CoE Kakao UMM Siap Kembangkan Kakao Lokal

Demi meningkatkan kapasitas dan kapabilitas mahasiswa maupun dosen, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengembangkan inovasi dan terobosan pembelajaran. Salah satunya melalui Centre of Excellence (CoE) Kakao di Program Studi (Prodi) Teknologi Pangan Kampus. Adapun kelas ini telah diresmikan oleh Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. akhir tahun lalu. Vritta Amroini Wahyudi, S.Si, M.Si. selaku Sekretaris Prodi menjelaskan bahwa CoE kakao ini menjadi kelas unggulan pertama yang dimiliki oleh Teknologi Pangan. Pihaknya telah menggaet berbagai industri dan dunia kerja (Iduka) untuk memaksimalkan luaran dari kelas tersebut. Salah satu pihak yang sudah bekerjasama ialah PT. Moodco, perusahaan coklat yang berbasis di Kota Batu. Menariknya, kelas profesional ini juga menjadi bagian dari program pemerintah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). “Kelas kakao ini juga menjadi upaya kami untuk mendukung program MBKM yang diluncurkan oleh pemerintah beberapa tahun lalu,” tambahnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kakao Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yaitu single of origin. Ciri ini dipengaruhi oleh kondisi geografis dan suhu, sehingga Indonesia memiliki banyak macam kakao. Dari situlah kemudian kakao Indonesia dapat diolah menjadi pangan fungsional. Bukan hanya menjadi olahan coklat manis pada umumnya. Namun dapat diolah menjadi coklat antioksidan dan coklat rendah gula, sehingga zat Isoflaon dalam coklat lebih ditonjolkan dari gula. Vritta, sapaan akrabnya kembali menuturkan bahwa pihaknya dan PT Moodco bersama-sama saling membantu untuk mengembangkan olahan kakao lokal. Selain itu juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan ilmu terkait kakao berbasis pangan fungsional. Adapun CoE kelas profesional ini mengedepankan pengembangan riset, magang dan entrepreneur. Pengembangan coklat yang dilakukan di kelas ini tidak terbatas pada kakao lokal, tapi juga kakao internasional.  Hasil olahan kakao lokal akan dibandingkan dengan olahan dari luar negeri kemudian dianalisis. Adapun kelas ini terbuka untuk umum, sehingga mahasiswa di luar jurusan Teknologi Pangan dan UMM bisa bergabung dan turut serta dalam program CoE kakao. “Upaya untuk mengembangkan kakao ini juga salah satu bentuk usaha kami untuk memajukan hasil olahan kakao lokal sehingga bisa bersaing di pasar global,” ucapnya. Terakhir, dosen asal Landungsari, Kabupaten Malang ini berharap adanya CoE kakao ini bisa menjadi hulu dan hilir pengolahan kakao lokal yang fungsional dan halal. Merangkul para petani lokal agar sejahtera, memberikan bekal pengetahuan dan ilmu bagi mahasiswa, serta menjadikan mereka pribadi yang tangguh serta mandiri. “Tujuan ini selaras dengan program UMM Pasti yang sudah digaungkan oleh Kampus Putih sejak beberapa tahun yang lalu. Selain itu juga menjadi komitmen kami untuk melahirkan generasi masa depan yang mumpuni serta bermanfaat,” pungkasnya. (haq/wil)

