” tambahnya. Adapun Rayz Hotel UMM baru saja merekrut chef baru dengan pengalaman yang mumpuni. Dijelaskan Yan, chef baru tersebut memiliki kemampuan memasak yang baik di berbagai menu masakan. Utamanya menu-menu chinese food dan masakan lokal. “Kami tiap dua bulan sekali selalu memperbarui tema yang ad di Sky Rooftop. Untuk Januari dan Februari ini kami mengambil konsep asian week. Kemudian nanti di dua bulan ke depan kami akan menyiapkan konsep ramadan dengan masakan-masakan lokal yang enak,” imbuh pria asli Malang tersebut. Yan berharap, Sky Rooftop ini dapat memotivasi kawan-kawan untuk lebih meningkatkan kualitas produk dan layanan. Jika sudah memiliki pelayanan yang bagus, maka otomatis juga mendapatkan imrpesi yang baugus. “Adapun makanan yang enak dan lezat tentu akan mendorong tamu untuk datang kembali,” pungkas Yan. (wil)