UMM, Satu-satunya Kampus Indonesia yang Miliki UKM Dirgantara

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa memberikan terobosan dan inovasi baru. Teranyar, Kampus Putih tengah membuka Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bidang kedirgantaraan dengan nama Biru Flying Club. Menariknya, UMM juga menjadi satu-satunya kampus yang memiliki program yang berkaitan dengan dirgantara. UMM Flying Club ini juga melengkapi lebih dari 60 UKM yang dimiliki oleh kampus putih. M. Isnaini, M.Pd. selaku pembina mengatakan bahwa saat ini anak-anak muda memiliki passion dan ketertarikan yang bermacam-macam. Salah satu yang menarik perhatian adalah passion di bidang dirgantara. “Club ini tentu akan kami buka seluas-luasnya bagi siapapun mahasiswa yang berminat. Apalagi dengan prinsip yang kami pegang teguh bahwa pemimpin dapat lahir dari pintu manapun. Salah satunya melalui pintu Biru Flying Club,” tuturnya. Krisna, panggilan akrabnya juga menegaskan bahwa UMM menjadi satu-satunya kampus yang memiliki wadah bagi passion dirgantara. Begitupun juga menjadi satu-satunya kampus yang menjadi bagian dari Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Menurutnya, ini adalah terobosan yang strategis untuk menemukan talenta-talenta mumpuni untuk masa depan. Nantinya Biru Flying Club akan menyediakan sederet kegiatan menarik. Aero sport flight training dan paralayang adalah dua di antaranya. Adapula paramotor dan juga bidang drone yang sudah disediakan. Adapun dalam pelaksanaannya, semua olahraga itu akan diawasi langsung oleh para profesional yang ahli di bidangnya masing-masing. Dosen asal Lombok tersebut mengatakan hingga saat ini ada lebih dari 50 anggota yang sudah tergabung. Mereka juga telah mengikuti rentetan perkenalan dan diklat. Pihak UKM terus menjalin komunikasi intens dan didukung penuh oleh Lanud Abd. Saleh serta FASI dalam persiapan hingga pelaksanaan kegiatan dirgantara. Dengan begitu, berbagai aktivitas bisa tersinergi dan berjalan dengan aman serta lancar. “Tiap kegiatan tentu memiliki tantangannya masing-masing. Begitupun dengan Biru Flying Club yang harus menemukan maahasiwa dengan talenta terbaik. Selain itu juga harus memiliki nyali yang kuat dan tangguh. Kampus Putih secara konsisten terus menghargai semua prestasi dan inovasi serta kreativitas dari sivitas akademika. Hal itu selaras dengan prinsip yang selalu kami gaungkan yakni tiada prestasi yang tidak dihargai,” pungkasnya. Sementara itu, Ketua UKM Biru Flying Club Nixon Farrel Mahatma mengatakan bahwa ada beberapa kegiatan yang sudah digelar. Salah satunya adalah pembekalan dan latihan dasar sebelum melakukan kegiatan olahraga dirgantara nanti. Dengan begitu, mereka tidak asal beraktivitas dan bisa memberikan keamanan bagi masing-masing peserta. Nixon juga menyebutkan berbagai alasan para mahasiswa mengikuti UKM tersebut. Ada yang ingin mengetahui lebih jauh tentang pesawat, ada yang ingin mencoba olahraga dirgantara, adapula yang ingin merasakan sensasi kegiatan di UKM bersama kawan-kawan lain. “Kami memang memiliki berbagai alasan untuk bergabung di UKM ini, tapi satu yang pasti adalah kami ingin menemukan dan menjadi talenta-talenta masa depan yang mampu menyumbangkan prestasi bidang kedirgantaraan yang berasal dari mahasiswa UMM,” tambahnya. (wil)

UMMTalks Hadirkan Robert John Pope, Doktor Australia yang Belajar Islam

Mempelajari Islam dan masuk ke dalam komunitasnya adalah hal yang berbeda dengan apa yang ditampilkan oleh media massa. Seringkali keduanya bertolak belakang dan menyebabkan persepsi yang keliru. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Robert John Pope, M.Pd.I. dalam acara UMMTalks yang disiarkan langsung melalui akun resmi Youtube Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akhir Januari lalu. Adapun Robert adalah salah satu wisudawan Doktoral dari Australia di bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) yang lulus di awal tahun ini. Robert, sapaan akrabnya becerita bahwa ia sudah dari lama tertarik dengan sejarah Islam. Mulai dari kisah yang ada di Alquran, utamanya yang  berhubungan dengan kitab-kitab sebelumnya. Bahkan ia juga sempat mengambil beberapa pendidikan non-formal. Baik secara otodidak maupun yang diajarkan oleh orang lain. Hingga akhirnya Robert memutuskan untuk mendalami Islam di Kampus Putih UMM. “Islam memiliki interkoneksi hubungan dengan kitab-kitab sebelumnya. Hal ini membaut saya makin tertarik dan segera mengambil pendidikan formal untuk memahami bagaimana Islam itu,” tambahnya. Meski Islam muncul di timur tengah, tepatnya di Arab Saudi, namun Robert akhirnya menjatuhkan pilihan di Indonesia. Salah satu alasan yang ia kemukakan adalah jarak Australia dan Indonesia yang realtif dekat sehingga memudahkannya dalam melakukan penelitian. Selama belajar Islam, ia merasakan dan mendapatkan berbagai pespektif baru karena memang berada di tenagh-tengah komunitas muslim. Berbeda halnya jika belajar dan berada di luar komunitas, maka ia hanya akan mencapai pada tahap asumsi yang dibuat. Ia menyadari bahwa Islam pada kenyataannya sangatlah beragam. Hal inilah yang tidak disadari oleh dunia barat. “Sejauh yang saya pelajari Islam tidaklah monolitik (satu pandangan) melainkan memiliki beragam perspektif dan pandangan dalam beragama. Interaksi yang saya lakukan dengan komunitas muslim di sini membuat saya lupa akan perbedaan. Hingga akhirnya saya juga lupa dengan Islam yang biasanya diberitakan oleh media massa,” terang Robert. Pria asal Sydney, Australia ini kembali bercerita bahwa selama berkuliah di UMM ia sama sekali tidak emrasa dipaksa untuk menutupi pandangannya. Malah didorong untuk selalu kritis dan dinamis dalam berpikir. Sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan baru yang mnejadi sumber diskusi dengan teman-teman lainnya. “Saya tidak pernah sekalipun dibatasi untuk berpendapat. Malah didukung dan mendapatkan banyak perspektif baru selama berkuliah. UMM juga senantiasa mendukung dan memfasilitasi dengan baik selama saya belajar di sini,” pungkasnya. (haq/wil)

Tongat, Dekan UMM yang Jadi Ketua Forum Dekan FH PTM dan STIH Nasional

Terpilih selama dua periode berturut-turut, Dr. Tongat, SH., M.Hum. kembali menduduki jabatan ketua Forum Dekan Fakultas Hukum Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) periode 2022-2024. Pemilihan ini dilakukan dalam acara Musyawarah Naional (Munas) keempat yang dilangsungkan oleh Forum Dekan PTM dan STIH di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat pada pertengahan Januari lalu. Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menjelaskan bahwa forum tersebut merupakan perkumpulan seluruh dekan fakultas hukum universitas Muhammadiyah dan sekolah tinggi hukum se-Indonesia. Terdapat 43 fakultas hukun yang tergabung dalam forum tersebut. Secara resmi dibentuk pada tahun 2015, forum ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di masing-masing perguruan tinggi. “Forum ini ada sebagai wadah untuk saling berbagi ide dan gagasan terkait kurikulum dan proses pembelajaran. Kegiatan itu pula lah yang diharapkan dapat mendorong dan menyamakan akreditasi dan kualitas dari 43 fakultas di forum ini,” ungkap dosen kelahiran Banjarnegara tersebut. Selain berfokus pada peningkatan mutu pendidikan, Tongat mengatakan bahwa forum ini juga aktif merespon isu-isu terkini. Saran serta masukan terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) juga turut forum ini suarakan kepada pemerintah. “Beberapa isu terbaru yang sudah kami bahas adalah RUU Omnibuslaw, RUU PKS, dan beberapa RUU lainnya,” kata Tongat melanjutkan. Di periode keduanya ini, Tongat ingin merapatkan kesenjangan yang terjadi di fakultas hukum antar universitas anggota. Dengan begitu, semua yang turut serta dalam forum ini bisa berjalan bersama memperbaiki dan meningkatkan kualitas. Sehingga mampu melahirkan lulusan-lulusan mumpuni, cakap dan mandiri. Usaha menyamakan akreditasi juga dicanangkan olehnya di periode kedua tonggak kepemimpinan. Terakhir, ia juga menyinggung mengenai rekognisi internasional yang harus segera dicapai oleh fakultas hukum yang sudah landing mendapatkan akreditasi Unggul. Maka, pihaknya sudah menyiapkan workshop, pelatihan serta pendampingan mutu akreditasi internasional. “Dua hal itu adalah pekerjaan rumah dan amanah yang diamanatkan oleh teman-teman pada masa jabatan saya yang kedua ini. Semoga bisa terealisasi dan memberikan manfaat bagi semua anggota,” pungkasnya. (syi/wil)

LPT-KA UMM Himbau Red Flag Perkembangan Anak

Sinergisitas antara orang dan guru menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mendidik anak. Utamanya dalam mencapai tahap-tahap perkembangannya. Hal itu diungkapkan oleh Atika Permata Sari, M.Psi. yang menjadi pemateri dalam rangkaian agenda pembinaan tumbuh kembang anak pada Selasa (25/1) lalu. Adapun acara ini merupakan hasil kerja sama antara Laboratorium Psikologi Terapan Keluarga-Anak (LPT-KA) dan Pusat Kegiatan Gugus (PKG) Kecamatan Lowokwaru. Atika, panggilan akrabnya mengungkapkan bahwa kerja sama antara keluarga dan pihak sekolah sangat diperlukan. Begitupun dengan konsistensi yang kuat agar anak tidak mengalami perasaan kebingungan dalam bersikap dan berperilaku. Adapun anak-anak yang mengalami permasalahan di tahapan perkembangannya, bukan berarti ia tidak bisa menjadi orang yang sukses di kemudian hari. “Saat menemukan permasalahan tersebut, ada baiknya kita sebagai orang tua dan pendidik segera melakukan penanganan agar proses pemulihannya bisa berlangsung dengan cepat pula,” tambahnya. Dosen UMM ini juga menekankan pentingnya perhatian selama masa tumbuh kembang anak. Selain itu juga mengasah kemampuan utama dari anak sekaligus melatih apa-apa yang belum dikuasai oleh anak terkait. Dengan begitu, anak bisa mengejar ketertinggalan tahapan milestone yang dimiliki. Atika juga menjelaskan red fllag perkembangan anak sehingga bisa segera ditindaklanjuti oleh para orang tua. Aspek pertama ialah motorik yang berfokus pada pergerakan fisik anak. Tiap usia memiliki perbedaan dan ciri tumbuh kembangnya masing-masing. Kemudian adapula aspek bahasa dan sosioemosional. Keduanya juga sama-sama memiliki standar perlu tidaknya anak dibawa ke pihak yang lebih profesional untuk dibantu. Sementara itu, Ketua Pusat Kegiatan Gugus (PKG) Kecamatan Lowokwaru Sadia Mewar, M.Si. memaparkan bahwa semua anak seharusnya mendapatkan pembelajaran yang baik. Maka, pertemuan rutin dirasa menjadi salah satu upaya dalam mengevaluasi dan mencari solusi atas problematika yang sedang dialami. Menurutnya, kesuksesan mendidik anak juga tidak lepas dari pemahaman pendidik mengenai tonggak capaian perkembangan anak. Pemahaman ini akan berefek pada seberapa maksimal tumbuh kembang peserta didik yang bergantung pada stimulasi yang diberikan. Maka penyesuaian kurikulum, rancangan stimulasi, hingga dasar asesmen harus berdasarkan pada milestone yang sesuai dengan usia. Di sisi lain, salah satu peserta pembinaan dari Global Kids Ratih merasa senang dan menikmati serangkaian kegiatan tersebut. Materi-materi yang disampaikan dinilai bisa mengupgrade kualitas tenaga pendidik. “Sayangnya, menurut saya durasi yang diberikan kurang panjang. Kalau lebih lama, mungkin akan ada lebih banyak materi yang bisa diserap dan diimplementasikan dalam proses belajar mengajar di sekolah,” pungkas Ratih. (wil)

Bedah Buku UMM-BPKH Kaji Investasi Dana Haji

Haji merupakan salah satu rukun Islam yang ke lima dan menjadi ibadah yang harus dilakukan jika mampu. Hal serupa juga dibahas dalam acara workshop bedah buku kolaborasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia (RI). Adapun acara ini dilaksanakan di Ruang Sidang Senat (RSS) serta bisa ditonton secara online melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui Youtube. Keynote speaker bedah buku Dr. Benny Witjaksono, S.P, M. memaparkan bahwa BPKH merupakan badan independen yang bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Agama. Adapun tugasnya ialah mengelola dana haji serta menjamin pelaksanaan umat beragama dalam menjalankan ibadahnya. Secara undang-undang BPKH ini berbentuk badan nirlaba dan koorporatif. Maka nirlana yakni tidak boleh mengambil dan menghasilkan keuntungan. “Sedangkan koorporatif maksudnya adalah bekerja secara efisien sehingga tata kelola dan tata administrasi bisa diatur dengan sebaik-baiknya,” ungkapnya melanjutkan. Sesi bedah buku yang berjudul ‘Investasi Surat Berharga BPKH’ diawali paparan dari Deputi Bidang Investasi dan Emas BPKH Dr. Indra Gunawan. Menurut sejarah, pengelolaan dana haji dialihkan dari Kementerian Agama kepada BPKH pada tahun 2018. Pengalihan tersebut memunculkan tantangan-tantangan baru, utamanya dalam mengelola dana haji dengan optimal. Lebih lanjut, di dalam buku tersebut dijelaskan bahwa sistem haji di Indonesia adalah wakalah. Berbeda dengan Malaysia yang bersifat wadi’ah atau titipan. Adapun proses wakalah diawali dengan penyerahan setoran awal dari Badan Penyelenggara Ibadah Haji kepada BPKH. Kemudian diawasi oleh dewan pengawas serta melalui proses audit, setelah itu laporan akan disampaikan kepada masyarakat secara transparan dan accountable. “Prinsip syariah, kehati-hatian, optimal dan manfaat menjadi pedoman baku BPKH sebagai badan independen yang mengelola dan haji ini,” ucapnya menegaskan. Ada enam surat berharga yang digunakan oleh BPKH, mulai dari saham syariah, sukuk, reksa dana syariah, surat berharga syariah negara, MTN syariah hingga KIK EBA syariah. Keenam-enamnya memiliki mitigasi risiko yang minim dan sudah sangat diperhitungkan. Selain itu juga telah mengantongi izin serta tidak melanggar syariah sehingga masyarakat yang menyetor dana haji ke BPKH tidak perlu khawatir. Sementara itu, pemateri selanjutnya Hasyim Gautama memaparkan terkait hoaks dan informasi palsu tentang dana haji. Menurutnya, berbagai motif dan alasan dimiliki oleh para pelaku penyebar berita hoaks. Mulai dari motif bisnis maupun tujuan untuk mengambil data personal. Mereka juga melakukan beragam cara dalam upaya meyakinkan warganet Indonesia. “Adapun hoaks seperti ini biasanya memanfaatkan positioning. Seperti contoh hoaks terkait dana haji yang dihubungkan dengan pemerintah serta bertepatan pada musim haji. Tujuannya adalah tentu untuk memperbanyak klik dari netizen sehingga mereka mendapat keuntungan,” tambahnya. Pada akhir sesi bedah buku, Sri Cahyaning Umi Salama dan Eko Handayanto selaku dari sivitas UMM memberikan kritik serta saran terkait buku BPKH. Menurut mereka BPKH mungkin bisa membuat visualisasi terkait dana haji, mengingat animasi menjadi hal yang digandrungi oleh anak muda saat ini. Dengan adanya visual, para pembaca bisa lebih memahami dan menegrti apa yang ingin disampaikan lewat buku tersebut. Mereka juga berharap materi di buku BPKH bisa ditindaklanjuti hingga taraf global. Sehingga bukan hanya Indonesia yang dapat menggunakannya tapi juga negara lain. (haq/wil)

UMM Masuk 23 Universitas Terbaik Asia

Rekognisi demi rekognisi senantiasa diraih oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, Kampus Putih sukses menjadi salah satu dari 23 perguruan tinggi negeri dan swasta yang masuk di daftar Top 200’s University atau Universitas Terbaik Asia 2021. Adapun daftar universitas terbaik ini dikeluarkan oleh lembaga pemeringkatan international University Ranking (UniRank). Lima dari 23 perguruan tinggi tersebut merupakan universitas swasta yang satu di antaranya adalah Kampus Putih UMM. Menanggapi hal tersebut, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengungkapkan bahwa UMM tidak hanya memiliki reputasi bagus di tingkat regional dan nasional saja. Lebih dari itu, kampus yang terletak di Malang ini juga memiliki rekognisi internasional yang mentereng. Pihaknya juga bersyukur dapat menjadi salah satu jajaran perguruan tinggi terbaik di Asia. Menurutnya, raihan ini adalah modal yang tidak main-main dan sangat strategis. Utamanya bagi mahasiswa dan alumni untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri. Mampu menunjukkan sikap bertanggung jawab serta dewasa dalam menghadapi setiap tantangan zaman. “Tentu modal institusional ini tidak hanya bermanfaat bagi pihak universitas semata tapi juga bagi sivitas akademika serta alumni agar mampu bersaing dan berkompetisi di masa yang akan datang. Semoga sederet rekognisi dan prestasi ini bisa mengantarkan Kampus Putih UMM menjadi kampus yang lebih baik,” tegas Fauzan. Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian sekaligus Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. mengapresiasi raihan yang telah dicapai oleh UMM. Menurutnya, kampus yang telah terakredtasi Unggul ini memiliki reputasi yang tidak meragukan. Tidak terbatas di regional Jawa Timur dan Indonesia semata, tapi juga capaian di taraf internasional. “Saya mengucapkan selamat kepada UMM yang berhasil menjadi salah satu dari 23 perguruan tinggi di Indonesia dan masuk dalam daftar universitas terbaik Asia. Tentu hal ini adalah hasil dari usaha maksimal dari rektor beserta jajarannya yang mempertahankan reputasi dan aura internasional,” tambah Muhadjir. Hal itu dibuktikan dengan beragam kerja sama dan mitra yang sudah digaet. Begitupun dengan program-program internasional yang mengikutertakan sivitas akademika dalam pelaksanaannya. Menjajaki dan bermitra dengan perguruan tinggi serta institusi internasional yang berada di Polandia, Brazil, Kolombia, Cina, Singapura, Jepang, Amerika, India dan sederet negara lainnya. (wil)

Puluhan Mahasiswa UMM Ikuti Virtual Exchange Singapore

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mendorong mahasiswanya untuk meningkatkan kapabilitas baik di level nasional maupun internasional. Kali ini International Relations Office UMM mengirimkan mahasiswa UMM untuk mengikuti Virtual Exchange Singapore: Understanding History and Heritage, bersama Singapore Polytechnic. Acara ini dilakukan pada bulan Januari-Februari 2022 dan dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Meeting. Dimas Arif Prassetyo, S.Pd. selaku staf IRO menjelaskan bahwa program ini bertujuan agar mahasiswa Singapura dan Indonesia dapat saling bertukar budaya mengerti satu sama lain dan memahami perbedaan. Adapun event ini diikuti oleh 20 mahasiswa dari sepuluh jurusan di Kampus Putih. Sedangkan Singapore Polythecnic juga mengirimkan 20 mahasiswanya untuk turt aktif mengikuti agenda ini. “Aktivitas pertukaran budaya ini dilakukan langsung oleh mahasiswa. Melakukan diskusi, penampilan dan juga materi-materi,” tambahnya. Dimas, sapaan akrabnya kembali mengatakan bahwa selama kegiatan tersebut kedua mahasiswa masing-masing negara diberi waktu untuk berbincang bersama. Setelah itu, mereka juga dipersilahkan untuk memaparkan kultur dan budayanya. Mulai dari bahasa, makanan khas, tarian adat, rumah adat dan masih banyak lagi. Lebih lanjut, selama program exchange para mahasiwa UMM telah mendapatkan relasi baru dan ilmu baru terkait budaya Singapura. Di samping itu juga peningkatan kemampuan bahasa Inggris  yang semakin meningkat karena program ini dilangsungkan full menggunakan bahasa Inggris. “Semua materi yang ada di exchange memang didesain menggunakan bahasa Inggris. Jadi, para peserta mau tidak mau harus meningkatkan kemampuan bahasanya agar tidak ketinggalan dan kesusahan dalam berkomunikasi. Alhamdulillah sejauh ini para epserta terlihat senang dan menikmati setiap prosesnya,” ungkapnya. Menurutnya, program ini juga bisa menjadi pintu gerbang international exposure bagi para mahasiswa yang mengikutinya. Hal tersebut dirasa bisa menjadi pengalaman dan bekal penting bagi mahasiswa di proses kehidupan selanjutnya. Apalagi jika mereka berencana melanjutkan studi di luar negeri, maka pengalaman internasional adalah hal yang tidak bisa dikesampingkan. Selain virtual exchange, IRO UMM juga memiliki program-program internasional lainnya seperti IISMA, Erasmus, dan lain sebagainya. Terakhir, Pria asli Blitar ini berharap mahasiswa UMM bisa memperluas relasi, tidak terbatas hanya dengan teman satu negara saja tapi juga lintas negara bahkan benua. Dengan begitu, wawasan mahasiswa bisa lebih terbuka. “Saya juga ingin mahasiswa-mahasiswa UMM juga dapat lebih aktif mendaftar dan mengikuti program internasional yang sudah disediakan,” pungkasnya. (wil)

Rektor WSP Poznan Polandia Dorong Wisudawan UMM Belajar Sepanjang Hayat

Konsep empat tahap kompetensi yang ditelurkan oleh Martin Broadwell masih sangat relevan untuk diimplementasikan hingga saat ini. Konsep ini dianggap bisa membantu manusia untuk belajar dan menentukan keputusan belajar yang tepat. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Wysze Szkoly Bankowe (WSP) Poznan Polandia Prof. Dr. Ryszard Sowinski yang didapuk memberikan motivasi kepada wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun event wisuda tersebut dilaksanakan pada Kamis (27/1) lalu dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Ryszard mengatakan bahwa wisuda bukanlah sebuah akhir bagi wisudawan, namun menjadi langkah awal untuk belajar kemampuan baru di dunia luar. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan karir dan menciptakan kehidupan yang lebih baik. Maka dalam kesempatan itu ia menyampaikan konsep empat tahap mempelajari keterampilan baru dengan lebih cepat. Lebih lanjut, konsep yang sudah dikemukakan oleh Martin Broadwell sejak 1969 ini masih digunakan oleh banyak pihak untuk lebih memahami proses dalam mempelajari keterampilan. Tahap pertama ialah tidak menyadari ketidak mampuan diri (unconscious incompetence). Ryszard menceritakan bagaimana awal ia mencoba mengendarai mobil. Saat itu ia mengira itu mudah, namun nyatanya ia menabrak sebuah tembok dan akhirnya bersembunyi di hutan selama 2-3 jam karena takut dimarahi orang tuanya. “Inilah tahap di mana kita tidak mengetahuan ketidak mampuan kita. Sayangnya, banyak orang yang harus menabrak tembok dulu, baru ia menyadari hal tersebut. Maka kita perlu memeriksa secara berkala kemampuan yang dimiliki dengan cara yang sudah teruji. Kita bisa menyewa pelatih, mentor, atau penasehat untuk memberikan feedback. Bisa juga dengan menggunakan berbagai aplikasi yang sudah tersedia,” ungkapnya. Kemudian ia bercerita bahwa sampai lulus kuliah ia hanya bisa naik skuter, sepeda, dan kereta. Ia masih belum bisa mengendarai mobil. Di tahap ini saya menyadari ketidakmampuan (conscious incompetence) saya dalam menyetir mobil. Pada tahap ini akan muncul beragam pertanyaan seperti metode apa yang cocok untuk belajar, apakah keterampilan ini bagus untuk kehidupan saya dan lain sebagainya. Hingga pada akhirnya Ryszard menyusul istrinya untuk mengikuti kursus mobil. Di situasi itulah ia mengalami ketakutan, ragu-ragu dan perasaan frustasi saat awal-awal belajar mengemudi. Inilah yang disebut dengan tahap conscious competence yakni menyadari akan kemampuan diri sendiri. Posisi di mana kita akan melakukan hal dengan tidak sempurna serta seringkali konyol. “Pada tahap ini, biarkan anda melakukan kesalahan. Dari kesalahan itulah kita akan belajar. Selain itu daripada membandingkan diri sendiri dengan orang lain, cobalah mengukur kemampuan dan melihat kemajuan yang sudah anda lakukan di setiap kesempatan,” ujarnya. Terakhir, Ryszard menyebutkan tahap yang keempat yakni kemampuan yang tidak disadari (unconscious competence). Tahap ini biasanya sudah dimiliki oleh mereka yang sudah mahir dan memiliki banyak pengalaman. Bahkan tanpa sadar mereka sudah melakukan hal-hal yang banyak orang mengira bahwa itu mustahil. Ryszard ingin agar para wisudawan bisa memahami empat tahap ini sehingga bisa menentukan metode apa yang tepat, keputusan yang baik serta keterampilan apa saja yang harus dipelajari. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa para wisudawan telah diberi bekal yang strategis. Mulai dari wawasan, ilmu, keterampilan dan juga reputasi yang dimiliki oleh UMM. terakhir, Kampus Putih berhasil menjadi salah satu dari 23 perguruan tinggi negeri dan swasta yang masuk di 200 kampus terbaik se-Asia dari lembaga pemeringkatan perguruan tinggi internasional, UniRank. “Ini menjadi modal yang strategis bagi para wisudawan untuk menjadi pribadi yang percaya diri. Mengambil tanggung jawab dan siap menghadapi tantangan zaman. Menjadi problem solver bagi masalah yang ada di tengah masyarakat,” pungkasnya. (wil)

Dosen Sosiologi UMM Bahas Dampak Film Layangan Putus

Layangan Putus merupakan salah satu web seri Indonesia yang sedang ramai diperbincangkan belakangan ini. Mengangkat kisah mengenai perselingkuhan, serial film ini sukses menjadi viral di berbagai media sosial. Dosen sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos, . M.Si, mengatakan bahwa viralnya series layangan putus ini membawa beberapa dampak dalam kehidupan masyarakat. Luluk, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa viralnya serial ini tak hanya mempengaruhi kalangan dewasa tetapi juga anak-anak. Terpaparnya anak-anak terhadap konten layangan putus ini dapat berdampak negatif bagi pola pikir mereka. Anak-anak jadi mengenal perselingkuhan, perceraian, dan ketidakharmonisan pada keluarga di usia yang masih sangat muda. “Sebenarnya series ini sudah dibatasi dari anak kecil melalui sarana konten berbayar dan himbauan tentang penonton berusia 17 tahun ke atas. Namun viralnya cuplikan film Layangan Putus di beberapa media sosial seperti Tiktok dan Instagram membuka akses bagi anak-anak untuk menonton. Melihat hal tersebut, kita sebagai orang tua harus memberikan pemahaman lebih kepada anak terkait perselingkuhan maupun perceraian. Selain itu, orang tua juga bisa turut melakukan pembatasan konten dengan menggunakan fitur Tiktok kids,” ungkap Kepala Program Studi (Prodi) Sosiologi tersebut. Dampak lain yang menerpa setelah viralnya layangan putus adalah kekhawatiran bahwa pasangan akan melakukan perselingkuhan seperti yang diceritakan dalam film. Luluk menambahkan bahwa realitas mengenai perselingkuhan dan perceraian adalah fenomena lama yang sudah sering terjadi. Hal ini juga berbanding lurus dengan budaya patriarki yang ada di Indonesia. Di mana ketika telah memiliki banyak uang dan kekuasaan, maka laki-laki cenderung lebih merasa berkuasa dan leluasa untuk mengelola, mengatur serta memainkan sistem. Hal tersebut juga termasuk sistem keluarga, sehingga salah satu hal yang mungkin dilakukan adalah dengan bermain wanita. “Untuk meredam kekhawatiran tersebut, masing-masing pasangan harus menyadari hak dan kewajiban di rumah tangga. Saya percaya jika masing-masing pasangan telah melakukan hak dan kewajibannya secara benar maka kekhawatiran dan potensi untuk berselingkuh akan menghilang. Selain itu menumbuhkan kepercayaan antar pasangan juga dapat melawan kekhawatiran,” kata dosen kelahiran Jombang itu. Namun selain dampak negatif yang datang, film ini juga memberikan pembelajaran yang bagus bagi pasangan suami istri. Salah satunya adalah mengenali tanda-tanda perselingkuhan dan cara menghadapinya. Selama ini, beberapa wanita tidak ingin melakukan perceraian ketika mengalami kasus perselingkuhan atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Hal itu tidak lepas akan penyematan status janda yang dianggap buruk oleh masyarakat sekitar. “Saya paham bahwa alasan bercerai atau tidak itu sangat personal, entah karena anak ataupun karena percaya bahwa pasangan akan berubah. Namun ketika alasannya adalah karena janda merupakan sesuatu buruk, film layangan putus telah mematahkan pendapat tersebut,” pungkasnya. (syi/wil)